top of page
  • Akhi

DARI TAUHID AL-'IBADAH MENUJU TAUHID AL-UMMAH

Updated: Jan 23



Sesungguhnya, umat kamu ini umat yang satu dan Aku Tuhanmu, beribadahlah hanya kepada-Ku. (QS 21:92)


Sekali setiap tahun, jauh di suatu tempat di padang pasir Arabia, sekelompok umat Islam berdesak-desak melempar jumrah di Mina. Ratusan ribu manusia dengan pakaian sudah lusuh, rambut penuh debu, dan keringat membasahi tubuh-berkumpul di sebuah tempat yang kecil. Iring-iringan manusia ini bergerak sejak Jumrah Ula, Jumrah Wustha, sampai Jumrah Aqabah. Kelihatan jutaan tangan terangkat dan batu-batu kecil menghambur, sementara angkasa Mina bergemuruh dengan suara takbir. Dalam lautan manusia yang begitu dahsyat, tangan-tangan pelempar tampak begitu kecil; tetapi dalam gerakan serentak, tangan-tangan kecil ini membentuk konfigurasi kekuatan raksasa yang menakjubkan, suatu kesatuan ummah yang berpadu dalam akidah dan ibadah.


Tidak jauh dari Mina, terletak Arafah, suatu padang pasir yang membentang lengang sepi dan tanpa warna, selain bukit-bukit batu yang muncul di sana sini. Pada 9 Dzulhijjah, ketika mereka berkumpul di sana, Arafah dipenuhi kemah beraneka ragam. Hampir sejuta manusia datang ke situ. Pagi-pagi mereka berkeliaran; sebagian mendaki Jabal Rahmah mengenang perilaku Nabi Muhammad Saw., sebagian lain berjalan-jalan sekadar menyaksikan pesona konferensi umat manusia seluruh dunia. Tetapi, ketika matahari mulai tergelincir, azan zhuhur dikumandangkan, semua manusia menghentikan semua kegiatannya selain tahmid, tahlil, dan takbir. Mulut-mulut yang semula berbicara dengan berbagai bahasa, sekarang bergema dengan ucapan yang sama. Pada saat itulah, menurut Rasulullah Saw., Allah Swt. turun ke langit dunia, membanggakan jamaah haji di hadapan para malaikat-Nya.


"Hamba-hamba-Ku datang kepada-Ku dengan rambut kusut dan penuh debu dari sudut-sudut negeri yang jauh, tiba di sini mengharapkan surga-Ku. Sekiranya dosamu sebanyak bilangan pasir, atau sejumlah butiran hujan, dan gelembung lautan, Aku akan mengampuninya. Berangkatlah, hai hamba-Ku, dengan ampunan-Ku atasmu."


Inilah wukuf di Arafah, inilah inaugurasi jamaah haji, inilah saat paling mendebarkan dalam seluruh perjalanan mereka yang suci. Tidak jarang, di sela-sela suara talbiyah, terdengar isak tangis anak manusia yang menyadari dosa-dosanya yang lalu. Begitu sucinya peristiwa ini, sehingga kalau ada orang mati di Arafah, hendaknya ia dikuburkan dengan kain ihram yang dipakainya. Kelak di Hari Akhir, ujar Rasulullah Saw, "Dia akan dibangkitkan dengan pakaian hajinya; dia akan bangun seraya mengucapkan: labbaik, Allahumma labbaik agar dikiranya dia masih berada di Arafah."


Suara talbiyah sudah bergema sejak 8 Dzulhijjah, ketika rombongan jamaah haji meninggalkan Makkah menuju Arafah. Saat itu para penumpang bus, taksi, atau pejalan kaki sepanjang jalan tidak henti-hentinya berzikir:


Labbaik, Allahumma labbaik. Labbaika lå syarika laka, labbaik. Innal- hamda wan-ni'mata laka wal-mulk, lå syarika lak.


(Kami datang memenuhi panggilan-Mu, kami datang memenuhi panggilan-Mu; ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu; sesungguhnya segala pujian, karunia, dan kekuasaan, semua kepunyaan-Mu.)


Jamaah haji dari bermacam-macam bangsa dan bahasa sekarang berzikir dengan bahasa yang sama. Pakaian mereka pakaian ihram yang sama. Laki-laki semua memakai pakaian putih, tidak berjahit, dan membuka setengah dada. Tidak ada beda raja dengan hamba sahaya, pembesar dengan rakyat jelata, sarjana dengan orang biasa. Semua gelar kebanggaan yang sering digunakan untuk merendahkan orang, sekarang ditinggalkan; segala pakaian dan kekayaan yang sering ditampakkan untuk melukai hati kaum fukara, sekarang dilepaskan; seluruh pangkat kebesaran yang sering ditonjolkan untuk menakut-nakuti orang, kini dilemparkan. Semua sama di hadapan Allah Rabbul 'Alamin, semua kecil di depan Penguasa Alam Semesta.


Inti Ajaran Islam


Ibadah haji sesungguhnya mengungkapkan inti ajaran Islam: tauhid al-'ibadah dan tauhid al-ummah, mempersatukan pengabdian dan mempersatukan ummah. Bayangkan, setiap hari jutaan manusia beribadah dengan cara yang sama dan membaca bacaan yang sama. Bahkan ketika saudara-saudara kita wukuf di Arafah, kita pun di sini wukuf pula dengan melakukan ibadah puasa. Ketika mereka menggemakan takbir di bukit-bukit Mina, di sini kita gemakan takbir yang sama. Dari kesatuan ibadah inilah lahir kesatuan ummah.


Islam bukan saja mengajarkan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah, tetapi Islam juga mengutuk sikap mental yang melebihkan satu kelompok manusia atas kelompok yang lain. Merasa mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang lain karena keturunan, kekuasaan, pengetahuan, dan kecantikan dikutuk oleh Islam sebagai takabur. Rasulullah Saw. bersabda,


"Akan dihimpun orang-orang yang sewenang-wenang dan takabur pada hari kiamat sebagai butir-butir debu. Mereka akan diinjak-injak oleh manusia karena sangat hinanya di sisi Allah Taala."


Itulah sebabnya, pada suatu hari Rasulullah Saw. marah ketika mendengar Abu Dzar memanggil Bilal,


"Hai, anak dari perempuan hitam."

Rasulullah Saw. menepuk bahu Abu Dzar seraya berkata,


"Terlalu, terlalu. Tidak ada kelebihan orang putih atas orang hitam, kecuali karena amal saleh."


Abu Dzar segera menjatuhkan diri ke tanah, diratakannya pipinya dengan debu, dan dimintanya Bilal menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kesombongannya. Abu Dzar tahu bahwa dalam Islam menyombongkan diri karena keturunan adalah dosa besar. Sejak itu, Abu Dzar menjadi orang yang sangat rendah hati. Dipilihnya hidup seperti orang miskin, dan bergaul juga dengan orang-orang miskin-kelompok yang sering direndahkan oleh masyarakat. Abu Dzar sering mewakili kepentingan orang-orang lemah. Ketika salah seorang sahabat Abu Dzar mendirikan rumah yang lebih bagus, dengan tegas Abu Dzar memberi peringatan: "Engkau angkut bata-bata di atas tengkuk manusia." Dengan itu, Abu Dzar ingin mengingatkan orang-orang kaya bahwa mereka menjadi kaya karena keringat dan jerih payah orang-orang miskin. Dengan itu pula, Abu Dzar ingin mengajarkan bahwa orang kaya sepatutnya memberikan penghormatan mereka kepada orang-orang miskin.


Cambuk Keadilan Islam


Setelah Rasulullah Saw. meninggal dunia, asas persamaan dan keadilan ini dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya. Suatu hari, seorang rakyat kecil berangkat dari Mesir menuju Madinah. Ditempuhnya jarak yang jauh, hanya untuk mengadukan halnya kepada Umar bin Khattab. "Ya Amirul Mukminin," ujar tamu dari Mesir ini, "suatu hari aku bertanding menunggang kuda dengan anak Amr bin Ash, Gubernur Islam di Mesir. Ia memukulku dengan cambuknya sambil menyombongkan diri, 'Aku anak orang yang mulia!" Berita ini sampai kepada ayahnya. Karena khawatir aku datang melapor kepadamu, ayahnya memasukkan aku ke penjara. Aku berhasil lolos, dan sekarang datang mengadu kepadamu."


Umar segera mengirim surat kepada Gubernur Amr bin Ash. Dimintanya agar Amr bin Ash dan anaknya datang pada musim haji. Setelah selesai haji, di hadapan orang banyak, Umar melemparkan cambuk kepada rakyat dari Mesir tadi: "Pukul anak orang mulia itu." Sekarang anak orang besar itu harus meraung-raung dalam cambukan keadilan Islam. Umar bahkan menyuruh agar ayahnya dicambuk pula, "Pukulkan cambuk itu di atas rusuk Amr." Namun, pengadu itu hanya berkata, "Aku sudah cukup memukul orang yang memukulku." Ketika itu Umar berkata kepada Amr bin Ash dengan suatu perkataan yang baru digunakan di Eropa pada masa Revolusi Prancis, dan digunakan di Amerika ketika Declaration of Independence ditulis: "Wahai Amr bin Ash, mengapa engkau perbudak manusia, padahal mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?"


Memperbudak manusia berarti melanggar tauhid al-ummah yang menjadi batu penyangga ajaran Islam. Memperbudak manusia berarti mendehumanisasikannya, merendahkan martabatnya, merampas hak-hak asasinya, dan memperlakukannya sebagai robot tanpa pikiran dan perasaan. Memperbudak manusia berarti memasung kebebasan untuk menyatakan pendiriannya, menjalankan keyakinannya, dan mengejar cita-cita hidupnya.


Perusak Tauhid Al-Ummah


Dalam perjalanan sejarah, paling tidak ada tiga hal yang sering merusak tauhid al-ummah, yang sering menyebabkan sekelompok masyarakat memperbudak kelompok lain. Ketiga hal itu ialah keturunan, kekuasaan, dan kekayaan.


Kebanggaan karena keturunan tidak hanya telah menimbulkan feodalisme, tetapi juga imperialisme. Selama berabad-abad orang kulit putih mengira bahwa mereka adalah manusia istimewa yang ditakdirkan untuk "membudayakan" bangsa-bangsa kulit berwarna. Gerakan Eugenics, gerakan yang menggunakan topeng pengetahuan untuk menunjang kelebihan satu ras atas ras lain, sampai sekarang masih banyak pengikutnya. Paham inilah yang menjerumuskan jutaan manusia ke dalam belenggu penjajahan dan penindasan. Sebelum Perang Dunia Kedua, di Jerman, Hitler mengajarkan tentang keunggulan bangsa Aria, dan melempar jutaan manusia yang tiada berdaya ke dalam kamar-kamar penyiksaan dan kamp-kamp konsentrasi. Bangsa Jepang pernah menganggap dirinya keturunan Dewa Matahari, dan "memimpin" orang Timur dengan menyebarkan maut dan penderitaan. Di Amerika, negara paling maju, seperti kata Martin Luther King, "Orang Negro masih dengan sedih dipasung dalam belenggu segregasi dan diskriminasi." Sedangkan di Indonesia, keturunan masih sering dipergunakan untuk melegitimasikan hak-hak istimewa dan menyingkirkan orang-orang yang tidak dikehendaki.


Umat manusia harus menundukkan kepala dan merenungkan kembali sabda Rasulullah Saw:


"Tidak ada kelebihan orang kulit putih atas orang kulit hitam, kecuali karena amal saleh."


Setelah keturunan, kekuasaan sering dipakai untuk menindas orang lain. Sering, lantaran mempunyai wewenang, orang bertindak sewenang- wenang. Allah Swt. mengingatkan kita tentang Fir'aun yang menyeret ribuan budak belian untuk membangun piramida, kuburan para raja. Fir'aun memberikan hak istimewa kepada suatu kelompok masyarakat untuk menindas kelompok lain.


Sesungguhnya hanya Firaun berbuat sombong di bumi, dipecah- pecahnya masyarakat menjadi bermacam-macam golongan, sebagian menindas golongan yang lain; membunuh laki-lakinya dan membiarkan perempuannya. Sesungguhnya ia termasuk orang yang berbuat kerusakan. (QS 28:4)


Dewasa ini masih banyak kita lihat Fir'aun kecil yang tertawa gembira di atas penderitaan orang lain; Fir'aun-Fir'aun kecil yang menggunakan wewenang untuk berbuat sewenang-wenang. Hari ini, suara Umar bin Khattab kepada Amr bin Ash terdengar nyaring kembali: "Mengapa engkau perbudak manusia, padahal mereka dilahirkan ibunya dalam. keadaan merdeka?"


Selain kekuasaan, kekayaan sering dijadikan sebagai alat untuk menindas orang lain. Allah Swt. berfirman,


Sesungguhnya manusia itu sewenang-wenang bila ia merasa dirinya berkecukupan. (QS 96:6-7)


Banyak orang kaya mengira bahwa dengan uangnya ia dapat berbuat apa pun. Karena jumlah pencari kerja begitu banyak, terkadang kita tidak segan-segan mengupah mereka dengan upah yang tak akan mencukupi kehidupannya. Tenaga mereka kita peras supaya keuntungan kita bertambah. Karena kaya, kita sering memperbudak pembantu kita, yang bukan saja harus bekerja dari pagi sampai sore, tetapi juga harus siap. dicaci maki kalau berbuat kesalahan. Karena kita kaya, sering kita palingkan muka dari kaum fuqara' dan memilih bergaul hanya dengan orang kaya; mengucapkan kata-kata halus kepada sahabat-sahabat kita, dan kata-kata kasar buat sopir dan tukang kebun kita. Marilah kita resapi kembali ucapan Abu Dzar: "Engkau angkut bata-bata di atas tengkuk orang lain."


****


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

63 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page