{"id":1367,"date":"2024-08-01T02:44:24","date_gmt":"2024-08-01T02:44:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1367"},"modified":"2024-08-01T02:44:24","modified_gmt":"2024-08-01T02:44:24","slug":"pembaharu-nonsektarian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1367","title":{"rendered":"PEMBAHARU NONSEKTARIAN"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pembaharu-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1368\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pembaharu-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pembaharu-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pembaharu-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Pembaharu.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dr. Muhammad Iqbal melukiskan pejuang Muslim sebagai seekor rajawali (<em>syuhin<\/em>). Burung rajawali mempunyai lima ciri yang khas: selalu terbang tinggi, tidak pernah membangun sarangnya sendiri, tidak ingin memakan mangsa binatang lain, tidak pernah menyisakan mangsanya untuk keesokan harinya, dan senang menyendiri. Iqbal menyebut Jamaluddin Al-Afghani sebagai gambaran ideal sang rajawali. Dia terbang dengan cita-citanya yang tinggi, membangkitkan umat Islam dan mempersatukannya. Dia mengembara ke seluruh Dunia Islam dan tidak ingin terikat pada fanatisme mazhab yang sempit. Dia tidak senang bergantung pada orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Muhammad Iqbal menulis,<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jamaluddin Al-Afghani menyibukkan diri dalam pengabdian kepada Islam dan pengikut-pengikutnya. Di tengah-tengah masyarakat, dia merasa dirinya seorang yang terpisah. Dari keterpencilan atau isolasi, dia mendapatkan perasaan seolah-olah dirinya tidak ada. Dan dari perasaan seperti ini dia mendapat kesenangan dan kepuasan yang besar.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Jamaluddin Al-Afghani memang seperti burung rajawali. Suatu hari dia muncul di Mesir, sepuluh hari kemudian berada di Paris, dan minggu-minggu berikutnya berada di Ankara, Istanbul, atau Kabul. Matanya yang tajam memandang para raja dengan pandangan yang menaklukkan, suaranya yang berwibawa mengalirkan getaran listrik ke hati para pendengarnya. Sekarang, seabad lebih setelah wafatnya, ratusan buku dan ribuan artikel telah ditulis tentang tokoh pembaharu ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Bakhshayeshi menulis tentang perjuangan para ulama,<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;<em>But it is surprising and unfortunate, that despite all these writings, his real character is not yet recognized and the ambiguity about his adventurous and amazing personality has not been removed<\/em> (Sungguh mengejutkan dan menyedihkan bahwa walaupun ada banyak tulisan tentang dia, kepribadiannya yang sebenarnya belum dikenal dan ambiguitas tentang kepribadiannya yang penuh pesona dan petualangan belum dihilangkan).<\/p>\n\n\n\n<p>Asal-usulnya diperdebatkan orang. &#8220;Orang Afghankah beliau, atau orang Iran?&#8221; tanya Dr. Hamka pada bab terakhir bukunya tentang Jamaluddin. Hamka menjawab sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;&#8230; Kita yang telah dialiri oleh listrik jiwa besar ini tidaklah kita peduli apakah dia orang Iran atau Afghanistan. Yang terang ialah bahwa dia kepunyaan seluruh Dunia Islam. Indonesia pun merupakan negerinya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, apa mazhab Jamaluddin? Mirza Luthfullah dari Iran menyebut Jamaluddin bermazhab Syiah. Hamka menulis, &#8220;Barangkali hasil-hasil penyelidikan ilmiah akan memenangkan bahan-bahan yang dikemukakan dari Iran itu. Syaikh Muhammad Abduh menyebut mazhab Hanafi sebagai mazhab gurunya. Ketika Jamaluddin sendiri ditanya apa mazhab yang dianutnya, dia menjawab, &#8216;Aku adalah seorang Muslim.&#8217;<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, mana mungkin orang tidak bermazhab? Jamaluddin memang bermazhab, bahkan dia adalah pendiri satu mazhab baru. Kita lanjutkan tulisan Hamka,<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;&#8230; Beliau adalah pendiri dari satu mazhab baru, mazhab yang dengan berangsur-angsur tetapi tetap menjadi panutan dari seluruh alam islami sekarang ini, yaitu mazhab kesadaran, mazhab kebangunan, mazhab tahu akan harga diri, mazhab menguburkan segala perselisihan tetek betsgek, lalu bersama-sama menuju pada satu tujuan, yaitu mengembalikan kemuliaan Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Muktamar Islam di Baitul Maqdis pada 1931 telah mulai mempraktikkan mazhab Jamaluddin. Mujtahid Syi&#8217;ah yang besar, Allamah Al-Kasyif Al-Ghitta, diminta menjadi imam sembahyang jamaah, sedang mengikut di belakangnya adalah orang-orang Sunni, di antaranya Mufti Palestina, Said Amin Al-Husaini. Seratus tahun yang lalu, hal itu mustahil!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Pokok-Pokok Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani<\/p>\n\n\n\n<p>L. Steward, sebagaimana dikutip oleh Bakhshayeshi, menulis,<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sayyid Jamaluddin adalah orang pertama yang menyaksikan, dengan pandangannya yang tajam dan realismenya yang cemerlang, pengaruh berbahaya dan dominasi orang-orang Barat atas bangsa-bangsa Timur dan orang-orang Islam, serta menyadari tingkat bahaya ini dari akibat akibat yang menghancurkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayyid Jamaluddin tidak takut akan pengaruh kekuatan pemerintahan mana pun dan yakin bahwa pemerintahan kolonialis Barat yang perkasa, betapapun kuatnya, pada akhirnya harus runtuh menghadapi kemurkaan dan perlawanan kaum Muslim, asal saja kaum Muslim menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil yang dipertajam oleh makar kaum kolonialis setiap hari, dan mengambil persatuan dan ikatan-ikatan untuk tujuan bersama, yakni kebangkitan kebesaran Islam dan penghancuran musuh-musuhnya serta bergerak dengan penuh keserasian dan keselarasan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Tulisan ini menyimpulkan <em>concern<\/em> Jamaluddin. Dia membenci dominasi Barat di negara-negara Islam. Dia ingin umat Islam menjauhi perbedaan- perbedaan kecil (yang dibesar-besarkan oleh makar imperialis), lalu bersatu menghidupkan kembali Islam dan melenyapkan musuh- musuhnya. Inilah obsesi Jamaluddin.<\/p>\n\n\n\n<p>Jamaluddin melihat empat penyakit yang menggerogoti Islam dan menawarkan delapan cara terapinya. Keempat penyakit itu ialah: (1) absolutisme dalam mesin pemerintahan, (2) sifat kepala batu dan kebodohan massa rakyat Muslim serta keterbelakangan mereka dalam ilmu dan peradaban, (3) tersiarnya ide-ide yang korup di bidang agama dan nonagama, dan (4) pengaruh kolonialisme Barat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesuai dengan empat penyakit itu, Jamaluddin memberikan delapan hal sebagai obat, sebagaimana ditulis oleh Murtadha Muthahhari:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Bangkitnya kesadaran berpolitik melawan absolutisme.<\/em> Harus dijelaskan kepada massa bahwa perjuangan politik adalah kewajiban agama; bahwa ada pemisahan antara agama dan politik; bahwa setiap orang harus terlibat dalam nasib politik negara dan masyarakat Islam.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Lengkapi diri dengan sains dan teknologi modern.<\/em> Dominasi Barat terjadi karena keunggulan dalam sains dan teknologi. Kaum Muslim tidak harus menolak segala hal yang datang dari Barat. Mereka harus belajar dari Barat, tetapi bukan mengadopsi peradaban mereka; sains dan teknologilah yang harus mereka kuasai.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Kembali kepada Islam yang sebenarnya.<\/em> Praktik-praktik korup dan tambahan-tambahan (bid&#8217;ah) yang tidak bermanfaat dalam mengamalkan Islam harus dibuang; umat harus dikembalikan kepada Al-Quran, Al-Sunnah, dan kehidupan suci pada zaman permulaan Islam.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Hidupkan akidah Islam sebagai akidah yang komprehensif dan independen.<\/em> Islam adalah agama, ilmu, dan amal; agama yang menuntut tanggung jawab, agama yang memuliakan akal dan membenci takhayul. Dia menganjurkan murid-muridnya untuk menghidupkan kembali filsafat dalam khazanah pemikiran Islam.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Lawan kolonialisme asing.<\/em> Penjajah asing di Dunia Islam bukan saja mengandung implikasi eksploitasi politik, tetapi juga dominasi ekonomi dan budaya. Kaum Muslim harus disadarkan bahwa sekularisme adalah taktik Barat untuk melepaskan pengaruh Islam dalam masyarakat. Harus ditegaskan bahwa kultur Barat tidak akan membawa kemakmuran manusia. Kultur Barat adalah kultur penindasan.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Tegakkan persatuan Islam.<\/em> Untuk melawan invasi Barat, kaum Muslim harus bersatu. Bersatu tidaklah berarti menyatukan mazhab. Bersatu berarti menyatukan front politik dan organisasi. Dia mengecam pembagian Islam dalam negara-negara kecil dan mengkhutbahkan Pan Islamisme.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Infuskan ruh jihad ke jasad masyarakat Islam yang setengah mati.<\/em> Menghadapi kehancuran akibat Barat, kaum Muslim harus menegakkan Islam sebagai agama perlawanan dan perjuangan.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Hilangkan rasa rendah diri dan rasa takut terhadap Barat.<\/em> Lewat sebuah cerita kiasan dalam majalah Al-Urwah Al-Wats\u0105d, dia mengingatkan kaum Muslim bahwa ketakutan terhadap Barat adalah ilusi yang dibentuk sendiri. Kaum Muslim tidak boleh takut terhadap ingar bingar suara Barat. Diperlukan orang yang menantang maut untuk menjatuhkan kepongahan Barat.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Dari kedelapan &#8220;resep&#8221; Jamaluddin, kita melihat sikap tegarnya untuk menghadirkan Islam sebagai agama jihad yang mampu melawan Barat, Islam yang bersih, yang rasional (<em>aqliyyah<\/em>), yang mendukung sains dan teknologi, yang menolak absolutisme dan penghambaan. Gerakan yang dirintis oleh Jamaluddin Al-Afghani memang gerakan intelektual, sosial, dan politikal![]<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Muhammad Iqbal melukiskan pejuang Muslim sebagai seekor rajawali (syuhin). Burung rajawali mempunyai lima ciri yang khas: selalu terbang tinggi, tidak pernah membangun sarangnya sendiri, tidak ingin memakan mangsa binatang lain, tidak pernah menyisakan mangsanya untuk keesokan harinya, dan senang menyendiri. Iqbal menyebut Jamaluddin Al-Afghani sebagai gambaran ideal sang rajawali. Dia terbang dengan cita-citanya yang &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1367\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;PEMBAHARU NONSEKTARIAN&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1129,1126,1132,18,1128,19,356,1130,1127,1131,17],"class_list":["post-1367","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-bakhshayeshi","tag-dr-muhammad-iqbal","tag-invasi-barat","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-jamaluddin-al-afghani","tag-katakangjalal","tag-mazhab","tag-mirza-luthfullah","tag-pejuang-muslim","tag-said-amin-al-husaini","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1367","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1367"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1367\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1369,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1367\/revisions\/1369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1367"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1367"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1367"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}