{"id":2609,"date":"2026-04-04T04:00:28","date_gmt":"2026-04-04T04:00:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2609"},"modified":"2026-04-04T04:00:28","modified_gmt":"2026-04-04T04:00:28","slug":"sindrom-tsalabah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2609","title":{"rendered":"Sindrom Tsa&#8217;labah"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/578-Sindrom-Tsalabah-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2610\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/578-Sindrom-Tsalabah-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/578-Sindrom-Tsalabah-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/578-Sindrom-Tsalabah-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/578-Sindrom-Tsalabah.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Nabi saw. membangun masjid di Madinah, beliau menyediakan tempat terbuka di ujungnya. Tempat itu diberikan naungan dan disebut Shuffah. Di situlah tinggal para sahabat Nabi yang miskin atau pendatang dari jauh yang tak punya sanak saudara. Mereka hidup sangat sederhana dan sering kali menderita lapar. Malam-malam terkadang Nabi mengundang sebagian mereka untuk makan malam bersamanya, dan sebagian yang lain bersama sahabat Nabi yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Husayn lahir, Rasulullah saw. menyuruh Fathimah bersedekah senilai perak yang beratnya seberat rambutnya. Sedekah itu dimintanya untuk diserahkan kepada Ahli Shuffah dan orang miskin. Sekali-kali Nabi meminta sahabatnya yang lain mengirimkan makanan kepada penghuni Shuffah. Dengan segala kemiskinannya, Ahli Shuffah terbukti menjadi sahabat- sahabat Nabi pilihan. Merekalah yang paling rajin menghadiri majelis-majelis Nabi. Siang hari mereka berpuasa. Malam hari mereka ruku&#8217; dan sujud. Waktu-waktu luangnya mereka pergunakan untuk berzikir. Ketika perang berkecamuk, merekalah yang paling dahulu dibawa Nabi ke medan pertempuran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari &#8220;pesantren&#8221; Shuffah inilah keluar Hanzhalah bin Abi &#8216;Amir, yang jasadnya dimandikan para malaikat; Salm\u00e2n al-F\u00e5risi, pengembara pencari kebenaran yang dianugerahi ilmu <em>awwalin<\/em>&nbsp;dan <em>akhirin<\/em>; &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud, yang mendapat gelar pembaca Alquran pertama kepada orang kafir setelah Rasulullah; Hudzaifah al-Yam\u00e2n\u00ee, yang digelari Pemelihara Rahasia Rasulullah; Al-Barra&#8217; bin Malik, yang rambutnya tertutup debu karena lamanya beribadat di masjid; H\u00e2ritsah bin Nu&#8217;m\u00e2n, yang suara bacaan Alqurannya di surga kedengaran oleh Nabi dalam mimpinya; dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepada merekalah pada suatu hari Nabi saw. datang. Dengan ramah Nabi menyapa mereka, &#8220;Apa kabar kalian pagi ini?&#8221; Serentak mereka menjawab, &#8220;Baik, ya Rasulullah?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Hari ini kalian dalam keadaan baik. Bayangkan apa yang terjadi pada kalian jika pada pagi hari kalian makan pada satu wadah dan sore harinya pada wadah yang lain. Kalian menutup rumah kalian seperti menutup Ka&#8217;bah?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ya Rasulullah, apakah dalam keadaan demikian kami masih tetap dalam agama kami?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Benar.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kalau begitu, hari itu kami lebih baik dari hari ini. Kami dapat bersedekah dan membebaskan budak belian.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Tidak, hari ini lebih baik bagi kalian dari hari itu. Nanti kalian akan saling mendengki, saling menjauhi, dan saling membenci.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para ahli tafsir mengatakan bahwa berkenaan dengan Ahli Shuffah inilah turun ayat: <em>Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan rezeki dengan ukuran yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat<\/em>&nbsp;(QS 42:27).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada di antara manusia orang-orang seperti Ahli Shuffah. Tuhan menyempitkan rezekinya, tetapi memberinya peluang banyak untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum Muslim. Dalam keadaan miskin, mereka menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Termasuk kebijaksanaan Tuhan untuk membuat mereka&nbsp;kekurangan. Sebagaimana badai Utara yang ganas memperkuat bangsa Viking, seperti itulah penderitaan mengasah ruhani hamba-hamba Allah.&nbsp;Dengan ayat itu, Tuhan dan Rasul-Nya menghibur Ahli Shuffah untuk mensyukuri kekurangan mereka. Justru kalau mereka kaya, mereka mengalami degenerasi secara spiritual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walaupun turun berkenaan dengan Ahli Shuffah, ayat itu menyentuh kita semua. Bukankah ketika kita miskin, kita rajin salat berjamaah di masjid? Bukankah ketika jabatan kita tidak setinggi sekarang, kita mempunyai banyak waktu untuk berkencan dengan keluarga dan berkhidmat kepada umat? Bukankah ketika bisnis kita belum semaju sekarang, kita sering bersilaturahmi dengan sanak saudara dan tetangga? Bukankah setelah organisasi dan yayasan kita memperoleh dana besar kita bertengkar sesama kita, saling menjegal dan saling memfitnah?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sekitar kita, kita melihat orang-orang yang &#8220;korup&#8221; karena kekayaan. Banyak orang salih pada masa kesempitan berubah menjadi orang salah pada masa kesempatan. Ketika rezekinya banyak, mereka tidak punya waktu untuk beribadat; tidak jarang, bahkan mereka melakukan maksiat. Ketika menjadi aktivis kampus, ia tidur di masjid, karena tidak sanggup membayar sewa rumah. Di masjid itulah sebagian besar malamnya dihabiskan dalam zikir. Setelah menjadi direktur perusahaan, ia sering berkunjung ke tempat hiburan dan menghabiskan sebagian besar malamnya di situ. Ketika menjadi aktivis kampus yang kekurangan duit, ia terkenal &#8220;vokal&#8221; mengkritik kebijakan yang menindas rakyat. Setelah memegang posisi yang basah, ia bungkam. <em>Geld dat stom is maakt recht wat krom is.<\/em>&nbsp;Uang yang bisu dapat meluruskan yang bengkok. Uang yang bengkok juga telah membuat orang lurus menjadi bisu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Tsa&#8217;labah memohon doa Nabi agar dikaruniai rezeki yang banyak, Nabi saw. bersabda, &#8220;Harta sedikit yang dapat engkau syukuri lebih baik dari harta banyak yang tidak sanggup engkau syukuri.&#8221; Tsa&#8217;labah mendesak. Nabi mendoakannya. Tuhan mengabulkan doa Nabi. Tsa&#8217;labah menjadi kaya. Makin bertambah kekayaannya, makin jauh dia dari masjid, makin jarang bertemu dengan saudara-saudaranya kaum Mukmin. Sebuah ayat Al-quran turun memberikan peringatan kepadanya. Keluarganya menangis karena tahu ayat itu ditujukan kepadanya. Tsa&#8217;labah tak hirau. Ia mati tragis dalam kemunafikan dan kebakhilan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika hari ini Anda kekurangan, berdoalah supaya digabungkan dengan Ahli Shuffah. Jika Anda kaya, berhati-hatilah dengan &#8220;sindrom Tsa&#8217;labah.&#8221; JR <em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong>&nbsp;Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika Nabi saw. membangun masjid di Madinah, beliau menyediakan tempat terbuka di ujungnya. Tempat itu diberikan naungan dan disebut Shuffah. Di situlah tinggal para sahabat Nabi yang miskin atau pendatang dari jauh yang tak punya sanak saudara. Mereka hidup sangat sederhana dan sering kali menderita lapar. Malam-malam terkadang Nabi mengundang sebagian mereka untuk makan malam &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2609\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Sindrom Tsa&#8217;labah&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4314,2315,4313,4260,18,4308,19,3250,4309,79,4310,4316,4315,4307,4312,4311,17],"class_list":["post-2609","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-ahli-shuffah","tag-bakhil","tag-degenerasi-spiritual","tag-integritas-moral","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-karakter-viking","tag-katakangjalal","tag-kebahagiaan-sejati","tag-moral-decoupling","tag-munafik","tag-paradox-kekayaan","tag-pesantren-shuffah","tag-sindrom-tsalabah","tag-syukur-vs-kufur","tag-transformasi-karakter","tag-ujian-rezeki","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2609"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2609\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2611,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2609\/revisions\/2611"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}