• Akhi

Dari Quantum Learning Hingga Kecerdasan Spiritual : Pendekatan Baru Dalam Pendidikan

Updated: May 12



Waktu itu, musim panas 1982, di Kirkwood Meadows, California, di daerah pegunungan di samping Danau Tahoe. Enam puluh empat orang anak muda berkumpul di perkemahan remaja. Bukan untuk menghabiskan waktu dengan sekadar rekreasi. Mereka datang untuk ikut serta dalam program belajar efektif. Bobbi DePorter, Eric Jensen, dan Greg Simmons sedang menerangkan metode belajar yang diramu dari berbagai penemuan ilmiah. Ada tiga keterampilan dasar yang diajarkan: keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampilan hidup (life skills).


"Sebagai dasar untuk kurikulum di atas," kata Bobbi DePorter, "kami menganut falsafah ini.

"Kami percaya bahwa belajar adalah proyek sepanjang hayat yang dapat dilakukan orang dengan penuh ceria dan sukses. Kami percaya bahwa keseluruhan kepribadian sangat penting: intelek, fisik, dan emosi. Kami percaya bahwa harga diri yang tinggi adalah unsur pokok dalam membentuk pelajar yang sehat dan bahagia.


"Untuk mendukung falsafah ini, kami berusaha menciptakan lingkungan belajar begitu rupa sehingga mereka merasa penting, aman, dan senang. Ini dimulai di lingkungan tanaman, seni, dan musik. Kamar belajar harus terasa 'menyenangkan' agar tercapai belajar optimal. Lingkungan emosional juga penting. Dalam program yang kami selenggarakan, para pengajar sangat ahli dalam menciptakan hubungan akrab dengan murid-muridnya. Setelah membangun zona emosional yang aman, mereka membawa para murid berhadapan dengan tantangan yang bisa mereka atasi. Inilah pengalaman yang memberikan kepada mereka perasaan mampu (empowering experience)."


Bobbi DePorter menyebutkan life skills sebagai salah satu di antara keterampilan dasar yang harus diajarkan kepada anak. Dalam rumusan saya, ada tujuh life skills yang sekarang ini diajarkan di sekolah-sekolah yang saya dirikan: SMA Plus Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, dan Sekolah Cerdas Muthahhari (SCM), sebagai Sekolah Dasar berbasiskan Teknologi Informasi. Ketujuh life skills itu adalah:

1. Learning skill

2. Coping skill

3. Communication skill

4. Social skill

5. Financial skill

6. Happiness skill

7. Spiritual skill.


Learning skill sudah sering diperbincangkan. Ketiga keterampilan berikutnya pun ramai didiskusikan. Financial shill melejit setelah diterbitkannya buku-buku karya Robert T. Kiyosaki. Happiness skill dan spiritual skill adalah dua keterampilan yang sebetulnya terkait erat satu sama lain. Saya sudah menulis Meraih Kebahagiaan untuk menceritakan keterampilan hidup bahagia.


Saya tidak tahu life skill seperti apa yang diperkenalkan pada Summer Camp itu. Tapi tampaknya learning skill, dan keterampilan yang menunjang learning shill menjadi fokus utamanya. Jeanette Vos-Groenendal meneliti Super Camp-begitu kemudian perkemahan ini discbut. Ia melaporkan bahwa setelah mengikuti Super Camp, para siswa mengalami kenaikan satu setengah poin dalam nilai rata-rata mereka. Dalam disertasi doktoralnya, Vos-Groenendal menulis bahwa Super Camp "terbukti sangat sukses dan harus diperhitugkan untuk dijadikan model untuk direplikasi".


Berdasarkan saran ini, DePorter dan kawan-kawan mereplikasi kegiatan yang sama di berbagai negara di dunia. Ia menamai penemuannya itu Quantum Learning. Buku-bukunya tentang hal ini juga sudah diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Saya hanya ingin mengulasnya sedikit untuk mengantarkannya pada pembahasan tentang kecerdasan spiritual.


Quantum berarti loncatan. Manusia ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk meloncat, untuk naik di atas kemampuan yang diperkirakan. Kita hanya memanfaatkan sebagian kecil saja dari potensi kita. We live only a small part of the life we are given. Betapa seringnya kita menyia-nyiakan potensi kita, atau juga potensi anak-anak kita, baik karena kesalaha metode atau karena tidak memiliki keterampilan yang relevan. Pendekatan quantum menunjukkan bahwa potensi manusia untuk berkembang (potentials for growth) hampir tidak terbatas. Dan inilah prinsip kecerdasan ruhaniah yang paling dasar: bahwa manusia adalah makhluk ruhaniah yang terus tumbuh. Jalaluddin Rumi menyimpulkan tugas meningkatkan kecerdasan ruhaniah ini dengan salah satu penggalan puisinya:


Kamu dianugerahi Tuhan sepasang sayap

Mengapa kamu di bumi terus merayap


Meyakini ketidakterbatasan kemampuan mamusia adalah modal awal untuk meningkatkan kecerdasan ruhaniah kita. Menurut Teilhard de Chardin, We are not human beings having spiritual experience, we are spiritual beings having human experience. Kita bukan manusia yang punya pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang punya pengalaman yang manusiawi.


Dalam banyak kajan mutakhir, kesadaran akan adanya sesatu yang bersifat ruhaniah dalam diri mananusia, berpengaruh besar terhadap kebahagiaan dan kesuksesan kita: inilah self-awareness, inilah kepekaan kepada "the deep self". Inilah tujuan dari maksimalisasi potensi yang di miliki manusia.


Dalam edisi pertama tahun 1993, Time melaporkan perkembangan sains dengan judul yang mengejutkan: "Science, God, and Man". Setelah mengulas bidang kajian interdisipliner dari Ilya Prigogine, Time menulis, "Mereka percaya dengan waktu yang cukup evolusi mungkin sekali menciptakan spesies dengan sifat esensial kita, tetapi dengan kecerdasan yang begitu besar schingga ia mencapai kesadaran diri. Bahkan para biolog telah lama percaya bahwa kedatangan kehidupan dengan kecerdasan tinggi hampir tidak terelakkan. Untuk sementara, mengakui kepercayaan ini dianggap tabu."


Salah satu tujuan pendidikan adalah memaksimalkan potensi manusia, membantu manusia untuk berkembang mencapai tingkat kesempurnaan setinggi-tingginya. Tetapi, apa pun program pendidikan yang dijalankan, hasilnya sangat tergantung paling tidak pada dua hal: dasar falsafah dan metode. (dasar falsafah dan metode akan dijelaskan pada artikel dikemudian hari)


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari)


46 views0 comments

Recent Posts

See All