{"id":702,"date":"2024-02-11T06:00:48","date_gmt":"2024-02-11T06:00:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=702"},"modified":"2024-04-18T16:02:16","modified_gmt":"2024-04-18T16:02:16","slug":"memahami-makna-rabbul-alamin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=702","title":{"rendered":"MEMAHAMI MAKNA RABBUL ALAMIN"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Memahami-Makna-Rabbul-Alamin-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1030\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Memahami-Makna-Rabbul-Alamin-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Memahami-Makna-Rabbul-Alamin-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Memahami-Makna-Rabbul-Alamin-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Memahami-Makna-Rabbul-Alamin.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"p2b99121\"><em>Alhamdulillah<\/em>&nbsp;adalah kalimat yang mulia, dan hanya disebut&nbsp;pada tempat-tempat yang layak. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Adam as. Pertama kali dimasuki oleh ruh dan hidup, sebagai tanda kehidupannya, ia bersin dan mengucapkan <em>Alhamdulillah rabb al-alamin<\/em>&#8220;. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa di akhir doa penghuni surga ada kalimat <em>Alhamdulillah rabb al-alamin<\/em>. Ketahuilah, terbukanya alam semesta ini ditegakkan atas <em>lafal Alhamdulilla rabb al-alamin<\/em>, dan akhir perjalanan kehidupan ini juga <em>Alhamdulilla rabb al-alamin<\/em>. Karena itu, usahakanlah agar semua amal kita yang pertama dan terakhir dimulai dan diakhiri dengan <em>Alhamdulilla rabb al-alamin<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"q8sph158\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"5ftdt160\"><strong>Makna <em>Rabbul Alamin<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"63x6k163\">Arti <em>rabb al-alamin<\/em>&nbsp;adalah yang mengurus, menjaga, dan merawat alam semesta. Karena itulah, perempuan yang diurus oleh satu keluarga Arab disebut <em>rabibah<\/em>. Dari sini ahli tafsir menjelaskan <em>tarbiyatullah<\/em>. Bagaimana Allah memelihara alam semesta ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"6kv2e171\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"8k2aj173\">Kata rabb bisa berarti pendidik. Dalam rangka memelihara dan mengurus itu sebenarnya Allah juga mendidik. Sebab itulah kita mengenal kata tarbiyah, yang menurut sebagian orang berasal dari kata <em>rabb<\/em>. Dalam arti yang pertama, <em>rabb al-alamin<\/em>&nbsp;berarti Allah-lah yang mengurus, menjaga dan merawat alam semesta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"5jbxi179\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"w8pfd181\"><em>Rabb<\/em>&nbsp;juga bisa berarti pemilik. Dalam bahasa Arab, <em>rabb al-ghanam<\/em> berarti pemilik kambing. <em>Rabb al-bait<\/em>&nbsp;berarti pemilik rumah. Boleh jadi istilah <em>rabbi<\/em>&nbsp;dalam bahasa Ibrani dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pendeta mereka berarti orang-orang yang mengurus, memelihara, dan mengayomi. Karena, ada arti lain dari kata <em>rabb<\/em>&nbsp;sebagaimana dikemukakan penulis tafsir <em>Majma&#8217; Al-Bayan<\/em>. <em>Rabb<\/em>&nbsp;bisa berarti juga <em>al-sayyid al-mutha,<\/em>&nbsp;pemimpin yang ditaati. Mungkin dari situlah kata rabbi di kalangan orang Yahudi itu muncul. Sebab, bahasa Ibrani dan bahasa Arab memiliki banyak kesamaan. Misalnya kata salam dalam bahasa Arab, menjadi <em>salom<\/em> dalam bahasa Ibrani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"4rp41200\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"k2cdb202\">Kata <em>al-alamin<\/em>&nbsp;berasal dari kata <em>&#8216;alam<\/em>. Kata <em>&#8216;alam<\/em> berasal dari kata <em>&#8216;alam<\/em>&nbsp;(<em>&#8216;ain<\/em>&nbsp;pendek) yang berarti bendera atau tanda. Kata lain yang dekat dengan <em>&#8216;alam<\/em>&nbsp;adalah alamah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi alamat. Alamat adalah tanda atau ciri untuk mengetahui tempat seseorang. Dalam bahasa Arab, alamat atau <em>address<\/em> tidak disebut <em>&#8216;alamah<\/em>&nbsp;melainkan <em>&#8216;unwan<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"s0ex7222\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"3cbth224\">Mengapa alam semesta diartikan sebagai <em>&#8216;alamah<\/em>&nbsp;atau tanda? Karena, dalam konsepsi Al-Quran, seluruh alam ini adalah tanda-tanda Allah. Dalam surat Al-Rum ayat 22 disebutkan: <em>&#8220;Dan di antara ayat-ayat-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi alam semesta&#8221;. <\/em>Seluruh alam ini adalah tanda-tanda Allah. Alam adalah <em>alamah<\/em>&nbsp;Allah. Jadi, kalau kita ingin mencari-Nya, carilah dari alamat-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"h064h232\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"lxj1o234\">Sebagian mufasir mengatakan bahwa alam berasal dari kata <em>&#8216;ilm<\/em>, ilmu pengetahuan (<em>ma&#8217;rifah<\/em>). Karena, dari alam lah kita mengetahui ilmu tentang alam, juga tentang pencipta alam itu. Dengan menyebutkan <em>rabb al-alamin<\/em>, Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa jalan yang paling dekat untuk sampai kepada-Nya adalah dengan mengenal alam; dengan mengenal bagaimana Allah memelihara seluruh alam semesta ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"wk9jm242\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"sl5ar244\">Oleh karena itu, Syaikh Makarim Al-Syirazi, dalam tafsirnya <em>Al-Amtsal<\/em>, ketika menafsirkan <em>rabb al-alamin<\/em>, mengatakan bahwa dengan mengucapkan <em>rabb al-alamin<\/em>, kita meyakini bahwa <em>rububiyyatullah thariqun li ma&#8217;rifatullah<\/em>. Salah satu jalan untuk mengenal Allah adalah memerhatikan bagaimana Allah memelihara alam semesta atau bagaimana <em>rububiyyah<\/em>&nbsp;Allah di alam semesta ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"ccya3256\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"lkf1o258\">Dari segi bahasa, ada hal yan gmenarik dari kata <em>alamin<\/em>. Alamin adalah bentuk jamak (plural) dari kata &#8216;alam, yang kemudian diubah menjadi alamin. Hanya saja, karena menjadi <em>mudhaf ilaih<\/em>&nbsp;(kata yang digandengkan dengan kata sebelumnya), maka bunyinya menjadi <em>alamin<\/em>. Kata ini adalah bentuk <em>jama&#8217; mudzakar salim<\/em>. Bentuk ini beraturan dan dipakai untuk yang berakal saja. Dalam bahasa Arab, hampir semua bentuk kata benda adalah tidak beraturan, sehinga disebut dengan <em>jama&#8217; taksir<\/em>&nbsp;(jamak yang memecahkan kata-kata sehingga tidak beraturan).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"31y4u270\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"7kbvl272\">Dalam bahasa Arab, <em>jamak<\/em>&nbsp;yang tidak pecah hanya digunakan untuk yang berakal, yang bernyawa. Tetapi di sini <em>al-amin<\/em>&nbsp;menggunakan bentuk <em>jamak mudzakkar salim<\/em>. Jadi, mestinya <em>al- amin<\/em>&nbsp;di sini tidak menunjukkan benda-beda yang tidak berakal, melainkan sesuatu yang bernyawa. Karena itu sebagian mufasir bahkan menurut Sayyid Rasyid Ridha, Imam Ja&#8217;far Shadiq mengartikan, <em>alamin<\/em>&nbsp;dengan manusia. Dengan demikian, <em>rabb al-alamin,<\/em>&nbsp;sama dengan <em>rabb al-nas.<\/em>&nbsp;Itu berarti, ayat yang pertama dari Al-Quran adalah <em>rabb al-alamin.<\/em>&nbsp;Dan ayat pertama dari surat terakhir dalam al-Quran juga berkenaan dengan <em>rabbul-nas<\/em>&nbsp;(surat Al-Nas). Oleh karena itu, <em>al-alamin berarti al-nas<\/em>, yang berarti seluruh manusia, tidak berkenaan dengan benda-benda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"2x24r294\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"50kz7296\">Syaikh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menyebutkan: Diriwayatkan dari Imam Ja&#8217;far bahwa yang dimaksud dengan <em>al- alamin<\/em>&nbsp;adalah seluruh manusia. Dan itu ada alasannya dalam Al- Quran. Misalnya dalam surat Al-An&#8217;am ayat 90, Yusuf 104, dan Al-Furqan. Rasulullah juga diutus untuk menjadi <em>rahmatan lil- alamin<\/em>. Jadi, berdasarkan ayat-ayat itu, sebagian mufasir berpendapat bahwa <em>al-alamin<\/em>&nbsp;adalah umat manusia. Sebagian mufasir lain mengartikan alam di situ bukan hanya manusia, melainkan juga seluruh alam ini, alam jin, bebatuan dan alam lainnya, walau pun dalam bahasa Arab yang biasa, memang untuk kata <em>al-alam<\/em>&nbsp;yang berarti seluruh alam,bentuk jamaknya adalah <em>awalim<\/em>. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa adanya alam bukan hanya manusia adalah surat al-Syura ayat 23-24.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"raevj308\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"0pwzi310\">Menurut Al-Fakhr Razi, makna <em>rabb<\/em>&nbsp;adalah yang memelihara, menjaga, melindungi dan mengayomi. Jenis pemeliharaan itu ada dua (1) ada orang yang memelihara sesuatu karena ia ingin memperoleh keuntungan dari yang ia pelihara; dan (2) ada orang&nbsp;yang memelihara sesuatu agar yang dipeliharanya itu beruntung. Jenis pemeliharaan yang pertama adalah jenis pemeliharaan makhluk. Sedangkan jenis pemeliharaan yang kedua adalah pemeliharaan Allah; itulah tanda rabb al-alamin. Dengan ini seakan-akan Allah berfirman, &#8220;Aku menciptakan kamu agar kamu beruntung dari-Ku, bukan supaya Aku beruntung darimu.&#8221; Itulah pemeliharaan Allah; berbeda dengan makhluk yang memelihara dengan harapan memperoleh keuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"jdrcd314\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"31c2g316\">Seorang Ibu memelihara anaknya. Ia merasa bermakna menjadi seorang ibu. Karena itulah banyak ibu merindukan untuk mempunyai anak dan merawatnya karena ada kenikmatan dalam memelihara anak. Ibu itu memeroleh keuntungan. Beda halnya dengan Allah. Ia memelihara kita tanpa memeroleh keuntungan apa pun. Karena itulah, Dia itu <em>ghaniyyun anil alamin,<\/em> yang tidak&nbsp; memerlukan keuntungan dari seluruh alam semesta ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"if5l3320\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"mr75j322\">Jadi, ketahuilah, pemeliharaan Allah berbeda dengan yang lain dengan beberapa penjelasan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"57mmx324\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"5gvd4326\">(1) Allah memelihara, mendidik, menjaga hamba-hamba-Nya bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi untuk kepentingan yang dijaga-Nya. Sedangkan yang lain melakukan pemeliharaan justru untuk kepentingan pribadinya, bukan untuk orang lain;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"m84gh328\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"nn313330\">(2) Allah memelihara kita dengan perbendaharaan-Nya yang tak terhingga; berbeda dengan selain Allah yang memelihara dengan sangat terbatas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"6vrb7332\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"x2w23334\">(3) Allah memelihara kita tanpa mengharapkan balasan dari kita; sedangkan selain Allah berbuat baik dengan mengharapkan balasan, baik di dunia dan akhirat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"ew302336\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"l6hsf338\">(4) Berbeda dengan makhluk yang, jika dimintai sesuatu terus menerus dengan merengek, akan jengkel dan marah, Allah justru akan marah jika manusia meminta kepada-Nya tidak dengan merengek, tidak terus menerus, tidak bersikeras, dan cepat bosan. Allah justru menyukai orang yang meminta dengan terus-menerus dan tidak berputus asa. Nabi Zakaria as dipuji karena terus menerus meminta kepada Allah sampai puluhan tahun. Sejak menikah ia berdoa ingin dikaruniai anak. Nabi zakaria merintih, &#8220;Tuhan, sudah rapuh tulang-tulangku, tapi aku tidak akan menghentikan doaku kepada-Mu. Allah memujinya, tetapi ia tak gentar meminta kepada Allah. Akhirnya, Allah mengabulkan doa Zakaria. Bandingkanlah dengan sebagian orang yang akhirnya tidak mau berdoa dan shalat lagi karena ia sudah berdoa puluhan tahun tetapi Tuhan belum juga mengabulkannya. Ingatlah, Allah mencintai orang-orang yang terus menerus merintih, memohon kepada-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"exxik340\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"wccfh342\">(5) Siapa pun, selain Allah, tidak akan berbuat baik kalau tidak akan diminta. Sedangkan Allah sebaliknya. Sebelum kita minta, bahkan sebelum kita tahu harus meminta, Dia telah menjaga kita dalam rahim ibu dan menglirkan susu lewat ibu kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"0vosv344\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"pt2dc346\">(6) Allah tidak pernah berhenti berbuat baik kepada kita. Sedangkan kita sebaliknya. Kita mempunyai batas waktu dalam berbuat baik. Kita tidak akan bisa menghitung nikmat- nikmat Allah sehingga kita merasakan kebaikan Allah yang diberikan kepada kita setiap saat. Anehnya, kita sering lebih cepat melihat <em>niqmah<\/em>&nbsp;(bencana) daripada <em>ni&#8217;mah<\/em> (kenikmatan). Kita lebih mudah memerhatikan <em>niqmah <\/em>daripada ni&#8217;mah Allah. Itulah sebabnya kita menjadi mudah putus asa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"knwnu354\">Saya teringat cerita dari Dale Carnegie tentang seseorang pengusaha di Amerika serikat yang bangkrut. Ia putus asa dan akan pulang ke kampung halamannya. Saat berjalan di pinggir jalan, tepatnya ketika ia akan menyebrangi jalan, ia berpapasan dengan orang buntung yang memakai kursi roda. &#8220;Lihat, betapa indah pagi ini!&#8221; kata orang buntung itu. Dengan ragu menjawab, &#8220;Ya.&#8221; la terdiam, lalu berpikir,&#8221; Saya bangkrut&#8221;. Ia yang tidak mempunyai kaki saja bisa memandang pagi ini dengan indah.&#8221; Akhirnya ia tidak jadi pulang. Ia kembali ke bank untuk memohon kredit. Ia bekerja keras dan akhirnya kembali menjadi <em>chief executive officer.<\/em>&nbsp;Ia memasang satu tulisan di kamarnya, sajaknya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"vhyrz358\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"c3kyc360\"><em>I Was blues<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"n43dg362\"><em>Because I had no shoes<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"wshsp364\"><em>Until off on street<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"z1rdm366\"><em>I met man without feet<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"39yzy368\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"gqvi9370\"><em>Aku melihat dunia ini kelabu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"9cuy0372\"><em>Karena aku tidak mempunyai sepatu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"xamg1374\"><em>Sampai di pinggir jalan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"spa18376\"><em>Aku bertemu orang tanpa kaki<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"lockw378\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"hycj0380\">Ingatlah, kebaikan Allah Swt kepada kita jauh lebih besar daripada ujian-Nya dan kebaikan Allah itu tak pernah berhenti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"mhn7u382\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"xhphr384\">(7) Kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu; sedangkan kasih sayang selain Allah hanya untuk hal-hal tertentu saja. Allah menyayangi orang yang suka beribadah. Allah juga menyayangi orang yang suka berdosa. Dalam sebuah ayat Al-Quran, Allah berfirman: <em>&#8220;<\/em>Ya &#8216;ibadi,<em>&nbsp;<\/em>wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas.&#8221; Siapakah yang dipanggil dengan panggilan yang penuh kasih itu? Begitu besar kasih sayang Allah sehingga Dia mengkhususkan panggilan itu kepada para pendosa, orang-orang yang telah melewati batas. Tuhan memanggil mereka untuk kembali datang kepada-Nya. <strong>JR<\/strong> <em>Wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"rlhk5391\"><em>&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"xki2w393\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"d1zdp395\">&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"6p5ad397\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"ft7pa399\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong>&nbsp;Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alhamdulillah&nbsp;adalah kalimat yang mulia, dan hanya disebut&nbsp;pada tempat-tempat yang layak. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Adam as. Pertama kali dimasuki oleh ruh dan hidup, sebagai tanda kehidupannya, ia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah rabb al-alamin&#8220;. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa di akhir doa penghuni surga ada kalimat Alhamdulillah rabb al-alamin. Ketahuilah, terbukanya alam semesta &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=702\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;MEMAHAMI MAKNA RABBUL ALAMIN&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[304,299,303,18,19,300,301,302,17],"class_list":["post-702","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-al-fakhr-razi","tag-alhamdulillah","tag-dale-carnegie","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-makna-rabbul-alamin","tag-nimah","tag-niqmah","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/702","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=702"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/702\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1031,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/702\/revisions\/1031"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=702"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=702"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=702"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}