{"id":4223,"date":"2026-09-04T13:51:10","date_gmt":"2026-09-04T13:51:10","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=4223"},"modified":"2026-09-04T13:51:10","modified_gmt":"2026-09-04T13:51:10","slug":"dua-wajah-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=4223","title":{"rendered":"DUA WAJAH ISLAM"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"819\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/626-Dua-Wajah-Islam-819x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4224\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/626-Dua-Wajah-Islam-819x1024.png 819w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/626-Dua-Wajah-Islam-240x300.png 240w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/626-Dua-Wajah-Islam-768x960.png 768w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/626-Dua-Wajah-Islam-600x750.png 600w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/626-Dua-Wajah-Islam.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 819px) 100vw, 819px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika media cetak sedang ramai membicarakan kasus Monitor, saya menemui Gus Dur di kantornya. Dengan suara datar, ia mengkritik umat Islam yang mengecam Asrwendo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya baru saja mengirimkan tulisan buat EDITOR. Buat saya Arswendo memang gila, ia melakukan kesembronoan. Tetapi umat Islam juga gila, karena memprotes kasus ini dengan kasar. Jadi gila kasus ketemu kasus gila\u201d, ujar Gus Dur sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gila, saya pikir, Gus Dur gila. Orang Gila membahas kasus gila dan gila kasus. Beberapa jam sebelumnya, saya dengan bangga membicarakan kasus ini sebagai ekspresi kekuatan politik Islam. Demonstrasi-demonstrasi itu adalah penegasan identitas Islam (halusnya, unjuk gigi).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBukankah dengan begitu umat Islam dapat menakut-nakuti musuh-musuhnya!\u201d, saya menegaskan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTetapi citra Islam sebagai agama pembawa rahmat, agama kebebasan, agama perdamaian menjadi rusak\u201d, jawab Gus Dur masih dengan suara yang datar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika banyak orang kecewa dengan Gus Dur, saya tidak. Kecuali hari itu. Saya meninggalkan kantor PBNU dengan sejumlah pertanyaan. Tidak ada yang lebih menyakitkan kecuali dikecewakan oleh orang yang kita cintai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika kawan-kawan menanyakan pendapat saya tentang tulisan Gus Dur di EDITOR, saya menjawab seenaknya saja, Gus Dur itu orang yang istiqamah. Ia selalu konsisten menentang arus. Ketika kebanyakan umat sedang melakukan Islamisasi, Gus Dus mengemukakan kasus selamat siang. Ketika orang ramai mengecam Syiah, ia mengatakan (secara bergurau\ua7f7menurut pengakunnya kemudian) bahwa NU secara kultural sudah syiah. Ketika banyak Kyai melihat film sebagai pembawa maksiat, Gus Dur menjadi juri festival film. Ketika di mana-mana orang \u201cberlomba menjadi pahlawan Islam dari Arswendo\u201d ia memilih menjadi \u201cpahlawan Arswendo dari Islam\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lama setelah itu, ketika protes terhadap Arswendo sudah mereda, saya melihat kembali tulisannya. Ia benar. Islam adalah agama rahmat, kebebasan, perdamaian, dan perbaikan. Sebagai pembela Islam, kita wajib menampilkan Islam dalam citra itu. Bukankah selama ini musuh-musuh Islam menyajikan Islam sebagai agama teror kekerasan, kerusakan dan hal-hal yang <em>bizarre<\/em>. Banyak tokoh Islam menuntut kebebasan pers dan demokrasi, tetapi kini mereka, mendukung pembredelan surat kabar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tiba-tiba merasa seperti Bismar Siregar. Begitu ia mendengar kasus gila itu, ia langsung berkata, gantung dia. Tetapi waktu itu juga ia teringat akan sikap pemaaf Rasulullah SAW. Ia buru-buru <em>istighfar<\/em>. Ia menyadari, ia dikuasai emosi sehingga tidak bisa lapang dada dan sabar seperti Nabi. Boleh jadi di tengah gejolak kasus Monitor, saya terbawa emosi sehingga melupakan citra Islam sebagai agama rahmat. Gus Dur telah mengingatkan saya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anehnya, segera saya membaca <em>istighfar<\/em>, terbayang lagi adegan demonstrasi yang saya saksikan. Massa yang dengan khusuk menyampaikan <em>shalawat<\/em> dan <em>salam<\/em> kepada nabi tercinta. Anak kecil yang pingsan tetapi mulutnya tetap meneriakkan nama Nabi Muhammad. Ustad yang terisak-isak menangis ketika mendengar nama Nabi yang mulia diletakkan di bawah Arswendo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sayup-sayup dalam kenangan, saya mendengar Husein Fazlullah, Pemimpin Hizbullah Libanon: Bila kaum muslim tidak mendapatkan rasa aman\ua7f7karena dihina, ditindas, dipojokkan\ua7f7maka tidak boleh seorang pun memperoleh rasa aman di dunia ini. Pada saat penindasan menimpa kaum muslim, dan ketika mereka bangkit untuk menentangnya, mereka disuruh memaafkan. Mengapa kita harus menyebarkan rahmat kepada para penindas, tetapi tidak kepada orang tertindas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlahan-lahan wajah Gus Dur muncul lagi. Tampaknya ada dua wajah Islam. Pertama, wajah ramah, pemaaf dan pemelihara. Inilah wajah yang dipilih Gus Dur. Kedua, wajah yang tegas, keras dan penyerang. Inilah wajah yang dipilih Husein Fazlullah. Karena baik Gus Dur maupun Fazlullah ulama, saya ingin memilih kedua-duanya. Masalahnya bukan yang mana, tetapi bilamana. <strong>JR<\/strong> <em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari<\/strong> (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan <strong>Sekolah Para Juara<\/strong> (SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika media cetak sedang ramai membicarakan kasus Monitor, saya menemui Gus Dur di kantornya. Dengan suara datar, ia mengkritik umat Islam yang mengecam Asrwendo. \u201cSaya baru saja mengirimkan tulisan buat EDITOR. Buat saya Arswendo memang gila, ia melakukan kesembronoan. Tetapi umat Islam juga gila, karena memprotes kasus ini dengan kasar. Jadi gila kasus ketemu kasus &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=4223\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;DUA WAJAH ISLAM&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4766,4760,4767,4762,4757,3782,4765,4764,1994,542,18,4758,19,4761,4759,1018,4756,3152,4763,4768,17],"class_list":["post-4223","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-agama-kebebasan","tag-agama-perdamaian","tag-agama-rahmat","tag-arswendo","tag-bismar-siregar","tag-gus-dur","tag-hizbullah-libanon","tag-husein-fazlullah","tag-istighfar","tag-istiqamah","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-kasus-monitor","tag-katakangjalal","tag-lapang-dada","tag-rasa-aman","tag-rasulullah-saw-2","tag-sikap-pemaaf","tag-umat-islam","tag-wajah-ramah","tag-wajah-tegas","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4223","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4223"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4225,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4223\/revisions\/4225"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}