• Akhi

Akar Ideologis Konflik Sunni-Syiah


Nothing has been more corrosive to the stability and modernization of the Arab world, and the Muslim world at large, than the billions and billions of dollars the Saudis have invested since the 1970s into wiping out the pluralism of Islam — the Sufi, moderate Sunni and Shiite versions — and imposing in its place the puritanical, anti-modern, anti-women, anti-Western, anti-pluralistic Wahhabi Salafist brand of Islam promoted by the Saudi religious establishment.

Thomas L. Friedman, “Our Radical Islamic BFF, Saudi Arabia,” NY Times, 2 September 2015 Waktu itu, sepenggalah matahari naik, lebih dari dua juta orang memanjang seperti ular naga raksasa meliuk-liuk mulai dari Najaf sampai ke Karbala. Banyak orang tua yang bertelanjang kaki, terseok-seok dengan bersandar kepada tongkatnya; anak-anak muda yang berbaris rapi sambil memukuli dada mereka; anak-anak kecil yang meniru perilaku orang-orang dewasa di sekitarnya; dan bahkan orang-orang difabel yang ikut bergerak dengan semangat pantang mundur. Suara gemuruh menyanyikan dan mengisahkan syahidnya Imam Husain memenuhi langit Iraq selatan. Inilah panorama kaleidoskop dari peringatan Asyura pertama sejak jatuhnya rezim Ba’ath. Selama puluhan tahun, orang Syiah yang maioritas di Iraq tidak diperkenankan memperingati hari keagamaan mereka. Tidak heran, jika hari itu mereka datang seperti gelombang manusia yang tak terhingga. Pasukan Amerika yang masih berada di Iraq terperangah. Mereka baru tahu bahwa di samping haji ada kumpulan manusia yang menandingi peziarah Hindu di Sungai Gangga. Bunyi sahut-sahutan tidak saja menampilkan identitas kelompok atau mazhab, tetapi juga ungkapan kebahagiaan karena baru saja dibebaskan dari tirani yang memasung mereka selama ini. Tiba-tiba rangkaian ledakan, seluruhnya sembilan kali di sembilan tempat, memekakkan telinga dan membungkam semua teriakan. Tiga puluh menit ledakan bom, bom bunuh diri, granat, dan gelegar mortar. Sejenak semua terpaku, setelah itu panik. Mereka berlarian di tengah-tengah asap, reruntuhan, pecahan kaca dan logam, serta potongan-potongan tubuh. Menuju ‘atabah muqaddasah, bangunan-bangunan berkubah emas, tempat dibaringkannya para syuhada. Lebih dari 140 orang peziarah saat itu juga menjadi syuhada. Segera setelah itu, Al-Qaidah mengaku bertanggung jawab dengan apa yang dikenal sebagai “Karbala Massacre”. Pembantaian Karbala yang terjadi pada pagi hari itu, 4 Maret 2004, 10 Muharam 1425H, merekonstruksi pembantaian keluarga Nabi di Karbala, 14 abad sebelumnya. “Apa yang terjadi di Karbala pada abad ketujuh adalah kisah yang menjadi dasar perpecahan antara Sunni dan Syiah. Diceritakan dengan rincian yang hidup dan akrab dalam tarikh Islam masa-masa awal, kisah ini diketahui oleh semua Sunni di seluruh Timur Tengah, tetapi dipatrikan hanya pada hati orang Syiah. Kisah itu bukan sekedar bertahan lama, tetapi mengumpulkan daya emotif yang berputar secara spiral makin melebar, di mana masa lalu dan masa kini, keimanan dan politik, identitas personal dan pertobatan nasional berjalin berkelindan, “ tulis Lesley Hazleton ketika ia menuturkan sejarah perpecahan Sunni-Syiah.[1] “Setiap hari Asyura, setiap bongkah bumi Karbala” bukan hanya semboyan tetapi telah menjadi self-fulfilling prophesy. Pembantaian ala Karbala terjadi di berbagai Negeri. Bukan hanya Iraq. Pada pertengahan Desember 2015, “Nigerian Army killed thousands of Shia Muslims & buried them in mass graves”, judul berita pada American Herald Tribune, 20 Desember 2015. Sebelumnya, kelompok radikal Boko Haram menyerang desa-desa yang dihuni orang Syiah dan membantai mereka. BBC News 13 Mei 2015 melaporkan kejadian di Karachi tentang enam orang bersenjata yang menghentikan bis dan menembaki orang Syiah di dalamnya. 45 orang tewas seketika; 13 orang luka-luka parah. Saat itu juga ISIS dan salah satu sempalan Taliban mengaku bertanggung-jawab. Situs LUBP- Let Us Build Pakistan melaporkan bahwa telah terjadi pembantaian orang Syiah di Pakistan secara sistematis dan massif, sehingga layak disebut sebagai genosida: “Empat puluh juta Syiah Pakistan adalah kelompok agama terbesar kedua setelah Muslim Sunni, tetapi terus menerus dipersekusi sebagai sasaran kekerasan yang mengakibatkan ribuan orang mati. Genosida terhadap Syiah tidak berkurang karena lembaga-lembaga Negara gagal total untuk melindungi Syiah dan memberikan perlakuan adil, sementara para pembunuhnya dibiarkan bebas.” [2] Para pembunuhnya, di luar ISIS, adalah Sepah Sahabat, Pembela Sahabat. Masih dalam bulan Desember 2015, Menkopolhukkam, Luhut Panjaitan, menyatakan bahwa ISIS mengancam Indonesia dan menjadikan Syiah sebagai targetnya. Pengumuman ini disusul dengan penangkapan “calon-calon penganten” yang akan melakukan bom bunuh diri agar dikawinkan dengan bidadari dari surga. Sebelumnya, gerakan yang menamakan dirinya ANAS- Aliansi Nasional Anti Syiah – mengadakan pertemuan dan seminar di mana-mana untuk membukan-islamkan Syiah dan membunuhnya: Abu Jibril menyatakan bahwa mengkafirkan Syiah adalah wajib dan wajib pula dibunuh. Abu Jibril bahkan mengklaim itu adalah hadis Nabi Muhammad. Abu Jibril dalam orasinya mengulang-ngulang klaim-klaim kesesatan-kesesatan Syiah, “Quran-nya tidak sama, rukun imannya tidak sama, nabinya tidak sama!” Beberapa orang menyambut pernyataannya itu dengan teriakan “Syiah kafir!”, “Syiah sama dengan Yahudi!”, atau “Syiah Setan!” [3]

Latar Belakang Ideologis Kelompok Radikal Apa yang melahirkan gerakan radikal? Ketika ISIS, untuk selanjutnya kita sebut IS, secara tiba-tiba merebut daerah yang luas di sebelah utara Iraq dan Siria, para analis mengupas asal-usulnya dengan perspektif yang bermacam-macam. Ada yang menuding persaingan di antara Negara-negara yang bertetangga untuk memperebutkan akses pada minyak, gas alam, dan pipa-pipa minyak. Sebagian lagi menunjuk lemahnya lembaga-lembaga demokratis dan pemerintahan yang korup; seraya menyalahkan Amerika yang menyebarkan demokrasi tanpa memperhatikan pentingnya menegakkan hak-hak sipil dan politik. [4] Jessica Stern, peneliti Harvard, menuding kapitalis Amerika yang membiarkan negara-negara berkembang gagal menyejahterakan rakyatnya. Jika Amerika tidak memberikan prioritas pada pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, tulis Stern, “new Osamas will continue to arise.” Menurut Garikai Chengu, juga peneliti di Harvard University, dalam Global Research,[5] “Seperti Al-Qaidah, Islamic State (ISIS) itu made-in-the USA, sebuah instrument teror yang dirancang untuk memecah-belah dan menaklukkan Timur Tengah yang kaya minyak dan menangkal berkembangnya pengaruh Iran di wilayah tersebut” Michael Scheuer, anggota CIA antara 1982-2004, berkata bahwa Sunni dan Syiah harus dibiarkan saling berperang: “Yang ideal ialah IS masuk ke Baghdad karena Sunni akan membunuhi Syiah. Itulah yang kita perlukan. Telah terbukti bahwa secara militer kita tidak mampu atau militer kita terbelenggu oleh para pemimpin politiknya, sehingga tidak bisa mengalahkan orang-orang ini. Tetapi harapan kita yang paling besar sekarang ini ialah mendorong Sunni untuk membunuhi Syiah dan biarkan mereka kehabisan darah.” [6] Jadi perpecahan Sunni dan Syiah adalah buatan Amerika. Tetapi rekayasa Amerika, betapa pun cerdasnya, hanya bisa berhasil bila ia ditegakkan di atas predisposisi yang terdapat pada umat Islam sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa peperangan antar Sunni dan Syiah sudah terjadi berulangkali jauh sebelum IS lahir. Jika IS semata-mata bikinan Amerika, mengapa sambutan pada panggilan Khalifah al-Baghdadi bergema sejak pembantaian dalam konser musik di Paris sampai penembakan massal di San Bernardino di California, sejak kekejaman Boko Haram dalam membantai Syiah di Nigeria sampai muka dingin Mohammed Bouyeri ketika membunuh Theo Van Gogh, produser film, di Amsterdam, sejak Emwazi Jihadi John yang dibesarkan di London Barat sampai Abu Jibril yang berteriak di panggung-panggung Jakarta. Pasti ada sesuatu yang mengikat mereka secara universal, tanpa melihat ras, bangsa, dan tempat tinggal. Ikatan universal itu kita sebut saja ideologi. Secara singkat, Dore Gold, menyebutnya “ideology kebencian” dan menyebut kerajaan Saudi sebagai “Hatred’s Kingdom.”[7] Karen Armstrong juga menyebut Saudi Arabia sebagai kerajaan yang ditegakkan di atas Wahabisme, yang ia ekspor sebagai akar terorisme. “Walaupun IS tentu saja adalah gerakan Islam, ia bukanlah hal yang baru dan tidak juga tersembunyi pada lumpur masa lalu,” tulis Armstrong, “karena akarnya adalah Wahabisme, bentuk Islam yang dipraktekkan di Saudi Arabia dan dirancang hanya pada abad ke 18 Masehi.” [8] Khalid Abou el-Fadl, sarjana Muslim di UCLA School of Law menegaskan bahwa al-Qaeda “dicantolkan” pada teologi yang adalah “byproduct” dari kemunculan dan akhirnya dominasi Wahabisme. Sheikh Hisyam al-Kabbani, ketua Islamic Supreme Council of America menandai Wahhabisme sebagai “Modern outgrowth of a two-century-old heresy.” Utusan pemerintah Chechen ke Eropa, Haji Salih Brandt, melihat dengan cemas penyebaran Wahabisme di Kaukasus Utara: “Seluruh agenda politik Fundamentalisme Wahhabi (apa yang disebut Barat sebagai Islamisme)… adalah penyimpangan Islam yang diajarkan di Universitas Madinah di Saudi Arabia, disponsori oleh kerajaan Saudi dan dari situ dieskpor ke luar…Dari sinilah lahir Hamas, Taliban, Osama bin Laden, FIS (Front Islam), Sudan, dan sekarang gerombolan-gerombolan yang merambah Chechnya dan Daghestan.” Tariq Ali, kolumnis, jurnalis, sastrawan, berasal dari Pakistan dan berbasis di London, menulis setelah jatuhnya Taliban, “pengerahan pasukan di Pakistan untuk memotong tentakel oktopus Wahhabi bisa atau tidak bisa berhasil, karena kepalanya masih sehat wal afiat di Saudi Arabia, menjaga sumur-sumur minyak dan mengeluarkan tangan-tangan baru, serta dilindungi serdadu-serdadu Amerika dan markas USAF di Dhahran.” Komentator New York Times untuk negeri-negeri Arab, Youssef M. Ibrahim menegaskan, “Duit yang menaikkan kaum Wahhabi dalam kekuasaan di seluruh dunia Arab adalah duit yang membiayai jaringan sekolah-sekolah fundamentalis dari Sudan sampai Pakistan Utara.” [9] Pada Desember 2001, Sahr Muhammad Hatem, seorang dokter perempuan di Riyadh, dengan berani menulis surat pada surat kabar Arab di London dengan judul “Our Culture of Demagogy Has Engendered bin Laden, al-Zawahiri, and their Ilk”: “…mentalitas kita semua sudah diprogram sejak kecil ketika masuk sekolah bahwa Islam adalah segala-galanya…Ditanamkan di dalam kepala kita yang kecil bahwa kita memonopoli nilai-nilai yang baik…Mereka mengajarkan kepada kita bahwa siapa saja yang bukan Muslim adalah musuh kita, bahwa Barat berarti keruntuhasn, kefasikan, ketiadaan nilai-nilai, dan bahkan jahiliah itu sendiri. Siapa saja yang menghindari pemrograman sperti ini di sekolah akan menemuinya di masjid, atau melalui media atau melalui para pengkhotbah yang muncul di setiap sudut jalan..Inilah budaya yang telah membuat kita mampu menentukan nasib alam semesta. Kita menjadi masyarakat yang sepenuhnya tunduk kepada mereka yang berbicara atas nama agama. Dengan mentalitas seperti ini, apa yang bisa kita lakukan kepada mereka yang berkata bahwa Islam adalah solusi sambil tidak menawarkan solusi apa pun…. Kita semua memfokuskan perhatian pada Bin Laden dan orang-orang yang sejenisnya…tetapi tidak kita perhatikan orang-orang yang lebih berbahaya. Maksudku, orang-orang yang memenuhi kepala kita dengan retorika sejenis ini di sekolah, masjid, dan media, yang menyebarkan kata-kata tanpa ragu dan tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya dan tanpa memahami bahwa pada era ini seluruh dunia mendengar apa yang dikatakan…” [10] Apa yang diajarkan di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah, mulai dari Arab Saudi sampai ke India dan Indonesia, sampai ke pusat-pusat Islam di seluruh dunia yang dibiayai Arab Saudi, adalah ideologi yang melahirkan orang-orang semisal Osamah dan al-Zawahiri. Thomas L. Friedman, kolumnis op-ed The New York Times, menulis “Bukan kebetulan bahwa ribuan orang Saudi telah ikut serta dalam IS atau bahwa Negara-negara Teluk telah mengucurkankan dananya kepada IS. Sebabnya ialah karena semua kelompok jihadi ini –ISIS, Al-Qaeda, Front Nusra- adalah anak ideologis Wahhabisme, the ideological offspring of the Wahhabism, yang telah diinjeksikan oleh Saudi Arabia ke mesjid-mesjid dan madrasah-madrasah dari Maroko, Pakistan, sampai ke Indonesia” Friedman mengutip berita dari The Times, Beirut, “Selama berpuluh tahun, Saudi Arabi telah mengelontorkan miliaran dolar minyaknya kepada organisasi Islam simpatisannya di seluruh dunia, diam-diam manjalankan diplomasi buku cek untuk melaksanakan agendanya. Lemari ribuan dokumen Saudi yang dibocorkan Wikileaks mengungkapkan secara terinci bahwa tujuan pemerintah Saudi bukan hanya menyebarkan versi Islam Sunni yang kaku –walaupun ini tetap menjadi prioritas- , tetapi juga melemahkan lawan utamanya: Syiah Iran.” [11] Ideologi kaum fundamentalis-radikal bermula dari Wahabisme. Dari mana Wahabisme berasal. Menurut Cole Bunzel, Wahabisme berasal dari Salafisme. Inilah yang menjadi dasar the Islamic State. Secara khusus, untuk IS, yang membedakannya dari al-Qaidah, ideologi mereka adalah al-Salafiyah al-Jihadiyah. Pada pidato audionya tahun 2007, Al-Baghdadi menyeru “semua Sunni pada umumnya, dan anak-anak muda dari al-Salafiyya al-Jihadiyya khususnya di seluruh dunia”. Pada tahun yang sama wakil khalifah menggambarkan para pejuang IS sebagai “Salafiyah Jihadiyah masa kini” Al-Salafiah al-Jihadiah adalah bagian dari gerakan politico-teologis yang lebih umum, Salafiyah. [12] Pada bagian berikut, saya akan menjelaskan latar belakang politico-teologis ini sampai kepada zaman Rasulullah saw; teristimewa segera setelah wafatnya Nabi saw.

Perkembangan Wahabism: Dari Sunnisme, Salafisme, ke Salafiah-Jihadiah Definsi yang netral tentang Wahabisme ialah gerakan pembaharuan Islam yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Abd al-Wahhab. Wahabisme adalah penamaan yang keliru, kata para pengikutnya. Wahabisme bukan agama baru yang mengkultuskan Muhammad bin Abd al-Wahhab, tapi upaya dakwah untuk memurnikan ajaran Islam dari pencemaran-pencemaran yang masuk ke dalam ajaran Islam. Pencemaran yang paling berat ialah pencemaran tauhid. Para pengikutnya mengklaim dirinya sebagai ahli tauhid yang sejati. Mereka adalah muwahhiduun. Tauhid yang sejati atau Islam yang murni adalah yang dipraktekkan oleh generasi awal sejak zaman Nabi saw sampai generasi ketiga Hijriah. Mereka adalah para pendahulu yang saleh, al-Salaf al-Shalih. Para pengikutnya lebih tepat disebut Salafiah. Bagi para pengkritiknya, Wahhabisme adalah gerakan sektarian yang dipimpin oleh pemimpin agama yang menolak semua ajaran Islam yang tidak sesuai dengan definisi mereka tentang kemusyrikan. Seperti dikatakan Hisyam Kabbani, wahabisme adalah perkembangan modern dari gerakan bid’ah yang berusia dua abad. Saya tidak akan mengikuti definisi-definisi tersebut, tetapi akan melacak ajaran-ajaran pokoknya pada empat pilar Wahhabisme: sunnisme, salafisme, wahabisme, dan salafiah-jihadiah. Sunnisme. Pada zaman Nabi saw, ada dua aliran pemikiran berkaitan dengan posisi Nabi saw sebagai sumber syarak yang kedua setelah al-Quran. Sebagian sahabat memandang Nabi saw harus diikuti dalam segala perilakunya, baik urusan aqidah, ibadah, maupun muamalah duniawiah. Semua perilakunya nash. Nabi saw tidak berijtihad. Nabi saw maksum mutlak (tidak pernah salah sama sekali). Sahabat yang berada di kelompok ini termasuk tapi tidak terbatas pada keluarga Nabi saw, Salman, Miqdad, Abu Dzar, Amar bin Yasir. Sebahagian sahabat lagi meyakini Nabi saw wajib dipatuhi hanya dalam urusan aqidah dan ibadah saja. Untuk urusan duniawi, para sahabat bukan saja boleh mambantahnya, tetapi juga punya peluang untuk berijtihad sendiri. Demikianlah, ketika Nabi saw keliru dalam menganjurkan perkawinan kurma, sehingga satu musim panen kurma gagal, para sahabat dianjurkan untuk bertindak sendiri, “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum.” (Kamu lebih tahu tentang urusan dunia kamu). Terkadang Nabi saw bertindak salah dan ditegur Tuhan; lalu sahabatnya bertindak dan Tuhan membenarkannya melalui ayat al-Quran. Menurut Ibn Umar, “Tidaklah orang (termasuk Nabi saw) berkata tentang sesuatu dan Umar berkata tentang hal tersebut kecuali al-Quran turun seperti yang dikatakan Umar.” Kesesuaian Umar dengan Al-Quran atau kesesuaian al-Quran dengan pendapat Umar disebut sebagai al-muwaafaqaat. Sekedar contoh, Umar melarang mensalatkan orang munafiq dan Nabi saw mensalatkatnnya. Nabi saw ditegur dan Umar dibenarkan dengan ayat Al-Quran, al-Taubah 80. [13] Di antara perintah Nabi saw yang ditolak Umar bin Khathab dan sebahagian besar sahabat adalah perintah untuk menuliskan wasiat. Umar mengomentari perintah itu dengan mengatakan, “Nabi lagi meracau!” atau “Nabi saw dikendalikan oleh demamnya.” Terjadilah pertikaian di antara sahabat Nabi saw- sebagian mau mengikuti Umar dan sebagaian mau mengikuti Nabi saw, sehingga Nabi menyuruh mereka semua meninggalkannya, “Tidak layak kalian bertengkar di hadapanku.” Hadis ini terkenal sebagai Tragedi Hari Kamis. [14] Pada suatu hari para sahabat mengatakan bahwa Ali itu penerima wasiat Nabi saw; tetapi ‘Aisyah segera membantahnya[15] Setelah Nabi saw wafat, terbelahlah umat pada dua golongan: Pertama, kelompok yang meyakini bahwa Nabi saw berwasiat atau tahu bahwa Nabi saw berwasiat tapi meyakini bahwa wasiatnya itu hanyalah ijtihad Nabi saw, yang boleh dibantah; dan kedua, kelompok yang meyakini bahwa Nabi saw berwasiat sebagaimana diperintahkan Al-Quran 2:180 dan pernyataan wasiatnya itu adalah nash yang wajib diikuti. Kelompok pertama memegang kekuasaan pasca wafatnya Nabi saw. Kelompok kedua berkuasa sebentar saja ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Setelah itu, dinasti Umayyah dan Abbasiyah melakukan persekusi terus menerus, berusaha menghabiskan kelompk kedua secara konseptual maupun real. Pada zaman Umayyah, para khatib diperintahkan untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, di mimbar-mimbar dan di semua “public sphere”. Kecaman terhadapnya terus berlangsung sampai zaman Umar bin Abd al-Aziz. Umar bin Abd al-Aziz memerintahkan agar kecaman itu diganti dengan pembacaan Q.S. Al-Nahl/16: 90. Ia menyebutnya sebagai sunnah, sebagai pengganti sebutan sunnah pada laknat terhadap Ali, yang menjadi sunnah Bani Umayyah. Para ulama yang mengutuk ‘Ali di mimbar-mimbar dianggap sebagai ahli sunnah. Meninggalkan kutukan berarti meninggalkan sunnah. “Ketika Umar bin Abd al-Aziz sampai dalam khotbahnya ke bagian melaknat Ali, ia menggantinya dengan membacakan Q.S.Al-Nahl /16:90. ‘Amr bin Syu’aib[16] segera berdiri dan berkata: Ya Amirul Mukminin, al-Sunnah, al-Sunnah. Ia mendesak agar ‘Umar bin Abd al-Azīz mengucapkan laknat kepada ‘Alī , sebagai sunnah yang sudah dijalankan selama puluhan tahun. ‘Umar berkata, “Diam, semoga Tuhan memburukkan kamu. Laknat itulah bid’ah, bukan Sunnah. Lalu, ‘Umar menyelesaikan khotbahnya” [17] Dari kutipan di atas, diketahui bahwa sebutan ahli sunnah dinisbatkan kepada kelompok yang menjalankan sunnah muawiyah dalam mengecam Ali dan kelompoknya. Kelompok pertama kelak disebut sebagai Ahli Sunnah atau Sunni. Kelompok kedua disebut sebagai Syiah. Pemerintahan boleh jadi tidak menyukai Syiah karena mengancam legitimasi mereka, tetapi selama ratusan tahun, kecuali sekali-sekali saja, rakyat dari kedua mazhab itu hidup berdampingan, bahkan saling bertukar informasi.Misalnya, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah sempat belajar pada Imam Ja’far al-Shadiq; diikuti oleh murid-muridnya. Suasana berubah, ketika Ibn Taimiyah menulis dan berkhotbah pada abad ke-14. Ia wafat 1328 M. Salafisme. Muhammad Abu Zahrah mendefinisikan salafi sebagai “orang-orang Hanbali yang muncul pada abad keempat hijriah. Mereka mengaku bahwa pendapat mereka bersumber pada Imam Ahmad bin Hanbal, yang menghidupkan aqidah salaf dan memerangi selain dari itu. Kemudian mereka muncul kembali pada abad ketujuh hijriah ketika Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah al-Harra menghidupkan kembali Hanbaliah dan sangat keras dalam mendakwahkannya. Muncul lagi pada abad ke-12 hijriah di tangan al-Syaikh Muhammad bin Abd al-Wahhab di jazirah Arab.”[18] Hanbaliisme lebih pembela orthodoxi (aqidah yang benar) ketimbang orthopraxi (perilaku yang benar). Kebanyakan Maliki dan Syafii mengikuti fiqih imam-imam mereka tetapi secara aqidah mengikuti Al-Asy’ari. Tetapi kebanyakan Hanbali mengikuti Ahmad bin Hanbal baik dalam aqidah maupun fiqih. Alkisah, Ibn Nasir adalah pengikut Syafi’i di Baghdad. Ia mengaku mengikuti aqidah al-Asy’ariyah. Pada suatu malam, keyakinannya digoncangkan oleh mimpi. Dalam mimpinya Nabi saw menyuruhnya untuk mengikuti ajaran Abu Manshur al-Khayyath (m. 1106). Ketika ia bangun, ia segera mencari Abu Mansur di masjid danmenjelaskan mimpinya. Abu Manshur menyarankan pada anak muda itu agar dalam furu’ (fiqih) ia mengikuti Syafi’i, tetapi dalam ushul ia mengikuti Ahmad bin Hanbal. Ibn Nashir berkata, “mā urīd akūnu lawnayn”, aku tidak mau berwarna dua. Nanti pada tangan Ibn Taimiyah, perhatian pada orthodoxi dan sekaligus orthopraxi muncul pada gerakan pengkafiran (al-takfir). Orang bisa dikafirkan karena aqidahnya tidak sesuai dengan aqidah Ibn Taimiyah atau melakukan tindakan sehari-hari yang bertentangan dengan fatwa Ibn Taimiyah. Dalam fatwa-fatwanya, Ibn Taimiyah bukan saja mengkafirkan, tetapi juga memerintahkan untuk membunuh orang yang tidak sepaham dengannya. “Syaikhul Islam Taqiyuddin ditanya tentang orang yang mengaku beriman kepada Allah az, malaikatnya, kitab-kitabnya, dan para utusan serta hari akhir, tetapi mereka meyakini bahwa Imam yang haq setelah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, dan bahwa Rasulullah saw menetapkannya sebagai imam dengan nash, dan bahwa sahabat menzaliminya dan meram[pas haknya, dan mereka kafir karenanya. Apakah mereka wajib dibunuh? Dan dikafirkan karena keyakinannya itu atau tidak? Ibn Taimiyah menjawab setelah membaca hamdalah: Semua ulama Islam sudah ijmak bahwa setiap kelompok yang tidak mau melaksanakan syariat Islam yang zahir dan muatawatir, ia wajib dibunuh, sehingga seluruh agama hanya kepada Allah. Sekiranya mereka berkata: Kami salat tetapi tidak zakat, kami salat lima waktu tapi tidak salat jumah dan tidak salat berjamaah, atau kami berpegang teguh pada rukun Islam yang lima, tapi tidak mengharamkan darah dan harta kaum muslimin…atau tidak memerangi orang kafir bersama kaum muslim, atau yang selain itu yang bertentangan dengan syariat Rasulullah saw dan sunnahnya dan tidak menetapi apa yang dilakukan maioritas (jamaah) muslimin…mereka semuanya wajib diperangi seperti kaum muslim pernah memerangi orang yang tidak membayar zakat.”[19] Wahhabisme. Lima ratus tahun setelah wafatnya Ibn Taimiyah, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab menghidupkan kembali ajarannya. Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab mewarisi dari Ibn Taimiyah: kebencian pada Syiah, pengkafiran dan pembid’ahan, tekstualis dan antirasionalis, serta menambahkan penyerangan secara fisik kepada kelompok Syiah, kelompok yang dianggap kafir dan pelaku bid’ah, dan juga para pemikir Islam yang rasionalis. Tidak perlu disebut bahwa Wahabisme sangat membenci umat Kristiani dan Yahudi. Orang-orang Islam yang mengucapkan syahadat tetapi melakukan kemusyrikan dianggap kafir dan harus dibunuh[20] Menurut Ibn al-Wahhab, termasuk orang kafir adalah orang yang sudah mengenal agama Nabi saw tetapi melakukan perbuatan yang bertentangan dengannya, melarang orang untuk menerimanya, dan menunjukkan permusuhan kepada orang yang mengikutinya. [21] (Tentu saja, ukuran tentang perbuatan yang bertentangan dengan Nabi saw ditentukan oleh mereka sendiri). Ketika Muhammad bin Abd al-Wahhab meninggal pada 1791, Abdul Aziz mengirmkan satu buku kecil kepada penguasa Oman, menawarkan kepada mereka untuk mengikuti Wahhabisme. Penguasa Oman menolaknya. Menurut pencatat sejarah Oman, Ibn Razik, “Buku itu buku kecil saja..Tetapi ia membenarkan membunuh semua orang Islam yang tidak sepaham dengan orang Wahhabi, merampas hak milik mereka, memperbudak keturunan mereka, mengawini istri-istri mereka tanpa dicerai dulu oleh suaminya.” [22] Pada musim semi 1802, dua belas ribu orang Wahhabi memasuki Karbala, membunuh sekitar empat ribu peziarah, merampok tempat-tempat suci Syiah, termasuk kuburan Husein. Hasil rampokan, terdiri dari perhiasan emas, pedang bertatahkan mutiara, karpet Persia dan sebagainya diangkut oleh 4000 ekor unta. Penulis Barat, J. Rousseau, yang waktu itu tinggal di Iraq, menggambarkan kekejaman orang Wahhabi: “Orang-orang tua, perempuan dan anak-anak- setiap orang mati ditebas pedang orang-orangyang tidak beradab. Diceritakan bahwa ketika mereka melihat perempuan hamil, mereka membelah perutnya dan menyimpan janinnya di atas tubuh ibunya yang berlumuran darah. Kekejamannya tidak terpuaskan. Mereka tidak henti-hentinya membunuh dan darah mengalir seperti air bah.” [23] Mereka bukan hanya menghancurkan tempat-tempat suci orang Syiah. Meraka juga menghancurkan tempat-tempat bersejarah, yang diziarahi orang untuk mengenang Nabi saw. Mereka menghancurkan tempat kelahiran Nabi saw, masjid di atas Gua Hira, tempat Nabi menerima wahyu, dan lebih dari seratus tempat bersejarah lainnya yang berlangsung sejak abad kesembilan belas, kedua puluh dan kedua puluh satu sekarang ini. [24] Dengan alasan perluasan Masjid al-Haram, mereka ubah kota suci Makkah dan Madinah menjadi Las Vegas dan Manhattan. Sekarang Wahhabi memperluas cakupan penghancurannya sampai ke Siria, Iraq, Afghanistan, dan akhirnya ke seluruh dunia, melalui gerakan IS yang berlandaskan Salafiah Jihadiah. Salafiah-Jihadiah. Pada dasawarsa akhir abad kedua puluh, Timur Tengah menyaksikan kelompok-kelompok Islam garis keras yang dipengaruhi oleh kombinasi al-Ikhwan al-Muslimun dan dan Salafisme: Jihad Islam Mesir, Gamaah Islamiah, Al-Jamaah al-Islamiah al-Musallahah (Kelompok Islam Bersenjata), dan Kelompok Salafi untuk Dakwah dan Perang (lebih terkenal dengan sebutannya dalam bahasa Perancis-Groupe Salatiste pour la predication et le combat—GSPC) di Aljazair . Kelompok-kelompok ini ingin menjatuhkan pemerintahan di negerinya masing-masing dan menggantikannya dengan Negara Islam. Pada saat yang sama, Al-Qaidah di Saudi, mengambil ideologi yang sama, tetapi alih-alih menggulingkan pemerintahan di negerinya, al-Qaidah memusatkan perhatiannya untuk menyerang Amerika Serkat, sebagai batu loncatan untuk menciptakan negara Islam di Timur Tengah. Semula Kerajaan Wahhabi Saudi berusaha untuk mewahabikan Syiah sampai tahun 1927. Setelah itu, kerajaan Saudi memperlunak sikapnya terhadap Syiah. Ini menyebabkan anti-syiahisme mengeras pada kelompok-kelompok Jihadi.[25] Peletak dasar ideologi IS bukanlah Osama bin Laden, tetapi seorang mantan preman, lalu anggota Jemaat Tablig, dan pendiri al-Qaidah di Iraq – Abu Musab al-Zarqawi. Ajarannya dipertegas dan diimplementasikan dalam Negara Islam oleh Abu Umar al-Baghdadi, Abu Hamzah al-Muhajir, Abu Muhammad al-Adnani dan sekarang ini Ben Ali. Menurut teks-teks dan ceramah-ceramah IS, Salafiah Jihadiah mengajarkan: Semua Muslim hanya boleh bersahabat dengan sesama Muslim yang sebenarnya dan melepaskan diri dari orang Islam yang tidak memenuhi kriteria mereka; gagal menjalankan hukum Tuhan berarti kafir; menyerang Negara Islam sama dengan murtad; semua Muslim Syiah dianggap murtad dan harus dibunuh; al-Ikhwan dan Hamas adalah para pengkhianat.[26] Jika al-Qaidah bertahan pada konsep “jihad defensif”, IS bergerak lebih jauh kepada “jihad ofensif”. Mereka mewajibkan tentara-tentaranya untuk menghancurkan kemusyrikan di mana pun, sehingga tidak ada lagi kemusyrikan di dunia. Ketika kuburan Uweis al-Qarni diledakkan di Raqqa, seorang serdadu berkata, “Hari ini kebenaran telah datang dan kebatilan sudah tumbang. Alhamdulillah, kita berhasil merobohkan pusat kemusyrikan orang Rafidhah.” Raqqa telah menjadi ibu kota IS. Penyerangan terhadap Syiah sekarang diletakkan dalam konteks menghancurkan ““Shi’ite crescent extending from Tehran to Beirut.” Di sini, Republik Islam Iran, Hizbullah, dan Rezim Asad adalah bagian dari bulan sabit Syi’ah. Walhasil, konflik Sunni-Syiah tidak cukup dijelaskan hanya dengan penjelasan politik masa kini –kepentingan ekonomi dan kepentingan sesaat dari negara-negara yang terlibat- tetapi berakar jauh pada sejarah pemikiran politik Islam. Yang menjadi masalah juga bukan konflik Sunni-Syiah per se, tetapi ideologi sempalan Sunni yang militan, sektarian, ekstrem, eksklusif, dan …brutal! Tanggung-jawab untuk menangkal dan menangkisnya, karena itu, ada pada pundak baik ulama Sunni maupun Syiah.


Catatan Kaki

  1. Lesley Hazleton, (2009-09-04). After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam (pp. 2-6). Knopf Doubleday Publishing Group. Kindle Edition.

  2. https://lubpak.com/wp-content/uploads/2012/07/Shia-Genocide-in-Pakistan.pdf, diunduh 20 Desember 2015.

  3. http://aliansinasionalantisyiah.blogspot.co.id/2014/05/catatan-buat-anas-jika-benar-beriman.html, diunduh 20 Desember 2015.

  4. Jessica Stern, J.M. Berger, J. M. (2015-03-17). ISIS: The State of Terror (pp. 287-288). HarperCollins. Kindle Edition.

  5. http://www.globalresearch.ca/america-created-al-qaeda-and-the-isis-terror-group/5402881, diunduh 16 Desember 2015.

  6. Wawancara M. Scheuer dengan Cathy Newman di Channel 4. Buka https://www.youtube.com/watch?v=IJFRC5eh_o4.

  7. Dore Gold, Hatred’s Kingdom: How Saudi Arabia Supports the New Global Terrorism. Washington DC: Regnery Publishing, 2004. Menarik untuk dikutipkan di sini pertemuan diplomatis antara Jeneral Anwar Eshki dari Saudi Arabia dengan Dore Gold, penasehat utama Netanyahu dari Israel pada Kamis, 4 Juni 2015. Gold dan Eshki sepakat untuk bekerja-sama menghadapi “perang ekspansionis Iran” yang memanjang dari Iraq, Syria, dan Yaman. Gold menyatakan, “Kami berdua sahabat Amerika. Kami berharap ini menjadi permulaan untuk lebih banyak lagi diskusi berkaitan dengan problem strategis bersama.” Lihat David E. Sanger, “Saudi Arabia and Israel Share a Common Opposition” the NY Times, 4 Juni 2015.

  8. Karen Armstrong, “Wahhabism to ISIS: How Saudi Arabia exported the main source of global terrorism”, New Statesman, 27 November 2015.

  9. Kutipan diambil dengan bebas dari Dore Gold, the Hatred’s Kingdom, Kindle Edition. Location 132-156.

  10. “Saudi and other Arab Intellectuals: The Fault Lies in Our Education Not in American Society,” MEMRI: the Middle East Media Research Institute. 14 Januari 2012.

  11. Thomas L. Friedman, op cit., the NY Times, 2 September 2015

  12. Cole Bunzel, “From Paper State to Caliphate: the Ideology of the Islamic State.” The Brookings Project on US Relations with the Islamic World, Analysis Paper. No. 19, March 2015.

  13. Para ulama menulis beberapa kitab tentang al-Muwafaqat. Yang paling popular di antaranya adalah puisi yang ditulis oleh Jalal al-Din al-Suyuthi, Qathf al-Tsamar fi Muwafaqat Sayyidina Umar bin al-Khathab. Syaikh Muhammad al-Badr al-Din menulis syarahnya dengan judul Fath al-Wahhab fi Muwafaqat Sayyidina Umar bin al-Khathab. Kitab-kitab lain yang menuliskan kesesuaian al-Quran dengan ucapan Umar adalah Ibn al-Syahnah, al-Muwafaqat al-Umariyah fi al-Quran al-Karim; Taqiy al-Din al-Dimsyaqi al-Shalihi, Naqaisy al-Durar fi Muwafaqat Sayyidina Umar; Abd al-Baqi bin Abd al-Baqi, Iqtithaf al-Tsamar fi Muwafaqat Umar.

  14. Al-Bukhari meriwayatkan tujuh kali dalam Shahihnya: 1.Kitāb al-`Ilm, Bab Kitābah Al-`Ilm, Nomor 114; 2. Kitāb Jihād wa al-Sayr, Bab Hal yusytasfa’u Ahl al-żimmah wa mu`āmalatuhum, nomor 3053; 3. Kitāb al-Jizyah wa al-Muwāda’ah, Bab Ikhrāj al-Yahûd min Jazīrah al-‘Arab; 4 dan 5. Kitāb Al-Magāzī, Bab Maraḍ al-Nabiyy wa Wafātih; 6. Kitāb al-Marḍā, Bāb Qawl al-Marīḍ; 7. Kitāb al-I’tişām bi al-Kitāb wa al-Sunnah, Bāb Karāhiyat al-Ikhtilāf.

  15. Lidwa, Șaḥīḥ Muslim, Kitab al-Waşiyah ḥadīś # 3088; Șaḥīḥ al-Bukhāri, ḥadīś 2536; Musnad Aḥmad 22911. حّدَثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ، أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: ذَكَرُوا عِنْدَ عَائِشَةَ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ وَصِيًّا، فَقَالَتْ: " مَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ، وَقَدْ كُنْتُ مُسْنِدَتَهُ إِلَى صَدْرِي؟ - أَوْ قَالَتْ: حَجْرِي - فَدَعَا بِالطَّسْتِ، فَلَقَدْ انْخَنَثَ فِي حَجْرِي، فَمَا شَعَرْتُ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ، فَمَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ "

  16. ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘As (? – 118H/736M) menerima hadis dari ayahnya, dari kakeknya –yang menuliskan hadis- dari Nabi saw. Tidak ada kesepakatan –seperti biasa tentang kualitas hadisnya. Kata Ahmad bin Hanbal: Dia banyak meriwayatkan hadis munkar. Hadisnya ditulis, dijadikan pelajaran, tetapi tidak dijadikan hujjah. Kata al-Bukhari: Aku melihat Ahmad bin Hanbal, Ali bin al-Madini, Ishaq bin Rahawaih, Abu ‘Ubaid, dan umumnya sahabat-sahabat kami berhujjah dengan hadis ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya. Tidak seorang pun kaum muslim yang meninggalkannya.” Tahżīb al-Kamāl, 4, 5602.

  17. Yahya bin al-Husain al-Syajari, Kitāb al-Āmālī, 1 (Beirut: Alam al-Kutub, 1403/1983), h. 153.

  18. Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzāhib. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi, tanpa tahun. h. 187

  19. Ibn Taimiyah, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ahmad bin Taimiyah. 18, Madinah al-Munawwarah: Majma’ al-Malik Fahd, 1465H. h. 468-469.

  20. Ayman al-Yassini, Religion and State in the Kingdom of Saudi Arabia. Boulder: Westview Press, 1985, h. 28;

  21. Ayman al-Yassini, ibid.

  22. Ibn Razik, sperti dikutip dalam Alexei Vassiliev, The History of Saudi Arabia. New York: New York University Press, 2000, h. 106.

  23. Vassiliev, ibid, h. 78.

  24. Daftar tempat-tempat bersejarah yang telah dihancurkan Pemerintahan Saudi dalam tiga abad ini dapat dilihat pada Wikipedia, entri “Destruction of early Islamic heritage sites in Saudi Arabia”, https://en.wikipedia.org/wiki/Destruction_of_early_Islamic_heritage_sites_in_Saudi_Arabia.

  25. Gudio Steinberg, “Jihadi-Salafism and the Shi’is: Remarks about the Intellectual Roots of Anti-shiism”, Global Salasfism, 114-115.

  26. Dikutip dari Cole Bunzel, “From Paper State to Caliphate: the Ideology of the Islamic State.” Op cit.

Daftar Pustaka

  1. Abu Zahrah, Muhammad, Tarikh al-Madzāhib. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi, tanpa tahun.

  2. Armstrong, Karen, “Wahabism to ISIS: How Saudi Arabia exported the main source of global terrorism”, New Statesman, 27 November 2015.

  3. Bunzel, Cole, “From Paper State to Caliphate: the Ideology of the Islamic State.” The Brookings Project on US Relations with the Islamic World, Analysis Paper. No. 19, March 2015.

  4. Gold, Dore, Hatred’s Kingdom: How Saudi Arabia Supports the New Global Terrorism. Washington DC: Regnery Publishing, 2004.

  5. Hazleton, Lesley, After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam, Knopf Doubleday Publishing Group, Kindle Edition, 2009.

  6. Sanger, David E., “Saudi Arabia and Israel Share a Common Opposition” the NY Times, 4 Juni 2015.

  7. Steinberg, Gudio, “Jihadi-Salafism and the Shi’is: Remarks about the Intellectual Roots of Anti-shiism”, Global Salasfism, 114-115.

  8. Stern, Jessica and J.M. Berger, J. M., ISIS: The State of Terror (pp. 287-288). HarperCollins. Kindle Edition, 2015.

  9. Syajari, Yahya bin al-Husain al-, Kitāb al-Āmālī, Jil I, Beirut: Alam al-Kutub, 1403/1983.

  10. Taimiyah, Ibn, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ahmad bin Taimiyah. 18, Madinah al-Munawwarah: Majma’ al-Malik Fahd, 1465H.

  11. Vassiliev, Alexei, The History of Saudi Arabia. New York: New York University Press, 2000.

  12. Yassini, Ayman al-, Religion and State in the Kingdom of Saudi Arabia, Boulder: Westview Press, 1985.

Sumber Internet

  1. https://lubpak.com/wp-content/uploads/2012/07/Shia-Genocide-in-Pakistan.pdf, diunduh 20 Desember 2015.

  2. http://aliansinasionalantisyiah.blogspot.co.id/2014/05/catatan-buat-anas-jikabenar-beriman.html, diunduh 20 Desember 2015.

  3. http://www.globalresearch.ca/america-created-al-qaeda-and-the-isis-terrorgroup/5402881, diunduh 16 Desember 2015.

  4. Wawancara M. Scheuer dengan Cathy Newman di Channel 4. Buka https://www.youtube.com/watch?v=IJFRC5eh_o4.

*) Tulisan ini pernah dimuat di dalam Jurnal Ma'arif Vol. 10 No. 2 Desember 2015 hal. 68 - 83

7 views0 comments

Recent Posts

See All