{"id":569,"date":"2024-02-03T12:52:52","date_gmt":"2024-02-03T12:52:52","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=569"},"modified":"2024-02-03T12:52:52","modified_gmt":"2024-02-03T12:52:52","slug":"tafsir-dan-tawil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=569","title":{"rendered":"Tafsir dan Ta&#8217;wil"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-dan-tawil-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-570\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-dan-tawil-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-dan-tawil-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-dan-tawil-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Tafsir-dan-tawil.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Waktu itu di Shiffin, dua pasukan Islam bertemu untuk saling membunuh. Sesudah terbit fajar, di markas masing-masing, kedua pasukan itu salat subuh berjamaah. Seseorang yang baru masuk Islam kebingungan ketika melihat dua kelompok sahabat Nabi Saw itu. Pada kelompok yang satu ada menantu Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib. Di sini berkumpul sahabat-sahabat Nabi Saw yang paling senior. Misalnya, Ammar bin Yasir.&nbsp; Rambutnya yang sudah memutih membentuk aura di sekitar kepalanya yang sudah tua. Ia memegang bendera Ali. Di belakangnya berkumpul pasukan yang hampir semuanya memakai pakaian putih-putih. Pada kelompok yang lain ia melihat para sahabat Rasulullah, dipimpin oleh\u2014konon\u2014salah seorang penulis wahyu, Mu&#8217;awiyyah bin Abi Sofyan. Pembawa benderanya adalah Amr bin &#8216;Ash, ayah Abdullah bin Amr, salah seorang yang sangat rajin menuliskan hadis Nabi. Ia diikuti oleh banyak sahabat Nabi yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang itu termangu. Baru saja ia menyaksikan mereka salat berjamaah dengan cara yang sama. Baru saja ia mende\ufeffngarkan keduanya melantunkan ayat-ayat Kitab Suci yang sama. Ia heran mengapa kedua kelompok sahabat Nabi ini harus bertempur dan sedang bersiap-siap saling membunuh. Ia menyeruak ke tengah-tengah pasukan. Ia meminta jawaban mengapa. Tidak seorang pun memberikan jawaban. Salah seorang di antara yang ditanya menyuruhnya menemui Ammar bin Yasir. Sambil memegang panjinya yang hitam, Ammar berkata, &#8220;Kaulihat bendera di sebelah sana. Dahulu, bersama Rasulullah Saw, aku memerangi bendera itu untuk membela <em>tanzil<\/em> Al-Quran. Kini, aku memerangi bendera yang sama untuk membela <em>ta&#8217;wi<\/em>l Al-Quran.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Ammar menyebut dua kata, <em>tanz\u00eel<\/em> dan <em>ta&#8217;wil<\/em>, tampaknya karena mengingat sabda Nabi Saw kepada Ali bin Abi Thalib as, &#8220;Engkau akan berperang melawan manusia karena <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em> Al-Quran sebagaimana engkau pernah berperang melawan mereka karena <em>tanz\u00eel<\/em>-nya.&#8221; Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Hai Ali, engkau saudaraku dan aku saudaramu. Aku yang dipilih untuk kenabian dan engkau dipilih untuk keimaman. Aku pemilik <em>tanz\u00eel<\/em> dan engkau pemilik <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>.&#8221; Ketika Ali menjadi pemimpin negara dan kawan-kawannya, sebelumnya, melawan mereka di setiap medan pertempuran, Ali memandang sahabat-sahabatnya dengan kenangan kepada Rasulullah Saw. Ia menggumamkan kenangan itu dengan puisi:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kami dahulu menyerang kalian karena tanz\u00eel<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Hari ini kami menyerang kalian karena ta&#8217;w\u00eel<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dengan serangan yang menjatuhkan kepala dari tempatnya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dan membuat sahabat melupakan sahabatnya<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Tanz\u00eel<\/em> adalah peristiwa diturunkannya Al-Quran serta diterapkannya dalam kehidupan masyarakat. Yang menerima <em>tanzil<\/em> Al-Quran adalah orang-orang yang beriman; yang menolaknya adalah orang-orang musyrik. Peperangan sekitar <em>tanz\u00eel<\/em> Al-Quran adalah peperangan antara kaum beriman dengan kaum kafir. Pada masa Rasulullah Saw, inilah yang terjadi. Sepeninggal Nabi, yang berperang sama-sama kaum Muslimin. Kedua pihak menerima Al-Quran sebagai firman Tuhan dan pedoman hidup mereka. Keduanya menerima <em>tanzil<\/em> Al-Quran. Mengapa mereka berperang? Tanya orang yang masuk Islam di zaman para sahabat itu; juga tanya kita semua. Mereka berperang karena perbedaan menafsirkan Al- Quran. Mereka berperang karena perbedaan <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tafsir dan Ta&#8217;w\u00eel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada zaman Abu Bakar, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah, seorang Muslim yang disebut Nabi Saw sebagai salah seorang penghuni surga. Ia mempunyai istri yang terkenal cantik. Setelah membunuh Malik, Khalid menikahi istrinya, tanpa memperhatikan <em>&#8216;iddah<\/em>. Umar bin Khathab meminta agar Abu Bakar menghukum Khalid \ufeffdengan rajam. Ia dianggap sudah berzina. Abu Bakar berkata: <em>Ta&#8217;awwala wa akhtha&#8217;a.<\/em> Khalid telah membuat <em>ta&#8217;wil<\/em> dan keliru.&nbsp; Karena apa yang dilakukan Khalid hanyalah kesalahan penafsiran, ia tidak perlu dihukum. Mungkin Khalid menganggap mereka kafir, karena mereka tidak membayar zakat kepada Abu Bakar, tetapi membagi-bagikannya kepada kaumnya. Dalam Al-Quran, Allah berfirman, <em>&#8220;Bunuhlah mereka di mana pun kamu dapatkan mereka.&#8221;<\/em> (QS. 2:191). Lalu, mengapa Khalid menikahi istrinya segera setelah ia membunuh suaminya? Mungkin ia beranggapan bahwa ayat Al-Quran yang berkenaan dengan <em>iddah<\/em> tidak berlaku dalam situasi perang. Jadi, men-<em>ta\u2019w\u00eel<\/em> adalah menafsirkan Al-Quran. Tafsir sama dengan <em>ta`w\u00eel<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika memimpin pasukan melawan &#8216;Ali, &#8216;Aisyah pun dianggap telah membuat <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>. Ia tidak dianggap memberontak penguasa yang sah, bukan termasuk <em>bughat<\/em>. Tetapi, bukankah ia telah melanggar perintah Allah: <em>&#8220;Tinggallah kamu di rumah-rumah kamu dan janganlah kamu berperilaku seperti perilaku orang-orang jahiliah dulu.&#8221;<\/em> (QS. 33:33)? Menurut Ibn Taymiyyah,&nbsp; &#8220;perintah tinggal di rumah tidak menafikan bolehnya keluar untuk kemaslahatan umat&#8230; Jika safarnya itu untuk kemaslahatan, safar itu boleh bagi &#8216;Aisyah. Ia berkeyakinan bahwa safar itu mendatangkan kemaslahatan bagi kaum Muslimin. Dalam hal ini, &#8216;Aisyah membuat <em>ta`wil<\/em>. Mujtahid yang salah tetap diampuni dosanya.&#8221; Al- Qurthubi juga membenarkan perlawanan &#8216;Aisyah dengan alasan <em>ta`w\u00eel.<\/em> &#8220;Aisyah,&#8221; tulis al-Qurthubi, &#8220;adalah mujtahid yang mencapai kebenaran (sic!) mendapat pahala karena upaya <em>ta`w\u00eel<\/em>-nya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai di sini, kita melihat kata <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em> sudah digunakan untuk membenarkan kesalahan yang dilakukan para sahabat. \ufeffMenumpahkan darah kaum Muslimin dibolehkan sebagai tindakan yang timbul karena penafsiran. Para sahabat berperang karena perbedaan penafsiran. Kita juga menemukan sepanjang sejarah kaum Muslimin saling menyerang karena perbedaan mazhab; dan mazhab lahir karena <em>penafsiran<\/em>, atau <em>ta&#8217;w\u00eel.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Ta&#8217;w\u00eel, dalam pengertian penafsiran Al-Quran, tanpa pembenaran pada kesalahan, terdapat dalam hadis-hadis Nabi Saw. Ibnu Abbas terkenal sebagai ahli tafsir. Ia memperoleh pengetahuan tafsir yang luas dan banyak dikutip oleh para mufasir kemudian, karena doa Nabi Saw: &#8220;Ya Allah, jadikan ia mengerti agama dan ajarkan kepadanya <em>ta&#8217;w\u00eel.<\/em> &#8221; Ibnu Abbas sendiri berkata, &#8220;Aku mengetahui <em>ta`w\u00eel<\/em>-nya&#8221; Maksudnya, ia mengerti pemahaman Al-Quran dan tafsirnya. Di kemudian hari, banyak ulama salaf menyamakan tafsir dan <em>ta\u2019w\u00eel<\/em>. Mujahid, salah seorang tabi&#8217;in berkata, &#8220;Sesungguhnya ulama mengetahui ta&#8217;w\u00eelnya&#8221;; maksudnya tafsirnya. Ibnu Jarir al-Thabari, dalam tafsirnya, selalu menyebut penafsiran dengan kata <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>. Jadi, pada masa awal Islam, tafsir dan <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em> itu sama.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tafsir Berbeda dengan Ta&#8217;w\u00eel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkembangan kemudian, para ulama membedakan pengertian tafsir dengan <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>. Perbedaan itu begitu beragam, sehingga Ibn Hab\u00eeb al-N\u00eesabur\u00ee menceritakan zamannya: Telah muncul di zaman kita para mufasir. Sekiranya kepada mereka ditanyakan apa perbedaan tafsir dan <em>ta&#8217;w\u00eel,<\/em> mereka tidak bisa memberikan petunjuk. Jalaluddin al-Suyuthi memberikan beberapa contoh perbedaan pandangan para ulama tentang tafsir dan <em>ta&#8217;wil<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\ufeffBerkata al-Ragh\u00eeb, &#8220;Tafsir lebih umum daripada <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>. Tafsir lebih banyak digunakan untuk kata-kata dan padanannya. <em>Ta&#8217;w\u00eel<\/em> lebih banyak digunakan dalam makna dan kalimat. Juga ta&#8217;w\u00eel paling sering digunakan dalam hubungannya dengan kitab-kitab ilahi; sedangkan tafsir digunakan, baik pada kitab-kitab ilahi maupun lainnya. Menurut ulama yang lain, tafsir adalah penjelasan kata yang hanya punya makna satu saja; sedangkan ta&#8217;w\u00eel menarik kata yang mengandung banyak makna pada satu makna saja, berdasarkan petunjuk-petunjuk yang tampak.&#8221;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Berkata al-Matur\u00eed\u00ee, &#8220;Tafsir adalah memastikan bahwa yang dimaksud dengan lafad adalah ini, dan kesaksian kepada Allah bahwa artinya kata itu begini. Jika tegak dalil yang pasti, maka tafsir itu benar; jika tidak, itulah <em>tafsir bi al-ra&#8217;y<\/em>. Karena itu, dilarang. Ta&#8217;w\u00eel berarti men- <em>tarjih<\/em> (menganggap lebih kuat) satu makna di antara berbagai makna tanpa kepastian dan kesaksian kepada Allah.&#8221;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Berkata Abu Thalib al-Taghlibi: Tafsir itu menjelaskan posisi makna kata, apakah arti sebenarnya atau kiasan. <em>Haqiqat<\/em> atau <em>Majaz<\/em>. Seperti tafsir &#8220;<em>shirath<\/em>&#8221; sebagai jalan, &#8220;<em>al-shayb<\/em>&#8221; sebagai hujan. <em>Ta`wil<\/em> adalah tafsir batin dari kata; diambil dari kata <em>awwal<\/em>. Ta&#8217;wil menjadi upaya mengembalikan untuk mencapai tujuan. Jadi <em>ta`wil<\/em> adalah menginformasikan hakikat yang dimaksud dan tafsir menginformasikan petunjuk yang dimaksud.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kita tidak akan melanjutkan polemik para ulama tentang perbedaan <em>tafsir<\/em> dan <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>. Tetapi, sebagai pengantar singkat, saya ingin menjelaskan keduanya; tanpa mengulang lagi perdebatan para ulama. Saya mulai dengan tafsir. Jalaluddin al-Suyuthi, pakar besar dalam ilmu-ilmu Al-Quran dan hadis, membuat definisi yang paling singkat tentang tafsir: Mengungkap makna Al-Quran dan menerangkan maksudnya. Jalaluddin Rakhmat, bukan pakar, tidak besar, dan sangat fakir dalam kedua ilmu yang baru disebut, mencoba membuat definisi yang panjang: Tafsir adalah penjelasan tentang Al- Quran dengan merujuk pada keterangan dalam Al-Quran, atau penjelasan dalam hadis, atau pernyataan para sahabat dan tabi&#8217;in (<em>tafsir bi al-ma&#8217;ts\u00fbr<\/em>); atau dengan berusaha menemukan makna yang tepat melalui penelitian yang benar (<em>tafsir bi al-ra\u2019y<\/em> atau tafsir <em>bi al-ijtih\u00e2d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang keabsahan <em>tafsir bi al-ma&#8217;ts\u00fbr.<\/em> Dengan tafsir seperti ini, kita hanya mengumpulkan berbagai informasi dan menegakkan penafsiran kita atas dasar informasi tersebut. <em>Ikhtilaf<\/em> terjadi ketika membicarakan <em>tafsir bi al-ra&#8217;y<\/em>. Sebagian ulama memperbolehkan, bahkan menganjurkan, sebagaian ulama yang lain melarangnya. Tanpa melibatkan lagi dalam \ufeffikhtilaf, kita ingin menyimpulkan bahwa ada tafsir dengan rakyu yang dianjurkan dan ada tafsir dengan rakyu yang diharamkan. Pada pokoknya, kita diperintahkan untuk mentadaburi dan mentafakuri Al-Quran, merenungkan dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Quran. Kita tidak mungkin melakukan tadabur dan tafakur, tanpa lebih dahulu menjelaskan maknanya dan memahaminya. Untuk menjelaskan makna ayat-ayat Al-Quran, kita dapat bertanya kepada orang yang mengerti, membaca terjemahnya, dan atau mempelajari tafsirnya. Sesudah itu, kita mencernanya, merenungkannya, memikirkannya, dan mengambil pelajaran darinya. Sebenarnya, kita sedang melakukan <em>tafsir bi al-ra\u2019y<\/em> dalam batas kemampuan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika <em>tafsir bi al-ra\u2019y<\/em> hanya dibenarkan oleh orang yang mengerti bahasa Arab saja; ajaran Al-Quran hanya dapat diakses oleh segelintir kecil pemakai bahasa Arab. Membatasi tadabur Al-Quran hanya pada orang yang memahami bahasa Arab sama saja dengan memisahkan Al-Quran dari kebanyakan kaum Muslimin. Dalam istilah Quraish Shihab, kita tidak lagi &#8220;membumikan Al-Quran&#8221;. Lagi pula, tidak ada jaminan bahwa orang Arab mengetahui makna semua kata \ufeffdalam Al-Quran. Umar bin Khathab\u2014khalifah yang kedua dan seorang &#8220;<em>native speaker<\/em>&#8221; bahasa Arab\u2014pernah ditanya tentang makna &#8220;<em>abban<\/em>&#8221; dalam Surat Abbasa 41. Ia mengambil cambuknya dan menghardik orang yang bertanya, seraya berkata: &#8220;F\u00e2kihah aku tahu, tetapi aku tidak tahu apa artinya <em>abban<\/em>. Kita dilarang untuk memberatkan diri kita (dengan memikirkan hal yang tidak kita pahami).&#8221; Ibn Abbas, yang sudah kita kenal sebagai mufasir besar pada zaman sahabat, ternyata baru tahu makna <em>fathir<\/em> setelah mendengar dua orang Arab bertengkar dan salah satu di antaranya menyebutkan kata <em>fathartuh\u00e2<\/em>, yang artinya &#8220;aku memulainya&#8221;. Boleh jadi juga sahabat mengerti arti kata, tetapi salah memahami maksudnya. Ketika turun ayat <em>&#8220;Makan minumlah sampai tampak jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar&#8221;<\/em> (al- Baqarah 187), Adi bin Hatim, sahabat Nabi Saw, meletakkan tali putih dan hitam di bawah tempat tidurnya. Sepanjang malam, ia memperhatikan tali itu sampai jelas benar perbedaan warnanya. Nabi Saw kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah jelas tampak perbedaan antara putihnya siang dan gelapnya malam.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika <em>tafsir bi al-ra&#8217;y<\/em> hanya dapat dibenarkan untuk para ulama saja, yang menguasai berbagai ilmu Al-Quran, maka Al-Quran tidak lagi petunjuk bagi semua manusia. Ia akan menjadi bacaan elite, bagian dari <em>high culture<\/em>, dan tidak menjadi sumber rujukan nilai bagi kehidupan banyak orang. Kita menyerahkan tugas memahami Al-Quran kepada para ulama, padahal tugas itu adalah tugas kita semua. Tambahan pula, jika Al-Quran itu tersebar di tengah-tengah kaum Muslimin, baik bacaan maupun terjemahnya, mereka tidak dapat tidak akan berusaha menafsirkannya. Manusia, menurut para pakar komunikasi, adalah makhluk yang selalu berkomunikasi. Komunikasi menyiratkan upaya pemberian makna. <em>Wecannot not communicate<\/em>. Karena itu, kita pun tidak bisa tidak memberikan makna. Apalagi pemberian makna terhadap Al-Quran merupakan dasar keberagamaan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>\ufeffWalhasil, kita semua dapat mengembangkan <em>tafsir bi al- ra`y,<\/em> asalkan lewat penelitian yang benar. Tetapi bagaimana dengan sabda Rasulullah Saw, &#8220;Siapa yang mengatakan tentang Al-Quran dengan pendapatnya, hendaknya meyiapkan tempat duduknya di neraka. Barangsiapa yang berkata tentang Al-Quran dengan pendapatnya, lalu pendapatnya tepat, maka ia sudah keliru&#8221;? Tafsir dengan rakyu yang dilarang Nabi Saw adalah menundukkan Al-Quran pada kepentingan-kepentingan penafsir. Penafsir sebetulnya bukan menafsirkan Al-Quran dengan pendapatnya. Ia menafsirkan pendapatnya dengan Al-Quran.<\/p>\n\n\n\n<p>Syekh Makarim Syirazi menjelaskan jenis tafsir dengan rakyu yang berbahaya. Saya kira kita dapat merujuk pada tulisannya sebagai rambu-rambu yang menjaga agar upaya penafsiran kita tidak jatuh pada kesesatan:<\/p>\n\n\n\n<p>Cara yang paling berbahaya dalam menafsirkan Al-Quran adalah ketika mufasir menghadapi Kitab Allah yang mulia sebagai guru, bukan sebagai murid. Ia memaksakan pemikirannya pada Al-Quran; menampilkan penilaiannya yang berasal dari lingkungan dan spesialisasi ilmu, aliran mazhab dan selera pribadi atas nama Al-Quran dan dalam bentuk tafsir Al-Quran. Orang seperti ini tidak menjadikan Al-Quran sebagai pemberi petunjuk dan panutan, tetapi mengambil Al-Quran sebagai media untuk mengemukakan pembicaraannya dan membenarkan perasaan dan pemikirannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tafsir Al-Quran semacam ini\u2014atau katakanlah menafsirkan Al-Quran dengan pemikiran pribadi\u2014beredar luas di tengah-tengah masyarakat. Di hadapannya hanya ada penyimpangan dari jalan Allah dan kejatuhan pada lembah kesesatan. Ini bukan tafsir; tetapi pemaksaan, pelecehan, dan penundukan \ufeffAl-Quran pada pikirannya. Ia tidak lagi mencari fatwa dari Al-Quran; ia memberi fatwa. Tidak memberikan petunjuk tetapi kesesatan. Inilah distorsi dan tafsir dengan rakyu yang keliru. Dalam metode tafsir kami, kami tidak akan menggunakan\u2014dengan izin Allah\u2014cara seperti itu. Kami akan menghadapi Al-Quran dengan seluruh hati dan pikiran kami agar kami belajar darinya; bukan untuk tujuan yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak ulama menyamakan tafsir <em>bi al-ra\u2019y<\/em> yang sesat dengan <em>ta&#8217;w\u00eel.<\/em> Seperti tafsir dengan rakyu, <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em> pun ada yang benar dan ada yang keliru, ada yang hak dan ada yang batil. Dari berbagai bahasan tentang <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>, termasuk dari apa yang dijelaskan oleh al-Suyuthi, kita dapat menyimpulkan dua makna <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em> yang membedakannya dari tafsir. <em>Pertama<\/em>, ta&#8217;w\u00eel itu mengalihkan makna yang meragukan atau membingungkan pada makna yang meyakinkan dan menenteramkan. Dalam pengertian ini, <em>ta&#8217;wil<\/em> hanya berhubungan dengan ayat- ayat <em>mutasy\u00e2bih\u00e2t<\/em>. <em>Kedua<\/em>, <em>ta&#8217;wil<\/em> adalah makna kedua atau makna batiniah, di samping makna pertama atau makna lahiriah. <em>Ta&#8217;wil<\/em> dalam arti ini berhubungan dengan semua ayat Al-Quran. Inilah yang lazim dipergunakan dalam tafsir- tafsir sufi.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ta&#8217;w\u00eel<\/em>, dalam dua pengertian ini, lazim dipergunakan oleh para mufasir. Keduanya tidak dipandang menyesatkan, bahkan dianggap sangat diperlukan. Tanpa <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>, ayat-ayat <em>mutasy\u00e2bih\u00e2t<\/em> akan membingungkan dan menyesatkan. Tanpa <em>ta&#8217;w\u00eel<\/em>, kita akan jatuh pada pemiskinan makna. Marilah kita lihat bagaimana <em>ta&#8217;w\u00eel <\/em>membantu kita memahami ayat- ayat <em>mutasy\u00e2bih\u00e2t<\/em>. <strong>JR<\/strong>\u2014<em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Waktu itu di Shiffin, dua pasukan Islam bertemu untuk saling membunuh. Sesudah terbit fajar, di markas masing-masing, kedua pasukan itu salat subuh berjamaah. Seseorang yang baru masuk Islam kebingungan ketika melihat dua kelompok sahabat Nabi Saw itu. Pada kelompok yang satu ada menantu Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib. Di sini berkumpul sahabat-sahabat Nabi Saw &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=569\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Tafsir dan Ta&#8217;wil&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[35,37,36,33,18,19,34,32,31,30,38,11,17],"class_list":["post-569","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-abu-thalib-al-taghlibi","tag-al-maturidi","tag-al-raghib","tag-ammar-bin-yasir","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-muawiyyah-bin-abi-sofyan","tag-shiffin","tag-tawil","tag-tafsir","tag-tafsir-bi-al-ray","tag-ulumul-quran","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/569","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=569"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/569\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":571,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/569\/revisions\/571"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=569"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=569"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=569"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}