Warisan intelektual

untuk perkhidmatan

dan pencerahan pemikiran

0
Quotes
0
Articles
0
Videos
0
Audios

Jalan Rahmat

Misi Kami

Di Jalan Rahmat, kami berusaha menghadirkan kembara intelektual itu. Perjalanan dan pengelanaan beliau mengarungi ‘jagat’ semesta itu. Ada dokumentasi karya beliau. Puluhan buku, ratusan artikel, ribuan ceramah. Ada rekaman audio dan video. Ada pula karya-karya para guru bangsa, baik sahabat karib Allah yarham, para intelektual sezaman, maupun karya-karya para ulama besar yang mempengaruhi jagat kembara intelektual beliau. Jalan Rahmat adalah sebuah digital library yang ingin menghadirkan kembali semangat intelektual itu.

Jalaludin Rakhmat - Tauziah
Digilib

Donasi dan Beasiswa

Donasi dan Beasiswa untuk sekolah, madrasah, klinik, dan ragam kegiatan lainnya.

tauziyah

Digital Library

Kumpulan Ceramah, Artikel, Buku, Video dari para Guru Bangsa.

healthcare

Jalan Kecintaan

Warisan terutama dan teramat berharga dari Allah yarham adalah mengantarkan kami dan kita semua pada jalan menuju kerinduan dan kecintaan Sang Rahmatan lil ‘alamin. Itulah makna Jalan Rahmat yang sesungguhnya.

Latest Post

Imam Husain as: Wujud Komitmen pada KebenaranJuly 13, 2024“Di antara orang-orang yang beriman ada kelompok orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Di antara mereka ada yang menunggu. Dan mereka tidak mengubah janjinya sedikit pun juga.” (QS. Al-Ahzab: 23) Inilah di antara ayat-ayat Al-Quran yang digumamkan Imam Husain pada hari Karbala. Tampaknya ia ingin mengingatkan para sahabatnya bahwa yang disebut kaum mukmin itu tidak sama. Ada yang memeranginya dan ada yang mendukungnya. Keduanya mukmin juga. Bukankah Al-Quran berkata: Jika kedua kelompok mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya. (QS. Al-Hujurat: 9). Jangan heran bahwa mereka yang mengepung keluarga Rasulullah Saw dan bergerak untuk membunuhnya itu mengaku sebagai mukmin-melakukan salat, saum, dan haji. Janganlah berkata tidak habis pikir mengapa mereka yang mengaku umat Muhammad bisa menzalimi Ahlulbaitnya. Mereka adalah mukminin juga. Apa yang membedakan mukmin pengikut Imam Husain dengan mukmin yang memeranginya? Pengikut Husain ialah mereka yang memenuhi janjinya, yang tetap teguh setia mempertahankan komitmennya. Apa pun yang terjadi. Lawan Imam Husain adalah mereka yang melanggar janjinya, yang mengkhianati komitmennya. Di antara yang hadir di Karbala ada orang-orang yang mencantumkan namanya dalam surat baiat kepada Imam Husain. Mereka berjanji untuk membelanya, melindunginya, dan berjuang bersamanya, sampai titik darah yang terakhir. Tetapi darah terawal belum menetes, ketika penguasa yang zalim menggertakkan gerahamnya, mereka sudah berguncang ketakutan. Mereka lupakan janjinya. Mereka putuskan kesetiaannya. Mereka bergabung dengan kezaliman. Mereka putuskan hubungan dengan orang yang Allah perintahkan untuk menyambungkannya. Mereka yang memutuskan perjanjian dengan Allah sesudah memperkuatnya dan memutuskan apa yang Allah perintahkan menyambungkannya dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itulah orang-orang yang merugi (QS. Al-Baqarah: 27). Yang beruntung adalah para pengikut Imam Husain. Mereka menepati janjinya. Mereka tegakkan keadilan walaupun langit harus runtuh. Kakinya tidak bergeser dari sikap hidup yang dipilihnya. Ada di antara kelompok ini yang sudah gugur dalam menjalankan misi hidupnya. Ada juga yang masih menunggu masa dengan tetap bergerak menuju kesyahidan mereka. Satu demi satu pengikut Imam gugur dengan tidak melepaskan kesetiaannya kepada pemimpinnya. Ketika kepala-kepala mereka terlepas, bibir-bibirnya masih menggumamkan baiat kesetiaan: Ya Aba Abdillah. Yang masih hidup menunggu saat mereka menjemput maut atau maut menjemputnya. Ketika Muslim bin ‘Ausajah sudah jatuh berlumuran darah, Habib bin Mazahir, habib yang sejati dan sahabat yang setia mendekatinya: Demi Allah sekiranya tidak aku ketahui bahwa aku akan menyusulmu, aku ingin sekali agar engkau berwasiat kepadaku. (Karena sahabat biasanya mewasiatkan sesuatu kepada sahabatnya lagi pada saat menjelang kematiannya. Ia akan mewasiatkan keluarganya dan anak-anaknya). Tetapi sulitnya aku pun akan mati juga sesudahmu. Aku akan menempuh perjalanan yang sama. Semula aku ingin engkau berwasiat untuk aku jalankan wasiatmu itu. Muslim berkata: Memang aku punya wasiat yang bisa kamu laksanakan sekarang juga. Bertanya Habib: Apa wasiatmu? Ia berkata: Aku wasiatkan ini-sambil telunjuknya menunjuk Imam Husain. Berjuanglah di sampingnya sampai kamu mati! Itulah percakapan indah antara orang yang sudah syahid dengan orang yang sedang menunggu kesyahidan. Keduanya adalah orang yang menepati janji, memenuhi komitmen kepada sikapnya. Dan inilah keberagamaan yang sejati. Ayat Al-Quran itu dikutip Imam untuk menjelaskan keberagamaan yang hakiki dan keberagamaan yang palsu. Kita semua sedang dites oleh Imam Husain dengan sebuah tes yang sederhana tapi berat: Mana komitmenmu? Mana kesetiaanmu pada janjimu? Mana keteguhan sikapmu untuk menegakkan Islam? Jika engkau tidak lulus tes ini, kamu masih mukmin, tetapi mukmin nominal saja, mukmin sebutan saja. Kamu belum mukmin sejati, jika kamu melingkarkan serbanmu dengan ketat, tetapi melonggarkan komitmenmu kepada keadilan. Kamu cuma pamer kesalehan, jika mulutmu menggumamkan asma Allah tidak henti-hentinya, tetapi kamu menggunakan agama untuk memperkaya dirimu. Seorang mukmin ditandai dari komitmennya pada iman. Seorang muslim ditandai dari komitmennya kepada Islam. Sayyid Husain Fadhlullah, yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk Islam, berkata: Kita harus bertanya-Adakah perjanjian antara kita dengan Allah atau tidak? Adakah perjanjian antara kita dengan Al-Husain sampai kepada Rasulullah Saw? Ketika kita mempelajari pertanyaan ini dengan sifat kita sebagai muslimin, kita akan menjawab pertanyaan itu dengan mudah, bukan dengan sifat kekerabatan, kedaerahan, kesukuan atau sifat-sifat lainnya yang rendah, karena sifat Islam itulah yang membatasi sikap kedaerahan dan kesukuan kaum muslimin. Sesungguhnya kekerabatan, kedaerahan, kebangsaan, kesukuan, adalah simbol yang boleh jadi bergerak bersama manusia di dunia ini. Tetapi pada hari kiamat, “Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya” (QS. Al-Mu’minun: 101). Pada hari kiamat orang akan ditanya dari komitmennya kepada Tuhannya, Rasul-Nya, kitab-Nya dan syariat-Nya.” (Fi Rihab ahl al-Bayt alayhim al-Salam, hal. 314). Komitmen kepada Islam harus mengatasi segala komitmen. Pada suatu hari Abu Dzar bertengkar dengan salah seorang sahabat yang berkulit hitam. Dalam perdebatan ia memanggil sahabatnya itu-Ya Ibn al-Sawda, hai anak perempuan hitam. Rasulullah Saw menepuk bahu Abu Dzar, “Keterlaluan kamu, keterlaluan kamu. Tidak ada kelebihan orang kulit putih di atas kulit hitam, tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena amal salihnya.” Abu Dzar sadar. Ia sudah meletakkan komitmen kepada warna kulit dan ras di atas komitmen kepada Islam. Ia merebahkan dirinya, menempelkan pipinya di atas tanah, seraya berkata kepada sahabatnya, “Injaklah pipiku sebagai tebusan atas kelancanganku.” Kelak Abu Dzar berdiri teguh di atas komitmennya kepada Islam. Ia tidak ragu menegur penguasa yang batil, walaupun orang itu menantu Rasulullah Saw sekali pun. Ia tidak takut memperingatkan sultan yang zalim, walaupun ia itu berasal dari keturunan Quraisy; seperti Al-Quran yang dengan tegas mengecam Abu Lahab, walaupun dia paman dari Rasulullah Saw sang Kekasih Tuhan. Seperti Al-Quran yang dengan keras menyebut anak Nabi Nuh sebagai bukan keluargamu dan menyebutnya, “Innahu ‘amalun ghayri shalih.” Dia itu amal yang tidak saleh (QS. Hud: 46). Hubungan kekerabatan gugur ketika bertentangan dengan komitmen kepada Islam. Amal saleh adalah alamat komitmen kita, karena amal saleh adalah apa saja yang kita lakukan untuk memenuhi janji kita dengan Tuhan. Amal saleh adalah ketaatan kepada Tuhan, dan amal salah adalah ketaatan kepada setan. Seakan-akan kepada kita ditawarkan dua perjanjian: mematuhi Tuhan atau Setan. Tuhan berfirman: Bukankah Aku sudah janjikan kepadamu, hai Anak Adam, janganlah menyembah setan. Sembahlah Aku, inilah jalan yang lurus. (QS. Yasin : 60-61). JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Mari Kenang Peristiwa Karbala!July 13, 2024Allah Swt berfirman dalam Al-Quran, “Katakanlah (olehmu Muhammad): Aku tidak meminta upah dari kalian kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku.” (QS. 42:23). Rasulullah Saw bersabda, “Cintailah Allah atas limpahan nikmat-Nya kepadamu, cintailah aku karena kecintaanmu kepada Allah dan cintailah Ahlulbaitku karena kecintaanmu kepadaku.” (Biharul al-Anwar, 70:14). Tentang Ahlulbaitnya, Rasulullah Saw bersabda, “Aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh kepadanya, Al-Quran dan keluargaku.” Adapun mengenai Al-Hasan dan Al-Husain, kedua cucunya yang tercinta, Nabi bersabda, “Ya Allah aku mencintai keduanya, cintailah orang yang mencintai keduanya (Mustadrak al-Hakim, Shahih Muslim). Beberapa kutipan di atas, mengantarkan kami untuk mengenali lebih jauh tentang Ahlulbait Nabi. Merekalah pusaka Nabi Muhammad Saw bagi umatnya. Di antara Ahlulbait Nabi itu adalah Imam Husain as. Pada usia yang masih sangat muda beliau menyaksikan bagaimana jasad Rasulullah Saw dibaringkan di Mesjid Nabawi. Beliau melihat dunia Islam menguasai separuh bumi. Beliau pandangi istana megah yang berdiri atas nama Islam. Beliau kritik sikap pongah yang ditampakkan oleh para penguasa yang memeras keringat rakyatnya. Bahkan ketika para penguasa itu melaknat dan mengkhianati Ahlulbait Rasulallah Saw yang suci, Imam Husain Tetap gigih menegakan kalimat Allah Swt dan meneruskan perjuangan kakeknya, Rasulullah Saw untuk mencintai mustadh’afin. Beliau relakan dirinya dianiaya oleh para penguasa yang zalim demi tegaknya kebenaran. Kala itu suara kebenaran nyaris tak terdengar. Musuh telah terlalu kuat mengusung kebatilan, hingga semangat jihad hampir mati. Adalah Al-Husain cucu Rasulullah Saw yang mewarisi semangat jihad ayah dan kakeknya. Beliau berdiri tegak diantara orang yang takut melawan kebatilan. Beliau percaya bahwa diam melihat kezaliman adalah termasuk kezaliman itu sendiri. Maka berangkatlah cucu Rasulullah ini beserta rombongan yang tidak lebih dari 72 orang menuju Kafah. Di tengah perjalanan, pada tanggal 10 Muharram (Asyural tahun 61 H. di padang Karbala, rombongan suci ini dihadapkan puluhan ribu pengikut Yazid dan pasukan Ibnu Ziyad, penguasa Bani Umayyah waktu itu. Maka terjadilah apa yang telah terjadi, rombongan suci ini dianugerahi “bingkisan” syahid dan inilah pilihan Imam Husain bersama para pecintanya demi tegaknya kalimat Allah. Rasulullah Saw bersabda, “Engkau akan bersama orang-orang yang engkau cintai” (Biharul Anwar, 17: 13). Rombongan suci ini telah memilih syahid sebagai bukti kecintaan mereka pada Ahlulbait Nabi. *** Mari kenang peristiwa itu dan masuklah diri kita dalam tragedi tersebut… Kafilah kita sekarang berada di padang Karbala. Pagi hari matahari terbit cerah di ufuk timur; sinarnya menyapu padang Karbala yang tandus. Kita melihat Al-Husain mengatur pasukannya. 32 orang berkuda, 40 orang pejalan kaki, dan selebihnya anak-anak beserta perempuan. Sementara itu di hadapan Imam Husayn, ada Umar bin Sa’ad dengan 5000 anggota tentaranya, dilengkapi persenjataan yang jauh lebih lengkap. Bila matahari itu sanggup berbicara, ia akan mengatakan, “Ini bukan peperangan, ini pembantaian besar-besaran.” Kita melihat musuh mulai mendekat. Zainab melihat kakaknya maju ke depan. Kita melihat Imam Husayn menyongsong musuh-musuh itu sambil mengangkat tangannya seraya berdoa: “Ya Allah, Engkaulah sandaranku dalam kesulitan. Tumpuan harapan dalam kesusahan. Engkau sajalah kepercayaan dan kekuatanku, apa pun yang menimpa diriku; betapa pun lemah hatiku; betapa pun tipu daya telah menghilangkan harapanku; betapa pun kawan-kawan telah menjauhiku dan musuh-musuh bergembira pada deritaku. Aku sampaikan doaku pada-Mu. Aku mengadu kepada-Mu, dengan mengharapkan-Mu sendiri. Engkau telah menghiburku. Engkau telah membukakan nikmat bagiku. Engkaulah pemilik segala kebaikan, Tujuan akhir segala pengharapan.” Kita melihat Al-Husain meloncat menaiki kudanya. Ia melarang pengikutnya menyerang terlebih dahulu. Untuk terakhir kalinya, ia memperingatkan orang-orang Kufah yang menyerangnya. Ia mengingatkan mereka bahwa ialah Al-Husain yang di pundak Rasulullah pernah berdiri dan menyebabkan Rasulullah menahan sujudnya dalam waktu yang lama. Ialah Al-Husain yang ditangisi Rasulullah saw ketika beberapa saat sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia menasehati musuh-musuhnya untuk kembali ke jalan Rasul yang suci. Tetapi seluruh ucapannya tidak mempengaruhi tentara-tentara kezaliman itu. Tiba-tiba seekor kuda mendongak, dan penunggangnya dengan cepat mengarahkan kuda itu ke arah Al-Husain. Kita menarik nafas panjang. Semua mata memandang ke arah penunggang kuda itu. Setelah dekat, jelaslah siapa penunggang kuda itu -Al-Hurr bin Yazid, yang menggiring rombongan Al-Husain ke arah Kufah. Itulah Al-Hurr bin Yazid yang membawa rombongan Al-Husain ke padang pasir Karbala dengan puluhan pedang di belakang mereka. Al-Husain berdiri tegak, siap menyambut serangan Al-Hurr. Tapi dengarkan kata Al-Hurr: “Wahai putra Rasulullah! Inilah orang yang telah menzalimi engkau. Inilah orang yang telah menggiringmu ke tempat ini dan menyebabkan begitu banyak penderitaan kepadamu. Sudilah engkau, wahai putra Rasulullah, memaafkan orang durhaka seperti aku? Demi Allah, aku tidak menduga orang-orang ini akan bergerak sampai menumpahkan darah keluarga Rasulullah. Sekarang jalan damai sudah tertutup. Aku tidak mau membeli neraka dengan kesenangan dunia. Maafkan kesalah-anku, wahai cucu Rasulullah. Izinkanlah aku berkorban sebagai tebusan atas dosa-dosaku yang telah aku lakukan kepadamu.” Al-Hurr menaiki kudanya, menghentakkan kendalinya, dan meloncat menyerbu orang-orang Kufah, yang pernah menjadi anak buahnya. “Hai, orang-orang Kufah, kalian biarkan orang-orang Yahudi, Nasrani, anjing, dan babi meminum air sungai Eufrat, tapi kalian biarkan keluarga Rasulullah kehausan. Semoga Allah tidak melepaskan dahaga kalian pada Hari Pembalasan nanti. Ratusan orang mengepungnya. Kuda Al-Hurr roboh diserang anak panah. Tanpa kendaraan, Al-Hurr masih mengamuk seperti singa yang terluka. Akhirnya ia gugur juga. Tubuhnya dicincang ratusan pedang. Ia telah memilih surga dengan darahnya. Pertempuran pun kemudian ber-kecamuk. Tujuh puluh dua orang pengikut Al-Husain satu demi satu tersungkur dan darahnya menggenangi padang Karbala. Kita lihat, pasir-pasir yang semula kemuning sekarang memerah. Tinggallah Al-Husain beserta beberapa orang keluarganya. Ali Akbar, putra Al-Husain yang berusia sembilan belas tahun, maju menjaga ayahnya. Ia menghantamkan pedangnya ke kiri dan ke kanan, menyeruak ke tengah-tengah musuh. Luka-luka telah mengoyak tubuhnya, sementara kerongkong-annya kering karena kehausan. Al-Husain menghiburnya, “Sabarlah wahai anakku, sebentar lagi kakekmu Rasulullah akan memberimu minum dengan air surga.” Sebuah anak panah melesat dan menembus jantung Ali Akbar. Ia jatuh tersungkur. Sambil tetap melihat musuh-musuhnya, Al-Husain membelai kepala putranya, “Semoga Allah membunuh orang yang membunuhmu.” Ali Akbar gugur, disaksikan ayahnya sendiri. Zainab, yang terus mengawasi pertempuran itu, meloncat dari kemahnya. Tanpa meng-hiraukan bahaya ia menuju ke tempat Ali Akbar. Teriakannya menggema di seluruh Karbala, “Ya Allah, anakku sayang.” Ia mengangkat kepala Ali Akbar yang berlumuran darah, membelai-belainya, menciumnya, dan tidak henti-hentinya meratap dan menangis. Ia sudah tidak memperhatikan suasana sekitarnya. Menyadari bahaya yang mengancam adiknya, Al-Husain menarik tangan Zainab, mem-bawanya kembali masuk ke dalam kemah. Di dalam kemah itu, kita mendengar rintihan anak-anak yang kehausan. Kita melihat Al-Husain memandang putranya. Ali Asghar menggelepar karena haus yang mencekik lehernya. Ia tidak dapat menahan perasaan ibanya. Diangkatnya bayi kecil itu ke luar kemah. Ia mengacungkan bayi itu supaya jelas kelihatan oleh lawan-lawannya. “Hai orang-orang Kufah, apakah kalian tidak takut kepada Allah? Adakah padamu setetes air minum untuk bayi kecil ini? Tidakkah kalian merasakan derita anak kecil yang tidak berdosa ini?” “Inilah air minumnya!”, kata seorang pasukan ‘Umar bin Sa’ad. Ia merentang busur dan anak panah melesat tepat menembus perut bayi yang berada di tangan Al-Husain. Alangkah terkejutnya Al-Husain. Ia tidak mengira musuhnya akan sekejam itu. Sejenak ia terpaku, menyaksikan bayi kecil itu menggelepar-gelepar di ujung jarinya, dan darah yang suci membasahi tangan dan pakaiannya. Kita mendengar lagi jeritan Zainab dari dalam kemah. Al-Husain perlahan-lahan meletakkan jenazah putranya di samping jenazah-jenazah syuhada lainnya. Seorang demi seorang keluarga Imam Husain gugur. Putra-putra Aqil berjatuhan. Begitu pula Awn dan Muhammad. Dua orang putra Zainab, dibunuh di hadapan ibunya. Pasukan musuh mengepung Imam Husain dengan ketat. Pikiran Zainab kalut. Ia hampir tidak dapat menahan prahara yang bertubi-tubi menghantamnya. Tanpa diketahuinya, Al-Qasim, putra Al-Hasan, sudah keluar dari kemah. Ia masih sangat muda. Wajahnya molek, jernih, dan menampakkan kesegaran anak remaja. Ia memakai sarung dan sepasang sandal yang sebuah talinya sudah putus. Dengan berani ia menentang orang-orang yang haus darah itu. Tapi, apa artinya perlawanan anak kecil itu? Sebentar kemudian sebuah pedang mengenai kepalanya. Anak itu menjerit, “Aduh Paman….” Zainab terkejut, ia mendekati Al-Qasim. Di situ Al-Husain sudah tegak berdiri sambil bergumam, “Kau panggil pamanmu. Tetapi aku tidak sempat menjawab panggilan-mu. Semoga pembunuhmu akan berhadapan dengan kakekmu, Rasulullah, pada hari pembalasan nanti.” Ia mengangkat tubuh Al-Qasim dengan kedua tangannya, dan membaringkannya di samping jenazah-jenazah syuhada yang lain. Segera sesudah itu, Abdullah, saudara Al-Qasim, juga berlari dari tenda. Zainab tidak dapat menahannya. Ia jauh lebih muda dari Al-Qasim. Dengan gagah dan polos, ia berdiri di samping pamannya. Abjar, dari pasukan orang Kufah, menyerbu untuk menyerang Al-Husain. Remaja itu dengan berani menghalanginya. Abjar menebaskan pedangnya. Abdullah berusaha menangkisnya dengan tangan kanannya. Pedang memutuskan tangan kecil itu, sehingga sebelah tangannya bergelantung, berayun-ayun karena tertahan kulit yang masih menyambungkannya dengan bahu anak itu. “Aduh Ibu…!” jerit Abdullah. Al-Husain segera memeluknya. Abdullah akhirnya gugur dalam pelukan pamannya. Walaupun hampir seluruh anggota keluarga-nya sudah gugur, Al-Husain masih memberikan perlawanan, seperti singa yang tangguh. Tubuhnya yang penuh debu bermandikan keringat dan darah. Ketika kehausan dirasakan begitu berat, kita lihat Al-Husain merangkak berusaha mendekati sungai Eufrat. Tapi dari jauh Umar bin Sa’ad membidikkan anak panahnya, tepat mengenai bahu kiri Al-Husain. Zar’ah bin Syarik segera mendekatinya, mengayunkan pedang ke arah kepalanya. Al-Husain berusaha menangkisnya,tapi ia harus kehilangan tangan kanannya. Ketika Al-Husain dalam keadaan luka parah, Sinan bin Anas menusuknya. Cucu Rasulullah, yang digelari penghulu para syuhada itu, akhirnya tersungkur. Syamir Zul Tawisyan Laknatullahi Alaih memenggal kepalanya yang mulia. Hari itu, 10 Muharram 61 Hijriah, peperangan dramatis itu berakhir. Musuh yang tidak berperikemanusiaan mengakhiri perang dan mengerahkan pasukan berkuda untuk menginjak-injak tubuh Al-Husain, kekasih Rasulullah saw. Kita mendengar Zainab meraung keras. Kita mendengar keluarga Al-Husain menangis memenuhi Karbala dengan tangisan yang memilukan. Pandangan mata Zainab gelap, tertutup air mata yang deras mengalir. “Duhai Muhammad, duhai Muhammad. Ya Rasulullah, mudah-mudahan malaikat di langit menurunkan rahmat bagimu. Tapi lihatlah ini, Al-Husain, begitu terhina dan teraniaya, penuh darah dan terpotong-potong. Duhai Muhammad, putrimu kini sudah menjadi tawanan. Keluargamu yang dibantai sekarang akan tertutup debu angin Timur.” Kita dengar Zainab terus merintih. Kita lihat Ali Zainal Abidin dan sisa-sisa keluarganya yang masih hidup dibelenggu dan diseret sebagai tawanan. Zainab belum mati. Tugasnya belum berakhir. Ia masih harus mengawal Ali Zainal Abidin, salahseorang keturunan Rasul yang akan melanjutkan kepemimpinan Ahli Bait. Kita meninggalkan tanah Karbala dan kembali ke tempat kita saat ini. Mereka sudah menumpahkan darahnya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Para cucu Rasulullah saw, para keluarga suci sudah mengorbankan kehidupannya untuk menegakkan Islam yang sejati, Islam Muhammadiy. Marilah kita bertekad sekarang ini untuk melanjutkan perjuangan mereka. Menegakkan kebenaran dan keadilan. Marilah kita bertekad berbai’at kepada Rasulullah saw dan keluarganya yang suci, untuk menegak-kan ajaran agama Islam yang ditegakkan di atas Kitabullah dan sunnah Rasulullah yang dibawa oleh keluarganya yang suci. Marilah kita membawa sebuah tekad yang suci untuk melanjutkan perjuangan suci ini sampai akhir zaman! JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
HARI SYUHADAJuly 12, 2024Muhammad Saw., sebagaimana nabi-nabi Allah yang lain, datang bukan sekedar mengajarkan shalat dan doa. Dia adalah tokoh revolusioner yang memimpin kelompok tertindas melawan kezaliman sistem yang berlaku. Dia tampil membimbing kaum mustadh’afin untuk mengubah nasibnya dan menentang kaum mustakbirîn supaya menghentikan keserakahannya. Karena itu, dia didukung rakyat kecil dan dibenci kebanyakan penguasa. Di antara aristokrat Arab yang paling berkuasa adalah Abu Sufyan. Di dalam dirinya terdapat sifat pengusaha dan penguasa sekaligus. Istrinya, Hindun, juga memegang peran politik yang tidak kalah pentingnya. Dalam beberapa hal, Hindun adalah penasihat dan pendukungnya yang paling setia. Revolusi Nabi Saw. berhasil. Dinasti Abu Sufyan tumbang, dan kalimah tauhid tegak. Manusia berbondong-bondong masuk Islam, termasuk keluarga Abu Sufyan. Dengan maaf Rasulullah Saw., mereka yang dulu pernah menjadi musuh Islam, sekarang menjadi pemeluk Islam. Untuk beberapa saat, Islam memperoleh zaman keemasan. Rasulullah Saw. meninggal, disusul oleh Khulafaur Rasyidin yang empat. Menakjubkan sekali, begitu Ali meninggal, dinasti Abu Sufyan muncul kembali dan merebut kendali politik. Tokoh-tokoh tauhid dan pencinta kaum dhuafa satu demi satu tersingkir atau disingkirkan. Sahabat-sahabat senior sekarang menjadi kelompok yang tidak diperhitungkan. Sa’ad bin Abi Waqqash hidup miskin. Anak-anaknya mempertanyakan mengapa senioritasnya sebagai sahabat Rasulullah kalah oleh tokoh-tokoh belakangan yang hidup senang di sekitar istana. Sa’ad menjawab, “Anakku, mereka mengelilingi bangkai. Kalau mampu, aku akan menghindari bergaul dengan mereka.” “Kalau begitu, kita akan miskin,” jawab anak-anaknya. “Demi Allah, menjadi mukmin yang kurus lebih aku cintai dari- pada menjadi munafik yang gemuk.”” Tidak banyak orang seperti Sa’ad. Banyak fuqaha’, berdiri di belakang penguasa. Hampir setengah abad setelah Rasulullah Saw. meninggal, suara kebenaran nyaris tidak kedengaran. Orang takut berbicara karena dapat dituduh bughât. Semangat jihad hampir mati, karena alasan musuh terlalu kuat. Menghadapi kekuatan kebatilan yang besar, sebagian orang lari ke tempat sunyi, bertasbih dan beribadah; sebagian lagi bergabung dengan penguasa dan memperoleh fasilitas; dan sebagian kecil, betapapun lemahnya, mencoba menyerang kezaliman. Dalam kelompok kecil inilah cucu Rasulullah Saw. berada. Sebagai ahli waris semangat jihad dari ayah dan kakeknya, Imam Husain tidak dapat berdiam diri. Dia tidak dapat menerima pendapat orang bahwa perlawanan dalam keadaan lemah berarti bunuh diri. Dia yakin bahwa kalau semua orang berpendapat demikian, maka siapa lagi yang bangkit menentang kezaliman? Dia percaya bahwa kezaliman hanya berlangsung berkat kerja sama antara yang menzalimi dan yang dizalimi. Diam melihat kezaliman adalah juga berbuat zalim. Dia tidak dapat menerima pandangan bahwa jihad belum sampai pada waktunya, bahwa kondisi dan situasi tidak mengizinkan. Imam Husain menolak saran Ibn Abbas agar dia mengirim surat saja kepada pengikut-pengikutnya di Kufah, mengingat bahaya yang mungkin merenggut nyawanya. Dia juga menolak saran Ibn Abbas untuk tidak membawa keluarga dan anak-anaknya. Maka, berangkatlah cucu Rasulullah Saw. beserta rombongan yang tidak lebih dari 72 orang. Pada pagi hari Asyura, tahun 61 Hijriah, di Padang Karbala, rombongan suci ini berhadapan dengan ribuan pengikut Yazid dan pasukan Ibn Ziyad. Kita tidak akan mengisahkan perincian pertempuran yang tidak seimbang ini, tetapi marilah kita dengarkan ucapan “Pemuda Surga” (gelar yang diberikan oleh Rasulullah Saw. kepada Imam Husain) kepada musuh-musuhnya, “Kalian telah menjadikan pemimpin orang-orang yang dahulu menganggap Al-Quran sebagai sihir dan mencemoohkan Nabi. Kalian lebih menyukai perbudakan daripada kemerdekaan dan memilih kekafiran daripada iman karena kecintaan kepada dunia. Tingkah laku seperti ini akan membawa kalian pada kehinaan dan kerendahan, dan mendatangkan laknat yang kekal bagimu Kalian meminta aku mengenakan pakaian kehinaan, padahal kalian tahu bahwa kami tidak pernah menyerah pada penghinaan seperti itu. Rasulullah Saw. dan ayah-ayah kami yang suci telah memiliki jiwa yang begitu suci dan mulia sehingga mereka lebih memilih kematian daripada kehinaan. Kami tidak mengenal takut dan sifat pengecut. Kami berangkat menuju syahid dengan penuh bahagia, karena kami tidak melihat kehidupan abadi selain dalam mati syahid!” Inilah pilihan Imam Husain. Setelah itu, terjadilah apa yang sudah terjadi. Marilah kita dengarkan penuturan Abul A’la Al-Maududi: Lalu mereka memerangi, sehingga setelah semua kawannya telah gugur sebagai syuhada dan dia berdiri di tengah medan pertempuran sendirian, mereka pun menyerbu dan mengeroyoknya bersama- sama. Ketika dia terluka dan kemudian jatuh, mereka menyembelihnya dan merampok apa saja yang ada di atas jasadnya, mengoyak-ngoyak baju yang menutup tubuhnya, kemudian menggilasnya dengan kuda-kuda dan menginjak-injaknya dengan kaki-kaki mereka. Setelah itu, mereka beralih ke kemahnya, merampok isinya, mencabik-cabik pakaian para wanita, memenggal kepala-kepala setiap orang yang telah Karbala dan membawa semua itu ke Kufah. Ibn Ziyad tidak gugur di cukup menjadikan itu semua sebagai barang tontonan di hadapan orang banyak, tetapi bahkan dia naik ke mimbar masjid jami’ dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menampakkan kebenaran dan ahlinya, memenangi Amirul Mukminin Yazid dan kelompoknya, serta membunuh si pendusta putra si pendusta, Husain bin Ali, dan para pengikutnya!” Kemudian penggalan-penggalan kepala itu dikirimkan kepada Yazid di Damsyik, yang pada gilirannya menggantungkannya di balairung istananya dan di berbagai ruang duduknya. Inilah lembaran hitam dalam sejarah Islam, tetapi ini juga lembaran cemerlang dalam sejarah para syuhada! JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
SEBUAH PENGGAMBARAN TENTANG KECERDASAN SPIRITUALJuly 6, 2024Seorang pengusaha Amerika sedang berdiri di dermaga di sebuah desa pantai di eksiko ketika sebuah perahu kecil yang hanya memuat seorang nelayan berlabuh. Di dalam perahu terdapat beberapa ikan tuna sirip kuning. Orang Amerika itu memuji si nelayan Meksiko atas kualitas ikannya dan bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangkapnya. Nelayan Meksiko itu menjawab, “Hanya sebentar.” Selanjutnya, orang Amerika itu bertanya mengapa dia tidak tinggal di laut lebih lama agar dapat menangkap ikan lebih banyak. Nelayan Meksiko itu menjawab bahwa yang dibawanya sudah cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya saat ini. Lalu, orang Amerika itu bertanya, “Tetapi, apa yang Anda lakukan dengan waktu Anda selebihnya?” Nelayan Meksiko itu berkata, “Saya tidur larut, memancing sebentar, bermain dengan anak-anak saya, tidur siang bersama istri saya, Maria, berjalan-jalan ke desa setiap malam untuk saya menyesap anggur dan bermain gitar bersama kawan-kawan saya. Saya mempunyai kehidupan yang lengkap dan sibuk, Señor.” Orang Amerika itu mencemooh, “Saya seorang MBA lulusan Harvard dan dapat menolong Anda. Anda mestinya Anda menggunakan waktu lebih banyak untuk menangkap ikan. Dengan keuntungan dari situ, Anda dapat membeli perahu yang lebih besar. Dari hasil perahu yang lebih besar, Anda dapat membeli beberapa perahu lagi. Pada akhirnya, Anda akan memiliki armada perahu nelayan. Bukannya menjual tangkapan kepada tengkulak, Anda dapat menjual langsung pada pabrik pengolah ikan, dan akhirnya, Anda bisa membuka usaha pengalengan sendiri. Anda akan mengontrol produk, pemrosesan, dan distribusi. Nantinya, Anda harus meninggalkan desa pantai yang kecil ini dan pindah ke Kota Meksiko, lalu ke Los Angeles, dan akhirnya, ke New York, dan Anda akan menjalankan perusahaan Anda sendiri yang semakin berkembang.” Nelayan Meksiko itu bertanya, “Tetapi Señor, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk ini?” Orang Amerika itu menjawab, “Lima belas sampai dua puluh lima tahun.” “Tetapi, kemudian setelah itu apa, Señor?” Orang Amerika itu tertawa dan berkata bahwa itulah bagian yang paling baik. “Jika waktunya sudah tepat, Anda akan menjual saham perusahaan kepada masyarakat dan menjadi sangat kaya. Anda akan menghasilkan uang berjuta-juta.” “Berjuta-juta, Señor? Lalu untuk apa?” Orang Amerika itu berkata, “Lalu, Anda akan pensiun. Pindah ke kota pantai kecil supaya Anda bisa tidur larut, memancing sedikit, bermain dengan anak-anak, menikmati tidur siang bersama istri, berjalan-jalan ke desa di malam hari dan menyesap anggur serta bermain gitar bersama kawan-kawan.” Kita dapat dengan mudah melihat bahwa pengusaha Amerika dalam cerita ini bodoh secara spiritual, sedangkan nelayan Meksiko itu cerdas. Mengapa? Sang nelayan memiliki pemahaman yang cerdas mengenai tujuan hidupnya sendiri yang dianggapnya penting, motivasinya sendiri yang paling dalam. Dia menjalani gaya hidup yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya sendiri maupun keluarganya, dia meluangkan waktu untuk hal-hal yang berarti baginya, dia merasa damai, dia terpusat. Pengusaha Amerika itu, sebaliknya, adalah anak dari kebudayaannya sendiri yang bodoh secara spiritual. Dia ambisius, dia harus mencapai sesuatu demi pencapaian itu sendiri, dia tidak bersentuhan dengan hal-hal dalam kehidupan yang dapat memberi motivasi mendalam kepada sescorang seperti nelayan tersebut, dia telah menyerap cita-cita tak bermakna hanya karena cita-cita itu dia pelajari di Harvard. Nelayan itu kemungkinan besar akan berumur panjang dan akhirnya meninggal dengan damai. Sang pengusaha akan terkena serangan jantung pada usia 55 dan meninggal dengan perasaan sedih bahwa dia tidak pernah berhasil mencapai cita-citanya. Sumber: Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ, hh. 249-250. KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, da [...] Read more...
KIAT-KIAT MENGEMBANGKAN SQ ANAKJuly 6, 2024Jadilah Gembala Spiritual Orangtua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. la sudah “mengakses” sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. “Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension-the human soul,” kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya sebagai “orang yang berjalan dengan membawa cahaya” (QS Al-An’âm : 122). Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun tetap menunjukkan bahagia di tengah tofan dan badai yang melandanya. “Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because of them,” masih kata Khavari. Bayangkanlah masa kecil kita dahulu. Betapa banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai orang yang ber-SQ tinggi. Dan, orang-orang itu boleh jadi orangtua kita atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita. Rumuskanlah Misi Hidup Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita. Kepada saya datang seorang anak muda dari Indonesia bagian timur. Ia meminta bantuan saya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi swasta, setelah gagal di UMPTN. la tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa merumuskan keinginannya dalam kerangka misi yang luhur. Berikut ini adalah cuplikan percakapan kami: Anak (A) : Saya ingin belajar, Pak. Saya (B) : Untuk apa kamu belajar? A : Saya ingin mendapat pekerjaan. B : Jika belajar itu hanya untuk dapat pekerjaan, saya beri kamu pekerjaan. Tinggallah di rumahku. Cuci mobilku, dan saya bayar kamu. A : Saya ingin belajar, Pak. B : Untuk apa kamu belajar? A : Saya ingin mendapat pengetahuan. B : Jika tujuan kamu hanya untuk memperoleh pengetahuan, tinggalah bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari untuk membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku ketimbang dari sekolah. A : Tetapi saya ingin masuk sekolah. B : Untuk apa kamu masuk sekolah? A : Saya bingung, Pak. Saya sebenarnya ingin mengarahkan dia untuk memahami tujuan luhur dia. Dengan menggunakan teknik “setelah itu apa?” dalam anekdot Danah Zohar’, kita dapat membantu anak untuk menemukan misinya. Jika sudah sekolah, kamu mau apa, setelah itu apa? Aku mau jadi orang pintar. Jika sudah pintar, mau apa? Dengan kepintaranku, aku akan memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa? Aku akan punya duit banyak. Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Sampai di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya. Baca Kitab Suci Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar Islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dr. Muhammad Iqbal. Walaupun dibesarkan dalam tradisi intelektual Barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi, dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai shalat subuh, ia membaca Al-Quran. Pada suatu hari, bapaknya berkata, “Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan untukmu!” Setelah itu, kata Iqbal, “Aku merasakan Al-Quran seakan-akan berbicara kepadaku.” Ceritakan Kisah-Kisah Agung Anak-anak, bahkan orang dewasa sangat terpengaruh cerita. “Manusia,” kata Gerbner, “adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya.” Para nabi mengajari umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi, seperti Al-‘Attar, Rumi, dan Sa’di mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang, Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup for the Soul-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber. Saya senang berdiskusi dengan anak-anak saya. Bukan hanya mengambil dari kisah-kisah Islam, saya juga me nuturkan kisah dari Alkitab, Cina, India, mitologi Yunani, dan dongeng-dongeng dari berbagai tempat di tanah air, mulai dari kisah pewayangan di Jawa hingga dongeng dari Maluku. Begitu pula, saya membaca cerita-cerita Hans Christian Andersen, fabel-fabel Jean de la Fontaine, hingga serial komik Crayon Sinchan. Saya selalu menemukan pelajaran berharga di dalamnya. Saya bagikan pelajaran itu kepada anak-anak saya, yang dilahirkan baik oleh istri saya, maupun oleh istri-istri orang lain (misalnya, yang saya ajar di sekolah saya). Diskusikan Berbagai Persoalan dengan Perspektif Ruhaniah Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi (The Divine Grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas: “Katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya merekah setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu.” Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya. Libatkan anak dalam kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan agama adalah cara praktis untuk tune in dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekuatan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekadar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang! Bacakan Puisi-Puisi atau Lagu-Lagu yang Spiritual Inspirasional Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Kita bisa berkata, “Masakan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata, “Keputusan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (ini yang kita sebut sebagai SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyajikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata, “At the touch of love, everyone becomes a poet” (Saat jatuh cinta, semua orang menjadi pujangga). Kita dapat berkata, “At the touch of poetry, everyone becomes a lover” (Saat membaca puisi, semua orang menjadi pencinta). Bawa Anak untuk Menikmati Keindahan Alam Teknologi modern dan kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya, dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri. Bawa Anak ke Tempat-Tempat Orang yang Menderita Nabi Musa pernah berjumpa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau?” Tuhan berfirman, “Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya.” Di sekolah kami ada program yang kami sebut sebagai Spiritual Camping. Kami bawa anak-anak ke daerah pedesaan, alamnya yang relatif belum terjamah oleh teknologi. Malam hari, mereka mengisi waktunya dengan beribadah dan tafakur. Siang hari mereka melakukan action research untuk mencari dan meneliti kehidupan orang yang paling miskin di sekitar itu. Mereka menangis. Secara serentak, mereka menyisihkan uang mereka untuk memberikan bantuan. Dengan begitu, mereka dilatih untuk melakukan kegiatan sosial juga. Ikut-sertakan Anak dalam Kegiatan-Kegiatan Sosial Saya teringat cerita nyata dari Jack Canfield dalam Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang “catatan kejahatannya lebih panjang daripada tangannya”. Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan-kawannya. Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih. Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik-rajin, penyayang, dan penuh tanggung jawab. You know, that is the miraculous power of doing good. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Mengembangkan Kecerdasan Spiritual AnakJune 26, 2024Waktu itu, dini hari, di sebuah rumah sederhana. Rahman dan istrinya terbangun karena mendengar derak pintu terbuka. Dipasungnya telinganya tajum-tajam. Mereka yakin suara itu berasal dari kamar anaknya, yang berusia tujuh tahun. Langkah-langkah kecil, terdengar seperti berjingkat-Jngkat, bergerak menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Mereka mendengar suara air mengalir yang disusul dengan suara gerakan membasuh. Langkah-langkah kecil itu kembali ke kamarnya. Walaupun sayup, karena dini hari yang hening, mereka mendengar suara bacaan Al-Quran. Anak itu rupanya sedang melakukan shalat malam. Tiba-tiba, keduanya merasakan airmata hangat membasahi pipinya. Kisah ini disampaikan kepada saya oleh Pak Rahman, ketika saya masih menjadi guru mengaji anak-anak di kampung tempat tinggal saya. Karena kejadian itu, kedua orangtua itu mulai melakukan shalat dan meninggalkan perjudian populer-lotto. Ini terjadi kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Saya mendengar kejadian lain yang hampir mirip dengan itu, dua atau tiga tahun yang lalu. Kali ini, saya menjadi Direktur SMA Plus Muthahhari. Seorang ibu, orangtua murid yang baru lulus, datang dari Banten. Ia meminta bantuan ngirim Rahmat ke Jerman. la sudah meyakinkan anaknya bahwa ia tidak akan mampu untuk membiayainya. Tetapi anaknya berkali-kali meyakinkan orangtuanya bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan. Di tengah-tengah pembicaraan, ibu itu bercerita tentang perubahan perilaku anaknya setelah masuk sekolah kami. Waktu pulang kampung, ia banyak menaruh perhatian pada tetangga tetangganya yang miskin. Menjelang Lebaran, seperti biasanya, ibu itu memberi anaknya uang untuk membeli pakaian yang baru. Rahmat menerima uang itu seraya meminta izin untuk memberikannya pada tukang becak tetangganya. “Uang ini jauh lebih berharga bagi dia ketimbang saya, Bu,” kata Rahmat. Kedua kisah nyata di atas menyajikan contoh anak yang cerdas secara spiritual. Keduanya terjadi jauh sebelum konsep kecerdasan spiritual ramai diperbincangkan. Karena saya tidak ingin bertele-tele mendiskusikan apa yang disebut SQ, dan hanya untuk menyamakan pengertian SQ, saya akan mengutip lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual: Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material (the capacity to transcend the physical and material). Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak (the ability to experience heightened states of consciousness). Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari (the ability to sanctify everyday experience). Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah (the ability to utilize spiritual resources to solve problems). Kemampuan untuk berbuat baik (the capacity to be virtuous). Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. la merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indriawinya. Anak Pak Rahman pada kisah pertama memiliki kedua ciri ini, terutama ketika ia menyampaikan doa-doa personalnya dalam shalat malamnya. Sanktifikasi (pengudusan) pengalaman sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada Abad Pertengahan, seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. la tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda kerjakan?” Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun katedral!” Yang kedua telah mengangkat pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi. Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. la menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks kitab suci atau wejangan orang-orang suci untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi. Ketika Rahmat diberi tahu bahwa orangtuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”? (QS Al-‘Ankabut : 69). Bukankah Heinrich Heine memberikan inspirasi dengan kalimatnya: “Den Menschen macht seiner Wille gross end klein.” Kemauanlah yang membuat manusia besar atau kecil. Rahmat memiliki karakteristik yang keempat. Tetapi Rahmat juga menampakkan karakteristik yang kelima: memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesame makhluk Tuhan. “The fifth and final component of Spiritual Intelligence refers to the capacity to engage in virtuous behaviour: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur, atau mengungkapkan terima kasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda Nabi Muhammad Saw., “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.” JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...
Kekuatan ImajinasiJune 26, 2024“Orang Mati Beku dalam Mobil Pendingin”. Ini judul berita dalam salah satu surat kabar di Amerika. Membaca judul berita itu, tidak seorang pun yang akan keheranan. Ini bukan berita. Orang pasti mati kedinginan dalam lemari es yang berbentuk mobil (refrigerator car). Tetapi berita itu tidak berhenti di sini. Ada orang masuk ke mobil pendingin itu dan terjebak di dalamnya karena pintunya tiba-tiba terkunci. Ketika pintu dibuka, orang itu sudah mati dengan semua gejala orang yang kedinginan. Bongkah-bongkah es menempel pada sekujur tubuhnya. Yang mengherankan, temperatur di mobil itu sama sekali tidak dingin, karena sudah lama mesin pendinginnya dimatikan. Jadi, mengapa ia mati? Jawabannya: ia percaya betul bahwa ia masuk ke mobil pendingin. la percaya bahwa ia akan mati kedinginan. Pikirannya memengaruhi tubuhnya sehingga terjadilah kypothernia. Ia mati karena pikirannya. Di tempat lain, ada sekelompok mahasiswa menculik seorang asisten yang dipandangnya terlalu galak. Mereka membawanya ke sebuah hutan kecil, tidak jauh dari universitas. Muka asisten itu ditutup kain hitam. Ketika tutup mukanya dibuka, ia melihat kepalanya berada di bawah pisau guillotin besar, yang dahulu digunakan untuk menghukum mati baginya. Mukanya ditutup kembali. Selembar kain disabetkan dengan keras ke arah tengkuknya, seakan-akan pisau besar itu jatuh menimpanya. Lalu, air hangat dialirkan ke lehernya. Asisten itu mati! Sandiwara atau permainan itu telah meminta korban. Siapakah yang membunuh asisten itu? Pikirannya sendiri. la berpikir bahwa ia sudah ditebas pedang. la percaya darah hangat sudah membasahi lehernya. “A man’s life is uhat his thoughts make of it,” kata Marcus Aurelius Antonius, Kaisar Romawi tempo dulu. “You don’t think what you are. You are what you think,”ujar para psikolog mutakhir. Betulkah kekuatan berpikir kita dapat menentukan hidup dan mati kita? Sebetulnya, lebilh tepat kita menggunakan frasa “kekuatan imajinasi” ketimbang kekuatan berpikir. Berpikir biasanya dikaitkan dengan hal-hal yang rasional. Imajinasi tidak selalu rasional. Berpikir dihubungkan dengan kerja otak sebelah kiri, sedangkan imajinasi berkaitan dengan kerja otak sebelah kanan. Kekuatan imajinasi adalah salah satu jembatan yang menghubungkan jiwa dengan tubuh. Tubuh kita memberikan reaksi kepada imajinasi kita. Tubuh tidak dapat membedakan apakah imaji (gambaran mental) kita itu riil atau imajiner. “Imaji bisa jadi mewakili atau tidak mewakili realitas eksternal, tetapi ia selalu mewakili realitas internal,” ujar Martin I. Rossman, MD, pendiri Academy for Guided Imagery. “Imajinasi barangkali sumber daya kesehatan orang yang paling jarang digunakan. Imajinasi dapat digunakan untuk mengingat dan menciptakan kembali masa lalu, mengembangkan wawasan mendalam tentang masa kini, memengaruhi kesehatan fisik, mendorong kreativitas dan inspirasi, serta mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan di masa depan.” Dengan kekuatan imajinasi, kita menciptakan pencitraan (imagery). Apabila kita mencitrakan di dalam benak sesuatu yang seolah-olah kita lihat, lazimnya kita menyebutnya visualisasi. Belakangan, istilah visualisasi lebih populer ketimbang imagery: terutama setelah Dr. Carl Simonton menggunakannya untuk pengobatan penderita kanker. Dr. Simonton pertama kali menggunakan teknik ini pada tahun 1971 untuk mengobati pasien kanker teng gorokan. Kondisinya telah didiagnosis sebagai “tidak ada harapan”. Pasien berusia 61 tahun. la sangat lemah, beratnya turun drastis menjadi 45 kilogram, dan ia mengalami kesulitan untuk bernapas dan menelan ludahnya sendiri. Walaupun ia direncanakan untuk menerima pengobatan dengan sinar atau radiasi, para dokter mengkhawatirkan bahwa penyinaran akan makin memperburuk kondisi tubuhnya. Dr. Simonton membuat program relaksasi dan pencitraan untuk orang itu. Ia menyuruhnya meluangkan waktu lima sampai lima belas menit tiga kali sehari. Latihan pencitraan yang dilakukan berupa membayangkan radiasi seakan-akan “peluru-peluru energi” menyerang semua sel baik yang sehat maupun sel-sel kanker. la harus membayangkan sel-sel sehatnya tetap sehat dan sel kankernya mati dengan cepat. Pasien kemudian memvisualisasikan kankernya mengerut dan kesehatannya kembali normal. Usai program ini, orang itu dapat menerima radiasi dengan rasa sakit yang minimal. Di tengah-tengah perawatan, ia mulai makan lagi dan mengalami kenaikan berat badan dan kekuatan. Dalam dua bulan, kankernya hilang sama sekali. Dr. Patricia Norris, perintis dalam bidang pencitraan dan penulis buku Why Me? bekerja melayani orang-orang yang menderita sakit parah. Dr. Norris membedakan di antara dua jenis pencitraan; pertama, citra yang dikayangkan oleh dokter sebagai cara untak menyugestikan penyembuhan; kedua, citra yang diciptakan pasien sehagai cara untuk memahami makna gejala penyakitnya atau untuk mengakses sumber daya batiniah. Dr. Normis terkenal karena kasus penggunaan imagery yang dilakukan oleh Garrett Peter, sembilan tahun, yang didiagnosis menderita kanker otak pada stadium terminal. Berdasarkan film Ster Trek yang sangat disukai Garrett (dibuatlah pencitraan scakan-akan para pahkawan Star Trek bersama-sama menyerbu dan mengluncurkan makhluk asing yang berupa sel-sel kanker otaknya), selama satu taun Dokter Norris membimbing Garrett dalain terapi intensif. Sesudah itu, tumor otak anak itu hilang sama sekali (Goldberg. 1900: 249) Jika the power imagination dapat menghilangkankan kanker dari otak kita, bisakah ia dengan caranya yang sama memasukkan kegenisan ke dalam otak kita? Jawabannya menakjubkan: Bisa! Karena orang yang pernah melakukan hal yang terakhir ini adalah Einstein. Dr. Win Wenger dan Richard Poe menyebutnya The Einstein Factor. Ketika kecil, karena penyakit dysleis (sebagian menyebutnya autistic), Einstein dianggap bodoh dibandingkan dengan kakak-kakaknya. la mengalami kesulitan berbicara dan membaca “Perkembangan masa kanak- kanaknya berlangsung sangat lambat,” kata saudara perempuannya, Maja Winteler Einstein, “dan ia mengalai kesulitan yang begitu luar biasa sehingga orang-orang di sekitarnya cemas ia tidak akan mampu berbicara. Setiap kalimat yang ia ucapkan, betapapun sederhananya, selalu ia ulangi sendiri secara pelan-pelan, dengan menggerakkan bibirnya. Kebiasan ini berlanjut sampai ia berusia tujuh tahun.” Gurunya dalam bahasa Yunani mengecamnya, “Kamu tidak bakal jadi apa apa.” Dari sekolah, ia dikeluarkan. La juga gagal ujian masuk ke perguruan tinggi Akhirnya, ia terpaksa menerima pekerjaan rendahan di kantor paten di Swiss. Dalam usia pertengahan dua puluh talunan, ia seperti ditakdirkan akan hidup biasa-biasa saja. Tetapi, pada usia 26 tahun, ia menerbitkan Teori Relativitas. Di dalanya, ia merumuskan teorinya yang terkenal E=mc2. Enam belas tahun kemudan, ia memenangi hadiah Nobel. (Jika Anda dianggap orang bodoh, tingkatkan percaya diri Anda dengan membayangkan dri Anda sebagai Einstein. Bukan hanya Einstein, Thomas Edison, penemu 1.093 paten, dianggap sangat-sangat bodoh. Henri Poincare, ahli matematika yang terkenal, menjawab tes IQ Binet begitu buruk sehingga ia dianggap imbesil, yakni, idiot hanget.) Mari kita balik lagi kepada Einstein. Kita bertanya kepadanya bagaimana ia sampai kepada teorinya, yang merupakan hukum fundamental jagat raya. Einstein berkata, “I did net arrive my understanding of the fundamental laws of the universe throgh my rational mind.” Jika Einstein tak sampai pada pemahaman tentang hukum-hukum dasar jagat raya melalui pemikiran rasional, lalu melalui apa lagi? Kalau bukan kecerdasan IQ-nya yang cemerlang, apa yang menjadikan Einstein genius terbesar abad dua puluh? Dalam catatan otobiografinya, Einstein menceritakun saat pertama kalinya ia memikirkan teori relativitas: “Kira-kira seperti apa kalau kita berlari di samping pancaran cahaya, dengan kecepatan cahaya?” begitu dibayangkan Einstein. Ia juga membayangkan mengendarai ujung berkas cahaya (light beam) sambil memegang cermin. Apakah ia melihat bayangannya dalam cermin, karena cahaya yang meninggalkan wajalnya harus bergerak lebih cepat daripada cahaya supaya mencapai cermin? Einstein lebilh memercayai intuisinya ketimbang teori klasik itu. Dalam bayangannya, sangat hucu kalau kita memegang cermin dan tidak melihat wajah kita di dalamnya. Einstein membayangkan jagat raya yang memungkinkan kita meliat wajah kita dalam cermin, walan pun kita mengendarai berkas cahaya. Dan Teori Relativitas lahir! Pikolog Robert Dilts, dengan mengumpulkan catatan tercecer dari Einstein, seperti surat-menyuratnya dengan Sigmund Freud dan Jacques Hadamard serta wawancaranya dengan Max Wertheimer, menemukan: “Einstein menyatakan halwa ia berpikir terutama dengan menggunakan citra visual dan perasaan. Ungkapan pikirannya dalam bentuk verbal dan sudah selesai.” Kepada Max Wertheimer, Einstein berkata, “These thought did not come in any verbal formulation.I very rarely think in words at all.” Para pendidik sekarang sudah membawa praktik the power of imagination ini ke ruangan kelas. la dapat membantu meningkatkan kecerdasan IQ salah satu dari unsur SEPIA (Spiritual, Emotional Power, Intellectual, dan Aspiration) dalam buku ini. Marilah kita simak penaturan Sheila Ostrander dan Lynn Schroeder dalam buku best seller-nya Superlearning 2000. “Ketika Dr. Robert Hartley dari University of London sedang berjuang mengatasi prestasi akademis buruk dari anak-anak yang kurang beruntung, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ketika masih menjadi murid sekolah, Hartley mengalami kebuntuan ketika harus menulis esai yang penting. Akhirnya ia membayangkan seorang pembaca berita membahas topik itu. Inspirasi pun datang. Hartley muda yang putus asa membayangkan dirinya sebagai pengulas berita dan kalimat mulai mengalir. Dapatkah berpura-pura’ menggerakkan yang lain untuk mencapai kemajuan? Hartley menghadapi anak-anak yang buruk dalam mengerjakan tes memasangkan gambar. “Coba bayangkan orang yang sangat pintar yang kamu kenal, begitu kata dia kepada anak-anak itu. Jadilah kamu aktor. Tutup matamu. Bayangkan bahwa kamu menjadi orang yang sangat pintar itu dan melakukan tes sebagaimana dia melakukannya.” Sesame buka pintu! Anak-anak membayangkan dirinya sangat pintar dan menjadi pintar. Skor mereka naik secara signifikan. Prestasi ‘slow learners’ tidak dapat lagi dibedakan dari anak-anak yang cerdas. Salah seorang di antara mereka tidak memercayai nilainya. Waw, ini bukan hasilku katanya protes. Itu pasti hasil orang pandai itu.’ Langkah imajinatif berikutnya, Hartley mencatat, ialah memperbaiki citra diri yang buruk.” (superlearning 2000, h. 181). Jadi, the power of imagination dapat membantu meningkatkan IQ atau kecerdasan logis siapa pun. Saya percaya, ia juga dapat meningkatkan kecerdasan spiritual. Ibn Arabi, yang dijadikan contoh manusia yang cerdas secara spiritual oleh Robert A. Emmons dalam The Pychology of Ultimate Concern, menyebut quwwat mutakhayyilah, kekuatan imajinasi sebagai salah satu fakultas yang membawa kita kepada alam yang lebih luas. la juga dapat meningkatkan kecerdasan ruhaniah kita di samping kecerdasan yang lain. Pencitraan, imagery, dapat meningkatkan kecerdasan Anda dalam berempati (kecerdasan enosional), menentukan masa depan Anda (kecerdasan aspirasi), melipatgandakan kekuatan Anda dengan mengakses sumber daya yang tidak pernah habis (kecerdasan kekuatan). Kita sekarang tahu bahwa kekuatan imajinasi tidak saja mampu mengembangkan macam-macam kecerdasan, tetapi juga dapat menciptakan realitas seperti yang kita bayangkan. Bagaimana kekuatan imajinasi ini dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tampaknya bisa menjadi bahan pembicaraan berikutnya. Tapi, jika Anda ingin menggunakan kekuatan ini sekarang juga, sejauh yang Anda pahami dari tulisan ini, go ahead! Sebelum membaca lembar demi lembar buku SQ For Kids, bayangkanlah bahwa Anda sekarang ini bukan Anda lagi, tetapi Einstein, Edison, atau yang lainnya. Lihatlah apa yang terjadi pada diri Anda. Izinkanlah saya mengakhiri bagian ini dengan ajakan ekstraordinis Craig Karges, “Menurut saya Anda harus ‘mengizinkan’ diri Anda. Bukalah diri Anda untuk kemungkinan-kemungkinan yang membuat Anda bisa meraih hal-hal yang jauh melampaui apa yang Anda pikir bisa Anda raih. Bebaskan imajinasi Anda! Bergabunglah dengan saya dalam perjalanan menakjubkan menyelami pikiran Anda sendiri. Kita akan menemukan banyak kesenangan, dan saya yakin Anda akan takjub menyadari betapa digdayanya Anda. Selamat menjelajah!” [] KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari). [...] Read more...
Melatih Kecerdasan Spiritual Dengan ImajinasiJune 26, 2024“What lies behind us and lies before us are small matters compared to what is ‘within us’.” -Ralph Waldo Emmerson Otak Anda beratnya kira-kira satu setengah kilogram, dan tampak seperti kacang mete yang keriput dan lembut, tidak begitu menarik pada pandangan yang pertama. Tetapi, otak itu telah terbentuk dalam periode lima juta tahun. Apa pun pedapat kita tentang cara kerjanya atau bagaimana dibangunnya, otak tetap menjadi organ yang paling luar biasa dalam seluruh tubuh kita. Otak manusia dapat menyimpan informasi lebih benyak dari semua perpustakaan di dunia. Otak menjadi sebab kemarahan yang meledak yang membuat anda malu, tetapi juga menjadi kekuatan yang melahirkan gagasan-gagasan terbaik yang pernah Anda miliki dan tindakan-tindakan amal saleh yang pernah Anda lakukan. Otak mengatur fungsi tubuh Anda dan bertanggung jawab untuk semua perilaku Anda, dari yang paling primitif sampai yang paling canggih. Semua pikiran dan emosi Anda, seluruh kepribadian Anda, disimpan di dalam organ yang beratnya satu setengah kilogram itu. Anda dapat menerima jantung atau paru-paru cangkokan dan Anda masih tetap menjadi diri Anda. Tetapi sekiranya menerima transplantasi otak, Anda bukan lagi Anda. Para ilmuwan telah mempelajari otak selama ratusan tahun, tetapi otak tetap saja begitu misterius sehingga banyak orang menganggapnya sebagai dacrah jelajah terakhir umat manusia. Otak Anda adalah sebuah organ biologis, tetapi ia juga mesin yang menakjubkan, supercomputer. Mukjizat! Otak Anda benar-benar makhluk yang paling menakjubkan di seluruh alam semesta. Coba bayangkan, otak manusia adalah satu-satunya objek yang mampu memikirkan dirinya sendiri! Sebagai manusia, kita cenderung meremehkan diri kita. Kita mengagumi komputer, padahal di dalam otak kita terdapat sepuluh kali jumlah seluruh sistem jaringan komunikasi AT&T! Kita takjub menyaksikan binatang lain seperti lumba-lumba atau semut. Kita bisa duduk dan mengamati koloni semut yang sangat kompleks. Bagaimana mereka berkomunikasi? Otak semut mempunyai kira-kira 500 sel otak; sama dengan jumlah sel yang hilang ketika seseorang minum segelas anggur! Tapi jangan takut, masing-masing kita punya kira-kira 100 miliar sel otak, sebanyak bilangan gemintang di langit. Setiap sel otak, atau neuron, berhubungan dengan semua sel otak lainnya. Bayangkan 100 miliar koneksi listrik terjadi di dalam otak Anda sekarang ini! Bayangkan setiap orang di dunia (kira-kira lima setengah miliar manusia) bicara di telepon satu sama lain pada saat yang bersamaan. Gambaran yang dahsyat bukan? Tetapi untuk otak Anda, Anda harus memperluas gambaran ini. Suruhlah lima setengah miliar orang itu berbicara pada delapan belas pesawat telepon masing-masing. Suruh mereka berbicara satu sama lain pada saat yang bersamaan. Jika Anda dapat menggambarkannya dalam benak Anda, Anda mulai paham betapa dahsyatnya proses komunikasi di dalam otak Anda! Jika setiap neuron hanya dapat menyentuh dua neuron lainnya, jumlah kemungkinan konfigurasi dalam otak Anda adalah dua pangkat 100 miliar! Bilangan sebesar itu memerlukan waktu 100 tahun untuk Anda tulis dengan kecepatan satu angka per detik. Dalam kenyataannya karena setiap neuron berhubungan dengan setiap neuron lainnya, kemungkinan konfigurasinya mustahil kita pahami. Neuron-neuron kecil ini sibuk mengirim, menerima, dan menyimpan sinyal yang membentuk informasi. Apa pun yang kita lakukan dan ketahui bergantung pada pengalihan sinyal dari satu neuron ke neuron yang lain. Setiap neuron punya satu belalai besar, axon, dan banyak belalai yang lebih kecil, dendrit. Axon mengirim sinyal diterima oleh dendrit pada neuron lainnya. Terjadilah proses elektrokimia yang terjadi di antara sel yang disebut synapse. Sampai di sinilah penjelasan yang bersifat teknis (Anda kan gak suka!) tapi marilah saya jelaskan kepada Anda fakta yang luar biasa tentang dendrit, belalai penerima dari neuron itu. Percaya tidak percaya, kita mempunyai lebih dari 160 ribu kilometer dendrit di dalam otak kita! Dengan kata lain, jumlah panjang dendrit dalam otak Anda dapat mengelilingi bumi empat kali! Lalu, betulkah anggapan orang bahwa kita hanya menggunakan sepuluh persen otak kita? Kita tidak tahu. Yang kita ketahui adalah bahwa kita belum mengetahui batas-batas kemampuan jiwa dan potensi kita sepenuhnya. Bandingkan otak Anda dengan komputer Anda. Kebanyakan kita hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan komputer kita. Hal yang sama terjadi ketika kita menggunakan kekuatan komputer personal kita, yakni kemampuan pikiran kita. Para ahli accelerated learning telah mengembangkan teknik-teknik yang didasarkan pada anggapan bahwa Anda akan lebih kreatif dan produktif apabila Anda menggunakan seluruh otak Anda. Apa yang disebut dengan seluruhnya ini? Otak kita terdiri dari dua belahan, kanan dan kiri. Kedua-duanya berpikir dan mengendalikan tubuh kita. Belahan otak sebelah kiri mengendalikan bagian tubuh sebelah kanan, dan otak sebagian kanan mengendalikan tubuh sebelah kiri. Setiap belahan otak tampaknya terspesialisasi dalam fungsi tertentu. Spesialisasi otak sebelah kiri adalah bahasa lisan dan tulisan, logika, keterampilan matematis, dan konsep-konsep ilmiah. Pekerjaan yang melibatkan otak sebelah kiri, misalnya, akuntansi, pekerja laboratorium, dan sebagainya. Otak sebelah kanan mempunyai kelebihan dalam mengenal pola dan bentuk, dan bagaimana keduanya berhubungan satu sama lain. Bagian kanan ini juga tampaknya membantu kita dalam memperoleh wawasan batiniah dan imajinasi. Inilah belahan otak yang mengapresiasi seni dan memahami humor. Karya para musisi dan arsitek sangat mengandalkan otak sebelah kanan ini. Kita harus berusaha menggabungkan kedua belahan otak ini. Konsultan kreativitas mengatakan bahwa orang-orang yang didominasi otak sebelah kiri dapat belajar menggunakan otak sebelah kanan dengan belajar berfantasi, menggambar, atau terbuka pada lingkungan di sekitarnya. Jika Anda merasa Anda didominasi otak sebelah kanan, Anda dapat menggapai otak sebelah kiri Anda dengan belajar menulis catatan, menanyakan pertanyaan terperinci, membuat rencana konkret, dan mengorganisasikan sesuatu dengan menciptakan sistem. Mula-mula Anda merasa tidak enak ketika secara sadar bergeser pada penggunaan kedua belah otak itu. Tetapi setelah beberapa saat kebiasaan ini akan menjadi tabiat Anda dan otak Anda akan menjadi seimbang! (Craig Karges, Ignite Your Intuition, 1999: 17). Craig Karges adalah seorang yang luar biasa. Di hadapan jutaan orang, ia menunjukkan kemampuan untuk membuat fenomena yang luar biasa. Ia ingin menuntun kita untuk menciptakan hal-hal yang luar biasa dalam kehidupan kita dengan memanfaatkan secara maksimal anugerah Tuhan yang sangat menakjubkan otak kita. Jika selama ini kita berkutat pada penggunaan belahan otak sebelah kiri, ia menganjurkan kita untuk mulai mengaktifkan secara seimbang penggunaan otak sebelah kanan. Salah satu fungsi belahan otak sebelah kanan adalah berimajinasi. KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari). [...] Read more...
METODE SEKOLAH PARA JUARAJune 26, 2024Dari tiga dasar falsafah yang dikemukakan, kita menyimpulkan tiga hal: Pertama, pendidikan harus memerhatikan perpaduan antara tubuh dengan jiwa. Harus disadari bahwa hal-hal yang bersifat fisik berpengaruh besar pada proses psikologis, seperti persepsi, kognisi, volisi, konsep-diri, dan sebagainya. Pada saat yang sama, pikiran yang mewakili “jiwa” manusia-memengaruhi proses psikologis dan fisiologis sekaligus. Kedua, manusia memiliki kemampuan yang hampir tidak ada batasnya. Tubuh dan jiwa manusia dapat berkembang jauh lebih tinggi daripada apa yang kita bayangkan. Pendidikan harus berusaha mengoptimalkan seluruh potensi ini. Ketiga, dimensi mistikal dalam kehidupan manusia harus dikembalikan lagi pada situasi belajar. Karena sepanjang sejarah, agama memberikan jalan sistematis untuk memperoleh pengalaman mistikal, maka kita dapat merujuk pada ajaran-ajaran agama yang bersifat mistikal. Agama yang mensucikan adalah agama yang mengantarkan anak didik pada proses kembali kepada Tuhan, yang membimbing mereka dalam kerinduan mereka untuk kembali kepada al-Mashir, untuk-sambil mengutip penyair Jerman, Novalis immer nach Hause. Dari tiga hal di atas, kita dapat merumuskan tiga metode: maksimalisasi pengaruh tubuh terhadap jiwa, maksimalisasi pengaruh jiwa terhadap proses psikofisik dan psikososial, serta bimbingan ke arah pengalaman mistikal. Untuk memaksimalkan pengaruh “tubuh”, banyak metode dapat dikembangkan. Di sini, kita hanya akan menyebut berapa saja: lingkungan fisik yang menyenangkan, penggunaan musik, dan penggunaan latihan-latihan fisik (physical exercises) yang menimbulkan kepercayaan diri. Lingkungan fisik yang menyenangkan Saya tidak mungkin menyajikan berbagai hasil penelitian berkenaan dengan pengaruh lingkungan fisik pada proses belajar-mengajar. Izinkanlah saya mengutip dari Bobbi DePorter. “Dengan mengendalikan lingkungan Anda, Anda melakukan langkah efektif pertama untuk mengendalikan seluruh pengalaman belajar Anda. Sekiranya saya harus menyebutkan salah satu alasan mengapa program kami berhasil membuat orang belajar lebih baik, saya harus menyebutkan karena kami berusaha menciptakan lingkungan optimal, baik secara fisik maupun emosional. “Sebelum program dimulai, staf kami pergi ke setiap ruangan kelas dan mengubahnya menjadi tempat di mana anak didik merasa senang, terangsang, dan dibantu. Kami memasukkan tanaman, sistem musik, dan bila perlu kami menyesuaikan temperatur dan memperbaiki pencahayaan (lighting). Kami mengatur bantalan kursi agar mereka duduk dengan enak, membersihkan jendela, menghias dinding dengan poster-poster yang indah dan pernyataan-pernyataan yang positif. Ketika anak didik masuk ke lingkungan fisik yang cerah, menyenangkan, dan menantang pada hari pertama, setiap orang ditegur secara personal oleh pemimpin tim. Mereka dibawa bermain dengan yang lain dalam tim, sehingga mereka mulai pelajaran dengan sense of belonging. Semua pengalaman mereka yang pertama sangat menyenangkan dan membuat mereka bahagia.” Penggunaan musik Selama belajar, murid melakukan berat, tekanan darahnya naik, pekerjaan mental yang gelombang otaknya bertambah cepat, dan otot-ototnya menjadi tegang. Ketika mereka melakukan relaksasi, tekanan darah menurun, otot-otot melonggar. Tetapi dalam keadaan deeply relaxed, murid sangat sukar melakukan konsentrasi penuh. Penelitian Dr. Georgi Lozanov menunjukkan bahwa ada musik-musik tertentu yang membuat kita setengah relaks sehingga mampu berkonsentrasi. Sebutlah relaxe focus. Jenis musik yang paling kondusif untuk belajar adalah musik Baroque, seperti ciptaan Bach, Handel, Pachelbel, dan Vivaldi. Ketika kita belajar, belahan otak sebelah kiri kita diaktifkan; dan ketika musik diperdengarkan, belahan otak sebelah kanan dirangsang. Belahan otak sebelah kanan inilah yang sering mengganggu kita dalam belajar, bila tidak diberi pekerjaan. Latihan-latihan fisik Para siswa dibawa untuk latihan-latihan fisik yang sangat menantang dan kelihatan “berbahaya”. Tentu saja staf instruktur sudah mengatur latihan ini dengan sangat memerhatikan zona aman. Lebih penting daripada itu, semua siswa yang pada mulanya takut melakukan latihan itu membuktikan bahwa mereka bisa melaluinya. Keberhasilan ini akan menumbuhkan kepercayaan diri yang besar. Mereka yakin bahwa masalah yang paling mengerikan pun ternyata mampu mereka atasi. Pada buku saya, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, saya melaporkan banyak hasil penelitian yang menegaskan pentingnya gerak fisik dalam proses pembelajaran. Memaksimalkan Pengaruh Jiwa Untuk memaksimalkan pengaruh jiwa, kita sebutkan saja beberapa contoh: modelling, menanamkan rasa bangga, berpikir positif, dan menghindari kritik. Modelling sudah kita jelaskan dengan contoh pada permulaan tulisan ini. Di sini, hanya perlu dijelaskan bahwa bila manusia menemukan model yang tepat, ia akan berusaha menjadi model itu. Ia perlahan-lahan akan mengalami perubahan secara ruhaniah, juga jasmaniah, mendekati orang yang menjadi model itu. Salah satu penelitian ilmiah berkenaan dengan ini adalah berkenaan dengan stigmata, false pregnancy, dan multiple personality. Semuanya abnormal dan dipilih karena kemampuan deskriptifnya yang sangat dramatis. Menanamkan rasa bangga. Adalah David McCleland yang menunjukkan adanya hubungan antara rasa bangga dengan hasrat berprestasi. Bangsa-bangsa yang berhasil membangun peradaban adalah mereka yang merasa menjadi manusia istimewa. McCleland menyebut gerakan reformasi dan Protestanisme yang disertai dengan keyakinan sebagai umat pilihan. Kita sekarang paham mengapa Al-Quran mengingatkan pemeluk Islam bahwa “antum al-a’laun, kuntum khaira ummatin (kalianlah umat yang terbaik) dan sebagainya. Atau Nabi Saw. yang mendidik sahabat-sahabatnya untuk tidak merendah di hadapan orang-orang kafir. Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidik harus berhasil menanamkan pada anak-anak didiknya bahwa mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah the selected few. Secara praktis, guru dapat mengembangkan rasa bangga. Berpikir positif. Sudah banyak buku membicarakan pengaruh berpikir positif. Berpikir positif artinya mempunyai pandangan yang positif tentang diri Anda, pekerjaan Anda, dan pandangan orang lain pada pekerjaan Anda. Berpikir positif juga mempunyai ekspektasi yang baik dan berusaha mewujudkannya. What you think about, comes about. Konon, Henry Ford berkata, “Whether you think you can or think you cannot-you’re right!” Hindari kritik. Ketika seorang anak kecil berjalan, ia terjatuh beberapa kali. Tidak seorang dewasa pun yang menegurnya, “Hai, bodoh betul kamu.” “Salah, bukan begitu caranya”, atau “Memang kamu sulit belajar?” Orang-orang dewasa bahkan menggembirakannya, mendorongnya, dan memberikan semangat kepadanya. Dalam satu tahun, anak itu sudah sanggup berjalan, sebuah gerak yang sangat kompleks baik secara fisik maupun neurologis. Dalam dua tahun, anak mulai belajar berbahasa. Dalam lima tahun, mereka mengetahui 90% dari semua kata yang biasanya dipergunakan oleh orang-orang dewasa. Semuanya diperoleh tanpa mempelajari buku tata bahasa atau kurikulum yang sistematik. Tetapi begitu anak masuk sekolah, mulailah ia mendengar orang-orang dewasa mengkritiknya, memberikan komentar yang tidak sedap tentang prestasinya. Tahun 1982, Jack Canfield, psikolog ahli self-esteem, menemukan bahwa dalam satu hari rata-rata setiap anak menerima 460 komentar yang negatif dan 75 komentar positif. Terdapat enam kali lebih banyak komentar negatif daripada komentar positif. Setelah beberapa tahun disekolah, terjadilah learning shutdown, yang menguras banyak tenaga kreatif manusia. Dimensi mistikal. Untuk memasukkan dimensi mistikal dalam proses belajar mengajar, kita dapat merujuk pada latihan-latihan ruhani dari berbagai agama. Untuk umat Islam, kita boleh mengambil pelajaran dari aliran-aliran tarekat. Atau kalau kita memandang itu sebagai bid’ah, kita dapat melakukan praktik-praktik yang dicontohkan Nabi Saw. seperti banyak berdoa, berzikir, beristighfar, tafakur, dan sebagainya. Dimensi mistikal jugalah pekerjaan besar orangtua dan pendidik untuk mengembangkan tingkat kecerdasan spiritual mereka. Orangtua, guru, dan sekolah dapat berfungsi sebagai mursyid (pembimbing ruhani) yang dengan telaten dan penuh rasa sayang membimbing murid-muridnya mensucikan batin, membersihkan diri, dan kemudian melatih mengaktualkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya.[] KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahte [...] Read more...
Dari Quantum Learning Hingga Kecerdasan Spiritual : Pendekatan Baru Dalam PendidikanJune 26, 2024Waktu itu, musim panas 1982, di Kirkwood Meadows, California, di daerah pegunungan di samping Danau Tahoe. Enam puluh empat orang anak muda berkumpul di perkemahan remaja. Bukan untuk menghabiskan waktu dengan sekadar rekreasi. Mereka datang untuk ikut serta dalam program belajar efektif. Bobbi DePorter, Eric Jensen, dan Greg Simmons sedang menerangkan metode belajar yang diramu dari berbagai penemuan ilmiah. Ada tiga keterampilan dasar yang diajarkan: keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampilan hidup (life skills). “Sebagai dasar untuk kurikulum di atas,” kata Bobbi DePorter, “kami menganut falsafah ini. “Kami percaya bahwa belajar adalah proyek sepanjang hayat yang dapat dilakukan orang dengan penuh ceria dan sukses. Kami percaya bahwa keseluruhan kepribadian sangat penting: intelek, fisik, dan emosi. Kami percaya bahwa harga diri yang tinggi adalah unsur pokok dalam membentuk pelajar yang sehat dan bahagia. “Untuk mendukung falsafah ini, kami berusaha menciptakan lingkungan belajar begitu rupa sehingga mereka merasa penting, aman, dan senang. Ini dimulai di lingkungan tanaman, seni, dan musik. Kamar belajar harus terasa ‘menyenangkan’ agar tercapai belajar optimal. Lingkungan emosional juga penting. Dalam program yang kami selenggarakan, para pengajar sangat ahli dalam menciptakan hubungan akrab dengan murid-muridnya. Setelah membangun zona emosional yang aman, mereka membawa para murid berhadapan dengan tantangan yang bisa mereka atasi. Inilah pengalaman yang memberikan kepada mereka perasaan mampu (empowering experience).” Bobbi DePorter menyebutkan life skills sebagai salah satu di antara keterampilan dasar yang harus diajarkan kepada anak. Dalam rumusan saya, ada tujuh life skills yang sekarang ini diajarkan di sekolah-sekolah yang saya dirikan: SMA Plus Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera dan Sekolah Cerdas Muthahhari (SCM), sebagai Sekolah Dasar berbasiskan Teknologi Informasi. Ketujuh life skills itu adalah: 1. Learning skill 2. Coping skill 3. Communication skill 4. Social skill 5. Financial skill 6. Happiness skill 7. Spiritual skill. Learning skill sudah sering diperbincangkan. Ketiga keterampilan berikutnya pun ramai didiskusikan. Financial shill melejit setelah diterbitkannya buku-buku karya Robert T. Kiyosaki. Happiness skill dan spiritual skill adalah dua keterampilan yang sebetulnya terkait erat satu sama lain. Saya sudah menulis Meraih Kebahagiaan untuk menceritakan keterampilan hidup bahagia. Saya tidak tahu life skill seperti apa yang diperkenalkan pada Summer Camp itu. Tapi tampaknya learning skill, dan keterampilan yang menunjang learning shill menjadi fokus utamanya. Jeanette Vos-Groenendal meneliti Super Camp-begitu kemudian perkemahan ini discbut. Ia melaporkan bahwa setelah mengikuti Super Camp, para siswa mengalami kenaikan satu setengah poin dalam nilai rata-rata mereka. Dalam disertasi doktoralnya, Vos-Groenendal menulis bahwa Super Camp “terbukti sangat sukses dan harus diperhitugkan untuk dijadikan model untuk direplikasi”. Berdasarkan saran ini, DePorter dan kawan-kawan mereplikasi kegiatan yang sama di berbagai negara di dunia. Ia menamai penemuannya itu Quantum Learning. Buku-bukunya tentang hal ini juga sudah diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Saya hanya ingin mengulasnya sedikit untuk mengantarkannya pada pembahasan tentang kecerdasan spiritual. Quantum berarti loncatan. Manusia ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk meloncat, untuk naik di atas kemampuan yang diperkirakan. Kita hanya memanfaatkan sebagian kecil saja dari potensi kita. We live only a small part of the life we are given. Betapa seringnya kita menyia-nyiakan potensi kita, atau juga potensi anak-anak kita, baik karena kesalaha metode atau karena tidak memiliki keterampilan yang relevan. Pendekatan quantum menunjukkan bahwa potensi manusia untuk berkembang (potentials for growth) hampir tidak terbatas. Dan inilah prinsip kecerdasan ruhaniah yang paling dasar: bahwa manusia adalah makhluk ruhaniah yang terus tumbuh. Jalaluddin Rumi menyimpulkan tugas meningkatkan kecerdasan ruhaniah ini dengan salah satu penggalan puisinya: Kamu dianugerahi Tuhan sepasang sayap Mengapa kamu di bumi terus merayap Meyakini ketidakterbatasan kemampuan mamusia adalah modal awal untuk meningkatkan kecerdasan ruhaniah kita. Menurut Teilhard de Chardin, We are not human beings having spiritual experience, we are spiritual beings having human experience. Kita bukan manusia yang punya pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang punya pengalaman yang manusiawi. Dalam banyak kajan mutakhir, kesadaran akan adanya sesatu yang bersifat ruhaniah dalam diri mananusia, berpengaruh besar terhadap kebahagiaan dan kesuksesan kita: inilah self-awareness, inilah kepekaan kepada “the deep self“. Inilah tujuan dari maksimalisasi potensi yang di miliki manusia. Dalam edisi pertama tahun 1993, Time melaporkan perkembangan sains dengan judul yang mengejutkan: “Science, God, and Man”. Setelah mengulas bidang kajian interdisipliner dari Ilya Prigogine, Time menulis, “Mereka percaya dengan waktu yang cukup evolusi mungkin sekali menciptakan spesies dengan sifat esensial kita, tetapi dengan kecerdasan yang begitu besar schingga ia mencapai kesadaran diri. Bahkan para biolog telah lama percaya bahwa kedatangan kehidupan dengan kecerdasan tinggi hampir tidak terelakkan. Untuk sementara, mengakui kepercayaan ini dianggap tabu.” Salah satu tujuan pendidikan adalah memaksimalkan potensi manusia, membantu manusia untuk berkembang mencapai tingkat kesempurnaan setinggi-tingginya. Tetapi, apa pun program pendidikan yang dijalankan, hasilnya sangat tergantung paling tidak pada dua hal: dasar falsafah dan metode. JR wa mā taufīqī illā billāh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unīb Allâhumma shalli ‘alâ Sayyiidina Muhammad wa Âli Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziyâratahum wa fil âkhirati syafâ’atahum *** KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id). [...] Read more...

Buku Karya KH. Jalaluddin Rakhmat

« of 2 »

Videografi

Audiografi

UJR-MFR

“Jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun”

​KH. Jalaluddin Rakhmat
@katakangjalal

Contact Jalan Rahmat

Jl. Kampus II No. 13-15. Kiaracondong. Bandung