{"id":1784,"date":"2024-12-13T15:24:26","date_gmt":"2024-12-13T15:24:26","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1784"},"modified":"2024-12-13T15:24:26","modified_gmt":"2024-12-13T15:24:26","slug":"berdoalah-dengan-rendah-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1784","title":{"rendered":"Berdoalah Dengan Rendah Hati"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Berdoalah-Dengan-Rendah-Hati-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1785\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Berdoalah-Dengan-Rendah-Hati-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Berdoalah-Dengan-Rendah-Hati-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Berdoalah-Dengan-Rendah-Hati-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Berdoalah-Dengan-Rendah-Hati.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sa\u2019ad bin Waqqas adalah sahabat Nabi saw. Ia berusia panjang sepeninggal Nabi. Pada hari-hari terakhir hidupnya, ia buta dan tinggal di Makkah. Ia sering didatangi orang yang meminta berkah. Tidak semua orang ia berkati. Tapi orang yang diberkati selalu berhasil memperoleh hajatnya atau menyelesaikan urusannya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"4vc86\">Abdullah bin Sa\u2019ad meriwayatkan kepada kita: \u201cAku mengunjungi dia. Ia selalu baik padaku dan selalu mendoakan aku. Karena aku anak yang selalu ingin tahu, aku bertanya kepadanya: Doa Tuan untuk orang lain tampaknya selalu diijabah. Mengapa Tuan tidak berdoa agar disembuhkan dari kebutaan Tuan? Orang tua itu menjawab: Pasrah kepada kehendak Allah jauh lebih baik dari kenikmatan karena bisa melihat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p id=\"bh775\">Kisah dari khazanah Islam di atas dikutip oleh dokter Larry Dossey, sebelum ia mengutip perkembangan penelitian tentang efek doa bagi kesembuhan. Ia menyebut doa sebagai \u201c<em>the healing words<\/em>\u201d, kata-kata yang menyembuhkan. Berbagai penelitian kedokteran tentang efek doa dilaporkan Dossey dalam bukunya <strong>Healing Words: <\/strong><em><strong>The Power of Prayer and the Practice of Medicine<\/strong><\/em><strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tapi tidak setiap doa mujarab. Psikolog LeShan memperkirakan hanya sekitar 20 persen saja sembuh karena doa. George Bernard Shaw, pujangga Inggris, melihat tumpukan kursi roda dan penyangga kaki di Lourdes. Seperti Anda ketahui, Notre Dame de Lourdes adalah kota kecil di Haute Pyrennees, Perancis yang dikunjungi ribuan orang setiap tahun. Mereka datang ke kota itu untuk memperoleh kesembuhan dari penyakitnya. Menurut Shaw, Lourdes bukan kota yang menunjukkan kuasa Allah, tapi kota yang menghujat Allah. Mengapa di situ tidak ada tumpukan satu kaki kayu, kaca mata, dan wig? Artinya, Tuhan tidak dapat menyembuhkan orang yang pincang, penderita myopia atau hiperopia \u2014rabun jauh atau rabun dekat\u2014 dan orang-orang botak. Artinya, ada penyakit yang tidak mampu disembuhkan Tuhan. Kota itu menghujat Tuhan, kata Shaw.<\/p>\n\n\n\n<p>Baik Shaw maupun LeShan keliru. Doa bukan panacea yang menyembuhkan segala penyakit. Bandingkan dengan penicillin. Penicillin sangat mujarab untuk sakit tenggorokan, tapi tidak ada gunanya untuk mengobati tuberkulosis. Sekiranya penicillin digunakan untuk semua infeksi, paling tinggi ia hanya efektif sekitar 20 persen saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin Anda berkata, jangan bandingkan penicillin dengan karya Tuhan. Bukankah doa berhubungan dengan Yang Mahakuasa? Mestinya Tuhan dapat menyembuhkan semua penyakit? Doa bukan hanya melibatkan kekuasaan Tuhan yang menerima doa. Doa juga menyangkut sifat-sifat makhluk yang berdoa. Bisa jadi doa tidak dijawab bukan karena Tuhan tidak berkuasa, tapi karena pendoa tidak benar dalam berdoa. Hasil doa adalah akibat dari interaksi Khaliq dengan makhluk. Doa gagal bukan karena doanya, tapi karena pendoanya, <em>not of prayer but of the prayer<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Bisa jadi juga doa tidak dikabulkan karena ada kebijakan ilahi di dalamnya. Tentara Amerika berdoa ketika menyerbu Iraq, dan tentara Iraq berdoa ketika menahan serangan Amerika. Jika Tuhan mengabulkan keduanya, apa yang akan terjadi? Ada lima orang calon Presiden. Semuanya berdoa ingin menang dalam pemilu. Pernah milyaran orang berdoa ingin dipanjangkan umurnya pada ranjang kematiaannya. Bayangkan kalau semua doa itu diijabah? Dunia ini pasti kacau balau. Bumi akan penuh sesak, karena tidak satu pun orang mati. Kalau doa semua yang sakit dikabulkan, seluruh rumah sakit tutup dan ilmu kedokteran bangkrut.<\/p>\n\n\n\n<p>C.S Lewis, novelis dari Irlandia, menulis, \u201cJika Tuhan mengabulkan semua doaku yang tolol sepanjang hidupku, aku tidak tahu di mana aku sekarang?\u201d Kenangkan doa-doa kita dahulu. Sekarang kita tahu betapa bijaknya Tuhan, karena Dia tidak menjawab semua doa kita. Guru saya, dosen Unpad, pernah ditolak sebagai pegawai yang dikirim ke Australia untuk training selama tiga bulan. Ia meradang karena doanya pada waktu salat malam tidak diterima Tuhan. Almarhum Guru saya itu memang tidak jadi ke Australia, karena Tuhan kemudian mengirimkannya ke Amerika. Sekiranya waktu itu doanya dikabulkan, ia tidak akan menjadi guru besar di Unpad. Mungkin ia hanya pensiunan pegawai RRI seperti kawan-kawannya yang berhasil ke Australia.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"akor6\">Karena itu berdoalah dengan rendah hati, seperti yang kita ucapkan dalam doa hajat: <em>Tuhanku, jangan Kautinggalkan aku di sini dengan dosa kecuali Kauampuni, dengan aib kecuali Kaututupi, dengan rezeki kecuali Kauluaskan, dengan penyakit kecuali Kausembuhkan. Dan penuhi keperluanku itu jika ia mendatangkan kebaikan kepadaku dan memperoleh rido-Mu. <\/em><strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sa\u2019ad bin Waqqas adalah sahabat Nabi saw. Ia berusia panjang sepeninggal Nabi. Pada hari-hari terakhir hidupnya, ia buta dan tinggal di Makkah. Ia sering didatangi orang yang meminta berkah. Tidak semua orang ia berkati. Tapi orang yang diberkati selalu berhasil memperoleh hajatnya atau menyelesaikan urusannya. Abdullah bin Sa\u2019ad meriwayatkan kepada kita: \u201cAku mengunjungi dia. Ia &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1784\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Berdoalah Dengan Rendah Hati&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1980,1979,18,19,1978,1977,17],"class_list":["post-1784","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-berdoa","tag-c-s-lewis","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-larry-dossey","tag-saad-bin-waqqas","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1784"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1784\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1786,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1784\/revisions\/1786"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}