{"id":1386,"date":"2024-08-06T16:47:53","date_gmt":"2024-08-06T16:47:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1386"},"modified":"2024-08-06T16:47:53","modified_gmt":"2024-08-06T16:47:53","slug":"al-malik-al-quddus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1386","title":{"rendered":"Al-Malik al-Qudd\u00fbs"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Al-malik-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1387\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Al-malik-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Al-malik-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Al-malik-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Al-malik.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Raja Anusyirwan sedang melakukan perburuan. Ia sangat asyik berburu sehingga ia terlepas dari pasukannya. Dalam keadaan haus, ia sampai di sebuah kebun. Di kebun itu ia melihat banyak sekali pohon delima. Kepada anak penunggu kebun, raja berkata, &#8220;Berikan kepadaku sebutir delima.&#8221; Delima itu ternyata sangat manis dan airnya yang lezat keluar melimpah. Raja sangat terkesan dengan delima di kebun itu sehingga ia terpikir untuk mengambil kebun itu dari pemiliknya. Pada kali yang kedua, ia meminta satu butir delima lagi. Aneh, sekarang delima itu sedikit sekali airnya dan kecut rasanya. Ia bertanya, &#8220;Hai anak, mengapa delima ini menjadi begini?&#8221; Si Anak menjawab, &#8220;Mungkin ada raja di negeri ini yang bermaksud berbuat zalim. Karena niat jeleknya, maka delima ini menjadi begini.&#8221; Pada saat itu juga, Anusyirwan bertobat dalam hatinya. Raja berkata lagi pada anak itu, &#8220;Berikan aku satu delima lagi.&#8221; Sekarang delima itu terasa lebih enak dari delima sebelumnya. Ia bertanya, &#8220;Hai anak, mengapa delima ini berubah seperti ini?&#8221; Penjaga kebun berkata, &#8220;Barangkali raja negeri ini bertobat dari kezalimannya.&#8221; Ketika mendengar ucapan anak itu, yang sesuai dengan keadaan hatinya, Anusyirwan betul-betul bertobat dan berniat tak akan melakukan penindasan apa pun.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sejarah, Anusyirwan dicatat sebagai raja yang adil. Dalam masa pemerintahannya, lahir Nabi Muhammad saw..Beliau berkata, &#8220;Aku lahir dalam zaman kekuasaan raja yang adil&#8221; (Al-Fakhr ar-R\u00e2z\u00ee 1: 244). Al-Fakhr ar-R\u00e2z\u00ee meriwayatkan kisah ini ketika menjelaskan tafsir ayat: <em>m\u00e2liki yawmiddin<\/em>. Ayat ini menunjukkan kesempurnaan keadilan Tuhan. Raja pada hari pembalasan adalah raja yang adil. Tanpa adanya hari kiamat, kea- dilan tidak dapat ditegakkan. Dari sini disimpulkan, penguasa sejati adalah penguasa yang adil. &#8220;Bila penguasa itu adil karena keberkahan keadilannya, timbullah kebaikan dan ketenteraman di alam semesta. Bila penguasa itu zalim, hilanglah kebaikan dari alam semesta,&#8221; kata Al-Fakhr al-R\u00e2z\u00ee selanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jangankan berbuat zalinf, jika terbersit saja niat untuk berbuat zalim, penguasa akan menimbulkan kerusakan di dunia. Buah-buahan yang manis akan segera berubah menjadi kecut. Tanah yang subur beganti menjadi kering-kerontang. Mega tidak lagi mengantarkan hujan, tapi menyebarkan asap kering. Tuhan adalah Penguasa Semesta Alam yang adil. Penguasa-penguasa di bumi baru sah bila ia mengikuti sifat Raja Langit dan Bumi. Alquran menggambarkan sifat Allah Raja pada hari pembalasan: <em>Al-Malik al-Quddus as-Salam al-Mu&#8217;min al-Muhaymin al-Aziz al-Jabbar al-Mutakabbir.<\/em> Dan, inilah kriteria penguasa yang adil menurut Alquran.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama<\/em>, penguasa itu harus <em>al-qudd\u00fbs<\/em>, menyukai dan memelihara kesucian. Ia berusaha untuk hidup lurus, tidak mencemari kehormatan dirinya dengan hal-hal kotor. Ia tidak berkata kotor dan tidak bertindak kotor. Semua yang dilakukannya tampak seperti air yang bening. Setelah menjaga kesucian dirinya, ia berusaha mensucikan lingkungan di sekitarnya. Ia membasmi kekotoran para pejabat di bawahnya, tanpa membeda-bedakan mereka berdasarkan keakraban atau kedekatan dengan dirinya. <em>Al-Quddus<\/em> berarti juga bersih secara moral. Penguasa yang <em>al- qudd\u00fbs<\/em> adalah <em>Mr. Clean<\/em> yang tidak terlibat dalam dan tak suka pada kolusi dan korupsi. Ketika &#8216;Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, kekayaan mengalir ke ibu kota dalam jumlah yang melimpah. Pada suatu kali, &#8216;Ali menyapu lantai Baytul Mal, gudang kekayaan negara, dengan tangannya sendiri. Di hadapan tumpukan emas dan perak, ia berkata, &#8220;Hai Kuning, hai Putih, tipulah orang selain aku.&#8221; Ketika saudaranya, &#8216;Aqil bin Ab\u00ee Th\u00e2lib, meminta fasilitas tambahan karena ada hubungan kekeluargaan, &#8216;Ali menghardiknya, &#8220;Engkau memaksaku merampok kekayaan rakyat?&#8221; Pada malam hari yang gelap, &#8216;Ali memanggil saudaranya. Ia menyerahkan sebuah benda yang berkilauan ke tangan &#8216;Aqil. &#8216;Aqil menjerit demi mengetahui benda itu besi yang bernyala. &#8216;Al\u00ee mengingatkan saudaranya, mengambil hak orang lain jauh lebih berat dari mengumpulkan bara api neraka. &#8216;Aqil marah dan akhirnya menyeberang ke pihak lawan. Tetapi, buat Ali, kesucian kekuasaan harus dipertahankan, apa pun risikonya, karena kesucian penguasa menebarkan berkah ke seluruh alam semesta.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua<\/em>, penguasa itu harus as-sal\u00e2m. Ia harus memelihara keselamatan dan perdamaian di seluruh penghuni alam. <em>As-Salam<\/em> juga berarti memiliki komitmen untuk mensejahterakan dan membahagiakan semua makhluk Tuhan. Ia harus menjadi mentari yang mengirimkan sinarnya kepada semua penduduk bumi, yang tinggi dan yang rendah, yang besar dan yang kecil.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketiga<\/em>, berkaitan dengan <em>as-salam,<\/em> penguasa sejati juga menyerap sifat <em>al-mu&#8217;min<\/em>, memberikan rasa aman. Di hadapannya, semua orang merasa tenteram. Di samping kesejahteraan, pe- nguasa berusaha menegakkan keamanan dan ketertiban. Penguasa yang mukmin berusaha agar setiap orang dapat hidup sebagai manusia yang layak, tidak terancam oleh penindasan dari pihak yang lebih kuat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Keempat<\/em>, penguasa sejati adalah <em>al-muhaymin,<\/em> pelindung, pengayom, pengawas. Ia adalah panutan semua orang. Petunjuknya dijadikan pedoman bukan hanya oleh menteri yang tidak punya kemampuan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kelima<\/em>. penguasa seiati tentu saia harus <em>al-&#8216;aziz.<\/em> Otoritasnya harus dipercaya dan diterima oleh rakyatnya. Ia harus merepresentasikan kekuasaan negara yang tak bisa digoncangkan oleh kepentingan segelintir orang. Berkaitan dengan <em>al-&#8216;az\u00eez<\/em> adalah <em>al-jabbar.<\/em> Ia harus diterima secara sah sebagai kekuatan pemaksa tertinggi dalam negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah semua itu adalah kriteria untuk memilih pemimpin pascasuksesi? Tidak, karena yang dimaksud penguasa itu tidak harus selalu penguasa tertinggi. Bukankah setiap kita menggenggam kekuasaan, betapapun kecilnya? Bila asma Allah yang agung itu kita serap dalam kekuasaan kita, kita akan menyebarkan berkah ke sekitar kita. Marilah kita ubah delima yang kecut menjadi manis dengan kekudusan kita. <strong>JR <\/strong><em>Wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Raja Anusyirwan sedang melakukan perburuan. Ia sangat asyik berburu sehingga ia terlepas dari pasukannya. Dalam keadaan haus, ia sampai di sebuah kebun. Di kebun itu ia melihat banyak sekali pohon delima. Kepada anak penunggu kebun, raja berkata, &#8220;Berikan kepadaku sebutir delima.&#8221; Delima itu ternyata sangat manis dan airnya yang lezat keluar melimpah. Raja sangat terkesan &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1386\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Al-Malik al-Qudd\u00fbs&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1166,1169,1163,1160,1164,1168,1165,1167,1162,18,19,1145,1161,17],"class_list":["post-1386","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-ali-bin-abi-thalib-5","tag-al-aziz","tag-al-fakhr-ar-razi","tag-al-malik-al-quddus","tag-al-malik-al-quddus-as-salam-al-mumin-al-muhaymin-al-aziz-al-jabbar-al-mutakabbir","tag-al-muhaymin","tag-al-quddus","tag-as-salam","tag-delima","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-nabi-muhammad-saw","tag-raja-anusyirwan","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1386","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1386"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1386\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1388,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1386\/revisions\/1388"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}