{"id":1895,"date":"2025-01-16T02:59:49","date_gmt":"2025-01-16T02:59:49","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1895"},"modified":"2025-01-16T02:59:49","modified_gmt":"2025-01-16T02:59:49","slug":"menjahit-satin-kehidupan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1895","title":{"rendered":"Menjahit Satin Kehidupan"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Menjahit-Satin-kehidupan-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1896\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Menjahit-Satin-kehidupan-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Menjahit-Satin-kehidupan-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Menjahit-Satin-kehidupan-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Menjahit-Satin-kehidupan.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Pada suatu waktu, seorang Turki mendengar cerita bahwa di kota tempat ia tinggal, hidup seorang penjahit yang pintar mencuri. Siapa saja yang menjahitkan pakaiannya di tempat itu, tanpa disadari, akan tercuri kainnya oleh sang penjahit. Orang-orang berkata, &#8220;Penjahit itu mengecoh orang dengan tangannya yang ringan dan keahliannya mencuri.&#8221; Orang Turki itu menjawab, &#8220;Aku jamin aku takkan tertipu. Meskipun ia berusaha seratus kali menipuku, ia takkan berhasil mengambil sehelai benang pun dari kainku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Orang-orang berkata lagi, &#8220;Orang yang jauh lebih pandai darimu pun sudah pernah ia tipu. Janganlah kau terkecoh dengan kecerdasanmu karena nanti kau akan merugi.&#8221; Namun, orang Turki itu malah merasa tertantang. la mengajak mereka bertaruh. la yakin, penjahit itu takkan mampu menipunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Singkat cerita, si Turki itu pun datang menemui penjahit terkenal itu sambil membawa kain satin yang indah. Begitu ia masuk, penjahit licik itu menyambutnya dengan hangat. la loncat dari tempat duduknya, menyalaminya dengan penuh semangat, menanyakan kabar dirinya dengan keramahtamahan yang belum pernah ditemukan oleh orang Turki itu sebelumnya. Diam-diam, orang Turki itu mulai bersimpati kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah ia mendengar sambutan yang amat ramah itu, yang terdengar lebih indah daripada nyanyian burung Kutilang, si Turki pun menyerahkan kain satin yang dibawanya. Penjahit itu berkata, &#8220;Wahai orang yang paling baik, aku akan berkhidmat kepadamu seratus kali.&#8221; la lalu segera mengukur kain dan mengelus-elusnya sementara bibirnya tak henti berbicara. la bercerita tentang kisah-kisah yang teramat lucu. Orang Turki itu pun tertawa terbahak-bahak. Ketika ia tertawa, tanpa sadar matanya tertutup, dan saat itulah si penjahit menggunting kain satinnya secepat kilat.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena senangnya mendengar cerita sang penjahit, orang Turki itu lupa bahwa yang ia hadapi adalah seorang penipu besar. la tak ingat bahwa orang yang ada di depannya terkenal di seluruh dunia atas kemampuannya mencuri. Seraya tertawa lebar, orang Turki itu berkata, &#8220;Demi Tuhan, teruskan cerita-cerita lucumu itu karena mereka amat menyenangkan hatiku.&#8221; Penjahit itu lalu mengisahkan cerita baru yang lebih lucu lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika orang Turki kembali tertawa, si penjahit untuk kedua kalinya menggunting kain satin dan menyembunyikannya. Setelah itu, masih saja orang Turki itu berkata, &#8220;Ceritakanlah lagi lelucon-leluconmu padaku.&#8221; Dan berceritalah sang penjahit dengan lelucon yang lebih lucu. Kembali ia menggunting kain satin itu tanpa disadari oleh pemiliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang Turki itu kini telah benar-benar menjadi korban dari humornya. Matanya tertutup, akalnya hilang, dan kesadarannya lenyap. la benar-benar mabuk akan lelucon. Dan lagi-lagi penjahit itu memotong kain satinnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat orang Turki meminta penjahit itu meneruskan ceritanya, sang penjahit menolak, &#8220;Berangkatlah hai orang yang tertipu. Celakalah jika aku bercerita lelucon lagi padamu, pakaianmu nanti akan menjadi terlalu sempit. Alangkah anehnya tertawamu. Sekiranya kau mengetahui sedikit saja dari kebenaran, niscaya kau akan menangis, bukannya tertawa&#8230;.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah tersebut, yang diceritakan Rumi dalam Matsnawi, buku keenam, memberikan pelajaran yang amat berharga. Kita adalah orang Turki yang datang ke hadapan sang penjahit. Penipu ulung itu adalah kehidupan dunia kita yang membawakan cerita-cerita yang lucu kepada kita dan menyenangkan. Tak jarang kita mabuk dengan cerita dunia. Tanpa kita sadari waktu pun menggunting satin kehidupan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Satin adalah lambang kehidupan, yang kita simpan di hadapan penjahit untuk dijadikan jubah kesalehan. Namun karena tipuan dunia, yang memberikan hiburan tanpa henti pada kita, satin kehidupan itu tanpa kita sadari menjadi amat sempit. Dunia terus memotonginya dengan gunting waktu yang amat tajam.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti kata Rumi, kita adalah orang-orang yang menjalani kehidupan ini, sementara hari demi hari menggunting sebagian besar dari satin kehidupan yang seharusnya kita persembahkan untuk dijadikan jubah kesalehan. Al-Quran mengingatkan kita, <em>Tidaklah kehidupan dunia ini kecuali permainan dan canda tawa. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?<\/em> (QS Al-An&#8217;am [6]: 32).<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah suka dan duka adalah permainan dunia ini. Hendaknya semua itu tak membuat kita lupa akan tujuan lahir kita di dunia. Al-Quran mengatakan, <em>(Mahasuci Allah) yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya<\/em> (QS Al-Mulk [67]:2).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Sekali lagi, marilah kita berusaha menyelamatkan serpihan satin-satin kehidupan untuk kita jahit menjadi pakaian jubah kesalehan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Marilah kita simak lagi senandung Rumi dalam Matsnawi:<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Hai kamu yang telah jatuh ke kuburan kejahilan dan keraguan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Seberapa lama lagi kamu masih dengarkan lelucon dan dagelan Zaman<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Seberapa lama lagi kamu masih dengarkan dunia dengan segala bujukannya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>sehingga baik jiwamu maupun ruhanimu tidak berjalan semestinya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dagelan Zaman, si sahabat sia-sia yang hina dina<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>merampok kemuliaan ratusan ribu orang seperti kamu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Penjahit dunia terus-menerus menggunting dan merajut<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>jubahnya ratusan musafir sedungu bocah seperti kamu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jika di musim semi leluconnya berikan hadiah pada taman bunga<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Di bulan Desember ia berikan hadiah itu kepada badai prahara <\/em>(1711-1715)<\/p>\n\n\n\n<p><em>Si Penjahit, Kesia-siaan Dunia memotong habis satin kehidupan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Sedikit demi sedikit, dengan guntingan tahun dan bulan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kamu ingin bintangmu selalu melawak<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>dan kebahagiaanmu terus menanjak<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kamu sangat murka karena di dalamnya ada yang kurang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>ada penghinaan, kebencian, dan perbuatan curang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kamu sangat duka karena di sana ada kebisuan dan kemalangan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>dan kemusykilan dan upaya menampakkan permusuhan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dengan berkata, &#8220;Mengapa tak lagi menari, Zohar yang riang?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jangan sandarkan suratan takdir dan peruntungan pada gemintang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Bintangmu berkata: Jika aku melawak lagi<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Aku akan kecoh kamu lebih parah lagi<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Jangan perhatikan tipuan gemintang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>awasi cintamu pada penipu, wahai orang malang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>(1720-1726).<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada suatu waktu, seorang Turki mendengar cerita bahwa di kota tempat ia tinggal, hidup seorang penjahit yang pintar mencuri. Siapa saja yang menjahitkan pakaiannya di tempat itu, tanpa disadari, akan tercuri kainnya oleh sang penjahit. Orang-orang berkata, &#8220;Penjahit itu mengecoh orang dengan tangannya yang ringan dan keahliannya mencuri.&#8221; Orang Turki itu menjawab, &#8220;Aku jamin aku &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=1895\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Menjahit Satin Kehidupan&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[18,2188,19,2187,813,2186,810,17],"class_list":["post-1895","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-jubah-kesalehan","tag-katakangjalal","tag-kehidupan","tag-matsnawi","tag-menjahit-satin","tag-rumi","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1895","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1895"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1895\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1897,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1895\/revisions\/1897"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1895"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1895"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1895"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}