{"id":2514,"date":"2025-10-25T15:37:02","date_gmt":"2025-10-25T15:37:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2514"},"modified":"2025-10-25T15:37:02","modified_gmt":"2025-10-25T15:37:02","slug":"from-suffering-to-savoring","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2514","title":{"rendered":"FROM SUFFERING TO SAVORING"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/556-FROM-SUFFERING-TO-SAVORING-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2515\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/556-FROM-SUFFERING-TO-SAVORING-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/556-FROM-SUFFERING-TO-SAVORING-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/556-FROM-SUFFERING-TO-SAVORING-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/556-FROM-SUFFERING-TO-SAVORING.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ingatkah Anda pada satu peristiwa dalam kehidupan Anda ketika Anda mengubah jalan hidup Anda? Mungkin Anda bertemu dengan seorang guru yang menasihati Anda dengan satu kalimat; dan kalimat itu mengubah cara Anda memandang kehidupan. Atau, Anda menyaksikan pemandangan yang sangat menyentuh dan Anda merasa disadarkan pada kenyataan yang selama ini terabaikan. Para ilmuwan sosial dan penulis biografi menyebut peristiwa semacam itu sebagai epifani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Epifani adalah peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik balik dalam kehidupannya. Pengaruhnya berbeda-beda, bisa negatif atau positif, tergantung pada apakah epifaninya besar atau kecil&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Denzin, 1989). Saya pernah terpesona membaca kisah seorang anak yang &#8220;dipenjarakan&#8221; orangtuanya bertahun-tahun tanpa diajak bicara. Ia tumbuh menjadi &#8220;setengah manusia,&#8221; dengan perilaku yang sangat anch. Saya tergerak untuk mempelajari lebih dalam tentang pengaruh komunikasi pada perilaku manusia. Lahirlah dari hasil studi saya buku berjudul <em>Prikologi Komunikasi<\/em>. Ini epifani kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama bertahun-tahun, saya mengajarkan agama kepada sekelompok jamaah yang tampak sangat antusias. Saya merasa &#8220;nyambung dengan apa yang mereka butuhkan. Tiba-tiba saya dituduh berbuat buruk. Saya terkejut, dan sekaligus, terhinakan. Perlahan-lahan, saya mulai melihat kehidupan agama dengan kacamata baru. Saya mulai mencoba menggunakan pandangan baru ini untuk memahami keberagamaan saya dan mereka. Keinginan yang menggelegak untuk menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan, yang mendadak muncul, melahirkan buku berjudul <strong><em>Psikologi Agama<\/em><\/strong>. Sementara itu, rasa sakit hati karena fitnah itu menyadarkan saya bahwa saya bisa memilih untuk berduka atau bersuka. Saya menemukan apa yang harus saya lakukan dalam derita. Saya melihat lagi keberagamaan saya selama ini. Saya mulai mempersoalkan apakah ada keberagamaan yang mendatangkan kebahagiaan kepada kehidupan saya di dunia ini (sebelum kebahagiaan di akhirat nanti). Inilah yang membawa saya pada Psikologi Positif dan memperkenalkan saya pada Martin Seligman, penulis buku ini. Fitnah itu telah menjadi salah satu epifani besar dalam hidup saya. Saya melakukan studi pendahuluan dan menulis <em>Meraih Kebahagiaan<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagaimana yang akan Anda baca dalam buku ini, Seligman mengubah perhatiannya, dan akhirnya perhatian psikologi pada umumnya, karena seguran anaknya, Nikki. &#8220;Inilah epifani dalam hidupku&#8230; <em>Pada saat itulah, aku memutuskan untuk berubah<\/em>,&#8221; kata Seligman. &#8220;Membesarkan anak, sekarang saya tahu, bukan hanya sekadar meluruskan apa yang keliru. Jauh dari itu, membesarkan anak adalah mengenal dan meningkatkan kekuatan dan kebajikannya, dan membantu mereka menemukan wadah ketika mereka mengembangkan sifat-sifat positif itu sesempurna mungkin&#8230; Nikki telah menemukan misi untuk saya dan buku ini adalah upaya untuk menyampaikannya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis\ua7f7yang hanya berkutat pada kekurangan manusia\ua7f7ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia, dari perhatian yang berlebihan pada penyakit ke konsentrasi pada kesehatan. Pergeseran cara memandang ini dilukiskan dengan sangat indah oleh pendukung dan pengamal Psikologi Positif, mungkin bahkan sebelum Seligman memopulerkannya. Namanya Dan Baker. Pekerjaannya: Direktur Program Peningkatan Kehidupan di Canyon Ranch. Mari kita simak kisah epifaninya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku membuka pintu. Dan hidupku berubah untuk selama-lamanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dor! Dor! Dor! Tembakan senapan! Memang begitu terdengarnya dan aku segera menunduk. Dor! Getarannya tepat menembusku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, di sebuah sudut ada gadis muda bernama Kate. Bukan senapan yang membuat ledakan keras itu, melainkan kepalanya sendiri, yang ditutupi helm, ketika ia membenturkannya pada tembok yang keras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa saat sebelumnya dahulu pada 1973-aku berjalan menyusuri lorong-lorong Nebraska Psychiatric Institute sebagai dokter psikologi yang baru masuk, yang sangat percaya diri bahwa aku dapat menyembuhkan setiap penyakit mental berdasarkan buku teks yang aku ingat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi, Kate! Ya Tuhan-ia sama sekali tidak mirip dengan kasus apa pun yang sudah aku pelajari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena terhenyak atas kekerasan yang ia lakukan terhadap dirinya, aku berpaling kepada perawat yang membawaku ke sini. \u201cAdakah orang yang akan membantu dia?&#8221; aku bertanya. &#8220;Ya, segera.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Siapa?&#8221; &#8220;Kamu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bagaimana?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Jangan tanya aku,&#8221; ia berkata dengan nada kelelahan. \u201cKate yang malang sudah tidak punya harapan lagi. Tidak mungkin.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku betul-betul ketakutan. Pintu ditutup. Dor! Dor! Dor! Aku baru saja memperoleh sambutan hangat dari dunia psikologi yang sinis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal pertama yang aku sadari adalah tidak ada satu pun yang aku pelajari dalam lingkungan akademis dapat membantu Kate. Sekiranya pendekatan konvensional mampu membantunya, pastilah ia sudah tertolong. Kate sebelumnya telah dirawat oleh beberapa tim dokter yang terkenal, dengan hampir 25 pendekatan yang berbeda. Ia telah disemprot dengan ammonia ketika membenturkan kepalanya dan seorang dokter ingin mengejutkannya dengan alat yang menyerupai penjepit binatang. Mereka telah bicara dengan Kate tentang benturan kepalanya. Tetapi, semuanya tidak berjalan lancar karena ia terhambat dalam perkembangan kepribadiannya, dengan IQ yang sangat rendah. Mereka mencoba membujuknya dengan gula-gula agar tidak melakukannya. Tidak berhasil. Salah seorang dokter berteori bahwa pembenturan kepalanya itu adalah gejala epilepsy yang aneh. Tetapi obat antikejang tidak membantunya sama sekali. Juga obat penenang yang paling keras sekalipun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia tidak autistik. Ia bukan juga skizofrenik. Ia tidak menunjukka gejala-gejala psikosis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah seorang ahli Freud berkata bahwa Kate membenturkan kepalanya untuk menyem- bunyikan derita psike yang dipenuhi konflik. Tapi cobalah anda terka sendiri seberapa efektif dugaannya itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya, dokter itu sampai juga dengan apa yang disebut diagnosis ganda: anxiety disorder yang ditandai dengan kecenderungan kompulsif, plus kegagalan perkembangan. Jelas tidak membantu Kate, tetapi membuat dokter merasa lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dor! Dor! Irama benturan itu sangat mencekam dan menakutkan, seperti lecutan cambuk pada punggung orang. Jika kita melihat orang menyiksa dirinya, naluri kita mendorong kita untuk menarik diri dengan kesal. Itulah apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di lembaga itu, meninggalkan Kate dalam kesepian pengucilannya. Tapi, aku tidak bisa hanya mengisi lembar diagnosis dan terus pergi. Itu bukan kebiasaanku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dor! Dor! Dan setelah itu&#8230; sepi. Kesunyian itu terasa manis, seperti sebuah oase. Aku mengambil kesempatan untuk menatap mata Kate. Ia memandang balik, tanpa emosi, tanpa perasaan, matanya kosong. Aku hanya melihat di matanya cerminan diriku sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Di mana kamu, Kate?&#8221; aku bertanya dengan lembut. &#8220;Kamukah di situ?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kate memang ada, pikirku. Tetapi di mana?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah yang aku ketahui sekarang. Kate berada di tempat yang sama ketika orang kehilangan perasaan untuk memilih arah hidupnya terjebak dalam depresi dan perasaan tak berdaya, tanpa kesadaran diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tampaknya ia tidak lagi mengapresiasi kehidupan \ua7f7 dan itu dapat dipahami dalam kondisinya \ua7f7 dan ia terpenjara pada fungsi otaknya yang mengendalikan ketakutan. Otak reptilnya berkuasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan sekarang ada keheningan. Sudah beberapa menit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiba-tiba terpikir dalam benakku-sebuah konsep yang sebetulnya begitu jelas sehingga hampir-hampir tidak kelihatan: ia mampu menghentikan benturan kepalanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia punya kekuatan untuk menghentikan penghancuran diri. Ia hanya tidak menyadarinya. Semua orang pun tampaknya tidak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat itu, aku sadar bahwa penyembuhan bergantung kepadanya, bukan kepadaku. Satu-satunya tugasku ialah membawanya untuk melihat bahwa ia punya kekuatan itu dan punya pilihan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku ambil tangannya. Memegangnya dengan lembut. Setelah beberapa saat perlahan-lahan seperti mesin, ia berpaling kepadaku. Ia mengangkat matanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata orang, mata adalah jendela jiwa. Untuk beberapa detik, perkataan itu benar. Itulah dia! Tidak beda. Sendirian dan tanpa daya, tanpa kekuatan, tanpa pertolongan, tidak bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tidak tahu, sudah berapa lama tidak ada orang yang memegang tangannya. Aku duduk di situ dengan perasaan tidak berdaya juga. Seharusnya aku berada di situ sebagai psikolog baru yang masih segar \u2014 Dr. Freud muda \u2014 &nbsp;tetapi aku merasa tidak lebih dari sekadar Dr. Penggandeng muda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tahu, berdasarkan atas apa yang aku lihat, tidak ada ganjaran ataupun hukuman yang dapat menghentikannya. Satu-satunya cara untuk menghentikan Kate adalah membuatnya punya kemampuan untuk memilih. Tetapi, bagaimana caranya membuat seseorang memilih? Kalau Anda yang membuatnya, itu bukan pilihan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan adalah suara hati. Kejujuran dalam tindakan. Oleh karena itu, pilihan sangatlah perkasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walaupun dalam keadaan bingung, aku berhasil melihat jelas: ketika aku memegang tangan Kate, ia tampak merasa lebih baik. Ia kelihatan lebih tenang dan pandangan matanya yang kesepian perlahan-lahan melembut. Aku telah memperoleh satu pelajaran. Pengucilan\u2014 karena takut dapat diatasi-sering kali lebih cepat, tanpa psikoterapi bertahun-tahun. Jika ini terjadi, kemungkinan mulai terbentuk, bahkan untuk orang-orang yang kondisinya tampak seperti tidak punya kemungkinan sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai di sini, aku tidak berusaha memasukkan kebahagiaan dalam hidup Kate. Terlalu muluk untuk diharapkan. Aku hanya ingin memasukkan kehidupan dalam hidup Kate. Pada siang hari yang sama, aku menceritakan Kate kepada kepala unit pediatric dan aku ingat ia berkata, &#8220;Ooh, yang itu. Pilihannya sangat terbatas.&#8221; Aku tidak mengacuhkannya. Di tempat asalku daerah pedesaan Midwest, pada era peluang yang tak terbatas pada 1960-an semua orang punya kemungkinan, juga orang seperti Kate.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemungkinan, aku masih yakin, selalu ada pada kita semua, bahkan pada orang-orang yang paling sedikit memilikinya\u2014bahkan pada sebagian di antara kita (dan mungkin itu termasuk Anda) yang terpuruk dalam sebuah sudut sempit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemungkinan, bukan saja selalu ada, tetapi juga tidak dapat dilepaskan. Kemungkinan diperlukan untuk kehidupan jiwa sebagaimana oksigen diperlukan untuk kehidupan raga&#8230; Walaupun kemungkinan selalu ada, kita mungkin tidak melihatnya, karena kita dibutakan oleh ketakutan. Ketakutan biasanya dimulai ketika kita terlalu sering gagal atau ketika kita dihambat berkali-kali oleh orang-orang di sekitar kita. Jika ini terjadi, kemampuan kita menyelesaikan persoalan berkurang sangat banyak. Pada tingkat yang paling buruk, yang ada hanyalah melawan, melarikan diri dan mematung. Kita hanya reaktif dan tidak proaktif. Problem menjadi penjara&#8230;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat berikutnya aku mengunjungi Kate, yang pertama aku lakukan adalah mengulurkan tanganku kepadanya dan menjalin hubungan. Ketika Kate sudah mulai tenang, benturan kepalanya berkurang dan akhirnya berhenti. Segera setelah itu, aku berkata kepadanya dengan lembut, &#8220;Kate, marilah kita lupakan pembenturan kepalamu itu. Mari kita pusatkan perhatian pada apa yang kamu lakukan ketika kamu tidak membenturkan kepalamu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah itu, aku ingin menyebutnya Prinsip 60 Menit, memusatkan perhatian pada beberapa menit dalam setiap jam ketika seseorang berfungsi dengan baik, dan tidak lagi memusatkan perhatian pada kegagalannya. Tujuannya ialah memperpanjang menit-menit yang baik itu sampai mencakup satu jam. Tentu saja waktu itu aku tidak berusaha menciptakan pendekatan baru. Aku hanya bekerja berdasarkan apa yang aku ketahui.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika aku melihat ruangan steril di sekitar kami\u2014kurungan yang dibangun dengan penuh iba aku merasa terdorong untuk keluar. Aku pikir, pastilah Kate juga ingin keluar. Aku membuka pintu dan kami berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Aku mengawalnya ke arah tengah untuk menghalanginya agar tidak membentur tembok di sekitarnya. Walaupun begitu, ia tetap juga membenturkan kepalanya ke dadaku. Buk! Buk! Buk!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku membuka pintu depan rumah sakit yang besar. Tiba-tiba, kami diselimuti pagi musim semi yang lembut, hijau dan kuning dengan pepohonan dan cahaya mentari. Udara hangat menyentuh kami, Kate pun terpana. Aku merasakan tangannya menegang dan setelah itu mengendur. Entah berapa lama ia tidak melihat dunia luar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepalanya seperti mendongak di atas bahunya. Dalam beberapa menit kemudian matanya tidak lagi melihat ke dalam, tetapi menerobos ke dunia indah yang kami huni. Dengan aroma bunga yang memenuhi udara, Kate tampaknya untuk beberapa saat dipenuhi dengan kekaguman pada dunia. Seekor kupu-kupu terbang melintas dan Kate mengawasinya dengan matanya ketika kupu-kupu itu hinggap di atas bunga di samping kami. Ia tampak terpesona dan tidak ada sedikit pun gerakan untuk membenturkan kepalanya. Memang siapa yang mau membenturkan kepada pada seekor kupu-kupu? Aku ingin Kate mengembalikan hidupnya lagi yang sudah dicuri oleh orang-orang yang bermaksud baik. Tujuanku ialah untuk membangkitkan penghargaan dia kepada dunia di sekitarnya, mendorongnya untuk mulai membuat pilihan, sehingga ia merasa sebagai seorang manusia dan bukan hanya sebuah kasus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Dr. Dan Baker kemudian memberikan berbagai latihan agar Kate mampu memilih tindakan di antara berbagai pilihan. Makin banyak pilihan yang telah dilakukannya, makin sedikit ia membenturkan kepalanya. Kesadaran dirinya timbul. Singkat cerita, Kate menjalani kehidupan yang normal, punya banyak kawan, dan punya penghasilan yang cukup. Pada suatu hari, ketika Dr. Baker mengunjunginya, ia berada di tengah-tengah pesta. Sekarang, kita akan melanjutkan lagi cerita Baker).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah orang banyak itu, aku pikir ia tidak akan mengenalku. Tetapi, ia menemukanku. Berlari kencang. Memelukku erat-erat. Tidak mau melepaskanku. Itulah bayaran terbaik yang pernah aku dapat, pelukan itu. Kebahagiaan yang datang dari pelukan itu berlangsung lama. Peristiwa ini membuatku meyakini untuk selama-lamanya kebenaran universal: Setiap orang mempunyai kemungkinan. Setiap orang. Dan memilih di antara berbagai kemungkinan itu adalah anugerah eksistensial kita sebagai manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat inilah aku mulai memperhatikan artikel jurnal yang ditulis oleh psikolog muda yang bernama Dr. Martin P. Seligman. Artikelnya menggugah, revolusioner. Dr. Seligman meninggalkan psikologi klinis yang didasarkan pada model penyakit\/pengobatan dan menuju &#8230; tidak tahu ke mana. Tampaknya ia bergerak menuju horizon psikologi baru, ketika penyakit tidak lagi satu-satunya definisi dari psike manusia. Kalau bukan penyakit, lalu apa?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang ini, Dr. Seligman adalah salah seorang di antara tokoh yang paling dihormati dalam dunia psikologi dan mantan Presiden American Psychological Association. Ia dianggap sebagai Bapak Psikologi Positif dan disebut sebagai &#8220;the Freud of the 21th Century&#8221; oleh Majalah Newsweek. Dr. Seligman percaya bahwa mempunyai pilihan dan membuat pilihan adalah fondasi yang paling kukuh untuk kesehatan psikologis manusia. &#8220;Kehidupan boleh jadi sangat brutal,&#8221; katanya, &#8220;tetapi jika kita selalu punya pilihan, kita akan selalu punya harapan.&#8221; Dan harapan, atau optimisme, ia yakin, adalah anugerah kita yang paling besar-satu-satunya yang masih tersisa setelah semuanya hilang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Harapan atau optimisme adalah tabiat manusia yang positif. Harapan memberikan kekuatan pada manusia untuk mengatasi goncangan kehidupan. Harapan adalah hasil evolusi manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dr. Dan Baker menemukan bahwa harapan telah menyembuhkan Kate, setelah semua teknik psikoterapi yang ada gagal. Ia juga tiba-tiba sadar bahwa psikologi selama ini tidak menaruh perhatian pada kekuatan manusia. Psikologi terlalu sibuk bergulat pada kelemahan manusia. Seligman membenarkan Baker ketika ia berkata, &#8220;Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.&#8221; Psikologi yang pertama adalah psikologi patogenis; yang kedua adalah psikologi positif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Psikologi Patogenis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;My good sir,&#8221; kata sang profesor dengan nada protes, \u201capakah Anda tidak percaya bahwa kriminologi itu sains?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Saya tidak yakin,&#8221; jawab Romo Brown. &#8220;Apakah Anda percaya bahwa hagiologi itu sains?&#8221; &#8220;Ilmu apa, tuh?&#8221; tanya sang spesialis dengan tajam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Tidak, ilmu ini tidak ada hubungannya dengan studi hag (nenek tua) dan tidak ada hubungannya dengan pembakaran nenek sihir,&#8221; kata Romo sambil tertawa. &#8220;Ilmu ini mempelajari hal-hal yang suci, orang-orang suci, dan sebagainya. Tahu tidak, Abad Pertengahan berusaha membuat ilmu tentang orang-orang baik. Tetapi era ini-era kemanusiaan dan pencerahan hanya tertarik dengan hal-hal yang buruk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seligman dan Peterson (2003) mengutip G.K. Chesterson dalam karyanya The Man with Two Beards untuk menjelaskan bagaimana sains modern memandang tabiat manusia dengan sinis. Manusia pada dasarnya buruk: mementingkan diri sendiri. Barry Schwartz (1986) mengamati asumsi manusia dari berbagai ilmu dan menyatakan bahwa:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8230; Biologi evolusioner, ekonomi, teori perilaku, semuanya memiliki pandangan yang sama tentang manusia&#8230; [Dalam pandangan ini] manusia&#8230; selalu mengejar kepentingan dirinya, memuaskan keinginannya, atau kesukaannya, atau keuntungannya, atau peneguhannya, atau kelayakan reproduktifnya. Manusia itu rakus, tidak pernah kenyang dalam mengejar pemuasan keinginannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabiat dasar manusia yang mementingkan diri sendiri itu disebut secara teknis sebagai egoisme psikologis-yang harus dibedakan dari egoisme etis (yang menyatakan bahwa kita seharusnya bertindak egois). Antropolog Fiske (1992) melihat egoisme psikologis sebagai konsep-konsep dasar dalam psikologi dan ilmu-ilmu sosial. Ia menulis,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak Freud sampai sosiobiolog kontemporer, sejak Skinner sampai kognisionis sosial, sejak Goffman sampai teoretisi game, asumsi yang dominan dalam psikologi Barat ialah bahwa sifat manusia pada dasarnya individualis dan asosial. Para psikolog (dan kebanyakan ilmuwan sosial lainnya) biasanya menjelaskan hubungan sosial sekadar alat untuk mencapai tujuan-tujuan ekstrinsik non-sosial, atau sebagai kendala yang membatasi pemuasan keinginan individual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena tabiat manusia itu buruk, maka apa pun perilaku positif dipandang sebagai bagian dari egoisme psikologis yang tersembunyi. Dengan menggunakan istilah komputer, sifat buruk adalah default. Sifat-sifat baik hanya muncul karena kita melakukan <em>setting<\/em> baru. Secara otomatis, kita melakukan hal-hal yang buruk. Kita melakukan hal-hal yang baik secara optional, karena pertimbangan-pertimbangan tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lawan dari egoisme adalah altruisme (berkhidmat kepada orang lain). Tetapi, kata para psikolog, altruisme dilakukan orang ujung-ujungnya untuk kepentingan dirinya juga. Ketika menolong orang, kita mungkin ingin memperoleh simpatinya, atau sebagai investasi untuk mendapat pertolongan darinya pada hari lain, atau tidak karena motif-motif yang baru disebut- -karena ikhlas tetapi karena kita merasakan kebahagiaan dalam menolong. Itu juga masih termasuk egoisme psikologis. &#8220;Garuklah seorang altruis, dan lihat darah hipokrit mengalir,&#8221; seperti dikutip Michael Gheselin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kacamata Freud, kita akan selalu menemukan egoisme ini jauh di dalam bawah sadar. Perbuatan baik hanyalah salah satu mekanisme pertahanan ego. Ia menyebutnya formasi reaksi: orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sebetulnya ia inginkan. Katakanlah, Anda melihat orang yang berusaha untuk tidak menularkan penyakitnya yang fatal. Tindakan itu bukan karena ia baik, melainkan karena ia terdorong oleh &#8220;keinginan bawah sadarnya untuk menularkan penyakit itu pada orang lain.&#8221; Jika ada ibu yang sangat memanjakan anaknya, Freud akan menjelaskan bahwa secara tidak sadar, ibu itu sebetulnya tidak menginginkan anaknya. Jangan tanya: &#8220;Kok dibolak-balik!&#8221; Betapapun tidak logisnya, para psikolog-dan lebih\u2014lebih para psikiater\u2014menganggap kisah bolak-balik ini sebagai kebenaran. Sepeninggal Freud, anaknya menolak semua sifat altruisme manusia dan menulis satu bab khusus untuk itu dalam <em>The Ego and the Mechanism of Self-Defense.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Egoisme psikologis ini oleh Freud diberi istilah teknis: <em>pleasure principle<\/em>, prinsip kesenangan. Prinsip inilah yang menjadi sumber energi, magma yang tersembunyi dalam bagian terbesar gunung es ketaksadaran kita. Berbagai gangguan kejiwaan yang menggerakkan perilaku manusia berasal dari kegagalan memenuhi prinsip ini. Jika orang tidak dapat menggapai keinginannya (dalam kehidupan nyata), maka ia akan berusaha menyerang, menipu, atau menolak kenyataan. Jika tidak berhasil memperoleh cinta (yang selalu direduksi Freud sebagai seks), Anda dapat menyerang kekasih Anda atau menganggap kekasih Anda orang yang buruk (rasionalisasi), atau menekan hasrat Anda ke alam bawah-sadar Anda (<em>inhibisi<\/em>). Inilah mekanisme pertahanan ego. Jika mekanisme itu tidak jalan, maka Anda <em>kolaps<\/em>. Anda menderita psikosis. Anda &#8220;gila.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menyembuhkan penyakit yang diberi nama dengan berbagai istilah bahasa Latin, psikolog menggunakan model medis: mengidentifikasi sebab (diagnosis) dari problem kejiwaan (penyakit) dalam diri penderita (pasien) dan melakukan intervensi (pengobatan) yang akan menghilangkan problem itu (penyembuhan). Semua istilah dalam kurung itu diambil oleh psikolog dari ilmu kedokteran. Konon, menurut Maddux (2002), klinik psikologis pertama, yang didirikan Lightner Witmer di Universitas Pennsylvania pada 1896, melayani anak-anak (bukan pasien) yang mengalami kesulitan belajar (dan bukan gangguan mental, mental disorder). Kunjungan Freud ke Clark University pada 1909 bukan saja membuat psikoanalisis menjadi rujukan utama, tetapi juga memasukkan istilah medis pada psikiatri dan psikologi klinis. Psikologi menjadi studi tentang penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pada 1947 didirikan <em>The National Institute of Mental Health,<\/em> proyek-proyek lembaga ini justru berurusan dengan mental illness atau mental disorder. Para psikolog mencari nafkah bukan dengan membantu meningkatkan kesehatan mental. &#8220;Ribuan psikolog menyadari bahwa mereka bisa mencari nafkah dengan mengobati penyakit mental,&#8221; kata Seligman dan Csikszenmihalyi (2000).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika behaviorisme muncul, ia hanya mengganti istilah, Pleasure principle digantikan dengan <em>reinforcement<\/em>. Dan pendekatan psikologi yang patogenis tetap saja dominan. Walaupun bermunculan beberapa mazhab psikologi\u2014seperti humanistis, eksistensial, transpersonal\u2014yang berusaha menampilkan wajah manusia lebih positif, psikologi klinis masih saja berkutat pada wajah manusia yang buruk. Sepanjang dan sampai akhir abad ke-20, Anda dapat menemukan ribuan artikel tentang depresi dan hanya beberapa artikel tentang kebahagiaan; ribuan artikel tentang kecemasan dan hanya segelintir artikel tentang harapan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka, perkembangan psikologi ditandai dengan bertambahnya jumlah gangguan kejiwaan, sebagaimana ditunjukkan dengan bertambah panjangnya daftar gangguan dalam <em>Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders<\/em> (DSM). Jumlah halaman DSM naik dari 86 pada 1952 ke hampir 900 pada 1994. Jumlah gangguan mental bertambah dari 106 menjadi 257. Sekarang ini, hampir semua problem manusia dianggap sebagai gangguan kejiwaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dahulu, ada lelucon untuk menyindir kebiasaan para psikoanalis yang mempatologikan semua perilaku pasien. Jika pasien datang ke tempat praktik sebelum waktunya, maka ia dibilang &#8220;cemas&#8221; (<em>anxious<\/em>). Jika ia datang terlambat, maka ia disebut \u201cgalak&#8221; (<em>hostile<\/em>); dan jika ia datang tepat waktu, maka ia dikatakan &#8220;kompulsif.&#8221; Sekarang, saya kutipkan untuk Anda catatan DSM-IV &nbsp;(yang paling mutakhir) tentang patologisasi perilaku yang sangat menggelikan (walaupun DSM-IV adalah buku ilmiah). Maddux (2000) menulis,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Simaklah sebagian dari &#8220;gangguan mental&#8221; dalam DSM-IV.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan emosi sebelum menstruasi sekarang disebut premenstrual <em>dysphoric disorder.<\/em> Perokok menderita kebergantungan nikotin. Kalau minum kopi yang banyak, Anda dianggap menderita intoksikasi kafein atau <em>caffeine-induced sleep disorder. <\/em>Mabuk disebut <em>&#8220;intoksikasi alcohol.&#8221;<\/em> Jika Anda &#8220;sibuk memerhatikan cacat dalam penampilan&#8221; yang menyebabkan &#8220;perasaan sangat tidak enak atau gangguan dalam &#8230; berfungsi (hlm. 4 66),&#8221; maka Anda menderita body dysmorphic disorder. Anak yang prestasi akademisnya &#8220;secara substansial di bawah usia, sekolah dan tingkat intelegensi yang diharapkan&#8221; (hlm. 46) berarti bahwa ia mengalami learning disorder. Bayi yang ribut melulu dianggap menderita <em>oppositional defiant disorder<\/em>. Bahkan, problem hubungan di antara teman sebaya, yang dialami oleh semua orangtua di mana pun mendapat tempat dalam DSM-IV, walaupun disebut sebagai gangguan mental yang resmi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perilaku seksual muncul dalam bentuk yang begitu beragam sehingga menentukan mana yang &#8220;normal&#8221; dan mana yang &#8220;adaptif&#8221; menjadi tugas yang sangat sulit. Walaupun begitu, perilaku seksual sangat subur untuk dipatologikan dalam DSM-IV. Tidak mau melakukan seks secukupnya disebut &#8220;gangguan hasrat seksual hipoaktif.&#8221; Tidak mau berhubungan seks sama sekali disebut &#8220;gangguan aversi seksual.&#8221; Melakukan seks tetapi tidak mengalami orgasme atau mengalami orgasme terlalu cepat atau terlalu lambat dianggap sebagai &#8220;gangguan orgasmis.&#8221; Kegagalan (lelaki) untuk mempertahankan &#8220;ereksi yang memadai. yang menyebabkan rasa tidak enak atau kesulitan interpersonal (h.504) adalah &#8220;gangguan ereksi lelaki.&#8221; Kegagalan (perempuan) untuk mempertahankan &#8220;pembasahan yang memadai atas respon pembesaran karena rangsangan seksual&#8221; (h.502) yang disertai dengan rasa tidak enak disebut &#8220;gangguan rangsangan seksual perempuan.&#8221; Masturbasi berlebihan dianggap sebagai tanda gangguan mental (Gillman, 1988). Barangkali pada DSM-V nanti, tidak melakukan masturbasi sama sekali, jika disertai dengan &#8220;rasa tidak enak atau kesulitan interpersonal,&#8221; akan menjadi gangguan mental juga (&#8220;gangguan aversi autoerotik&#8221;).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Dengan bekal buku DSM yang seharusnya dihafal di luar kepala, Dr. Aaron Beck mulai mempraktikkan model psikoanalisis untuk mengobati pasien-pasiennya. Ia membongkar lapis demi lapis pertahanan ego pasien. Ia menggali jauh ke dalam bawah sadar. Ia ingin menemukan sumber dari segala gangguan jiwa. Ia mengajak pasiennya untuk mengenang masa kecilnya, ibunya, bapaknya, dan orang-orang yang berperan dalam masa lalunya. Ia mengikuti semua prosedur psikoanalisis dengan setia. Akan tetapi, kenyataan di ruang terapi berbeda jauh dari realitas seperti digambarkan dalam wacana akademis. Rada sulit bagi pasien untuk berbicara tentang masa kecilnya atau tentang trauma masa lalunya. Mereka lebih senang berbicara tentang apa yang terjadi pada hidupnya <em>sekarang<\/em> ini. Mereka ingin <em>curhat<\/em> tentang apa yang mereka lihat dalam kehidupan pribadi mereka, orang-orang di sekitar mereka, dan tentang masa depan mereka. Mereka ingin berbagi apa yang mereka pikirkan. Mereka tidak peduli pada diagnosis. Mereka hanya peduli pada apa yang harus mereka lakukan untuk memulai hidup lagi tanpa penderitaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Joe, seperti diceritakan oleh Reivich dan Shatt\u00e9 (2002), didiagnosis menderita <em>generalized anxiety disorder<\/em>. Penyebabnya sudah ditemukan. Tetapi, apa gunanya semua itu kalau deritanya tidak berakhir? la menceritakan pengalamannya setelah mengikuti terapi psikoanalisis, &#8220;Dalam terapi tadi, aku merasa seperti korban kecelakaan. Aku merasakan kecemasan dan depresi menabrakku seperti truk. Aku terbaring di dalam parit di pinggir jalan. Dokterku yang lama menghabiskan waktu 8 tahun untuk memeriksaku\u2014di situ, di dalam parit itu. Ia menjelaskan setiap tulang yang patah, setiap organ yang rusak, setiap goresan dan luka. Tetapi, tidak ada perubahan apa pun. la tidak memperbaiki tulang atau menghilangkan rasa sakit. Bahkan, ia tidak mengangkatku dari dalam parit. Aku tidak mau tahu lagi seberapa parah lukaku. Aku mencari orang yang dapat menolongku untuk menyelamatkanku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang seperti Joe datang kepada Beck untuk memperoleh terapi baru. Beck menemukan bahwa pikiran pasien\u2014yang disebut kognisi-sangat menentukan emosinya. Dan emosi pada gilirannya sangat penting untuk menentukan ketahanan pasien (<em>resilience<\/em>). Yang dapat menolong pasien bukan dokter, melainkan pikirannya sendiri. Beck kemudian mengembangkan sistem terapi yang disebut terapi kognitif untuk membimbing pasien mengubah cara berpikirnya agar bisa mengatasi kecemasan dan depresi. Ia menemukan teknik penyembuhan pasien tanpa psikoanalisis dan obat dan bahkan untuk penyakit yang diduga bersifat biologis. Beck menjadi tokoh revolusioner dalam psikoterapi!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ambillah sebagai contoh gangguan kejiwaan yang disebut panik. Panik adalah gangguan kejiwaan yang menyerang tiba-tiba. Pasien mengalami sakit dada, keringatan, mual, pusing, sesak napas, merasa tercekik, atau tubuh berguncang. Pasien membayangkan ia bakal kena &#8220;stroke&#8221; atau serangan jantung atau mati mendadak atau tidak mampu mengendalikan dirinya lagi. Sudah disepakati oleh para psikiater bahwa gangguan jiwa panik berasal dari sebab biologis. Gejala ini bisa diinduksi secara biologis (misalnya, diinjeksi sodium laktat), tampaknya diwarisi secara genesis, dapat dilihat dari fungsi otak tertentu (seperti dideteksi dengan PET-scan), dan dapat diobati dengan obat kimiawi antidepresan (Tricyclic dan Xanax).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">David Clark, psikolog muda dari Oxford, mengajukan teori alternatif. Perasaan panik seperti takut mati atau takut kena serangan jantung- bukanlah gejala, melainkan sebab. Panik sebetulnya hanyalah salah penafsiran yang katastrofik dari sensasi tubuh, <em>catastrophic misinterpretations of body sensation<\/em>. Ketika kita panik, detak jantung mulai naik. Anda merasakannya. Anda menafsirkannya sebagai peringatan ihwal serangan jantung. Anda cemas, dan jantung berdetak lebih cepat. Sekarang, Anda yakin ini pasti serangan jantung. Anda ketakutan. Maka, Anda mulai berkeringat, merasa mual, dan sesak napas. Clark berhasil menyembuhkan penderita panik dengan melatih pasiennya menafsirkan secara benar sensasi tubuhnya, dengan tingkat sukses yang jauh lebih tinggi daripada penggunaan obat-obatan. (Dengan teknik kognitif ini, hampir tidak ada pasien yang sudah sembuh kumat lagi.)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebenarnya, pada 1967, Aaron Beck menulis buku pertama tentang depresi. Ia menemukan bahwa penderita depresi selalu memikirkan hal-hal yang buruk tentang dirinya dan masa depannya. Pikiran itu bukan akibat, melainkan sebab dari depresi. Depresi, kata Beck, bukan karena kimia otak yang rusak (seperti kata neurolog), bukan juga karena marah yang diarahkan ke dalam (seperti kata Freud), melainkan karena gangguan dalam berpikir yang sadar. Bereskan pikiran yang kusut, dan depresi akan sembuh dengan sendirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kembali kepada Joe.Iasudah disembuhkan dari kecemasanyangmenghantui hidupnya. Ia sudah diangkat dari negatif ke nol. Tetapi, Joe ingin menaikkan hidupnya di atas nol. Ia tidak hanya ingin terbebas dari penderitaannya. Ia ingin hidup bahagia. Untuk itu, psikologi lama tidak bisa membantunya. Sudah datang waktunya bagi psikologi yang patogenis (negativistik, berfokus pada problem dan penyakit) untuk memberikan tempat pada psikologi salutogenis (positivistik, berfokus pada kekuatan dan kebahagiaan) atau psikologi positif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Psikologi Positif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika psikologi patogenis sibuk mempelajari kelemahan dan kerentanan kita dan berusaha memperbaikinya, maka psikologi salutogenis memusatkan perhatian pada kelebihan dan kekuatan kita. Alih-alih berusaha memperbaiki apa yang rusak dalam diri kita, psikologi salutogenis mencoba untuk membangun hidup kita di atas apa yang terbaik dalam diri kita. Salute berarti menghormati, mengagumi, menghargai, dan mengakui. Sangat menarik bahwa kata salute berasal dari bahasa Latin salus, salut, yang berarti &#8220;kesehatan, kesejahteraan, dan salam penghormatan.&#8221; Psikologi salutogenesis mengidentifikasi kekuatan dalam diri kita untuk mencapai kesehatan dan kebahagiaan. Bukan hanya lepas dari penyakit, tetapi juga hidup bahagia. Bukan hanya &#8220;<em>livi ng<\/em>,&#8221; tetapi juga &#8220;<em>thriving<\/em>,&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika Aaron Beck dari Universitas Pennsylvania memandang stres sebagai kesalahan dalam berpikir yang harus diluruskan, maka Aaron Antonovsky dari Universitas Ben Gurion melihat stres sebagai pembangkit kekuatan manusia untuk menikmati kehidupan. Bahkan, pada stres pun ia memberikan salute. Dari sinilah, Antonovsky menciptakan psikologi salutogenis, sebelum istilah &#8220;psikologi positif&#8221; muncul. Antonovsky menulis, &#8220;Orientasi patogenis tanpa kecuali melihat stresor sebagai patogenik, sebagai faktor risiko yang harus dikurangi, dilawan atau dibentengi&#8230; tetapi asumsi bahwa stresor itu secara inheren buruk adalah asumsi yang sangat lemah.&#8221; Sekarang, Aaron yang kedua ini mengalihkan perhatian dari sebab-sebab dan gejala stres ke kekuatan dan kemampuan orang untuk mengatasi stres. Paul Pearsall (2003), psikolog yang berhasil melewati saat-saat kritis dalam hidupnya, termasuk kanker ganas, menggambarkan pendekatan salutogenis:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah pendekatan yang memberikan penghormatan&#8221; pada kehidupan dan bukan mempatologikannya. Alih-alih mencari gejala-gejala penyakit seperti depresi tentang masa lalu, kejenuhan pada masa kini, dan pesimisme tentang masa depan; pendekatan salutogenis Antonovsky menekankan sumber kepuasan pada masa lalu, kenikmatan pada masa kini, dan harapan, optimisme, serta kepercayaan akan masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin karena pendekatan salutogenis berpusat pada hal-hal yang positif pada diri manusia, istilah &#8220;psikologi positif&#8221; terasa lebih menggigit. Istilah ini muncul dalam benak Martin Seligman segera setelah ia terpilih sebagai Presiden American Psychological Association. Sebelum pemilihan, ia sempat memikirkan tema yang akan dipresentasikan pada pelantikannya. Ia berkumpul bersama para psikolog senior seperti Mike Csikszenmihalyi dan menemui jalan buntu. Psikologi yang patogenis tidak mengilhami penelitian-penelitian baru. Pendekatan mekanistis berdasarkan model-penyakit dari dunia kedokteran tidak merangsang imajinasi para psikolog muda. Mesti ada sesuatu yang baru. Dan yang baru itu hanya diperoleh dengan mengganti kacamata. Nikki, seperti yang diceritakan dalam buku ini, memberikan kacamata itu pesan dan paradigma baru! Seligman menulis:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pesan psikologi positif ialah mengingatkan bahwa bidang psikologi hanya setengah masak. Kita telah memperoleh banyak kemajuan dalam studi penyakit mental dan perbaikan kerusakan. Tetapi, kita sedikit sekali mengalami kemajuan dalam kajian-kajian lainnya. Psikologi bukan hanya studi tentang penyakit, kelemahan, dan kerusakan. Psikologi juga adalah studi tentang kebahagiaan, kekuatan, dan kebajikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada hari berikutnya, ia memanggil Mike Csikszenmihalyi dan berkata, &#8220;Mike, saya tidak tahu apa rencana Anda pada tahun baru ini, tetapi saya ingin Anda membatalkannya. Berangkatlah ke Meksiko bersama saya dan Mandy untuk membahas gagasan pendirian psikologi positif.&#8221; Lalu, ia menelepon Ray Flower dan menyuruhnya melakukan hal yang sama. Mereka bertemu di Meksiko selama seminggu dengan berjalan-jalan, berbincang, dan berpikir tentang masa lalu dan masa depan psikologi. Mereka bertanya mengapa psikologi diberi label profesi &#8220;penyembuhan&#8221; hanya berkenaan dengan mengidentifikasi dan memperbaiki apa yang rusak pada diri orang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka, psikologi positif pun ditahbiskan pada pidato pelantikan Seligman pada 1997. Dalam pidatonya, ia menyebutkan bahwa sebelum Perang Dunia II, ada tiga misi psikologi: menyembuhkan penyakit mental, membuat hidup lebih bahagia, dan mengidentifikasi dan membina bakat mulia dan kegeniusan. Setelah Perang Dunia II, dua misi yang terakhir diabaikan sama sekali. Berdasarkan kedua misi inilah, ditegakkan tiga tonggak psikologi positif: (1) studi tentang emosi positif, (2) studi tentang sifat-sifat positif, yang terutama sekali kekuatan dan kebajikan, dan (3) studi tentang lembaga-lembaga positif yang mendukung kebajikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara singkat, psikologi positif ingin memberikan pandangan tentang manusia dari sisi lain. Jika psikologi patogenis memusatkan perhatian pada penderitaan, psikologi positif berkepentingan dengan kebahagiaan. Jika psikologi selama ini hanya berkutat dengan sifat-sifat buruk manusia, psikologi positif ingin menampilkan sifat-sifat indah dari manusia. Manusia bukan hanya makhluk rakus, homo avarus, yang mementingkan diri sendiri, melainkan juga makhluk hidup yang tidak bisa hidup normal tanpa mencintai dan dicintai. Di balik awan kelabu kehidupan manusia\u2014betapapun gelapnya\u2014selalu tersisa garis-garis perak. Tugas psikologi positif adalah mempertegas garis-garis perak itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, di tengah-tengah benturan kepala Kate yang ingar-bingar, ada saat-saat diam yang sunyi sepi. Ketika rekan-rekannya sibuk mencari sebab di balik benturan kepala Kate, Dan Baker, salah seorang pengusung psikologi positif, memusatkan perhatiannya pada keheningan yang menyejukkan. Keheningan Kate menampilkan garis-garis perak itu. Garis-garis perak itu adalah kemungkinan untuk berubah menjadi lebih baik, untuk memunculkan kekuatan dan kebajikan. Kita ulangi lagi epifani Baker.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemungkinan, aku masih yakin, selalu ada pada kita semua, bahkan pada orang-orang yang paling sedikit memilikinya bahkan pada sebagian di antara kita (dan mungkin itu termasuk Anda) yang terpuruk dalam sebuah sudut sempit. Kemungkinan, bukan saja selalu ada, tetapi juga tidak dapat dilepaskan. Kemungkinan diperlukan untuk kehidupan jiwa sebagaimana oksigen diperlukan untuk kehidupan raga&#8230;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku yang Anda pegang sekarang ini bukan hanya buku ilmiah. Ia akan membukakan cakrawala kemungkinan yang tidak terbatas. Ia akan menyingkapkan wajah manusia Anda yang gemerlap. la akan mengantarkan Anda kepada bukan hanya sekadar hidup, tetapi hidup bahagia. Dengan buku ini, Anda meninggalkan psikologi &#8220;bengkel yang memperbaiki jiwa-jiwa yang rusak menuju psikologi &#8220;pandai emas\u201d yang menyepuh logam mulia menjadi lebih cemerlang. Dalam bahasa Seligman, Anda bergerak dari tempat parkir yang sempit menuju jalan raya untuk menaiki dataran tinggi kekuatan dan kebajikan, dan mengantarkan Anda ke puncak kenikmatan yang lestari, makna dan tujuan hidup. Mudah-mudahan membaca buku ini akan menjadi epifani Anda. Selamat membaca dan selamat berbahagia! &nbsp;<strong>JR <\/strong><em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ingatkah Anda pada satu peristiwa dalam kehidupan Anda ketika Anda mengubah jalan hidup Anda? Mungkin Anda bertemu dengan seorang guru yang menasihati Anda dengan satu kalimat; dan kalimat itu mengubah cara Anda memandang kehidupan. Atau, Anda menyaksikan pemandangan yang sangat menyentuh dan Anda merasa disadarkan pada kenyataan yang selama ini terabaikan. Para ilmuwan sosial dan &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2514\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;FROM SUFFERING TO SAVORING&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-2514","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2514"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2516,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2514\/revisions\/2516"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}