• Akhi

APAKAH KEBAHAGIAAN ITU? (Bagian 2)




Ada filusuf yang mengatakan bahwa perbuatan baik dan buruk tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan, karena ada tindakan yang membuat kita bahagia tetapi disepakati tidak bermoral. Mungkin koruptor berbahagia ketika mengambil hak rakyat, tetapi hanya orang gila yang mengatakan "Karena korupsi membuat bahagia, maka korupsi adalah perbuatan baik. Menurut kelompok filusuf yang ini, perbuatan baik adalah tuntutan etis untuk menjalankan kewajiban, walaupun kewajiban itu membuat kita menderita. Tetapi, kita bertanya mengapa orang memilih berbuat baik kalau jelas-jelas tidak mendatangkan kebahagiaan. Immmanuel Kant dan para pengikutnya yang berada di sini sulit untuk menjawab pertanyaan ini.


Untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini, kita harus menuntaskan dulu persoalan tentang apa yang dimaksud dengan kebahagiaan. John Kekes, dalam Encyclopedia of Ethics menulis:


Sebagai langkah pertama, kita dapat mengidentifikasi bagian yang inti dan disepakati tentang apa yang kita pahami sebagai kebahagiaan, jika rujukannya adalah hidup secara keseluruhan. Dalam pengertian ini, orang yang memiliki kebahagiaan, puas dengan kehidupannya; mereka ingin melanjutkan hidup seperti itu; jika ditanya, mereka akan berkata bahwa segalanya berlangsung baik bagi mereka; keinginan mereka yang paling penting terpuaskan; mereka melakukan dan mempunyai banyak hal yang mereka inginkan; mereka sering kali mengalami kegembiraan, keriangan, dan kesenangan; hidup mereka tidak terbagi, karena secara keseluruhan keadaan mereka persis seperti yang mereka inginkan; mereka tidak menderita konflik batin yang asasi; mereka tidak menderita depresi, kecemasan, atau frustrasi; mereka tidak menyesal atas keputusan yang telah mereka ambil; mereka juga tidak terus menerus atau sering kali marah, kecewa, irihati, merasa bersalah, malu, atau cemburu.


Berdasarkan gambaran tersebut, kebahagiaan tampak kepada kita dalam dua bentuk: episode dan sikap. Sebagai episode, kebahagiaan adalah kumpulan dari kejadian-kejadian yang memuaskan kita. Seperti kisah sinetron, hidup kita terdiri dari episode-episode yang membuat kita bahagia dan episode-episode yang membuat kita menderita. Episode bahagia adalah kepuasan yang berasal dari apa yang kita miliki dan apa 'yang kita lakukan Apa yang dikisahkan Sadi tentang orang yang layak melakukan perjalanan adalah episode-episode kebahagiaan. Kita bahagia karena kita punya mobil, rumah, deposito, istri yang cantik (kekayaan material), atau hubungan baik, penghormatan, pengetahuan (kekayaan nonmaterial). Kita juga bisa bahagia karena kita makan yang enak, menonton hiburan, berwisata (tindakan fisik) atau berpikir, merenung, mengapresiasi keindahan alam (tindakan intelektual).


Kedua, sebagai sikap, kebahagiaan adalah makna rangkaian episode itu dari segi keseluruhan hidup kita. Masih ingatkah Anda dengan kisah Solon yang diceritakan Aristoteles kepada kita. Kita hanya bisa mengetahui hidup itu bahagia atau tidak setelah kehidupan


ini berakhir. Jika kita melihat berbagai episode – tidak selalu tampak bahagia- dan menilai seluruh episode itu dari keseluruhan hidup kita dengan perasaan rida, kita bahagia.


Kembali kepada kebahagian sebagai episode. Kita bahagia karena kita memiliki dan melakukan semua yang kita inginkan. Semua yang kita inginkan? Tidak selalu. Kita merasa tidak semua yang kita inginkan membuat kita bahagia. Kita bisa bahagia dengan meninggalkan keinginan yang tidak begitu perlu, yang pemuasannya terlalu singkat. Tetapi ada keinginan yang begitu penting sehingga kita tidak bahagia kalau kita tidak bisa memiliki dan melakukannya. Kalau begitu kebahagiaan adalah mempunyai dan melakukan semua hal penting yang kita inginkan. Anehnya, kita menemukan orang yang berusaha bahagia hanya dengan mengejar satu saja yang ia inginkan. Untuk itu, ia mengabaikan keinginan-keinginan lainnya. Ada orang yang mengejar kekayaan saja, dan meninggalkan hal-hal lain yang diinginkan seperti hubungan keluarga yang harmonis, keindahan, ketenangan batin.


Lebih aneh lagi, kita menemukan ada tindakan yang kita ingink tetapi tidak membuat kita bahagia. Kita ingin membalas dendam, bunuh diri, menjalankan kewajiban dengan mengorbankan diri sendiri, atau berkhidmat kepada orang lain dengan mengorbankan kebahagiaan sendiri. Di samping itu, kita juga menyadari bahwa untuk mencapai kebahagiaan seringkali kita harus meninggalkan sebagian pemilikan atau perbuatan yang tidak kita inginkan. Seorang perempuan merasa bahagia dengan mengorbankan karier yang diinginkannya hanya karena ia ingin mempunyai anak. Saya bahagia dengan melakukan ibadah haji, walau pun saya tidak menggunakan ongkos haji untuk kawin lagi (yang sebenarnya saya inginkan). Jadi selama kita hidup kita harus memilih mana yang ingin kita punyai dan kita lakukan. Pemilihan mana keinginan yang penting dan tidak penting melibatkan aspek sikap- kita harus menilai berbagai episode kebahagiaan dari perspektif kehidupan secara keseluruhan.


Marilah kita kenang lagi kisah Sa'di. Kita tentu ingin kaya," cantik, pandai, bersuara bagus dan sebagainya. Kita harus memilih mana keinginan yang harus kita puaskan supaya kita bahagia. Buat kebanyakan kita, tidak mungkin kita memperoleh itu semua. Keinginan-keinginan yang sudah kita pilih itu harus kita cocokkan dengan satu keinginan akhir kita, yang memengaruhi kehidupan kita secara keseluruhan.


Sekarang ini, di hadapan saya ada banyak keinginan: punya rumah luas, punya sekolah buat orang miskin, punya istri lagi; atau membawa semua anggota keluarga naik haji, melanjutkan studi lagi dalam psikologi agama, atau beristirahat dari segala kesibukan. Saya harus mengatur dan memilih mana yang harus saya punyai dan mana yang harus saya lakukan. Saya memilih untuk mempunyai sekolah buat anak miskin dan membawa semua anggota keluarga naik haji. Semua pilihan itu dan menentukan kebahagiaan hidup saya secara keseluruhan. Keinginan tunggal itu ialah saya ingin kembali kepada Tuhan yang Mahakasih dengan membanggakan di hadapan Dia apa yang sudah saya sumbangkan untuk membahagiakan hamba-hambaNya.


Kata para filusuf, saya bergerak dari keinginan tahap pertama (first-order wants), ke keinginan yang mengatur (regulative wants), sampai ke keinginan yang meliputi keseluruhan hidup saya (overall wants). Tetapi apakah memuaskan keinginan sesuai dengan urutan itu dengan sendirinya membuat hidupku bahagia? Bagaimana kita menentukan bahwa seorang itu bahagia atau tidak.


Ada dua ukuran. Pertama, kita menggunakan ukuran standar untuk menguji apakah pengakuan dia bahwa dia bahagia itu benar atau salah. Kedua, kita bertanya kepadanya dengan pendek apakah dia bahagia atau tidak, setelah dia melakukan pilihan-pilihan yang telah kita jelaskan di atas. Yang pertama melahirkan apa yang kita sebut sebagai kebahagiaan objektif (objective happiness). Yang kedua membawa kita pada kebahagiaan subjektif (subjective happiness).


Pada posisi pertama, kita menemukan pembahasan kebahagiaan objektif dalam pemikiran Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Saya menambahkan Al-Ghazali dalam Kimiya al Sa'adah (Kimia Kebahagiaan). Pada posisi kedua, kita dapat menyebut Hobbes, Hume, dan Mills serta kaum emotivis, eksistensialis, dan egois.


Walhasil, menurut kelompok pertama, kita dapat menilai apakah pernyataan seorang itu bahagia atau tidak dengan mencocokkannya pada sebuah standar. Standar itu bisa merujuk pada aturan agama, seperti yang - dilakukan oleh Al-Ghazali dan Thomas Aquinas; atau pada pembuktian yang menunjukkan bahwa pengakuan dia bahwa dia bahagia itu salah.


Si Fulan punya uang banyak. Ia menghabiskan waktunya untuk berpesta pora. Ia tidak pernah sakit. Ia mengaku: Aku bahagia. Benarkah dia? Menurut ukuran agama, orang itu tidak bahagia; karena pada hari akhirat dia pasti masuk neraka. Menurut ukuran rasional, ia juga tidak bahagia karena dalam tempo lama, ia akan kehilangan hartanya, kesehatannya, dan kesenangannya.


Menurut para ilmuwan, ukuran objektif yang sangat logis ini agak sulit diterapkan untuk penelitian ilmiah. Mereka lebih senang menggunakan ukuran kebahagiaan yang subjektif (subjective well-being). Konsep ini mudah dioperasionalisasikan dalam penelitian. Berdasarkan konsep ini kita dapat memperbandingkan antara tingkat kebahagiaan yang satu dengan yang lainnya. Kita juga dapat meneliti variabel apa saja yang memengaruhi kebahagiaan. Karena kita menanyakan kebahagiaan langsung kepada yang bersangkutan, kita harus memikirkan apa saja yang harus kita tanyakan. Kebahagiaan itu terdiri dari apa saja. Dengan itulah, kita dapat mengukur kebahagiaan.



KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

48 views0 comments

Recent Posts

See All