{"id":196,"date":"2024-01-31T14:04:17","date_gmt":"2024-01-31T14:04:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=196"},"modified":"2024-02-01T13:01:35","modified_gmt":"2024-02-01T13:01:35","slug":"hadza-min-ahlis-sunnah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=196","title":{"rendered":"H\u00c1DZA MIN AHLIS-SUNNAH!"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"196\" class=\"elementor elementor-196\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f32efb9 e-con-full e-flex e-con e-parent\" data-id=\"f32efb9\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f62f614 elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"f62f614\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"525\" height=\"525\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_9bd48083f61748509c49f27b4c990f0emv2.webp\" class=\"attachment-large size-large wp-image-201\" alt=\"blogimage31012024\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_9bd48083f61748509c49f27b4c990f0emv2.webp 525w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_9bd48083f61748509c49f27b4c990f0emv2-300x300.webp 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_9bd48083f61748509c49f27b4c990f0emv2-150x150.webp 150w\" sizes=\"100vw\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-309ff46d e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"309ff46d\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-71ac0b39 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"71ac0b39\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang pemuka mazhab Ahlussunnah yang besar. Ia terkenal sebagai <em>muhaddits\u00a0<\/em>(periwayat hadis). Kedalaman ilmunya dan keluasan pengaruhnya di kalangan kaum Muslim sangat disegani Khalifah al-Mutawakkil. Imam Ahmad sering dimintai nasihat dalam menunjuk hakim-hakim (<em>qadhi<\/em>) kerajaan. Ketika Al-Mutawakkil hendak mengangkat Ats-Tsalj\u00ee sebagai <em>qadhi<\/em>, Imam Ahmad merasa keberatan. &#8220;Jangan angkat dia, karena dia pembuat bid&#8217;ah dan penurut hawa nafsu,&#8221; kata Imam Ahmad. Al-Mutawakkil memperhatikan sarannya.<\/p>\n<p>Karena ketinggian martabatnya di hadapan raja, para ulama lain merasa iri hati terhadapnya (ah, betapa sering orang menutupi kerendahan akhlaknya dengan jubah ulama!). Mereka mencari jalan untuk mendiskreditkan Imam Ahmad. Dikatakan kepada Al-Mutawakkil bahwa Imam Ahmad itu Syi&#8217;ah, membaiat pengikut &#8216;Al\u00ee, dan melindungi seorang Alaw\u00ee di rumahnya. Waktu itu, tidak ada tuduhan yang lebih berat daripada itu. Al-Mutawakkil mengirim tentara. Rumah Imam Ahmad dikepung. &#8220;Tuduhan ini dibuat-buat. Aku tidak tahu-menahu,&#8221; kata Imam Ahmad, &#8220;Aku menaati raja dalam suka dan duka.&#8221; Lalu ia disuruh bersumpah bahwa ia tidak melindungi pengikut pengikut &#8216;All di rumahnya. Rumah Imam Ahmad kemudian digeledah-kamar anak-anak, kamar wanita, bahkan sumur. Tidak ada bukti apa pun tentang ke-Syi&#8217;ah-an Imam Ahmad.<\/p>\n<p>Sejarah memang tidak pernah mencatat Imam Ahmad sebagai Syi&#8217;ah. la adalah pemuka Mazhab Hanbali. Lalu apa salahnya? &#8220;Salah&#8221;-nya sedikit: dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlulbait Nabi Saw dan keutamaan &#8216;Ali bin Abi Thalib (<em>karramallahu wajhah<\/em>). Abdullah, putra Imam Ahmad, pernah berkata: Aku mendengar ayahku berkata, &#8220;Tidak ada seorang pun di antara para sahabat yang memiliki berbagai keutamaan (<em>fadha&#8217;il<\/em>) dengan sanad-sanadnya yang sahih seperti &#8216;Ali bin Abi Thalib.&#8221;<\/p>\n<p>Menganggap &#8216;Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat paling utama adalah keyakinan Syi&#8217;ah. Begitu anggapan umum waktu itu. Orang membuktikan ke-Syi&#8217;ah-an seseorang dengan menanyakan siapa yang paling utama di antara para sahabat. Ahlussunnah akan menyebut dengan urutan Ab\u00fb Bakar, &#8216;Umar, &#8216;Utsman, &#8216;Ali dan seterusnya. Sementara itu, Syi&#8217;ah akan memulai urutan sahabat itu dari &#8216;Ali. Pada suatu kali, &#8216;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menanyai ayahnya, &#8220;Bagaimana pendapat Ayah tentang <em>tafidhil\u00a0<\/em>(urutan keutamaan) sahabat?&#8221; Ahmad bin Hanbal menjawab, &#8220;Dalam kekhalifahan: Abu Bakar, &#8216;Umar, &#8216;Utsman.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Lalu bagaimana dengan &#8216;Ali?&#8221; tanya &#8216;Abdullah<\/p>\n<p>&#8220;Wahai anakku,&#8221; kata Ahmad bin Hanbal, &#8220;Ali bin Abi Thalib termasuk Ahlulbait Nabi Saw dan tidak ada orang yang dapat diperbandingkan dengan mereka!&#8221;<\/p>\n<p>Pada kali yang lain, serombongan orang datang menyelidik, &#8220;Hai Ab\u00fb &#8216;Abdullah, bagaimana pendapat Anda tentang hadis: Al\u00ee adalah pembagi neraka?&#8221;.&#8221;<\/p>\n<p>Ahmad : Lalu apa yang kalian tolak? Bukankah Nabi Saw pernah berkata kepada Ali: tidak mencintaimu kecuali Mukmin dan tidak membencimu kecuali munafik.<\/p>\n<p>Orang-orang\u00a0 : Betul (Nabi Saw berkata begitu). Ahmad : Di mana orang Mukmin menetap?<\/p>\n<p>Orang-orang\u00a0 : Di surga.<\/p>\n<p>Ahmad \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Di mana orang munafik menetap?<\/p>\n<p>Orang-orang : Di neraka.<\/p>\n<p>Ahmad \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Kalau begitu, &#8216;Ali adalah pembagi neraka.<\/p>\n<p>Pernyataan-pernyataan Imam Ahmad inilah yang memperkuat tuduhan Syi&#8217;ah kepadanya. Bukankah Syi&#8217;ah adalah mazhab yang mengikuti Ahlulbait Nabi Saw dengan &#8216;Ali sebagai rujukannya? Lagi pula, Ahmad bin Hanbal banyak meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang bermazhab Syi&#8217;ah. Salah seorang gurunya yang dihormatinya adalah &#8216;Abdur-Rahm\u00e2n bin Sh\u00e2lih, seorang Syi&#8217;ah. Ahmad bin Hanbal diperingatkan untuk tidak bergaul dengannya. Tetapi ia membentak, &#8220;Subhanallah, kepada orang yang mencintai keluarga suci Nabi kita berkata\u2014jangan mencintainya? &#8216;Abdur-Rahm\u00e2n bin Sh\u00e2lih adalah <em>tsiqat<\/em> (orang yang dapat dipercaya).&#8221;<\/p>\n<p>Tuduhan Syi&#8217;ah terhadap Imam Ahmad bin Hanbal itu untungnya tidak berakibat parah. Rumahnya digeledah dan ditinggalkan. Ahmad bin Hanbal tetap mengajar seperti biasa. Lain dengan Imam Syafi&#8217;\u00ee. Beliau beserta tiga ratus orang Quraisy diseret dalam keadaan terbelenggu dari Yaman (menurut suatu riwayat, dari Makkah) ke Baghdad. Mereka dihadapkan kepada Khalifah H\u00e2r\u00fbn ar-R\u00e2syid. Seorang demi seorang dipancung di depan khalifah. Imam Syafi&#8217;\u00ee selamat setelah ia mengucapkan salam kepada H\u00e2r\u00fbn ar-R\u00e2syid. Ia sempat menasihati raja dan membuatnya menangis. Begitu, kata sahibul-hikayat. Kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi, karena riwayat mihnah Imam Syafi&#8217;\u00ee ini bermacam-macam. Yang disepakati ialah kenyataan bahwa salah satu tuduhan kepada Imam Syafi&#8217;i ialah bahwa ia adalah Syi&#8217;ah. Sebagian penyair mengejek Imam Syafi&#8217;\u00ee:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Mati Syafi&#8217;i dan ia tidak tahu<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>apakah Tuhannya Ali atau Allah.<\/em><\/p>\n<p>Imam Syafi&#8217;\u00ee tentu saja tidak menganggap Al\u00ee sebagai Tuhan. Kalau Syi&#8217;ah dianggap sebagai mazhab yang menganggap khilafah adalah hak Al\u00ee, maka Imam Syafi&#8217;i bukanlah Syi&#8217;ah. &#8220;Jika Syi&#8217;ah berarti mencintai keluarga Muhammad,&#8221; kata Imam Syafi&#8217;\u00ee dalam salah satu bait syairnya, &#8220;maka hendaknya kedua kelompok menjadi saksi bahwa aku ini Syi&#8217;ah.&#8221; Imam Syafi&#8217;\u00ee menggunakan kata <em>&#8220;R\u00e2fidhi&#8221;<\/em> untuk menyebut Syi&#8217;ah\u2014gelaran yang lazim diberikan orang di zaman itu bagi pengikut Syi&#8217;ah. Imam Syafi&#8217;i banyak menulis syair yang mengungkapkan kecintaannya kepada Ahlulbait Nabi Saw. Beberapa di antaranya kita kutipkan di sini:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Kalau kulihat manusia<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>mazhab mereka tenggelam dalam samudera kesesatan dan kebodohan<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>dengan nama Allah aku naiki perahu keselamatan<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>yakni Keluarga Al-Musthafa, penutup para rasul<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>kupegang tali Allah tempat bergantung mereka<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>sebagaimana kita pun diperintah berpegang pada tali itu<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>Hai Keluarga Rasulullah<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>kecintaan kepadamu diwajibkan Allah<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>dalam Al-Quran yang diturunkan<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>cukuplah bukti ketinggian sebutanmu<\/em><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><em>tidak sempurna shalat tanpa shalawat bagimu<\/em><\/p>\n<p>Inilah sebagian syair Imam Syafi&#8217;\u00ee, yang menyebabkannya dituduh Syi&#8217;ah. Ahli jarh\u00a0hadis, Ibn Mu&#8217;\u00een, ketika ditanya oleh Imam Ahmad mengapa ia menuduh Imam Sy\u00e2fi&#8217;i sebagai Syi&#8217;ah, menjawab, &#8220;Aku memperhatikan tulisannya tentang <em>ahlul-baghiy<\/em>\u00a0(kaum pemberontak), dan aku melihat ia berhujjah dari awal sampai akhir dengan &#8216;Al\u00ee bin Ab\u00ee Th\u00e2lib.&#8221; Rupanya, ini juga sebabnya mengapa di tempat lain\u2014menurut Al-Khath\u00eeb\u2014Yahya bin Mu&#8217;\u00een berkata, &#8220;Syafi&#8217;i tidak <em>tsiqat<\/em>!&#8221;<\/p>\n<p>Celaan-celaan demikian tidak mengurangi kecintaan Imam Syafi&#8217;\u00ee kepada Ahlulbait Nabi Saw. Suatu hari ia mengemukakan masalah agama. Seseorang berkata, &#8220;Engkau bertentangan dengan &#8216;Ali bin Ab\u00ee Th\u00e2lib.&#8221; Imam Syafi&#8217;i berkata, &#8220;Buktikan ucapanmu dari Al\u00ee bin Ab\u00ee Th\u00e2lib agar aku ratakan pipiku di atas tanah dan aku berkata aku telah salah.&#8221; Begitu cintanya Imam Syafi&#8217;i kepada &#8216;Al\u00ee bin Ab\u00ee Th\u00e2lib, sehingga ia tidak mau berbicara di dalam suatu majelis yang di situ ada keturunan &#8216;Al\u00ee (lihat Ibn an-Nadim, Al-Fihrist,\u00a0hlm. 295).<\/p>\n<p>Kita tidak ingin menguraikan lebih lanjut kecintaan para imam Ahlussunnah kepada Ahlulbait Nabi Saw. Tidak perlu juga kita sebut bagaimana Ab\u00fb Han\u00eefah membantu pemberontakan Ahlulbait Nabi Saw yang dipimpin Imam Zaid bin &#8216;Al\u00ee sehingga para ulama mengatakan, &#8220;Secara fiqih, Ab\u00fb Hanifah Sunni, tetapi secara politik, ia Syi&#8217;ah.&#8221; Tentu saja, label (gelaran) Syi&#8217;ah lebih sering digunakan untuk mendiskreditkan orang ketimbang mendeskripsikannya. Indikator yang dipergunakan seringkali sangat sederhana; kecintaan kepada keluarga Rasulullah Saw.<\/p>\n<p>Al-H\u00e2kim, penulis <em>Al-Mustadrak<\/em>, dituding oleh Adz-Dzahab\u00ee sebagai Syi&#8217;ah, karena meriwayatkan keutamaan &#8216;Al\u00ee dan hadis Ghadir Khum. &#8216;Abdur Razzaq bin Hamam, ahli hadis, dituduh Syi&#8217;ah karena mencintai &#8216;Ali dan membenci pembunuhnya. Ibn Jar\u00eer ath-Thabar\u00ee, penulis sejarah Islam abad ketiga, menurut Ibn Ats\u00eer (<em>Al-K\u00e2mil<\/em>, 8:49), dilempari dengan batu dan dikuburkan malam-malam. Ia juga dituduh Syi&#8217;ah karena dalam tarikhnya ia meriwayatkan hadis &#8216;Ali bin Abi Th\u00e2lib sebagai wash\u00ee (pembawa wasiat) dan khalifah Nabi Saw. Yang paling menarik, Ibn &#8216;Abd al-Barr, yang sangat memusuhi Ahlulbait Nabi Saw, dituding oleh Ibn Katsir sebagai Syi&#8217;ah karena meriwayatkan hadis yang mengecam Mu&#8217;awiyah.<\/p>\n<p>Buku ini, <em>Teladan Suci Keluarga Nabi<\/em>, terjemahan dari Is&#8217;af ar-Raghibin, ditulis oleh seorang <em>&#8216;alim<\/em>\u00a0yang bermazhab Syafi&#8217;i dan Ahlussunnah-wal- Jama&#8217;ah. Dalam buku ini ia meriwayatkan keutamaan keluarga Rasulullah Saw dari hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlussunnah. Boleh jadi ia\u2014dan juga penulis pengantar ini\u2014akan didiskreditkan sebagai Syi&#8217;ah hanya karena meriwayatkan Ahlulbait Nabi Saw. Namun, kita yakin, zaman ini adalah zaman ilmu pengetahuan, zaman keterbukaan. Hanya orang-orang yang sempit pikirannya yang akan menyederhanakan persoalan dalam prasangka dan fanatisme mazhab.<\/p>\n<p>Kecintaan pada Ahlulbait Nabi Saw bukan monopoli Syi&#8217;ah. Seluruh kaum Muslim diperintahkan untuk itu\u2014apa pun mazhabnya. Seperti diriwayatkan Muslim dan dituliskannya juga dalam buku ini\u2014keluarga Rasulullah Saw adalah pusaka yang kedua (setelah Al-Quran) yang ditinggalkan Rasulullah Saw untuk kaum Muslim. Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Tidak akan bergeser telapak kaki anak Adam pada Hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal: usianya, untuk apa ia habiskan; tubuhnya, untuk apa ia rusakkan; hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia infaqkan; dan kecintaan kepada kami, Ahlulbait&#8221; (Kanz al-Ummal, 7:212) dan diriwayatkan oleh Ath-Thabr\u00e2n\u00ee dalam <em>Al-Kabir\u00a0dan Al-Ausath<\/em>.<\/p>\n<p>Ibn Khallikan dalam Wafayat al-A&#8217;yin-bercerita tentang An-Nasa&#8217;i, penulis Sunan an-Nasa&#8217;\u00ee. An-Nas\u00e2&#8217;\u00ee tiba di Damaskus. Ia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Mu&#8217;awiyah. Kata An-Nas\u00e2&#8217;\u00ee, &#8220;Aku tidak menemukan keutamaan Mu&#8217;awiyah kecuali sabda Rasul Saw tentang dirinya: &#8216;Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.&#8221;.&#8221; Banyak orang marah. Mereka mengeroyoknya, memukulinya, sampai babak belur. Dalam keadaan parah, ia dibawa ke Ar-Ramlah dan meninggal dunia di sana. Dalam Tahdzib at-Tahdzib, Ibn Hajar bercerita tentang Nashr bin &#8216;Ali. Ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan Hasan dan Husain: &#8220;Barangsiapa mencintai aku, mencintai keduanya, mencintai kedua orangtua mereka, ia bersamaku dalam derajat yang sama di Hari Kiamat.&#8221; Al-Mutawakkil mencambuknya seribu kali. Ja&#8217;far bin &#8216;Abdul Wahid berulang kali mengingatkan khalifah, <em>&#8220;H\u00e4dz\u00e5 min Ahlis-Sunnah!&#8221;<\/em> Barulah khalifah menghentikan hukuman cambuknya.<\/p>\n<p>Hari ini, umat Islam telah demikian maju dan terbuka, sehingga\u2014saya berharap penulis, pengantar, penerbit, dan pembaca buku ini tidak mengalami nasib seperti An-Nas\u00e2&#8217;i dan Nashr bin &#8216;Ali. JR\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat<\/strong>, <strong>Pendiri Yayasan Muthahhari<\/strong> (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan\u00a0<strong>Sekolah Para Juara<\/strong> (SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang pemuka mazhab Ahlussunnah yang besar. Ia terkenal sebagai muhaddits\u00a0(periwayat hadis). Kedalaman ilmunya dan keluasan pengaruhnya di kalangan kaum Muslim sangat disegani Khalifah al-Mutawakkil. Imam Ahmad sering dimintai nasihat dalam menunjuk hakim-hakim (qadhi) kerajaan. Ketika Al-Mutawakkil hendak mengangkat Ats-Tsalj\u00ee sebagai qadhi, Imam Ahmad merasa keberatan. &#8220;Jangan angkat dia, karena dia &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=196\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;H\u00c1DZA MIN AHLIS-SUNNAH!&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[13,10,9,8,16,18,19,15,14,12,11,17],"class_list":["post-196","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-asbab-an-nuzul","tag-az-zarkasyi","tag-ibn-mujahid","tag-ibn-syanbudz","tag-ijaz-al-quran","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-makkiyah-madaniyyah","tag-muhkam-mutasyabih","tag-nasikh-mansukh","tag-ulumul-quran","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/196","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=196"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/196\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":204,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/196\/revisions\/204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=196"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=196"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=196"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}