{"id":1762,"date":"2024-12-07T11:31:19","date_gmt":"2024-12-07T11:31:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1762"},"modified":"2024-12-07T11:31:19","modified_gmt":"2024-12-07T11:31:19","slug":"depresi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1762","title":{"rendered":"Depresi"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1763\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kebahagiaan ditandai dengan ketiadaan rasa takut dan sedih hati, yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan <em>khauf<\/em> dan <em>huzn<\/em>. Di dalam Al-Quran disebutkan, <em>Ingatlah, tidak ada rasa takut dan sedih hati bagi para kekasih Allah<\/em> (Y\u00fbnus: 62).<\/p>\n\n\n\n<p>Ketakutan bisa terjadi karena peristiwa masa lalu atau yang disebut dengan trauma atau karena peristiwa masa depan\u2014yang sebetulnya belum pasti terjadi\u2014yang disebut <em>anxiety<\/em>. Orang yang mengidap trauma ataupun <em>anxiety<\/em> sama-sama tidak bisa menikmati masa kini. Baik trauma atau <em>anxiety<\/em>, keduanya merupakan gangguan kejiwaan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Anxiety<\/em> hanya terjadi pada manusia. Sebab, dalam otak manusia ada yang disebut dengan lobus fontal: bagian depan otak manusia yang berfungsi memikirkan dan merencanakan masa depan. Sebab itu pulalah manusia beragama. Dalam Al-Quran disebutkan, <em>Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Dan, hendaknya setiap orang mau mengevaluasi apa yang telah lalu, untuk kebaikan hari esok<\/em> <strong>(al-Hasyr: 18).<\/strong> Titah itu hanya diperuntukkan bagi manusia, sebab hanya mereka yang dianugerahi mampu mengingat masa lalu untuk kemudian memikirkan masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat bersamaan, kemampuan itu juga dapat membuat manusia memiliki kekhawatiran dan ketakutan. Berbeda dengan binatang yang baginya semua adalah <em>present tense<\/em> dan tidak ada <em>future tense<\/em>. Lihat saja sapi-sapi di tempat penjagalan. Di depannya ada sesama sapi yang menggelepar-gelepar disembelih, sapi-sapi yang lain tetap santai mengunyah rumput, tak takut dan gelisah bahwa pada gilirannya ia pun akan disembelih.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebab itu, sekarang ini, ada tokoh-tokoh yang mengajarkan bahwa nikmatilah hidup yang sedang dihadapi, hiduplah pada masa kini, jangan memikirkan masa lalu dan masa depan. Sebab, masa lalu telah lewat dan masa depan belum tiba. Konon, ajaran semacam itu telah ada sejak zaman Yunani. Barangkali ajaran seperti itu adalah untuk menghindari ketakutan-ketakutan yang dapat mengganggu jiwa. Tapi, yang seperti itu tentu saja tidak mungkin akan terjadi. Kemampuan memikirkan masa lalu dan masa depan sudah merupakan fitrah manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, dengan apa seseorang membangun masa lalu dan masa depannya, sehingga membuat ia bahagia atau berduka? Dengan cerita. Manusia adalah makhluk yang setiap hari menyusun cerita untuk peristiwa yang sudah, sedang, dan yang akan terjadi pada dirinya. Dengan sudut pandang seperti apa sebuah cerita tentang masa lalu atau masa depan tersusun, akan memengaruhi apakah pada masa kini seseorang akan bahagia atau menderita. Misal, saya membangun cerita saya sendiri tentang pertemuan pengajian yang akan datang. Karena hari ini saya datang terlambat sehingga para jamaah agak kecewa, lalu saya berasumsi bahwa para jamaah akan berpikir, pada pertemuan selanjutnya pasti saya akan datang terlambat seperti kali ini. Lalu, mereka tidak percaya lagi dan melabeli jika saya adalah penceramah yang selalu terlambat menghadiri undangan. Saya pun gelisah dan merasa tidak terhormat dengan label seperti itu. Saya menderita <em>khauf<\/em>, kecemasan yang muncul dari pikiran-pikiran dan cerita-cerita saya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan, kecemasan-kecemasan tak hanya muncul dari cerita-cerita yang kita bangun sendiri, tapi juga bisa hadir dari cerita-cerita orang lain tentang kita. Rasulullah pernah mendapat nasihat dari Allah agar jangan terlalu berduka dengan omongan-omongan orang. Dalam Al-Quran disebutkan, <em>Jangan sampai ucapan mereka membuatmu sedih <\/em><strong>(Y\u00e2s\u00een: 76).<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat itu, banyak cerita tentang Rasulullah yang disebarkan oleh para pembencinya. Ada yang menyebut Rasulullah gila, tukang sihir, pembohong, dan fitnah-fitnah lainnya. Allah menasihati Rasulullah agar semua itu jangan terlalu dipikirkan. Omongan-omongan mereka harus dilihat dari sudut lain agar tidak menjadi beban pikiran dan membuat sedih. Ini sebenarnya menjadi terapi: salah satu mengatasi depresi adalah dengan meninjau kembali jalan pikiran tentang peristiwa lalu memperbaiki cerita tentangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada beberapa tips untuk menghindari anxiety, antara lain, pikirkanlah penderitaan-penderitaan yang lebih besar, baik yang pernah kita atau orang lain alami. Sebab, anxiety merupakan ketakutan yang bermula dari cara berpikir. Maka, mesti ditandingi dengan mengalihkan cara berpikir itu. Ada sebuah kisah fiktif jenaka &#8230;<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu ketika pada zaman penjajahan, tentara Belanda merazia terhadap para pedagang buah. Mereka yang tertangkap akan dihukum sesuai dengan buah yang dijualnya, yaitu buah itu akan dimasukkan ke anus si penjual. Singkat cerita, ada tiga pedagang salak yang tertangkap. Mereka pun dihukum. Penjual pertama menjerit kesakitan. Demikian pula yang kedua. Giliran penjual ketiga. Belum juga dihukum, ia sudah tertawa terbahak-bahak. Apa pasal? Ternyata dia melihat penjual duren yang juga tertangkap dan membayangkan hukuman yang bakal diterima.<\/p>\n\n\n\n<p>Tips lain menghindari <em>anxiety<\/em> adalah melakukan perbuatan baik yang membahagiakan batin, seperti berbagai kebahagiaan dengan orang lain. Sebab, selalu ada kebahagiaan dalam diri jika kita membahagiakan orang lain. Hal-hal seperti itu dapat mengikis kecemasan dan kegelisahan dalam diri. Dan, sejalan dengan semua itu, tentunya pengobatan secara medis juga jangan dilupakan.<\/p>\n\n\n\n<p>DALAM penelitiannya, seorang tokoh kecerdasan emosional atau EQ (<em>emotional quotient<\/em>) bernama Daniel Bolman, menemukan bahwa kebahagiaan seseorang dalam hidupnya bukan ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya atau IQ (<em>intellectual quotient<\/em>) melainkan oleh kecerdasan emosional atau EQ (emotional quotient). Kemampuan mengendalikan emosi itu kunci kesuksesan hidup. Di negara-negara maju seperti Amerika, kata Daniel Bolman, orang-orang yang lahir di atas tahun 1995 memiliki kemungkinan menderita depresi tiga kali lebih besar daripada generasi orang tua mereka, yang disebabkan oleh perasaan putus asa yang luas biasa. Terjadi penurunan kadar EQ dibanding generasi sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang wartawan Amerika bertugas ke Lebanon. Ia melihat rumah-rumah yang hancur oleh serangan Israel dan perempuan-perempuan yang\u2014anehnya, dalam keadaan tak menentu seperti itu\u2014tampak bersinar. Mereka berkumpul bersama keluarga. Tak tergambar keputusasaan di wajah mereka. Wartawan itu mengatakan bahwa itulah yang disebut dengan <em>inner beauty<\/em>, kecantikan yang memancar dari jiwa mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Si wartawan juga mengatakan, keadaan seperti itu-wajah-wajah bersinar\u2014pernah terjadi di Amerika saat perempuan-perempuan di sana masih konservatif. Mereka hidup dalam ikatan kekeluargaan yang erat sampai kemudian suatu era mengubah keadaan di mana televisi dan film mendidik mereka bersikap mandiri yang melampaui batas dan cenderung individualistis, tidak ada perhatian di antara sesama keluarga sehingga masing-masing menjadi diri yang terasing. Perempuan-perempuan yang tak meninggalkan gaya konservatif akan dianggap ketinggalan zaman. Konsumerisme menjadi gaya hidup seiring peningkatan kemakmuran material. Gejala seperti itu mulai terjadi dari tahun 1955 sampai sekarang. Namun, pada saat yang sama, depresi pada mereka juga mengalami peningkatan. Peningkatan kemakmuran material tak diimbangi dengan peningkatan kebahagiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang pendiri psikologi positif, Martin S. mengatakan bahwa saat ini kita berada di tengah epidemi depresi yang mengakibatkan penderitanya memilih bunuh diri. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa depresi berat meningkat sepuluh kali lipat dibanding lima puluh tahun yang lalu, menyerang perempuan dua kali lebih banyak daripada laki-laki, dan menimpa orang-orang yang sepuluh tahun lebih muda daripada orang-orang pada masa nenek moyang mereka. Pada masa itu, penderita depresi kebanyakan orang-orang tua. Saat ini, orang-orang muda pun mudah mengalami depresi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-Dermawan-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1764\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-Dermawan-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-Dermawan-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-Dermawan-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Depresi-Dermawan.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>ADA beberapa penyakit yang muncul sebab depresi, antara lain penyakit jantung, osteoporosis, dan kanker. Ada juga yang disebut dengan apoptosis (berasal dari kata Yunani. &#8220;<em>Apo<\/em>&#8221; artinya &#8220;dari&#8221; dan &#8220;<em>ptosis<\/em>&#8221; artinya &#8220;jatuh&#8221;), yaitu proses kematian sel yang terprogram atau proses perusakan yang terkontrol terhadap diri sel itu sendiri. Apoptosis memiliki peran sangat penting dalam embryogenesis, penggantian jaringan yang rusak, perkembangan sistem imun, dan perlindungan melawan perkembangan tumor (tumor genesis). Peran penting apoptosis dalam embryogenesis tampak pada setiap jari tangan dan kaki kita yang terpisah dengan sempurna. Apabila apoptosis tidak sempurna, maka jari tangan\/kaki kita akan tetap bertautan. Dan, salah satu penyebab ketidaksempurnaan apoptosis itu adalah depresi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada juga yang disebut dengan precious <em>downward spiral<\/em> atau spiral jahat yaitu depresi yang muncul saat seseorang menderita penyakit dan menghalangi proses penyembuhan penyakit tersebut. Sebab, obat-obatan yang diperuntukkan bagi kesembuhan penyakit harus bersaing dengan depresi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada gejala depresi yang menyerang sewaktu-waktu dan berketidak berkepanjangan. Namun, ada juga depresi yang yang disebut panjangan, menyerang dalam jangka lama. Ini dengan gangguan bipolar atau manic depressive, yaitu suatu episode depresi di mana suasana hati dan energi mening- kat tajam hingga melampaui batas normal. Fase ini disebut mania. Gejalanya mencakup berpikir dengan sangat cepat, cerewet, penurunan kebutuhan tidur. Bahkan, si penderita dapat terjaga selama berhari-hari tanpa tidur, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda kehabisan energi. Gejala lain dari gangguan bipolar adakah perilaku yang sangat impulsif tanpa memikirkan konsekuensi. Orang yang mengidap depresi juga mengalami perubahan pola makan dan kehilangan rasa untuk menikmati hidup. Hal-hal yang dalam keadaan normal sebenarnya pantas dinikmati, bagi orang yang mengalami depresi seperti tidak berarti. Ia juga lebih mudah tersinggung dan selalu melihat sisi-sisi negatif orang lain. Kacamata yang ia pakai berwarna kelabu. Senyuman akan dilihatnya sebagai sindiran. Pujian tak dapat dinikmati sebagai sesuatu yang menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>PENGIDAP depresi selalu berfokus pada kesedihan dan kesusahan yang ia alami. Ceritanya selalu diulang-ulang dalam pikirannya dan bahkan menambahkannya dengan kemungkinan-kemungkinan yang dramatis. Pikiran dan perasaannya selalu berguncang. Salah satu terapi mengikis hal itu adalah dengan berzikir dan membaca Al-Quran, untuk mengalihkan perhatian agar tak fokus pada satu pikiran yang menyusahkan. Dalam Al-Quran disebutkan, Ingatlah! Dengan berzikir kepada Allah hati menjadi tenang (al-Ra&#8217;d: 28).<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu ketika, seseorang berkonsultasi kepada Ibn Mas&#8217;ud, salah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal bagus bacaan Al-Qurannya. Seseorang itu barangkali sedang dirundung masalah, pikiran dan hatinya gelisah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ibn Mas&#8217;ud lalu menasihati orang tersebut, \u201cBacalah Al-Quran! Jika kau belum bisa membacanya, dengarkanlah bacaan orang lain. Jika dengan semua itu kau belum juga mendapatkan ketenangan, bangunlah tengah malam, berdoa kepada Tuhan, minta diberi hati yang baru. Karena, jika hati tak lagi tenteram di hadapan Al-Quran maka berarti ia telah dipenuhi oleh dosa dan nista.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Terapi lain untuk mengikis depresi adalah dengan silaturahmi. Rasulullah pernah mengatakan, &#8220;Jika ingin panjang usia dan banyak rezeki, perbanyaklah silaturahmi.&#8221; Dengan silaturahmi, kita akan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, berbagi cerita dan sebagainya. Kita akan mendengar cerita kebahagiaan dari orang lain dan kita pun bercerita kepada mereka. Secara tidak kita sadari, semua itu melepaskan beban pikiran dan perasaan.<\/p>\n\n\n\n<p>SAYA mengambil jurusan statistik saat kuliah di Amerika. Saya pernah gelisah sebab mendapatkan nilai jelek pada mata kuliah statistik. Berhari-hari kemudian, saya selalu ke perpustakaan untuk membaca buku-buku statistik. Hanya buku itu yang saya baca sampai tidak memperhatikan mata kuliah lain. Suatu ketika, saya bertemu dengan profesor saya. Saya menceritakan keadaan yang saya alami. Ia kemudian menasihati, &#8220;Kamu ini perfeksionis. Padahal, tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang pasti akan mendapatkan kegagalan. Kenapa kamu merasa selalu harus berhasil. Kampus ini juga mendidik mahasiswa untuk menerima kegagalan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Saya selalu ingat pesan itu. Profesor yang ateis itu meng- ingatkan saya yang beragama bahwa kegagalan memang karakter manusia. Secara tidak langsung, profesor itu telah memperbaiki jalan pikiran saya bahwa kegagalan adalah ba- gian dari karakter manusia. Al-Quran menyebutkan, <em>Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah<\/em> (al- Balad: 4).<\/p>\n\n\n\n<p>Berkah silaturahmi dengan profesor itu, saya akhirnya mencoba mengubah cara berpikir saya, bersikap biasa dengan mata kuliah statistik itu dan mempelajarinya dengan tenang. Dan, pada akhirnya, nilai statistik saya memang bagus.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada sebuah buku berjudul <em>The Feeling Power of Doing Good<\/em> (Kemampuan Menyembuhkan dengan Berbuat Baik). Ada banyak kisah-kisah menarik dalam buku itu. Salah satu- nya tentang seorang pengusaha minyak dari Texas. Pengusa- ha itu sudah lama tak bersama istri dan anak-anaknya karena terlalu asyik dengan pekerjaannya. Ia hanya berkutat dengan proyek dan uang. Singkat cerita dia mengalami depresi, lalu mendatangi seorang psikolog bernama Den Baker di New York. Den Baker tidak memberi obat untuk menyembuhkan depresi si pengusaha itu, namun hanya menasihatinya agar mencari proyek yang tidak menghasilkan uang dan tidak mendapat pujian orang-orang, tapi justru mengeluarkan uang-uangnya. Akhirnya, ia memilih merawat anjing-anjing kudisan yang ada di jalanan. Setelah sembuh, anjing-anjing itu diberikan kepada para tetangganya yang mau merawat hewan-hewan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu saat, pengusaha tersebut hendak melaporkan kegiatannya kepada Den Baker. Di tengah jalan, ia mengisi bensin. Di pom bensin itu, ia melihat seorang perempuan yang sedang depresi. Wajahnya muram. Si pengusaha mendekat dan menanyakan keadaan perempuan itu. Perempuan tersebut mengatakan bahwa dirinya sedang bingung, ibunya sakit keras sementara ia tidak memiliki uang untuk biaya pengobatannya. Asuransi yang seharusnya ia dapatkan tidak juga dibayarkan. Kemudian, si pengusaha menanyakan nama asuransi itu. Secara kebetulan, direktur asuransi tersebut adalah kawannya. Si pengusaha lalu mengatakan, ia akan menjamin bahwa uang asuransi perempuan itu besok sudah bisa dicairkan. Betapa bahagia perempuan itu. Ia peluk si pengusaha itu sambil air matanya berlinang.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah itu, si pengusaha tiba-tiba teringat istrinya. Segera saja ia meneleponnya. Istrinya kaget dan hampir tidak mengenal suara suaminya itu, saking lamanya tidak berkomunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengusaha minyak itu kemudian mendatangi Den Baker, melaporkan apa saja yang sudah dilakukan sesuai dengan nasihat psikolog tersebut. Den Baker menjelaskan bahwa kepada si pengusaha bahwa semua rangkaian peristiwa yang terjadi adalah karena ia mau mengubah jalan pikiran dan ke- biasaannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkadang, aktivitas-aktivitas yang mengatur diri dan waktu kerap menenggelamkan kebahagiaan mendasar. Pada saat seperti itu, kita akan merindukan bebas dari semua itu, kepada alam di mana kita berasal. Lihat saja fenomena mudik lebaran. Jutaan orang berani menanggung risiko untuk melakukannya, kembali ke kampung halaman, melepaskan diri dari rutinitas yang itu-itu saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Muthahhari ada program unggulan bernama <em>Spiritual Work Camp<\/em>, yaitu siswa-siswa akan diminta tinggal di desa-desa, tinggal bersama masyarakat yang kehidupannya sama sekali jauh berbeda, dalam jangka waktu tertentu. Ada siswa yang ditempatkan di keluarga penjual bakso, petani, pengurus masjid, dan sebagainya. Awalnya, para siswa menolak. Wajar, mereka terbiasa hidup dengan segala kemudahan dan kenyamanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Singkat cerita, program selesai. Anak-anak akan kembali ke rumah masing-masing. Kami, pihak sekolah, tak menyangka jika perpisahan itu begitu mengharukan. Anak-anak saling berpelukan dengan keluarga itu sambil menangis. Anak-anak bahkan meminta agar waktu program itu diperpanjang. Tak terbayangkan oleh kita jika melihat pada awalnya mereka seperti tidak akan betah tinggal bersama masyarakat desa. Mereka menemukan kebahagiaan yang tak mereka jumpai dalam kehidupan yang biasa mereka jalani.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada salah satu anak seorang manajer sebuah perusahaan di Aceh. Di Bandung, anaknya sendirian. Dalam program <em>Spiritual Works Camp<\/em> itu, si anak tinggal bersama pasangan kakek-nenek. Saat perpisahan itu, kami mengajak si anak untuk berpamitan terlebih dahulu dengan ketua RW setempat, sekitar pukul satu dini hari. Lalu, kami keluar. Dan ternyata kakek-nenek itu sudah menunggu di luar. Kami tanya, kenapa menunggu? Sudah berapa lama? Dalam bahasa Sunda, kakek-nenek itu menjawab, &#8220;Kami khawatir Si Ujang tidak balik lagi. Jadi kami ke sini.&#8221; Kakek-nenek dan anak itu pun saling berpelukan, menangis, memuaskan pertemuan terakhir itu. Benar-benar mengharukan. Setelah berpisah, kami tanya si anak itu, bagaimana kamu berkomunikasi dengan kakek-nenek itu? Kamu tidak paham bahasa Sunda, sementara kakek-nenek itu tidak bisa berbahasa Indonesia. Anak itu menjawab, &#8220;Dengan bahasa cinta, Pak.&#8221; Ya, cinta memang bahasa yang universal. Dengan cinta, mereka saling memahami.<\/p>\n\n\n\n<p>ADA latihan-latihan psikologi yang disebut dengan random act of kindness, berbuat baik secara acak. Maksudnya, berbuat baik secara tiba-tiba kepada orang yang tidak kita kenal. Dalam penelitian, ternyata itu lebih membuat bahagia daripada berbuat baik kepada orang yang kita kenal. Dan kebahagiaan seperti itulah yang mampu mengikis depresi.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya sendiri punya pengalaman tentang itu&#8230; Ini tak bermaksud menyombongkan diri, tapi sekadar berbagi pengalaman. Suatu ketika, saya ingin membeli obat di sebuah apo- tek. Saat sedang menunggu giliran membayar obat, datang seorang yang juga ingin membeli obat. Dilihat dari perawakannya, sepertinya ia orang yang tak berpunya. Benar, ternyata. Orang itu ingin membeli obat untuk ibunya yang sakit. Namun, kata kasir apotek, uang yang dibawanya tidak cukup untuk mendapatkan obat yang diinginkan. Lalu, kepada kasir itu saya katakan bahwa saya akan membayar obat yang dibutuhkan orang tersebut dan meminta si kasir untuk tak mengatakan kepadanya. Padahal, saat itu, uang yang saya pegang juga sebenarnya hanya cukup untuk obat yang ingin saya beli. Akhirnya, barangkali karena melihat apa yang saya lakukan, si kasir membolehkan saya membayar obat yang saya beli kapan saja. Dan, terus terang, saat itu, saya betul-betul merasa bahagia bisa membantu orang itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya jadi teringat oleh sebuah kiasan menarik: Kedermawanan bukanlah Anda memberi makan anjing lapar, melainkan Anda mau berbagi makanan dengan anjing sementara Anda sendiri lapar. Ini tentu saja hanya kiasan dan bermaksud menyamakan saya dan orang yang saya bayarkan obatnya itu sebagai dermawan dan anjing. Maksudnya, kedermawanan bukanlah saat Anda mampu memberi harta lebih kepada orang yang tak mampu\u2014karena itu adalah kewajiban sebagai sesama manusia\u2014melainkan ketika Anda mau berbagi meski Anda sendiri sedang membutuhkan. Anda mau menyisihkan keberuntungan Anda, sekaligus mau merasakan kemalangan orang tak berpunya. Ini seperti teladan kaum Anshar Madinah yang menerima kedatangan kaum Muhajirin Makkah. Kaum Anshar bersedia berbagi apa pun yang mereka miliki kepada Kaum Muhajirin, meski Kaum Anshar sendiri sesungguhnya membutuhkan. Dalam Al-Quran disebutkan, <em>Kaum Anshar lebih mengutamakan kepentingan Kaum Muhajirin, meski Kaum Anshar sendiri sedang membutuhkan <\/em>(al-Hasyr: 9).<\/p>\n\n\n\n<p>Misal lain adalah selalu menyapa lebih dulu orang yang berpapasan dengan kita, memberi senyuman kepadanya. Bukankah itu satu kebahagiaan? Lalu, jika orang itu membalas sapaan dan senyum kita, bukankah itu kebahagiaan lain? Maka, hidup kita pun akan penuh dengan kebahagiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dulu, di Unpad ada seorang dosen psikologi, namanya Pak Wisnu. Ia selalu menyapa lebih dulu jika berpapasan dengan rektor. Suatu ketika kawannya mengatakan, &#8220;Sudahlah, Pak Wisnu, tidak usah menyapa Rektor lagi. Toh, dia tidak pernah mau membalas sapaanAnda.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Pak Wisnu kemudian menanggapi, &#8220;Tugas saya hanya menyapa setiap orang. Itu pilihan hidup saya.Ada pun orang yang saya sapa tidak mau membalas, biarkan itu jadi pilihannya.&#8221; Barangkali, Pak Wisnu selalu merasakan kebahagiaan jika menyapa lebih dulu, terlepas orang yang disapa mau membalas sapaan atau tidak.<\/p>\n\n\n\n<p>TERMASUK terapi untuk mencegah dan mengikis depresi adalah menghormati mengapresiasi orang lain dan bertegur sapa dengan ramah. Hormat dan keramahan kita akan membahagiakan orang lain. Dan, membahagiakan orang lain itu ibarat kita menyinari cermin: sinarnya akan memantul kepada sumber sinar. Dengan seperti itu, kita akan merasa hidup ini begitu indah dan penuh makna.<\/p>\n\n\n\n<p>MEMBAHAGIAKAN orang lain juga dapat mengikis gejala depresi. Ada sebuah cerita &#8230; Di sebuah rumah sakit ada dua orang pasien yang tinggal dalam satu kamar. Satu pasien selalu terbaring di ranjang. Satu pasien lagi, setiap sore, ia harus berada di jendela, menangkap sinar matahari untuk mengeringkan cairan dalam paru-parunya. Pada setiap sore itu, lelaki yang berada di jendela selalu menceritakan segala keindahan di luar jendela kepada pasien yang hanya terbaring di ranjang itu. Keduanya juga bercerita banyak hal, mulai dari keluarga, pekerjaan mereka dulu, pengalaman dalam tugas militer, sampai acara berlibur mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasien yang hanya bisa terbaring di ranjang selalu menikmati cerita-cerita pasien di jendela tentang keindahan-keindahan yang ada di luar jendela. Pasien di jendela menceritakan bahwa jendela itu menghadap ke arah danau yang indah. Bebek dan angsa mengapung berenang ke sana ke mari diikuti anak-anaknya. Beberapa orang menaiki perahu. Di bibir danau, pasangan remaja yang kasmaran tampak sedang berpacaran, ada yang duduk berdua, ada juga yang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Di sisi yang lain, tampak gedung-gedung tinggi. Sementara pasien di jendela bercerita, pasien di atas ranjang memejamkan mata seraya membayangkan cerita. Setiap hari dalam waktu sekian lama, kedua pasien tersebut selalu melakukan itu sehingga diam- diam terjalin persahabatan yang emosional di antara mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai pada suatu hari, pasien di jendela didapati telah meninggal dunia dengan posisi terduduk di kursi di dekat jendela.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, tinggal pasien di atas ranjang sendirian. Tak ada lagi orang yang biasa menceritakan keindahan di luar jendela sana. Ia pun kemudian meminta agar ranjangnya didekatkan yang selama ke jendela agar dapat melihat sendiri keindahan ini hanya ia tahu lewat cerita. Dengan susah payah ia berusaha melongok ke luar jendela. Ternyata, di luar jendela itu tidak ada apa-apa selain halaman yang kemudian berbatasan dengan tembok. Perawat kemudian memberi tahu bahwa sesungguhnya lelaki yang setiap sore selalu di jendela itu tunanetra. &#8220;Lalu, kenapa ia selalu bercerita bahwa di luar sana ada keindahan-keindahan?&#8221; kata pasien yang terbaring di ranjang. Perawat menjawab, &#8220;Barangkali ia hanya ingin berbagi kebahagiaan dan semangat hidup kepada Anda dan juga dirinya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Atau, paling tidak, pasien di jendela itu ingin mengurangi setengah derita dirinya dengan berbagi cerita bahagia ki harus berdusta. Atau, sesungguhnya ia tidak berdusta, tapi hanya sedang membangun imajinasi keindahan yang membahagiakan sebagai penyemangat hidup di tengah kondisi sakit (seperti para penulis cerpen atau novel yang menulis ceritanya berdasarkan imajinasi).<\/p>\n\n\n\n<p>Kehidupan terasa bermakna bila kita telah membuat orang lain bahagia, meski seorang. Barangkali, pasien buta itu berpikir demikian. Di akhir hidupnya, ia ingin melihat hidupnya bermakna dengan membahagiakan temannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada yang g bisa kita petik dari cerita itu bahwa kebohongan yang justru mendatangkan maslahat tidak dianggap sebagai kebohongan. Rasulullah pernah berkata, &#8220;Kebohongan yang membawa maslahat bersama tidak dianggap sebagai kebohongan.&#8221; (<em>laisa al-kidzb m\u00e2 yushlihu baina al-n\u00e2s<\/em>). Misalnya, kita diperbolehkan berbohong untuk menyelamatkan nyawa diri sendiri atau orang lain, atau berbohong untuk membahagiakan orang lain, seperti yang dicontohkan dalam cerita di atas.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang penyair Iran bernama Sa&#8217;di pernah mengatakan, \u201cKejujuran yang menyengsarakan lebih hina daripada kebohongan yang membahagiakan.&#8221; Seorang suami, misalkan, lebih baik memuji istrinya cantik daripada berterus terang bahwa istrinya itu sesungguhnya tak menarik. Sebab, itu akan menyenangkan si istri. Atau, jika tidak bisa memuji maka lebih baik diam.<\/p>\n\n\n\n<p>SALAH satu penyebab depresi adalah selalu berharap banyak kepada orang lain sementara itu tidak bisa memenuhi harapan. Kita terjebak kemacetan di jalan raya. Lalu, berkata sendiri, &#8220;Seharusnya para pengendara mobil itu mau tertib.&#8221; Atau, &#8220;Jika saja para pengendara mobil itu mau tertib.&#8221; Banjir melanda. Kita kesal sambil bergumam, &#8220;Semestinya masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.&#8221; Atau, &#8220;Jika saja masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.&#8221; Dan sebagainya. Sebab itulah Rasulullah menganjurkan kita agar tak terlalu banyak berangan-angan, tak banyak mengucapkan &#8220;andai saja tidak demikian&#8221;, &#8220;jika saja seperti itu&#8221;, dan sebagainya. Sebab, pada saat itulah setan merasuk dalam pikiran dan hati kita. Menyulut penyesalan dan kekecewaan dalam jiwa. Kekecewaan dan penyesalan semacam itu jika terus dipelihara akan menjadi depresi. <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebahagiaan ditandai dengan ketiadaan rasa takut dan sedih hati, yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan khauf dan huzn. Di dalam Al-Quran disebutkan, Ingatlah, tidak ada rasa takut dan sedih hati bagi para kekasih Allah (Y\u00fbnus: 62). Ketakutan bisa terjadi karena peristiwa masa lalu atau yang disebut dengan trauma atau karena peristiwa masa depan\u2014yang sebetulnya belum &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1762\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Depresi&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1942,1939,1943,18,19,1759,1925,1940,1941,1935,1945,1944,17],"class_list":["post-1762","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-anxiety","tag-duka","tag-inner-beauty","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-kebahagiaan","tag-kecewa","tag-kesedihan","tag-kesenangan","tag-muthahhari","tag-spiritual-work-camp","tag-the-feeling-power-of-doing-good","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1762","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1762"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1762\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1765,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1762\/revisions\/1765"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1762"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1762"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1762"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}