{"id":1573,"date":"2024-10-06T00:42:42","date_gmt":"2024-10-06T00:42:42","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1573"},"modified":"2024-10-06T00:42:42","modified_gmt":"2024-10-06T00:42:42","slug":"kanzun-makhfiy","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1573","title":{"rendered":"Kanzun Makhfiy"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Kanzun-Makhfiy-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1574\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Kanzun-Makhfiy-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Kanzun-Makhfiy-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Kanzun-Makhfiy-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Kanzun-Makhfiy.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua mazhab dalam Islam berpegang pada hadis. Sebagai semata-mata obyek kajian, bagi ahli hadis; sebagai sumber hukum, bagi ahli fikih; sebagai sumber nilai, bagi para sufi. Literatur hadis yang dikembangkan para ahli hadis dipenuhi dengan problema pembawa hadis&nbsp;<em>(rawi)<\/em>, kesinambungan mata rantai rawi (sampai atau tidak kepada Rasulullah), dan perubahan atau pertentangan dalam bunyi kata-kata yang digunakan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka ingin menentukan apakah hadis itu sahih atau tidak, otentik atau dibuat-buat, kuat atau lemah. Tak dipersoalkan apa implikasi hadis itu dalam amal kita sehari-hari. Soal itu dibicarakan ahli fikih&nbsp;<em>(fukaha)<\/em>. Mereka meneliti apakah hadis tertentu bisa dijadikan dasar untuk pengambilan hukum, apakah pernyataan di dalamnya berlaku khusus atau umum, apakah laporan perilaku Nabi di dalamnya mempunyai konsekuensi hukum atau tidak. Urusan ahli fikih adalah \u201cmenemukan\u201d sunnah dalam hadis.<br><br>Masyarakat kenal betul pembahasan hadis dari para ahli hadis maupun&nbsp;<em>fukaha<\/em>. Ketika pelajaran hadis diberikan, biasanya orang mengambil salah satu di antaranya. Jarang sekali kita menemukan pembahasan hadis dari perspektif tasawuf. Begitu langkanya, sehingga pakar hadis sering menuding tasawuf mengabaikan hadis atau menggunakan hadis-hadis lemah, bahkan hadis&nbsp;<em>mawdhu\u2019<\/em>&nbsp;(hadis palsu).&nbsp;<em>Ihya Ulum al-Din<\/em>, kitab tasawuf yang paling banyak dibaca, sering dituding sebagai tumpukan hadis lemah.&nbsp;<em>Hilyat al-Awliya<\/em>, walaupun berisi biografi sahabat dan tabi\u2019in, sama sekali tak diperhitungkan bila dibandingkan dengan&nbsp;<em>Tahdzib al-Tahdzib, Who\u2019s Who<\/em>-nya ahli hadis. Semua itu terjadi karena sufi tak mempersoalkan keabsahan hadis, juga tidak implikasi hukumnya. Sufi melihat hadis sebagai petunjuk jalan untuk mengenal Tuhan. Ia melihat Nabi SAW tidak sebagai hakim, tetapi lebih sebagai pemimpin kafilah ruhani. Karena itu, hadis Qudsi, yang berisi firman Tuhan seperti disampaikan Nabi, umumnya menjadi rujukan tasawuf.<br><br>Salah satu hadis Qudsi yang terkenal adalah hadis Kanzun Makhfiy. Tuhan berfirman, \u201cAku adalah khazanah yang tersembunyi&nbsp;&nbsp;<em>(kanzun makhfiy)<\/em>. Aku rindu untuk dikenal. Karena itu Aku ciptakan makhluk supaya Aku diketahui.\u201d Kitab-kitab tasawuf tidak pernah luput mengutip hadis ini. Muhammad bin Ibrahim, ahli hadis berkomentar: Hadis ini diriwayatkan oleh para sufi. Jika Anda menelitinya dengan melihat ayat Al-Qur\u2019an ini, Anda akan segera melihat hadis ini sahih.&nbsp;<em>Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.<\/em>&nbsp;(Al-Qur\u2019an, 65:12)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Sufi sering menghubungkan hadis ini dengan penafsiran Ibnu Abbas atas ayat Al-Qur\u2019an, 51:56. \u201cSupaya mereka menyambah-Ku\u201d ditafsirkan Ibnu Abbas sebagai \u201csupaya mereka mengenal Aku.\u201d Tujuan penciptaan kita tidak lain untuk memperoleh pengetahuan tentang Dia, pengetahuan yang langsung. Pengetahuan itu hanya bisa dicapai lewat kecintaan yang tulus kepada-Nya. Pengetahuan rasional didasarkan pada tak kenal maka tak sayang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Khwaja Nizamuddin Mahbub Illahi, dalam&nbsp;<em>Risalah Tawhidiyyah<\/em>&nbsp;menulis, \u201cTuhan berfirman:&nbsp;<em>Aku adalah khazanah yang tersembunyi (kanzun makhfiy). Aku rindu untuk dikenal. Karena itu Aku ciptakan makhluk supaya Aku diketahui.<\/em>&nbsp;Ketika Maharaja Cinta rindu untuk menyingkapkan tirai yang menutup Keindahan Wajah-Nya, mengungkapkan sifat-sifat-Nya, dan mencintai Diri-Nya\u2026Cahaya Diri-Nya terbagi dua. Setengah Cahaya memadat dan menjadi api. Ketika api memadat, ia menjadi udara; Ketika udara menjadi tebal, ia menjadi air; air memadat ia menjadi bumi. Dari bumi diciptakan berbagai macam bentuk. Setengahnya yang lain muncul dalam berbagai bentuk dan ingin melihat keagungan Keindahan itu pada mereka. Cahaya itu memerlukan cermin untuk melihatnya. Diciptakanlah manusia dan alam sebagai cermin. Dari sini, muncullah sifat Cinta dan Kekasih. Keduanya tak lagi tersembunyi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Sangat sulit dipahami, tentu saja. Nizamuddin kemudian mengutip puisi Persia. \u201cBerapa lama Aku mesti bersembunyi. Kini Kuungkapkan Diri-Ku dari kedalaman-Ku. Dengan segala sifat Kusingkap Diri-Ku. Dalam gejolak cinta dan rindu. Ketika Adam kami kirim ke dunia, Kami tampakkan Keindahan Kami di Sahara. Sekarang terserah Anda untuk memahami apa yang disebut Cinta, Pecinta, dan Yang Dicintai. Siapa Pecinta? Zat Yang Suci. Apa Cinta? Hakikat segala sesuatu. Dan Yang Dicintai berarti Wujud relatif.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Masih juga sulit dipahami. Tuhan, dalam perspektif sufi, adalah Tuhan yang penuh kerinduan untuk menampakkan keindahan-Nya. Dalam istilah Corbin, Tuhannya sufi adalah Tuhan yang patetik. Ia menyembunyikan cinta-Nya, tetapi menampakkan keindahan-Nya di seluruh penciptaan. \u201cKetahuilah.\u201d Kata penyair sufi yang lain, \u201cCinta ada di mana-mana. Cinta meliputi seluruh dunia. Cinta adalah Pecinta Yang Dicinta.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak semua sufi menjelaskan hadis ini dengan pelik. Fariduddin Attar, misalnya, menjelaskannya dengan kisah perjalanan burung. Di bawah bimbingan burung Hudhud, mereka diajak melintas lembah dan bukit untuk menemui Simorgh, Puncak Segala Keindahan. Satu demi satu burung itu berguguran. Hanya tiga puluh yang sampai.&nbsp;Ketika berjumpa dengan Dia,&nbsp;mereka terhenyak. Karena mereka hanyalah pantulan cermin dari Dia. Simorgh, dalam bahasa Persia, berarti tiga puluh burung.&nbsp;<em>Manthiq al-Thayr<\/em>, kisah pencari Tuhan, merupakan karya indah yang memukau. Bila Anda ingin mempelajari pengantar tasawuf yang gampang, bacalah buku ini. Di situ bukan saja dijelaskan konsep-konsep tasawuf dengan cerita, tapi juga dirujuk tokoh-tokoh besar tasawuf. Attar berkisah tentang Al-Hallaj, Rabi\u2019ah, Bayazid, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Tradisi membahas hadis-hadis sufistik dengan cerita berlangsung sepanjang zaman. Terserah kepada Anda bagaimana menafsirkan kisah berikut, yang dituturkan Jalaluddin Rumi. Rumi sebetulnya menjelaskan kandungan makna hadis Kanzun Makhfiy dengan cara lain. Alkisah ada seorang gembala berjiwa merdeka, tak punya uang dan tidak berminat untuk mempunyai uang. Yang ia miliki hanyalah hati yang bersih, yang bergetar dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia menggembalakan ternaknya di padang dan lembah. Tidak henti-hentinya ia bernyanyi dan berbicara kepada Tuhan Kekasihnya: \u201cTuhan tercinta, di mana Engkau gerangan untuk menerima persembahan jiwaku? Di mana Dikau yang akan menerima daku sebagai hamba-Mu? Tuhan, kepada-Mu aku hidup dan bernafas. Karena rahmat-Mu aku ada. Kuingin mengorbankan kambingku di hadapan-Mu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Pada suatu hari, Musa as melewati padang gembala ketika ia pergi ke kota. Ia melihat penggembala itu duduk di samping ternaknya dengan kepala mendongak ke atas. Ia berbicara kepada Tuhan: \u201cDi manakah Engkau supaya kujahit baju-Mu, kurajut kasut-Mu, dan kubereskan ranjang-Mu? Di manakah Engkau supaya kusisir rambut-Mu, dan kucium kaki-Mu? Di manakah Engkau supaya kusemir sepatu-Mu dan kubawakan susu untuk minuman-Mu?\u201d Musa mendekati penggembala itu dan bertanya: Dengan siapa kamu bicara? \u201cDengan Dia yang menciptakan kita. Yang menciptakan siang dan malam, bumi dan langit.\u201d Musa marah mendengar jawaban penggembala itu: \u201cAlangkahnya beraninya kamu berbicara kepada Tuhan seperti itu? Ucapanmu itu kufur. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas jika tak bisa mengendalikan lidahmu, atau paling tidak orang tak mendengar kata-katamu yang penuh penghinaan, yang meracuni udara. Kamu harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga sebelum Tuhan menurunkan azab karena dosamu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Si penggembala, yang bangkit setelah mengenal sang Nabi, berdiri menggigil. Dengan air mata yang mengalir deras, ia diam mendengarkan ucapan Musa as. selanjutnya: \u201cApakah kamu kira Tuhan seperti manusia yang memakai kaos dan sepatu? Tentu saja tidak! Apakah Dia bocah kecil yang memerlukan susu? Tentu saja tidak! Tuhan Maha Sempurna, tak memerlukan siapa pun. Dengan berkata seperti itu kepada Tuhan, kamu telah menghinakan bukan saja dirimu tetapi juga makhluk Allah yang lain. Kamu ingkar kepada agama dan menjadi musuh Tuhan! Pergilah dan mintakan ampunan jika kamu masih sadar.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Penggembala sederhana itu tak mengerti mengapa&nbsp; ucapannya terhadap Tuhan dianggap kasar, atau mengapa Nabi menyebutnya musuh. Tapi ia tahu, Nabi Allah pasti lebih tahu dari siapapun. Dengan menahan isakan, ia berkata kepada Musa, \u201cKau telah membakar jiwaku, sejak saat ini mulutku membisu!\u201d Sambil menarik napas panjang, ia tinggalkan ternaknya dan menuju Sahara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Dengan perasaan puas karena telah menunjuki jalan kepada jiwa yang tersesat, Musa melanjutkan perjalanan ke kota. Tiba-tiba ia mendengar Tuhan menegurnya: \u201cMengapa kau halangi Kami dengan hamba Kami yang setia? Mengapa kau pisahkan pecinta dari Kekasinya? Kuutus kau untuk menyambungkan kasih sayang, bukan memutuskannya.\u201d Musa mendengarkan firman Tuhan dengan penuh rasa takut dan rendah diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u201cKami tidak menciptakan dunia untuk keuntungan Kami. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Pemujalah yang akan memperoleh faedah. Ingatlah bahwa dalam Cinta, kata-kata hanyalah desahan napas dan tidak ada artinya. Kami tidak memperhatikan keindahan kalimat atau susunan kata. Kami hanya melihat jauh ke dalam hati. Di situlah Kami tahu ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-katanya tidak berseni. Karena mereka yang telah terbakar dengan cinta sudah membakar habis kata-kata.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Berkatalah Suara Langit selanjutnya, \u201cMereka yang terikat dengan pemilikan tidak sama dengan mereka yang terikat dalam Cinta. Pecinta tidak memiliki agama selain Kekasih sendiri.\u201d Dengan begitu Tuhan mengajarkan Musa rahasia cinta. Segera setelah menyadari kealpaannya, Musa bergegas mencari penggembala itu untuk meminta maaf. Setelah hampir berputus asa, Musa menemukan penggembala itu termenung di pinggir mata air dengan pakaian yang lusuh dan rambut yang kusut masai. Musa menunggu lama. Akhirnya penggembala itu mengangkat kepalanya dan melihat sang Nabi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>\u201cSaya ingin menyampaikan pesan kepadamu,\u201d kata Musa. \u201cTuhan telah berfirman kepadaku. Kau bebas berkata kepada-Nya dengan cara apa pun yang kau sukai, dengan kata apa pun yang kau pilih. Karena yang aku kira sebagai kekafiran ternyata keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Penggembala menjawab dengan sederhana, \u201cAku sudah melewati tingkat kalimat dan kata. Hatiku sekarang sudah disinari dengan kehadiran-Nya. Tidak dapat aku jelaskan kepadamu keadaanku kini. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan-Nya.\u201d Ia bangkit pergi ke Sahara, diikuti tatapan Musa.&nbsp;<strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semua mazhab dalam Islam berpegang pada hadis. Sebagai semata-mata obyek kajian, bagi ahli hadis; sebagai sumber hukum, bagi ahli fikih; sebagai sumber nilai, bagi para sufi. Literatur hadis yang dikembangkan para ahli hadis dipenuhi dengan problema pembawa hadis&nbsp;(rawi), kesinambungan mata rantai rawi (sampai atau tidak kepada Rasulullah), dan perubahan atau pertentangan dalam bunyi kata-kata yang &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1573\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Kanzun Makhfiy&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[357,1508,54,1513,1509,1510,18,19,1512,83,1511,107,17],"class_list":["post-1573","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-cinta","tag-fukaha","tag-hadis","tag-hadis-sufistik","tag-hilyat-al-awliya","tag-hya-ulum-al-din","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-khwaja-nizamuddin-mahbub-illahi","tag-sufi","tag-tahdzib-al-tahdzib","tag-tasawuf","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1573","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1573"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1573\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1575,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1573\/revisions\/1575"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}