{"id":787,"date":"2024-02-22T10:00:43","date_gmt":"2024-02-22T10:00:43","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=787"},"modified":"2024-02-25T02:30:35","modified_gmt":"2024-02-25T02:30:35","slug":"nishfu-syaban-sunnah-yang-dibidahkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=787","title":{"rendered":"Nishfu Sya\u2019ban: Sunnah yang dibid\u2019ahkan"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Nishfu-Syaban-Sunnah-yang-dibidahkan-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-799\" srcset=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Nishfu-Syaban-Sunnah-yang-dibidahkan-1024x1024.png 1024w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Nishfu-Syaban-Sunnah-yang-dibidahkan-300x300.png 300w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Nishfu-Syaban-Sunnah-yang-dibidahkan-150x150.png 150w, https:\/\/www.jalanrahmat.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Nishfu-Syaban-Sunnah-yang-dibidahkan.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p id=\"8gb84\">Setiap tahun, jamaah Al-Munawwarah bersama jamaah-jamaah lainnya di seluruh dunia baik Ahlus Sunnah maupun Syiah menjadikan Nishfu Sya\u2019ban sebagai hari istimewa. Malam harinya dipergunakan untuk menghidupkan malam dengan ibadah pengabdian kepada Allah dan perkhidmatan kepada sesama manusia. Siang harinya diisi dengan berpuasa. Setiap tahun juga ada kelompok-kelompok Islam yang mengatakan bahwa semua ibadat dalam hubungannya dengan Nishfu Sya\u2019ban adalah bid\u2019ah. Yang lebih ekstrem (dan sekaligus jahil) menyebutnya musyrik. Tidak jelas mengapa ibadat-ibadat itu dipandang musyrik. Tentu saja kalau ibadat itu sudah dipandang bid\u2019ah atau syirk, pelakunya dicemoohkan karena melakukan perbuatan sia-sia atau dilarang karena dituduh merusak agama. \u201cSetiap bid\u2019ah sesat dan setiap kesesatan masuk neraka,\u201d sering disebut sebagai hadis untuk menjatuhkan kehormatan kaum Muslim yang melakukan ibadat Nishfu Sya\u2019ban.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"ca2j4\">Shalih al-Fawzan, dalam bukunya Al-Bid\u2019ah: Ta\u2019rifuha, Anwa\u2019uha, Ahkamuha <strong>(Riyadh: Dar al-\u2018Ashimah, 1412)<\/strong>, menulis; <em>\u201cTermasuk bid\u2019ah (yang sesat) ialah menentukan malam Nishfu Sya\u2019ban untuk salat malam, dan hari Nishfu Sya\u2019ban untuk berpuasa, karena tidak ada keterangan dari Nabi saw yang menetapkan ibadah khusus untuk itu\u201d<\/em> <strong>(hal. 32)<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"8ig8p\"><br>Jadi dalam kitab tentang Bid\u2019ah, ia menegaskan bahwa ibadat Nishfu Sya\u2019ban itu bid\u2019ah. Dalam kitabnya yang lain, Al-Tawhid, ia mengulangi lagi pernyataannya dengan kalimat lain, <em>\u201c(Termasuk macam-macam bid\u2019ah) ialah menentukan waktu yang khusus untuk ibadat yang disyariatkan padahal pengkhususan itu tidak ditetapkan syari\u2019at, seperti mengkhususkan hari Nishfu Sya\u2019ban untuk berpuasa dan malamnya untuk salat malam. Puasa dan salat malamnya disyariatkan, tetapi menentukan waktunya memerlukan dalil.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p id=\"25f67\">Abu Ishaq al-Syathibi, dalam Al-I\u2019tisham, menulis, <em>\u201cTermasuk bid\u2019ah ialah menjalankan ibadat tertentu pada waktu tertentu, padahal penetapan yang demikian itu tidak ada dalam syariat, seperti melakukan puasa Nishfu Sya\u2019ban dan salat malam pada malam Nishfu Sya\u2019ban\u201d<\/em><strong>(Al-I\u2019tisham, 1:39)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"eal2n\">Sebelum al-Fawzan, Ibn Al-Wadhdhah al-Qurhubi, menulis dalam Al-Bida\u2019 wa al-Nahy \u2018anha, mengutip Abdurrahman bin Zaid bin Aslam : <em>\u201cAku tidak pernah berjumpa dengan seorang pun dari guru-guru dan ahli-ahli fikih kami yang memperhatikan malam Nishfu Sya\u2019ban\u201d.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p id=\"fprtb\">Ibn Abi Malikah ditanya tentang Ziyad al-Numairy, seorang qadhi yang berkata bahwa salat malam pada malam Nishfu Sya\u2019ban sama pahalanya dengan beribadat pada malam Qadar. Ibn Malikah menjawab, <em>\u201cSekiranya aku mendengar itu dari dia dan ada tongkat di depanku, aku pasti memukulnya\u201d <\/em><strong>(Al-Bida\u2019, 46).<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"kivu\"><strong><em>Saya pikir sekarang mungkin ada juga orang yang ingin memukul bahkan orang yang berpendapat seperti Ziyad al-Numayri. Saya khawatir kalau memukul orang yang mengemukakan pendapat saja sudah dihalalkan, apalagi yang akan dilakukan kepada orang yang menjalankan pendapat itu.<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"fh670\"><strong>Menentukan waktu ibadat itu bid\u2019ah?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"41bes\">Marilah kita perhatikan alasan utama dari al-Fawzan dan kawan-kawannya. Salat dan puasa memang disyariatkan; tapi menentukan waktunya pada pertengahan Sya\u2019ban adalah bid\u2019ah. <strong>Berikut ini adalah jawaban kita kepada mereka:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"neu8\">Pertama, ada dua macam ibadah. Ada yang diperintahkan kepada kita dengan ditetapkan waktu dan tempatnya dan ada juga yang diperintahkan secara umum tanpa ditentukan waktu dan tempatnya. Untuk contoh yang pertama, ambillah wuquf pada rangkaian ibadah haji. Wuquf harus dilakukan setelah tergelincir matahari 9 Dzulhijjah, di padang Arafah. Jika Anda melakukannya pada tanggal 29 Agustus, di Jakar ta, setelah penda masuk neraka. Wuquf sudah ditentukan waktu dan tempatnya dalam syariat.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"bpvbe\">Untuk contoh yang kedua, banyak sekali. Perintah berzikir, misalnya. Syariat tidak menentukan waktu-waktu dan tempat khusus untuk berzikir. Karena itu, Anda boleh menentukan kapan dan di mana saja sesuai dengan kebutuhan praktis Anda. Maka Ustaz Arifin Ilham pun mengundang Anda untuk berzikir bersama pada hari apa saja (tergantung kesiapan panitia) di mana saja (tergantung keberadaan gedung atau masjid). Dengan \u201cdalil\u201d Syaikh al-Fawzan, Ustaz Arifin Ilham, ketika mengirimkan pemberitahuan kapan berkumpul untuk berzikir, telah melakukan bid\u2019ah.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"9tlgd\">Menuntut ilmu itu diperintahkan secara umum. Kapan dan di mana menuntut Ilmu diserahkan kepada Anda. Syariat tidak menentukannya. Kalau kita mengikuti Syaikh al-F awzan, jamaah Muhammadiyah yang mengadakan pengajian pada malam Sabtu di Masjid al-Mujahidin atau jamaah Persis yang mengadakan pengajian Ahad di Masjid Al-I\u2019tisham (semuanya bukan nama sebenarnya) harus dihitung sebagai bid\u2019ah. Mengapa? Karena mereka, menurut Syaikh al-Fawzan, \u201cmenentukan waktu yang khusus untuk ibadat yang disyariatkan padahal pengkhususan itu tidak ditetapkan syari\u2019at\u201d .<\/p>\n\n\n\n<p id=\"4vmk5\">Dengan mengikuti argumentasi Syaikh al-Fawzan, semoga Allah merahmati beliau, Anda melakukan kesalehan jika Anda salat tahajud setiap malam, kecuali ketika Anda melakukannya pada malam Nishfu Sya\u2019ban. Anda berbuat baik ketika Anda berpuasa pada hari-hari yang tidak diharamkan berpuasa, kecuali kalau puasa itu jatuh pada hari Nishfu Sya\u2019ban. Saya teringat kawan saya yang kebingungan ketika ia menjamu tamunya pada malam setelah ibunya meninggal dunia. Ustaz tidak mau makan makanannya dan tidak mau minum minumannya. Kawan saya itu berkata, \u201cMengapa makanan dan minuman yang setiap hari halal tiba-tiba menjadi haram setelah ibunya meninggal dunia?\u201d Pertanyaan itu dulu tidak bisa saya jawab. Sekarang, mungkin saya akan meminta dia untuk mendengarkan Syaikh al-Fawzan saja: \u201ckarena menentukan waktu yang khusus untuk ibadat yang disyariatkan padahal pengkhususan itu tidak ditetapkan syari\u2019at\u201d!<\/p>\n\n\n\n<p id=\"cknuk\"><strong>Hadis-hadis tentang Ibadat Nishfu Sya\u2019ban<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"e7i4u\">Argumentasi kedua dari Syaikh al-Fawzan, \u201cTermasuk bid\u2019ah (yang sesat) ialah menentukan malam Nishfu Sya\u2019ban untuk salat malam, dan hari Nishfu Sya\u2019ban untuk berpuasa, karena tidak ada keterangan dari Nabi saw yang menetapkan ibadah khusus untuk itu\u201d<\/p>\n\n\n\n<p id=\"3s93n\"><strong><em>Hadis-hadis tentang Salat Nishfu Sya\u2019ban<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\" id=\"tg6s5efb26mm0e231\">\n<li>Apabila sudah datang malam Nishfu Sya\u2019ban, maka berdirilah untuk salat di malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena Allah swt turun ke langit dunia pada Nishfu Sya\u2019ban sampai tenggelam matahari pada hari itu. Ia berfirman: Siapakah yang memohon ampunan untuk aku ampuni, siapa yang memohon rezeki untuk aku beri, siapa yang mendapat musibat untuk aku sembuhkan, dan seterusnya, sampai terbit fajar <strong>(Sunan Ibn Majah, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1: 444, nomor hadis 1388; Al-Targhib 2:119; Taj al-Jami\u2019 al-Ushul 2:93)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Sesungguhnya Allah menampakkan (kebesaranNya) pada malam Nishfu Sya\u2019ban dan mengampuni kepada semua makhluknya kecuali orang musyrik dan orang yang menyimpan dendam <strong>(Sunan Ibn Majah 1:445; Al-Targhib 2:118; Musnad Ahmad 2:368, h.6604)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Dari Aisyah, \u201cAku kehilangan Nabi saw pada suatu malam. Aku keluar menacrinya dan ia kudapatkan di al-Baqi\u2019. Ia mengangkat kepalanya ke langit dan berkata: Hai Aisyah, apakah kamu takut Allah dan RasulNya berbuat tidak adil kepadamu. Aku berkata: Aku kira engkau mendatangi sebagain dari istri-istri kamu. Rasulullah saw bersabda, <em>\u201cSesungguhnya Allah swt turun pada malam Sya\u2019ban ke langit dunia untuk memberikan ampunan kepada banyak manusia yang lebih banyak dari bilangan bulu domba dari kabilah Kalb\u201d<\/em> <strong>(Sunan Ibn Majah 1:444)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Ahli Fikih Ahlus Sunnah terkenal sekarang ini, Dr Wahbah al-Zuhaily menulis dalam Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, menulis, \u201cDisunnahkan menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fithri dan Idul Adhha) serta malam-malam sepeuluh terakhir di bulan Ramadhan untuk Laylatul Qadr, sepuluh malam Dzul Hijjah, malam Nishfu Sya\u2019ban dengan melakukan ibadah seluruh malam atau sebagain besar malam itu, berdasarkan hadis-hadis yang shahih yang menetapkannya\u201d <strong>(Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh 2:47).<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p id=\"7dd6f\"><strong><em>Hadis-hadis tentang Puasa Nishfu Sya\u2019ban<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"2lj3j\">Ada banyak hadis tentang perintah puasa sunnat pada tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah. Puasa itu disebut dalam Fikih sebagai puasa Ayyaamul Biidh . Saya hanya ingin mengajak Anda untuk berpikir jernih saja. Mungkinkah semua puasa pada tanggal 15 setiap bulan sunnah dan berubah menjadi bid\u2019ah kalau itu dilakukan pada bulan Sya\u2019ban. Apa dalilnya yang mengkhususkan tanggal 15 Sya\u2019ban sebagai hari yang diharamkan puasanya, sementara pada bulan-bulan yang lain Rasulullah saw menganjurkannya?<\/p>\n\n\n\n<p id=\"e9sm1\"><strong>Di bawah ini dicantumkan hadis-hadis tentang dianjurkan puasa pada bulan Sya\u2019ban dan khususnya berpuasa pada Nishfu Sya\u2019ban.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\" id=\"6xjdwefb26mm0e245\">\n<li><strong>Dari Ummu Salamah:<\/strong> Aku tidak melihat Nabi saw berpuasa dua bulan terus menerus kecuali Sya\u2019ban dan Ramadhan <strong>(Al-Taj al-Jami\u2019 al-Ushul 2:93)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Dari \u201cAisyah:<\/strong> Aku tidak melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasanya sampai sebulan kecuali di bulajn Ramadhan, dan aku tidak melihatnya paling banyak berpuasa kecuali di bulan Sya\u2019ban <strong>(Al-Taj al-Jami\u2019 al-Ushul 2:93)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Nabi saw bersabda:<\/strong> Apabila datang malam Nishfu Sya\u2019ban, salatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya <strong>(Sunan Ibn Majah 1:444)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Nabi saw bersabda:<\/strong> Siapa yang berpuasa pada hari Nishfu Sya\u2019ban, ia memperoleh pahala seperti berpuasa dua tahun: tahun yang lalu dan tahun yang akan datang <strong>(Kanz al-\u2018Ummal 14:178, h. 38293)<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p id=\"enff\"><strong>CABANG MASALAH: MENERANGKAN TENTANG PUASA SYA\u2019BAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p id=\"3dpd7\">\u201cRasulullah saw memperbanyak puasa di bulan Sya\u2019ban dan beliau bersabda: Sesungguhnya bulan Sya\u2019ban adalah bulan di antara Rajab dan Ramadhan yang sering dilupakan orang. Di bulan Sya\u2019ban tersebut amal-amal diangkat oleh Tuhan Penguasa Alam Semesta (Allah swt). Maka aku senang amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"7khvj\">Dan Anas Radiyallahu \u2018Anhu berkata: Puasa sunnah yang paling disukai Rasulullah saw adalah puasa di bulan Sya\u2019ban. Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah \u2018azza wa jalla melihat semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya\u2019ban dan mengampuni seluruh dosa-dosa makhluk-Nya terkecuali orang yang menyekutukan-Nya, atau orang yang suka bertengkar, atau orang yang suka memutuskan tali silaturrahmi atau jalan, atau orang yang suka menyakiti kedua orangtuanya, atau orang yang suka minum arak, atau orang yang bunuh diri.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"epfd5\">Di dalam suatu riwayat Hadits disebutkan: Sesungguhnya Allah \u2018azza wa jalla melihat hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Sya\u2019ban dan Dia mengampuni dosa-dosa orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orag-orang yang meminta belas kasihan, dan mengakhiri orang yang suka dengki sebagaimana yang ada pada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"9h8ev\">Rasulullah saw bersabda: Apabila telah tiba malam Nisfu Sya\u2019ban, maka tegakkanlah ibadah pada malam harinya, dan berpuasalah pada siang harinya. Karena, sesungguhnya Allah tabaraka wa ta\u2019ala turun pada malam Nisfu Sya\u2019ban itu sampai terbenam matahari ke langit dunia. Dia berkata:<\/p>\n\n\n\n<p id=\"5nthe\">Ingatlah ! Dari orang yang meminta ampunan kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dosa-dosanya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"egll5\">Ingatlah ! Dari orang yang meminta rizqi kepada-Ku, maka Aku akan berikan rizqi kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"86nt4\">Ingatlah ! Dari orang yang mendapat cobaan, maka aku akan hilangkan cobaannya.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"a4scj\">Ingatlah ! Seperti ini, seperti ini sampai terbit pajar.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"4upar\">Akhirnya, sambutlah malam Nishfu Sya\u2019ban dengan mendekatkan diri kepada Allah. Hidupkan malam Nishfu Sya\u2019ban dengan salat malam dan perkhidmatan kepada sesama manusia. Isi siang harinya dengan berpuasa dan amal saleh lainnya. Masukkan saya dalam doa-doa Anda. JR<\/p>\n\n\n\n<p id=\"1p27s\"><br>***<\/p>\n\n\n\n<p id=\"9idlb\"><strong>KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari <\/strong>(Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan<strong> Sekolah Para Juara <\/strong>(SD Cerdas Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.scmbandung.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.scmbandung.sch.id<\/a>, SMP Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smpplusmuthahhari.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smpplusmuthahhari.sch.id<\/a>, SMP Bahtera <a href=\"http:\/\/www.smpbahtera.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smpbahtera.sch.id<\/a>, dan SMA Plus Muthahhari <a href=\"http:\/\/www.smaplusmuthahhari.sch.id\/\" rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\">www.smaplusmuthahhari.sch.id<\/a>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap tahun, jamaah Al-Munawwarah bersama jamaah-jamaah lainnya di seluruh dunia baik Ahlus Sunnah maupun Syiah menjadikan Nishfu Sya\u2019ban sebagai hari istimewa. Malam harinya dipergunakan untuk menghidupkan malam dengan ibadah pengabdian kepada Allah dan perkhidmatan kepada sesama manusia. Siang harinya diisi dengan berpuasa. Setiap tahun juga ada kelompok-kelompok Islam yang mengatakan bahwa semua ibadat dalam hubungannya &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/?p=787\" class=\"more-link\">Read more<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Nishfu Sya\u2019ban: Sunnah yang dibid\u2019ahkan&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[489,486,488,490,491,18,485,19,484,487,17],"class_list":["post-787","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-abu-ishaq-al-syathibi","tag-ahlus-sunnah","tag-bidah","tag-hadis-hadis-tentang-ibadat-nishfu-syaban","tag-hadis-hadis-tentang-puasa-nishfu-syaban","tag-jalaluddin-rakhmat","tag-jamaah-al-munawwarah","tag-katakangjalal","tag-nishfu-syaban","tag-syiah","tag-yayasan-muthahhari"],"featured_media_urls":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=787"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/787\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":800,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/787\/revisions\/800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jalanrahmat.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}