• Akhi

Definisi-Definisi Ujub


Kata ujub (al-'ujub) secara bahasa berasal dari kata 'ajiba- ya'jabu-'ujban, yang berarti kagum. Dari kata ujub itu kemu- dian masuk ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata takjub. Ta'ajub berarti mengagumi sesuatu. Sedangkan sesuatu yang mengagumkan disebut 'ajib. I'jab berarti menimbulkan kesan kepada orang lain supaya kagum terhadap kita. Dalam psikologi modern, hal itu disebut impression formation. Hal ini, misalnya, terjadi ketika saya berbicara di hadapan para ulama Nahdlatul Ulama (NU). Saya membawa makalah yang ditulis dengan huruf Arab gundul dan mengutip kitab-kitab kuning (yang sebenarnya saya kutip dari kutipan juga). Saya berusaha untuk membentuk kesan agar para ulama NU ber- anggapan bahwa yang berbicara di depan mereka bukan saja lulusan perguruan tinggi, melainkan juga mahir mene- laah kitab kuning.


Yang dimaksud dengan ujub, menurut kamus bahasa Arab Munjid, adalah suatu keadaan kejiwaan yang se- waktu-waktu dapat kita temukan di dalam diri kita. Umum- nya ujub didefinisikan melalui indikator-indikator tertentu. Tanda-tanda tersebut biasanya adalah sombong, takabur, menolak dikritik orang, serta menganggap diri kita sem- purna.


Beberapa ulama akhlak dan tasawuf mendefinisikan ujub sebagai: menganggap besar kenikmatan dan cende- rung pada kenikmatan itu sambil lupa untuk menisbahkan nikmat kepada Sang Pemberi Nikmat. 'Alamah Al-Majlisi, penulis Mafatih Al-Jinan, mengartikan ujub sebagai meng- anggap sudah banyak beramal saleh dan menganggap amal saleh yang telah dilakukan itu besar dan hebat. Adapun merasa bahagia dengan amal saleh, masih menurut Al-Majlisi, jika itu dilakukan sambil merendahkan diri di hadapan Allah Swt. dan bersyukur kepada-Nya atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, hal itu tidak disebut dengan ujub, tetapi suatu kebaikan yang terpuji.


Imam Khumaini melancarkan beberapa kritik atas definisi yang diberikan Al-Majlisi tersebut. Pertama, Imam Khumaini berpendapat bahwa ujub itu tidak hanya berkenaan dengan amal saleh saja, tapi juga dapat berkenaan dengan amal yang salah. Kedua, ujub tidak hanya di dalam masalah amal-amal, tapi juga berada dalam dataran akidah. Kritik ketiga dari Imam Khumaini adalah tentang perasaan bahagia akan amal salih. Menurut Imam, bahagia dengan amal salih itu boleh-boleh saja untuk orang awam. Tetapi untuk orang yang telah mencapai maqam tertentu, ia tidak akan pernah bahagia dengan amal salihnya. Ia akan selalu merasa bahwa dia tidak berarti apa-apa. Kalaupun ia bisa beramal saleh, itu pun karena anugerah Allah swt. Ia akan selalu merasa kurang akan amal-amalnya.

Ayatullah Ahmad Al-Fahri menulis bahwa yang dimaksud dengan ujub adalah jika manusia telah menganggap dirinya tak memiliki kekurangan lagi. Ia merasa dirinya sudah tak bercacat. Bila ia beribadah, ia merasa ibadahnya sempurna. Ahmad Al-Fahri mengutip hadis dari Imam Musa bin Jakfar as: Beliau pernah memberi nasihat kepada sebagian putranya, “Hai anak-anakku. Hendaknya kamu sungguh-sungguh beramal. Janganlah kamu mengeluarkan dirimu dari perasaan kurang. Jangan sampai dirimu tidak merasa bercacat dalam beribadah kepada Allah atau dalam mentaatinya. Karena Allah tidak pernah bisa diibadati dengan ibadat yang sebenar-benarnya. Sampai Nabi saw saja bersabda: Aku belum mengenal-Mu dengan pengenalan yang sebenarnya dan aku belum beribadat kepada-Mu dengan ibadat yang sebenarnya.”


Dalam kitab Al-Kafi terdapat sebuah hadis dari Jabir. Jabir meriwayatkan: Berkata Abu Jakfar kepadaku, “Ya Jabir, semoga Allah tidak mengeluarkan kamu dari perasaan kurang atau perasaan bersalah.” Berkenaan dengan hal ini, Syeikh Baha’uddin Al-‘Amili berkata, “Tidak syak lagi. Orang yang beramal salih, baik berpuasa di siang hari dan salat tahajud di malam hari, semua amal itu pastilah menimbulkan rasa bahagia di hatinya. Bila ia merasakan kebahagiaannya sebagai pemberian dari Allah dan nikmat Allah kepadanya, seraya ia takut Allah akan menghilangkan kenikmatan itu darinya, dan ia berharap Allah akan menambahnya; maka tidaklah kita hitung rasa bahagia itu sebagai perasaan ujub. Namun bila orang itu melihat bahwa amal-amal salihnya itu adalah sifatnya; bahwa semua amal salih itu terjadi karena kemauannya; dan dia menganggap amal-amal salihnya telah besar, lalu melihat dirinya sudah tidak mengalami kekurangan lagi, maka masuklah dia ke dalam ujub.”


Banyak ayat di dalam Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk senantiasa menyucikan diri. Tetapi dalam Surah Al-Nisa' dan Al-Najm, Allah Swt. justru mengecam orang yang menyucikan diri mereka. Para penyuci diri yang dikecam Allah adalah mereka yang menganggap diri mereka sebagai orang-orang suci dan menonjolkan kesucian dirinya itu. Dalam Surah Al-Nisa' ayat 49-50 tersebut, Allah Swt. berfirman, Tidakkah kamu perhatikan orang- orang yang menonjolkan kesucian dirinya, padahal Allahlah yang menyucikan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Perhatikan bagaimana mereka berbuat dusta kepada Allah dan cukuplah perbuat- an dosanya sebagai perbuatan yang nyata. Dan dalam Surah Al-Najm ayat 32, Allah Swt. berfirman, Janganlah kamu anggap dirimu suci. Allah mengetahui siapa yang paling takwa di antara kamu.


Mengapa Tuhan melarang dan mengecam orang-orang yang menyucikan dirinya? Di dalam kitab-kitab tafsir dijelaskan bahwa istilah "menyucikan diri" pada dua ayat di atas tidak sama maksudnya dengan istilah "menyucikan diri" dalam ayat-ayat yang lain. Kita diperintahkan untuk menyucikan diri kita, tetapi kita dilarang untuk menganggap diri kita suci. Kita tidak boleh memperlihatkan kepada orang lain tentang kesucian diri kita atau menonjolkan kesalehan kita.


Nabi Muhammad Saw. adalah orang yang secara nyata telah disucikan oleh Allah. Meskipun demikian, kesuciannya tidak menghalangi dirinya untuk beribadah dan bersyukur. Diriwayatkan pada suatu malam Ummu Salamah terbangun dari tidurnya. Ia mendengar Nabi Muhammad sedang beristighfar sambil menangis di sudut kamar. Ummu Salamah bertanya, "Wahai Nabi Allah, mengapa engkau harus menangis dan merintih seperti itu padahal Allah telah menyucikan dirimu?" Nabi menjawab, "Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur...."


Peristiwa itu menggambarkan kepada kita bahwa Rasulullah tidak menganggap dirinya sebagai orang suci. Rasulullah masih menganggap dirinya kurang dalam hal ibadah dan bersyukur. Dalam salah satu doanya, Rasulullah berkata, "Ya Allah, aku belum mengenal Engkau dengan pengenalan yang sebenar-benarnya. Aku belum beribadah kepada-Mu dengan ibadah yang sebenar-benarnya."


Mengapa Nabi Saw. melakukan hal seperti itu? Karena Nabi Saw. tidak ingin melanggar Surah Al-Nisa' ayat 49-50 dan Al-Najm ayat 32. Allah Swt. menilai orang yang menonjolkan kesucian dirinya sebagai orang yang telah melakukan dosa yang nyata. Begitu juga halnya dengan orang yang mengklaim diri mereka sebagai orang yang diridhai Allah. Al-Quran bercerita tentang orang-orang kaya yang mengatakan Allah telah memuliakan mereka dengan memberikan rezeki yang banyak. Namun ketika mereka sengsara, mereka berkata, Tuhanku menghinakan diriku (QS Al-Fajr [89]: 15-16). Orang-orang tersebut telah jatuh ke dalam penyucian diri yang tercela.


Orang yang menganggap diri mereka suci dan menonjolkan kesucian diri itu disebut i'jab. Perbuatan yang mereka lakukan disebut ujub. Dalam tasawuf, ujub diartikan sebagai perasaan kagum akan kesucian diri kita. Rasulullah Saw. bersabda, "Ada tiga hal yang membinasakan manusia: mengikuti kebakhilan, memperturuti hawa nafsu, dan merasa takjub terhadap pendapatnya sendiri."


Dalam Surah Al-Kahfi ayat 103-105, Allah Swt. bercerita tentang ujub: Katakanlah, "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi per- buatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuat- annya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat- ayat Tuhan mereka dan kufur terhadap perjumpaan de- ngan dia; maka hapuslah amalan-amalan mereka dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat."


Ayatullah Al-Fahri menerangkan tanda-tanda orang yang melakukan ujub dalam amal saleh sebagai berikut. Pertama, mereka merasa bangga dengan amal-amal mereka dan benar-benar bersandar pada amalnya itu. la yakin dengan amalnya itu ia dapat masuk surga. Kedua, mereka memandang amal orang lain lebih jelek daripada amal dirinya.


Selanjutnya, Ayatullah Al-Fahri juga menyebutkan bahwa ujub itu terbagi ke dalam beberapa bagian. Pertama, ujub dalam arti merasa bahwa kita memiliki akidah yang paling benar. Orang lain yang berbeda akidah dengan kita dianggap sesat. Kedua, ujub dalam akhlak. Kita merasa bahwa akhlak kita jauh lebih mulia daripada akhlak orang lain. Ketiga, ujub dalam amalan.


Ketiga ujub tersebut dapat menghancurkan amal kita dan menghilangkan seluruh pahala dari amal kita tersebut. Imam Ja'far Al-Shadiq a.s. berkata, "Barang siapa yang kemasukan ujub, ia pasti celaka."


Rasulullah Saw. pernah bercerita tentang dua orang Bani Israil yang saling bersahabat. Salah seorang di antara mereka adalah seorang pendosa dan yang lain adalah orang yang rajin beribadah. Sahabat yang suka beribadah itu tidak henti-hentinya memandang saudaranya yang satu itu se- bagai orang yang tenggelam dalam dosa. Berulang-ulang dia berkata kepada sahabatnya, "Cobalah kamu kurangi berbuat dosa." Suatu saat, si pendosa itu dipergoki sedang berbuat dosa oleh si saleh. Sahabat yang penuh dosa itu berkata, "Biarkan aku! Hal ini adalah urusanku dengan Tuhanku. Apa engkau diutus Tuhan untuk mengurus aku?" Sahabat yang saleh itu marah dan berkata, "Demi Allah, Tuhan tidak akan mengampuni dosa-dosa kamu dan Tuhan tidak akan memasukkan kamu ke dalam surga." Tak lama setelah peristiwa tersebut, kedua orang itu meninggal dan bertemu di hadapan Allah Swt. Tuhan berkata kepada si saleh, "Apakah engkau mengetahui keputusanku? Apakah engkau mampu menentukan apa yang ada di tanganku? Masuklah kamu ke neraka." Sementara Tuhan berkata kepada si pendosa, "Pergilah kamu dan masuklah ke surga dengan kasih sayang- Ku." (Ushul Al-Kafi, juz dua, halaman 313)


Hadis ini mengguncangkan banyak orang, terutama orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai ahli ibadah. Mereka mempersoalkan keadilan Ilahi: mengapa pendosa bisa masuk surga dan ahli ibadah masuk neraka.


Seorang ulama berpendapat bahwa ada dua kesalahan yang dilakukan si saleh; dalam perihal ibadahnya dan dalam hal mendikte Tuhan dengan ibadahnya itu. Ibadah adalah obat yang akan menyelamatkan kita sedangkan maksiat adalah racun yang akan membinasakan kita. Kelirulah orang yang makan obat, tapi sekaligus meminum racun. Ibadahnya adalah obat, dan ujub adalah racun.


Orang yang takjub akan dirinya itu adalah orang yang selalu mencemooh orang lain yang berdosa. Dia ujub dengan keadaan dirinya bahkan kemudian ia melakukan perbuatan mendikte Tuhan. Ia bersikap "sok tahu" terhadap keputusan Tuhan. Mendikte Tuhan adalah dosa yang besar. Nabi bersabda, "Celakalah orang-orang yang mendikte terhadap putusan Tuhan."



KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

72 views0 comments

Recent Posts

See All