• Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat

Bencana Paling Besar adalah Putus Harapan


Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah itu kalau berbicara pendek-pendek. Imam Ali bersabda. Saya pernah menyampaikan “Imam Ali bersabda” di facebook. Ada yang protes, “Hah Imam Ali bersabda? Siapa sih Imam Ali itu kok bersabda.” Mungkin kalau dia mendengar Hamengkubuwono bersabda akan tercengang juga, “Hah Hamengkubuwono bersabda?” Menurut dia, yang bersabda itu hanya Tuhan saja. Ya Allah, tuhan itu kan menciptakan, ada yang pintar, ada yang bodoh. Tapi kok bisa ya, ada orang yang sebodoh ini.

Tabarokollah ahsanul shodiqin. Maha mulia Allah, pencipta yang paling baik, sampai dia berhasil menciptakan makhluk yang begitu bodoh yang tersinggung karena mendengar Imam Ali bersabda. Imam Ali bersabda: “a’zhamul bala’i, inqitha’ur raja’i bencana paling besar’.” Kata a’zhamul bala’i terdiri dari alif, ‘ain, dho, mim, alif lam, ba, lam alif, hamzah .

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’i

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’i

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’i

Berikut adalah susunan kata-kata dari Imam Ali: harapan (al-raja’), putus (inqitha’), bencana (balaa), paling besar (‘azham). Jadi, bencana yang paling besar adalah kalau orang sudah putus harapan.

Kalau kita sudah kehilanggan harapan, datanglah bencana yang paling besar, sampai-sampai kehidupan pun tidak bisa kita nikmati. Orang itu sudah kalah, sudah putus asa. Orang yang sudah putus asa, air yang dingin pun, tidak berasa nikmat. Semuanya tidak enak.

Dalam peribahasa sunda disebutkan cai asa tuak bari, kejo asa catang bobo. Cai asa tuak bari artinya air pun terasa seperti tuak yang sudah basi. Inginya muntah terus. Kejo asa catang bobo artinya nasi terasa seperti kaya yang sudah lapuk. Bayangkan makan kayu yang sudah lapuk. Makan nasi terasa kayu yang sudah lapuk. Itula cirri-ciri orang yang sudah putus asa atau putus harapan. Dia juga sudah tidak bisa menikmati humor-humor. Apalagi humor-humor di televise, saya saja yang tidak putus asa, susah ketawa dengan humor-humor di televise itu. Sehingga saya harus mengecek juga, apakah saya sudah kehilanggan harapan. Saya malah sering tertawa bila membaca sms yang lucu-lucu. Malah, lebih banyak tertawa ketika menyaksikan ulah pemimpin politik di negeri ini. Saya tertawa, ketika membaca berita tentak pak susno duaji. Ini malah berita yang menyenangkan dan menarik. Kita melihat banyak sekali humor yang diperankan para pemimpin kita.

Jadi, orang yang sudah putus asa, tidak menikmati lagi air dan nasi. Bahkan kalau ada orang yang melawak di hadapanya pun, dia tidak bisa tetawa. Malah berkata, apanya yang lucu?” saya lebih senang istilah cucu saya, funny aki, funny aki. Lalu saya katakana, you are funny, kamu yang lucu. Artinya saya masih mempunyai harapan. Kalau anak-anak pun sudah tidak lucu lagi, kalau melihat anak-anak itu kita ingin menggetok saja, itu berarti sudah menjadi orang putus harapan (inqitha’ur raja’).

Bencana yang paling besar ialah apabila sudah putus harapan

Dimulai di Inggris, ada seorang pendeta, melakukan kebaktian (mengaji) setiap ahad di gereja. Ia menyarankan bagaimana kalau kita membuka jalur telepon terbuka “bencana yang paling besar apabila orang sudah putus harapan ” dan berkonsentrasi untuk membuka konsultasi kepada orang-orang yang cenderung bunuh diri. Biasanya orang cenderung bunuh diri karena frustasi, stress yang berkepanjangan, depresi, atau menghadapi masalah, yang menurut dia tidak ada jalan keluarnya, sehingga merasa terputus masa depanya. Karena itu, kita harus membuka jalur-jalur komunikasi dengan orang-orang yang suicide-prone cenderung bunuh diri.

Jadi singkat cerita, pendeta itu setelah kebaktian setiap ahad membuka forum dialog. Dia mengmumkan, barang siapa yang siap-siap bunuh diri silakan bercerrita kepada ki Romonya, kepada pendetanya. Ternyata, setelah pengmuman itu banyak sekali orang berdatangan. Karena banyak orang yang datang, maka ada orang yang mengatur tamu, resepsionis. Mareka tidak bisa lang sung berkonsultasi.

Di tempat pendeta ini untungnya ada resepsionis, sehingga tamu-tamu itu satu-satu bergilir. Apalagi inggris, itu negeri yang terkenal rapi. Rakyat di sana selal antri. Saya kira, bangsa yang rapi dalam antri adalah orang inggris. Bangsa yang ceroboh dalam antri, rakyat Indonesia.

Istri saya pernah menjadi saksi tentang begitu rapinya rakyat di inggris. Saya dan istri pernah suatu saat keluar dari underground , kereta api bawah tanah. Kereta api bawah tanah menyusuri di bawah kota London. Selesai menumpang kereta api bawah tanah, kita kalau keluar ke atas, ada suatu tempat yang tangganya itu paling tinggi, namanya piccadily . Saya dengan istri berjalan menuju tangga itu. Tiba-tiba istri saya melihat tali sepatunya terlepas. Jadi dia membetulkan dulu tali sepatunya di tangga itu. Dia tenang saja memperbaiki tali sepatu di depan tangga. Ketika dia lihat ke belakang, apa yang terjadi? Barisan orang sdah memanjang. Orang inggris tidak ada yang lewat untuk permisi. Tidak ada misalnya mengatakan, “please, excuse me!” semuanya antri menunggu. Tertahan langkahnya oleh istri saya. Sampai saya katakana kepadanya, “udah, lihat itu di belakang.”

Orang inggris itu selalu antri, apakah di tempat tunggu, di tempat parker, di halte bus. Orang yang paling depan, dia yang duluan masuk. Yang belakangan datang, dia bebaris di belakangnya. Di sana itu tidak ada yang datang belakangan langsung meloncat atau menyalip. Satu demi satu masuk bus. Pakah pernah kita menyaksikan orang antri masuk angkot? “tidak ada.”

Tentang orang yang berniat bunuh diri itu, mereka juga antri menunggu giliran mereka antri untuk ketemu pendeta. Sementara mereka belum bertemu dengan para pendetanya, ada sukarelawan untuk mengajak ngobrol mereka. Sambil menunggu giliran, mereka diajak ngobrol. Para sukarelawan itu Cuma mendengarkan curhat mereka. Mendengar saja, tidak mengasih komentar, juga tidak member nasihat. Jadi, tempat curhatlah. Ajaibnya, banyak di antara peserta itu tidak jadi ketemu pendeta dan tidak jadi juga bunuh diri. Mereka pulang dalam keadaan tenang. Hanya karena ada orang yang mau mendengarkan curhatnya, sudah menjadi obat bagi mereka. Akhirnya, berdirilah organisasi untuk mencegah bunuh diri namanya the saritans. Sekarang organisasi in sudah tersebar di seluruh dunia.

Menyambungkan Harapan

Para psikiater itu malah meminta kepada saya, untuk mengurus orang-orang yang mau bunuh diri. Tapi sayang, terlalu banyak yang saya urus. Jangankan mengurus orang yang bunuh diri, yang mau membunuh saya juga belum saya urus. Itu lebih penting daripada orang yang bunuh diri. Nah orang bunuh diri itu obatnya Cuma satu yaitu “sambungkan lagi harapanya yang terputus”. Dengan mengajaknya ngobrol kita menyadarkan dia bahwa sebetulnya ia masih mempunyai masa depan, karena “putusnya masa depan adalah bencana yang paling besar”. Karena itu, baca kalimat berikut sebanyak tiga kali sampai hapal benar.

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan

a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan

pembaca sebaiknya menghapal kalimat, a’zhamul bala’I, inqitha’ur raja’I bencana yang paling besar adalah putusnya harapan, kita juga putus harapan akan akhirat, putus harapan aka kasih sayag Allah SWT. Ternyata orang yang bunuh diri itu tidak selalu bodoh. Bahkan ini menarik, menurut suatu penelitian, kebanyakan yang bunuh diri itu orang cerdas. Kalau saudara ingin disebut cerdas, cobalah bunuh diri saja.

Saya teringat pengalaman dulu. Saya mengajar ngaji di kampong saya. Ada murid saya yang cerdas. Dia diterima di perguruan tinggi negeri. Padahal ibunya hanya berjualan di pasar. Selain di pasar, ibunya berjualan juga di pinggir-pinggir jalan. Orang kecilah, tapi anaknya bisa masuk unpad, jurusan ilmu pasti (eksakta). Anak itu murid yang cerdas. Dia sering datang ke rumah saya.

Suatu saat saya, saya sedang sibuk menulis. Dulu tidak ada computer, saya menulis masih memakai mesin tik. Dia datang menemui saya. “maaf, saya lagi sibuk, besok saja,” kata saya. Tidak lama setelah itu, saya mendengar dia bunuh diri, dengan meloncat ke rel kereta api dan akhirnya tergilas kereta. Sejak itu saya menyesal. Kenapa say tidak meluangkan waktu untuk mendengarkan curhat dia walaupun sebentar saja. Mungkin dia tidak akan jadi bunuh diri. Atau mungkin dia sekarang sudah menjadi sarjana. Beberapa tahun setelah itu, kami bertemu dengan ibunya di pasar. Ibunya menangis melihat kami.

Anak itu sebetulnya mengalami stres. Tapi stresnya itu bukan karena hal lain. Stresna itu karena cerdas. Ada untungnya. Semakin bodoh semakin berkurang stres. Mengapa? Karena orang bodoh tidak membayangkan masa depan. Dia mengikuti apa yang terjadi. Orang yang cerdas itu berpikir tentang masa depan nya. “aduh nanti saya bagaimana? Cari pekerjaan dimana?” orang yang berpikir tentang masa depan berarti cerdas.

Saya teringat cerita salah seorang ustad, lupa namanya. Ia menceritakan kisah ini ada seseorang naik pesawat terbang. Tiba-tiba diumumkan bahwa sebentar lagi penumpang akan menghadapi turbulence “goncangan”. Itu semacam goncangan badai di udara. Semua orang panik. Ada yang membaca doa. Ada yang memejamkan mata . ada yang pucat pasi. Tetapi, ada seseorang di situ tenang-tenang saja. Dia begitu tenang. Goncangan-goncangan yang kemudian terjadi, dianggap biasa. Mungkin juga dia sering naik truk shingga biasa berada di antara goncangan. Ya, dia biasa saja tidak cemas sedikit pun. Akhirnya turbulence pun reda.

Beberapa saat kemudian diumumkan bahwa pesawat akan melakukan pendaratan darurat. Semua penumpang ketakautan lagi. Dan begitu mendarat, semuanya selamat, semuanya gembira kecuali orang itu. Dia malah heran, tadi betitu kelihatan menderita, sekarang malah bergembira, semua orang saling berpelukan. Dia saja yang tidak berpelukan sama sekali. Kalaupun ikut berpelukan, dia tidak sebahagia yang lain. Mengapa? Karena pengumuman itu disampaikan dalam Bahasa Inggris dan dialah satu-satunya tidak paham bahasa inggris.

Itulah untungnya menjadi orang bodoh. Menjadi orang bodoh itu tidak mencemaskan masa depan karena dia tidak mengetahuinya. Jadi sebenarnya, bunuh diri tidak ada hubunganya dengan bodoh an sich. Bunuh diri ada hubunganya dengan “bodoh” yang tidak mengetahui masa depan”. Yang bunuh diri itu bisa orang cerdas dan bisa juga orang bodoh. Salah satu obatnya ialah sambungkan kembali harapanya yang terputus karena bencana yang paling besar adalah putusnya harapan.

A’zhamul bala-I, inqitha’ur raja-I , bencana yang paling besar adalah putusnya harapan. “harapan” dalam bahasa arabnya arroja.


Masih ada Harapan

Saya ingin membacakan hadits yang menurut saya, sangat memberikan harapan kepada kita. Telah datang seorang lelaki dan dari A’rab. Dia menemui nabi Rasulullah SAW. Wahai Rasulullah saya ini tidak puasa kecuali satu bulan saya yaitu di bulan puasa. Aku tidak menambah dari situ dan aku juga tidak sholat kecuali sholat yang lima waktu saja. Tidak menambah dari puasa ke puasa, ramadhan saja. Dan dalam hartaku juga tidak ada harta yang bisa disedekahkan atau dipakai haji atau dipakai sunah. Dimana saya nanti kalau saya meninggal dunia.

Jadi seorang lelaki dari dusun atau kampong dalam bahasa arabnya disebut A’rab. Bangsa arab dari kampung itu disebut A’rab. Orang dari kampung itu disebut A’rab. Walaupun sekarang ini yang memerintahkan Saudi sebenarnya dari kampung semua, dari gurun Nejd.

Saya ini puasanya satu bulan saja kalaupun saya puasa di bulan lain itu hanya qodho. Jadi puasanya itu tetap di bulan puasa aja. Aku tidak menambah dari situ dan aku juga tidak sholat kecuali sholat yang lima waktu saja tidak menambah dari puasa, hanya puasa ramadhan saja. Sholat hanya sholat lima waktu saja dan dalam hartaku juga tidak ada harta yang bisa disedekahkan atau dipakai haji atau dipakai sunah. Aku ini orang miskin. Hartaku tidak cukup bersedekah juga. Kemudian orang itu berkata “Dimana saya nanti kalau saya meninggal dunia ?”

Fatabassama Rasulullah saw

Sesudah membaca hadits ini, terbayanglah wajah Nabi Muhammad SAW. Nabi sedang memberikan pengajian di sebuah majelis. Datang orang bertanya kepada nabi. “ Ya Rasulullah, saya ini orang yang ibadanya sedikit, puasanya hanya puasanya bulan ramadhan. Sholat pun yang wajib-wajibnya saja.” Kemudian dia bertanya, ayng hanya memandang masa depanya saja. “di mana saya nanti kalau saya meninggal dunia?”

Dan tersenyumlah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW itu jangan dibayangkan orangnya keras, seram, seperti front pembela islam (FPI) atau laksana pejuang-pejuang islam seperti itu. Wajah Rasulullah itu lembut. Suaranya jugqa sangat lembut. Dan beliau itu banyak tersenyum. Kalau ditanya dia menjawab dengan tersenyum. Saya membayangkan, sekiranya Rasulullah berada di mimbar ini.

Memang Rasulullah itu banyak sekali tersenyum. Bassaman berarti banyak tersenyum. Dsalam bahasa arab, bassam artinya orang banyak tersenyum. Di negeri arab, banyak anak diberi nama bassam. Di Indonesia tidak begitu popular nama anak bassam. Mungkin kalau disingkat namanya menjadi “asam”. Jadi bassam atau bassama artinya orang yang mudah tersenyum. Rasulullah itu terkenal karena banyak senyum.

Pernah datang kepada saya dulu, seorang utusan dari hizbullah, libanon. Dia datang ke rumah. Orangnya masih muda. Orang hizbullah, cakep lagi orang nya. Orang itu kan kalau cakep atau cantik tidak tersenyum pun kelihatanya tersenyum. Tetapi kalau orang yang tidak cantik atau tidak cakep.. (saya tidak akan meneruskan kalimatnya.) apalagi kalau yang cakep ini senang tersenyum. Sewaktu saya Tanya, “ismak asy-syarif?” (nama anda siapa?) “bassam”, jawabnya seraya tersenyum. Pantes anda senyum terus. Dan dia menjawab saya dengan senyuman.

Saya pernah terpikir untuk mengumpulkan lagi hadits-hadits tentang, pa yang menyebabkan rasul banyak senyum, untuk dijadikan sebuah buku. Mungkin judulnya “tersenyumlah sang Rasulullah” sehingga menjadi satu buku lagi. Padalah buku yang berjudul “mengapa engkau menangis, ya Rasulullah?” belum jadi-jadi juga. Sementara saudara menunggu-nunggu buku tersebut. Karena itu, saudara rajin-rajinlah ke pangajian ini. Mudah-mudahan tiba-tiba terbit dan langsung dibagikan kepada saudara.

Makanya saya katakan kepada ustadz Miftah nanti jangan diberitahukan kapan buku ini terbit, supaya setiap hari ahad banyak yang datang untuk mengaji. Kita akan tiba-tiba saja membagikanya. Bila buku itu terbit, saudara-saudaralah yang pertama kali memperoleh buku itu secara gratis. Saya tidak tahu apa ini janji atau niat. Kalau niat tidak dilaksanakan dapat pahala, kata para ustadz. Kalau niat buruk tidak dilaksanakan,d dia tidak dapat siksa. Padalah niat buruk tidak dilaksanakan juga tetap dapat hukumanya.

Orang itu datang kepada nabi, “ Ya Rasulullah, saya ini tidask banyak puasa kecuali yang wajib saja shalatpun yang wajib saja. Saya pun tidak bisa membayar shadaqah karena saya ini tidak punya harta untuk bersedekah, untuk haji apalagi, juga untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah (tathawusu) . Nanti dimana saya kalau saya meninggal ? mendengar pertanyaan seperti itu, Rasulullah SAW berkata, “kamau bersamaku disurga.”

Saya perhatikan ini sabda nabi. Sekiranya saya orang arab dari dusun itu pasti kelengger mendapatkan jawaban nabi yang pendek. Dimana nanti saya ya Rasulullah kalau saya meninggal dunia. Apa kata Rasulullah ? “benar nanti kamu bersamaku,” kata Rasulullah. Jadi kamu itu nanti bersamaku.coba bayangkan dia ini ibadahnya kurang. Shalat hanya yang wajib saja. Lalu puasa juga hanya yang wajib saja. Tetapi digabungkan dengan Rasulullah sAllahu alaihi wasallam yang ibadahnya bukan main. Yang amal ibadahnya luar biasa. “kamu bersamaku,” Rasulullah mengatakan sambil tersenyum.

Sekiranya saudara datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah berkata kepada saudara, “betul kamu akan bersamaku.” Pingsan kita karena kebahagian yang luar biasa. Kita akhirnya tidak mendengar pembicaraan berikutnya dari Nabi SAW.


Allahyarhman Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat

©2013



image source: https://id.depositphotos.com

167 views0 comments