{"id":777,"date":"2024-02-19T04:30:45","date_gmt":"2024-02-19T04:30:45","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=777"},"modified":"2024-03-04T03:16:23","modified_gmt":"2024-03-04T03:16:23","slug":"cara-hidup-sufi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=777","title":{"rendered":"Cara Hidup Sufi"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Cara-Hidup-Sufi-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-833\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Cara-Hidup-Sufi-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Cara-Hidup-Sufi-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Cara-Hidup-Sufi-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Cara-Hidup-Sufi.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"amn7q\">Boleh jadi, sebagian orang mengatakan bahwa tasawuf itu tidak ada dalam Al-Quran. Karena itu, tasawuf termasuk bid&#8217;ah. Pernyataan bahwa tasawuf itu tidak ada dalam Al-Quran adalah benar adanya. Bahkan, kata <em>shuf<\/em> saja tidak ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Tasawuf boleh jadi muncul kira-kira 10-60 tahun sesudah Rasulullah Saw. meninggal dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"68m2o\">Pada zaman Hasan Al-Bashri, yaitu pada zaman tabi&#8217;in, seorang saleh yang bernama Abul Hasan Al- Fusyanji mengatakan, &#8220;Hari ini, tasawuf hanyalah sekadar nama, tetapi tidak ada buktinya. Dahulu, pada zaman Rasulullah, tasawuf ada buktinya tetapi tidak ada namanya. Namun sekarang, tasawuf hanya sekadar nama, tetapi tanpa bukti.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"3e4e4\">Memang, menurut sebagian orang, yang dikenal pada zaman Rasulullah Saw. bukanlah kata tasawuf. Yang dikenal pada masa itu adalah istilah-istilah seperti <em>zuhud<\/em> dan <em>wara&#8217;<\/em>. Karena itu, ketika Imam Ahmad menulis buku tentang tasawuf, beliau tidak memberi nama kitab itu sebagai Kitab Al-Tashawwuf. Akan tetapi, beliau menamai kitab itu sebagai <em>Kitab Al-Zuhd<\/em>, atau kitab tentang zuhud.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"ceflf\">Walhasil, memang terjadi perdebatan tentang asal-usul tasawuf itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata <em>al-shuf<\/em>, yang artinya &#8220;bulu&#8221;. Kabarnya, Rasulullah Saw. pernah bersabda, &#8220;Hendaklah kamu memakai baju bulu agar memperoleh manisnya iman dalam hatimu.&#8221; Kemudian, kata <em>al-shuf <\/em>ini diberi akhiran &#8220;ya&#8221; yang dinisbatkan kepada orang yang memakai baju bulu. Seorang fakir yang memakai baju bulu disebut shufi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"33ln1\"><strong>Tasawuf: Akhlak untuk Mendekati Tuhan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"9cahf\">Pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata <em>ahl ash-shuffah<\/em> atau <em>ahli suffah<\/em>. <em>Ahli suffah<\/em> adalah sekelompok sahabat miskin, yang hijrah ke Madinah dan tidak memperoleh tempat tinggal. Oleh Rasulullah Saw. mereka ditempatkan di serambi masjid. Tempat ini dinamakan <em>shuffah<\/em> dan orang yang menemaninya disebut <em>ahl ash-shuffah<\/em>. Dari kata <em>shuffah<\/em> inilah lahir kata tasawuf, walaupun secara <em>lughawi<\/em>, dari kata ini sulit lahir kata tasawuf. Memang, nantinya yang menjadi zahid di kalangan para sahabat adalah sebagian alumni <em>ahl ash-shuffah<\/em> ini. Jadi, sufi adalah orang yang berperilaku seperti <em>ahl ash-shuffah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"5isih\">Pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata <em>theosophos<\/em>. Pada umumnya, yang berpendapat demikian adalah para orientalis. Tasawuf berasal dari kata <em>theo<\/em>, yang berarti Tuhan, dan <em>sophos<\/em>, yang berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, tasawuf berarti kebijaksanaan yang berhubungan dengan Tuhan. <em>Wallahu a&#8217;lam<\/em>. Kita tidak bermaksud mempertegas <em>ikhtilaf<\/em> tentang asal usul tasawuf ini. Akan tetapi, sekali lagi, kata tasawuf tidak terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"3on91\">Hanya, dalam perkembangan selanjutnya, tasawuf kemudian mengandung makna baru yang akan saya jelaskan di sini. Jika orang berbicara tentang tasawuf, kata ini bisa mengandung tiga makna. <em>Pertama<\/em>, tasawuf sering dipahami orang sebagai serangkaian akhlak untuk mendekati Tuhan. Artinya, apabila seseorang berkeinginan untuk mendekati Tuhan, maka serang kaian akhlak yang harus dikerjakan itu dinamakan tasawuf. Definisi ini saya ambil dari para sufi. Bahkan, seorang sufi mutakhir mengatakan, &#8220;Yang dimaksud tasawuf itu adalah akhlak yang baik.&#8221; Jika yang dimaksud tasawuf adalah akhlak yang baik, tentunya kita semua berpendapat bahwa Al-Quran dan sunnah Nabi Saw. pun mengajarkan tasawuf. Bukankah Nabi Saw. sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"2rqt2\"><strong>Tasawuf: Cara untuk Menggapai Makrifat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"e8bts\"><em>Kedua<\/em>, tasawuf diartikan sebagai &#8220;sebuah cara untuk menggapai makrifat&#8221;. Tasawuf adalah cara memperoleh pengetahuan langsung dari Allah Swt. Orang awam menyebutnya sebagai ilmu laduni. Sementara itu, kita hanya melihat hal-hal yang sifatnya empiris saja, dan tidak melihat hal-hal yang bersifat batiniah. Mengapa? Sebabnya, hati kita masih tertutup oleh selubung, yang oleh kaum sufi, disebut hijab. Tasawuf memiliki sejumlah cara latihan batin agar Allah Swt. menyingkapkan hijab tersebut. <em>&#8220;Aku singkapkan selimut yang menutupi matamu kemudian pada hari ini matamu menjadi tajam,&#8221;<\/em> (QS. Qaf [50]: 22).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"fl7u\">Ada kisah tentang Imam Al-Ghazali dengan adiknya, yang bernama Ahmad. Imam Al-Ghazali bertindak sebagai imam masjid. Anehnya, Ahmad tidak pernah ikut shalat berjamaah dengan kakaknya itu. Akan tetapi, suatu saat, ia bermakmum juga di belakang Al-Ghazali. Setelah sampai pada pertengahan shalat, Ahmad keluar dari barisan dan melakukan shalat sendirian. Setelah selesai shalat, orang-orang pun menduga kalau Ahmad sedang terlibat konflik dengan kakaknya itu. Sudah tidak pernah mau shalat berjamaah bersama kakaknya, makmum sekali saja sudah melepaskan diri dari barisan sebelum shalat selesai dilaksanakan dan kemudian melakukan shalat sendirian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"6i48l\">&#8220;Mengapa engkau tadi <em>munfarid<\/em> (meninggalkan shalat berjama&#8217;ah\/shalat sendiri)?&#8221; tanya Imam Al-Ghazali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"43d3t\">&#8220;Pada rakaat kedua tadi, aku melihat darah pada badanmu dan aku tidak tahan melihatnya. Karena itu, aku memutuskan untuk shalat sendirian,&#8221; jawab Ahmad.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"1skh7\">Mendengar ucapan adiknya, Imam Al-Ghazali tersentak, seperti terbangun dari tidurnya. Ternyata, pada rakaat kedua itu, ia teringat dengan buku fikih yang tengah ditulisnya. Kebetulan, ia sedang membahas masalah haid dan nifas, sehingga pada waktu shalat, pikirannya tertuju pada masalah haid dan nifas itu. Ternyata, fenomena ini bisa dilihat dengan ketajaman batiniah sebagaimana yang dialami oleh Ahmad yang bermakmum tadi. Metode untuk mengetahui hal-hal yang bersifat batiniah ini dinamakan tasawuf.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"1365o\"><strong>Tasawuf: Cara Memandang Realitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"4496a\"><em>Ketiga<\/em>, tasawuf berkenaan dengan pandangan tentang realitas. Dalam Al-Quran diinformasikan, <em>&#8220;Ke mana pun engkau palingkan wajahmu, di sana ada wajah Allah,&#8221;<\/em> (QS. Al-Baqarah [2]: 110). Sebenarnya, inilah yang disebut tauhid sejati, bahwa tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini selain wajah Allah. Memang, kita masih menyaksikan makhluk, sehingga ke mana pun kita tebarkan pandangan, di situ ada wajah makhluk. Kita tidak menyaksikan wajah Allah Swt. Bahkan, kalau mau jujur, kita akan segera mengatakan bahwa ayat Al-Quran tadi keliru. Menurut para sufi, pandangan kita itu masih tertutup hijab. Ibnu &#8216;Arabi mengatakan bahwa kita masih berada di alam l\u00e5 Huwa, belum hidup di alam <em>Huwa<\/em>. Oleh karena itu, yang kita lihat bukan Dia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"dcee4\">Jadi, pengertian ketiga dari tasawuf berkenaan dengan pandangan tentang realitas. Sufi memandang suatu keadaan ketika dia meniadakan segala-galanya dan yang ada hanya Allah semata. Dalam hal ini, tasawuf menegakkan agama atas dasar cinta. Itu sebabnya, kalau orang mau bertasawuf, ia harus mengubah caranya beragama: cara beragama yang ditegakkan atas dasar kebencian, harus diubah dengan beragama atas dasar cinta. Kalau kita baca kitab-kitab klasik tentang apa itu tasawuf, para ulama menyebutkan bahwa selain cinta harus ada satu lagi ciri keberagamaan. Ciri ini sering disebutkan ketika seseorang membicarakan masalah tasawuf. Salah seorang sufi yang bernama Ruwaym mengatakan bahwa tasawuf itu ditegakkan di atas tiga landasan. Salah satunya adalah berpegang teguh kepada kefakiran dan berusaha menjadi fakir. Jadi, komponen lain yang menjadi ciri tasawuf adalah kefakiran. Definisi tentang kefakiran ini selalu kita baca apabila kita membicarakan masalah tasawuf.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"4a56e\">Ma&#8217;ruf Al-Kharki, salah seorang sufi besar, pernah ditanya tentang tasawuf. Ia menjawab, &#8220;Yang disebut tasawuf adalah mengambil hakikat dan tidak mengharapkan sesuatu yang dimiliki makhluk. Siapa yang belum menemukan hakikat kefakiran di dalam dirinya, ia belum menemukan hakikat tasawuf itu.&#8221; Jadi, seseorang bisa dikatakan telah menjadi sufi apabila ia menjadi fakir. Al-Suhrawardi, dalam kitab &#8216;Awarif Al-Ma&#8217;arif, menyebutkan pandangan sebagian ulama tentang tasawuf. Dan, salah satu ciri sufi sejati adalah fakir yang sejati juga. &#8220;Sesungguhnya, fakir yang sejati adalah orang yang melindungi dirinya agar tidak memperoleh kekayaan dan takut kekayaan itu masuk ke dalam dirinya lalu menghancurkan kefakirannya, sebagaimana orang kaya melindungi dirinya dari kefakiran yang merusak kekayaannya.&#8221; Ia juga mengutip ucapan Abu Abdurrahman Ar-Razi yang ia dengar dari Muzhaffar Al-Kirmizini. Katanya, &#8220;Aku bertanya kepada Abu Bakar Al-Mishri tentang kefakiran. Lalu ia menjawab, &#8216;Orang yang tidak mempunyai dan karena itu tidak dipunyai\u2019.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"3ebof\"><strong>Sufi: Fakir atau Miskin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"boe9i\">Saya sudah membawa Anda ke langit ketika berbicara tentang fakir. Fakir di sini adalah pokok tasawuf. Dalam kitab-kitab tasawuf pun selalu ada bab yang membicarakan tentang keutamaan kefakiran dan orang fakir. Sampai sekarang pun, orang sufi di India masih disebut fakir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"ddrkp\">Sayangnya, kitasering mendapatkan kesalahpahamanantara fakir dan miskin. Ada yang segera mengatakan bahwa kalau kita ingin menjadi orang yang dekat dengan Allah, kita harus menjadi orang miskin. Di sini, definisi fakir disamakan dengan definisi miskin. Padahal, tidak ada satu pun kitab tasawuf, yang menyebutkan definisi kemiskinan ini. Yang mereka sebut hanyalah kefakiran. Tidak ada juga keutamaan orang miskin dan kemiskinan. Dalam istilah tasawuf, fakir tidaklah sama dengan miskin. Akan tetapi, celakanya, orang awam menafsirkan bahwa fakir itu sama dengan miskin. Oleh karena itu, kalau kita ingin menjalani tasawuf, kita harus meninggalkan pekerjaan, meninggalkan kuliah, meninggalkan keluarga, meninggalkan semua hal yang terkait dengan dunia, apalagi demontrasi yang terkait dengan politik. Mereka beranggapan bahwa kita harus pergi ke masjid untuk menghabiskan waktu untuk berzikir. dan berdoa. Bahkan, kalau bisa, makannya pun harus sedikit. Dengan pengertian fakir seperti itu, hadirnya aneka penyakit dalam tubuhnya sehingga tubuhnya menjadi kurus kering, menjadi sebuah keharusan. Walaupun demikian, banyak juga orang yang mau menjalankan tasawuf seperti anggapan yang terakhir tadi. Mereka terpaksa mengorbankan keluarga dan sekolahnya. Ini yang menyedihkan kita semua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"gek8\">Sekarang ini, ada gerakan tasawuf modern, dan saya pernah termasuk orang yang mendukung gerakan ini, misalnya saja Jamaah Tabligh. Apa yang dilakukan Jamaah Tabligh bisa dikatakan sebagai gerakan sufi modern, walaupun mereka tidak menyatakan diri sebagai gerakan sufi modern. Akan tetapi, sayangnya, ada orang ekstrem dalam gerakan ini. Misalnya, ada orang yang senang <em>khuruj<\/em>, yaitu keluar rumah untuk berdakwah dan membiarkan keluarganya terlantar. Ia menjalankan agama dengan mengorbankan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"30ob2\">Saya tidak menyalahkan gerakan ini. Akan tetapi, hendaknya kita tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang sifatnya ekstrem. la meninggalkan keluarga, sekolah, dan boleh jadi inilah yang Anda anggap sebagai fakir. Sekali lagi, kafakiran tidak sama dengan kemiskinan. Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan fakir? Pada bagian awal sudah saya sebutkan bahwa fakir adalah tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki apa pun selain Allah. Ungkapan ini sangat mudah dihapal, akan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Sekarang, apa yang dimaksud dengan tidak punya apa-apa?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"cvhkd\">Secara singkat, kita mengetahui bahwa ada dua macam orang dalam menjalani hidup ini. Yang satu hidup dengan modus memiliki dan yang lain hidup dengan modus menjadi. Tasawuf berusaha menjalani hidup dengan modus menjadi. Oleh karena itu, yang disebut sufi adalah &#8220;orang yang tidak memiliki dan orang yang tidak dimiliki.&#8221; Kebanyakan orang menafsirkan kefakiran ini dengan tidak punya apa-apa dan hidup miskin. Padahal, telah diungkapkan bahwa fakir tidak sama dengan miskin. Miskin berarti tidak memiliki tempat tinggal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"3c7th\">Akan tetapi, dalam fikih, makna fakir dan miskin itu sendiri hampir sama. Meskipun ada sedikit perbedaan, tidak urung perbedaan tersebut masih sering diperdebatkan. Katanya, menurut satu pendapat dalam fikih, orang miskin adalah orang yang hidup melarat tetapi masih punya tempat tinggal. Sedangkan orang fakir adalah orang yang hidup melarat dan tidak punya tempat tinggal. Jadi, orang fakir itu sebenarnya lebih miskin daripada orang miskin. Jika definisinya seperti ini, kita agak kerepotan menghadapi masyarakat modern. Pada umumnya, di kota-kota besar kita menjumpai banyak orang yang tidak punya rumah tetapi kehidupannya makmur. Menurut perkiraan saya, di kota-kota besar di Jerman, seperti Frankfurt dan Berlin misalnya, delapan puluh persen penduduknya tidak punya rumah, sehingga tujuh puluh persen penghasilan mereka dihabiskan untuk alokasi rumah. Ini berarti bahwa mereka termasuk fakir. Di Indonesia sendiri, banyak orang miskin yang mempunyai rumah. Ada juga orang yang mengatakan bahwa miskin itu lebih fakir daripada orang fakir, lantaran fakir \u0336 katanya \u0336 masih memiliki pekerjaan, walaupun hidupnya sengsara. Dan yang disebut miskin ialah sudah hidup sengsara dan tidak memiliki pekerjaan pula.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"6ci5u\">Agar tidak pusing, marilah kita tinggalkan perbincangan ahli fikih tentang perbedaan antara fakir dan miskin. Dalam perbincangan kita sekarang, makna fakir tidak sama dengan makna miskin. Fakir bukan berarti tidak punya apa-apa untuk kehidupannya. Fakir bukan pula orang yang meninggalkan pekerjaan dan kemudian menghabiskan waktunya untuk beribadah di masjid saja. Definisi fakir yang tadi disebutkan adalah orang yang tidak memiliki dan tidak dimiliki. Artinya, ada orang yang memiliki sesuatu dan ia pun dimiliki oleh sesuatu itu. Umpamanya, ada orang yang memiliki mobil baru dan ia dimiliki oleh mobil tersebut. Akan tetapi, ada pula orang yang memiliki mobil, malah mobilnya adalah mobil mewah, tetapi ia tidak dimiliki oleh mobil tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"e5v3q\"><strong>Fakir menurut Erich Fromm<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"7pcqc\">Penjelasan untuk kata-kata abstrak tadi, bisa Anda dapatkan dalam sebuah buku hasil karya Erich Fromm. Salah seorang psikolog keturunan Yahudi dari Mazhab Humanistik. Ia menulis bukunya ini dengan judul <em>To Have or To Be<\/em>. Katanya, ada dua modus eksistensi atau cara hidup. Modus eksistensi pertama adalah memiliki (<em>to have<\/em>), dan modus eksistensi kedua adalah menjadi (<em>to be<\/em>). Erich Fromm pun bertutur sambil mengutip Taurat. Dia bercerita bahwa sebelum Nabi Musa berhak berbicara dengan Allah, beliau diperintahkan untuk tidak memiliki apa-apa. Ia harus meninggalkan tanah airnya. Musa yang sebelumnya pernah tinggal bersama Firaun, sang raja, harus meninggalkan istananya dan pergi ke padang pasir. Dia meningggalkan segala-galanya. Sebelum berjumpa dengan Tuhan, ia pun harus meninggalkan pekerjaannya, yaitu menggembala domba. Kemudian, ia melihat pancaran api yang dilukiskan dalam Al-Quran, &#8220;Saya tinggalkan itu semua.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"b6uog\">Erich Fromm memberi contoh bahwa bencana yang terjadi pada masyarakat modern ini disebabkan oleh pandangan yang menyatakan bahwa &#8220;Anda itu dikatakan ada, kalau Anda memiliki&#8221;. <em>To be is to have<\/em>. Boleh jadi Anda masih ingat bahwa ada seorang filsuf yang mengatakan cogito ergo. sum. Saya berpikir, karena itu saya ada. Jadi, kehidupan diukur dengan kepemilikan. Status Anda diukur dengan jumlah yang Anda miliki. Perjuangan hidup pun adalah perjuangan untuk menambah daftar barang yang Anda miliki. Hidup Anda adalah memiliki. Masyarakat kita disebut sebagai <em>acquistive society<\/em>, masyarakat yang rakus dan serakah untuk memiliki. Inilah yang disebut sebagai <em>a basis for the having mood<\/em>, yaitu dasar dari kehidupan memiliki, lantaran memiliki, mempunyai dan mengambil untung dianggap sebagai hak suci bagi setiap individu dalam masyarakat industri. Jadi, sumber kekayaan tidak menjadi soal. Begitu pula, kepemilikan tidak memberinya tanggung jawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"ibd2\">Dalam modus eksistensi ini, hidup itu bermakna dengan menambah daftar barang, benda, dan orang yang kita miliki. Boleh jadi pula, ini hanya akibat dari simplikasi atau penyederhanaan saja. Masyarakat kita adalah masyarakat yang mengukur eksistensi kehidupan dengan jumlah yang dimilikinya. Yang paling menyedihkan, kebahagiaan kita diukur dengan jumlah yang kita miliki. Kita bahagia kalau kita memiliki harta dan barang-barang tertentu. Cita-cita pun bisa dirumuskan dengan kepemilikan. Jadi, cita-cita itu semuanya berpusat pada memiliki sesuatu atau memiliki seseorang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"42i3d\">Konon, cinta adalah sesuatu yang luhur tetapi kemudian didegradasikan atau diturunkan tingkatannya menjadi kepemilikan juga. Saya ingin memiliki dia. Lalu, hubungan suami istri \u0336 yang seharusnya bersifat transformatif berupa saling menghargai \u0336 menjadi hubungan saling memiliki. Biasanya, sang suami memiliki hak mutlak atas istrinya. Dalam sebuah diskusi tentang Psikologi Perempuan, ada seseorang yang menyatakan, &#8220;Bukankah,&#8221; katanya, &#8220;di dalam Islam itu suami memiliki istrinya, sampai-sampai ia diperbolehkan memperlakukan istrinya dengan cara apa pun?&#8221; Lalu, dia mengutip peribahasa Sunda yang mengatakan, &#8220;<em>Ti luhur sausap rambut, ti handap sausap dampal.<\/em>&#8221; Artinya, bahwa dari ujung rambut sampai ujung kaki, seorang perempuan itu dimiliki oleh suaminya. Ia bebas diperlakukan sesuai keinginan suaminya. Hal terjadi karena sang istri adalah milik suaminya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"bh595\">Konsep memiliki berpandangan bahwa sesuatu atau objek itu bisa kita perlakukan dengan cara apa pun, karena kitalah yang memilikinya. Kita memiliki hak mutlak atasnya. Tentunya, sangat mengerikan kalau setiap suami diberi ajaran oleh orang-orang yang mengerti agama bahwa \u0336 begitu dia menikahi istrinya, begitu dia sudah mengucapkan <em>qabiltu zawajaha bi nafsi<\/em> \u0336 pada saat itu pula sang istri menjadi milik suami sepenuhnya. Dengan demikian, mahar pernikahan dianggap sebagai alat pembeli. Walhasil, perempuan sekarang sudah menjadi barang komoditas yang bisa dijualbelikan. Saya katakan, murah betul harga seorang perempuan. Kalaulah mahar itu dipandang sebagai harta perempuan, maka betapa jauh lebih murah harga perempuan ketimbang harga sapi. Sekarang, sapi berharga di atas empat juta, sementara mahar rata-rata \u0336 apalagi kalau maharnya hanya Al-Quran saja \u0336 berharga ratusan ribu saja. Masya Allah! Jika demikian halnya, suami bisa menggunakan dan memperlakukan istrinya dengan sekehendak hati. Inilah konsep memiliki \u0336 berkuasa dan berhak menggunakan apa yang kita miliki menurut kehendak diri.. Pada waktu itu (dalam diskusi kuliah Psikologi Perempuan) saya menjawab dengan sebuah hadits Nabi Saw. yang sangat indah terkait dengan perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"9ov6r\">Dalam khutbah, sewaktu Nabi Saw. menunaikan ibadah haji untuk terakhir kalinya, di hadapan para jamaah, beliau bersabda, &#8220;Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada perempuan dan kalian tidak memiliki mereka sedikit pun.&#8221; Nabi Saw. menggunakan kata-kata <em>la tamlikuhunna syai&#8217;an<\/em>. Padahal, bahasa Arab tidak mempunyai kata memiliki. Bahasa Inggris misalnya, punya kata memiliki dan mempunyai. Akan tetapi, ada juga bahasa-bahasa yang tidak &#8220;memiliki&#8221; atau menggunakan &#8220;kata memiliki&#8221; untuk menunjukkan &#8220;saya mempunyai.&#8221; Bahasa Arab termasuk yang tidak punya kata memiliki kecuali yang digunakan Rasulullah Saw. untuk menegaskan hal itu. Biasanya, orang Arab mengatakan <em>&#8216;indi kitabun<\/em>, bukan <em>amliku kitaban \u0336<\/em> untuk menunjukkan bahwa saya. mempunyai sebuah buku. Bahasa Inggris punya kata untuk menunjukkan makna memiliki, misalnya saja dalam kalimat, &#8220;<em>I have a book<\/em>.&#8221; Saya mempunyai atau memiliki sebuah buku. Dalam bahasa Inggris, kata memiliki dan mempunyai sangat dominan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"9gvcp\">Menurut Erich Fromm, kalau kita mempelajari bahasa Inggris dari zaman ke zaman, maka kamus bahasa Inggris modern sekarang ini sangat banyak mengandung kata memiliki. Jadi, berjalan-jalan yang merupakan sebuah aktivitas, diekspresikan dengan &#8220;mempunyai berjalan&#8221;. <em>I have a walk<\/em>. Begitu pula halnya dengan kalimat, <em>I have a rest<\/em>, saya beristirahat; <em>I have a talk<\/em>, saya berbicara, dan sebagainya. Apa arti dari semua ini? Artinya, pola proses \u0336 kalau pekerjaan itu berupa sebuah proses atau aktivitas \u0336 sekarang ini diganti menjadi pola bukan proses.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"cvcj\">Ciri selanjutnya dari modus eksistensi menjadi adalah memandang hidup sebagai sebuah proses, yaitu proses perubahan dari kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Tasawuf menyingkirkan modus eksistensi memiliki dan menggantinya dengan modus eksistensi menjadi. Walhasil, pertama-tama kita tidak melihat kebahagiaan itu pada apa yang kita miliki. Kita melihat kebahagiaan itu pada perubahan yang terjadi di dalam diri kita menuju arah yang lebih baik. Jadi, bukan pada memiliki, akan tetapi pada menjadi. Salah satu ciri modus eksistensi menjadi \u0336 yang berbeda dengan dari modus eksistensi memiliki \u0336 adalah kita tidak meletakkan kabahagiaan pada apa yang kita miliki, melainkan pada sejauh mana sesuatu itu bisa membantu kita menjadi lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"4gpg6\">Imam &#8216;Ali pernah ditanya tentang zuhud. Zuhud adalah kata pertama yang kelak akan diganti dengan kata tasawuf. Tasawuf tidak ada pada zaman Rasulullah Saw. dan tidak ada pula pada zaman para sahabat. Dulu, untuk mengungkapkan kata tasawuf dipergunakan kata zuhud. Sebelum diganti dengan kata sufi, kata yang pertama kali digunakan adalah zahid. Apakah zuhud itu? Imam &#8216;Ali menjawab, &#8220;Zuhud itu disimpulkan dengan ayat Al-Quran yang berbunyi, <em>&#8216;Hendaklah kamu jangan berduka cita atas apa yang hilang dari dirimu dan hendaklah kamu jangan terlalu gembira atas apa yang diberikan-Nya kepadamu&#8230;&#8221;<\/em> (QS. Al-Hadid [57]: 23). Itulah definisi modus esksistensi menjadi: kalau seseorang kehilangan sesuatu, dia tidak berduka-cita dan bersikap biasa-biasa saja, karena kebahagiannya tidak terletak pada apa yang dimilikinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"di0fp\">Sekali lagi, seorang sufi mengarungi kehidupannya dengan modus eksistensi menjadi dan tidak mengukur kebahagiaannya dengan apa yang dimilikinya. Lantas, di mana letak kebahagiaan yang ada dalam dirinya? Kebahagiaan yang ia rasakan tidak terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan pada kenikmatan yang dirasakan pada perubahan yang terjadi dalam dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"bhofi\">Buku Erich Fromm ini sebenarnya bercerita tentang berbagai contoh pola memiliki dalam belajar, yaitu apa bedanya belajar dengan modus memiliki dan belajar dengan modus menjadi. Begitu juga, apa bedanya beragama dengan modus memiliki dan beragama dengan modus menjadi?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"cufjs\">Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin membicarakan maksud beragama dengan modus memiliki dan maksud beragama dengan modus menjadi. Beragama dengan modus memiliki itu ditampakkan dengan perasaan bahwa sebenarnya kitalah satu-satunya pemilik kebenaran itu, bahwa kebenaran mutlak adalah keberagamaan kita. Keberagamaan yang lain adalah salah. Hanya kita yang paling benar. Oleh karena itu pula, kita menjadi tersinggung, hati-hati dan tidak enak kalau ada orang beragama tidak sama dengan cara kita beragama. Artinya, kita tidak memiliki keberagamaan seperti dia, atau dia tidak memiliki keberagamaan seperti kita. Keberagaman seperti itu didasarkan pada modus memiliki, dan bukan pada modus menjadi. Sikap merasa paling benar, paling baik, paling saleh, merasa bahwa mazhab kitalah yang paling benar, dan bahwa pendapat kita tentang agama itu mutlak benar, lalu memandang orang lain dengan pandangan merendahkan. Semua itu termasuk ke dalam pola beragama dengan modus memiliki, dan bukan pola beragama dengan modus menjadi. <strong>JR <\/strong><em>wa m\u0101 tauf\u012bq\u012b ill\u0101 bill\u0101h, &#8216;alaihi tawakkaltu wa ilaihi un\u012bb<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"46lef\"><em>All\u00e2humma shalli &#8216;al\u00e2 Sayyiidina Muhammad wa \u00c2li Sayyiidina Muhammad wa ajjil farajahum warzuqna fiddunya ziy\u00e2ratahum wa fil \u00e2khirati syaf\u00e2&#8217;atahum<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"f68aq\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" id=\"9plef\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Boleh jadi, sebagian orang mengatakan bahwa tasawuf itu tidak ada dalam Al-Quran. Karena itu, tasawuf termasuk bid&#8217;ah. Pernyataan bahwa tasawuf itu tidak ada dalam Al-Quran adalah benar adanya. Bahkan, kata shuf saja tidak ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Tasawuf boleh jadi muncul kira-kira 10-60 tahun sesudah Rasulullah Saw. meninggal dunia. Pada zaman Hasan Al-Bashri, &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=777\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Cara Hidup Sufi&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[474,480,479,481,482,476,475,18,19,478,477,17,483],"class_list":["post-777","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-cara-hidup","tag-cara-memandang-realitas","tag-cara-untuk-menggapai-makrifat","tag-fakir-atau-miskin","tag-fakir-menurut-erich-fromm","tag-hasan-al-bashri","tag-hidup-sufi","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-katakangjalal","tag-kitab-al-tashawwuf","tag-kitab-al-zuhd","tag-yayasan-muthahhari","tag-zuhud"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/777","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=777"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/777\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":834,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/777\/revisions\/834"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=777"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=777"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=777"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}