{"id":2543,"date":"2025-12-01T02:37:02","date_gmt":"2025-12-01T02:37:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2543"},"modified":"2025-12-01T02:37:02","modified_gmt":"2025-12-01T02:37:02","slug":"kecuali-para-penyair-yang-beriman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2543","title":{"rendered":"KECUALI PARA PENYAIR YANG BERIMAN"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/565-KECUALI-PARA-PENYAIR-YANG-BERIMAN-1-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2545\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/565-KECUALI-PARA-PENYAIR-YANG-BERIMAN-1-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/565-KECUALI-PARA-PENYAIR-YANG-BERIMAN-1-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/565-KECUALI-PARA-PENYAIR-YANG-BERIMAN-1-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/565-KECUALI-PARA-PENYAIR-YANG-BERIMAN-1.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00c2&#8217;isyah berkata bahwa Rasulullah Saw pernah memperbaiki sandalnya: Aku duduk menjahit. Aku memandang kepadanya. Aku lihat keringat mengalir dari dahinya, memancarkan berkas-berkas cahaya. Aku terpesona. Rasulullah Saw memandangku seraya berkata, &#8220;Mengapa engkau terpesona?&#8221; Aku menjawab, &#8220;Ya Rasul Allah, aku tadi melihatmu dan aku lihat keringat muncul di dahimu, memancarkan berkas-berkas cahaya. Sekiranya penyair Abu Kabir al-Hudzali melihatmu, pastilah ia tahu bahwa engkau paling berhak dilukiskan dalam syairnya.&#8221; Nabi Saw berkata, &#8220;Bacakan kepadaku puisinya.&#8221; &#8216;\u00c2&#8217;isyah pun mendeklamasikan sajak Abu Kabir, di antaranya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Penghapus segala derita wanita dan kesusahan yang menyusui.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Obat segala penyakit yang tak tersembuhkan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Bila kulihat sinar mukanya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Berkilat bagaikan kilatan dahi yang gemerlap<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah Saw meletakkan apa yang ada di tangannya. Ia berdiri, dan mencium di antara kedua mataku. Ia bersabda, &#8220;Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai &#8216;A&#8217;isyah. Kebahagiaanmu karena aku, sama dengan kebahagiaanku karenamu.&#8221; (<em>Hilyat al-Awliya<\/em> 2:45).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah Muhammad Saw senang mendengarkan dan sekali-sekali membacakan puisi. Ia memuji Hasan bin Ts\u00e2bit, penyair yang mendendangkan puisi yang mengungkapkan kekagumannya pada Nabi Saw. &#8220;Sesungguhnya Allah memperkuat Hasan bin Tsabit dengan Ruh Kudus selama ia membela Rasulullah. Ketika Muhammad Saw diberi kemenangan dalam perang, ia teringat pamannya Ab\u00fb Th\u00e2lib, yang melindunginya sejak kecil sampai menjadi Nabi Saw. Air matanya tergenang di pelupuk matanya. Ia berkata, &#8220;Sekiranya paman masih hidup, tentu bahagialah hatinya. Siapa di antara kalian yang mau membacakan puisi pamanku?&#8221; Para sahabat bergilir membacakan puisi Ab\u00fa Th\u00e2lib. Ketika ia mengangkut batu bata dalam persiapan Perang Khandaq, tanah menciprati kulit perutnya yang mulia. Ia membacakan puisi Abdull\u00e2h bin Rawahah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Ya Allah, jika Engkau tiada<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Tidaklah kami mendapat petunjuk<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Tidak akan berderma atau sembahyang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Turunkan ketenteraman kepada kami<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Teguhkan langkah ketika musuh menghadang kami<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Mereka ingin membinasakan kami<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Jika menyerang, kami lawan mereka.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peristiwa di atas diriwayatkan Imam Ahmad (4: 302) dan banyak periwayat hadis lainnya, seperti juga Imam al-Bukhari. Tidak syak lagi, puisi bukan saja tidak dilarang Nabi Saw, tetapi ia bahkan mendorong para sahabatnya untuk berkreasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika turun ayat Al-Quran: <em>Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang- orang yang sesat<\/em> (Qs asy-Syu&#8217;ard, 26: 224), para penyair Muslim datang kepada Rasulullah Saw sambil menangis. &#8220;Kamilah penyair itu, ya Rasul Allah. Kepada kami turun ayat itu,&#8221; ujar mereka. Kemudian Nabi Saw membacakan ayat Al- Quran (Qs asy-Syu&#8217;ar\u00e2&#8217;, 26: 227): <em>Kecuali para penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. Kalian telah dizalimi dan kalian telah mendapat pertolongan.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tuhan mengecam penyair yang menggunakan bahasa untuk menunjang kezaliman, mengejar semata-mata popularitas, atau membangkitkan akhlak yang tercela. Inilah para penyair <em>yang &#8220;mengembara di tiap-tiap lembah,&#8221;<\/em> yang <em>suka &#8220;mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan&#8221;<\/em> (Qs asy-Syu&#8217;ar\u00e2&#8217;, 26: 225-226). Tetapi Tuhan memperkuat penyair yang menentang kezaliman, menyuarakan penderitaan orang tertindas, atau mengembangkan manusia ke arah kesempurnaan. Tuhan memperkuat mereka dengan Ruh Kudus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada alat yang begitu plastis untuk mengekspresikan perasaan dan sekaligus menggelorakannya, selain bahasa. Pada lidah penyair, bahasa berubah menjadi seperti tanah liat bagi para pengrajin, juga peluru bagi para pejuang. Puisi adalah stenografinya gagasan. Jika satu gambar dapat melukiskan seribu kata, maka satu kata dalam puisi dapat melukiskan seribu gagasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dilatarbelakangi itu, maka seperti Rasulullah Saw, saya ingin menyatakan apresiasi saya sebesar-besarnya pada upaya saudaraku MIF Baihaqi yang telah menuliskan tuturan hikmah berwajah puisi dalam buku ini. Seperti Nabi yang mulia, saya senang mendengarkan puisi dan senang juga membacakannya. Sebagai penutup buat pengantar singkat ini, izinkan saya membacakan puisi yang bukan puisi. Saya menggubahnya dari hadis pada <em>Tafsir ad-Durr al-Mants\u00fbr<\/em>, berkenaan dengan ayat Al-Quran (Qs al-Baqarah, 2:3):<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kurindukan Mereka, ya Rasul Allah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dini hari di Madinah Al-Munawwarah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angin sahara membekukan kulitku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gigiku gemertak<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kakiku berguncang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Engkau datang, ya Rasul Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kupandang dikau:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Assalamu &#8216;alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Assalamu &#8216;alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kudengar salam bersahut-sahutan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kau tersenyum, ya Rasul Allah, wajahmu bersinar<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angin sahara berubah hangat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dini hari Madinah berubah menjadi siang yang cerah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kudengar engkau berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adakah air pada kalian?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kutengok cepat gharibah-ku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada setetes pun air, ya Rasul Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kusesali diriku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjidmu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan percikan-percikan air dari gharibah-ku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kudengar suaramu lirih<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bawakan wadah yang basah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibah-ku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kau ambil gharibah kosong<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kau celupkan jari-jarimu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami berdecak, berebut, berwudhu dari pancuran sucimu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Betapa sejuk air itu, ya Rasul Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Betapa harum air itu, ya Nabi Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Betapa lezat air itu, ya Habib Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kulihat Ibnu Mas&#8217;ud mereguknya sepuas-puasnya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Qad gamatish shalih<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Qad qamatish shalah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Duhai bahagianya shalat di belakangmu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Usai shalat kau pandangi kami<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih dengan senyum yang sejuk itu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kudengar kau berkata lirih:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayyul khalqi a&#8217;jabu ilaikum \u00eem\u00e2nan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siapa makhluk yang imannya paling mempesona?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malaikat, ya Rasul Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana malaikat tak beriman,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">bukankah mereka berada di samping Tuhan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para Nabi, ya Rasul Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana nabi tak beriman,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami, para sahabatmu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana kalian tidak beriman<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">bukankah aku di tengah-tengah kalian<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau begitu, siapakah mereka ya Rasul Allah?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langit Madinah bening, bumi Madinah hening<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami termangu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">kudengar sabdamu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang paling menakjubkan imannya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">mereka yang datang sesudahku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">beriman kepadaku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang paling mempesona imannya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">mereka yang tiba setelah aku tiada<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">yang membenarkanku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">tanpa pernah melihatku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasul Allah?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalian sahabat-sahabatku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka beriman pada yang gaib,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">mendirikan shalat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">kepada mereka<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami terpaku<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langit Madinah bening, bumi Madinah hening<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kudengar lagi engkau berkata:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alangkah rindunya daku pada mereka<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kau rindukan mereka, ya Rasul Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kau dambakan pertemuan dengan mereka<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ya Nabi Allah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Assalamu &#8216;alayka ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wabarakatuh<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prosa liris atau puisi terlalu panjang atau apa saja ini, saya bacakan pada peringatan Maulud di Yayasan Muthahhari tahun 1415 H. Inilah puisi yang segera saya ingat ketika saudara MIF Baihaqi meminta saya mengantarkan bukunya berisi tuturan-tuturan hikmah hadis berbagai riwayat yang ada dalam terjemahan kitab klasik <em>Durrah an-N\u00e2shih\u00een<\/em>, dua jilid, yang dia aransemen- baru mendekati wajah puisi. Para pembaca, saya menangis ketika waktu itu. membacakannya, dan saya menangis lagi ketika saya menuliskan ulang buat Anda. <strong>JR <\/strong><em>Wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bandung, 8 Desember 1995<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00c2&#8217;isyah berkata bahwa Rasulullah Saw pernah memperbaiki sandalnya: Aku duduk menjahit. Aku memandang kepadanya. Aku lihat keringat mengalir dari dahinya, memancarkan berkas-berkas cahaya. Aku terpesona. Rasulullah Saw memandangku seraya berkata, &#8220;Mengapa engkau terpesona?&#8221; Aku menjawab, &#8220;Ya Rasul Allah, aku tadi melihatmu dan aku lihat keringat muncul di dahimu, memancarkan berkas-berkas cahaya. Sekiranya penyair Abu Kabir &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2543\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;KECUALI PARA PENYAIR YANG BERIMAN&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4033,4031,4038,4030,4044,4047,4039,4029,4034,4040,18,19,4043,4046,4037,4032,4041,4042,4035,4036,4045,17],"class_list":["post-2543","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-abdullah-bin-rawahah","tag-abu-kabir-al-hudzali","tag-abu-thalib-2","tag-apresiasi-puisi-nabi","tag-ayyul-khalqi-ajabu-ilaikum-imanan","tag-bahasa-sebagai-peluru-pejuang","tag-durrah-an-nashihin","tag-hadis-aisyah","tag-hasan-bin-tsabit","tag-iman-pada-yang-gaib","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-kerinduan-nabi-pada-umat-akhir-zaman","tag-menentang-kezaliman","tag-pengecualian-penyair-beriman","tag-perang-khandaq","tag-prosa-liris","tag-puisi-sebagai-alat-ekspresi","tag-qs-asy-syuara-26-224-227","tag-ruh-kudus","tag-saudara-nabi","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2543"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2543\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2546,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2543\/revisions\/2546"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}