{"id":2047,"date":"2025-03-07T18:39:28","date_gmt":"2025-03-07T18:39:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2047"},"modified":"2025-03-07T18:39:28","modified_gmt":"2025-03-07T18:39:28","slug":"lapar-menajamkan-mata-batin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2047","title":{"rendered":"Lapar Menajamkan Mata Batin"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/401-Lapar-Menajamkan-Mata-Batin-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2048\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/401-Lapar-Menajamkan-Mata-Batin-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/401-Lapar-Menajamkan-Mata-Batin-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/401-Lapar-Menajamkan-Mata-Batin-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/401-Lapar-Menajamkan-Mata-Batin.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hawa nafsu sebetulnya ular naga berkepala dua. Lelaki yang berhasil menghindari maksiat dalam kisah Nabi, seperti yang diriwayatkan Bukhari, berhasil membunuh salah satu di antara kepala naga, yaitu seks. Kepala ini menyemburkan api yang panasnya bisa membakar orang sampai ke ulu hati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepala lainnya adalah <strong>perut<\/strong>. Imam Ali berkata,<em>\u201d <\/em>Jarak yang terjauh antara seorang hamba dengan Allah ialah ketika urusannya hanyalah perut dan seksnya saja\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Ghazali menulis dalam <strong>Ihya \u2018Ulum al-Din <\/strong>sebuah kitab dengan judul <em>Kit\u00e2b Kasr al-Syahwatayn, Buku tentang Menghancurkan Kedua Syahwat<\/em>. Ia menyebut hawa nafsu sebagai syahwat. Dalam bahasa Indonesia tampaknya syahwat hanya berarti nafsu seks. Dalam bahasa Arab, dua syahwat itu terdiri dari syahwat seks dan syahwat perut. Yang kedua itu tentu saja termasuk tapi tidak terbatas pada makan dan minum. Ke dalamnya masuk segala cara untuk memuaskan kesenangan-kesenangan fisik dengan menggunakan \u2013pada zaman moderen sekarang ini- duit. Mungkin istilah paling tepat di masa kini untuk syahwat perut adalah konsumerisme, perilaku konsumtif. Simaklah bagaimana Nabi saw dan sahabat-sahabatnya berusaha menaklukkan \u201csyahwat perut\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada suatu hari, Fatimah <em>salamullah \u2018alaiha<\/em> datang dengan membawa potongan roti untuk Rasulullah saw. Beliau bertanya: Potongan apakah ini? Fatimah berkata: Potongan roti. Aku merasa tidak enak kalau aku tidak membawanya untukmu. Rasulullah saw bersabda; Ketahuilah, ini makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu selama tiga hari.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari manusia suci yang \u2013kata \u2018Aisyah\u2014tidak pernah makan kenyang tiga hari berturut-turut itu keluar perintah, \u201cBiasakan mengetuk pintu surga, supaya pintu itu terbuka bagimu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aisyah bertanya, \u201cBagaimana kami membiasakan mengetuk pintu surga?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDengan lapar dan dahaga,\u201d kata Nabi (<em>Ihya<\/em>, 3:119).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih dari 30 tahun setelah itu, seorang rakyat biasa menemui khalifah di istananya. Di depan khalifah ada secangkir susu dan pada tangannya ada beberapa potong roti. Dari susu itu keluar bau apek. Sedangkan roti itu tampak keras dan kasar. Khalifah berusaha mematah-matahkannya dan memasukkan serpihan-serpihannya pada susu dalam cangkir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rakyat kecil itu takjub melihat pemimpinnya makan begitu sederhana. Ia bertanya kepada pembantu khalifah, \u201cApakah kamu tidak kasihan pada orangtua ini? Kenapa tidak kau minyaki rotinya supaya lunak?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembantunya berkata, \u201cBagaimana aku bisa kasihan padanya; ia sendiri tidak kasihan pada dirinya. Ia memerintahkan kami untuk tidak menambahkan apa pun pada rotinya. Kami sendiri makan roti yang lebih baik dari roti yang dimakannya. Khalifah berkata: Wahai Suwaydah, kamu tidak tahu apa yang biasa dimakan Nabi saw. Dia pernah tidak makan tiga hari berturut-turut.\u201d Khalifah itu adalah anak didik Nabi Muhammad saw, lulusan madrasah Rasulullah yang tumbuh dalam asuhan wahyu, Ali bin Abi Thalib.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika ia mau berbuka puasa, ia menginginkan daging bakar dengan roti yang lunak. Sudah lama ia menginginkannya. Akhirnya ia berbiacara pada putranya, Hasan. Hasan pun mempersiapkannya. Ketika makanan itu sudah terhidang menjelang waktu buka, seorang pengemis berdiri di depan pintu. Imam berkata pada Hasan, \u201cAnakku, berikan daging bakar itu padanya. Jangan sampai dalam catatan amal kita tertulis <em>Adzhabtum thayyib\u0101tikum fi hay\u0101tikum al-duny\u0101 wastamta\u2019tum bih\u0101. <\/em>Kamu sudah menghabiskan yang baik-baik bagimu dalam kehidupan kamu di dunia saja dan kamu sudah bersenang-senang dengannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adi bin Hatim al-Thaiy menyaksikan juga Imam Ali makan dengan sangat sederhana. Ia bertanya: Tuanku, aku melihat engkau berpuasa dan berjihad pada siang harimu, serta banyak salat pada waktu malammu, sedangkan engkau makan dengan potongan roti seperti ini?\u201d Imam Ali menjawab, \u201cHai Adi, dengarkan. Sesungguhnya kalau kamu memperturutkan nafsumu, ia akan mendorong kamu kepada kekecewaan dan ketidakpuasan. Seperti kata penyair Hatim bin Abdillah: Sungguh, jika kau ikuti nafsumu dan farjimu, keduanya akan menjerumuskanmu pada puncak kehinaan.\u201d (Syaikh Ahmad al-Hayri, <em>Tahdzib al-Nafs<\/em> 1:238).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa yang kita peroleh jika kita mengendalikan syahwat perut dengan lapar? Apa yang akan kita peroleh bila kita berlatih melaparkan perut kita, mengendalikan nafsu konsumtif kita? Al-Ghazali menyebutkan sepuluh faidah. Hari ini, kita menyebutkan empat di antaranya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, <em>membersihkan hati dan menajamkan mata batin<\/em>. Kata Al-Syibli: Setiap hari aku melaparkan perutku, pintu hikmah dan \u2018ibrah (pelajaran) terbuka bagiku. Kata Yazid al-Bisthami: Lapar itu mega. Bila perut lapar dari hati akan terucrah hujan hikmah. Bila lapar memancarkan kearifan, kenyang akan melahirkan kedunguan. Nabi saw bersabda: Cahaya kearifan adalah lapar, menjauh dari Allah adalah kenyang, mendekati Allah ialah mencintai fakir dan miskin dan akrab dengan mereka. Jangan kenyangkan perutmu, nanti padam cahaya hikmah dalam hatimu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, <em>melembutkan hati dan membersihkannya sehingga mampu merasakan kelezatan berzikir. <\/em>Kadang-kadang kita berzikir dengan kehadiran hati, tetapi kita tidak menikmatinya dan hati kita tidak tersentuh sama sekali. Pada waktu yang lain, hati kita sangat lembut dan kita merasakan kelezatan berzikir dan kenikmatan bermunajat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut para sufi, sebab utama dari hilangnya kelezatan zikir adalah perut yang kenyang. Kata Abu Sulayman: Apabila orang lapar dan haus, hatinya akan terang dan lembut. Bila orang kenyang, hatinya akan buta dan kasar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiga, <em>meluluhkan dan merendahkan hati, menghilangkan kesombongan dan keliaran jiwa. <\/em>Ketika kita lapar, kita merasakan kelemahan tubuh kita di hadapan kekuasaan Allah. Betapa ringkihnya kita, kalau Tuhan memisahkan kita dari makanan dan minuman hanya untuk beberapa waktu saja. Karena itu, ketika Nabi saw ditawari semua kenikmatan dunia, ia menolaknya dan berkata, \u201cTidak, aku ingin lapar sehari dan kenyang sehari; pada waktu lapar aku bisa bersabar dan mernedahkan diriku, pada waktu kenyang aku bisa bersyukur.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keempat, <em>mengingatkan kita pada ujian dan azab Allah. <\/em>Ketika orang kenyang, ia tidak akan ingat pedihnya kelaparan dan kehausan. Seorang yang arif akan mengenang derita \u2013lapar dan haus- pada hari akhirat atau pada waktu sakratul maut, ketika ia merasakan lapar dan haus di dunia ini. Orang yang selalu kenyang dan sehat tidak akan merasakan pedihnya hari kiamat. Begitu pula, orang yang tidak pernah lapar akan lupa pada sebagian masyarakat yang diuji Tuhan dengan kelaparan. Ia akan kehilangan imannya; karena ia tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. Ketika Nabi Yusuf as menjadi menteri logistik, ia membiasakan puasa setiap hari. Orang bertanya kepadanya: Mengapa Anda lapar padahal perbendaharaan bumi di tangan Anda? Yusuf menjawab: Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar. <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hawa nafsu sebetulnya ular naga berkepala dua. Lelaki yang berhasil menghindari maksiat dalam kisah Nabi, seperti yang diriwayatkan Bukhari, berhasil membunuh salah satu di antara kepala naga, yaitu seks. Kepala ini menyemburkan api yang panasnya bisa membakar orang sampai ke ulu hati. Kepala lainnya adalah perut. Imam Ali berkata,\u201d Jarak yang terjauh antara seorang hamba &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2047\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Lapar Menajamkan Mata Batin&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[785,148,18,19,2404,786,107,17],"class_list":["post-2047","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-hawa-nafsu","tag-ihya-ulum-al-din","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-lapar-menajamkan-mata-batin","tag-mata-batin","tag-tasawuf","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2047","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2047"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2047\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2049,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2047\/revisions\/2049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2047"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2047"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2047"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}