{"id":2257,"date":"2025-05-27T02:39:15","date_gmt":"2025-05-27T02:39:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2257"},"modified":"2025-05-27T02:39:15","modified_gmt":"2025-05-27T02:39:15","slug":"menghapus-amal-dengan-ujub","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2257","title":{"rendered":"Menghapus Amal Dengan\u00a0Ujub"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/465-Ujub-1-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2259\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/465-Ujub-1-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/465-Ujub-1-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/465-Ujub-1-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/465-Ujub-1.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ujub sering diartikan sebagai takjub akan amal-amal salih. Namun menurut para ulama, termasuk Imam Khumaini, takjub juga dapat terjadi terhadap amal-amal buruk kita. Orang bisa bangga dengan amal buruknya. Ujub adalah melakukan perbuatan buruk tapi kemudian perbuatan buruk itu dihias sehingga tampak seolah-olah seperti amal yang baik.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Ada orang yang jarang salat berjamaah di masjid. Perbuatan tidak salat berjamaah adalah perbuatan buruk. Nabi saw bersabda, \u201cJanganlah kamu mengucapkan salam kepada Yahudi umatku.\u201d Sahabat bertanya, \u201cYa Rasulallah, siapa itu Yahudi umatmu?\u201d Nabi menjawab, \u201cOrang yang tidak pernah menghadiri salat berjamaah.\u201d Dengan tidak melakukan salat berjamaah, orang itu telah menjadi Yahudi umat Rasulullah saw. Tapi kemudian masuklah setan ke dalam hati orang itu sehingga ia malah mengatakan: \u201cSaya justru bangga tidak salat berjamaah dengan para ahli bid\u2019ah. Lebih baik tidak salat dengan orang yang tidak semazhab, karena salatnya juga tidak sah.\u201d Orang seperti itu telah jatuh kepada ujub. <em>Wal ya\u2019udzubillah.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Definisi-Definisi Ujub<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kata ujub (Al-\u2018Ujub) secara bahasa berasal dari kata \u2018ajiba-ya\u2019jabu-\u2018ujban, yang berarti kagum. Dari kata ujub itu kemudian masuk ke dalam Bahasa Indonesia menjadi kata takjub. Ta\u2019ajub berarti mengagumi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan sesuatu yang mengagumkan disebut \u2018ajib. I\u2019j\u00e2b berarti menimbulkan kesan kepada orang lain supaya orang lain itu kagum terhadap kita. Dalam psikologi modern, hal itu disebut impression formation. Hal ini misalnya terjadi ketika saya berbicara di hadapan para ulama Nahdlatul Ulama (NU). Saya membawa makalah yang ditulis dengan huruf Arab gundul dan mengutip kitab-kitab kuning (yang sebenarnya saya kutip dari kutipan juga). Saya berusaha untuk membentuk kesan agar para ulama NU beranggapan bahwa yang berbicara di depan mereka bukan saja lulusan perguruan tinggi tapi juga mahir menelaah kitab kuning.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Yang dimaksud dengan ujub, menurut kamus bahasa Arab Munjid, adalah suatu keadaan kejiwaan yang sewaktu-waktu dapat kita temukan di dalam diri kita. Umumnya ujub didefinisikan melalui indikator-indikator tertentu. Tanda-tanda tersebut biasanya adalah sombong, takabur, menolak dikritik orang, serta menganggap diri kita sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Beberapa ulama akhlak dan tasawuf mendefinisikan ujub sebagai: menganggap besar kenikmatan dan cenderung kepada kenikmatan itu sambil lupa untuk menisbahkan nikmat kepada Sang Pemberi Nikmat. \u2018Alamah Al-Majlisi, penulis <em>Maf\u00e2tih Al-Jin\u00e2n<\/em>, mengartikan ujub sebagai menganggap sudah banyak beramal salih dan menganggap amal salih yang telah dilakukan itu besar dan hebat. Adapun merasa bahagia dengan amal salih, masih menurut Al-Majlisi, bila itu dilakukan sambil merendahkan diri di hadapan Allah swt dan bersyukur kepada-Nya atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, hal itu tidak disebut dengan ujub melainkan suatu kebaikan yang terpuji.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Imam Khumaini melancarkan beberapa kritik atas definisi yang diberikan Al-Majlisi tersebut. <strong>Pertama, <\/strong>Imam Khumaini berpendapat bahwa ujub itu bukan hanya berkenaan dengan amal salih saja, tapi juga dapat berkenaan dengan amal yang salah. <strong>Kedua<\/strong>, ujub tidak hanya di dalam masalah amal-amal saja tapi juga berada dalam dataran akidah. Kritik <strong>ketiga<\/strong> dari Imam Khumaini adalah tentang perasaan bahagia akan amal salih. Menurut Imam, bahagia dengan amal salih itu boleh-boleh saja untuk orang awam. Tetapi untuk orang yang telah mencapai maqam tertentu, ia tidak akan pernah bahagia dengan amal salihnya. Ia akan selalu merasa bahwa dia tidak berarti apa-apa. Kalaupun ia bisa beramal saleh, itu pun karena anugerah Allah swt. Ia akan selalu merasa kurang akan amal-amalnya.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Ayatullah Ahmad Al-Fahri menulis bahwa yang dimaksud dengan ujub adalah jika manusia telah menganggap dirinya tak memiliki kekurangan lagi. Ia merasa dirinya sudah tak bercacat. Bila ia beribadah, ia merasa ibadahnya sempurna. Ahmad Al-Fahri mengutip hadis dari Imam Musa bin Jakfar as: Beliau pernah memberi nasihat kepada sebagian putranya, \u201cHai anak-anakku. Hendaknya kamu sungguh-sungguh beramal. Janganlah kamu mengeluarkan dirimu dari perasaan kurang. Jangan sampai dirimu tidak merasa bercacat dalam beribadah kepada Allah atau dalam mentaatinya. Karena Allah tidak pernah bisa diibadati dengan ibadat yang sebenar-benarnya. Sampai Nabi saw saja bersabda: Aku belum mengenal-Mu dengan pengenalan yang sebenarnya dan aku belum beribadat kepada-Mu dengan ibadat yang sebenarnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kitab Al-Kafi terdapat sebuah hadis dari Jabir. Jabir meriwayatkan: Berkata Abu Jakfar kepadaku, \u201cYa Jabir, semoga Allah tidak mengeluarkan kamu dari perasaan kurang atau perasaan bersalah.\u201d Berkenaan dengan hal ini, Syeikh Baha\u2019uddin Al-\u2018Amili berkata, \u201cTidak syak lagi. Orang yang beramal salih, baik berpuasa di siang hari dan salat tahajud di malam hari, semua amal itu pastilah menimbulkan rasa bahagia di hatinya. Bila ia merasakan kebahagiaannya sebagai pemberian dari Allah dan nikmat Allah kepadanya, seraya ia takut Allah akan menghilangkan kenikmatan itu darinya, dan ia berharap Allah akan menambahnya; maka tidaklah kita hitung rasa bahagia itu sebagai perasaan ujub. Namun bila orang itu melihat bahwa amal-amal salihnya itu adalah sifatnya; bahwa semua amal salih itu terjadi karena kemauannya; dan dia menganggap amal-amal salihnya telah besar, lalu melihat dirinya sudah tidak mengalami kekurangan lagi, maka masuklah dia ke dalam ujub.\u201d <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ujub sering diartikan sebagai takjub akan amal-amal salih. Namun menurut para ulama, termasuk Imam Khumaini, takjub juga dapat terjadi terhadap amal-amal buruk kita. Orang bisa bangga dengan amal buruknya. Ujub adalah melakukan perbuatan buruk tapi kemudian perbuatan buruk itu dihias sehingga tampak seolah-olah seperti amal yang baik. Ada orang yang jarang salat berjamaah di masjid. &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2257\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Menghapus Amal Dengan\u00a0Ujub&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2802,2808,2800,2791,2801,2804,2792,202,2526,2806,18,19,1759,2805,2796,846,900,2799,2810,2811,2807,2794,2797,70,2809,2798,2241,2795,2793,2803,17],"class_list":["post-2257","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-abu-jakfar","tag-al-majlisi","tag-amal-amal-buruk","tag-amal-amal-salih","tag-anugerah-allah","tag-bangga","tag-hiasan","tag-ibadah","tag-imam-khomeini","tag-jabir","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-kebahagiaan","tag-kemauan","tag-kritik","tag-maqam","tag-nabi-saw","tag-nikmat","tag-perasaan-bersalah","tag-perasaan-ujub","tag-perbuatan-buruk","tag-rasa-kurang","tag-salat-berjamaah","tag-setan","tag-sheikh-bahauddin","tag-sombong","tag-takabur","tag-takjub","tag-ujub","tag-yahudi-umatku","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2257","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2257"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2257\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2260,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2257\/revisions\/2260"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2257"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2257"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2257"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}