top of page
  • Akhi

BIANG KEROK PERPECAHAN UMAT


Muhammad Maududi menuding Khawarijisme sebagai biang kerok pecahnya ukhuwah Islamiyah. Sebagai golongan, Khawarij memang sudah lama punah; tetapi sebagai aliran pemikiran, Khawarijisme masih ada. Maududi menulis, "Khawarij tidak pernah masuk ke Indonesia, karena keburu punah. Tetapi, karakteristiknya dijadikan model kefanatikan mazhab oleh semua mazhab yang ada di Indonesia."


Kita boleh tidak setuju dengan pendapatnya. Kita ragu, apakah betul semua mazhab di sini kefanatikannya sama seperti Khawarij? Atau, apakah betul fanatisme mazhab ini sudah ada sejak dulu atau muncul belakangan ini? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, harus lebih dulu dijawab apa tanda-tanda pengikut Khawarij.


Pemahaman yang Formalistis


Pertama, mereka sangat patuh kepada teks-teks Al-Quran dan hadis. Mereka hampir tidak dapat menangkap yang tersirat. Mereka hanya mengambil apa yang tersurat. Orang Khawarij mewajibkan perempuan yang haid untuk berpuasa, karena menurut Al-Quran mereka tidak termasuk yang dibebaskan dari kewajiban berpuasa. Perempuan haid tidak termasuk yang sakit, atau bepergian, atau yang tidak mampu berpuasa. Ketika seorang perempuan mengatakan di depan Aisyah bahwa perempuan haid harus berpuasa, Aisyah bertanya apakah dia seorang Haruri (Khawarij). Dia kemudian menegaskan, "Kami diperintah untuk meng-qadha puasa, tetapi tidak diperintah untuk meng-qadha shalat." Salah satu semboyan Khawarij yang terkenal adalah Lâ hukma illa lilläh (Tidak ada hukum kecuali kepunyaan Allah). Semboyan ini lahir berdasarkan ayat Wa man lam yahkum bi må anzalallah fa ula'ika hum al- kâfirûn (Mereka menghukum kafir siapa saja yang memutuskan perkara tidak berdasarkan Al-Quran). Ali bin Abi Thalib adalah kafir karena menugaskan Abu Musa Al-Asy'ari untuk berdamai dan bermusyawarah dengan Amr bin Ash dalam menyelesaikan Perang Shiffin. "Mengapa harus bermusyawarah. Putuskan saja dengan Al-Quran," begitu pendapat Khawarij. Tindakan Ali mengangkat Abu Musa sebagai hakam (wasit) dianggap sebagai kekufuran.


Untuk mengembalikan kaum Khawarij dalam jamaah Muslim, Ali menyuruh Abbas mengajak mereka berdialog.

"Mengapa kalian menentang Amirul Mukminin?"

"Ketika Ali menjadi pemimpin kaum mukmin, dia mengangkat hakam dalam urusan agama Allah. Dia keluar dari iman. Hendaknya dia bertobat setelah kekafirannya."

"Tidak layak seorang mukmin yang tidak mempunyai keraguan dalam keyakinannya menyebut dirinya kafir."

"Dia sudah ber-tahkim dalam urusan agama Allah."

"Allah menyuruh kita ber-tahkim dalam hal pembunuhan binatang liar ketika ihram, menurut putusan dua orang adil di antara kamu (QS 5:95)." "Ali ber-tahkim, tetapi tidak senang dengan keputusannya."

"Posisi hakam itu seperti imam. Ketika imam salah, maka tidak boleh menaatinya. Begitu pula ketika kedua hakam itu salah; karena bertentangan dengan hukum Allah, semua keputusannya harus ditolak."


Ketika dalam dialog itu mereka terdesak, orang Khawarij berteriak sambil mengutip ayat Al-Quran: Jangan biarkan orang Quraisy berdialog dengan hujjah yang mengalahkan kamu. Mereka adalah kaum yang disebut Allah, Mereka menimbulkan soal itu hanya untuk perdebatan. Sesungguhnya mereka itu kaum yang suka bertengkar (QS 43: 58). Khawarij memang merasa paling berpegang pada Al-Quran hanya karena sudah mengutip sepotong ayat yang menunjang pendapat mereka.


Patuh Ritual, tetapi Kurang Ukhuwah


Orang Khawarij sangat patuh menjalankan ibadah ritual, tetapi sangat kaku dalam hubungan sosial, terutama sesama kaum Muslim. Mereka rajin bangun tengah malam. Bila ayat-ayat mengenai neraka sampai di telinga mereka, berguncang tubuh mereka, seakan-akan mereka berada di pinggir api neraka. Dahi mereka menghitam karena bekas sujud. Tidak jarang mereka terisak-isak dalam shalat mereka. Dikisahkan di depan Nabi tentang seorang laki-laki yang terkenal khusyuk dalam ibadah, tetapi Nabi menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membunuhnya bila menemukannya. Nabi menubuatkan bahwa orang itu akan menjadi sumber perpecahan di kalangan Muslim. Para ulama ahli hadis menyebutkan bahwa orang itu kelak akan menjadi penghulu kaum Khawarij.


Dalam perjalanan dari Kufah ke Nahrawan, seorang Khawarij berjumpa dengan seorang Nasrani dan seorang Muslim. Mereka menjamu dan menghormati Nasrani itu, karena kaum dzimmi menurut Al-Quran harus dilindungi. Mereka membunuh orang Islam karena berbeda pendapat dalam masalah agama, terutama dalam kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Di pertengahan jalan ke Kufah, mereka berjumpa dengan Abdullah bin Habab dan istrinya. Ayah Abdullah adalah sahabat terkemuka, Habab bin Al-Arrat, angkatan pertama Islam yang dianiaya dengan besi panas. Orang Khawarij menginterogasi Abdullah,


"Siapa kamu?"

"Saya orang mukmin."

"Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib?"

"Dia pemimpin kaum mukmin. Orang yang pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."

"Siapa namamu?"

"Abdullah putra Habab bin Al-Arrat, sahabat Rasulullah."

"Apakah kami menyebabkan kamu takut?"

"Benar."

"Jangan takut. Sampaikanlah kepada kami hadis dari ayahmu, yang dia dengar dari Rasulullah Saw. Mudah-mudahan kami memperoleh manfaat dari hadis yang kau sampaikan itu."

"Rasulullah Saw, berkata bahwa akan terjadi fitnah sesudah Rasulullah wafat. Waktu itu, hati orang mati seperti matinya tubuh. Pagi-pagi Muslim dan sore hari kafir."

"Apa pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?"

Abdullah memuji keduanya.

"Bagaimana pendapatmu tentang Ali sebelum tahkim dan Utsman pada enam tahun terakhir pemerintahannya?"

Abdullah memuji keduanya.

"Bagaimana pendapatmu tentang Ali sebelum tahkim?"

"Ali adalah orang yang paling mengenal agama Allah, paling takwa, dan paling tajam mata batinnya."

"Kamu orang yang mengikuti hawa nafsu."


Mereka kemudian mengikat Abdullah dan membawanya ke bawah pohon kurma. Ketika sebiji kurma jatuh, seorang di antara mereka memasukkannya ke mulutnya. Tiba-tiba dia menyadari bahwa kurma itu bukan miliknya. Kurma itu lalu dimuntahkannya kembali. Kawannya yang lain melihat seekor babi lewat. Dia mencabut pedangnya dan membunuh babi itu. Segera setelah itu disadari bahwa babi itu milik orang lain. Dia mendatangi pemiliknya dan meminta keridhaannya. Melihat perbuatan mereka yang saleh itu, Abdullah meminta ampun dan agar dilepaskan. Bukankah mereka sudah memberikan jaminan keamanan baginya? Orang Khawarij tak acuh. Abdullah dibaringkan di atas bangkai babi di pinggir sungai. Dia disembelih. Istrinya yang ketakutan dan sedang hamil tua memohon belas kasihan. Di tempat yang sama pula, mereka menyembelih wanita malang itu. Perutnya dibongkar dan bayinya dilemparkan.


Orang yang begitu patuh menjalankan shalat, yang tidak mau disentuh dengan makanan haram, ternyata dengan dingin membunuh saudaranya sesama Muslim hanya karena berbeda pendapatnya dengan pendapat kelompok mereka.


Kepada Maududi dan kepada diri kita sendiri, kita bertanya apakah betul gejala Khawarijisme seperti itu ada di antara kita?


Adakah di antara kita yang secara kaku berpegang pada Al-Quran dan hadis hanya dalam kerangka pemikiran kelompok kita dan tidak menghormati pemahaman kelompok yang lain? Apakah kita lebih menghargai orang Nasrani ketimbang sesama Muslim? Apakah dengan mudah kita mengafirkan sesama Muslim hanya karena berbeda pendapat dengan kita, lalu menghalalkan darahnya? Atau kita halalkan segala hal- fitnah, kebohongan, tirani, penyalahgunaan kekuasaan-untuk menjatuhkan orang yang tidak sepaham dengan kita?


Bila kita menjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan ini, maka Maududi benar. Khawarij masih berada di sekitar kita.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

59 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page