{"id":3979,"date":"2026-08-10T16:55:14","date_gmt":"2026-08-10T16:55:14","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=3979"},"modified":"2026-08-10T16:55:14","modified_gmt":"2026-08-10T16:55:14","slug":"secara-genetik-kita-punya-sifat-toleran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=3979","title":{"rendered":"Secara Genetik, Kita Punya Sifat Toleran"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"819\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/618-Secara-Genetik-819x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3980\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/618-Secara-Genetik-819x1024.png 819w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/618-Secara-Genetik-240x300.png 240w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/618-Secara-Genetik.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 819px) 100vw, 819px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai agama mayoritas, Islam berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan. Dan kita mencatat toleransi dan hubungan harmonis antar agama begitu kuat dalam penyusunan UUD 1945. Namun, belakangan ini kita kerap mendengar intoleransi meningkat. Bagaimana Islam dan hubungannya dengan situasi bernegara saat ini?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bila kita berbicara dalam konteks sejarah, seorang ahli politik, George McT Kahin, mengatakan bahwa sebetulnya yang membentuk nasionalisme Indonesia itu adalah Islam. Karena Islam mayoritas dan menyebar di begitu banyak pulau di seluruh indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia sering dikatakan bukan sebagai suatu bangsa, tapi sebagai kumpulan bangsa-bangsa. Baik itu Jawa, Sunda dan lain-lain. Mereka berbeda-beda. Tapi karena disatukan oleh kitab, lalu mereka membangun bangsa Indonesia. Jadi kontribusi pertama Islam adalah membangun kebangsaan. Orang Indonesia yang beragama Islam, yang terdapat di berbagai daerah bersama-sama membangun suatu bangsa. Islam-lah yang mempersatukan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan kontribusi kedua adalah bahwa Islam membantu kita membentuk nasionalisme kebangsaan. Tentu saja karena Islam itu mayoritas, maka dia memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan NKRI. Sampai Bung Karno pendiri bangsa ini berkata, &#8220;Kalau kau gali hatiku ini lebih dalam, maka kau temukan di dalamnya itu Islam&#8221;. Para pejuang kemerdekaan juga mayoritas orang Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sewaktu pembentukan UUD 45 menyusul setelah Piagam Jakarta, kaum muslimin bersedia dalam tanda petik \u201cmengorbankan\u201d kalimat \u2018kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi para pemeluknya.\u2019 Itu demi menjaga persatuan. Sehingga dalam pembukaan UUD 45 tidak lagi disebut dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam. Jadi masalah Syariat Islam, sesungguhnya sudah diselesaikan waktu itu, demi NKRI. Dalam pidato Pancasilanya, Bung Karno berkata semua orang Islam dalam NKRI itu bisa berjuang mati-matian secara demokratis untuk memperjuangkan haknya. Tapi kelompok-kelompok yang lain juga bisa berjuang secara demokratis. Pertandingannya itu dalam pemilu. Entah kenapa, belakangan pertandingan itu bergeser, tidak lagi dalam pemilu. Tapi dalam kehidupan sehari-hari. Saya lihat ini terjadi pasca Soeharto (Orde Baru). Karena di zaman Soeharto, orang-orang yang menyentuh masalah agama itu dianggap SARA. Akan segera ditindak oleh Soeharto kalau menyerempet SARA. Setelah itu, Soeharto digantikan oleh Habibie dan Gus Dur. Sampai zaman Gus Dur kita masih menghargai Ke-Bhineka-Tunggal-Ika-an negeri ini, walaupun mulai muncul kebangkitan kaum muslimin. Orang-orang Islam sekarang membentuk partai. Banyak parpol yang mengatasnamakan Islam, mereka bertanding juga dalam pemilu dan sebagian akhirnya memperoleh suara yang bagus. Dalam situasi seperti itu, sering sekali isu-isu agama itu disentuh, menurut saya karena kepentingan politik. Ada kepentingan politik tertentu, sehingga mereka membangkitkan semangat keagamaan yang khusus. Dan belakangan ini mulai muncul tindakan-tindakan intoleran. Bukan saja antar agama, orang Islam dengan agama lain, tetapi juga sesama Islam. Seperti yang terjadi dalam penyerangan Ahmadiyah dan Syiah. Saya selalu bertanya ada apa di balik konflik-konflik sosial itu?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengapa ketegangan antar umat beragama meningkat justru setelah reformasi?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan semakin banyak orang-orang Islam terjun di dunia politik, Islam Politik menjadi hidup kembali. Islam Politik itu dulu di zaman Soeharto di-asas-tunggal-kan. Tapi pasca reformasi, khususnya setelah SBY naik, kepentingan-kepentingan politik, kelompok-kelompok agama itu mulai menguat kembali. Dan sekarang simbol-simbol keagamaan dijadikan alat untuk merekrut para pemilih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Partai-partai politik itu memang biasanya berjuang karena ideologi. Karena Islamnya banyak, partai-partai Islam itu mesti punya identitas. Islam yang mana. Tapi tidak satupun parpol Islam yang mampu merumuskan ideologi. Sekarang Islam tidak lagi dijadikan ideologi. Seperti membela wong cilik (slogan) PDIP. Mereka kemudian menggunakan Islam sebagai identitas golongan. Jadi politik identitas. Karena politik identitas, mesti kita bedakan diri kita dari orang-orang yang non-muslim. Jadi untuk memperkuat identitas politik. Apakah Indonesia hari ini sudah ideal seperti yang diinginkan umat Islam, dan kelompok minoritas dalam Islam, atau kelompok agama lain? Secara historis kita adalah contoh bangsa yang sangat toleran. Begitu tolerannya sampai ada yang menduga bahwa orang Indonesia itu sinkretis. Jadi dia bisa menghimpun unsur-unsur dari berbagai peradaban. Tapi sekarang kita berada pada posisi yang mengkhawatirkan. Dulu bangsa yang damai, kok sekarang jadi galak-galak. Ada seorang penulis Amerika yang meninjau Islam di Indonesia menulis buku tentang &#8220;orang beriman yang pemarah&#8221;, itu gelar yang diberikan si penulis. Kemudian muncul isu terorisme, yang boleh jadi itu isu yang dibangkitkan untuk menimbulkan kebencian terhadap Islam dari dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah aksi terorisme itu kemudian dimuat oleh banyak media. Karena beritanya buruk, seksi, maka lakulah di media. Sementara berita-berita yang tidak seksi, seperti ada gerakan sosial di kalangan kaum muslimin sekarang ini, ada yang namanya sedekah rombongan, tidak banyak ditulis media. Ada beberapa orang pengusaha kecil bersama-sama memberikan bantuan kepada masyarakat miskin yang tidak mamu membayar pengobatan di rumah sakit, tidak pernah masuk berita. Tapi kalau masjid disegel, Gereja Yasmin, tempat ibadah ditutup, orang-orang Syiah diserang, itu ramai diberitakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Partai politik Islam belakangan kian turun popularitasnya, sementara semangat radikalisme mulai muncul. Mengapa ini bisa terjadi?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada tiga gejala menarik yang muncul pasca reformasi. Salah satunya adalah munculnya kelompok-kelompok kecil yang ekstrim. Kelompok ini muncul karena organisasi transnasional. Sebetulnya mereka tidak bisa dipisahkan dari apa yang terjadi di dunia Islam. Terus ada gerakan yang secara alamiah biasa disebut gerakan pengkafiran. Ada macam-macam bentuknya. Yang berbeda pendapat dengan mereka disebut kafir. Yang disebut kafir bukan hanya orang-orang non-muslim, tapi juga orang muslim yang fahamnya tidak sama dengan mereka. Untungnya bangsa kita masih memiliki sikap toleransi. Kita tidak terlalu terpengaruh dengan gerakan-gerakan yang intoleran. Di Indonesia mereka hanya kelompok kecil. Tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap bangsa kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dalam perpektif Islam di Indonesia, masyarakat seperti apa yang dapat dibayangkan di masa depan di negeri ini dalam hal keberagaman agama?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut saya pemerintah harus bertindak tegas atas sikap-sikap intoleran. Kita <em>Insyaallah<\/em> akan menikmati Indonesia yang damai. Karena pada dasarnya kita sangat toleran. Kita punya sikap toleran secara genetis dari orang-orang terdahulu. Sehingga seluruh bangsa bisa hidup berdampingan. Jadi gejala sekarang ini hanya gejala temporer saja. Pemerintah harus menghidupkan kembali lembaga dialog antar umat beragama atau menegakan, membantu lembaga-lembaga yang memperjuangkan kebebasan beragama. Itu harus dibantu. Di masyarakat sudah terjadi sekarang ini. Jangan sampai berhadap-hadapan antara pemerintah yang membiarkan intoleransi dengan masyarakat umum yang membela toleransi umat beragama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang terjadi komodifikasi agama. Artinya agama dijadikan komoditas dan dijual sebagai barang dagangan melalui media terutama TV. Maka muncullah TV-TV atas nama agama dan kemudian masyarakat pun berlomba-lomba mempelajari agama tidak sebagai pedoman hidup dan tidak mendalam. Karena tidak mungkin media massa menyajikan agama secara mendalam. Kemudian ada ustad dan ustadzah yang sekaligus menjadi model iklan. Dia bisa menjadi bintang iklan satu saat dan bisa menjadi penjual sosis di saat yang lain. Sehingga kita sulit membedakan mana ustad dan selebritas. Dan kadang-kadang kepribadian mereka itu dikemas begitu saja oleh media.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tidak setuju juga di TV ada acara orang masuk Islam. Itu menimbulkan gejala tidak sehat. Itu cuma ciri khas di zaman pasca reformasi, semasa Soeharto tidak ada.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apakah Pancasila masih relevan sebagai dasar negara Indonesia?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pancasila sangat relevan. Karena Pancasila itu disepakati oleh seluruh agama. Sama kelompok ekstrim sekalipun, karena saya dulu juga pernah jadi anggota kelompok ekstrim. Apa dari Pancasila itu yang melanggar atau bertentangan dengan Islam? Tidak ada. Periksa satu persatu, tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Kristiani, Budha, semua agama sepakat. Seorang teolog dari Jerman menyebutnya teologi pembebasan. Itu disebut global etik, katanya. Jadi, kita harus berterima kasih kepada Soekarno. Dulu, saya termasuk salah satu orang yang menentang Soekarno dan ikut menjatuhkannya. Maka saya ingin menebus dosa saya. Warisan yang paling berharga dari Soekarno adalah Pancasila. <strong>JR <\/strong><em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai agama mayoritas, Islam berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan. Dan kita mencatat toleransi dan hubungan harmonis antar agama begitu kuat dalam penyusunan UUD 1945. Namun, belakangan ini kita kerap mendengar intoleransi meningkat. Bagaimana Islam dan hubungannya dengan situasi bernegara saat ini? Bila kita berbicara dalam konteks sejarah, seorang ahli politik, George McT Kahin, mengatakan bahwa &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=3979\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Secara Genetik, Kita Punya Sifat Toleran&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4650,4651,18,19,4649,3819,4646,1196,4647,4430,1235,4652,4648,17],"class_list":["post-3979","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-gerakan-transnasional","tag-intoleransi-pasca-reformasi","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-komodifikasi-agama","tag-media-massa","tag-nasionalisme-islam","tag-pancasila","tag-piagam-jakarta","tag-politik-identitas","tag-soekarno","tag-takfiri","tag-toleransi-beragama","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3979","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3979"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3979\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3981,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3979\/revisions\/3981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3979"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3979"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3979"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}