{"id":2496,"date":"2025-10-14T15:59:15","date_gmt":"2025-10-14T15:59:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2496"},"modified":"2025-10-14T15:59:15","modified_gmt":"2025-10-14T15:59:15","slug":"teori-teori-monitor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2496","title":{"rendered":"TEORI-TEORI MONITOR"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/550-TEORI-TEORI-MONITOR--1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2497\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/550-TEORI-TEORI-MONITOR--1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/550-TEORI-TEORI-MONITOR--300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/550-TEORI-TEORI-MONITOR--150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/550-TEORI-TEORI-MONITOR-.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Manusia adalah homo sapiens, makhluk yang selalu ingin tahu. Anda tidak pernah menerima stimulus secara pasif. Anda selalu berusaha memberi makna kepada stimulus yang Anda terima. Anda selalu terpanggil untuk merumuskan teori yang dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa di sekitar Anda. Satu peristiwa dapat dijelaskan dengan teori yang bermacam-macam; bergantung pada latar belakang sosio-psikologis perumusnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Marilah kita lihat bagaimana peristiwa tabloid <em>Monitor<\/em> ditafsirkan dengan berbagai teori. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. bukan pertama kali ini. <em>Tempo doeloe<\/em> ada surat kabar di Solo yang menyebut Nabi Muhammad saw. sebagai pemabuk. Kaum Muslim marah, tetapi tidak sehebat sekarang ini. Lalu, pada zaman Orla, Ki Panji Kusmin melukiskan Nabi Muhammad saw. meminta izin kepada Tuhan\u2014yang dilukiskan sudah tua dan berkaca\u2014mata untuk cuti ke bumi. Ia naik pesawat dan mendarat di Planet Senen Jakarta. Umat Islam bereaksi, tetapi tidak sekeras seperti sekarang ini. H.B. Jassin, penanggungjawab majalah yang memuat tulisan itu, hanya dihukum dua tahun. Apa yang menyebabkan kemarahan umat Islam sekarang ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Dari berbagai media kita mendengar atau membaca beberapa teori. <em>Pertama<\/em>, <em>teori inferioritas<\/em>. Ini teori Gus Dur. Menurut Gus Dur, kasus <em>Monitor<\/em> memang kasus-gila; tetapi orang Islam yang marah juga gila-kasus. Mereka beringas karena mereka menderita rasa rendah diri dalam menghadapi umat lain. Mereka cemas menghadapi modernisasi. Mereka merasa terpojok. Karena itu umat Islam sekarang menjadi <em>oversensitif<\/em> \u2014 mudah tersinggung. Reaksi kaum Muslim sekarang ini dipandang Gus Dur merusak citra Islam sebagai agama rahmat, agama cinta, dan agama kebebasan.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Teori kedua<\/em>\u2014sebut saja\u2014<em>teori identitas <\/em>dari John Naisbitt, penulis Megatrends 2000. Serbuan dan globalisasi budaya Barat menimbulkan reaksi balik: setiap komunitas ingin menegaskan identitas komunitasnya. Seruan Ayyatullah Khomeini untuk menghukum Salman Rushdie adalah upaya untuk menegakkan identitas Islam. Kasus Salman Rushdie hanyalah\u2014mengutip Naisbitt \u2014&#8221;<em>only the tip of the iceberg<\/em> (puncak dari gunung es). Kebangkitan umat Islam adalah upaya menegakkan identitas kultural umat dalam menghadapi imperialisme kultural Barat. Bagi umat Islam, Nabi Muhammad saw. adalah identitas Islam. Perilakunya adalah sunnah yang menjadi panutan; namanya saja\u2014seperti diungkapkan dalam shalawat adalah darah dan jantungnya ibadah Islam. Serangan terhadap Nabi Muhammad saw. adalah serangan terhadap bangunan Islam. Ketika kaum Muslim di Indonesia sedang berjuang menegakkan identitas Islam, <em>Monitor<\/em> malah merendahkan Nabi Muhammad saw. pada peringkat kesebelas. Karena itu, mereka murka.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Teori<\/em> <em>ketiga<\/em> datang dari kawan saya, ahli sejarah yang tidak mau disebutkan namanya. Sebutlah ini <em>teori makar<\/em>. Kasus <em>Monitor<\/em> hanyalah satu langkah dari sejumlah langkah untuk mendiskreditkan Islam dan umatnya. Mula-mula dimasukkan jurnalisme <em>ther<\/em> dan <em>serr<\/em> untuk merusak akhlak, kemudian kehidupan mewah dan glamor untuk meningkatkan pola hidup konsumtif yang menghancurkan ekonomi, dan akhirnya merendahkan Nabi Muhammad saw. untuk menghancurkan akidah umat. Ketika saya tanya, makar siapa; ia tidak menjawab.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja mengemukakan teori boleh-boleh saja. Kita mempunyai hak untuk menolak atau menerimanya. Kawan saya yang lain, seorang Kiai, menolak semua teori itu. Ini semua terjadi karena kehendak Allah. <em>Monitor<\/em> hanyalah wasilah untuk mewujudkan kehendak-Nya di bumi. <em>&#8220;Wa makaru wa makarallah. Wallahu khayrul makirin,&#8221;<\/em> katanya sembari mengutip ayat Al- Quran. <strong>JR <\/strong>\u2014 <em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manusia adalah homo sapiens, makhluk yang selalu ingin tahu. Anda tidak pernah menerima stimulus secara pasif. Anda selalu berusaha memberi makna kepada stimulus yang Anda terima. Anda selalu terpanggil untuk merumuskan teori yang dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa di sekitar Anda. Satu peristiwa dapat dijelaskan dengan teori yang bermacam-macam; bergantung pada latar belakang sosio-psikologis perumusnya. Marilah kita &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2496\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;TEORI-TEORI MONITOR&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3782,3786,3783,18,2485,3790,19,3789,3792,3781,2564,3780,3787,3784,3785,3788,3791,17],"class_list":["post-2496","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-gus-dur","tag-homo-sapiens","tag-imperialisme-kultural-barat","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-john-naisbitt","tag-jurnalisme-ther-dan-serr","tag-katakangjalal","tag-kebangkitan-islam","tag-oversensitif","tag-penghinaan-nabi-muhammad-saw","tag-sunnah","tag-tabloid-monitor","tag-teori-identitas","tag-teori-inferioritas","tag-teori-makar","tag-wa-makaru-wa-makarallah","tag-wasilah","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2496","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2496"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2496\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2498,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2496\/revisions\/2498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2496"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2496"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2496"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}