{"id":2248,"date":"2025-05-24T04:17:22","date_gmt":"2025-05-24T04:17:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2248"},"modified":"2025-05-24T04:17:22","modified_gmt":"2025-05-24T04:17:22","slug":"etika-sains-dan-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2248","title":{"rendered":"Etika, Sains, dan Masyarakat"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/462-Etika-Sains-dan-Masyarakat-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2249\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/462-Etika-Sains-dan-Masyarakat-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/462-Etika-Sains-dan-Masyarakat-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/462-Etika-Sains-dan-Masyarakat-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/462-Etika-Sains-dan-Masyarakat.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Betulkah Sains Netral-Etika?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah teleologi disingkirkan dari wilayah sains pada abad ke-17, para ilmuwan diharuskan menyingkirkan setiap pertimbangan nilai (value judgement) dari upaya ilmiahnya. Sains harus didasarkan pada objektivitas ilmiah bebas nilai. Di sini saya tidak akan mengupas kelemahan tesis netralitas nilai secara falsafi, sebab hal ini sudah banyak dilakukan penulis lain (misalnya, Leach, 1974, juga Laszlo dan Wilbur, 1970; Margenau, 1964; Meehan, 1970). Saya hanya ingin memaparkan bukti-bukti sederhana dalam setiap langkah proses ilmiah. Proses ilmiah dapat digambarkan dalam empat tahap:<\/p>\n\n\n\n<ol style=\"list-style-type:upper-roman\" class=\"wp-block-list\">\n<li>PEMILIHAN MASALAH<\/li>\n\n\n\n<li>PENELITIAN ILMIAH<\/li>\n\n\n\n<li>KEPUTUSAN ILMIAH<\/li>\n\n\n\n<li>PENERAPAN ILMIAH (TEKNOLOGI)<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Dari sejumlah fenomena alam yang teramati, seorang ilmuwan memilih masalah mana yang patut mendapatkan perhatian. Bila masalah ini telah diidentifikasikan dan dirumuskan lebih tegas, maka dilakukan proses pengamatan dan pengukuran fenomena tersebut. Dari hasil pengamatan dan pengukuran, ditarik kesimpulan yang boleh jadi berbentuk pengujian teori, peneguhan teori, penolakan teori, atau penciptaan teori. Bila teori ini digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis atau membimbing kegiatan operasional, berarti kita sudah masuk ke dalam penerapan ilmu. Kita akan melihat bahwa dalam seluruh tahap ini etika tidak dapat dikesampingkan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Etika dalam Pemilihan Masalah Ilmiah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Proses ilmiah dimulai ketika ilmuwan menyeleksi fenomena alamiah untuk ditelaah. Hal yang akan diseleksi ditentukan oleh konsepsinya tentang apa yang penting dan mengapa fenomena tertentu bermakna (significant). Ia harus memutuskan, penting buat siapa? Buat dirinya, buat negaranya, buat dunia bisnis, buat umat manusia secara keseluruhan? Bolehkah suatu penelitian ilmiah dijalankan dengan mengorbankan orang-orang pada masa ini, tetapi memberi- kan kebahagiaan bagi orang-orang di masa yang akan datang; atau membahagiakan orang-orang sekarang, walaupun mengorbankan saudara-saudara kita di masa mendatang?<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan-pertanyaan di atas harus dijawab dengan melibatkan pertimbangan nilai \u0336 dengan kata lain, merujuk ke etika. Sebenarnya, tidak ada kegiatan ilmuwan yang tidak didasarkan pada etika tertentu. Bukankah ketika sang ilmuwan memulai upaya ilmiah, ia telah didorong untuk tujuan-tujuan tertentu: mencari kebenaran, meningkatkan karier, memuliakan kehidupan, memelihara lingkungan, atau hanya mencari uang.<\/p>\n\n\n\n<p>Bila ia memandang kebajikan tertinggi adalah penemuan kebenaran ilmiah, maka ia akan memilih masalah yang menarik baginya, walaupun mungkin masalah itu dapat menimbulkan bencana sosial. Oppenheimer \u0336 aktor utama sekaligus pemimpin dalam pembuatan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki-misalnya, meneruskan juga eksperimennya tentang bom atom hanya karena ia yakin bahwa proyeknya akan berhasil. Belakangan ia pun menyesali sikapnya ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada 1974, para ahli biologi molekuler tertarik dengan proyek manipulasi genetika. Mereka mencoba menyingkapkan &#8220;rahasia&#8221; di balik kehidupan yang paling awal, dan ingin mengetahui cara membuat kehidupan baru dengan merekombinasikan gen-gen. Salah seorang di antara mereka adalah Paul Berg. Atas pertimbangan bahwa sebagai ilmuwan ia hanya tertarik dengan kebenaran, ia mengotak-atik gen tanpa memperhatikan konsekuensi sosial hasil penelitiannya. Robert Pollack kemudian memintanya menghentikan penelitian itu. Berg, bersama Pollack dan lain-lain, akhirnya melancarkan kampanye besar-besaran untuk mendesakkan moratorium penelitian DNA rekombinan. Kepada penulis ilmiah Horace Judson, Berg berkata, &#8220;Ketika Pollack meneleponku, memang kami acuh tak acuh. Kami tak mempertimbangkan kemungkinan akibat yang berbahaya dari apa yang sedang kami buat.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika ilmuwan menentukan bahwa ia mau melakukan apa saja untuk sains, ia sebetulnya telah mengambil keputusan etis: Layakkah sains menerima komitmen total dirinya? Apakah ia telah memilih sains sebagai &#8220;agama&#8221;-nya? Semula Prof. Erwin Chargaff, ahli biologi Columbia University, mengumandangkan slogan &#8220;tiada kata tidak&#8217; bagi eksperimen&#8221;. Tetapi belakangan ia menyerang ketegaran ilmuwan untuk hanya mengejar kebenaran ilmiah, tanpa memperhatikan efek studinya bagi masyarakat. &#8220;Aku campakkan aksioma lamaku,&#8221; katanya di depan National Academy of Sciences Forum on Recombinant DNA, pada 7 Maret 1977.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika statistik di Amerika menunjukkan bahwa 90 persen sarjana bekerja untuk perusahaan-perusahaan besar dan memilih masalah penelitian yang sesuai dengan sponsor, kita bertanya, &#8220;Mengapa?&#8221; Jonathan A. King dari MIT menjawab, &#8220;&#8230; sebab dia dibesarkan dengan keinginan meraih keberhasilan dan status, prestise, banyak uang, atau kekuasaan &#8230;.&#8221; Mengapa sekarang lebih banyak energi ilmuwan dihabiskan untuk mengembangkan teknologi senjata pemusnah daripada teknologi yang meningkatkan kualitas hidup manusia? Mengapa lebih banyak studi tentang perang daripada studi tentang saling pengertian di antara manusia? Mengapa ilmuwan memilih masalah X dan bukan masalah Y? Inilah pertanyaan-pertanyaan etis.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Etika dalam Penelitian Ilmiah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Ketika melakukan penelitian, ilmuwan harus memperhatikan prosedur penelitian yang dilakukannya. Kalau penelitiannya berkenaan dengan manusia, apakah penelitian itu tidak menimbulkan kerugian bagi subjek penelitiannya, apakah anonimitas dan konfidensialitas mereka dijamin, apakah mereka ditipu atau dijebak untuk menjadi peserta penelitian. Paling tidak, sebagai peneliti ilmiah, ia harus mempertahankan kejujuran, keterbukaan, dan kesungguhan hati; menghindari manipulasi data (dalam arti negatif), pemalsuan informasi, dan lain-lain, yang meruntuhkan arti sains itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa hari yang lalu saya membaca berita dengan judul Abortion: <em>A Thriving Industry in America&#8217;s Celebrated Way of Life.<\/em> Di situ dimuat foto yang mengerikan: janin-janin beku disimpan dalam kantong-kantong plastik. Kantong-kantong itu didapatkan dari truk menuju Prancis lewat perbatasan Swiss. Menurut berita tersebut, janin-janin itu dikirim untuk penelitian pengembangan beauty cream di laboratorium-laboratorium kosmetik di Prancis. Pada halaman yang sama juga diberitakan tentang &#8220;penemuan&#8221; 17.000 janin di rumah seorang bekas operator laboratorium kedokteran di California. Sampai di sini kita bertanya sejenak: Bolehkah \u0336 demi penelitian ilmiah \u0336 kita korbankan janin-janin itu? Adakah hak kita untuk membunuh insan-insan yang tidak punya hak suara itu?<\/p>\n\n\n\n<p>Seperempat abad yang lalu, ratusan orang kulit hitam di Alabama menderita sifilis. Ilmuwan ingin meneliti efek antibiotik. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi suntikan &#8220;bohongan&#8221; (phony shot). Kelompok kedua diberi perawatan sebaik-baiknya. Pada 1952, penelitian ini memberikan hasil yang memuaskan: Pada kelompok yang tidak diberi antibiotik terjadi dua kali lebih banyak kematian dibandingkan dengan kelompok kedua. Etiskah tindakan peneliti untuk memilih yang satu harus mati dan yang lain harus hidup? Apakah hal itu tidak bertentangan dengan <em>principle of equality<\/em>?<\/p>\n\n\n\n<p>Di sebuah rumah sakit di Brooklyn, pasien-pasien tua diberi injeksi sel-sel kanker, untuk mengetahui apakah kelambatan sistem pertahanan tubuh disebabkan oleh kanker atau usia tua. Di Lembaga Anak-Anak Retardasi Mental di State Island, beberapa anak diinjeksi dengan virus hepatitis, untuk meneliti perkembangan virus penyakit itu dalam tubuh anak. Di akademi militer, psikolog memasukkan para prajurit baru ke dalam situasi penuh ketegangan, membangkitkan perasaan bersalah dan putus asa, untuk mengetahui daya tahan prajurit terhadap stres. Dalam seluruh penelitian ini, etika harus dipertimbangkan. Kita akan diusik oleh pertanyaan: Apakah tindakan kita bermoral atau amoral?<\/p>\n\n\n\n<p><em>Etika dalam Keputusan Ilmiah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah penelitian selesai dilakukan, ilmuwan harus memutuskan apakah hipotesis ditolak atau diterima. Sejauh manakah kesalahan dapat ditoleransi? Apa dasar pertimbangannya? Misal, suatu jenis obat akan dipasarkan. Untuk meneliti efek sampingnya, obat ini dicobakan dulu pada sapi. Bila lima persen dari sapi itu mati karena keracunan obat, apakah kita harus menolak hipotesis nol yang menyatakan tidak ada pengaruh obat itu pada sapi, atau menerima hipotesis alternatif, yakni bahwa obat itu berpengaruh pada tubuh sapi?<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut ahli statistik, kita dapat jatuh ke dalam dua corak kesalahan: kesalahan <em>alpha<\/em> dan kesalahan beta. Bila kita menerima hipotesis nol, padahal hipotesis nol itu salah, berarti kita membuat kesalahan beta. Bila kita menolak hipotesis nol, padahal hipotesis nol itu benar, berarti kita membuat kesalahan <em>alpha<\/em>. Dengan kesalahan <em>beta<\/em>, kita memasarkan obat itu, sehingga membahayakan pemakainya. Dengan kesalahan <em>alpha<\/em>, kita tahan pemasaran obat itu, sehingga merugikan pengusaha. Berapa tingkat kerugian dapat ditoleransi dan kepentingan siapa yang harus dilayani? Ini memerlukan pertimbangan nilai.<\/p>\n\n\n\n<p>James Leach membantah argumentasi tesis kenetralan nilai tentang ilmu dengan rangkaian argumentasi di bawah:<\/p>\n\n\n\n<p>1. Sebagai ilmuwan, sang ilmuwan menerima atau menolak hipotesis.<\/p>\n\n\n\n<p>2. Tiada hipotesis ilmiah yang sepenuhnya terbuktikan, tetapi semuanya dapat dikoreksi.<\/p>\n\n\n\n<p>3. Karena itu, sang ilmuwan harus memutuskan bahwa bukti cukup kuat untuk menjamin diterimanya hipotesis.<\/p>\n\n\n\n<p>4. Karena itu, keputusan pada nomor 3 tentang bukti &#8220;cukup kuat&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>itu untuk menerima hipotesis secara rasional akan merupakan fungsi kepentingan atau keseriusan, secara etis, untuk membuat kekeliruan dalam menerima atau menolak hipotesis.<\/p>\n\n\n\n<p>5. Karenanya, sang ilmuwan, sebagai ilmuwan, benar-benar harus membuat pertimbangan-pertimbangan nilai pragmatis.<\/p>\n\n\n\n<p>a. Memilih menerima bahwa hipotesis (H) adalah benar (atau percaya bahwa H adalah benar) berarti, sebagai suatu kondisi kemestian bersyarat, kecenderungan bertindak berdasarkan H dalam hubungannya dengan tujuan (P) tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>b. Cenderung bertindak berdasarkan H dalam hubungannya dengan P berarti, sebagai suatu kondisi kemestian bersyarat, bertindak berdasarkan P dalam situasi tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>7. Tingkat konfirmasi yang harus dimiliki oleh suatu hipotesis (H), sebelum orang yakin dalam memilih bertindak berdasarkan H dalam hubungannya dengan tujuan (P), merupakan fungsi keseriusan kesalahan sehubungan dengan P, yang disebabkan mendasarkan tindakan pada hipotesis yang salah.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Etika dalam Penerapan Ilmu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Ilmu terapan di sini dianggap sinonim dengan teknologi seperti yang dikemukakan Mario Bunge. Bila tujuan upaya ilmiah itu semata- mata bersifat kognitif (menambah informasi), maka yang lahir ialah ilmu murni (<em>pure science<\/em>). Bila tujuannya terutama hal-hal praktis, maka yang lahir ialah ilmu terapan (<em>applied science<\/em>). Sitologi adalah ilmu murni, sedangkan penelitian kanker adalah ilmu terapan. Mario Bunge membagi ilmu terapan menjadi teknologi fisika (misalnya, teknik mesin), teknologi biologi (misalnya, farmakologi), teknologi sosial (misalnya, <em>operations research<\/em>), dan teknologi pikiran (misalnya, komputer). Saya cenderung menyebut teknologi keempat sebagai teknologi informasi, untuk tidak mengacaukannya dengan neurofarmakologi atau operasi otak (<em>brain surgery<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam seluruh proses ilmiah, belum pernah peran etika sedemikian jelas, seperti dalam tahap penerapan ilmu. Teknologi selalu sarat nilai (<em>value-laden<\/em>). Teknologi selalu berkaitan dengan pertanyaan: Untuk apa? Siapa yang menerapkan teknologi dan untuk siapa? Ketika banyak ilmuwan berdebat tentang apakah kita harus mengambil teknologi besar, teknologi kecil, atau teknologi tepat, kita sedang melakukan pertimbangan nilai. Ketika kita hendak memutuskan apakah perlu mengadakan satelit siaran langsung untuk mengganti sistem yang sekarang, pertimbangan kita bukan hanya rasio manfaat-mudarat (<em>cost-benefit ratio<\/em>). Kita juga harus bertanya siapa yang beruntung dan siapa yang dirugikan. Mengapa kita memilih untuk melayani kepentingan si A dan mengorbankan kepentingan si B? Ketika pemerintah memilih mengembangkan teknologi penerbangan, dan bukan bioteknologi (seperti, menghasilkan bibit unggul yang dapat meningkatkan produksi petani), atau bukan teknologi surya (seperti, memanfaatkan energi matahari yang berlimpah), pemerintah tentu telah memutuskannya dengan rujukan etika tertentu. Saya tidak merasa perlu menjelaskan lebih banyak lagi tentang keterlibatan etika dalam teknologi. Hal itu sudah jelas dengan sendirinya.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ilmuwan dan Tanggung Jawab Sosial<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak ditolaknya kehadiran etika dalam upaya ilmiah, tanggung jawab sosial pun dianggap bukan urusan ilmuwan. Tugas utama ilmuwan ialah menemukan informasi tentang fenomena-fenomena alamiah, dan tugas masyarakatlah untuk mengontrol pemanfaatan informasi tersebut. Tokoh utama mazhab ini adalah P.W. Bridgman, filsuf dan ahli fisika terkenal. Ia menyangsikan kemampuan ilmuwan untuk memikul tanggung jawab sosial. Upaya ilmiah akan terhambat bila ilmuwan harus mempertimbangkan apakah penemuannya berakibat buruk bagi masyarakat atau tidak. Ia menulis:<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sebab, kalau secara pribadi aku harus berupaya agar temuan-temuanku digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat saja, tentu aku harus menghabiskan kehidupanku dengan mondar-mandir di antara biro ramal untuk mengetahui penggunaan temuan-temuanku, dan melakukan lobi-lobi di Washington untuk memperoleh perundang-undangan tertentu guna mengontrol penggunaannya. Aku tak mampu melakukan kedua hal ini, sehingga kehidupanku akan gagal dan produktivitas ilmiahku berhenti.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Dewasa ini argumentasi Bridgman hampir tidak dapat dipertanggungjawabkan:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Pertama<\/em>, sains model Cartesian tidak memperhatikan penerapan praktis, setelah digeser oleh model Baconian. Kini hampir tidak dapat lagi dipisahkan ilmu murni dari ilmu terapan. Karena itu, upaya ilmu murni, yang tidak mempunyai implikasi sosial, hampir tidak ditemukan. Apa pun yang diteliti ilmuwan, pada akhirnya, akan menimbulkan dampak terhadap masyarakatnya. Sebagai anggota masyarakat, ilmuwan tidak berhak melepaskan tanggung jawabnya. Mengapa sopir truk yang lengah dan menimbulkan kecelakaan diminta pertanggungjawabannya, tetapi insinyur sipil yang membuat kesalahan konstruksi dan merenggut nyawa penghuni bangunan tidak dituntut. Mengapa tukang jaga malam yang ter- tidur, sehingga kuda tuannya hilang, diadili, dan dokter yang lalai melakukan diagnosis, yang menyebabkan hilangnya nyawa pasien, boleh berlepas diri. Apakah ilmuwan adalah makhluk pilihan Allah, yang tidak terikat tanggung jawab sosial?<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua<\/em>, orang-orang seperti Bridgman lupa bahwa perkembangan ilmu bukan hanya dibiayai swasta atau perseorangan, tetapi juga oleh pemerintah yang memperoleh dana dari masyarakat. Setiap tahun, sekian juta uang rakyat dipakai untuk membiayai seorang sarjana. Miliaran rupiah uang rakyat digunakan untuk membiayai universitas, lembaga penelitian, dan lembaga ilmu pengetahuan lainnya. Sains bukan lagi urusan perseorangan, melainkan urusan sosial. Karena itu, ilmuwan &#8220;robot&#8221;-lah yang hati nuraninya tidak terusik untuk membaktikan ilmunya bagi peningkatan kualitas hidup masyarakatnya; ilmuwan &#8220;menara gading&#8221;-lah yang terbenam di laboratorium, dan melepaskan diri dari masyarakat di sekitarnya; lebih-lebih, ilmuwan &#8220;Frankenstein&#8221;-lah yang memanfaatkan sum bangan masyarakat untuk mengembangkan ilmu yang menindas masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketiga<\/em>, sekarang sains telah berkembang ke arah profesionalisasi. Setiap profesi selalu berorientasi pada pelayanan masyarakat (<em>service- oriented<\/em>). Profesi hidup di tengah-tengah masyarakat, memberikan pelayanan esoteris, praktis, teoretis, manual, atau simbolis kepada masyarakat. Berbicara tentang profesi berarti berbicara tentang interaksi kaum profesional dengan publik-publiknya. Karena itu, setiap profesi harus menetapkan <em>standard performance<\/em>, kode etik, dan seperangkat aturan main, sehingga profesi itu tidak jatuh di mata masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Keempat<\/em>, makin disadari bahwa ilmuwan-karena kelebihan informasi yang dimilikinya-merasa perlu menyediakan informasi, dan menafsirkan fenomena yang terjadi, bagi masyarakat yang memerlukannya. Ilmuwan memikul fungsi edukatif: (1) mendidik anggota masyarakat untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan rasional, (2) memberikan peringatan kepada mereka bila dilihat ada bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan mereka, (3) memantau dampak sains dan teknologi, serta menyampaikan hasil pemantauannya kepada masyarakat. Organisasi-organisasi seperti Federation of American Scientists, Scientists&#8217; Institute for Public Information, Society for Social Responsibility in Science di Amerika Serikat; Atomic Scientists Association di Inggris, dan World Federation of Scientific Workers, masing-masing berusaha melaksanakan fungsi edukatif ilmuwan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanggung jawab sosial para ilmuwan ini secara indah dicontohkan oleh delapan belas ilmuwan atom Jerman yang menandatangani petisi pada 1957. Petisi itu melukiskan bahaya destruktif dari senjata atom, lalu menyimpulkan:<\/p>\n\n\n\n<p>Kami tahu bahwa sukar sekali menarik konsekuensi- konsekuensi politis dari kenyataan ini. Karena kami bukan politisi, orang mungkin menolak hak kami untuk menilai masalah-masalah ini; namun, aktivitas kami di bidang ilmu murni dan penerapannya, yang membuat kami berhubungan dengan banyak orang muda di bidang ini, telah memberi kami tanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi yang mungkin muncul dari aktivitas ini. Inilah sebabnya kami tak dapat tinggal diam dalam masalah- masalah politis ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan sepenuh hati, kami mendukung gagasan kemerdekaan yang dewasa ini dikemukakan dunia Barat terhadap gagasan komunisme. Kami tak menyangkal bahwa ketakutan akan bom hidrogen dewasa ini memberikan sumbangan yang penting bagi terpeliharanya perdamaian di seluruh dunia, dan terpeliharanya kemerdekaan di sebagian dunia. Namun, kami berpandangan bahwa cara melestarikan perdamaian dan kemerdekaan semacam ini, akhirnya, betul-betul tak dapat diandalkan lagi dan bahaya kegagalannya benar-benar fatal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami merasa tak mampu membuat proposisi-proposisi konkret untuk kebijakan-kebijakan negara-negara adikuasa. Kami pikir, dewasa ini sebuah negara kecil seperti Republik Federal ini dapat melindungi dirinya sebaik-baiknya dan menciptakan perdamaian dunia, dengan mencampakkan kepemilikan atas senjata-senjata atom ini, secara terbuka dan sukarela. Bila demikian, <em>yang bertanda tangan di bawah ini tidak akan bersedia dengan cara apa pun ikut serta dalam produksi, uji coba, atau penerapan senjata-senjata atom.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kenyataan, tanggung jawab sosial sering diartikan sebagai tanggung jawab terhadap pemerintah. Hampir umum \u0336 dengan sedikit kekecualian \u0336 para ilmuwan menjadi &#8220;budak-budak jinak&#8221; yang melayani kepentingan politis atau militer di negaranya, (istilah intellectual biasa dikenakan pada ilmuwan yang meletakkan kepentingan umat manusia di atas kepentingan dirinya, pemerintahnya, atau organisasi bisnis yang menyediakan dana baginya). Di sini saya ingin mengimbau agar para ilmuwan membedakan tanggung jawab sosial dengan tanggung jawab terhadap pemerintah. Tampaknya hal itu perlu didiskusikan secara lebih operasional: dengan kepentingan siapa tanggung jawab sosial itu relevan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Aturan-Aturan Perilaku yang Mengendalikan Sains<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Banyak orang menduga bahwa dewasa ini sains telah berbalik menyerang kita. Sains telah bergerak bukan saja di luar kontrol kita, bahkan telah mengontrol kita. Suara-suara keras telah menggugat teknologi genetik, polusi, problem-problem ekologis, teknologi nuklir, dan teknologi-teknologi lain, yang memorakporandakan tatanan sosial dan menimbulkan keterasingan manusia. Dalam situasi seperti ini, pembicaraan tentang etika dan tanggung jawab sosial menjadi penting. Ada yang mengusulkan <em>science policy<\/em> \u0336 yaitu kebijakan menyeluruh yang mempunyai kekuatan hukum dalam mengatur upaya-upaya ilmiah. Ada yang merumuskan kode etik yang hanya mengikat profesi tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita dapat membedakan dua perangkat pengendalian sains: yang internal dan eksternal. Yang pertama berasal dari komunitas ilmiah itu sendiri, dan yang kedua berasal dari lembaga-lembaga non-ilmiah. Termasuk yang kedua adalah peraturan pemerintah, perundang-undangan, hukum, norma-norma sosial, dan agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Peraturan jenis yang kedua ini bersifat umum, sehingga pengendaliannya atas sains bersifat tidak langsung. Perangkat pertama lazimnya melihat perangkat kedua sebagai rujukan atau dasar pijakan. Karena itu, yang kedua tidak kita bicarakan di sini (walaupun para ilmuwan ditantang untuk berusaha keras menetapkan peraturan-peraturan mereka sebagai perundang-undangan yang mempunyai kekuatan hukum). Sedang termasuk yang pertama ialah etika metodologis dan etika institusional. Etika metodologis menunjukkan seperangkat peraturan perilaku yang berkenaan dengan proses ilmiah. Etika ini inheren dalam setiap upaya ilmiah. Tanpa itu, upaya apa pun tidak dapat lagi dikatakan ilmiah.<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Eliminate this methodological ethic and science as we know it ceases to exist,&#8221;<\/em> kata Joseph Haberer. Tidak mungkin bagi ilmuwan, misalnya, memalsukan data, melakukan plagiarisme, menyembunyikan informasi, melanggar prinsip-prinsip yang memelihara keandalan dan keabsahan (misal, mengambil data seenaknya atau menggunakan alat ukur yang salah), sebab melakukan hal demikian berarti meninggalkan metode ilmiah itu sendiri. Dengan demikian, si ilmuwan itu bukan lagi ilmuwan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada <em>Principles of Professional Practice in the Conduct of Our Work<\/em>, etika metodologis terdapat pada butir pertama kode etik. Prinsip-prinsip ini meliputi pengumpulan, pengolahan, penafsiran, dan pelaporan data. Karena etika ini terbatas pada metodologi, ia tidak dapat diterapkan untuk situasi yang lebih luas. Ia tidak dapat dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan sosial, politik, dan antar-pribadi dalam wilayah ilmu; lebih-lebih, hal itu tidak dapat mengatur hubungan antara ilmuwan dan upaya ilmiah dengan tatanan politik, sosial, ekonomi di sekitarnya. Etika institusional kemudian lahir melengkapi etika metodologis. Moratorium yang dilakukan oleh biolog-biolog molekuler untuk penelitian genetika, dan pedoman yang dirumuskan oleh ilmuwan-ilmuwan atom dalam hubungannya dengan pemerintah, merupakan contoh-contoh etika institusional. Pada <em>Principles of Professional Responsibility in Our Dealings with People<\/em>, etika institusional dinyatakan pada kode etik butir kedua.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa pun jenis kode etik yang mengatur ilmuwan, pada akhirnya kepatuhan orang kepada kode etik bergantung pada sejauh mana etika itu terinternalisasi dalam dirinya. Upaya ilmiah yang etis dan bertanggung jawab, menurut saya, pada akhirnya harus bersumber pada tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah dan pemikul firman Allah:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Sesungguhnya, Kami tempatkan manusia di bumi, dan Kami jadikan bagi mereka berbagai penghidupan supaya mereka bersyukur. <\/em>(QS 7:10)<\/p>\n\n\n\n<p>Bersyukur adalah menggunakan sains dan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, baik material maupun spiritual. <strong>JR <\/strong><em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Betulkah Sains Netral-Etika? Setelah teleologi disingkirkan dari wilayah sains pada abad ke-17, para ilmuwan diharuskan menyingkirkan setiap pertimbangan nilai (value judgement) dari upaya ilmiahnya. Sains harus didasarkan pada objektivitas ilmiah bebas nilai. Di sini saya tidak akan mengupas kelemahan tesis netralitas nilai secara falsafi, sebab hal ini sudah banyak dilakukan penulis lain (misalnya, Leach, 1974, &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2248\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Etika, Sains, dan Masyarakat&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[18,19,17],"class_list":["post-2248","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2248"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2248\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2250,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2248\/revisions\/2250"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}