{"id":2304,"date":"2025-06-14T17:03:25","date_gmt":"2025-06-14T17:03:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2304"},"modified":"2025-06-14T17:03:25","modified_gmt":"2025-06-14T17:03:25","slug":"amirul-muminin-imam-ali-bin-abi-thalib-as","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2304","title":{"rendered":"Amirul Mu\u2019minin Imam Ali bin Abi Thalib as."},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/479-Amirul-Muminin-Imam-Ali-bin-Abi-Thalib-as-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2305\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/479-Amirul-Muminin-Imam-Ali-bin-Abi-Thalib-as-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/479-Amirul-Muminin-Imam-Ali-bin-Abi-Thalib-as-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/479-Amirul-Muminin-Imam-Ali-bin-Abi-Thalib-as-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/479-Amirul-Muminin-Imam-Ali-bin-Abi-Thalib-as.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila Anda membaca beberapa kitab, Anda akan menemukan banyak riwayat yang menyebutkan tentang hari kesyahidan Imam Ali. Riwayat yang paling masyhur adalah pada tanggal 19 Ramadhan. Ketika beliau sedang shalat subuh, Abdurrahman bin Muljam menebaskan pedangnya dari belakang tepat mengenai kepala beliau. Beliau lantas tersungkur di mihrabnya. Beberapa hari setelah itu, tepatnya pada tanggal 21 Ramadhan, Imam Ali menghembuskan nafasnya yang terakhir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Ali adalah tokoh besar di kalangan kaum Muslimin, yang oleh George Jordac disebut sebagai \u201cSuara Keadilan Umat Manusia\u201d. Gibson \u2013salah seorang sejarawan yang banyak menulis buku, salah satu bukunya adalah Kejatuhan Romawi- berkata tentang Imam Ali, \u201cAli adalah pahlawan yang dianugerahi oleh Allah kepiawaian dalam bermain pedang dan kepiawaian (kefasihan) dalam menggunakan bahasa.\u201d Agak jarang hal ini terjadi. Kebanyakan prajurit yang tangguh adalah orang yang memiliki otot yang kuat, tetapi otak yang kecil. Atau orang yang memiliki otak yang cerdas, umumnya mempunyai otot yang kecil. Imam Ali adalah orang yang menggabungkan kedua-duanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak perlu kita mengisahkan secara panjang tentang kepiawaian Imam Ali dalam bermain pedang ini. Kita sudah mengetahuinya semua. Tidak ada seorang musuh pun yang melakukan perang tanding berhadapan dengan Imam Ali kembali dalam keadaan hidup, kecuali kalau Imam Ali melepaskannya dari cengkeraman maut. Dalam satu peperangan, ketika Imam Ali maju menantang untuk bertarung dengannya, Mu\u2019awiyah yang memimpin pasukan yang lain meminta agar Amr bin Ash menghadapinya. Amr bi Ash mengatakan, \u201cMestinya Anda yang menghadapi dia.\u201d Lalu Mu\u2019awiyah berkata, \u201cDemi Allah, Anda pun tahu, tidak seorang pun menghadapi Ali kembali dalam keadaan hidup.\u201d Akhirnya Amr bin Ash pergi juga menghadapi Ali. Dan Amr bin Ash pun memang roboh. Tetapi ketika Imam Ali hendak memberikan pukulan terakhir, Amr bin Ash membuka auratnya dan Imam Ali membalikkan wajahnya meninggalkan Amr bin Ash dalam keadaan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Ali sering disebut dengan doa di belakang namanya \u201c<em>karramallahu wajhahu<\/em>\u201d (semoga Allah memuliakan wajahnya), karena beliau tidak pernah mau memandang aurat, bahkan menurut sebagian riwayat, auratnya sendiri. Bandingkan dengan mereka yang mengaku sebagai pengikut Imam Ali, tetapi menonton pertunjukan aurat \u2013itu pun kadang dengan membayar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para jago perang di seluruh dunia memanggil nama Imam Ali sebagai sumber keberanian perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau Imam Ali ternyata ditebas pedang dan disebut \u201ckalah\u201d, itu pun ketika beliau sedang melakukan shalat subuh dan diserang dari belakang. Tidak pernah ada luka di bagian depan tubuh Imam Ali. Kebanyakan lukanya karena orang menyerangnya dari belakang. Seperti diramalkan Rasulullah saw, ketika turun ayat Al-Quran Surah Al-Syams, Allah mengingatkan, \u201cKetika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah berkata kepada umatnya, \u201cPeliharalah unta betina Allah itu dan air minumnya, lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka. Dan Allah tidak takut terhadap akibatnya.\u201d (QS. Al-Syams [91]:12-14). Rasulullah menyebutnya, \u201c<em>Asyq\u00e2 al-Awwal\u00een<\/em>\u201d (orang yang paling celaka pada zaman dahulu), tahukah kamu \u201c<em>Asyq\u00e2 al-\u00c2khir\u00een<\/em>\u201d yaitu orang yang paling celaka dari umat yang akan datang? Orang itu adalah orang yang membasahi janggut Abu Al-Hasan \u2013panggilan Imam Ali- dengan darahnya.\u201d Jadi Abdurrahman bin Muljam adalah \u201c<em>Asyq\u00e2 al-\u00c2khir\u00een<\/em>\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Syafi\u2019i \u2013pemimpin mazhab besar khususnya bagi orang Muslim di Indonesia- pernah berkata, \u201cAku takjub menyaksikan seorang tokoh, yang keutamaannya disembunyikan oleh musuh-musuhnya karena kedengkian, dan keutamaannya disembunyikan oleh pecintanya karena ketakutan, tetapi darinya keluar kumpulan hadits yang memenuhi satu kitab.\u201d Jadi keutamaan Imam Ali oleh para musuh-musuhnya disembunyikan karena dengki. Kadang-kadang dengan memindahkan hadits-hadits keutamaan Imam Ali kepada sahabat-sahabat yang lain. Al-Shiddiq, yang semula gelar Imam Ali pindah ke sahabat yang lain. AL-Faruq, yang semula juga adalah gelar Imam Ali pindah juga kepada sahabat yang lain. Dzun al-Nurayn, pindah dari Imam ke sahabat yang lain. Banyak gelar Imam Ali dipindahkan oleh musuh-musuhnya untuk menutupi keutamaan Imam Ali karena kedengkian musuh-musuhnya. Dan pecintanya menyembunyikan keutamaan Imam Ali, karena ketakutannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Turmudzi sempat mengumpulkan hadits tentang keutamaan Imam Ali, yang diberi nama Man\u00e2qib Imam Ali, satu jilid besar. Ketika dia sampai di suatu daerah di Iran zaman dahulu, orang-orang mengetahui bahwa beliau mengumpulkan hadits-hadits tentang keutamaan Imam Ali. Mereka mengelilinginya lalu bertanya padanya, \u201cKatanya, engkau mengumpulkan hadits-hadits tentang keutamaan Imam Ali, coba sebutkan hadits-hadits yang mengatakan keutamaan Mu\u2019awiyah.\u201d Turmudzi menjawab, \u201cSaya belum menemukan hadits tentang keutamaan Mu\u2019awiyah kecuali satu saja.\u201d Ketika didesak supaya yang satu itu pun disebutkan, Turmudzi lalu mengatakan, \u201cSuatu hari Rasulullah saw menyuruh Abdullah bin Abbas memanggil Mu\u2019awiyah. Ibnu Abbas pergi dan tidak lama dia balik lagi memberitahu kepada Nabi bahwa Mu\u2019awiyah sedang makan. Kali yang kedua, Rasulullah menyuruhnya untuk memanggilnya lagi dan Mu\u2019awiyah sedang makan. Sampai ketiga kalinya, Mu\u2019awiyah tidak bisa datang karena sedang makan. Waktu itulah Rasulullah mendoakan Mu\u2019awiyah, \u201cMudah-mudahan Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya\u201d. Itu satu-satunya hadis tentang keutamaan Mu\u2019awiyah. Memang kelak sesudah itu, Mu\u2019awiyah meninggal dunia karena kekenyangan. Mendengat hadits yang menyebutkan Mu\u2019awiyah seperti itu, massa ramai-ramai menghakimi Turmudzi. Dia diinjak-injak \u2013maaf- bahkan pada bagian vitalnya. Kemudian Turmudzi diangkut dan meninggal di suatu tempat yang bernama Rey, yang sekarang bernama Teheran. Turmudzi wafat lantaram meriwayatkan keutamaan Mu\u2019awiyah dan keutamaan Imam Ali dengan cara yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, dahulu orang-orang takut meriwayatkan keutamaan Imam Ali. Saking takutnya. Sampai ada seorang ahli hadits di Kufah, ketika meriwayatkan hadits dan harus menyebutkan sanadnya \u2013diterima dari siapa hadits itu- sampai kepada Imam Ali, dia tidak menyebutkan nama Imam Ali tetapi dia menyebutkan \u201can Abi Zainab\u201d, dari Bapak Zainab. Orang-orang pun penasaran siapa Abi Zainab itu? Ahli hadits itu tidak pernah memberitahukan kecuali menjelang akhir hayatnya. Dia katakan bahwa Abu Zainab yang dimaksud adalah Imam Ali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada juga seorang ahli ilmu yang kebetulan diberi nama oleh ayahnya dengan nama Ali. Tetapi karena dia dibenci banyak orang lantaran namanya, dan khawatir diadili, dia mengganti namanya menjadi \u201cUli\u201d. Tulisannya masih tetap dengan huruf \u2018ain, lam, ya, tetapi di atas huruf \u2018ain dia tulis dhommah dan menjadi \u2018Uli.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Ali adalah imam yang paling menderita. Beliau sering dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri. Beliau dimusuhi oleh sesama kaum Muslimin, sehingga dalam doa ziarah kepadanya, kita mengucapkan, \u201cWahai Imam, engkau telah dikhianati&#8230;\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tidak ingin menceritakan penderitaan Imam Ali kecuali sedikit saja. Imam Ali adalah pemimpin yang \u201ckesepian\u201d, karena kepandaiannya. Sementara kecenderungan umatnya waktu itu cenderung mengikuti orang-orang bodoh. Dalam setiap zaman, memang kebanyakan orang cenderung mengikuti orang yang bodoh. Mereka mengikuti para pendongeng. Padahal Imam Ali \u2013yang disebut oleh salah seorang penulis dari Malaysia sebagai \u201cSeorang Intelektual Muslim Pertama\u201d- amatlah cerdas dan sekaligus cemas melihat umatnya lebih terpengaruh oleh para pendongeng. Beliau cemas lantaran melihat umatnya lebih mau bertanya kepada orang-orang yang dalam keilmuannya masih dangkal, bahkan pertemuannya dengan Rasulullah pun masih diragukan. Saking cemasnya, sampai-sampai Imam Ali berkata di hadapan jamaahnya, \u201cTanyakan aku sebelum kalian kehilangan aku. Aku mengetahui Al-Quran itu, apakah turun di lembah atau di bukit.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Ali adalah imam yang fasih berbicara tetapi tidak pernah mengumbar kata-kata yang tidak perlu. Setiap ucapannya sangat bernilai. Pendek-pendek, puitis dan berbobot. Misalnya, \u201c<em>Athi\u2019il \u00e2qila taghnam, wa\u2019shil j\u00e2hila taslam<\/em>\u201d. Artinya, \u201cTurutilah orang yang pintar nanti kamu beruntung, dan bantahlah orang yang bodoh nanti kamu selamat.\u201d Atau ucapan beliau yang lain, \u201c<em>Man s\u00e2\u2019a tadb\u00eeruhu, ta\u2019ajjala tadm\u00eeruhu<\/em>\u201d, artinya \u201cBarangsiapa yang perencanannya jelek, pasti cepat kehancurannya.\u201d Kalimat pendek dari Imam Ali, tetapi amat berisi ini dapat dijumpai dalam buku khusus. Buku yang mengumpulkan kata-kata hikmah Imam Ali itu bernama Ghurar al-Hikam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Ali adalah orang yang paling tahu bahwa dari dahulu orang lebih senang kepada yang dangkal-dangkal saja. Orang Arab yang baru lepas dari zaman kejahilan lebih senang dengan kebodohan ketimbang ilmu pengetahuan. Karena itu, kepada para pengikutnya Imam Ali berwasiat agar selalu mencintai ilmu pengetahuan. Ketika hendak memerangi orang-orang Khawarij, Imam Ali lebih dahulu mengajak mereka dialog untuk memelihara darah kaum Muslimin. Kemudian orang Khawarij mengutus tujuh orang untuk bertanya kepada Imam Ali dengan satu pertanyaan saja. Mana yang lebih utama ilmu atau kekayaan? Orang yang pertama datang, dan dijawab Imam Ali, \u201cIlmu itu lebih utama, karena ilmu itu menjaga kamu, sementara kamu menjaga harta.\u201d Yang kedua datang dengan pertanyaan sama, lalu dijawab oleh Imam Ali, \u201cIlmu itu lebih utama, karena ilmu akan bertambah bila dibagi-bagikan, sementara harta akan habis bila dibagi-bagikan.\u201d Sampai orang yang ketujuh bertanya dengan pertanyaan yang sama, sementara Imam Ali menjawab dengan tujuh macam jawaban yang berbeda. Akhirnya orang Khawarij ini takjub karenanya, mereka pun memutuskan, \u201cOrang semacam ini jangan diajak berdialog, tetapi harus diajak berperang saja.\u201d Lalu terjadilah perang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, Imam Ali sangat menekankan akan pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau ingin para pengikutnya menjadi pecinta-pecinta ilmu pengetahuan. Memang untuk penjadi pecinta ilmu pengetahuan dibutuhkan ketekunan dan kesabaran. Dalam Al-Quran kita tidak boleh membeda-bedakan manusia kecuali karena ilmunya. \u201cApakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu\u2026\u201d (QS. Al-Zumar [39]:9). Dan dalam hadits disebutkan bahwa, \u201cMemandang wajah orang yang berilmu itu adalah ibadah\u201d. Itulah ajaran Islam yang mendidik kita untuk mencintai ilmu pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya pernah menyebutkan bahwa mazhab Ali adalah mazhab cinta. Sekarang saya ingin mengatakan juga bahwa mazhab Ali adalah mazhab ilmu. Sepanjang sejarah, bila Anda membaca tulisan Sayyid Baqir Shadr, banyak tokoh ilmu pengetahuan dunia sepanjang sejarah Islam berasal dari para pengikut Imam Ali. Jabir bin Hayyan yang kelak menjadi tokoh fisika, seorang ahli optik, adalah pengikut Imam Ali. Ibnu Sina, seorang tokoh kedokteran dan tokoh ilmu pengetahuan adalah salah seorang pengikut Imam Ali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika dunia Islam mengalami kehancuran akibat serangan tentara Mongol, ada sekelompok orang Islam yang mengadakan semacam tarekat secara sembunyi-sembunyi. Mereka menyebut dirinya Ikhwan al-Shafa. Di dalam Ikhwan al-Shafa, mereka mempelajari filsafat Yunani dan memperlajari ilmu pengetahuan dan menemukan penemuan-penemuan baru dalam sains dan teknologi. Mereka ini adalah para pecinta Imam Ali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sepanjang sejarah para pecinta Imam Ali adalah pecinta ilmu pengetahuan. Imam Ali memang meminta para pengikutnya untuk mencintai ilmu pengetahuan dan menjauhi kebodohan. Menurut Imam Ali, kalau manusia di dunia tidak merasa puas dengan kebodohan, pastilah orang itu akan menjadi orang shaleh. Karena itu juga, dalam mazhab Imam Ali, untuk acara-acara keagamaan, seperti Nisfu Sya\u2019ban, malam Laytlat al-Qadr, dan acara-acara keagamaan yang lain, diharuskan adanya majelis ilmu disamping majelis zikir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200b<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya mengakhiri pembahasan ini dengan sebuah ucapan singkat dari Imam Ali, \u201cAl-\u2018ilmu yunj\u00eeka, wa al-jahlu yurd\u00eeka\u201d, artinya, \u201cIlmu itu menyelamatkanmu dan kebodohan itu menjatuhkanmu.\u201d <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>*) Dikutip dari tulisan Mengenang syahadah Amirul Mu&#8217;minin Imam &#8216;Ali bin Abi Thalib as. <\/strong><strong><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bila Anda membaca beberapa kitab, Anda akan menemukan banyak riwayat yang menyebutkan tentang hari kesyahidan Imam Ali. Riwayat yang paling masyhur adalah pada tanggal 19 Ramadhan. Ketika beliau sedang shalat subuh, Abdurrahman bin Muljam menebaskan pedangnya dari belakang tepat mengenai kepala beliau. Beliau lantas tersungkur di mihrabnya. Beberapa hari setelah itu, tepatnya pada tanggal 21 &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2304\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Amirul Mu\u2019minin Imam Ali bin Abi Thalib as.&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3007,3016,3011,3005,1385,3009,3015,2081,2765,2701,2187,2582,866,3014,3012,3008,3006,3010,3013,2568,2762,2752,3004,185,17],"class_list":["post-2304","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-cinta-ilmu","tag-cinta-keadilan","tag-hari-kesyahidan","tag-ilmu-pengetahuan","tag-imam-ali","tag-inspirasi","tag-kata-kata-hikmah","tag-keadilan","tag-keberanian","tag-kebijaksanaan","tag-kehidupan","tag-kehormatan","tag-kepemimpinan","tag-kesepian","tag-nasihat","tag-pahlawan","tag-pemimpin-ideal","tag-pencerahan","tag-pengikut-imam-ali","tag-pengkhianatan","tag-perjuangan","tag-sejarah-islam","tag-suara-keadilan","tag-umat-manusia","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2304","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2304"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2304\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2306,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2304\/revisions\/2306"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}