{"id":557,"date":"2024-02-02T13:05:04","date_gmt":"2024-02-02T13:05:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=557"},"modified":"2024-02-02T13:05:04","modified_gmt":"2024-02-02T13:05:04","slug":"tafsir-sufi-menyesatkan-atau-diperlukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=557","title":{"rendered":"Tafsir Sufi: Menyesatkan atau Diperlukan?"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-style-default\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-sufi-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-558\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-sufi-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-sufi-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-sufi-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-sufi.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada paruh pertama abad keduapuluh, seorang alim besar Mesir menulis buku tafsir. Ia berusaha menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dengan penemuan-penemuan mutakhir dalam sains dan teknologi. Usahanya berhasil. Kitabnya lebih mirip ensik- lopedia ketimbang tafsir. <em>Tafsir Thanthawi al-Jawhari,<\/em> begitu kemudian karyanya dikenal, memberikan kontribusi besar bagi perkembangan tafsir dan sekaligus mendekatkan umat Islam pada peradaban modern. Tetapi, tidak semua ulama mendukung upayanya. Sekelompok ulama menuduhnya telah menyimpang dari kaidah-kaidah tafsir. Ia sudah jatuh pada tafsir dengan rakyu (pendapat), yang dikecam Rasulullah Saw. Dengan sinis, para pengkritiknya berkata, &#8220;Dalam tafsirnya, segala macam ada, kecuali tafsir.&#8221; Mereka juga menuduh Thanthawi telah menundukkan Al-Quran pada peradaban Barat. Untung saja tidak keluar fatwa yang melarang umat Islam membaca tafsirnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah yang terbayang di benak saya ketika mencoba menyusun tafsir sufi. Adjektif &#8220;sufi&#8221; saja sudah menjadi padanan kesesatan. Sudah banyak buku ditulis, baik oleh orang awam maupun ulama, yang membahas kesesatan apa saja yang dinisbahkan kepada sufi: pemikiran sufi, praktek-praktek sufi, pengobatan sufi, dan sekarang tafsir sufi. Dahulu, Abu &#8216;Abd al-Rahman al-Sulami, seorang sufi menulis tafsir Al-Quran dengan judul <em>Haqdiq al-Tafsir<\/em>. Ketika tafsir\ufeffnya keluar, terjadi kegemparan di kalangan para ulama sezamannya. Seorang ahli hadis dan fikih, Ibn Shalah, memberikan fatwa: &#8220;Aku sudah mendapatkan Imam Abu al-Hasan al- Wahidi, sang mufasir. Ia berkata, &#8216;Abu Abd al-Rahm\u00e2n al-Sulami menulis Haqdiq al-Tafsir. Barangsiapa yang meyakini tulisan itu sebagai tafsir, ia sesungguhnya telah kufur&#8217;.&#8221; Al- Dzahabi menulis dalam <em>Tadzkirat al-Huff<\/em><em>\u00e2<\/em><em>zh<\/em>: Al-Sulami membawakan dalam <em>Haq<\/em><em>\u00e1<\/em><em>iq al-Tafsir<\/em>-nya berbagai musibat dan ta wil batiniah. Kita mohon keselamatan kepada Allah. Ibn Taymiah menyebut tafsirnya sebagai dusta. Guru Besar tasawuf, al-Syaikh al-Akbar Ibn &#8216;Arabi menulis salah satu tafsir sufi, <em>Tafsir Al-Quran al-Karim<\/em>. Syekh Muhammad Abduh mengecam tafsir ini dan menisbahkannya pada seorang Syiah Batiniah, Al-Kasyani. Kata Abduh, &#8220;Di dalamnya banyak sekali penyimpangan yang terlepas darinya agama Allah dan Kitab yang mulia.&#8221; Kecaman kepadanya bergema sampai sekarang, ketika sebuah lembaga dakwah nasional di Indonesia pernah menerbitkan daftar para ulama sekaligus fatwa mereka yang menegaskan kekafiran Ibn Arabi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Sulami dan Ibn Arabi adalah bintang-bintang cemerlang dalam dunia tasawuf. Kedalaman ilmunya diakui dan \ufeffdikenal di seluruh dunia. Apa pula yang akan terjadi kepada saya, seorang yang tidak tahu apa-apa, baik tafsir maupun sufi? Memang, saya takut dikafirkan. Tetapi saya lebih takut lagi untuk menulis kitab tafsir, bila mengingat persyaratan yang ditetapkan oleh para ahli <em>&#8216;ulum al-Qur&#8217;<\/em><em>\u00e2<\/em><em>n<\/em>. Untuk menjadi mufasir, seorang Muslim harus cerdas otaknya dan bersih hatinya, harus banyak pengetahuannya dan indah akhlaknya. Makna Al-Quran dapat ditemukan dengan bantuan pengetahuan ilmu-ilmu Al-Quran, termasuk bahasa Arab. Para ulama juga percaya bahwa rahasia Al-Quran dapat diketahui dengan pensucian jiwa. Allah berfirman: <em>Akan aku palingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang tekebur di bumi tanpa kebenaran<\/em> (QS. 7:146).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, jika membaca riwayat hidup para mufasir, kita melihat mereka sudah mempersiapkan dirinya sejak awal kehidupannya. Ketika menyimak latar belakang kehidupan Al-Alusi, mufti Bagdad yang terkenal kedalaman ilmunya dan ketinggian akhlaknya, saya menemukan bahwa ia sudah tertarik dengan tafsir Al-Quran sejak usia dininya. Pada pengantar tafsirnya ia bercerita:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak menanggalkan baju kanak-kanakku dan mengena- kan serbanku, tidak henti-hentinya aku berusaha mengungkapkan rahasia Al-Quran yang tersembunyi, berharap untuk dapat meneguk minuman surgawi dari pinggan yang terpatri. Betapa seringnya kutinggalkan tidurku, untuk mengumpulkan keistimewaannya. Betapa lamanya aku menjauhi kaumku untuk mendapatkan mutiaranya. Sekiranya kaulihat aku waktu itu, aku sentuhkan dahiku pada lembaran-lembaran Al-Quran karena tidak tidur malam, kupandangi\u2014kala lilin meredup\u2014cahaya rembulan, pada kebanyakan malam-malamku. Pada waktu itu, kawan-kawan remajaku sedang bergembira dalam la \ufeffpangan permainan, bersukaria dalam berbagai hiburan, mendahulukan kesenangan sensual di atas kelezatan spiritual, membuang yang paling berharga dari waktu, hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Dengan segala kemudaan usiaku dan kesempitan pandanganku, keadaan mereka tidak mengelabuiku, perilaku mereka tidak menggodaku. Akhirnya sampailah aku pada kebanyakan hakikatnya. Aku berhasil mengurai limpahan pernik- perniknya. Aku tembus\u2014segala puji bagi Allah\u2014mutiaranya dengan pena pikiranku, sebelum usiaku mencapai dua puluh tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tengok juga riwayat hidup mufasir pembaru dari Mesir, Sayyid Rasyid Ridha:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum menyibukkan diri dalam mencari ilmu di Tripoli, Syam, aku sibukkan diriku dalam ibadah yang berkecenderungan ke arah tasawuf. Aku bertekad untuk membaca Al-Quran dengan maksud untuk mengambil pelajarannya agar cinta kepada akhirat dan zuhud pada dunia. Ketika aku merasa sudah merasa layak untuk memberikan manfaat kepada manusia dari ilmu yang aku peroleh, aku duduk di hadapan orang banyak mengadakan pengajian di negeri kami. Aku nasehati mereka dengan Al-Quran, dengan lebih mengutamakan ancaman daripada dorongan, takut daripada harapan, peringatan daripada kabar gembira, zuhud pada dunia daripada hidup seder- hana dan moderat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya ia bercerita tentang hubungan dengan gurunya, Syekh Muhammad Abduh, yang mengantarkannya pada pemikiran pembaru. Rasyid Ridha mendalami tafsir lewat \ufeffustadnya, setelah ia sendiri, sebelumnya, tertarik dengan tafsir. Walaupun kemudian mengubah pendekatan sufinya, ia memulai kehidupan keulamaannya dalam latihan ruhaniah, ibadat, dan zuhud.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya, saya perhatikan juga persiapan belajar dari Sayyid Thabathaba&#8217;i. Ia lahir dari keluarga ulama di Tabriz, salah satu markas peradaban Islam. Sejak kecil, ia mendalami ilmu-ilmu Islam. Untuk memperluas ilmunya, ia meninggalkan tanah airnya menuju Najaf al-Asyraf di Irak. Di tempat asing itu, ia memulai tekadnya untuk menimba ilmu dengan berziarah kepada pusara kakeknya, Ali bin Abi Thalib as. Ia bercerita:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika sampai di kota Najaf, aku hadapkan wajahku ke arah kubah Imam, sambil berbicara kepada Amirul Mukminin, &#8220;Ya Ali, aku datang menemuimu dengan maksud untuk belajar dan mencari ilmu. Tetapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, jalan mana yang harus kutempuh. Aku harap kaubimbing tanganku.&#8221; Setelah itu, aku menyewa rumah untuk tempat tinggal pada hari-hari pertama kedatanganku. Sebelum memilih majelis mana dan pelajaran apa, ketika aku sedang duduk di rumah, ketika aku memikirkan masa depanku dan rencanaku, tiba-tiba pintuku diketuk seorang ulama yang sengaja menemuiku untuk menyambutku. Ia mohon izin untuk masuk. Kami duduk pada salah satu kamar rumah. Ia mengucapkan selamat datang padaku. Ia seorang pribadi yang bercahaya, yang pembicaraannya menarik. Di antara nasehat- nya kepadaku, &#8220;Barangsiapa yang berniat hijrah ke Najaf untuk mencari ilmu, ia harus berpikir untuk berusaha mensucikan hatinya, mendidik batinnya, melakukan muraqabah pada dirinya, di samping belajar dan mencari ilmu.&#8221; Setelah berkata, ia kemudian meninggalkanku. \ufeffAku takjub dengan akhlaknya dan perilaku Islaminya, sehingga ucapannya itu menembus kalbuku. Sejak itu aku selalu menghadiri majelisnya selama aku berada di Najaf. Ia mengajarkan akhlak. Dialah guruku, ulama besar Haji Mirza Ali Qadhi.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Tafsir al-Miz\u00e2n<\/em> adalah salah satu <em>masterpiece<\/em>-nya. Ia menulisnya setelah menyelam dalam ilmu-ilmu <em>syar&#8217;iyyah<\/em> dan <em>irf\u00e2niyyah<\/em>. Di dunia Islam sekarang, khususnya di kalangan para pecinta Ahli Bait, tidak seorang pun belajar tafsir tanpa terpengaruh oleh tulisannya. Meskipun demikian, dengan segala keluasan ilmunya, ia sangat rendah hati. Menurut salah seorang muridnya, Syekh Taqi Mishbah\u2014yang, <em>alhamdulillah<\/em>, juga guru saya ketika saya belajar di Qum\u2014berkata, &#8220;Selama tiga puluh tahun aku mempelajari ilmu dari Allamah Thabathaba&#8217;i, aku tidak pernah mendengar ia berkata &#8216;Aku&#8217;; yang seringkali kudengar darinya adalah kalimat &#8216;Aku tidak tahu&#8217;. Banyak orang datang ke Qum, duduk bersama Sayyid Thabathaba&#8217;i berulang-kali selama satu tahun, dan tidak mengenal kedalaman ilmunya. Dalam majelis ia banyak diam. Jika tidak ditanya, ia tidak berbicara. Ketika ia berbicara, baru semua perhatian hadirin tercurah kepadanya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan memperhatikan ilmu dan akhlak para mufasir itu, dengan menyimak persiapan ruhani mereka untuk menulis tafsir, saya menjadi setetes embun yang dilemparkan ke atas lautan. Saya memutuskan untuk tidak <em>menulis<\/em> tafsir, tetapi berniat untuk hanya <em>menuliskan<\/em> tafsir. Ingin saya gabungkan setetes embun ini dengan jutaan tetes-tetes air, yang membasahi dedaunan dan bunga-bunga di taman pengetahuan Islam. Sampai di sini pun, hampir-hampir saya mengurungkan niat saya untuk menceramahkan atau menuliskan tafsir sufi. Untunglah, jauh dalam lubuk hati saya, saya memperoleh pembenaran. Saya bukan mufasir. Saya tidak memiliki secuil pun persyaratan seorang mufasir. Saya hanya penulis. Saya hanya menyampaikan apa yang saya baca dari \ufeffkitab-kitab tafsir. Saya hanya akan berbagi informasi. Saya hanya seorang &#8220;broker&#8221; yang menjual informasi kepada para pembaca. Saya hanya sebuah cerek kecil, yang menampung air dari berbagai sumber, kemudian mengalirkannya kepada siapa pun yang kehausan. Karena itu, jangan kecam dan jangan puji cereknya. Kecam dan pujilah orang yang memasukkan air ke dalam cerek itu. Kalau begitu, kata pembaca yang budiman, di mana letak orisinalitas tulisan saya ini? Kalau hanya sekadar mencuplik dari sana sini, mana tulisan saya sendiri? Tidak ada. Tidak ada yang orisinal. Tidak ada yang baru. <em>Nil novo sub sole<\/em>. Seperti pelukis, saya hanya mencampur berbagai warna dan mengkombinasikan garis dan bentuk yang sudah ada. Yang orisinal dari saya mungkin hanya kanvasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-Sufi-1-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-559\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-Sufi-1-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-Sufi-1-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-Sufi-1-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-Sufi-1.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika saya, pelukis amatir ini, sedang mencampur berbagai warna dari mana-mana dan tengah mencoretkan kuas untuk menggabung-gabungkan garis-garis dan bentuk. di sebuah &#8220;sanggar&#8221; di pebukitan di Lembang, saya harus menghentikan dulu pekerjaan saya. Saya mendengar Hujjatul Islam Syekh Muhammad Taqi Baqir, sekretaris umum redaksi Majalah <em>Al-Muslim al-Hurr<\/em> di Lebanon bermaksud mengunjungi saya. Saya katakan kepadanya bahwa saya sedang menyusun tafsir sufi. Ia menarik nafas panjang. <em>&#8220;Ya akhi,&#8221;<\/em> katanya sambil memandang mata saya, &#8220;Anda sedang melakukan pekerjaan yang berat dan berbahaya. Bahaya pertama datang dari diri Anda. Kalau perjalanan Anda tanggung, belum selesai, Anda sendiri akan menjadi sopir yang menarik banyak orang ke dalam jurang. Bahaya kedua datang dari murid-murid Anda atau pembaca Anda. Mereka tidak mengerti apa yang Anda sampaikan, lalu berusaha membentuk pengertian sendiri. Atau mereka memahaminya dengan keliru. Kekeliruan pemahaman awam ini akan dinisbahkan kepada Anda.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendengar nasehat dari seorang alim yang tulus itu, saya sekali lagi termenung. Saya teringat tulisan al-Ghazali ketika \ufeffia mengulas sebagian ucapan sufi yang aneh-aneh. Misalnya, perkataan al-Husayn bin Mansh\u00fbr al-Hallajs yang berkata: <em>Ana al-Haqq; <\/em>atau Abu Yazid al-Bisthami yang berkata: <em>Subhani. Subhani<\/em>. Mahasuci aku. Mahasuci aku. &#8220;Ucapan-ucapan seperti ini sangat besar bahayanya bagi orang awam. Sehingga pernah terjadi sekelompok petani meninggalkan tanah pertanian mereka. Mereka menyatakan juga pengakuan seperti itu. Omongan begitu memang enak diucapkan, karena orang yang mengucapkannya merasa telah beramal banyak, dengan menonjolkan diri sudah mencapai <em>maq\u00e2m<\/em> dan <em>ahwal<\/em>&#8230; Bila diingkari, mereka pasti berkata, &#8216;Pengingkaran ini sumbernya ilmu dan perdebatan. Ilmu itu <em>hijab<\/em> (tirai yang menghalangi <em>al-Haqq<\/em>), dan perdebatan itu perbuatan nafsu. Ucapan seperti ini hanya keluar dari batin karena penyingkapan (<em>mukasyafah<\/em>) cahaya Kebenaran. Hal yang begini ini sudah menyebarkan percikan apinya ke seluruh negeri. Begitu besar bahayanya bagi orang awam. Sehingga, membunuh satu orang yang berkata seperti itu lebih utama dalam agama Allah daripada menghidupkan sepuluh orang.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sambil berusaha untuk lebih hati-hati, saya menerima nasehatnya dengan berkata, <em>&#8220;Saya mengerti betul nasehat <\/em><em>\ufeff<\/em><em>Anda. Saya tahu bahaya besar di depan, baik karena kejahilan saya maupun kesalahpahaman saudara-saudara saya. Tetapi, doakanlah saya untuk mengayunkan langkah, menaiki bukit- bukit terjal dan berbatu seperti kuda-kuda yang berlari kencang dengan nafas yang terengah, lalu mencetuskan percikan api dengan telapak kakinya, lantas menyerang di waktu pagi, menerbangkan kepulan debu, menyerbu ke tengah-tengah musuh.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika kembali lagi ke Lembang, saya mencoba menelaah lagi keberatan orang pada tafsir sufi. Tafsir sufi biasanya disebut tafsir <em>isy\u00e2ri<\/em>, tafsir simbolis<em>. &#8220;Tafsir isy\u00e2ri,&#8221;<\/em> tulis al-Zarqani, &#8220;adalah <em>tawil<\/em> Al-Quran tanpa mengambil makna lahirnya untuk menyingkapkan petunjuk tersembunyi yang tampak pada para pelaku suluk dan ahli tasawuf. Sebetulnya dimungkinkan juga untuk menggabungkan kedua makna itu, yang lahir dan batin.&#8221; Para sufi memandang ayat-ayat Allah sebagai metafora. &#8220;Air&#8221; melambangkan petunjuk, &#8220;sapi&#8221; yang diperintahkan Musa untuk disembelih adalah lambang hawa nafsu, dan seterusnya. Banyak orang merasa berat menerima tafsir batiniah dari ayat-ayat Al-Quran. <em>Pertama<\/em>, mereka kuatir, dengan hanya mengambil makna batiniah, tafsir sufi mengabaikan makna lahiriah. Akibatnya, syariat bisa dilecehkan atau ditinggalkan sama sekali. Karena menerima tawil, akhirnya orang meninggalkan <em>tanzil<\/em>. <em>Kedua<\/em>, pengambilan makna batiniah seringkali mengabaikan hukum-hukum bahasa Arab. Makna denotatif dari berbagai kata ditundukkan pada makna konotatif, yang diperoleh seseorang dari pengalaman ruhaniahnya. Pengalaman ruhaniah, pada gilirannya, sangat subjektif dan irasional (atau suprarasional). sehingga sulit diverifikasi. <em>Ketiga<\/em>, tafsir sufi dicurigai karena tasawuf dianggap sebagai ajaran yang menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah; atau, lebih buruk lagi, sebagai ajaran kaum musyrikin yang dimasukkan ke dalam ajaran Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\ufeffKeberatan ketiga tidak akan dibahas di tempat ini. Sudah banyak buku ditulis berkenaan dengan posisi tasawuf dalam seluruh ajaran Islam. Cukuplah definisi tasawuf dari Carl W. Ernst menyimpulkan seluruh buku itu: <em>Sufism is a mystical tra- dition that is Qur&#8217;anic and Muhammadan.<\/em> Tasawuf memang menunjukkan makna yang luas, dan dijalankan di berbagai negeri yang berbeda bahasa dan kebudayaan, tetapi dipersa tukan oleh otoritas wahyu Al-Quran dan teladan Rasulullah Saw. Buku ini akan dimulai dengan menyanggah keberatan yang pertama dan kedua. Pada bab berikutnya, kita akan menelaah perkembangan makna <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>. Para pengkritik tampaknya tidak dapat membedakan antara <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em> yang sesat dan <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em> yang benar. Seringkali tafsir tidak cukup dan\u2014karenanya\u2014kita memerlukan ta&#8217;wil. Berhenti pada tafsir akan membawa kita justru pada kesesatan atau keraguan. <em>Ta&#8217;w\u00eel<\/em> atau menyingkap makna batiniah tidak dengan sendirinya mengabaikan makna <em>lahiriah<\/em>. <em>Ta&#8217;w\u00eel<\/em> dilakukan untuk menggali berbagai dimensi makna Al-Quran. Membatasi Al-Quran hanya pada makna lahiriah saja, akan mendangkalkan samudra ilahiah yang dalamnya dan luasnya tidak terhingga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Segera setelah &#8220;pertanggungjawaban akademis&#8221; tentang <em>ta\u2019w\u00eel<\/em>, kita akan memasuki tafsir ayat demi ayat. Karena seluruh Al-Quran terkandung dalam <em>al-F\u00e2tihah<\/em>, dan karena seluruh <em>al-Fatihah<\/em> terkandung dalam <em>basmalah<\/em>, kita mulai dengan tafsir basmalah. Sebelum basmalah, kita membahas <em>isti&#8217;\u00e2dzah<\/em>, yang sebetulnya tidak merupakan bagian dari <em>al- F\u00e2tihah<\/em>. Saya akan berusaha menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dengan keterangan Al-Quran lagi. Saya akan menuliskan berbagai hadis yang relevan. Untuk pertama kalinya, dalam tafsir bahasa Indonesia, saya akan banyak mencantumkan \ufeffhadis-hadis dari Ahli Bait Nabi as. Bukankah Ahli Bait as. adalah pasangan Al-Quran, salah satu dari dua pusaka yang ditinggalkan Nabi Saw? Bukankah Ali bin Abi Thalib, imam pertama Ahli Bait, berkata, &#8220;Tanyalah kepadaku tentang Kitab Allah. Demi Allah, tidak ada satu ayat pun kecuali aku lebih tahu apakah ayat itu turun malam atau siang, di dataran rendah atau di pegunungan?&#8221; Saya akan mengutip keterangan dari berbagai tafsir, dengan lebih banyak menekankan penjelasan yang bersifat sufistik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum sampai pada tafsirnya sendiri, saya akan memperkenalkan hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan surat atau ayat Al-Quran. Sebelum <em>tafsir al-F\u00e2tihah<\/em>, misalnya, saya kutipkan banyak hadis tentang keutamaan\u2014<em>fadhilah<\/em>\u2014<em>al- F\u00e2tihah<\/em>, dan <em>isti&#8217;adzah.<\/em> Hadis-hadis itu memang bukan tafsir. Hadis-hadis itu dicantumkan untuk mendorong (<em>targhib<\/em>) Anda agar dengan gembira mengamalkan <em>al-Fatihah<\/em> dan <em>basmalah<\/em> dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua macam tasawuf: tasawuf teoretis (<em>nazh\u00e2ri<\/em>) dan tasawuf praktis (<em>&#8216;amali<\/em>). Karena keterbatasan ilmu saya, saya sangat sedikit \ufeffmenyinggung tasawuf teoretis. Lagi pula, yang ada di benak saya adalah para pembaca yang ilmunya tidak jauh berbeda dengan ilmu saya. Tafsir ini tidak dimaksudkan untuk para ulama atau akademisi. Saya akan lebih banyak melihat tasawuf sebagai petunjuk praktis untuk mendekatkan diri kepada Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buat para alim ulama, buku ini mungkin tidak ada gunanya. Mereka sudah menggali Al-Quran lebih banyak dan lebih dalam. Namun, dari mereka saya berharap mendapat peringatan ketika kaki saya tergelincir. Di atas semua itu, saya memohon, seperti yang saya mohonkan kepada ulama dari mana pun, kiranya mereka berkenan menemani kesepian saya dengan keberkahan doa-doa mereka yang tulus. Kepada murid-murid dan para pembaca buku saya, yang umumnya lebih dekat kepada Tuhan dari si fakir ini, saya ingin membagikan ilmu yang bermanfaat. Pada Hari Akhir, ketika saya ketakutan melihat keburukan perilaku saya dan kekurangan amal saya, saya berharap memperoleh kiriman yang memberatkan timbangan saya, dari mereka yang mengamalkan apa yang saya sampaikan kepada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada banyak orang\u2014teristimewa guru-guru saya\u2014yang harus menerima ucapan terima kasih saya. Saya tidak dapat menyebutkan nama mereka satu persatu. Tetapi saya tidak akan melewatkan kesempatan ini tanpa menyebut kedua orangtuaku: Rakhmat bin Syuja&#8217;i dan Syaja&#8217;ah binti Malka. Ketika ibu saya mengandungkanku, ayahku sedang terpesona dengan <em>Tafsir al-Jal\u00e2layn<\/em>, yang ditulis oleh dua Jalaluddin\u2014Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahally. Dan ketika anaknya lahir, mereka segera menamai anak itu dengan nama-nama para mufasir itu; selain untuk mengambil berkah dari ulama besar itu, mungkin mereka berharap anaknya akan menjadi penulis tafsir. Sayang sekali, ketika saya sedang mencoba mewujudkan harapan mereka, mereka sudah dipanggil Kekasih yang Mahakasih dan Mahasayang. Semoga Allah menghadiahkan kepada mereka amal saya \ufeffyang kecil dan rendah ini untuk meluaskan kuburan mereka. menemani kesepian mereka, dan menenteramkan ketakutan mereka di alam Barzakh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepada Tantyo Sudharmono, yang memberikan dorongan lahir dan batin untuk menulis tafsir dalam ucapannya kepada saya di bawah naungan Kabah; kepada Rema K. Soenendar, yang menyerahkan &#8220;sanggarnya&#8221; di Lembang untuk penulisan buku ini; kepada Adhyanti B. Rachmadi yang juga menyerahkan vilanya untuk diubah menjadi laboratorium tafsir, kepada jemaah saya di Al-Munawwarah dan Tazkiya yang memberikan peluang kepada saya untuk menyampaikan sebagian tafsir ini secara lisan; kepada kawan-kawan saya yang menyediakan buku dan informasi sebagai bahan-bahan berharga di mana pun mereka berada; dan akhirnya, kepada istri tercinta dan anak-anak yang berusaha berkhidmat kepada saya dengan segala kemampuan mereka; saya berdoa semoga Al-Ghaf\u00fcr al-Rahim mengampuni kelemahan saya untuk membalas kebaikan mereka dan mencurahkan rahmat-Nya selalu kepada mereka semua. Semoga Dia yang kasih-Nya meliputi segala sesuatu menghimpunkan kita pada Hari Akhir nanti bersama dua pusaka yang mulia: Al-Quran dan Ahli Bait Nabi Saw, Amin. &nbsp;<strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bandung, September 1999<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jalaluddin Rakhmat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada paruh pertama abad keduapuluh, seorang alim besar Mesir menulis buku tafsir. Ia berusaha menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dengan penemuan-penemuan mutakhir dalam sains dan teknologi. Usahanya berhasil. Kitabnya lebih mirip ensik- lopedia ketimbang tafsir. Tafsir Thanthawi al-Jawhari, begitu kemudian karyanya dikenal, memberikan kontribusi besar bagi perkembangan tafsir dan sekaligus mendekatkan umat Islam pada peradaban modern. Tetapi, &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=557\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Tafsir Sufi: Menyesatkan atau Diperlukan?&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[22,23,18,19,21,24,20,17],"class_list":["post-557","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-al-ghazali","tag-carl-w-ernst","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-tadzkirat-al-huffazh","tag-tafsir-al-fatihah","tag-tafsir-thanthawi-al-jawhari","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/557","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=557"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/557\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":560,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/557\/revisions\/560"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=557"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=557"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=557"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}