{"id":1766,"date":"2024-12-08T11:26:52","date_gmt":"2024-12-08T11:26:52","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1766"},"modified":"2024-12-08T11:26:52","modified_gmt":"2024-12-08T11:26:52","slug":"sistem-limbik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1766","title":{"rendered":"Sistem Limbik"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Sistem-limbik-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1767\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Sistem-limbik-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Sistem-limbik-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Sistem-limbik-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Sistem-limbik.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p id=\"as8t0\">Dalam otak manusia terdapat bagian yang disebut dengan <em>limbic system<\/em> atau sistem limbik, yaitu bagian pengatur hal-hal yang berkaitan dengan emosi, seperti mencintai, membenci, memaafkan, bersikap jujur dan adil, gembira dan sedih, menggertak, mengerang, menunjukkan perasaan sayang atau perasaan bersalah, depresi, dan sebagainya. Bagian itu tak hanya khas bagi manusia. Dalam otak hewan pun terdapat bagian tersebut yang memungkinkan induk hewan terikat secara emosional dengan anak-anaknya. Maka, kita lihat, induk hewan akan selalu menjaga anaknya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"fqikp\">Keterikatan emosional tersebut dipengaruhi oleh mekanisme kimiawi. Misalnya yang terjadi pada para perempuan setelah melahirkan. Mereka kerap mengalami apa yang disebut dengan <em>baby blue syndrome<\/em>, yang merupakan gejala teringan dalam suatu rangkaian stres yang tidak menyenangkan (distress) pada ibu yang baru melahirkan <em>(postpartum distress)<\/em>. Gejala-gejalanya antara lain gangguan suasana hati dan pikiran, muncul rasa sedih dan gelisah, kebingungan yang subjektif, mudah menangis, terkadang sulit tidur, dan sebagainya, yang semua itu tanpa pemicu-khusus dari luar diri si ibu. Gejala-gejala itu terjadi karena perubahan keseimbangan hormon pada tubuh sang ibu yang baru melahirkan sehingga menimbulkan ketidakseimbangan emosi. Secara mekanis, sindrom itu terjadi karena sistem limbik dalam otak perempuan yang melahirkan bekerja ekstra dan terjadi pengurangan kadar <em>serotonin<\/em> dan <em>norepinefrin<\/em>. <em>Serotonin<\/em> adalah sejenis hormon saraf yang bersifat depresan. Jika seseorang kekurangan kadar tersebut maka ia akan mengalami depresi sedang seperti kecemasan, gelisah, <em>anxiety<\/em>, insomnia, dan sebagainya. Sedangkan <em>norepinefrin<\/em> adalah bagian dalam sistem limbik yang mengontrol emosi-emosi seperti depresi, <em>euphoria<\/em>, dan sebagainya. Kekurangan <em>norepinefrin<\/em> secara kronis dapat menyebabkan depresi.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"9f3ii\">Dan, sistem limbik pada perempuan lebih besar daripada yang ada pada laki-laki. Sebab itulah wanita, konon, lebih dominan sisi emosionalnya daripada rasionalnya jika dibanding dengan laki-laki. Sebab itu pula, perempuan cenderung lebih mudah menderita secara kejiwaan daripada laki-laki. Sehingga, menurut penelitian, jumlah perempuan yang berniat bunuh diri lebih banyak daripada jumlah laki-laki. Namun, yang menarik adalah bahwa jumlah laki-laki yang sukses melakukan bunuh diri justru tiga kali lebih besar daripada jumlah perempuan. Dalam soal kekerasan, jumlah laki-laki lebih banyak daripada perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"ac5gj\">Maka, perlu hati-hati bagi perempuan, baik yang sudah menikah atau yang masih lajang. Jangan mudah menjalin hubungan dengan laki-laki untuk sekadar pelarian, sekadar karena tidak mendapat kepuasan dari kekasihnya, dan untuk senang-senang. Tanpa komitmen. <em>Just for fun<\/em>. Adanya sistem limbik yang lebih besar dalam diri perempuan membuatnya mudah terikat secara emosional. Bagi laki-laki, mudah saja menjalin hubungan atau memutuskannya apalagi jika sejak mula sudah ada garis bahwa hubungan itu hanya senang-senang. Si laki-laki mudah pergi tanpa perasaan apa-apa, sementara si perempuan telah terikat emosinya dan tak mudah memutus begitu saja. Lalu, si perempuan pun akan merana untuk sekian lama. Mungkin saja hal itu juga dapat terjadi pada laki-laki, tapi barangkali dengan kadar yang lebih sedikit daripada perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"57usa\">Pada perempuan, kerja sistem limbik juga dipengaruhi oleh menstruasi. Pada masa menstruasi, perempuan lebih emosional, lebih pemurung, dan lebih mudah tersinggung. Sehingga, di Amerika pernah ada seorang pengusaha yang memberikan cuti khusus bagi para perempuan pada masa-masa menstruasi mereka. Sebab, masa-masa seperti itu akan memengaruhi semangat kerja, kreativitas, dan hubungan sesama rekan kerja.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"2703e\">Saya pernah mendapat cerita dari seorang dokter. Ada seorang laki-laki berkonsultasi tentang perubahan emosional istrinya, terutama pada saat menstruasi. Jika masa itu tiba, sang istri selalu emosi. Apa yang dilakukan laki-laki itu selalu salah menurut istrinya. Si laki-laki hampir-hampir tidak tahan dengan kondisi seperti itu sampai berniat menceraikannya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"6i9h5\">Namun, setelah masa menstruasi usai, si istri berubah seperti semula.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"6ls8p\">Dalam sistem limbik itu pula tersimpan memori dan emosi. Sebab itu, jika mengenang masa lalu, kita akan terbawa emosi. Jika kenangan masa lalu itu tentang keindahan, kita akan bahagia. Dan sebaliknya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"rsbo\">Orang yang kehidupannya tampak datar-datar saja, tidak berisi &#8220;bumbu-bumbu\u201d penyedap yang membuat hidup penuh rasa, barangkali tidak ada banyak hal yang tersimpan dalam memorinya. Barangkali, seorang suami-istri yang perjalanan rumah tangganya tampak datar, begitu salah satunya meninggal dunia, kedukaan yang timbul tidak akan berlangsung lama, sebab tidak ada kenangan-kenangan emosional yang lekat dan mengikat. Lalu, suami atau istri yang ditinggalkan itu akan mudah terikat dengan pasangan barunya. Berbeda, misalnya, dengan suami-istri yang kehidupannya penuh rasa dan dinamis. Begitu salah satunya meninggal, barangkali akan ada banyak hal yang tak mudah dilupakan.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"d7jor\">Saya pernah melihat sebuah tulisan di bak truk: Mau pulang malu, tapi aku rindu. Itu kalimat khas para sopir yang lebih banyak menghabiskan waktunya di jalan. Dan itu sangat manusiawi. Malu yang terjadi bisa karena banyak hal, barangkali sebab pertengkaran, membuat istri kecewa karena setiap pulang tak selalu membawa cukup uang, dan sebagainya. Tapi justru hal-hal demikian yang membuat si suami merindukan istrinya. &#8220;Bumbu-bumbu rumah tangga semacam itu menbuat si suami semakin terikat dengan istrinya. Jadi, ketika suami-istri selalu bertengkar sebetulnya ada kerinduan dalam benak masing-masing untuk menjalin hubungan yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"92tmk\">Saya teringat saat saya masih di Jerman. Setiap sekitar pukul sepuluh, orang-orang tua di sana selalu keluar dan berjalan-jalan di taman-taman kota sambil membawa anjing-anjing mereka. Terkadang saya mendekati mereka, terutama yang perempuan. Mereka senang jika diajak mengobrol dan senang menceritakan kenangan-kenangan indah masa lalu mereka. Dan, ada semacam keinginan untuk menghadirkannya kembali. Saking senangnya menceritakan hal itu, jika diajak bertemu, mereka akan datang lebih dulu dan menunggu di tempat yang dijanjikan. <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p id=\"92tmk\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam otak manusia terdapat bagian yang disebut dengan limbic system atau sistem limbik, yaitu bagian pengatur hal-hal yang berkaitan dengan emosi, seperti mencintai, membenci, memaafkan, bersikap jujur dan adil, gembira dan sedih, menggertak, mengerang, menunjukkan perasaan sayang atau perasaan bersalah, depresi, dan sebagainya. Bagian itu tak hanya khas bagi manusia. Dalam otak hewan pun terdapat &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1766\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Sistem Limbik&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1942,1929,1950,1949,18,19,1946,1948,1947,17],"class_list":["post-1766","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-anxiety","tag-emosi","tag-euphoria","tag-insomnia","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-limbic-system","tag-serotonin","tag-sistem-limbik","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1766","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1766"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1766\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1768,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1766\/revisions\/1768"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1766"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1766"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1766"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}