{"id":2225,"date":"2025-05-17T03:41:51","date_gmt":"2025-05-17T03:41:51","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2225"},"modified":"2025-05-17T03:41:51","modified_gmt":"2025-05-17T03:41:51","slug":"hak-hak-anak-di-dalam-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2225","title":{"rendered":"HAK-HAK ANAK DI DALAM ISLAM"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/455-HAK-HAK-ANAK-DI-DALAM-ISLAM-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2226\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/455-HAK-HAK-ANAK-DI-DALAM-ISLAM-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/455-HAK-HAK-ANAK-DI-DALAM-ISLAM-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/455-HAK-HAK-ANAK-DI-DALAM-ISLAM-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/455-HAK-HAK-ANAK-DI-DALAM-ISLAM.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSeorang perempuan miskin datang menemuiku,\u201d kata Aisyah Ra, \u201cIa membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada kedua orang anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw. Ia bersabda:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBarang siapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.\u201d (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBarang siapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu ia melindungi mereka, mengasihi mereka, memelihara mereka dengan baik, ia pasti masuk surga,\u201d kata Nabi Muhammad dalam riwayat yang lain. (Al-Targhib wa Al-Tarhib,3:68)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nabi menegaskan anak perempuan, karena pada zaman itu, anak perempuan tidak mempunyai hak sama sekali. Mereka dianggap beban ekonomi, sehingga sering dibunuh beberapa saat setelah mereka lahir. Al-Quran mengabadikan peristiwa pembunuhan anak perempuan itu, ketika Allah berfirman: Ingatlah ketika anak-anak perempuan yang dibunuh itu ditanya, karena dosa apa mereka harus dibunuh.\u201d (QS.81:8)&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nabi memberikan contoh penghargaan kepada anak (khususnya anak perempuan), ketika memperlakukan Fathimah. Nabi memanggil putrinya :\u201dUmmu Abiha\u201d (ibu dari bapaknya), sebagai penghormatan atas kebaktian Fathimah dalam berkhidmat kepada ayahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Nabi tengah berada dalam majelis dan melihat Fathimah datang, dia segera bangkit. Tidak jarang dia mencium tangan Fathimah dihadapan sahabat-sahabatnya \u2013cium penghormatan dan kasih sayang sekaligus. Kadang-kadang dia mencium dahi Fathimah seraya berkata \u201cBila aku merindukan bau surga, aku mencium Fathimah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang pemuka kabilah, Al-Aqra\u2019 bin Habis, melihat Nabi mencium anaknya. Dia keheranan dan bertanya, \u201cEngkau mencium anakmu? Padahal aku mempunyai sepuluh orang anak. Tak seorang pun aku cium.\u201d \u201cAku tidaklah seperti kamu,\u201d jawab Nabi yang mulia,\u201c Karena Allah telah mencabut cinta dari jantungmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Rasulullah khawatir jika ada orang yang menyakiti hati Fathimah, maka dia mengumumkan kecintaannya kepada putrinya dengan berkata, \u201cFathimah belahan nyawaku, siapa yang menyakiti Fathimah dia menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah murka, dia membuatku murka juga.\u201d (HR.Al-Bukhari)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu eratnya hubungan kasih sayang antara Rasulullah dengan putrinya, sehingga kepergian Rasulullah ke alam baka\u2019 sangat menggoncangkan Fathimah. Hampir setiap hari dia menjenguk makam ayahnya. Dia merintih di depan pusara ayah yang dikasihinya. Dia mengambil segenggam tanah kuburan dan mengusapkannya ke wajahnya seraya bersyair, \u201cApakah orang yang telah mencium tanah pusara Ahmad, akan dapat menghirup lagi semerbak wewangian. Telah menimpa daku musibah. Seandainya musibah itu jatuh siang hari, siang akan berubah menjadi malam gulita.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat anak perempuan dipandang rendah, Nabi mengangkat Fathimah. Ketika kehadiran anak wanita dianggap bencana, Nabi menyebut Fathimah sebagai \u201cAl-kautsar\u201d (anugerah yang banyak). Dalam masyarakat Jahiliyyah yang bangga menguburkan anak perempuan hidup-hidup, Nabi menegakkan hak-hak anak secara terbuka. Belum pernah pemimpin dunia memerlakukan anaknya seperti perlakuan Nabi kepada Fathimah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan batin diantara keduanya dicatat sejarah sebagai pelajaran abadi untuk umat manusia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita melihat seorang pemimpin agung memperjuangkan hak-hak seorang anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">DIBERI NAMA YANG BAIK<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya ialah memberikan nama yang baik. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw: \u201cYa Rasulallah, apakah hak anakku terhadapku?\u201d Nabi menjawab: \u201cEngkau baguskan nama dan pendidikannya; kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik.\u201d (Syarh Risalah Al-Huquq,1:597) .<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah arti sebuah nama?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nabi menegaskan banyak sekali hal penting dalam nama seseorang ketika seorang sahabat menyebutkan namanya \u201cHazn\u201d (duka cita), Nabi menggantinya dengan \u201cFarh\u201d (suka cita). \u201cAl-Mudhtaji\u201d (yang terbaring) diganti oleh Nabi menjadi \u201cAl-Munbaits\u201d (yang bangkit). Orang yang namanya \u201cHarb\u201d (perang) diubah nabi menjadi \u201cSilm\u201d (damai), dan banyak lagi yang lain. (Al-Targhib, 3:71).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak berhak mendapat nama yang baik, karena seringkali nama yang diberikan oleh orang tuanya menentukan kehormatannya. Ahli hikmah berkata: \u201cJika kami belum melihat kalian, maka yang paling kami cintai ialah yang paling bagus namanya. Bila kami sudah melihat, maka yang paling bagus wajahnya. Bila kami sudah mendengar kalian, maka yang paling bagus pembicaraannya. Bila kami sudah memeriksa kalian, maka yang paling kami cintai adalah yang paling bagus akhlaknya. Adapun batin kalian, biarlah itu urusan kalian dengan Tuhan kalian.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nama itu penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa, bahkan akidah. Jang Odeng sudah pasti orang Sunda, Harahab jelas berasal dari keluarga Batak, Tukijo tentu orang Jawa, dan Al Atos terang menunjukkan keluarga Arab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Islam menganjurkan agar orang tua memberikan nama anak yang menampakkan identitas Islam, suatu identitas yang melintas batas-batas rasial, geografis, etnis, dan kekerabatan (kinship).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, Muhammad Ali boleh jadi orang Pakistan, Iran, Indonesia, atau Amerika Serikat. Tetapi hampir dapat dipastikan ia orang Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para psikolog modern belakangan menyadari pentingnya nama dalam pembentukan konsep diri. Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image, gambaran) yang terkandung dalam namanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teori labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Berilah gelar \u201cJOROK\u201d kepada anak anda, dan seumur hidup anak itu akan menjadi orang yang jorok. Gelarilah ia \u201cSi Pemurah\u201d dan ia besar kemungkinan akan berusaha selalu pemurah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya. Taufiq mungkin menjadi penjahat, tetapi nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi mengubah namanya, atau mengubah perilakunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walhasil, anak anda akan menggugat anda pada hari akherat (dan boleh jadi di dunia ini juga) bila nama yang anda berikan membawa petaka dalam kehidupannya. \u201cBaguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,\u201d kata Rasulullah. (HR.Abu Dawud dan Ibnu Hiban)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;MENDAPAT KASIH SAYANG<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang kecil,\u201d kata Nabi Muhammad Saw.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nabi mengecam pemuka Arab yang tidak pernah mencium anaknya dan mengatakan bahwa cinta telah tercerabut dari jantungnya. Dia juga berkata, \u201cOrang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang paling penyayang terhadap keluarganya; dan aku adalah orang yang paling sayang kepada keluargaku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasih sayang tidak boleh disimpan saja didalam hati. Kasih sayang harus dikomunikasikan, karena itu Nabi mengungkapkan kasih sayangnya tidak saja secara verbal (dengan kata-kata), tetapi juga dengan perbuatan. Ketika dia berkhutbah, dia melihat Hasan dan Husayn berlari dengan pakaian yang menarik perhatian. Dia turun dari mimbarnya, mengangkat mereka, dan meneruskan khutbah dengan kedua anak itu dalam pangkuannya. Dia berkata, \u201cMereka adalah penghulu para remaja di surga.\u201d Ketika bersujud, dia memanjangkan sujudnya hanya karena tidak ingin mengganggu Hasan dan Husayn yang berada di atas punggungnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada suatu hari Umar menemukan Nabi merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya, Umar berkata, \u201cHai anak, alangkah indahnya tungganganmu itu.\u201d Yang ditunggangi menjawab, \u201cAlangkah indahnya para penunggangnya!\u201d Suasana seperti ini menunjukkan keakraban Nabi dengan cucu-cucunya. Dia mencintai mereka dan dengan jelas mengungkapkan kecintaan itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Mu\u2019awiyah berlaku kasar terhadap anaknya, Al-Ahnaf memberikan nasehat kepadanya, \u201cWahai Amirul Mukminin, anak-anak itu buah hati kita, tonggak kehidupan kita. Kita langit yang melindungi mereka dan bumi tempat mereka berpijak. Jika mereka marah, senangilah mereka. Jika mereka meminta sesuatu, berilah. Jangan memperlakukan mereka dengan kasar; nanti mereka menghindari keberadaanmu dan mengharapkan kematianmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak diantara kita secara fitri menyayangi anak-anak kita, tetapi sering kali kasih sayang itu tersembunyi. Anak-anak baru mengenal kecintaan orang tua mereka justru ketika orang tua itu sudah meninggal dunia. Seringkali kita tidak mampu mengkomunikasikan kecintaan kita. Untuk pertumbuhan kejiwaan mereka yang sehat, mereka memerlukan siraman cinta orang tua mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa yang terjadi bila anak kekurangan atau tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya? Sebelum menjawab petanyaan itu secara psikologis dan sebelum kita menghayati perintah Islam untuk mengungkapkan kasih sayang ini, marilah kita simak puisi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Anak-Anak Belajar Dari Kehidupannya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan cemohan, ia belajar rendah diri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan; ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nabi Muhammad saw, ketika ditegur orang mengapa mencium putranya, berkata: \u201cMan la yarham la yurham (siapa yang tak menyayangi, ia tak akan disayangi).\u201d Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang kepada anak-anaknya, mereka tak akan mampu mencintai orang tua mereka. Dalam pergaulan sosial, mereka pun tak akan mampu mencintai atau menyayangi orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada seorang mencoba membuat penelitian dengan memisahkan anak-anak monyet dari ibunya. Kemudian, dia mengamati pertumbuhannya. Monyet-monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang mengenaskan; selalu ketakutan, tidak dapat menyesuaikan diri, dan rentan terhadap berbagai penyakit. Setelah monyet-monyet itu besar dan melahirkan bayi lagi, mereka menjadi ibu-ibu yang galak dan berbahaya. Mereka acuh tak acuh kepada anak-anaknya, dan seringkali melukai mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para psikolog menyebut situasi tanpa ibu itu sebagai \u201cmaternal deprivation\u201d. Tentu saja kita tidak dapat melakukan eksperimen yang sama kepada manusia. Tetapi para peneliti menemukan gejala yang sama pada perilaku anak-anak manusia yang mengalami maternal deprivation pada awal kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada manusia, pemisahan anak dari orang tua itu dapat secara fisik (misalnya, karena perceraian atau orang tuanya meninggal) dan dapat juga secara psikologis (yakni, ia tidak terpisah dari orang tuanya secara fisik, tetapi ia tidak mendapat kasih sayang yang memadai). Yang kedua biasanya disebut sebagai \u201cdeprivasi terselubung.\u201d Deprivasi terselubung ini dapat terjadi, misalnya, kedua orang tua (ayah dan ibu) bekerja dan pulang pada sore hari dalam keadaan lelah. Mereka tak sempat bercanda dengan anak-anak mereka, atau berkumpul mengobrol dengan hangat, atau memeluk dan mencium mereka dalam keakraban. Anak-anak yang mengalami deprivasi ternyata cenderung menderita kecemasan, rasa tidak tenteram, rendah diri, kesepian, agresivitas, cenderung melawan orang tua, dan pertumbuhan kepribadian yang lambat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kekurangan kasih sayang menghambat aktualisasi potensi kecerdasan yang dimilikinya, sehingga anak menjadi sukar belajar. Seperti juga pada monyet (yang secara biologis satu keluarga dengan kita), anak-anak yang kekurangan kasih sayang cenderung berkembang menjadi bapak atau ibu yang tidak mampu menyayangi anak-anaknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang psikologi menyebut kekurangan kasih sayang sebagai penyakit menular. Karena itu, Islam sebagai agama yang membawa misi \u201cRahmatan Lil \u2018Alamin\u201d (menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam), mewajibkan orang tua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOrang yang paling baik diantara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,\u201d kata Rasulillah Saw, sekali lagi. Dalam al-Quran memelihara kasih sayang dalam keluarga adalah perintah kedua setelah takwa; \u201cBertaqwalah kamu kepada Allah, tempat kamu saling bermohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.\u201d (QS.4:1)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasih sayang adalah hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Mengkomunikasikan kasih sayang kepada anak-anak kita itu perlu. Pikiran seorang anak, demikian pula fisiknya, memerlukan bantuan untuk pertumbuhannya. Ada tiga macam \u201cmakanan\u201d yang penting untuk pertumbuhan pikirannya yaitu bahasa, bermain, dan kasih sayang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak bulan pertama kehidupannya, seorang anak perlu diajak bercakap-cakap, didekap, dan diasuh dengan penuh kasih sayang, diberi senyuman, didengarkan dan dirangsang untuk memberikan reaksi dengan bunyi-bunyian atau gerakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka perlu sentuhan, teman bicara, teman tertawa, memberikan respon dan menerima respon. Kurangnya perhatian akan membuat mereka tidak bahagia. Anak yang kurang perhatian akan kehilangan semangat hidup, kehilangan selera makan, sehingga pikiran dan badannya tidak tumbuh dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak-anak belajar dengan melakukan banyak hal. Dengan demikian dalam masa pertumbuhannya, mereka perlu kebebasan untuk mencari dan bermain. Bermain-main bukanlah kegiatan yang tidak berarti, tetapi sangat penting untuk pertumbuhan anak dan dapat membantu mengembangkan mental, sosial, dan keterampilan fisiknya, termasuk berbicara dan berjalan. Bermain dapat merangsang rasa ingin tahu, kecakapan, serta percaya diri seorang anak. Bermain juga merupakan landasan sebagai dasar untuk mampu melakukan pekerjaan sekolahnya, mempelajari beberapa keterampilan yang perlu untuk kehidupannya di kemudian hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bermain tidak selalu berarti menyelesaikan masalah atau mencapai apa yang direncanakan oleh orang tua. Permainan anak-anak itu sendiri sangatlah penting. Merangsang anak-anak bermain dengan menyediakan barang-barang dan bermacam ide serta bahan adalah cara yang baik untuk membesarkan anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alat permainan tidak selalu harus mahal. Dus-dus kosong atau alat rumah tangga sama manfaatnya dengan mainan-mainan yang mahal. Permainan yang imajinatif, misalnya, yang dapat berperan sebagai orang tua, sangatlah baik untuk perkembangan anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak perlu bantuan untuk mengembangkan daya cipta, mereka perlu tantangan untuk dapat memecahkan masalah dan memutuskan apa yang terbaik. Anak perlu menyatakan keinginannya dan keputusannya dan melihat apa yang akan terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bernyanyi dan belajar irama menggambar, membaca cerita dengan suara keras dapat membantu perkembangan pikiran anak dan mempersiapkan anak untuk belajar menulis dan membaca. \u201cAgar dapat tumbuh sehat, semua anak harus diberi pujian dan sanjungan atas semua hasil karyanya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Rasulullah menggelari putrinya \u201cUmmu Abiha\u201d (ibu yang merawat ayahnya), dia memberikan sanjungan atas perkhidmatan Fathimah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Nabi bermain dengan Hasan dan Husayn, dia sedang memberikan contoh permainan yang imajinatif. Ketika dia memeluk Hasan dan Husayn sambil berkata \u201cYa Allah, aku mencintai mereka,\u201d dan ketika ia mencium Fathimah seraya berkata, \u201cBila aku merindukan bau surga, aku mencium Fathimah,\u201d dia sedang mengkomunikasikan kasih sayangnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lima belas abad sesudah itu, banyak orang membenarkan Sunnah Rasulullah itu. Semua orang dapat didukung untuk: melakukan apa saja, dan tidak terkecuali anak-anak. Secara istilah, tindakan mendukung itu adalah kata halus dari peneguhan positif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peneguhan yang paling berarti untuk manusia, terutama anak-anak, adalah peneguh sosial. Hal ini biasanya berbentuk pujian atau boleh juga apa saja yang mengungkapkan perhatian, senyuman, lirikan, pelukan, kecupan, dekapan, perhatian yang mendalam, dan mendengarkan yang baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah utama orang tua ialah ketika mereka harus bergaul dengan anak-anaknya pada saat mereka kurang menyukainya. Tetapi seperti kata orang \u201citulah kehidupan.\u201d Bila ayah pulang larut malam, ia lelah. Bila ibupun pulang, ia kecapaian. Dan mereka harus melakukan banyak hal, bekerja sebagai panitia, menjalankan fungsi sosial, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu apa yang sebaiknya mereka lakukan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cManfatkanlah waktu yang ada, Pertama, janganlah mempunyai anak bila anda tidak punya waktu untuk mereka. Kedua, jika anda punya waktu, perhatikanlah waktu itu dengan serius. Inilah waktu&nbsp; untuk saling memahami, untuk mendukung perilaku kecil yang anda setujui dari tingkah laku anak-anak anda. Jauh lebih baik lagi bila anda memberikan dukungan itu segera ketika hal-hal kecil itu terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PENUTUP<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita baru saja menunjukkan dua hak anak terhadap orang tuanya; pemberian nama yang baik dan kasih sayang. Dari hadits-hadits Nabi, kita tahu bahwa anak juga berhak mendapat makanan, pakaian, olah raga yang membantu pertumbuhan fisiknya, pendidikan yang baik untuk membantu perekonomian jiwanya, dan bimbingan agama untuk menyucikan ruhaninya. Tidak cukup ruang untuk membicarakan semua hak itu disini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cukuplah kita mengunci tulisan ini dengan ucapan Ali bin Abi Thalib : \u201cWahai manusia, seseorang tidak dapat melepaskan dirinya dari anak-anaknya, walaupun ia mempunyai kekayaan. Ia harus membela mereka dengan tangan dan lidahnya. Merekalah yang paling penting untuk diperhatikan dan paling utama untuk didukung, dan paling patut disayangi ketika musibah menimpa mereka &#8230;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8230;. Janganlah orang berpaling dari keluarganya yang harus ia lepaskan dari kesusahannya dengan sesuatu yang tidak akan menambahnya jika ia menahannya, tidak akan menguranginya jika ia memberikannya. Jika kamu menahan tanganmu dari anak-anakmu, mereka hanya kehilangan satu tangan, tetapi kamu kehilangan tangan yang banyak. Siapa yang dicintai keluarganya ia akan dicintai kaumnya.\u201d (Nahj Al-Balaghah, Khutbah ke-23) <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cSeorang perempuan miskin datang menemuiku,\u201d kata Aisyah Ra, \u201cIa membawa dua orang anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada kedua orang anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi kedua orang anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, perempuan itu tidak makan satu butir pun. &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2225\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;HAK-HAK ANAK DI DALAM ISLAM&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[215,2585,2583,2579,2580,2586,18,2578,19,2081,2584,2582,2581,2587,2591,2592,957,2590,2589,166,2588,17],"class_list":["post-2225","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-al-quran","tag-bahaya-kekerasan","tag-deprivasi-emosional","tag-hadits-nabi-muhammad","tag-hak-anak","tag-identitas-islam","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-kasih-sayang","tag-katakangjalal","tag-keadilan","tag-kebutuhan-dasar","tag-kehormatan","tag-kesehatan","tag-komunikasi-kasih-sayang","tag-konsep-diri","tag-nama-baik","tag-pendidikan","tag-peneguhan-positif","tag-perkembangan-psikologis","tag-perlindungan","tag-tanggung-jawab-orang-tua","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2225","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2225"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2225\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2227,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2225\/revisions\/2227"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2225"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2225"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2225"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}