{"id":2261,"date":"2025-05-28T01:06:04","date_gmt":"2025-05-28T01:06:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2261"},"modified":"2025-05-28T01:06:04","modified_gmt":"2025-05-28T01:06:04","slug":"kesenangan-dan-kebahagiaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2261","title":{"rendered":"Kesenangan dan Kebahagiaan"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/466-Kesenangan-dan-Kebahagiaan-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2262\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/466-Kesenangan-dan-Kebahagiaan-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/466-Kesenangan-dan-Kebahagiaan-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/466-Kesenangan-dan-Kebahagiaan-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/466-Kesenangan-dan-Kebahagiaan.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Karena kesenangan itu bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan, banyak di antara kita tidak sanggup membedakan di antara keduanya. Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan kata \u201cbahagia\u201d dan \u201csenang\u201d silih berganti seakan-akan keduanya itu padanan kata. Seorang yang sudah kena pukul dipersilakan untuk membalasnya. Setelah ia berhasil memukul balik lawannya, ia ditanya, &#8220;Kamu happy sekarang?\u201d Saya sering mendengar pembicara memanggil para pendengarnya dengan ucapan; \u201cPara pendengar yang berbahagia!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p id=\"cdo8h\">Untuk bahagia memang kita memerlukan banyak kesenangan; tetapi orang yang sedang menikmati kesenangan belum tentu bahagia. Betapa banyaknya orang yang tertawa terbahak-bahak untuk menyembunyikan kemelut hatinya. Betapa banyaknya orang yang merasa senang ketika menari di fantai dansa; padahal mereka menyimpan luka yang parah dalam hatinya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"5h08u\">Orang bahagia pasti senang tetapi tidak semua yang senang pasti bahagia. Apa yang membedakan kesenangan dengan kebahagiaan. \u201cKesenangan\u201d kata Norman E. Rosenthal dalam <em>The Emotional Revolution,<\/em> \u201cadalah pengalaman sekilas, yang berkaitan dengan ganjaran tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"bvmjm\">Kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lebih lama, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Orang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam pada itu, kesenangan tidak membawa kepada kebahagiaan bila tidak sejalan dengan, atau bertentangan dengan,tujuan seseorang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p id=\"847t7\">Kesenangan adalah emosi positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, arus <em>neurolransmitter<\/em>, atau mekanisme hormonal. Karena itu, Anda bisa menikmati kesenangan dengan merangsang salah satu bagian otak yang seringdisebut \u201cpusat kesenangan\u201d <em>(pleasure center).<\/em> Tanamkanlah sebuah elektroda pada <em>hypothalamus<\/em>. Rangsanglah secara elektrik dan dopamin akan terbersit dengan deras. Dopamin adalah sejenis zat Kimia yang dikeluarkan neuronu ntuk menimbulkan rasa senang atau rasa enak. Walhasil, kita dapat merasa senang dengan melakukan stimulasi otak. Rasa senang karena stimulasi ini disebut <em>brain stimulation reward <\/em>(BSR). Marilah kita ikuti sebentar proses BSR ini:<\/p>\n\n\n\n<p id=\"dghav\">Manusia, monyet, atau tikus dapat merangsang dirinya dengan elektroda yang ditanamkan secara permanen pada tempat yang tepat dalam otak. Misalnya, tikus laboratorium merangsang dirinya 3000 kali dalam satu jam untuk memperoleh stimulasi otak selama setengah detik melalui elektroda pada <em>hypothalamus<\/em>. Inilah bagian dari sistern pengendali selera. Tikus akan juga merangsang dirinya untuk meningkatkan hasrat seksual.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"bm2rs\">Dalam sistem makan,stimulasi elektris yang dilakukan terus-menerus selama satu menit, dapat menimbulkan selera makan begitu rupa sehingga tikus segera memakan rakus semua makanan yang tersedia di sekitarnya. Jika sistem seks dirangsang, ia akan melakukan kopulasi apabila ada pasangan yang siap di sekitamya. Dalarn kedua kasus ini, jika rangsangan elektrik yang menimbulkan impuls saraf terjadi hanya setengah detik (bukan satu menit). Maka hewan itu mengabaikan makanan, tidak mempedulikan pasangannya, dan melakukan apa saja yang sudah pernah ia pelajari untuk memperoleh lebih banyak stimulasi. Jadi tikus-tikus itu tampak berjingkat-jngkat atau menekan tombol 3000 kali dalam satu jam. Mengapa?<\/p>\n\n\n\n<p id=\"2lg48\">Tampaknya efek stimulasidiri pada sistem saraf sama seperti makan atau seks, Anda dapat menganggapnya sebagai &#8220;makanan elektrik&#8221; atau \u201cseks elektrik&#8221; dalam pengertian bahwa stimulasi itu mengaktifkan secara langsung sistem peneguhan. Sebagaimana yang mungkin sudah Anda duga, stimulasi diri elektrik. pada <em>hypothalamus<\/em> mengaktifkan saluran yang mengeluarkan dopamin.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"8tf6e\">Kesenangan dapat ditimbulkan dengan rangsangan elektrik pada hipotalamus; tetapi kebahagiaan tidak. Binatang seperti tikus dan monyet dapat merasakan kesenangan, tetapi tidak akan pernah mengalami kebahagiaan. Walaupun begitu, manusia memerlukan berbagai kesenangan untuk meraih kebahagiaan. Karena manusia diberi anugerah akal, ia harus memilih kesenangan mana yang dapat membawanya kepada kebahagiaan dan kesenangan mana yang justruakan membuatnya tidak bahagia. <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karena kesenangan itu bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan, banyak di antara kita tidak sanggup membedakan di antara keduanya. Dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan kata \u201cbahagia\u201d dan \u201csenang\u201d silih berganti seakan-akan keduanya itu padanan kata. Seorang yang sudah kena pukul dipersilakan untuk membalasnya. Setelah ia berhasil memukul balik lawannya, ia ditanya, &#8220;Kamu happy sekarang?\u201d Saya sering &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2261\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Kesenangan dan Kebahagiaan&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[18,19,17],"class_list":["post-2261","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2261"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2261\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2263,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2261\/revisions\/2263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}