{"id":2351,"date":"2025-07-19T04:25:56","date_gmt":"2025-07-19T04:25:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2351"},"modified":"2025-07-19T04:25:56","modified_gmt":"2025-07-19T04:25:56","slug":"komunikasi-yang-beradab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2351","title":{"rendered":"KOMUNIKASI YANG BERADAB"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/508-Komunikasi-Yang-Beradab-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2352\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/508-Komunikasi-Yang-Beradab-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/508-Komunikasi-Yang-Beradab-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/508-Komunikasi-Yang-Beradab-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/508-Komunikasi-Yang-Beradab.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ini kisah Salman Rushdie. Setelah lama bersembunyi, dia diwawancarai wartawan. Dia ditanya apakah tidak pernah takut akan dibunuh orang? &#8220;Tentu saja tidak,&#8221; kata Rushdie. Tiba-tiba di luar kedengaran derit ban mobil yang direm dan ledakan knalpot. Ada mobil yang naik ke trotoar. Wajah Rushdie pucat pasi. Bila pesan verbal (kata-kata) bertentangan dengan pesan nonverbal (bukan kata- kata), maka kita hanya memercayai pesan nonverbal. Wartawan itu tentu saja lebih percaya pada wajah Rushdie daripada kata-katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Alkisah, seorang wartawan Indonesia meminta maaf kepada para pembaca. Dia telah menyinggung perasaan-beragama umat Islam. Apakah dia dipercaya atau tidak bergantung pada pesan nonverbal yang disampaikannya. Bila dia menunjukkan ekspresi dingin, tanpa merasa menyesal, jangan salahkan umat Islam kalau mereka tidak memercayainya. Apalagi bila ekspresi tanpa sesal itu diperkuat dengan pernyataan bahwa umat Islam menafsirkan berita itu secara keliru. Dia berdalih bahwa pemberitaan itu dilakukan sebagai humor saja, hanya guyonan.<\/p>\n\n\n\n<p>Komunikator harus hati-hati dalam merancang pesan verbal dan nonverbalnya. Walaupun tidak mungkin kita dapat meramalkan secara persis penafsiran pembaca tentang pesan yang kita sampaikan, kita harus selalu memperhitungkan karakteristik khalayak. Bukan saja tingkat pendidikannya dan penghasilannya, tetapi juga nilai-nilai, norma, dan pandangan hidup mereka. Dalam komunikasi yang dialogis, komunikator harus memperlakukan khalayaknya sebagai mitra yang setara, bukan objek untuk dimanipulasi. Hubungan kita dengan para pembaca adalah hubungan &#8220;Aku-Anda&#8221; (<em>I-Thou relationships<\/em>), bukan hubungan &#8220;Aku-Objek&#8221; (<em>I-It relationships<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Pada hubungan yang <em>pertama<\/em>, kita mengakui jati diri orang lain; kita menghargai apa yang mereka hargai. Kita berempati dan berusaha memahami realitas dari perspektif mereka. Pengetahuan kita tentang khalayak bukanlah dimaksudkan untuk &#8220;menipu&#8221; mereka, tetapi untuk memahami mereka, bernegosiasi dengan mereka, dan bersama-sama memuliakan kemanusiaan kita. Inilah komunikasi yang beradab.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada hubungan <em>kedua<\/em>, kita tidak memedulikan orang lain. Kita melihat khalayak sebagai &#8220;ikan-ikan&#8221; bebal yang harus kita pancing dengan berbagai teknik. Khalayak hanyalah sejumlah angka yang dapat dikonversikan menjadi benda-benda materi yang kita perlukan. Persetan dengan perasaan mereka, nilai-nilai mereka, dan kehormatan mereka. Dengan mempersetankan mereka, kita bukan saja mendehumanisasikan mereka, tetapi juga diri kita. Kalau kemudian mereka bereaksi dengan keras dan mengancam kita, janganlah serta-merta menuduh mereka sudah kesetanan. Jangan menuduh mereka tidak menghargai pendapat kita, sebab kita pun tidak menghargai nilai-nilai mereka. Pendapat hanya bagian periferal dari kepribadian kita, sedangkan nilai adalah jati diri kita, eksistensi kita, &#8220;aku&#8221; ideal kita. Ironis sekali bahwa kita sering menuntut orang menghargai pendapat kita, tetapi kita tidak menghormati nilai-nilai mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Komunikasi jenis <em>kedua<\/em> itu memang biadab, tetapi secara komersial lebih menguntungkan. Ketika bisnis pers hanya mengejar keuntungan, mereka melupakan komunikasi yang ideal. Kadang-kadang pelajaran pahit diperlukan untuk mengingatkan mereka. Salman Rushdie bukan korban fanatisme agama. Dia korban dari komunikasi yang dilakukannya sendiri. Mengapa kita tidak belajar dari Rushdie? <strong>JR <\/strong><em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ini kisah Salman Rushdie. Setelah lama bersembunyi, dia diwawancarai wartawan. Dia ditanya apakah tidak pernah takut akan dibunuh orang? &#8220;Tentu saja tidak,&#8221; kata Rushdie. Tiba-tiba di luar kedengaran derit ban mobil yang direm dan ledakan knalpot. Ada mobil yang naik ke trotoar. Wajah Rushdie pucat pasi. Bila pesan verbal (kata-kata) bertentangan dengan pesan nonverbal (bukan &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2351\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;KOMUNIKASI YANG BERADAB&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2666,3275,18,3281,19,645,3276,3272,3284,3278,3283,3280,3277,3282,3279,3274,3273,17],"class_list":["post-2351","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-empati","tag-hubungan-aku-anda","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-jati-diri","tag-katakangjalal","tag-kemanusiaan","tag-khalayak","tag-komunikasi-beradab","tag-komunikasi-biadab","tag-komunikasi-yang-ideal","tag-korban-fanatisme","tag-menghargai-pendapat","tag-negosiasi","tag-nilai-nilai","tag-pelajaran-pahit","tag-pesan-nonverbal","tag-pesan-verbal","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2351","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2351"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2351\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2353,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2351\/revisions\/2353"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2351"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2351"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2351"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}