{"id":2633,"date":"2026-04-20T10:22:37","date_gmt":"2026-04-20T10:22:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2633"},"modified":"2026-04-20T10:22:37","modified_gmt":"2026-04-20T10:22:37","slug":"bukankah-dia-manusia-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2633","title":{"rendered":"Bukankah Dia Manusia?"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/584-Bukankah-Dia-Manusia-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2634\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/584-Bukankah-Dia-Manusia-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/584-Bukankah-Dia-Manusia-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/584-Bukankah-Dia-Manusia-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/584-Bukankah-Dia-Manusia.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dua orang sahabat Nabi, penakluk Qadisiyyah, sedang duduk berbincang. Tiba-tiba lewatlah iringan jenazah. Keduanya lalu berdiri memberi penghormatan. Orang-orang berkata bahwa mayit itu adalah orang kafir. Menurut mereka, tidak selayaknya sahabat Nabi memberikan penghormatan kepada jenazah kafir. Sahal dan Qays, sahabat Nabi itu, menolak anggapan tersebut. &#8220;Dahulu,&#8221; kata Sahal, &#8220;kami berkumpul bersama Rasulullah saw. Lalu, lewatlah rombongan jenazah. Beliau berdiri, kami pun berdiri. Seorang di antara kami berkata, &#8216;Itu jenazah Yahudi!&#8221; Nabi bersabda, &#8216;Bukankah dia manusia?&#8221; (<em>Shahih al-Bukhari<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Ucapan Nabi yang indah \u2014bukankah dia manusia?\u2014 tertanam pada diri para sahabatnya. Di Qadisiyyah, ketika tentara Islam berhasil merebut kekuasaan, mereka tanpa risih berdiri, menghormati bangsa yang ditaklukkannya. Ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut Jerusalem dari tentara Salib, <em>&#8220;Not a drop of blood was shed,&#8221;<\/em> kata Toynbee. Selama berabad-abad, ketika bangsa Yahudi mengalami <em>diaspora<\/em>, mereka berlindung dengan aman di bawah kekuasaan Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Bukankah dia manusia?&#8221; adalah pertanyaan yang mengetuk hati nurani. &#8220;Bukankah dia manusia?&#8221; harus diteriakkan kapan saja, ketika percikan api fanatisme membakar dada, ketika keyakinan beragama berubah menjadi kepongahan, dan ketika kesalehan menampakkan diri dalam bentuk agresi terhadap keyakinan orang lain. Ketika keyakinan agama diberi nama, apalagi nama buruk, kita melupakan kemanusiaan pengikutnya. Karena kita mendehumanisasikan mereka, maka mereka muncul di hadapan kita sebagai monster. Bukan saja mereka tidak layak dihormati, mereka juga boleh diperlakukan apa pun.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sejarah, eksekusi dan persekusi terhadap pemeluk agama dimulai dengan menjuluki mereka. Pernah dalam tarikh Islam, ratusan ribu orang diusir, dikejar-kejar, dibunuh, setelah mereka dikenai julukan &#8220;<em>rafidhah<\/em>.&#8221; Orang-orang <em>Khawarij<\/em>, yang menghabiskan malam dalam tahajud dan zikir, berubah menjadi garang. Mereka membunuh sesama Muslim setelah lebih dahulu menyebut mereka &#8220;<em>kafir<\/em>.&#8221; Pada gilirannya, Khawarij dieliminasi setelah istilah &#8220;<em>bughat<\/em>&#8221; dikenakan kepada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah keyakinan muncul di tengah padang pasir Arabia. Ia ingin memurnikan tauhid. Ia mengambil ribuan nyawa Muslim setelah lebih dahulu memberi mereka label &#8220;<em>musyrik<\/em>.&#8221; Sekarang pun kita dengan senang dan tenang menabur fitnah, mengumbar makian, kepada sesama Muslim. Kita tidak merasa bersalah karena korban-korban kita itu sudah kita juluki <em>ahli bid&#8217;ah<\/em>, sekular, agen Zionis, GPK, munafik, dan sebagainya. Julukan itu telah menyembunyikan kemusliman mereka dan, lebih buruk lagi, membuang kemanusiaan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang terjadi pada dunia Islam terjadi juga pada agama lain, bahkan pada tingkat yang lebih ekstrem. &#8220;Sejak awal, Kristianitas telah berhenti sebagai agama <em>profetik<\/em> dan kreatif. Ia sudah berjalin berkelindan dengan tradisi kuno pengorbanan manusia, dengan pembersihan darah gaya Mithra,&#8221; tulis H.G. Wells dalam <em>The Outline of History.<\/em> Mulai abad ketiga belas, sebuah inkuisisi didirikan untuk siapa saja yang mengemukakan alternatif lain dalam memahami agama. Inkuisisi didirikan untuk menyiksa dan membunuhi pejuang-pejuang hati nurani. &#8220;Kini,&#8221; ujar Wells sambil melukiskan zaman itu, &#8220;pada ratusan pasar terbuka di Eropa, para tokoh Gereja menonton tubuh- tubuh musuhnya yang sudah hangus. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang kecil dan miskin. Mereka dibakar hangus dan hancur dengan sangat mengenaskan. Seperti itu juga misi mereka pada kemanusiaan, hangus dan hancur menjadi arang dan debu&#8230;. Intoleransi kelam dan tanpa belas kasihan ini adalah roh jahat yang digabungkan dengan proyek kerajaan Tuhan di bumi.&#8221; Wells tidak menyebutkan dengan tegas bahwa Inkuisisi yang kejam itu berlangsung setelah Gereja secara resmi menjuluki kelompok-kelompok Kristiani tertentu sebagai ahli <em>bid&#8217;ah<\/em> (heretik).<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah ratusan tahun penindasan, Luther bangkit. Ia berkata bahwa salah satu kesalahan besar Paus Leo X dalam Exsurge Domine ialah &#8220;membakar kaum heretik.&#8221; Luther menyebut tindakan itu bertentangan dengan kehendak Ruh Kudus. Dalam Surat Terbuka kepada Para Tokoh Kristen, Luther menulis, &#8220;Kita harus mengalahkan kaum heretik dengan buku, bukan dengan membakar mereka.&#8221; Tetapi, ketika Luther sudah berkuasa, ia berubah dari pejuang kebebasan menjadi seorang dogmatik. Dalam <em>Tischreden<\/em>, pidato di meja makan, ia menjuluki orang Yahudi dan para pengikut Paus sebagai &#8220;orang fasik yang tidak bertuhan,&#8230;. sepasang kaos yang dibuat dari kain yang sama.&#8221; Sekarang, ia membenarkan pembakaran, penyiksaan, pembunuhan siapa pun yang tidak setuju dengan pahamnya. &#8220;Siapa saja yang tidak menerima ajaranku tidak boleh diselamatkan,&#8221; ujar Luther. Dalam Pasal 13 Kitab Ulangan, ia menemukan pembenaran untuk menghukum mati kaum heretik. Sejak itu, dua kekuatan fanatik menghias sejarah Kristiani dengan genangan darah.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, ketika mengajarkan persaudaraan di antara kaum beriman, Al-quran memberi peringatan:&#8230; <em>Janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar, yang buruk,&#8230;<\/em> (QS 49:11). Julukan buruk itu menempatkan saudara kita sebagai musuh atau, paling tidak, sebagai orang asing. Julukan itu telah mempertentangkan orang-orang yang memiliki kesamaan. Melalui penjulukan, hubungan &#8220;kita&#8221; diubah menjadi &#8220;kami.&#8221; Untuk menumbuhkan persaudaraan di antara orang-orang Islam, Al-quran menyuruh kita berteriak, &#8220;Saksikanlah, kami ini orang-orang Islam!&#8221;. Untuk menumbuhkan penghargaan pada orang yang keyakinannya berbeda, Nabi saw. bersabda, &#8220;Bukankah dia manusia!&#8221; <strong>JR <\/strong><em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua orang sahabat Nabi, penakluk Qadisiyyah, sedang duduk berbincang. Tiba-tiba lewatlah iringan jenazah. Keduanya lalu berdiri memberi penghormatan. Orang-orang berkata bahwa mayit itu adalah orang kafir. Menurut mereka, tidak selayaknya sahabat Nabi memberikan penghormatan kepada jenazah kafir. Sahal dan Qays, sahabat Nabi itu, menolak anggapan tersebut. &#8220;Dahulu,&#8221; kata Sahal, &#8220;kami berkumpul bersama Rasulullah saw. Lalu, &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=2633\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Bukankah Dia Manusia?&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4390,4394,4392,4388,18,19,4393,4395,4396,4379,4397,4389,4391,1212,17],"class_list":["post-2633","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-bahaya-labeling","tag-dehumanisasi","tag-etika-pergaulan","tag-humanisme-islam","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-kerukunan-antarumat","tag-literasi-konflik","tag-pertahanan-karakter","tag-psikologi-massa","tag-qs-4911","tag-sahabat-nabi","tag-sejarah-inkuisisi","tag-shalahuddin-al-ayyubi","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2633","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2633"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2633\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2635,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2633\/revisions\/2635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}