{"id":206,"date":"2024-01-30T14:30:30","date_gmt":"2024-01-30T14:30:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=206"},"modified":"2024-02-01T13:01:42","modified_gmt":"2024-02-01T13:01:42","slug":"ali-syariati-panggilan-untuk-ulul-albab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=206","title":{"rendered":"ALI SYARI&#8217;ATI: PANGGILAN UNTUK ULUL ALBAB"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"206\" class=\"elementor elementor-206\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-212df6f e-con-full e-flex e-con e-parent\" data-id=\"212df6f\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f1fd204 elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"f1fd204\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"525\" height=\"525\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_cc9f06bf4a8a411596132ea764a9973cmv2.webp\" class=\"attachment-large size-large wp-image-209\" alt=\"blogimage_230012024\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_cc9f06bf4a8a411596132ea764a9973cmv2.webp 525w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_cc9f06bf4a8a411596132ea764a9973cmv2-300x300.webp 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_cc9f06bf4a8a411596132ea764a9973cmv2-150x150.webp 150w\" sizes=\"100vw\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f31843e e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"f31843e\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-4639027 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"4639027\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p id=\"uvlea126\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Pada suatu pagi, 10 Muharram 61 Hijriah, dua pasukan yang tidak seimbang bertemu di Padang Karbala. Imam Husain dengan 72 pengikutnya tegak di hadapan cucu Abu Sufy\u00e2n. Seakan-akan kisah Badar diulang kembali. Beberapa saat kemudian Padang Karbala memerah karena darah. Tubuh-tubuh keluarga suci terkapar bergelimpangan. Kuda-kuda musuh dengan garangnya menginjak tubuh-tubuh para korban. Menjelang sore, peperangan dramatis itu berakhir. Dengan penuh kepuasan Yazid dan pasukannya meninggalkan potongan-potongan tubuh manusia di padang itu. Dan kepala Husain yang terpotong itu, beserta para tawanan wanita yang terbelenggu dibawa oleh pasukan Yaz\u00eed.<\/p><p id=\"grojc168\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Tiap 10 Muharram, orang Syi&#8217;ah memperingati peristiwa Karbala ini. Rakyat, di dusun dan di kota, merekam kembali peristiwa itu. Mereka berkumpul di suatu tempat terbuka. Kisah penderitaan Husain dibacakan dengan penuh perasaan sehingga penonton terisak menangis. <em>Rouzel-Khani<\/em>, atau pembacaan kisah Husain, kemudian dilengkapi dengan iring-iringan manusia dan teater massal yang disebut <em>ta&#8217;ziyeh<\/em>. &#8220;Para pejalan kaki melakukan berbagai tindakan penghukuman diri, pedang dan pisau berjatuhan di dahi mereka hingga darah tersembur dan rantai-rantai tajam beracun memukuli tubuh mereka. Banyak yang berjalan dengan tombak menusuk daging mereka. Seluruh acara diiringi dengan lagu-lagu kematian. Penonton berjejer sambil meraung-raung dan memukuli dada,&#8221; begitu ujar Chelkowski, seorang pengamat Amerika.<\/p><p id=\"kp4cx176\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Yang lolos dari pengamatan Chelkowski ialah masuknya suatu kesadaran sejarah dalam hati orang-orang Syi&#8217;ah yang menyaksikan acara itu. 10 Muharram menjadi benang sejarah yang menghubungkan mereka dengan warisan ruhani masa lalu, tetapi juga dengan harapan di masa yang akan datang. Pertarungan kebatilan dan kebenaran, kezaliman dan keadilan, penindasan dan perlawanan, perlahan-lahan merasuki jiwa mereka. Dengan perspektif itulah mereka memandang sejarah umat manusia. Dengan perspektif itu pula mereka membentuk kehidupannya.<\/p><p id=\"jmez5180\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Kesadaran sejarah ini pula yang membersit ketika pada 10 Muharram 1398 H (1978), jutaan orang turun ke jalan-jalan di Teheran. Yang paling depan memakai kain kafan, siap menyambut <em>syahadah<\/em>. Ketika senjata mesin menghujani mereka, kain kafan diwarnai cipratan-cipratan darah. Ribuan orang berguguran. Yang masih hidup membenamkan tangannya ke dalam darah yang tergenang di jalanan. Tangan-tangan yang berlepotan darah mengacung disertai gemuruh teriakan <em>Allahu Akbar<\/em>. Suatu revolusi dimulai, revolusi yang melanjutkan Karbala. &#8220;Mihrab Syi&#8217;ah adalah mihrab darah!&#8221;, &#8220;Dalam hidup Syi&#8217;ah tiap hari adalah Asyura, setiap tempat menjadi Karbala.&#8221; Inilah semboyan-semboyan yang dikumandangkan dalam Revolusi Islam di Iran. Semboyan yang mengungkapkan kesadaran sejarah yang tertanam pada anak-anak Iran.<\/p><p id=\"nmz67188\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Dengan kesadaran sejarah ini, kita akan melihat lebih terang kehidupan dan pandangan Dr. Ali Syari&#8217;ati. Syari&#8217;ati merasa terikat secara emosional kepada ayahnya, yang meninggalkan gemerlapnya Teheran dan memilih Padang Pasir Kavir; kepada Ayn al-Qudhat al-Hamadani, seorang sufi yang dibakar hidup-hidup karena mempertahankan keyakinannya; kepada Imam Husain dan imam-imam Syi&#8217;ah lainnya yang terbunuh sebagai syuhada; kepada &#8216;Ali bin Abi Thalib, yang disebutnya sebagai &#8220;telah mengorbankan hidupnya untuk menegakkan suatu mazhab pemikiran, persatuan dan keadilan&#8221;; kepada Muhammad Saw yang dilihatnya sebagai pembebas umat manusia dan pemimpin umat tertindas; bahkan kepada seluruh nabi dan rasul yang bangkit menentang tirani dengan memihak kelompok <em>Mustadh&#8217;afin.<\/em><\/p><p id=\"e4fbq193\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">&#8220;Pada hidup Syari&#8217;ati bukan saja dibebankan amanat yang diwarisi dari nenek moyangnya, tetapi juga beban yang berat untuk mencari kebenaran dan keadilan yang dilahirkan sepanjang sejarah dan pada setiap zaman oleh mereka yang tertindas, terhina, dan teraniaya,&#8221; tulis Gholam Abbas Tavassoli ketika menguraikan sekilah riwayat hidupnya. Syari&#8217;ati memandang hidupnya sebagai kelanjutan rentangan sejarah umat yang tertindas. Ia merintih di atas kuburan budak-budak belian yang terimpit balokan batu ketika membangun piramida. Emosinya bangkit ketika ia bercerita tentang Husain melawan Yazid, &#8216;Ali menentang Mu&#8217;awiyah, bahkan ketika ia mendiskusikan filsafat sejarah yang terukir dalam kisah Qabil dan Habil.<\/p><p id=\"tgxa9197\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Dengarkan apa yang dikatakan Syari&#8217;ati tentang Habil:<\/p><p id=\"vwqf5199\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\" style=\"padding-left: 40px;\">Kelompok yang diwakili Habil adalah kelompok taklukan dan tertindas, yakni rakyat yang sepanjang sejarah dibantai dan diperbudak oleh sistem Qabil, sistem hak milik individu yang memperoleh kemenangan dalam masyarakat. Peperangan antara Habil dan Qabil adalah pertempuran sejarah abadi yang telah berlangsung dalam setiap generasi. Panji-panji Qabil senantiasa dikibarkan oleh penguasa, dan hasrat untuk menebus darah Habil telah diwarisi oleh generasi keturunannya-rakyat tertindas yang telah berjuang untuk keadilan, kemerdekaan, dan kepercayaan pada suatu perjuangan yang terus berlanjut di setiap zaman.<\/p><p id=\"amiui205\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Menurut Syari&#8217;ati, para nabi Ibrahimiah\u2014yang ia bedakan dari nabi-nabi non-Ibrahimiah seperti Confusius, Budha, Zarathustra\u2014adalah pelanjut-pelanjut perjuangan Habil. Nabi Ibrahim berdiri menghujah Raja Namrud. Nabi M\u00fbs\u00e2 membela Bani Israil yang lemah melawan Fir&#8217;aun yang perkasa. Nabi Isa datang menggembirakan kaum <em>fuqara<\/em>\u00a0dan melecehkan kaisar. Nabi Muhammad Saw duduk di samping orang miskin dan budak belian, lalu membimbing mereka ke arah kebebasan.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-0f210c5 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"0f210c5\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-68a4561 e-con-full e-flex e-con e-child\" data-id=\"68a4561\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-d37c67a elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"d37c67a\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"525\" height=\"525\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_ce6a9854489e43dab4330e6180d13b07mv2.webp\" class=\"attachment-large size-large wp-image-208\" alt=\"blogimage_130012024\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_ce6a9854489e43dab4330e6180d13b07mv2.webp 525w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_ce6a9854489e43dab4330e6180d13b07mv2-300x300.webp 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_ce6a9854489e43dab4330e6180d13b07mv2-150x150.webp 150w\" sizes=\"100vw\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b3c2339 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"b3c2339\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-c48cb0f elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"c48cb0f\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p id=\"otcnk211\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Para nabi, menurut Syari&#8217;ati, adalah orang-orang yang lahir dari tengah-tengah massa (<em>ummi<\/em>) lalu memperoleh tingkat kesadaran (<em>hikmah<\/em>) yang sanggup &#8220;mengubah satu masyarakat yang korup dan beku menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan peradaban, kebudayaan, dan pahlawan.&#8221; Para nabi datang bukan sekadar mengajarkan zikir dan doa. Mereka datang dengan suatu ideologi pembebasan!<\/p><p id=\"2rh8e219\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Sebagai pelanjut Qabil, Syari&#8217;ati menyebut empat manusia yang dalam Al-Quran dilambangkan dengan Fir&#8217;aun, Haman, Qarun, dan Bal&#8217;am. Fir&#8217;aun adalah penguasa yang korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri, tonggak sistem kezaliman dan kemusyrikan. Haman mewakili kelompok teknokrat, ilmuwan yang menunjang tirani dengan melacurkan ilmu. Qarun adalah cerminan kaum kapitalis, pemilik sumber kekayaan yang dengan rakus mengisap seluruh kekayaan massa. Bal&#8217;am melambangkan kaum <em>ruhaniyun<\/em> tokoh-tokoh agama yang menggunakan agama untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan meninabobokkan rakyat. Pada setiap zaman, keempat jenis manusia ini selalu tampil sebagai pendukung status quo dan penentang perubahan sosial.<\/p><p id=\"i03zq225\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Dalam salah satu karyanya, <em>Husain: Pewaris Adam,<\/em>\u00a0Syari&#8217;ati menunjukkan bahwa Islam bukanlah ideologi manusia yang terbatas pada masa dan persada tertentu, melainkan arus yang mengalir sepanjang perjalanan sejarah, berasal dari mata air gunung yang jauh dan mengalir melintasi jalan berbatu sebelum mencapai laut. Arus ini tidak pernah berhenti dan, pada saat-saat tertentu, nabi-nabi dan para penggantinya muncul untuk mempercepat kekuatan arus itu.<\/p><p id=\"gbvzr231\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Sekarang, setelah para nabi tiada, siapakah yang berperan sebagai nabi? Siapakah yang melanjutkan perjuangan Habil? Siapakah yang harus berani menentang ketimpangan zaman, &#8220;mencari-cita-cita bersama, menciptakan cinta dan iman yang bernyala di dalam jantung masyarakat tradisional yang korup dan beku&#8221;? Kaum intelektual, rausyanfiker, kata Syari&#8217;ati.<\/p><p id=\"zkenz235\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\"><em>Rausyanfikr<\/em>\u00a0adalah kata Persia yang berarti &#8220;pemikir tercerahkan.&#8221; Kata ini, dalam terjemahan Inggris, terkadang disebut <em>intellectual<\/em>\u00a0atau <em>free thinkers<\/em>. <em>Rausyanfikr<\/em>\u00a0berbeda dari ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan <em>kenyataan<\/em>, sementara seorang <em>rausyanfikr<\/em>\u00a0menemukan kebenaran. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya; <em>rausyanfikr<\/em> memberikan penilaian sebagaimana seharusnya. Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal; <em>rausyanfikr<\/em>\u2014seperti para nabi\u2014berbicara dengan bahasa kaumnya. Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya; <em>rausyanfikr<\/em> harus melibatkan diri dalam ideologi. Sejarah, kata Syari&#8217;ati, dibentuk hanya oleh kaum <em>rausymfikr<\/em>.<\/p><p id=\"f6xl5258\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Mungkin terjemahan paling tepat untuk istilah <em>rausyanfikr<\/em>\u00a0adalah kaum intelektual dalam arti yang sebenarnya. Kaum intelektual bukan sarjana, yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana (asli atau aspal). Mereka juga bukan sekadar ilmuwan, yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, dan menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.<\/p><p id=\"z00rd264\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Memang, kata intelektual diberi bermacam-macam arti. Begitu beragamnya definisi intelektual, sehingga Raymond Aron melepaskan istilah itu sama sekali. Tetapi, James MacGregor Burns, ketika bercerita tentang <em>intellectual leadership<\/em>, sebagai <em>transforming leadership, <\/em>mengartikan intelektual seperti Syari&#8217;ati menjelaskan kata <em>rausyanfikr<\/em>. Menurut Burns, ciri utama intelektual ialah <em>a devotee of ideas, knowledge, values.<\/em>\u00a0Seorang intelektual ialah orang yang terlibat secara kritis dengan nilai, tujuan, cita-cita yang mengatasi kebutuhan-kebutuhan praktis.<\/p><p id=\"gx8ly276\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\"><em>&#8220;By this definition the person who deals with analytical ideas and data alone is a theorist; the one who works only with normative ideas is a moralist; the person who deals with both and unites them through disciplined imagination is an intellectual.&#8221;<\/em>\u00a0Jadi, seorang intelektual ialah orang yang membentuk lingkungannya dengan gagasan analitis dan normatifnya. Menurut Edward A. Shils, dalam <em>International Encyclopedia of the Social Sciences, <\/em>tugas intelektual ialah &#8220;menafsirkan pengalaman masa lalu masyarakat, mendidik pemuda dalam tradisi dan keterampilan masyarakatnya, melancarkan dan membimbing pengalaman estetik dan keagamaan berbagai sektor masyarakat&#8230;&#8221;<\/p><p id=\"gfp2x283\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Dalam masyarakat Islam, seorang intelektual bukan saja seorang yang memahami sejarah bangsanya dan sanggup melahirkan gagasan-gagasan analitis dan normatif yang cemerlang. Kata Syari&#8217;ati, ia harus juga menguasai ajaran Islam, seorang Islamologis. Untuk pengertian ini, Al-Quran sebenarnya mempunyai istilah khusus, <em>ulul-alb\u00e2b.<\/em>\u00a0Maka, Al-Quran dan Terjemahannya dari Departemen Agama Republik Indonesia mengartikan <em>ulul-alb\u00e2b<\/em> sebagai &#8220;orang- orang yang berakal,&#8221; &#8220;orang-orang yang mempunyai pikiran&#8221;\u2014terjemahan yang tidak terlalu tepat. Terjemahan Inggrisnya\u2014yakni, <em>men of understanding, men of wisdom<\/em>-mungkin lebih tepat. <em>Ulul-alb\u00e2b <\/em>disebut enam belas kali dalam Al-Quran: dilukiskan sebagai orang yang diberi hikmah (Qs al-Baqarah, 2: 269), yang sanggup mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu (Qs Y\u00fbsuf 12: 111), kritis mendengarkan pembicaraan atau ungkapan pemikiran orang (Qs az-Zumar, 39: 18), bersungguh-sungguh mencari ilmu (Qs Al &#8216;Imr\u00e2n, 3: 7), dengan merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi (QS Al &#8216;Imr\u00e2n, 3:190), dan mengambil pelajaran dari Kitab yang diwahyukan oleh Allah (Qs Sh\u00e2d, 38: 29; Qs al-Mu&#8217;min, 40: 54; Qs \u00c2lu &#8216;Imr\u00e2n, 3: 7); sanggup sendirian mempertahankan keyakinannya dan tidak terpesona dengan bilangan yang banyak dalam kejelekan (Qs al-Ma&#8217;idah, 5: 100); berusaha menyampaikan peringatan Allah kepada masyarakat dan mengajari mereka prinsip tauhid (Qs Ibr\u00e2h\u00eem, 14: 52); memenuhi janji kepada Allah, menyambungkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menyambungkannya, bersabar, memberikan <em>infaq<\/em>, dan menolak kejelekan dengan kebaikan (Qs ar-Ra&#8217;d, 13: 20-22); bangun tengah malam dan menangisinya dengan rukuk dan sujud di hadapan Allah (Qs az-Zumar, 39: 9) serta banyak berzikir (Qs Alu &#8216;Imr\u00e2n, 3: 190); dan terakhir, hanya takut kepada Allah saja (Qs al-Baqarah, 2:197; Qs ath-Thal\u00e2q, 65: 10; Qs al-Ma&#8217;idah, 5: 100; Qs ar-Ra&#8217;d, 13:21).<\/p><p id=\"0nd9h297\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Pada diri Syari&#8217;ati, kita melihat sifat-sifat <em>ulul-alb\u00e2b<\/em>. Dalam tulisan-tulisannya\u2014yang sebagian besar berasal dari ceramah-ceramahnya\u2014kita mendengar panggilan untuk <em>ulul-alb\u00e2b.<\/em> Ayah Syari&#8217;ati adalah seorang alim besar, salah seorang pendiri gerakan intelektual Islam di Iran, guru besar, <em>mujahid<\/em>, dan pendiri &#8220;Pusat Penyebaran Kebenaran Islam&#8221; di Masyhad. Selama empat puluh tahun, Muhammad Taqi Syari&#8217;ati berjuang untuk mengembalikan pemuda yang terdidik Barat ke pangkuan Islam, melepaskan mereka dari materialisme, pemujaan Barat, dan permusuhan pada agama. &#8220;Semua orang yang mengenal ayah Syari&#8217;ati dan mengetahui berbagai dimensi kehidupannya\u2014dimensi ilmiah, keagamaan, kemasyarakatan, politik dan kemanusiaan\u2014akan mengetahui pengabdiannya, kesabarannya, dan kemampuan istiqamahnya, serta pengetahuannya yang dalam&#8221; (G.A. Tavassoli).<\/p><p id=\"llu3g307\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Ayahnya telah menjadi model <em>ulul-albab<\/em> bagi Syari&#8217;ati. Seperti Zakaria kepada Yahya, Taqi Syari&#8217;ati juga mewariskan kepada anaknya perjuangan kepada kebenaran, kerinduan kepada syahadah, keterikatan pada Islam.<\/p><p id=\"mt41d311\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\" style=\"padding-left: 40px;\">Ayahku telah membentuk dimensi pertama dari jiwaku. Dialah yang pertama mengajarkan kepadaku seni berpikir dan seni memanusia. Segera setelah ibuku menyapihku, ia memberikan padaku kelezatan kebebasan, kemuliaan, kesucian, keteguhan, keimanan, kebersihan ruhani, dan kebebasan hati. Dialah yang memperkenalkan aku kepada sahabat-sahabatnya\u2014buku-bukunya. Buku-buku itu telah menjadi sahabatku yang akrab dan abadi sejak tahun-tahun pertama masa sekolahku. Aku tumbuh dan berkembang di perpustakaannya, yang baginya merupakan seluruh kehidupan dan keluarganya. Banyak sekali hal yang seharusnya aku pelajari pada waktu dewasa dan dengan waktu yang lama serta perjuangan yang panjang telah diberikan oleh ayahku, sebagai hadiah di masa kecilku, secara sederhana dan spontan. Sekarang perpustakaan ayahku menjadi dunia yang penuh kenangan berharga bagiku. Masih dapat kuingat setiap bukunya, bahkan sampai bentuk jilidnya.<\/p><p id=\"ci9h7317\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Gairahnya mencari ilmu menyebabkan ia belajar bukan saja di ruangan kelas. Di luar sekolanya, ia sibuk belajar bahasa Arab dan Perancis, sehingga sebelum masuk universitas ia sudah sanggup menerjemahkan buku-buku yang ditulis dalam kedua bahasa tersebut. Ia juga bekerja sebagai penulis filsafat sejarah pada &#8220;Mazhab Menengah&#8221; (<em>Maktab-e Vasita<\/em>). Ia aktif mengembangkan kegiatan Pusat Penyebaran Kebenaran Islam di Masyhad, sebagai penyelenggara dan penceramah sekaligus.<\/p><p id=\"9i23d323\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Pada masa pra-universitas, ia sudah menunjukkan kedalaman pengetahuan dan kemampuan mengungkapkan pikiran secara jernih dan ekspresif. Dalam kata pengantarnya dalam terjemahan <em>Abu Dzarr<\/em>, ia sudah mengaitkan Islam dengan problem-problem sosial. Sejak dini, ia tidak puas dengan buku-bukunya saja. Sejak dini, ia sudah dirangsang untuk melihat ketimpangan masyarakat dan menawarkan Islam sebagai alternatif pemecahan masalah.<\/p><p id=\"rh50y329\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Ketika kemudian menjadi mahasiswa Fakultas Sastra, Syari&#8217;ati menunjukkan daya kritisnya. Ia sering berdebat dengan dosen-dosennya. Sebagai ilmuwan, ia membaca buku <em>hatta<\/em>\u00a0buku-buku yang sudah tidak dihiraukan orang lagi. &#8220;Aku suka membaca sumber-sumber yang kuno ketika masih mahasiswa tingkat permulaan. Bahkan para mullah tradisional sudah tidak membaca lagi buku-buku yang aku dalami pada masa-masa itu. Mereka menganggapnya kuno, tetapi aku terus juga membacanya,&#8221; ujar Syari&#8217;ati mengenang masa mahasiswanya. Di samping buku-buku Islam, dibacanya buku-buku sejarah, sastra, filsafat, sosiologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.<\/p><p id=\"9j67v335\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Sebagai intelektual, ia melatih dirinya terjun mendidik masyarakat. la mengajar pada beberapa sekolah menengah. Intelektual senantiasa merindukan teman. Ia mencari telinga yang mau mendengar. Dengan ilmunya, ia ingin membentuk zamannya. Karena itu Syari&#8217;ati juga aktif dalam gerakan politik setelah kejatuhan pemerintahan Dr. M. Musaddiq. Kegiatannya di luar kampus inilah yang menyebabkan Syari&#8217;ati harus menghuni penjara untuk beberapa saat.<\/p><p id=\"xzbpc339\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Pada 1960, ia berangkat ke Perancis untuk melanjutkan studi dalam bidang sosiologi. Perancis memberikan bukan hanya metode-metode baru dalam menganalisis masyarakat, tetapi juga informasi yang di negerinya sendiri tidak bisa diperolehnya. Empat tahun kemudian ia pulang ke Teheran dengan gelar doktor, seorang istri, dan dua anak. Iran menyambut ilmuwan ini dengan penjara selama enam bulan. Setelah mengakhiri masa tahanannya, Doktor ini kembali mengajar di sekolah menengah seperti dahulu. Entah karena kebetulan atau kesalahan, Syari&#8217;ati diterima sebagai pengajar di Universitas Masyhad. Di sini ia memperoleh telinga-telinga muda yang mendengar kuliahnya dengan penuh minat. Gagasannya yang kontroversial dan metode mengajarnya yang tidak konvensional menarik ribuan mahasiswa. Ucapan-ucapan Syari&#8217;ati menggelitik, mengusik, dan meresahkan. Ketika ada pendengarnya yang merasa Syari&#8217;ati tidak memberikan jawaban yang lengkap, Syari&#8217;ati menukas bahwa ia berbicara bukan untuk memberikan jawaban yang lengkap. Memang, ia bicara untuk mengguncangkan ketenangan intelektual. Ketika salah seorang di antara mereka menuding Syari&#8217;ati sedang membuat teori, ia berkata, &#8220;Aku tidak mau berurusan dengan teori. Aku bukan tukang teori. Teori baik buat universitas\u2014tetapi tidak bagiku. Teori tidak membantu mencapai tujuanku.&#8221; Syari&#8217;ati sebenarnya banyak melahirkan gagasan-gagasan yang cemerlang\u2014yang boleh kita sebut sebagai teori. Tetapi teorinya bukanlah teori yang menantang penelitian, melainkan teori yang menimbulkan keresahan. Teorinya bukan proposisi ilmiah yang menuntut verifikasi. Teorinya memberikan perspektif untuk memandang masalah dengan cara yang baru. Itu memang bukan teori untuk orang universitas.<\/p><p id=\"1ypb4343\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Pihak universitas bahkan memandang kuliah-kuliah Syari&#8217;ati sebagai hasutan yang membahayakan rezim yang memerintah. Ia harus menghentikan kuliahnya dan dipindahkan ke Teheran. Di sini, di <em>Husayniya-yi Irshad<\/em>, sebuah Islam. institut keagamaan yang terkenal, ia memberikan kuliah-kuliah tentang Orang dari berbagai kalangan menikmati kuliahnya. Ia tidak lagi berbicara dengan kaum intelektual. la bicara dengan rakyat Iran. Seperti dapat diduga, <em>Husayniya-yi Irshad<\/em>\u00a0ditutup dan sekali lagi Syari&#8217;ati mendekam di penjara selama 15 bulan.<\/p><p id=\"sl5ji351\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Setelah keluar dari penjara, walaupun diawasi dengan ketat oleh agen-agen rahasia Shah, ia masih juga memberikan ceramah-ceramah. Hidup Syari&#8217;ati adalah hidup yang selalu bergejolak, bergerak, dan tak kenal lelah. &#8220;Saya tidak bisa diam. Saya tidak tahan untuk tidak bicara. Saya bisa diam, tetapi saya akan merasa seperti seseorang yang menanggung derita kematian, yang tahu bahwa kedamaian dan keselamatan menantinya, yang lelah dengan segala kesulitan hidup, seperti orang yang tidak punya pekerjaan apa-apa selain menanti yang tak kunjung selesai sepanjang hidupnya,&#8221; tulis Syari&#8217;ati dalam <em>Kavir<\/em>. Seperti kata Burns, Syari&#8217;ati adalah <em>a devote of ideas<\/em>; atau, lebih tepat, seperti sabda Rasulullah Saw, &#8220;Tidak henti-hentinya seorang Mukmin berbuat baik sampai ia berpisah dengan dunia.&#8221;<\/p><p id=\"sc9ir359\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Suatu hari Syari&#8217;ati datang terlambat. Ia meminta maaf:<\/p><p id=\"xt19j363\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\" style=\"padding-left: 40px;\">Saya terlambat lagi dan saya mohon maaf, karena terlalu lelah dan kecapaian. Sebetulnya saya tidak ingin datang ke sini, tetapi gairah saya untuk melihat Anda dan &#8216;keresahan&#8217; dalam diri saya mendorong saya&#8230; Seperti saya katakan pada mahasiswa sastra kemarin malam, firasat saya tentang &#8220;kesementaraan&#8221; dan &#8220;ketidakpastian&#8221; masa depan saya tidak mengizinkan saya tinggal di rumah. Firasat atau realitas atau apa pun yang saya simpulkan dari situasi sekarang menyatakan bahwa hidup saya tinggal beberapa hari lagi&#8230; Saya tidak yakin pada masa depan saya. Saya pun tidak yakin dapat tinggal beserta Anda dan bicara lama&#8230; Itulah sebabnya saya selalu berusaha berbicara sebanyak mungkin. Malam ini pembicaraan saya sangat kompleks. Karena tidak cukup waktu untuk membahas topik ini dengan baik, saya hanya akan menyentuh hal-hal yang umum saja.<\/p><p id=\"hzkqj367\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Seperti sebuah khutbah wada&#8217;, tidak lama setelah pertemuan ini, Dr. Ali Syari&#8217;ati dibunuh di London oleh SAVAK, polisi rahasia Shah yang terkenal kejam.<\/p><p id=\"wf899371\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Syari&#8217;ati pergi sebelum menyaksikan para ulama dan kaum intelektual memimpin massa rakyat untuk menumbangkan rezim yang perkasa; sebelum kaum <em>rausyanfikr<\/em>\u00a0muda turun dari ruang kuliah mereka yang sejuk menuju kampung-kampung rakyat miskin yang gersang, menyediakan perumahan, membangun perairan, membuka sekolah, menyebarkan kesadaran, atau yang mereka sebut dengan singkat: <em>Jihad Sazandegi<\/em>\u00a0(Jihad Pembangunan); sebelum kaum <em>alul-albab<\/em>\u00a0terpanggil untuk menjalani rentangan sejarah yang pernah dilaluinya.<\/p><p id=\"gwwh7381\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Hidup Syari&#8217;ati, seperti pandangan-pandangannya, merupakan panggilan untuk <em>ulul-albib. <\/em>Untuk mereka ini, pesan Syari&#8217;ati dapat dirangkumkan dalam beberapa kalimat seru: <em>Wahai ulul-albib<\/em>, Anda tidak boleh puas dengan ilmu-ilmu yang sudah Anda miliki. Ilmu itu harus Anda bawa ke tengah-tengah umat. Lanjutkan perjuangan para rasul. Hidupkan kesadaran diri pada masyarakat Islam untuk mengubah dunia dengan bimbingan Anda. Untuk melakukan tugas Anda itu, Anda tidak dapat belajar dari Barat, tidak juga berguru ke Timur, tetapi dengan memahami keyakinan dasar dan proses sejarah yang membentuk mereka. Pada akhirnya, tugas Anda ialah merobohkan masyarakat yang berdasarkan penindasan dan kezaliman dengan membentuk umat yang berdasarkan tauhid dan keadilan. Tugas itulah yang dilakukan para rasul sepanjang sejarah dan itulah pula tugas Anda.<\/p><p id=\"upzet389\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Dalam <em>Kebudayaan dan Ideologi<\/em>, Syari&#8217;ati mengisahkan orang-orang yang bukan ilmuwan, bukan filosof, bukan teknolog, tetapi mampu menangkap &#8220;kesadaran diri manusiawi,&#8221; hikmah yang sanggup membentuk kebudayaan dan peradaban. Dalam <em>Ideologi dan Kaum Intelektual,<\/em>\u00a0ia menegaskan kembali peran agama sebagai ideologi\u2014yakni, keyakinan yang dipilih secara sadar untuk memberikan respon pada kebutuhan dan masalah masyarakat yang terjadi. Agama sebagai ideologi bukanlah agama yang mempertahankan dan melegitimasikan status quo, tetapi yang memberikan arah kepada bangsa untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Dalam <em>Dari Mana Kita Mesti Mulai,<\/em>\u00a0ia bukan saja mengkritik pemikir-pemikir pak-turut. Ia juga menegaskan betapa pentingnya kaum intelektual Muslim menghubungkan dirinya dengan massa, menentang kaum reaksioner dan membangkitkan Islam sebagai agama jihad yang menentang penindasan dan menegakkan keadilan. Dalam <em>Peradaban dan Modernisasi,<\/em>\u00a0ia mengkritik orang-orang yang meniru kebudayaan Barat tanpa kemampuan kritis sehingga menjadi budak-budak konsumsi dari industri Eropa: &#8220;manusia-manusia yang kehilangan latar belakang, terasing dari sejarah dan agamanya, asing terhadap apa yang telah dibangun oleh bangsanya, sejarahnya, dan nenek-moyangnya di dunia ini, terasing dari watak manusiawinya, satu kepribadian bekas yang mode konsumsinya telah diubah, yang pikirannya telah diubah, yang telah kehilangan pikiran-pikirannya yang berharga.&#8221; Terakhir, dalam <em>Tentang Nestapa Kaum Tertindas<\/em>, Syari&#8217;ati menempatkan dirinya sebagai seorang pelakon dalam sejarah perlawanan umat yang tertindas.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-71cdf51 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"71cdf51\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-246650c e-flex e-con-boxed e-con e-child\" data-id=\"246650c\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-639f42e e-con-full e-flex e-con e-child\" data-id=\"639f42e\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-04e1b48 elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"04e1b48\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"525\" height=\"525\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_d08bb8b5aa8f4ab5904c493e9be80898mv2.webp\" class=\"attachment-large size-large wp-image-234\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_d08bb8b5aa8f4ab5904c493e9be80898mv2.webp 525w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_d08bb8b5aa8f4ab5904c493e9be80898mv2-300x300.webp 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/72c987_d08bb8b5aa8f4ab5904c493e9be80898mv2-150x150.webp 150w\" sizes=\"100vw\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-f1a370a e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"f1a370a\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a440792 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a440792\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p id=\"brs40403\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\">Syari&#8217;ati menulis dan berbicara dengan rasio dan emosi sekaligus. Ia tidak bisa netral; pernyataannya tidak melulu informatif tetapi juga persuasif. Banyak orang yang terilhami pembicaraannya dan banyak juga orang yang salah mengerti. Mungkin di situlah letak kebesaran Syari&#8217;ati. <em>Is it so bad, then, to be misunderstood? Pythagoras was misunderstood, and Socrates, and Jesus, and Luther and Copernicus, and Galileo, and Newton, and every pure and wise spirit that ever took flesh. To be great is to be misunderstood <\/em>(Emerson). <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p><p id=\"ewvkg410\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p><p id=\"v5nop416\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\" style=\"text-align: center;\">***<\/p><p id=\"jsow9418\" class=\"DI5wk _8h3nW\" dir=\"auto\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong>\u00a0Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a class=\"Ea-Ew Ma57X\" href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a class=\"Ea-Ew Ma57X\" href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a class=\"Ea-Ew Ma57X\" href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a class=\"Ea-Ew Ma57X\" href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada suatu pagi, 10 Muharram 61 Hijriah, dua pasukan yang tidak seimbang bertemu di Padang Karbala. Imam Husain dengan 72 pengikutnya tegak di hadapan cucu Abu Sufy\u00e2n. Seakan-akan kisah Badar diulang kembali. Beberapa saat kemudian Padang Karbala memerah karena darah. Tubuh-tubuh keluarga suci terkapar bergelimpangan. Kuda-kuda musuh dengan garangnya menginjak tubuh-tubuh para korban. Menjelang sore, &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=206\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;ALI SYARI&#8217;ATI: PANGGILAN UNTUK ULUL ALBAB&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[13,10,9,8,16,18,19,15,14,12,11,17],"class_list":["post-206","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-asbab-an-nuzul","tag-az-zarkasyi","tag-ibn-mujahid","tag-ibn-syanbudz","tag-ijaz-al-quran","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-makkiyah-madaniyyah","tag-muhkam-mutasyabih","tag-nasikh-mansukh","tag-ulumul-quran","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/206","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=206"}],"version-history":[{"count":28,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/206\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":237,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/206\/revisions\/237"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=206"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=206"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=206"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}