• Akhi

Benturan Nilai-nilai Islam dan Globalisasi (2)


Nilai global yang menjadi pandangan dunia kita sekarang ini adalah nilai-nilai materialis hedonis. Nilai ini sudah merasuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Coba kita simak kisah berikut ini: ​

Seorang ayah membeli mobil baru. Anaknya sangat senang dan diam-diam mendekati mobil itu. Dengan semangat dia menuliskan sesuatu di sana. Ketika sang ayah melihat mobil barunya dicoret-coret, kemarahannya meledak. Ditariknya tangan kecil itu dan dihantamnya berulang-ulang dengan kunci Inggris. Dan terjadilah bencana yang tidak dia sangka-sangka. Di rumah sakit, terlihat jari-jari anaknya remuk dan harus diamputasi. Bocah itu kehilangan semua jarinya. Ketika sadar dari operasinya, dia memandang ayahnya dengan memelas. Anak itu memohon, “Ayah, maafkan. Aku sudah mengotori mobilmu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang, bolehkah aku minta jariku kembali?” Di rumah, ayah itu menendangi mobilnya dengan penuh sesal. Kemudian, dia terpana melihat coretan anaknya. Dia membaca tulisan cakar ayam, “I love you, Dad.” Keesokan harinya ayah itu bunuh diri. Apa yang sudah terjadi pada ayah itu? Dia berpegang pada nilai meterialisme hedonis. Nilai hidupnya bisa disingkat menjadi sebuah kalimat using people and loving things. Dia sangat mencintai benda-benda, dan memanfaatkan orang-orang di sekitarnya untuk kepentingan dirinya. Padahal, yang benar, menurut saya, nilai Islam yang universal adalah loving people and using things. Gunakan benda di alam semesta sebagai tanda syukur kepada Allah. Manusia harus kita cintai. Bukan sebaliknya, memanfaatkan manusia demi kecintaan kita kepada benda. Coba kita simak syair lagu berikut ini. Using Things and Loving People, diciptakan oleh Hal David & Archie P. Jordan, dinyanyikan oleh BJ Thomas. Using things and loving people That’s the way it’s got to be Using things and loving people Look around and you can see That loving things and using people Only leads to misery Using things and loving people That’s the way it’s got to be Being loved is in the giving All we have is what we share Loving life is for the living You have to have a heart to care And loving things and using people Only leads to misery Using things and loving people That’s the way it’s got to be So put your hand inside my hand I don’t know where the road will lead We may not find the things we want But we will find the things we need And all we need is love Using things and loving people Brings you happiness I’ve found Using things and loving people Not the other way around ‘Cause loving things and using people Only leads to misery Using things and loving people That’s the way it’s got to be For you and me For you and me Setelah bersenandung, kita menuju pada seorang kritikus besar di bidang pendidikan di Amerika: H. Svi Shapiro. Dia menulis buku Critical Social Issue in American Education. Dan saat ini yang akan akan kita bahas adalah karyanya yang lain, Losing Heart: The Moral and Spiritual Miseducation of America's Children. Kehilangan Hati: Kesalahan Moral dan Spiritual pada Pendidikan Anak-anak Amerika. Svi Shapiro menemukan bahwa di kelas-kelas di Amerika, yang ada adalah anak-anak yang mirip pegawai pabrik. Aktivitas sehari-hari mereka adalah mengejar target dan angka untuk kuantifikasi nilai pendidikan mereka. Karena pendidikan memusatkan perhatian kepada perfomance standard dan testing—seperti yang terjadi sekarang di Indonesia—semuanya diukur dari hasil ujian. Di Indonesia, sekarang nilai pendidikan harus diukur dengan kuantikasikasi. Semua diakreditasi melalui angka-angka. Baik atau tidaknya suatu sekolah diukur dari jumlah angka yang diperoleh, sesuai dengan kriteria penilaian akreditasi, misalnya: apakah ada pagar di halaman sekolah, apakah ada alat laboratorium? Adakah perpustakaan di sekolah itu? Akibatnya, sekolah yang tidak memiliki fasilitas seperti itu, menjelang akreditasi, akan meminjam ke sekolah lain agar angka yang menjadi targetnya terpenuhi. Yang terjadi di Indonesia, biasanya gubernur memberikan instruksi kepada Dinas Pendidikan bahwa nilai ujian nasional mereka harus lebih tinggi dari provinsi lain. Dinas berunding dengan para kepala sekolah, kemudian kepala sekolah berunding dengan para guru untuk menentukan standar kelulusan. Begitu standar kelulusan sudah ditentukan, dirancanglah sebuah cara agar guru bisa membantu murid-muridnya. Tujuannya adalah agar murid mendapat nilai ujian yang tinggi. Sekarang nilai pendidikan diukur angka, semua mengejar angka. Di dunia ini, banyak orang yang mengukur nilai kemanusiaan dengan angka. Nabi kita adalah Pitagoras, karena Pitagoras berkata bahwa yang menentukan esensi kehidupan adalah angka. Tingkat kesejahteraan Anda tergantung pada angka yang tertera di rekening bank Anda. Apakah anda diterima kuliah atau tidak, tergantung pada angka ujian yang Anda peroleh saat ujian masuk. Pendeknya, semua aspek kehidupan kita diukur dengan angka. Apa yang terjadi ketika ruang kelas semua mengejar angka? Menurut Shapiro, karena dipicu oleh perhatian yang tanpa batas terhadap testing & standar penilaian, sekolah kian lama kian menjelam jadi pabrik, yaitu ketika sesuatu yang paling berharga di sekolah adalah output yang bisa diukur. Tidak mengejutkan jika kini pendidikan yang dialami oleh anak-anak kita kian lama kian penuh stress.Kesenangan dan makna belajar menyingkir dari perhatian orang. Anak-anak kita tidak bahagia lagi saat belajar di sekolah. Tak ada lagi kebahagiaan saat mereka menemukan sesuatu yang baru. Kebahagiaan yang mereka miliki adalah adalah kebahagiaan temporer karena mencapai angka tertentu. Kebahagiaan dan penderitaan mereka ditentukan oleh angka. Akibatnya, anak-anak kita menjadi bosan, frustrasi dan teralienasi. Dalam buku Losing Heart tadi disebutkan bahwa ada beberapa hal yang menandai sistem pendidikan Amerika sekarang. Kita sekarang hidup dalam kekayaan materi yang luar biasa, tapi kosong dari makna. Tidak ada hal-hal yang memberikan kekayaan spiritual dan keyakinan pada kehidupan yang abadi. Hari ini, tak ada yang bisa menolak bahwa nilai yang paling berpengaruh dan membentuk hidup kita berasal dari marketplace. Budaya kita adalah budaya pasar. Budaya kita adalah budaya membeli. Jika Descartes berkata cogito ergo sum, maka yang sekarang berlaku adalah I buy therefore I am. Bagaimana saya, seperti apa harga diri saya, seperti apa status sosial saya, dan kemuliaan saya ditentukan oleh apa yang saya beli. Guru dihormati karena kendaraan yang dia gunakan di sekolah. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mahal, apalagi jika diberi embel-embel standar internasional. Masyarakat berlomba mencari sekolah yang mahal. Memang, untuk mendirikan sekolah yang baik, kita perlu biaya—kadang biayanya mahal. Itu masih masuk akal, sesuai dengan falsafah Jawa, jer basuki mowo beo. Namun, sekarang paradigmanya bergeser. Sekolah yang mahal adalah sekolah yang baik. Yang mahal itu pasti baik. Itu tidak logis sama sekali. Sekolah menjadi baik karena bayarannya mahal adalah hal yang tidak masuk akal. Tetapi, itulah keyakinan manusa sekarang, karena nilai manusia diukur dari barang yang dia beli. The culture of selling masuk ke dunia pendidikan tanpa bisa dibendung. Sekarang pendidikan bukan lagi sebuah institusi untuk menanamkan nilai-nilai luhur. Sekolah hanya alat belaka. Shapiro, dalam buku ini, membedakan antara schooling dan education. Yang terjadi di Amerika sekarang adalah schooling. Di negara itu, education sudah disingkirkan sejak lama. Ivan Illich, seorang pemikir asal Austria mengkritik penyelenggaraan sekolah dengan mencetuskan deschooling society. Dia merindukan masyarakat tanpa sekolah. Menurut dia, sekolah adalah tempat untuk mencekoki anak-anak muda dengan materialisme, dan kecenderungan menjadikan pengajaran sebagai alat. Kadang anak-anak jadi terdorong mendapatkan nilai tinggi. Bagaimana pun caranya tidak jadi soal. Tanpa menguasai materi pun, asal dapat nilai, bukan masalah bagi mereka. Pendidikan benar-benar hanya menjadi instrumen. Mahasiswa pun memilih jurusan bukan karena rasa ingin tahu ada apa dalam ilmu itu, tapi sekadar memperoleh angka-angka yang akan diyakini akan menentukan masa depannya. Dan, karena pendidikan sekarang hanya alat, yang didapatkan oleh peserta didik hanyalah kemampuan menggunakan alat, atau instrumental capacity. Nilai pendidikan yang seperti itu sangat nyata dampaknya terhadap kurikulum. Karena angka yang menjadi targetnya, maka kurikulumnya pun harus berpatokan pada angka. Apa yang dikejar guru adalah memenuhi target kurikulum—tak ada waktu untuk menghidupkan the hidden curriculum. Yang saya maksud dengan kurikulum tersembunyi adalah nilai yang tidak tercantum dalam pedoman dari Dinas Pendidikan. Pemikiran ini membuat saya teringat pada masa kecil saya. Saat belajar di sekolah dasar, saya termasuk anak yang nakal. Saya tidak aktif bergabung dengan kegiatan teman-teman saya. Jika anak-anak lain bermain bola, saya hanya menonton. Entah mengapa, saya tidak suka dengan sepak bola. Suatu saat ada pemain yang harus keluar lapangan karena kecelakaan. Tiba-tiba saya merasakan sebuah tepukan halus di pundak saya. Setelah itu terdengar ucapan, “hayu main.” Saya dimintanya main, padahal saya tidak suka main bola. Saya iseng saja mengiyakan. Tapi begitu saya masuk ke lapangan, bola serta merta mendatangi saya. Dan sampai sekarang masih terngiang d telinga saya, suara guru itu. Saya mendengarnya sebagai musik yang paling indah dalam hidup saya. Dia berteriak, “Bagus! Hebat! Ini pemain baru tapi sudah hebat!” Setelah peristiwa itu, saya jadi pemain sepak bola andalan di sekolah saya. Dan sekarang, mungkin secara genetis, anak saya jadi suka bermain bola. Saya yang semula tidak suka bermain bola, karena tepukan halus, dorongan semangat, dan apresiasi luar biasa dari guru saya tadi, jadi suka main bola. Dan kesukaan saya itu terwariskan kepada generasi sesudah saya. Saya meyakini, pendidikan yang kini kita terapkan bukan hanya berlaku untuk hari ini, tapi untuk puluhan bahkan ratusan tahun berikutnya. Itu pertanda bahwa bagi seorang guru, membentuk karakter seorang anak bukan melulu dengan buku kurikulum, tapi dengan the hidden curriculum, kurikulum tersembunyi. Ketika berkomunikasi, menurut penelitian, 97% informasi disampaikan oleh bahasa tubuh, dan hanya 3% disampikan melalui kata-kata. Misalnya, saya membacanya dalam sebuah situs internet, ada 10 tanda bahwa seorang gadis menyukai Anda. Salah satunya adalah: Jika Anda dekati, perempuan itu bermain-main dengan rambut. Dia mungkin mengibaskan rambut, menyapukan tangannya menelusuri rambut, atau memilin rambutnya. Walau perempuan itu tidak berkata apa pun, 100% pesan bahwa dia menyukai Anda tersampaikan melalui body language. Menurut saya, body language ini termasuk hidden curriculum. Dia tidak tercantum di dalam petunjuk penerapan kurikulum, melainkan di dalam interaksi antara guru dan murid-muridnya. Bagaimana guru berbicara di kelas, bagaimana dia menyapa murid dan memberikan semangat kepada mereka. Yang juga termasuk kurikulum tersembunyi adalah bagaimana guru memberikan label kepada anak didiknya. Apa yang kita labelkan kepada anak-anak akan terekam seumur hidupnya. Jika kita sebut mereka bodoh, mereka meyakini bahwa diri mereka bodoh. Demikian pula sebaliknya. Jika kita membawa kurikulum pendidikan ini ke dalam nilai kehidupan yang diajarkan Islam, kita akan mengenal dua nilai penting, yaitu nilai keimanan dan nilai kekafiran. Saya harus segera mendefinisikan kata kafir ini. Definisi yang sekarang beredar, kafir berarti non muslim. Padahal, jika saya bertanya apa dalil definisi itu, orang yang menyebut non-Muslim sebagai kafir tak akan bisa memberikan jawaban yang benar. Bagi saya, orang kafir adalah yang disebut oleh Alquran sebagai segolongan orang yang jika diajar atau tidak diajar tentang kebaikan, mereka tetap tidak akan melakukan kebaikan. Salah satu golongan ini adalah yang selalu memanfaatkan orang-orang di sekitarnya, dan mencintai benda, using people loving thing. Jadi, nilai Islam yang saya sampaikan hari ini bisa disimpulkan dalam formula 3 C, yaitu

  • Compassion—kasih sayang

  • Contribution—kontribusi

  • Connectivism—keterhubungan

Tiga hal itulah yang menjadi nilai-nilai seorang Muslim. (bersambung) Artikel transkrip dari Eminent Lecture KH Jalaluddin Rakhmat di Universitas Pendidikan Indonesia, 26 Maret 2013.

1 view0 comments