{"id":2511,"date":"2025-10-24T15:07:03","date_gmt":"2025-10-24T15:07:03","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2511"},"modified":"2025-10-24T15:07:03","modified_gmt":"2025-10-24T15:07:03","slug":"spiritual-quotient-sq-psikologi-dan-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2511","title":{"rendered":"SPIRITUAL QUOTIENT (SQ): PSIKOLOGI DAN AGAMA"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/555-SPIRITUAL-QUOTIENT-SQ-PSIKOLOGI-DAN-AGAMA-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2512\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/555-SPIRITUAL-QUOTIENT-SQ-PSIKOLOGI-DAN-AGAMA-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/555-SPIRITUAL-QUOTIENT-SQ-PSIKOLOGI-DAN-AGAMA-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/555-SPIRITUAL-QUOTIENT-SQ-PSIKOLOGI-DAN-AGAMA-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/555-SPIRITUAL-QUOTIENT-SQ-PSIKOLOGI-DAN-AGAMA.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Perhaps the time is now ripe when the mystics can break the glass through which he sees all things darkly, and the rationalist can break the glass through which he sees all things clearly, and both together can enter the kingdom of psychological reality.-N. Brown<\/em> (1959, hlm. 34)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama beberapa bulan setelah aku menggunakan LSD untuk pertama kalinya, aku yakin aku telah menemukan rahasia alam semesta. Aku juga reinkarnasi dari sekaligus Buddha dan Kristus. Pada tahap yang paling akut, yang berlangsung satu minggu, tidurku kurang dan aku mengobrol dengan &#8216;arwah&#8217; para pemikir besar dalam ilmu sosial dan humaniora, seperti Laing, Margaret Mead, dan Bob Dylan, begitu pula dengan orang-orang yang telah mati, seperti Rousseau, Freud, Jung, dan tentu saja dengan Buddha dan Kristus. Aku berharap &#8216;Kitab Suciku&#8217; setebal 47 halaman, hasil diskusiku dengan mereka, dapat mempersatukan bangsa-bangsa seluruh dunia dalam proyek membangun masyarakat baru. Aku kirimkan fotokopi buku ini kepada kawan-kawan dan kerabat karib agar mereka tercerahkan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Gagasan besarku kedengarannya seperti gagasan pembentukan masyarakat komunal utopis tahun &#8216;enam puluhan.&#8217; Kembali pada kehidupan kesukuan (tribal living). Akan tetapi, aku habiskan berbulan-bulan sibuk dengan misi untuk mengubah dunia melalui penyebaran &#8216;Kitab Suci&#8217;-ku. Ketika akhirnya jelas bahwa tidak seorang pun mau menerimaku sebagai nabi baru, aku pergi menyendiri di rumah musim panas kepunyaan orangtuaku di Cape Cod. Waktu itu permulaan musim semi. Tidak banyak orang. Aku tidak lagi dalam keadaan psikotis, tetapi aku menderita depresi berat dan sakit secara fisik: pendarahan di dalam. Aku benar-benar ingin bunuh diri. Bayangan yang aku anggap sebagai kerangkaku muncul di hadapanku pada beberapa malam ketika aku tidak bisa tidur.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Pada puncak penderitaanku itu, ketika aku berjalan-jalan di tepi pantai, aku terkejut mendengar suara: &#8216;Jadilah pengobat! Pada saat itu, ketika aku tenggelam dalam perasaan bersalah dan malu karena keyakinanku dan kegiatanku yang aneh belakangan ini, aku sudah yakin bahwa aku sudah tidak mempunyai masa depan lagi. Namun, suara itu\u2014satu-satunya suara yang pernah kudengar dari seseorang yang tidak tampak di luar diriku \u2014 akhirnya memberikan panggilan hidup kepadaku untuk memasuki profesi psikologi klinis. Setelah mengikuti pelatihan <em>group encounter<\/em> dan terapi berkelompok, aku bekerja di rumah sakit psikiatri dan kemudian melamar ke fakultas pascasarjana di bidang psikologi. Aku juga belajar analisis Jung selama empat setengah tahun. Lalu, aku belajar kepada para shaman dan dukun Indian di Ojai Foundation di Ojai, California, untuk memadukan pengalaman psikotisku ini sebagai pengalaman transpersonal yang transformatif.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">David Lukoff, yang menceritakan pengalaman di atas, bukan sembarang orang di dunia psikologi. Dia dianggap sebagai &#8220;one of the leaders of the new spiritually attuned psychology&#8221; (Shorto, 1999). Bersama Francis Lu dan Robert Turner, dia menambahkan satu kategori diagnostik baru dalam edisi keempat, <em>Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders<\/em> (DSM), buku induk psikiatri, <em>&#8220;religious or spiritual problems.&#8221;<\/em> Dia bergabung bersama satu gerakan internasional untuk melihat psikosis tidak hanya dari perspektif biomedis saja. Mereka sekarang sedang berusaha memahami jiwa manusia dengan membuka diri pada pengalaman spiritual. Mereka adalah anggota-anggota dari angkatan keempat (<em>the Fourth Force<\/em>) dalam sejarah psikologi: psikologi transpersonal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 60-an, psikosis dianggap sebagai perilaku menyimpang akibat proses belajar yang keliru. Dalam diagnosis psikiatris, jiwa sama sekali tidak dibicarakan. Inilah \u201cpandangan dunia&#8221; <em>angkatan pertama psikologi<\/em>: <strong><em>behaviorisme<\/em><\/strong>. Sampai sekitar 1970-an, pandangan yang baku dalam psikiatri ialah anggapan bahwa skizofrenia (yang waktu itu menjadi nama untuk setiap penyakit psikosis) diakibatkan oleh pengalaman masa kecil yang traumatis, terutama pengaruh ibu yang menderita kecemasan. Orang menjadi &#8220;gila&#8221; karena represi pengalaman traumatis dalam tak sadarnya. Di sini juga pengalaman spiritual dianggap sebagai perilaku obsesif dan pemenuhan keinginan dari masa kanak- kanak. Jiwa di sini diperhitungkan sebagai motif-motif tak sadar, terutama yang berkaitan dengan seks. Inilah <em>angkatan kedua psikologi<\/em>: <strong><em>psikoanalisis<\/em><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada dua puluh tahun berikutnya, teori-teori psikoanalisis tentang psikosis ditinggalkan orang. Sebagai gantinya, penjelasan neurokimiawi digunakan untuk menerangkan skizofrenia. Menurut <em>The National Alliance for the Mentally III,<\/em> skizofrenia adalah <em>&#8220;biologically-based brain disease.&#8221;<\/em> Penggunaan obat-obat ajaib antipsikosis makin memperkuat posisi kelompok ini. Penyakit mental tidak ada hubungannya dengan jiwa. Ia cuma kombinasi kimiawi yang anch dalam sistem saraf. Obatnya juga tidak terlepas dari zat-zat kimiawi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun-tahun yang sama, ironisnya, zat-zat kimiawi yang memberikan penjelasan materialistis untuk penyakit mental telah mengantarkan banyak orang pada pengalaman spiritual\u2014pada realitas di luar realitas fisik. Survei psikiatris membuktikan bahwa 95% pasien psikiatris memiliki keyakinan yang sangat kuat kepada Tuhan. Ada banyak &#8220;mantan&#8221; pasien yang masih mengenang dengan indah pengalaman spiritual mereka dan berkeinginan untuk kembali lagi ke sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suara-suara protes disampaikan pada perawatan yang mengabaikan transformasi spiritual para pasien. Sally Clay, juru bicara pasien psikiatris terkenal di Amerika, menulis artikel berjudul &#8220;Stigma and Spirituality.&#8221; Dia melaporkan pengalamannya selama menjadi pasien di <em>The Hartford Institute of Living (IOL)<\/em> ketika dia didiagnosis menderita skizofrenia. Dia berkata bahwa, <em>&#8220;not a single aspect of my spiritual experience at the IOL was recognized as legitimate; neither the spiritual difficulties nor that healing that occurred at the end.&#8221;<\/em> Dia tidak membantah bahwa memang dia menderita psikosis pada waktu itu. Akan tetapi, di samping penderitaan karena penyakitnya itu, dia juga mendapat pengalaman spiritual yang dalam. Karena pengalaman ini diabaikan oleh para petugas kesehatan, kesembuhannya mengalami hambatan besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersama Clay muncul juga suara protes dari kalangan psikiater sendiri. R.D. Laing dan John Perry mengkritik pandangan profesi mereka yang menganggap kegilaan sebagai penyakit. Menurut Laing, seorang skizofren memang gila; tetapi dia tidak sakit. Jiwa secara keseluruhan adalah lautan. luas, yang kebanyakan tidak diketahui ego. Seorang psikotis adalah orang yang bersentuhan dengan\u2014bahkan tenggelam dalam\u2014lautan tersebut. Dia sedang menempuh perjalanan yang berbahaya, mengarungi samudera jiwa, untuk menemukan makna yang lebih dalam. Masih kata Laing, psikosis bukanlah &#8220;<em>breakdown<\/em>,&#8221; tetapi &#8220;<em>breakthrough<\/em>,&#8221; bukan kehancuran, tetapi terobosan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Laing adalah tokoh utama dari <em>angkatan ketiga psikologi<\/em>: <strong><em>psikologi humanistis-eksistensial.<\/em><\/strong> Sebagian di antara para tokoh angkatan ini, seperti Jung, Frankl, Assagioli berasal dari angkatan kedua. Jung bertengkar dengan Freud karena keinginannya untuk menaikkan psikoanalisis dari &#8220;gejolak seksual&#8221; ke pengalaman spiritual. Frankl menegaskan upaya ruhaniah manusia untuk mencari makna. Assagioli menjelaskan tahap spiritual ketika manusia berhubungan dengan esensi spiritual kreatif yang disebutnya sebagai supra- kesadaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Psikologi humanistis, yang disebut juga psikologi pertumbuhan, tidak lagi tumbuh pada dua dasawarsa berikutnya. Tidak lagi muncul pemikir sekaliber Maslow, Rogers, dan Perl. Sebenarnya, psikologi humanistis sedang bermetamorfosis, seperti ular yang berganti kulit, untuk melahirkan <em>angkatan keempat:<\/em> <strong><em>psikologi transpersonal<\/em><\/strong>. Psikologi transpersonal telah menjadikan jiwa\u2014yang kini didefinisikan jauh di atas definisi angkatan-angkatan sebelumnya\u2014sebagai pusat kajiannya. Psikologi transpersonal telah meniupkan kembali &#8220;ruh&#8221; pada psikologi yang telah dibunuh oleh behaviorisme atau dipukul pingsan oleh psikoanalisis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian, pada 4 Januari 1993, Dr. Joseph English, Presiden <em>The American Psychiatric Association,<\/em> menemui Paus Yohanes Paulus II dan memulai dialog tentang dosa, Tuhan, dan kedokteran. Inilah pertemuan historis antara dua kerajaan: psikologi dan agama. &#8220;Kami telah mengikuti bintang untuk bergabung bersama Anda di sini. Kami datang dengan semangat epifani,&#8221; kata English. Ketika Paus berkata bahwa pemahaman yang lengkap tentang manusia harus memperhitungkan &#8220;dimensi spiritual dan kemampuan transendensi diri,&#8221; psikologi transpersonal ditahbiskan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada bagian berikutnya, saya akan menjelaskan pandangan empat angkatan ini secara lebih terperinci. Saya ingin menunjukkan perkembangan konsep spiritual dalam psikologi sebagai latar belakang kemunculan konsep kecerdasan spiritual (SQ) yang diperbincangkan dalam buku ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Behaviorisme<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah aliran ilmu jiwa yang tidak peduli dengan jiwa. Dimulai dari Pavlov pada akhir abad ke-19 dan mencapai puncaknya pada ribuan eksperimen dengan tikus yang dilakukan di Amerika pada 1940-an dan 1950-an, psikolog hanya mempelajari perilaku yang tampak, dan karena itu dapat diukur. Psikologi adalah sains; dan sains hanya berhubungan dengan apa saja yang dapat diamati. &#8220;Jiwa&#8221;\u2014jika didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak bisa diamati berada di luar wilayah psikologi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Psikosis bukan gangguan kejiwaan, melainkan perilaku yang menyimpang (<em>maladaptive behavior<\/em>) akibat pelaziman (<em>conditioning<\/em>) yang terus-menerus. Seperti Anda ketahui, pelaziman itu lahir dari eksperimen anjing Pavlov. Di depan anjing eksperimennya, yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tidak mengeluarkan air liurnya (memangnya harus?). Kini daging disimpan di hadapannya. Anjing itu mengeluarkan air liur (tentu saja!). Selanjutnya, setiap kali lampu dinyalakan, daging segar dihidangkan. Setelah beberapa kali percobaan, setiap kali lampu dinyalakan, anjing itu mengeluarkan air liur, walaupun tidak ada daging di hadapannya. Air liur anjing sudah menjadi <em>conditioned response<\/em> dan cahaya lampu menjadi <em>conditioned stimulus.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada suatu hari, tahun 1914, ketika penelitian pelaziman ini sedang berlangsung, salah seorang mahasiswa Pavlov melaporkan kejadian yang aneh dan luar biasa. Dia telah melazimkan seekor anjing untuk mampu membedakan lingkaran dari clips. Anjing itu mengeluarkan air liur ketika melihat clips, tetapi tidak ketika melihat lingkaran. Secara perlahan-lahan, bentuk clips itu diubah sehingga makin lama makin menyerupai lingkaran. Akhirnya, anjing itu tidak lagi mampu membedakan keduanya. Selama tiga minggu eksperimen berikutnya, kemampuan anjing itu untuk membedakan bentuk bukan saja tidak membaik, bahkan makin lama makin buruk, dan akhirnya, hilang sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat yang sama, perilaku anjing itu berubah drastis. Anjing yang semula sangat penurut dan patuh berubah menjadi pemberang dan galak. la mencabik-cabik alat eksperimen dengan gigi-giginya. Ketika dibawa ke ruang eksperimen, anjing itu menyalak keras dan siap menyerang. Menurut Pavlov, anjing itu menderita <em>&#8220;neurosis eksperimental.&#8221;<\/em> Manusia akan menderita penyakit yang sama bila dia berhadapan dengan situasi stres yang tidak dapat diatasi. Perilaku maladaptif didefinisikan sebagai reaksi yang tidak dikehendaki sebagai akibat proses belajar keliru atau stres yang berlebihan. Jadi, sekali lagi, <strong>apa yang Anda anggap sebagai gangguan kejiwaan, tidak ada hubungannya sama sekali dengan jiwa. Untuk mengobatinya, Anda tidak perlu meneliti jiwanya.<\/strong> Suruh saja pasien Anda melakukan pelaziman yang baru, yaitu kontra-pelaziman (<em>counter-conditioning<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perilaku maladaptif juga terjadi karena pelaziman yang menimbulkan perasaan negatif, depresi, kecemasan, atau penderitaan. Ambillah sebagai contoh, eksperimen Watson yang mengambil Albert sebagai &#8220;tikus percobaannya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 1920, dia dan rekannya, Rosalie Rayner, yang bekerja di John Hopkins, memutuskan untuk melakukan eksperimen tentang perolehan dan penghilangan rasa takut. Subyeknya adalah Albert B., bayi sehat berusia sebelas bulan yang tinggal di rumah perawatan anak cacat. Ibunya adalah perawat di situ. Dalam eksperimen itu, tikus putih diberikan kepada Albert, yang dengan segera dia meraihnya. Pada saat dia menyentuhnya, sebatang baja dipukul dengan palu tepat di belakang kepalanya. Albert melonjak, jatuh ke depan, dan menyembunyikan mukanya di balik kasur. Proses ini diulangi. Kali ini Albert melonjak, jatuh tertelungkup, dan mulai menangis. Seminggu kemudian, ketika tikus itu diberikan kembali kepada Albert, dia bimbang dan menarik tangannya ketika tikus itu mengendusnya. Pada enam kali berikutnya, setiap kali tikus itu didekatkan kepadanya, batang baja dipukul. Reaksi takut Albert makin lama makin kuat dan tangisannya meledak. Akhirnya, begitu tikus itu diperlihatkan kepadanya\u2014bahkan tanpa ada suara sekalipun\u2014Albert mulai menangis, bergaling-guling, dan mencoba merangkak menjauhinya secepat mungkin. Kini, dia sama takutnya dengan kelinci. Dia bahkan telah melebarkan rasa takutnya pada apa pun yang berbulu, termasuk anjing, baju bulu, dan topeng Sinterklas. Watson dan Rayner bermaksud untuk mengontrakondisikan dia, bila mungkin, tetapi dia dan ibunya telah meninggalkan rumah itu dan nasib Albert tidak diketahui. (Hunts, 1982).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekiranya Watson bertemu lagi dengannya sekian puluh tahun kemudian di sebuah bangsal psikiatri, dia akan melakukan eksperimen berikutnya. Dia akan mendampingkan kelinci atau apa pun yang berbulu dengan situasi yang menyenangkan. Seorang gadis cantik akan memeluk Albert dan baju bulunya perlahan-lahan didekatkan kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akan tetapi, apakah mungkin Albert sembuh? Belum tentu. Penggunaan teknik modifikasi perilaku mungkin sangat efektif bagi binatang. Pada manusia, teknik ini hanya efektif bila dilengkapi dengan pengubahan cara berpikir (<em>insight-using therapies<\/em>). Kini, giliran <em>behaviorisme<\/em> untuk dimodifikasi dalam bentuk psikologi kognitif. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk pasif, yang tunduk sepenuhnya pada lingkungan. Dia bukan lagi meja lilin, tabula rasa, yang dapat dibentuk seenaknya oleh stimulus-stimulus. Metafora manusia tidak lagi mesin, tetapi pengolah informasi dan pemecah masalah. Secara aktif, dia memperhatikan, menafsirkan, mengolah, dan menggunakan informasi. Walaupun begitu, <em>behaviorisme<\/em> tetap saja menolak untuk menisbahkan pengolahan informasi ini pada &#8220;jiwa&#8221; manusia yang tidak bisa diamati. Dia bersikukuh untuk tidak membicarakan kesadaran manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena tidak peduli dengan kesadaran manusia, <em>behaviorisme<\/em> berlaku hanya untuk sebagian kecil penyakit mental. <em>Behaviorisme<\/em> telah dikritik keras karena, <em>pertama<\/em>, ia gagal memasukkan data dari pengalaman subyektif individu seperti kesadaran diri-yang sangat berarti baginya; <em>kedua<\/em>, ia gagal menjelaskan dimensi perilaku manusia yang lebih kompleks, seperti cinta, keberanian, keimanan, harapan dan putus asa; <em>ketiga<\/em>, ia gagal, secara keseluruhan, memahami masalah nilai dan makna dalam eksistensi manusia dan masalah bagaimana manusia harus berhubungan satu sama lain; dan terakhir, ia gagal mengatasi masalah pengarahan diri. Untuk yang terakhir ini, <em>behaviorisme<\/em> telah membuang &#8220;kebebasan memilih&#8221; dan &#8220;penentuan diri&#8221; (<em>self-determination<\/em>) dari manusia (Coleman, 1976). Kita harus menambahkan satu lagi: behaviorisme gagal untuk memperhitungkan bukan saja kesadaran manusia, melainkan juga motif-motif tak sadarnya. Sekarang masuklah angkatan kedua: psikoanalisis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Psikoanalisis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Psikoanalisis, disebut juga <em>depth psychology<\/em>, mencari sebab-sebab perilaku manusia pada dinamika jauh di dalam dirinya pada alam bawah sadarnya. Sigmund Freud, bapak mazhab ini, adalah seorang neurolog yang hidup di Wina pada akhir abad kesembilan belas. Waktu itu, ilmu kedokteran masih sedikit sekali mengungkapkan sebab-sebab penyakit\u2014baik fisik maupun mental. Salah satu penyakit yang banyak terjadi adalah histeria. Penderita menunjukkan masalah-masalah fisik tanpa ada sebab-sebab fisik yang diketahui. Freud menghipnotis pasiennya untuk menghilangkan gejala-gejala histerisnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Joseph Breuer, sejawatnya, melaporkan satu kasus. Dalam hipnotis, pasien dapat mengingat dan memahami pengalaman emosional yang menjadi penyebab gejala. Kedua dokter ini kemudian menggunakan hipnotis untuk menangkap kembali memori yang terlupakan. Tidak semuanya berhasil. Lagi pula, sebagian pasien sulit dihipnotis dan dampak positifnya tidak berlangsung lama. Dari sini, Freud mulai mengembangkan metode psikoanalisis untuk mendorong pasien menggali ingatan lamanya tanpa hipnotis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia, baik yang tampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran), disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Ada peristiwa mental yang kita sadari; ada yang tidak kita sadari tetapi gampang kita akses (<em>pre-concious<\/em>), dan ada yang sulit kita bawa ke alam sadar (<em>unconscious<\/em>). Yang terakhir ini yang paling banyak menarik perhatiannya. Di alam bawah sadar inilah tinggal dua struktur mental, yang merupakan bagian terbesar dari gunung es kepribadian kita. <em>Id, reservoir<\/em> energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan saja; dan superego, <em>reservoir<\/em> kaidah moral dan nilai-nilai sosial, yang diserap individu dari lingkungannya. Di puncak gunung es, ada ego, yang berfungsi sebagai pengawas realitas. Apa yang Anda lakukan sekarang adalah hasil interaksi\u2014sebetulnya konflik\u2014 di antara ketiga struktur mental itu. Anda jatuh cinta pada sekretaris Anda. Id berkata, &#8220;Peluklah dia!&#8221; Ego berkata, &#8220;Cek apakah dia juga suka padamu.&#8221; Dan superego menegur, &#8220;Haram Anda melakukannya.&#8221; (Saya sangat tidak suka dengan contoh ini, karena khawatir akan menyinggung banyak orang di antara Anda). Sambil mengulangi yang sudah jelas, kebanyakan dari konflik ini terjadi di alam tak-sadar Anda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesuai dengan perkembangan kepribadian kita, pada masa-kanak kita dikendalikan sepenuhnya oleh <em>id<\/em>. Pada tahap ini berlaku proses berpikir yang disebut Freud sebagai <em>primary process thinking<\/em>, berpikir proses pertama. Anak tidak dapat membedakan antara yang real dan tidak real, antara &#8220;aku&#8221; dan &#8220;bukan aku,&#8221; dan tidak mampu menekan impuls. Ia ingin memenuhi keinginannya waktu itu juga. Jika ia tidak dapat memuaskan kebutuhannya, maka ia tidak mampu menangguhkannya sampai nanti, tetapi berusaha mencari penggantinya. Jika bayi tidak memperoleh botol susunya, maka ia akan mengisap ibu jarinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa, ego sudah berkembang, Mereka mengikuti berpikir proses kedua, <em>secondary process thinking<\/em>. Ia sudah belajar menangguhkan pemuasan keinginannya untuk sesuatu yang lebih bagus. Ia menghindari makan yang enak, untuk bisa menyimpan uangnya. Anda sembunyikan cinta Anda kepada sekretaris Anda, sebelum investasi Anda padanya memadai. Seorang dewasa juga tidak begitu saja mengganti pemuas kebutuhannya, karena tidak dapat memenuhi kebutuhan yang awal. Walaupun begitu, pada orang dewasa sesekali muncul berpikir proses pertama. Ketika di kantor bos, Anda memarahi Anda maka Anda pulang dan memukuli anak Anda. Bos Anda digantikan dengan anak Anda. Jika pola berpikir anak-anak ini menguasai seorang dewasa, terjadilah perilaku abnormal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ada proses pertama dan kedua, adakah proses ketiga? Ada, kata Danah Zohar, lebih dari satu abad kemudian. Proses pertama adalah EQ, proses kedua IQ, dan proses ketiga SQ. SQ inilah yang menghubungkan rasio dengan emosi, pikiran, dan tubuh. Inilah pusat diri yang memberikan makna, dengan memadukan material yang berasal dari kedua proses sebelumnya. Jika Freud melacak perilaku abnormal pada proses primer yang mendominasi orang dewasa, maka Zohar merujuk pada kecerdasan spiritual yang rendah. Apakah SQ adalah pikiran yang didominasi superego? Bukan, karena superego hanyalah menyerap nilai-nilai dari orang tua dan masyarakat, sementara SQ secara kreatif menciptakan nilai-nilai baru. Dengan SQ kita menyembuhkan diri kita, yang sudah tercabik-cabik karena kekosongan eksistensial. <em>&#8220;We use SQ to deal with existential problems,&#8221;<\/em> tulis Zohar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sudut pandang ini, psikonalisis klasik tampak sangat lemah. la mampu menjelaskan penyakit psikis akibat luka lama dari masa kecil kita; tetapi ia bisu ketika berhadapan dengan derita karena kekosongan eksistensial, karena kebingungan dalam memberikan makna. Ia sangat terampil dalam menganalisis konflik di antara daya-daya psikis\u2014antara impuls dengan pertahanan, jiwa versus tubuh, maturasi dan regresi, id versus superego, seks versus agresi. Ia hanya melihat psikhe sebagai pejuang yang bekerja keras untuk menyembuhkan luka-lukanya akibat konflik itu. Menurut Freud, tujuan psikoanalisis adalah mengurangi derita neurotis menjadi ketakbahagiaan yang biasa<em>\u2014&#8221;not a particularly inspiring or ennobling goal for human existence&#8221;<\/em> (Cortright, 1997).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di antara murid-murid pertama Freud yang kecewa dengan tujuan psikoanalisis ini adalah Carl Gustav Jung, Seraya memuji Freud sebagai penemu dan pengungkap &#8220;ruang-ruang gelap&#8221; dari ketak-sadaran manusia, ia juga mengecam gurunya karena penekanan yang berlebihan pada seksualitas. Ketaksadaran bukan hanya terdiri dari komponen instingtual tetapi juga spiritual. Jiwa kita bukan hanya mengandung <em>the personal<\/em> <em>unconscious<\/em>, himpunan dari pengalaman dalam kehidupan kita; tetapi juga <em>the collective unconsious,<\/em> simpanan pengalaman yang dihimpun oleh nenek-moyang kita selama jutaan tahun, &#8220;sejarah tak tertulis&#8221; dari kemanusiaan sepanjang masa. Psikologi terlalu rendah jika hanya bertujuan mengurangi neurosis. Psikologi harus membantu manusia untuk menyambungkan dirinya dengan kedua alam tak-sadar ini. Jung menyebut <em>individuation<\/em> sebagai proses pengintegrasian <em>the collective unconscious<\/em> dalam kesadaran individu. Individuation, menurut Jung, adalah <em>&#8220;the unfolding and integration of human individuality&#8230;is a lifelong process by which what is potential in a human being is brought to realization and is integrated into the wholeness of a mature life.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>The collective unconscious<\/em> dilanjutkan dari generasi ke generasi melalui arketip (<em>archetypes<\/em>), bentuk dan citra universal yang terdapat dalam mitos-mitos dari berbagai kebudayaan. Ketika berbicara tentang akar-akar kepribadian manusia, Danah Zohar mengacu kepada dewa-dewa dalam mitologi Yunani. Dewa-dewa itu adalah arketip. Arketip mengorganisasikan ide dan citra, menentukan isi dan arah proses psikis. Kita tidak dapat mengetahui arketip secara langsung kita hanya dapat menyimpulkannya dari arah dan bentuk pengalaman manusia. Sebagaimana insting mengatur tindakan sadar secara teratur dan seragam, arketip mengatur persepsi sadar secara teratur dan seragam pula.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sambil menghindari istilah-istilah teknis yang melelahkan (bukankah psikologi, seperti ekonomi, hanyalah anggapan umum yang dibikin sulit), saya ingin mengutip Cortright (1997, hlm. 82-83):<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;The collective unconscious<\/em> mengandung di dalamnya arketip, atau bentuk. universal yang membentuk <em>psikhe<\/em> dan mengorganisasikan pengalaman psikologis. Contoh arketip, antara lain, adalah anak Tuhan, ibu agung, bidadari, tukang sihir, ksatria, penipu, orang tolol, penyembuh yang luka, raja, ratu, orang tua yang bijak, dan seterusnya. Kesehatan psikologis adalah kemampuan untuk membiarkan arketip ini memasuki kita, memberikan bentuk pada pengalaman psikologis kita dengan mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Derita dan tekanan psikologis timbul karena hanya mampu mengidentifikasi beberapa arketip saja, sehingga membatasi jati diri dan perasaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Misalnya, jika jati diri seseorang adalah memainkan peran bos yang galak di tempat kerja dan ia tidak dapat memasukkan ke dalam pengalamannya arketip yang lainnya ketika ia pulang, misalnya sebagai anak abadi, pecinta, si tolol<em>\u2014<\/em>jika ia hanya memainkan lakon bos yang galak ketika ia bermain-main dengan anak-anaknya atau bercinta dengan istrinya, maka kehidupannya akan sangat terbatasi. Kekayaan pengalaman dari perasaan, kreativitas, dan spontanitas kehidupan tidak dapat mengalir ke dalam dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Makna utamanya ialah membuka diri kepada arketip yang lain atau energi universal dan membiarkan energi ini mengisi pengalaman kita. Pusat arketip psikhe adalah <em>the self. The self<\/em> digambarkan sebagai mandala yang merupakan citra <em>the self,<\/em> arketip pusat. Jung percaya bahwa kita tidak dapat secara langsung mengalami <em>the self,<\/em> tetapi ia harus diketahui secara tidak langsung. Kita mendapat bimbingan dan pengarahan darinya melalui simbol mimpi dan citra. Citra yang menggambarkan <em>the self<\/em> berubah ketika orang bergerak menuju arah yang baru. <em>The self<\/em> itu sendiri tetap sama, tetapi gambaran <em>the self<\/em> berubah dan perlu diperbaharui secara periodik. Ketika psikhe yang sedang mengalami individuasi bergerak, citra mitos dan simbolik yang baru akan muncul pada ego yang mengungkapkan gerakan ini. Ego sadar kemudian perlu diorganisasikan kembali sesuai dengan garis-garis yang ditunjukkan oleh <em>the self<\/em>. Reorganisasi terjadi pada dua tingkat: ego sadar dan kedalaman arketipal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Menurut Jung, ego berkembang pada paruh pertama kehidupan dan difokuskan pada dunia dan tindakan <em>\u2014<\/em>melakukan sesuatu, menjalankan, membentuk ego independen, dan mencapai kemampuan tertentu di dunia. Akan tetapi, pada usia 35 sampai 45 atau lebih tua, pada paruh baya, ego yang dewasa mulai menderita perasaan keterasingan dan kehilangan makna. Ia mulai menengok ke dalam. Separuh kehidupan kedua ditandai dengan memusatkan perhatian pada kehidupan batiniah dan memunculkan apa-apa yang belum dikembangkan pada paruh kehidupan yang pertama. Misalnya, jika bagian psikhe yang aktif, bersifat maskulin, \u201cberbuat&#8221; (<em>doing<\/em>) dominan dalam paruh yang pertama, sisi psikhe yang feminin, &#8220;mengada&#8221; (<em>being<\/em>) akan menjadi lebih dominan dalam paruh yang kedua. Jika orang tidak mau mendengarkan gerakan batiniah ini, maka ia akan mengalami derita psikis yang makin berat, kekosongan dan alienasi.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembagian kehidupan manusia dalam dua paruh<em>\u2014<\/em>pagi dan petang<em>\u2014<\/em>kelak ditambahkan setelah tahap pertama perkembangan dalam psikologi transpersonal. Tahap pertama, <em>pre-egoic <\/em>adalah masa pra-Oedipus ketika ego yang lemah dan belum berkembang dikuasai oleh <em>the collective<\/em> <em>unconscious<\/em>. Pada tahap kedua, pada pagi hari kehidupan, ego yang mendewasa melepaskan diri darinya. Pada tahap ketiga, pada sore hari kehidupan, ego yang kuat dan dewasa diserahkan dan disatukan kembali dengan <em>the collective unconscious<\/em>. Di sini manusia menempuh perjalanan panjang menuju kedalaman ruhnya. Inilah kehidupan spiritual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kehidupan spiritual<em>\u2014<\/em>kehidupan yang ditempuh mengikut sebuah cita-cita<em>\u2014<\/em>di mana orang dengan tabah memilih jalan hidupnya, menuntut kehidupan yang melintasi konvensi-konvensi sosial, moral, religius, politis, dan filosofis. &#8220;Anak-anak sejati&#8221; Tuhan adalah mereka yang berani melanggar konvensi dan mengambil &#8220;jalan curam dan sempit&#8221; menuju dunia yang tak diketahui. Kehidupan seperti itu, menurut Jung, disebut <em>&#8216;vocation&#8217;<\/em>: berpisah dengan kelompok dan mengorbankan diri untuk memenuhi &#8216;panggilan.&#8217; Individu dipanggil untuk mengikuti bintangnya, untuk menaati hukumnya, untuk mendengarkan bisikan dari ruhnya yang terdalam<em>\u2014his inner spirit<\/em>.&#8221; (Fuller, 1994, hlm. 104). Jika manusia tidak mau mendengarkan suara batinnya, maka ia akan mengalami <em>neurosis<\/em>. Ia akan terhambat dalam perkembangan kesadarannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tangan Jung, alam tak-sadar Freud yang instingtif-seksual berubah menjadi reservoir energi spiritual. Tidak heran ketika Freud meminta Jung untuk berhenti berbicara tentang spiritualitas, Jung menolaknya. Ia kemudian dikucilkan dari komunitas psikoanalisis. Perbantahan di antara keduanya tergambar dalam obrolan mereka di rumah Freud di Wina. Mereka memperbincangkan parapsikologi. Jung menjelaskan gejala psikologis dengan mengakui keberadaan ruh. Freud membantahnya. Tiba-tiba terdengar suara keras dari lemari buku. Kata Jung, suara keras itu mencerminkan topik parapsikologi yang mereka perbincangkan. Ia meramalkan bahwa suara itu akan terdengar lagi. Freud mebantah kedua &#8220;teori&#8221; Jung. Dan sekali lagi suara keras itu terdengar. Tidak lama sesudah itu, Freud menulis surat kepada Jung. menyatakan bahwa terulangnya suara keras setelah Jungpergi meyakinkan Freud bahwa pengalaman spiritual itu tidak penting. Jung sendiri tetap bersikukuh dengan pendapatnya dan melahirkan konsep <em>sinchronicity<\/em>, &#8220;kebetulan yang berarti&#8221; yang menunjukkan hubungan antara psikhe manusia dengan peristiwa psikis. Dentuman keras dari balik lemari buku adalah manifestasi arketip dari <em>the collective unconscious.<\/em> Adalah tugas kita untuk memperhatikan simbol-simbol itu dan mempergunakannya untuk membimbing kehidupan kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak pengikut psikoanalisis mengkritik Jung karena meromantiskan the unconscious, dan selama hampir satu abad, cahaya Jung berkerlip di hadapan gemerlap Freud. Menjelang milenium ketiga, dengan kehadiran psikologi transpersonal, Jung menjadi sangat popular. Tetapi sebelum sampai ke psikologi transpersonal, psikologi Jungian harus melewati dahulu sentuhan psikologi humanistik<em>\u2014<\/em>melalui Viktor Frankl, murid Alfred Adler, yang pada gilirannya murid Freud yang mengambil jalan berbeda dari gurunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Psikologi Humanistis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Psikologi humanistis muncul pada pertengahan abad kedua puluh sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Keduanya dianggap telah mereduksi manusia sebagai mesin atau makhluk yang rendah. Psikoanalisis berkutat pada insting-insting hewani dan memahami manusia dari perilaku pasien. Abraham Maslow, salah seorang perintis angkatan ini, berkata, \u201cDengan sedikit menyederhanakan, kita dapat menyatakan bahwa Freud seakan-akan memasok kita dengan separuh psikologi yang sakit, dan sekarang kita harus mengisinya dengan paruh lainnya yang schat&#8221; (Maslow, 1968). Alih-alih meneliti manusia-manusia yang sakit, tidakkah lebih berguna mengumpulkan keterangan mengapa orang itu sehat, bagaimana orang dapat tetap hidup bahagia di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya. Dalam kehidupan kita menemukan orang yang bahagia dalam situasi dan kondisi <em>tertentu<\/em>; juga orang yang bahagia dalam situasi dan kondisi <em>apa pun.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Simaklah pengalaman Viktor Frankl. Pada Perang Dunia II, ia dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan. Setiap hari ia menyaksikan tindakan-tindakan kejam<a><em>\u2014<\/em><\/a>penyiksaan, penembakan, pembunuhan massal di kamar gas atau eksekusi dengan aliran listrik. Pada saat yang sama, ia juga melihat peristiwa-peristiwa yang sangat mengharukan: berkorban untuk rekan, kesabaran yang luar biasa, daya hidup yang perkasa. Di samping para tahanan yang putus asa, yang mengeluh, &#8220;Mengapa semuanya ini terjadi padaku? Mengapa aku harus menanggung derita ini,&#8221; ada juga para tahanan yang berpikir, &#8220;Apa yang harus aku lakukan bahkan dalam situasi yang mencekam seperti ini.&#8221; Yang pertama umumnya berakhir dengan kematian. Yang kedua banyak yang berhasil lolos dari lubang jarum kematian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang membedakan keduanya adalah pemberian makna. Pada manusia ada kebebasan yang tidak bisa dihancurkan bahkan oleh pagar kawat berduri sekalipun. Dan itu adalah kebebasan untuk memilih makna. Sambil mengambil pemikiran Freud tentang efek berbahaya dari represi dan analisis mimpinya, Frankl menentang Freud ketika ia menganggap dimensi spiritual manusia sebagai sublimasi dari insting hewani. Sambil memuji Jung karena mengungkap keberagamaan yang tak sadar, ia mengkritik Jung karena psikologismenya. Dengan landasan fenomenologis, Frankl membantah keduanya yang men- jelaskan perilaku manusia sebagai akibat dari proses psikis saja. Baginya. pemberian makna berada di luar semua proses psikologis. Ia mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut logoterapi (logos = makna).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: <em>fisik, psikologis,<\/em> dan <em>spiritual<\/em>. Untuk memahami diri dan kesehatan, kita harus memperhitungkan ketiganya. Selama ini dimensi spiritual diserahkan kepada agama, dan pada gilirannya agama tidak diajak bicara untuk urusan fisik dan psikologis. Kedokteran, termasuk psikoterapi, telah mengabaikan dimensi spiritual sebagai sumber kesehatan dan kebahagiaan. Tanpa memperhitungkan dimensi spiritual, kita akan melihat Dostoevski sebagai penderita epileptik dan Jean D&#8217;Arc sebagai skizofren.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Dimensi spiritual disebut Frankl sebagai noos, yang mengandung semua sifat yang khas manusia seperti keinginan kita untuk memberi makna, orientasi tujuan kita, kreativitas kita, imajinasi kita, intuisi kita, keimanan kita, visi kita akan menjadi apa, kemampuan kita untuk mencintai di luar kecintaan yang visio-psikologis, kemampuan mendengarkan hati nurani kita di luar kendali super-ego, selera humor kita. Di dalamnya juga terkandung pembebasan diri kita atau kemampuan untuk melangkah ke luar dan memandang diri kita, dan transendensi diri atau kemampuan untuk menggapai orang yang kita cintai atau mengejar tujuan yang kita yakini. Dalam dunia spirit, kita tidak dipandu; kita adalah pemandu, pengambil keputusan. Reservoir kesehatan ada pada setiap orang, apa pun agama dan keyakinannya. Kebanyakan dari reservoir ini terdapat di alam bawah sadar kita, adalah tugas seorang logoterapis untuk menyadarkan kita akan perbendaharaan kesehatan spiritual ini.&#8221; (Fabry, 1980, halaman 81)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Frankl memberikan kontribusi banyak pada perumusan kecerdasan spiritual Danah Zohar. Pembahasan logoterapi tidak mungkin dituliskan di sini. Tetapi saya tertarik untuk mengungkapkan penemuan logoterapi yang dapat melengkapi kiat-kiat mengembangkan kecerdasan spiritual, di samping apa yang ditulis Danah Zohar dalam bukunya tentang SQ. Ada berbagai teknik untuk mengungkap makna; tetapi ada lima situasi ketika makna membersit ke luar dan mengubah jalan hidup kita<em>\u2014<\/em>menyusun kembali hidup kita yang porak poranda. <em>Pertama<\/em>, makna kita temukan ketika kita menemukan diri kita (<em>self-discovery<\/em>). Sa&#8217;di, penyair besar Iran, pernah kehilangan sepatunya di Masjid Damaskus. Ketika ia sedang bersungut-sungut meledakkan kejengkelannya, ia melihat seorang penceramah yang berbicara dengan senyum ceria. Tampak dalam perhatiannya bahwa penceramah itu buntung kedua kakinya. Tiba- tiba ia disadarkan. Segala kejengkelannya mencair. la sedih kehilangan sepatu, padahal di sini ada orang yang tertawa ria walaupun kehilangan kedua kakinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Kedua<\/em>, makna muncul ketika kita menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna, ketika kita terjebak dalam satu keadaan, ketika kita tidak dapat memilih. Seorang eksekutif pindah dari Bandung ke Jakarta. Ia mendapat posisi yang sangat baik dengan gaji yang berlimpah. Tetapi, ia juga kehilangan waktu untuk berkencan dengan keluarga dan anak-anaknya. Ia ingin mempertahankan jabatannya dan ingin punya waktu lebih banyak untuk keluarga. Pada suatu hari, ia berdiri di depan rapat pimpinan dan menyatakan mengundurkan diri. Saat itu, ia merasakan kebahagiaan menemukan kembali makna hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Ketiga<\/em>, makna ditemukan ketika kita merasa istimewa, unik, tak tergantikan oleh orang lain. &#8220;Aku senang bersama cucuku,&#8221; kata seorang kakek. &#8220;Ia suka bilang &#8216;Ikuti aku, opa&#8217; dan aku menuruti semua kemauannya. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukan itu baginya. Ibunya juga tidak, karena terlalu sibuk.&#8221; Seorang mahasiswa merasa sangat bahagia ketika Margaret Mead menanyakan pendapatnya. &#8220;Bayangkan, seorang Margaret Mead menanyakan pendapatku!&#8221; Untuk mendapatkan pengalaman seperti itu, kata Fabry, kita tidak selalu memerlukan Margaret Mead. Carilah orang yang mendengarkan kita dengan penuh perhatian, kita akan merasa hidup kita bermakna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Keempat<\/em>, makna membersit dalam tanggungjawab. Fabry berkisah tentang seorang perempuan yang berlibur ke Acapulco tanpa suaminya. Di sana ia berkenalan dengan seorang anak muda yang tampan. Ia jatuh pada rayuannya. Ketika pemuda itu mohon diizinkan untuk mengunjunginya di kamar hotelnya, perempuan itu menyetujuinya. Ia tidak pernah selingkuh, tetapi ia sudah berpisah dengan suaminya selama dua minggu. Ada hasrat seksual yang bergejolak. Ia menunggu pemuda itu dengan penuh gairah. Tetapi ketika ia mengetuk pintu kamarnya, perempuan itu merasakan sengatan keras di jantungnya. Ketika ketukan pintunya itu makin keras, ia teringat suaminya. Ia memutuskan untuk tidak membuka pintu. &#8220;Lalu,&#8221; kata perempuan itu, &#8220;aku mendengar langkah-langkah kakinya menjauh. Aku menengok dia lewat jendela. Ketika aku melihatnya pergi, aku mengalami perasaan bahagia yang paling intens dalam hidupku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Kelima<\/em>, makna mencuat dalam situasi transendensi, gabungan dari keempat hal yang di atas. Ketika kita mentransendensikan diri kita, kita melihat seberkas diri kita yang otentik, kita membuat pilihan, kita merasa istimewa, kita menegaskan tanggungjawab kita. Transendensi, kata Zohar, adalah pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar pengalaman kita yang biasa, ke luar suka dan duka kita, ke luar diri kita yang sekarang, ke konteks yang lebih luas. Pengalaman transendensi adalah pengalaman spiritual. Kita dihadapkan pada makna akhir<a>\u2014<\/a>ultimate meaning\u2014yang menyadarkan kita akan aturan agung yang mengatur alam semesta. Kita menjadi bagian penting dalam aturan ini. Apa yang kita lakukan mengikuti rancangan besar, yang ditampakkan kepada kita. Tidak jadi soal apakah ia berasal dari <em>the collective unconscious<\/em>-nya Jung atau dimesi spiritualnya Frank.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sambil dengan cepat melewati Maslow, yang menyebut pengalaman ini sebagai <em>&#8220;peak experience&#8221;<\/em> atau &#8220;<em>plateau<\/em>,&#8221; kita meloncat kepada angkatan <em>keempat psikologi transpersonal.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Psikologi Transpersonal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a>Menurut Maslow, pengalaman keagamaan adalah <em>&#8220;peak experience\u201d, \u201cplateau\u201d,<\/em> dan <em>&#8220;farthest reaches of human nature.&#8221;<\/em> Karena itu, psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal.<\/a> Ia menulis, <em>&#8220;I should say also that I consider Humanistic, Third Force Psychology, to be transitional, a preparation for a still &#8220;higher Fourth Psychology, a transpersonal, transhuman, centered in the cosmos rather than in human needs and interests, going beyond humanness, identity, self-actualization, and the like.&#8221; <\/em>(Maslow, 1968, iii-iv)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di atas segala kritiknya atas angkatan-angkatan sebelumnya, psikologi transpersonal hanyalah kelanjutan dari psikologi humanistik, yang pada gilirannya melanjutkan pemikiran Jung dan Frankl. Kita juga harus menyebut William James, yang dalam beberapa hal, mempengaruhi pemikiran Jung. <a>Psikologi transpersonal berusaha menggabungkan tradisi psikologis dengan tradisi agama-agama besar di dunia. Ia ingin mengambil pelajaran dari kearifan perenial \u2014<em>philosophia perennis.<\/em><\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a>Di sepanjang zaman, manusia bertanya, &#8220;Siapakah aku?&#8221; <\/a>Tradisi keagamaan menjawabnya dengan menukik jauh ke dalam, &#8220;wujud spiritual, ruh.&#8221; Praktik-praktik keagamaan mengajarkan kita untuk menyambungkan diri kita dengan bagian diri kita yang terdalam ini. Psikologi modern menjawab dengan menengok ke dalam (tidak terlalu dalam), &#8220;<em>Self<\/em>, ego, eksistensi psikologis&#8221; dan psikoterapi adalah perjalanan psikologis untuk menemukan Diri ini. Psikologi transpersonal menggabungkan kedua jawaban ini. Ia mengambil pelajaran dari semua angkatan psikologi dan kearifan perenial agama. Ia mengajarkan praktik-praktik untuk mengantarkan manusia kepada kesadaran spiritual, di atas id, ego, dan superego-nya Freud.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agama-agama berbicara tentang kesadaran spiritual yang luas dan multidimensional. Diri kita, eksistensi psikologis kita, hanyalah penampakan luar dari esensi spiritual kita. Penjelasan psikologis yang hanya berkutat pada penampakan luar jelas tidak memadai. Menyembuhkan gangguan mental dengan menggarap Diri lahiriah kita sama saja dengan mendorong mobil mogok tanpa memperbaiki mesinnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cortright (1997, hlm. 9) menulis, &#8220;Studi sedalam apa pun tentang genetika, biokimia, atau neurologi, pada satu sisi, atau sistem keluarga, interaksi ibu-anak, dan pengalaman masa kecil pada sisi yang lain, atau dengan perkataan lain, tidak ada penjelasan apa pun, yang memperhitungkan hanya penampakan luar dari masalah <em>nature<\/em> (tabiat) dan <em>nurture<\/em> (lingkungan), dapat memberikan jawaban memuaskan atas masalah fundamental kehidupan. Hanya dengan memandang dimensi spiritual, yang memasukkan dan sekaligus mentransendenkan warisan dan lingkungan, kita dapat menemukan jawaban yang tepat untuk masalah eksistensi manusia.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak 1969, ketika <em>Journal of Transpersonal Psychology<\/em> terbit untuk pertama kalinya, psikologi mulai mengarahkan perhatiannya pada dimensi spiritual manusia. Penelitian dilakukan untuk memahami gejala-gejala ruhaniah seperti <em>peak experience<\/em>, pengalaman mistikal, ekstasi, kesadaran ruhaniah, kesadaran kosmis, aktualisasi transpersonal, pengalaman spiritual, dan akhirnya kecerdasan spiritual. Dalam kerangka inilah, Zohar mendefinsikan kecerdasan spiritual sebagai &#8220;kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego, atau jiwa sadar. Inilah kecerdasan yang kita pergunakan bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.&#8221; Sayangnya, Danah Zohar masih terikat dalam pemikiran psikologis dari angkatan-angkatan sebelum psikologi transpersonal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Marsha Sinetar dan Khalil Khavari menyampaikan definisi kecerdasan spiritual yang lebih sesuai dengan perkembangan psikologi mutakhir. Menurut Sinetar, &#8220;Kecerdasan spiritual adalah pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan dan efektivitas yang terinspirasi, <em>the is-ness<\/em> atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian.&#8221; (Sinetar, 2000, hlm. 17).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Khalil Khavari, &#8220;Kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi non-material kita\u2014ruh manusia. Inilah intan yang belum terasah yang kita semua memilikinya. Kita harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosoknya sehingga mengkilat dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan abadi. Seperti dua bentuk kecerdasan lainnya, kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan juga diturunkan. Tetapi, kemampuannya untuk ditingkatkan tampaknya tidak terbatas&#8221; (Khavari, 2000 hlm. 23). Dengan nasihat Khavari di benak kita, bacalah buku SQ dari Danah Zohar. Mudah-mudahan ia mampu mengantarkan Anda pada pencerahan spiritual; atau paling tidak, pada pemaknaan yang mengubah hidup Anda menjadi lebih bahagia. <strong>JR <\/strong><em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perhaps the time is now ripe when the mystics can break the glass through which he sees all things darkly, and the rationalist can break the glass through which he sees all things clearly, and both together can enter the kingdom of psychological reality.-N. Brown (1959, hlm. 34) Selama beberapa bulan setelah aku menggunakan LSD &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2511\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;SPIRITUAL QUOTIENT (SQ): PSIKOLOGI DAN AGAMA&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3838,3839,3840,3850,3848,3846,3851,18,19,3842,3843,3841,3837,3844,3845,3836,3847,3812,3849,17],"class_list":["post-2511","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-angkatan-keempat","tag-behaviorisme","tag-breakthrough","tag-carl-gustav-jung","tag-collective-unconscious","tag-david-lukoff","tag-individuation","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-logoterapi","tag-psikoanalisis","tag-psikologi-humanistis","tag-psikologi-transpersonal","tag-r-d-laing","tag-religious-or-spiritual-problems","tag-spiritual-quotient-sq","tag-sq-sebagai-proses-ketiga","tag-unqualified-commitment","tag-viktor-frankl","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2511","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2511"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2511\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2513,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2511\/revisions\/2513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}