{"id":1605,"date":"2024-10-14T14:58:20","date_gmt":"2024-10-14T14:58:20","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1605"},"modified":"2024-10-14T15:01:26","modified_gmt":"2024-10-14T15:01:26","slug":"hadis-taubat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1605","title":{"rendered":"Hadis Taubat"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Hadis-taubat-1-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1606\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Hadis-taubat-1-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Hadis-taubat-1-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Hadis-taubat-1-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Hadis-taubat-1.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><em>\u201cSesungguhnya Allah lebih bahagia dengan taubatnya seorang hamba daripada seseorang yang datang ke suatu tempat yang gersang. Ia membawa unta tunggangannya. Di atas untanya itu ada makanan dan minumannya. Ia beristirahat meletakkan kepalanya dan tertidur lelap. Ketika ia bangun, untanya hilang. Ia berusaha mencarinya, sampai ia sangat kepanasan dan kehausan. Ia berkata: \u2018Aku akan kembali ke tempatku semula. Aku akan tidur sampai mati\u2019. Ia kembali lagi dan tidur lelap. Kemudian ia bangkit, mengangkat kepalanya. Tiba-tiba ia melihat untanya itu kembali lagi kepadanya. Di atasnya masih utuh perbekalan, makanan dan minumannya. Sesungguhnya Allah lebih senang dengan tobatnya seorang mukmin ketimbang orang ini ketika melihat unta dan perbekalannya kembali kepadanya.\u201d<\/em> (<em>Kanz al-\u2018Ummal<\/em>, hadis 10161).<br><br>Dengan kalimat-kalimat inilah Nabi SAW mengambarkan taubat. <em>Tawbat<\/em> dalam bahasa Arab berarti \u201ckembali\u201d. Dalam Al-Qur\u2019an, salah satu nama Allah ialah \u2018Al-Tawwab\u201d, yang banyak bertaubat atau yang banyak kembali. <em>Maka Adam menerima dari Tuhan-nya kalimat dan ia bertaubat dengannya. Sesungguhnya Allah Al-Tawwab dan Maha Pengasih<\/em> <strong>(Al-Baqarah: 37)<\/strong>. Kata yang sama digunakan untuk menunjukkan orang yang bertaubat kepada Allah: <em>Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan dirinya<\/em> <strong>(Al-Baqarah: 222)<\/strong>. Jadi, manusia bertaubat kepada Tuhan, dan Tuhan pun bertaubat kepada manusia. Tanpa merujuk kepada makna asalnya, yakni <em>kembali<\/em>, kita akan kesulitan memahami doa ini: <em>wa tub \u2018alaina innaka anta al-tawwab al-rahim<\/em> (dan bertaubatlah kepada kami, sesungguhnya Engkau Yang Banyak Bertaubat dan Yang Maha Pengasih).<\/p>\n\n\n\n<p><br>\u201cAllah bertaubat kepadanya\u201d berarti Dia kembali kepadanya dengan ampunan, atau kembali kepadanya dengan anugerah-Nya, dan menerima taubatnya serta memaafkannya. Karena itulah Allah itu <em>Al-Tawwab<\/em>. Pada kata <em>taubat<\/em> ada makna \u201ckembali\u201d-hamba kembali dari dosanya dan Tuhan kembali dengan rahmat dan ampunan-Nya.\u201d (Mu\u2019jam al-Fazh al-Qur\u2019an Karim 1:162).<\/p>\n\n\n\n<p><br>Ketika seorang hamba berbuat dosa, ia meninggalkan Tuhan. Tuhan pun meninggalkan dia juga. Seperti didendangkan Bimbo: \u201cAku dekat Engkat dekat. Aku jauh Engkau jauh\u201d. Walaupun, berdasarkan hadis di atas, kalimat yang benar ialah \u201caku dekat Engkau lebih dekat lagi, aku jauh Engkau lebih jauh lagi\u201d. Dalam salah satu hadis Qudsi yang masyhur, Tuhan berfirman: <em>\u201cJika kamu datang kepadaku dengan merangkak, Aku akan menyongsongmu sambil berjalan. Jika kamu datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menyambutmu sambil berlari,<\/em> karena kasih-Nya yang tidak terbatas<em>.<\/em> Betapapun besar dosa yang dilakukan seorang manusia, Tuhan akan selalu menerima hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Dahulu, dua ulama besar dari zaman <em>tabi\u2019in<\/em> berbincang tentang dosa dan ampunan. Hasan Al-Bashri berkata, \u201cJika aku melihat dosa-dosa manusia, aku heran kalau masih ada orang yang bisa masuk surga.\u201d Ali Zainal \u2018Abidin menukas, \u201cJika aku melihat kasih sayang Tuhan, aku heran kalau masih ada manusia yang masuk neraka.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p><br>Memang benar, keadilan Tuhan sangat menakutkan. Bukankah Nabi SAW bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang mempunyai perasaan <em>takabbur<\/em> walaupun sebesar debu saja? Siapakah di antara kita yang tidak ditimpa kepongahan dalam kadar yang bermacam-macam? Tetapi kasih sayang Tuhan meliputi segala sesuatu yang mengalahkannya. Ridha Tuhan mengalahkan murka-Nya. Karena itu, dalam Al-Qur\u2019an, Allah meletakkan \u201cYang Maha Keras dalam Menyiksa\u201d sebagai salah satu nama-Nya setelah nama-nama yang mengungkapkan kasih sayang-Nya: Penghapus Dosa, Penerima Taubat, Yang Maha Keras dalam Menyiksa (<em>Ghafir<\/em>: 3)<\/p>\n\n\n\n<p><br>Dalam hadis berikut ini, Nabi SAW menegaskan hadis di atas. \u201cSesungguhnya Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya daripada seorang perempuan mandul ketika memperoleh anak, daripada seorang yang sesat ketika menemukan jalan, daripada seorang yang haus ketika menemukan minuman\u201d (<em>Kanz al-\u2018Ummal,<\/em> 10165).<\/p>\n\n\n\n<p><br><strong>Apakah Taubat itu?<\/strong> Para sufi melihat perjalanan hidup ini sebagai perjalanan menuju Tuhan. Mereka menyebut dirinya <em>salik<\/em> atau <em>sair (sayr)<\/em>, yang sedang bepergian. Sepanjang perjalanan itu, ia akan menemui stasiun-stasiun, atau <em>maqam, manzil. Maqam<\/em> yang pertama adalah taubat. Kaena itulah, hampir setiap pengantar tasawuf membahas pengertian taubat, syarat-syarat taubat, dan dari apa kita harus bertaubat.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Ketika menjelaskan ayat, \u201csiapa yang tidak bertaubat, mereka termasuk orang yang zalim\u201d (Al-Hujurat 11), Al-Tilmisani menulis, \u201cTaubat menurut bahasa artinya \u201ckembali\u201d. Ketika Anda berkata <em>\u201ctaba \u2018ala atsarih<\/em>\u201d, yang Anda maksud adalah kembali ke tempat semula. Di sini maksudnya, kembali dari menentang Tuhan kepada mengikuti-Nya. Seorang yang bertaubat kembali dari jalan yang dimurkai dan jalan yang sesat ke jalan orang-orang yang diberi nikmat\u201d (<em>Syarh Manazil al-Sairin<\/em>: 61).<\/p>\n\n\n\n<p><br>Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa taubat terdiri dari tiga unsur: ilmu, keadaan, dan perbuatan. Ilmu melahirkan keadaan, dan keadaan melahirkan perbuatan. Ilmu ialah kesadaran akan bahaya dosa yang pernah dilakukan dan kesadaran akan jatuhnya tirai yang menghalangi seseorang dengan kekasihnya. Bila ia tahu Tuhan telah meninggalkannya, ia akan merasakan kepedihan hati. Ia kehilangan kekasihnya. Hatinya dipenuhi penyesalan. Inilah keadaan psikologis atau spiritual, yang tumbuh dari kesadaran akan dosa. Setelah hatinya dipenuhi penyesalan, ia segera meninggalkan dosanya pada waktu kini dan bertekad tidak akan melakukannya pada waktu yang akan datang (<em>Ihya\u2019 \u2018Ulum al-Din, Kitab al-Tawbah<\/em>). Al-Ghazali boleh jadi merujuk pada ucapan Imam Ali bin Abi Thalib kw., \u201cTaubat ditegakkan di atas empat fondasi: penyesalan dalam hati, permohonan ampunan dalam lidah, perbuatan dalam anggota (badan), dan tekad untuk tidak mengulangi dosa (<em>Bihar al-Anwar,<\/em> 78:81). Rasulullah SAW bersabda: \u201cPenyesalan itu taubat.\u201d (<em>Kanz al-\u2018Ummal,<\/em> 10301).<\/p>\n\n\n\n<p><br>Dari sini para sufi merumuskan tiga syarat taubat: penyesalan, meninggalkan maksiat, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Tidak sempurna taubat tanpa memenuhi syarat-syarat ini. Penyesalan adalah suasana psikologis yang dirasakan seorang hamba sahaya yang bertaubat. Bayangkanlah keadaan ketika seorang budak melarikan diri dari tuannya. Ia tertangkap. Kuduknya diseret dan tubuhnya dilemparkan ke hadapan tuannya. Ia tersungkur dalam keadaan lemah, hina dan tidak berdaya. Ia jatuh di hadapan tuannya yang berkuasa dan siap menjatuhkan hukuman yang berat baginya. Ia merintih memohon ampunan. Ia berjanji untuk tidak berbuat hal yang sama. Seperti itulah, seorang yang bertaubat di hadapan Tuhan-nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hakikat taubat itu dengan indah digambarkan dalam doa Ali bin Abi Thalib berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<p><br><em>Aku datang kini menghadap-Mu, ya Ilahi<\/em><br><em>dengan segala kekuranganku<\/em><br><em>dengan segala kedurhakaanku<\/em><br><em>seraya menyampaikan pengakuan dan penyesalanku<\/em><br><em>dengan hati yang hancur luluh<\/em><br><em>memohon ampun dan berserah diri<\/em><br><em>dengan rendah hati mengakui segala kenistaanku<\/em><br><br><em>Karena segala cacatku ini<\/em><br><em>tiada aku dapatkan tempat melarikan diri<\/em><br><em>tiada tempat berlindung untuk menyerahkan urusanku<\/em><br><em>selain pada kehendak-Mu<\/em><br><em>untuk menerima pengakuan kesalahanku<\/em><br><em>dan memasukkan aku pada keluasan kasih-Mu<\/em><br><br><em>Ya Allah,<\/em><br><em>terimalah pengakuanku<\/em><br><em>kasihanilah beratnya kepedihan<\/em><br><em>lepaskan aku dari kekuatan belengguku<\/em><br><em>Ya Rabbi, kasihanilah kelemahan tubuhku<\/em><br><em>kelembutan kulitku<\/em><br><em>dan kerapuhan tulangku<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cara Bertaubat.<\/strong> Cara bertaubat bergantung pada jenis dosa yang dilakukan. Ada dua macam dosa: dosa kepada Allah dan dosa kepada makhluk-Nya. Bertaubat dari dosa kepada Allah dapat dilakukan dengan memohonkan ampunan kepada-Nya langsung atau melakukan berbagai amal yang menurut syariat dapat menghapuskan dosa itu. Nabi SAW bersabda: \u201cApabila dosa seorang hamba sangat banyak dan amal-amalnya tidak cukup untuk menebusnya, Allah memberikan padanya berbagai kesusahan sebagai penghapus dosa-dosanya\u201d(HR Ahmad). \u201cDi antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak dapat dihapus, kecuali dengan kesulitan mencari nafkah\u201d (HR Ath-Thabrani). Bertaubat dari dosa kepada sesama manusia hanya bisa dilakukan setelah mengembalikan hak-hak mereka yang sudah dirampas.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Berkenaan dengan dosa kezaliman, Al-Ghazali mengatakan bahwa kezaliman menggabungkan kedua dosa; dosa kepada Tuhan karena Ia melarang kita berbuat zalim, dan dosa kepada manusia karena kita mengambil haknya dengan paksa. Kepada Tuhan ia dapat memohonkan ampunan dengan merintih dan menangisi kesalahan-kesalahannya, serta berjanji untuk tidak mengulanginya. Kepada manusia, ia harus menghentikan perbuatan zalimnya dan mengembalikan hak yang telah dirampasnya. Jika yang diambil itu hartanya, ia harus mengembalikan harta itu. Jika yang dihancurkan itu kehormatannya, ia harus merehabilitasi kehormatan itu. Tanpa pengembalian hak, Tuhan tidak akan mengampuni dosa-dosanya.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Pada suatu hari, Imam Ali bin Abi Thalib kw. menemukan seseorang sedang membaca istighfar. Ia berkata, \u201cSesungguhnya istighfar itu hanya terjadi setelah memenuhi enam hal. <strong><em>Pertama<\/em><\/strong>, penyesalan terhadap perbuatan yang telah dilakukan. <strong><em>Kedua<\/em><\/strong>, bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu selama-lamanya. <strong><em>Ketiga<\/em><\/strong>, mengembalikan hak-hak makhluk yang telah dirampas. <strong><em>Keempat<\/em><\/strong>, menunaikan segala kewajiban yang telah dilalaikannya. <strong><em>Kelima<\/em><\/strong><em>,<\/em> berusaha untuk menghilangkan daging dalam tubuh, yang tumbuh dari makanan yang haram. Ia menghilangkan daging-daging itu dengan kesedihannya, sehingga tumbuh daging yang baru.<em> <strong>Keeanam<\/strong>, <\/em>membiasakan kepada tubuh sakitnya menjalankan ketaatan sebagaimana sebelumnya telah menikmati manisnya kemaksiatan. Setelah keenam perbuatan itu, barulah ia boleh berkata, \u201c<em>Astaghfirullah\u201d.<\/em> <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cSesungguhnya Allah lebih bahagia dengan taubatnya seorang hamba daripada seseorang yang datang ke suatu tempat yang gersang. Ia membawa unta tunggangannya. Di atas untanya itu ada makanan dan minumannya. Ia beristirahat meletakkan kepalanya dan tertidur lelap. Ketika ia bangun, untanya hilang. Ia berusaha mencarinya, sampai ia sangat kepanasan dan kehausan. Ia berkata: \u2018Aku akan kembali &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1605\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Hadis Taubat&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[22,235,1571,1574,562,1572,18,680,19,1573,42,17],"class_list":["post-1605","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-al-ghazali","tag-ali-bin-abi-thalib","tag-apakah-taubat-itu","tag-cara-bertaubat","tag-dosa","tag-ihya-ulum-al-din-3","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-kanz-al-ummal","tag-katakangjalal","tag-kitab-al-tawbah","tag-taubat","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1605","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1605"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1605\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1607,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1605\/revisions\/1607"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1605"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1605"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1605"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}