• Daqaiq Al-Quran

Daqaiq Al-Quran (2B): Rahasia Ayat Ketujuh


Di antara keistimewaan al-Fatihah adalah awal surat yang diawali dengan بسم الله الرحمن الرحيم .


Dalam mahzab Ahlul Bait, بسم الله الرحمن الرحيم masuk menjadi bagian dari ayat dalam setiap surat. Kaum Muslimin pada umumnya ada yang menghitungnya sebagai bagian ayat pertama, ada juga yang tidak. Tetapi pada surat al-Fatihah semuanya sepakat bahwa بسم الله الرحمن الرحيم adalah ayat yang pertama. Karenanya, dalam fikih shalat mahzab Ahlul Bait, kalimat dan ayat pertama itu: بسم الله الرحمن الرحيم, dibaca dengan jelas dan lantang. Ada sebagian tata cara fikih yang tidak mengeraskan membacanya. Semua urusan diberkati karena dimulai dengan ayat ini. Sebagian memulainya dengan mengeraskan. Ada juga yang membacanya dalam hati.


Dalam surat Al-Fatihah, Allah Swt mengajarkan kita cara berdoa. Inilah surat yang ‘berbahasa’ hamba. Sebagaimana disampaikan dalam ayat kelima.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

(Kepada-mu Ya Allah kami menyembah. KepadaMu ya Allah kami beribadah. Dan kepadaMu ya Allah kami meminta tolong.)

(QS Al Fatihah Ayat 5)


Seluruh al-Quran adalah firman Allah Swt dalam bahasa suci Sang Pencipta. Tapi surat al-Fatihah diturunkan dalam lisan seorang hamba. Surat al-Fatihah dibaca sebagaimana hamba membacanya karena itu kemudian ia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari salat kita.


“Tidak sah shalat seorang yang tidak membaca surat al-Fatihah.”

(Shahih Bukhari, Hadis nomor 714.)


Al-Fatihah diturunkan Allah taala dalam bahasa hamba, dalam bahasa makhlukNya.


اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

(Kepada-mu Ya Allah kami menyembah. KepadaMu ya Allah kami beribadah. Dan kepadaMu ya Allah kami meminta tolong.)

(QS Al Fatihah Ayat 5)


Kata kuncinya adalah pada kata kami. Dalam ayat itu Allah Swt menunjukkan pada kita bagaimana kita selayaknya berdoa. Bagaimana adab kita dalam beribadah. Bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ruhaniah kita di dunia ini. Yaitu اِيَّاكَ نَعْبُدُ “kepadamu ya Allah kami”, meskipun kita salat sendirian atau salat munfarid tetap saja ayat itu akan kita baca اِيَّاكَ نَعْبُدُ “kepadamu ya Allah kami” tidak boleh kita ganti menjadi iyyaka a'budu “kepadamu ya Allah aku” walaupun kita salat sendirian. Karena pada surat al-Fatihah itu ada jalan keselamatan yang Allah Swt tunjukkan kepada kita semua: jalan kebersamaan. Kebersamaan dengan siapa? Ada pada lanjutan surat Al-Fatihah sebagai berikut


اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ

(Tunjukillah kami jalan yang lurus)


صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡن

((yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.)

(QS Al-Fatihah Ayat 6-7)


Di sini terdapat dua perbedaan penafsiran yang kembali kepada keistimewaan bahasa Arab, yang dengannya Al-Quran diturunkan. Pada penafsiran yang umum ayat terakhir surat al-Fatihah bermakna “Tunjukkan kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat bukan jalan orang-orang yang engkau murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat”.


Dengan berbagai macam penafsiran terhadap apa yang disebut dengan ‘nikmat’ Allah Swt itu, satu di antara pembahasan kuncinya terletak pada kata ghairi. Bentuknya majrur dengan tanda baca kasrah pada mushaf yang umum. Ghairi, bukan ghairu atau ghaira. Penjelasan mengapa dibaca ghairi adalah karena ia menggantikan dan berada pada posisi badal. Ia menggantikan kata atau kalimat sebelumnya. Yaitu firman Allah Swt صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ “jalan orang-orang yang engkau beri nikmat.”


Dalam bahasa Arab ada kaidah yang disebut mudhof dan mudhof ilaih. Penisbatan sesuatu pada sesuatu lainnya. Defaultnya, segala sesuatu mesti dibaca dengan akhiran u atau un, atau disebut dengan marfu’. Misalnya: kitabu atau kitabun, baitu atau baitun. Kecuali kalau ada unsur yang mengubahnya. Seperti penisbatan. Maka ia berubah menjadi i atau in. Kitab dan Allah, ketika dinisbatkan menjadi kitabullahi.


Dalam pelajaran bahasa Arab, tokoh yang sering disebut adalah Zaid dan ‘Amr. Seperti keluarga Budi dalam pelajaran bahasa Indonesia dulu. Misalnya kita ingin menyampaikan: ini buku Zaid, maka kita akan menyebutnya dengan hadza kitabu zayidin “kitab itu milik Zaid”. Posisi Zaid berubah dari Zaidun menjadi Zaidin.


صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ berada pada posisi yang sama, yaitu penisbatan. Tetapi bukan pada kata melainkan kalimat. Jadi jalan orang-orang yang engkau beri nikmat. ‘Orang-orang yang engkau beri nikmat’ dinisbatkan pada ‘jalan’. Sebagaimana kita bisa menisbatkan suatu jalan pada orang. Misalnya jalan fulan, jalan pak presiden. Gantilah fulan dan presiden itu dalam bentuk kalimat. Maka ia menjadi jalan “orang-orang yang engkau beri nikmat”. Kaidah kalimatnya menjadi majrur. Kalimat itu berada pada posisi dibaca kasrah.


Maka kalimat selanjutnya غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡن menjadi penjelas dari yang dimaksud dengan nikmat ini. Karenanya, terjemahan surat Al Fatihah ayat ke 7 itu bisa diartikan sebagai berikut:


Terjemahan umum: “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang engkau beri nikmat bukan jalan orang-orang yang Kaumurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat”.


Ketika kita menggunakan kaidah penisbatan (mudhof dan mudhof ilaih) ini, maka alternatif terjemahannya menjadi: “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang engkau beri nikmat nikmat…” Apa nikmat Tuhan untuk kelompok ini? Nikmat Tuhan untuk mereka ini adalah mereka “…yang tidak pernah Kaumurkai dan tidak pernah tersesat.”


Jadi ketika kita memohon Shirathal Mustaqim, kita memohon jalan mereka yang beristiqamah. Mereka yang Allah Swt karuniakan pada mereka nikmat. Nikmat Allah Swt untuk mereka itu adalah mereka tidak pernah mendapatkan murka Allah Swt dan juga tidak termasuk kelompok orang-orang yang tidak tahu tidak, yang tidak punya ilmu. Tersesat artinhya tidak tahu jalan, keliru mengambil arahan. غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ tidak pernah mendapatkan murka Tuhan وَلَا الضَّآلِّيۡن tidak pernah juga berada selain berada di jalan petunjuk Allah Swt.


Merekalah orang-orang yang Allah Swt anugerahkan nikmat yang sebenar-benarnya: petunjuk dan kesucian. Petunjuk, karena mereka diberi ilmu. Dan kesucian, karena mereka tidak pernah berbuat dosa. Setiap perilaku dosa mendatangkan ‘murka’ Allah Swt. Hal ini dikuatkan oleh Al-Quran surat al-Ahzab ayat 33


إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

(Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.)

(QS Al Ahzab Ayat 33)


Disucikan Allah Swt sesuci-sucinya artinya Allah Swt tidak pernah murka pada mereka. Itulah nikmat Allah yang dikaruniakan kepada Ahlul Bait as dalam ayat di atas. Inilah kelompok orang yang kita mohonkan agar kita digabungkan bersama mereka dalam setiap al-Fatihah pada shalat kita. Pada saat yang sama, kita bisa juga masuk pada kelompok fawaillul lil mushallin “Maka kecelakaanlah orang-orang yang shalat.”(QS. Al-Maa’uun [107]: 4). Allah yarham ayahanda tercinta biasa menerjemahkannya menjadi “(Neraka) Wail bagi orang-orang yang shalat”.


Ini bisa diartikan dalam dua sisi. Bisa jadi bila kita shalat dan membaca surat al-Fatihah, tapi perilaku kita masih mendatangkan kemurkaan Allah Swt, maka kita termasuk kelompok yang bergabung ke dalam neraka wail itu. Sebaliknya, shalat yang diterima adalah shalat yang mengantarkan diri kita untuk menghindari bencana-bencana yang didatangkan oleh huruf yang tidak ada dalam surat ini.


Saya ingin menggabungkan keduanya dengan mentradisikan sesuatu yang sebetulnya diajarkan oleh orang tua kita dahulu. Kita menggabungkan makna nahnu (kita)dalam kata اِيَّاكَ نَعْبُدُ “kepadamu kami menyembah, kepadamu kami meminta tolong” yaitu dengan mentradisikan untuk mengirimkan bacaan surat al-Fatihah ini.


Guru-guru dan para ulama kita terdahulu menyebut konsep ini tawasulan atau menghadiahkan menghadirkan (hadharah). Yaitu sebelum segala sesuatu kita bacakan surat al-Fatihah kemudian kita hadiahkan dan kita menggabungkan diri kita dengan hamba-hamba Allah Swt yang saleh itu. Kita menggabungkan diri kita dengan Nahnu yang ada di situ. Bukankah dalam shalat ketika kita tahiyat kita membaca Assalamualaina wa ‘alaa ‘ibadillahis shalihin “Salam bagi kami (nahnu/kita) dan bagi hamba-hamba Allah yang shaleh.”


Setidaknya, setiap hari minimal ada tujuh kali hadiah surat al-Fatihah yang kita kirimkan. Kita bisa sampaikan setiap usai shalat atau sebelum kita tidur misalnya.


Al-Fatihah yang pertama kita hadiahkan kepada Baginda Nabi Saw dan keluarganya yang suci.


Al-Fatihah yang kedua untuk para nabi, rasul dan orang-orang saleh sepanjang sejarah. Kita menggabungkan diri kita dalam samudra ibadillahis Shalihin, dengan para kekasih Allah Swt.


Al-Fatihah yang ketiga untuk orang-orang yang telah mengalirkan nikmat Allah Swt sampai pada kita. Orangtua kita, guru-guru, keluarga, karib kerabat, pasangan dan anak-anak. Semua yang telah berbuat baik pada kita. Ini ungkap syukur kita. Ungkap terima kasih kita pada mereka. Mungkin kita tidak sempat berterima kasih pada mereka, kita doakan dengan menghadiahkan bacaan al-Fatihah.


Al-Fatihah yang keempat untuk orang-orang yang mungkin pernah kita sakiti, sengaja atau tidak, yang kita ambil haknya, yang kita buat tidak nyaman dengan perilaku dan perbuatan kita. Tidak sempat kita mohonkan maaf mereka. Maka kita juga antarkan doa bagi mereka.


Al-Fatihah kelima untuk orang-orang yang menyakiti kita. Yang mungkin merendahkan kita dan sebagainya. Prinsipnya sederhana “Bagaimana mungkin kita memohon ampunan Allah Swt kalau kita sendiri menahan maaf kita dari sesama”.


Al-Fatihah yang keenam untuk saudara-saudara kita kaum muslimin yang ditimpa dengan berbagai kesulitan; yang sakit diantara mereka, yang diuji dengan berbagai penderitaan. Saudara kita di tanah air, di negeri tetangga, di Timur Tengah yang hidup dengan penuh ketakutan. Terusir dari tanah air mereka. Kewajiban kita untuk mendoakan mereka. Mudah-mudahan doa yang kita sampaikan melalui keberkahan surat al-Fatihah ini menjadi kifarat dan tebusan karena kekurangan kita memperhatikan mereka.


Dan hadiah bacaan surat Al-Fatihah yang ketujuh adalah untuk doa-doa khusus kita. Untuk keperluan yang kita mohonkan pada Allah Swt pemenuhan dan kebaikannya. Untuk kita, keluarga, dan para tercinta.


Al-Fatihah…


@miftahrakhmat

©2021

41 views0 comments

Recent Posts

See All