• Akhi

Derita Imam ‘Ali


“Ketika Muawiyah mengirimkan Sufyan bin ‘Auf al-Ghamidi untuk menjarah kota Anbar, ia mengirimkan 6000 penunggang kuda. Mereka menyerang Hit dan Anbar, membunuhi kaum muslimin, merampas perempuan mereka, dan memaksa orang untuk melaknat Imam ‘Ali. Mendengar berita itu Amirul Mukminin mengajak orang untuk memerangi mereka. Sebelumnya mereka berdiam diri saja. Ali memerintahkan orang untuk berkumpul.

Ia menyampaikan khotbah. Setelah memuji Allah dan membacakan shalawat kepada Rasulillah, ia berkata: ’Amma ba’d: wahai manusia! Demi Allah penduduk kota kalian sekarang ini lebih banyak dari jumlah orang Anshar di tengah-tengah bangsa Arab. Ketika mereka membuat perjanjian dengan Rasulullah untuk membela dia dan orang-orang muhajir yang besertanya, sehingga Rasulullah menyampaikan Risalah tuhannya, mereka hanyalah dua kabilah yang paling muda usianya di tengah-tengah bangsa Arab. Bilangan mereka juga bukan yang paling banyak. Ketika mereka melindungi Rasulullah dan para sahabatnya, membela Allah dan agamanya, bangsa Arab bersatu dan melakukan perjanjian bersama dengan kaum Yahudi. Kabilah demi kabilah memerangi mereka. Tetapi mereka persembahkan dirinya untuk agama. Mereka putuskan hubungan di antara mereka dan orang Arab lainnya dan di antara mereka dan orang Yahudi… sampai dekatlah Rasulullah dengan orang Arab. Ia melihat mereka dengan bahagia sebelum Allah memanggilnya kehadiratNya. Kalian sekarang ini lebih banyak dari mereka pada zaman itu.” Berdirilah seorang lelaki hitam dan tinggi. Ia berkata: ”Engkau tidak sama seperti Muhammad! Kami juga tidak sama dengan orang-orang yang kau sebut itu. Janganlah engkau bebani kami dengan apa yang kami tidak mampu melakukannya.” Amirul Mukminin berkata: “dengarkan baik-baik supaya engkau mendapat jawaban yang baik. Celakalah kalian! Kalian hanya merisaukan daku. Apakah aku bercerita kepada kalian bahwa aku seperti Muhammad saw, dan kalian seperti para pembelanya? Aku hanya membuat perumpamaan. Aku ingin kalian belajar dari perumpamaan ini.” Seorang lelaki lain berdiri dan berkata: “Betapa perlunya Amirul Mukminin dan orang besertanya kepada ahli Nahrawan.” Dari setiap penjuru orang berbicara sehingga terdengar suara hiruk pikuk. Maka berdirilah seorang lelaki lainnya lagi dengan suara yang sangat keras: “Jelas sekali bagaimana penduduk Irak kehilangan Asytar. Sekiranya ia masih hidup tidak akan terjadi hiruk-pikuk seperti ini. Setiap orang akan berbicara yang ia ketahui.” Kemudian Amirul Mukminin berkata: “Biarkan ibu-ibu menangisi anaknya yang keguguran! (Imam Ali menegur mereka dengan keras seakan-akan mereka adalah anak-anak yang seharusnya gugur sebelum lahir dan ditangisi ibunya) Aku lebih berhak ditaati ketimbang Asytar. Bukankah hak Asytar atas kalian adalah semata-mata hak seorang muslim kepada muslim lainnya.” Ia turun dari mimbarnya dalam keadaan murka.(al-amâli 173,293; al-ghârât 2:479; syarh nahj al-balaghah 2:89). Penggalan sejarah di atas kita kutip untuk menunjukkan betapa beratnya Imam Ali menghadapi para sahabatnya. Mereka tidak terbiasa mentaati pemimpinnya yang adil. Mereka hanya patuh kepada pemimpin yang menggunakan madu dan racun untuk menegakkan kekuasaannya. Imam Ali hanya menawarkan kebenaran. Betapa sedikitnya orang yang mau menerima kebenaran dan setia mempertahankannya. Ia tahu bahwa manusia lebih tertarik untuk bergabung dengan orang-orang yang menawarkan dunia. Ia menyebutnya maidah, hidangan. Ia berkata: “Lâ tastawhisyū fi tharīqil hudâ liqillati ahlih. Fainnan nâsa qad ijtama’ū ‘ala mâidah syiba’uha qashīr wa ju’uha thawīl” ( Nahj al-Balaghah, Khuthbah 192). Janganlah kamu merasa kesepian di jalan petunjuk karena sedikit pengikutnya. Manusia sungguh hanya berkumpul di sekitar hidangan. Kenyangnya sebentar, laparnya berkepanjangan. Seperti akan kita uraikan kemudian, banyak sahabat Imam Ali berbelot karena ingin mendekati hidangan duniawi sekarang; sementara Imam Ali menawarkan hidangan surgawi pada hari akhirat kelak.. Saya tidak tahu apakah sudah “fitrah” manusia bahwa mereka sangat taat kepada pemimpin yang zalim tetapi sangat membangkang kepada pemimpin yang adil. Lihatlah kembali kutipan di atas. Mungkinkah mereka berani bersuara hiruk pikuk di depan Muawiyyah atau Ibn Ziyad? Mereka berani berbuat begitu di depan Imam Ali, karena mereka tahu Imam Ali tidak akan menindak mereka dengan pedangnya. Karena ia menegakkan kekuasaannya di atas keadilan dan kebenaran, orang banyak berani menentangnya. Kalau jihad yang paling utama adalah berbicara yang benar di depan penguasa yang zalim, rakyat imam Ali bebricara yang batil di depan penguasa yang adil. Semua rakyat takut kepada penguasanya yang zalim. Imam Ali takut akan kezaliman rakyatnya. Pada tahun 39 H, Muawiyyah mengirimkan berbagai pasukan ke seluruh penjuru daerah kekuasaan Imam Ali. Nu’man bin Basyir disuruhnya menyerang ‘Ainut Tamar, Sufyan bin ‘Auf ke Anbar dan Hit, Abdullah bin Mas’adah ke Tayma, Al-Dhahhak bin Qais ke pinggiran Kufah, Busur bin Arthah ke Madinah dan Makkah. Di berabagai penjuru negeri itu mereka melakukan penjarahan, perkosaan, pembunuhan dengan cara-cara yang keji. Pada suasana kritis itu, Imam Ali mengajak rakyatnya untuk berperang, melawan agresi dari kaum yang zalim. Tampaknya “sense of crisis” yang dimiliki Imam Ali tidak terdapat pada para pengikutnya. Mereka ogah-ogahan. Ketika panggilan datang, mereka pura-pura tidak mendengar. Mereka bersembunyi di rumah-rumahnya, “seperti biawak yang bersembunjyi di sarangnya” dalam kalimat Imam Ali. Imam Ali menyampaikan instruksi, tetapi mereka tidak menggubrisnya.. Dengan murkan, Imam Ali menyampaikan khutbah berikut ini: “Walaupun Allah memberikan waktu kepada si penindas, ia tak akan luput dari tangkapan-Nya. Allah mengawasinya pada jalur perjalanannya dan pada kedudukan yang melemaskan kerongkongan. Demi Allah yang hidupku dalam kekuasaan-Nya, orang-orang ini (Muawiyah dan orang-orangnya) akan menguasai Anda; bukan karena mereka lebih berhak dari Anda\, melainkan bergegasnya mereka menuju kepada yang salah bersama pemimpin mereka, dan kelambanan Anda tentang hak saya (untuk diikuti). Orang takut akan penindasan oleh para penguasa mereka, sementara saya takut akan penindasan oleh rakyat saya. Saya memanggil Anda, tetapi Anda tak datang. Saya memperingatkan Anda, tetapi Anda tak mendengarkan. Saya memanggil Anda secara rahasia maupun terbuka, tetapi Anda tidak menjawab. Saya berikan kepada Anda nasihat yang tulus, tetapi Anda tidak menerimanya. Apakah Anda hadir sebagai tak hadir, dan budak sebagai tuan? Saya bacakan kepada Anda pokok-pokok kebijaksanaan, tetapi Anda berpaling darinya, dan saya nasihati Anda dengan nasihat yang menjangkau jauh, tetapi Anda menjauh darinya. Saya bangkitkan Anda untuk berjihad terhadap orang durhaka, tetapi sebelum saya mencapai akhir bicara saya, saya lihat Anda bubar seperti anak-anak Sabâ. Anda kembali ke tempat-tempat Anda dan saling menipu dengan nasihat Anda. Saya luruskan Anda di pagi hari, tetapi Anda kembali kepada saya di petang hari (dalam keadaan) bengkok seperti belakang busur. Si pelurus telah letih sementara yang diluruskan sudah tak dapat diperbaiki. Wahai, orang-orang yang badannya hadir tetapi akalnya tak hadir dan keinginan-keinginannya bertebaran. Para penguasa mereka sedang dalam ujian. Pemimpin Anda menaati Allah, tetapi Anda membangkanginya; sedang pemimpin orang Suriah membangkangi Allah, tetapi mereka menaatinya. Demi Allah, saya ingin Muawiyah bertukaran dengan saya seperti dinar dengan dirham sehingga ia mengambil ddari saya sepuluh di antara Anda dan memberikan kepada saya satu dari mereka. Wahai penduduk Kufah, saya telah mengalami dalam diri Anda tiga hal dan dua lainnya: Anda tuli walaupun Anda bertelinga, bisu walaupun bercakap, buta walaupun bermata. Anda bukan pendukung yang sebenarnya dalam pertempuran, dan bukan pula sahabat yang dapat diandalkan dalam kesedihan. Semoga tangan Anda dilumuri tanah. Wahai (manusia) yang seperti unta yang gembalanya telah menghilang, apabila mereka dikumpulkan dari satu sisi, mereka bertebaran dari sisi lain. Demi Allah, saya melihat Anda dalam khayalan saya bahwa apabila peperangan menjadi sengit dan tindakan sedang penuh gerak, Anda akan lari dari putra Abu Thalib seperti perempuan yang menjadi telanjang di depan. Sesungguhnya saya berada pada petunjuk yang jelas dari Tuhan saya dan pada jalan Nabi saya, dan saya berada pada jalan yang benar yang saya ikuti secara teratur. (Puncak kefasihan, khutbah 96). Imam Ali bukan meramal. Ia menceritakan apa yang dialaminya. Tiga tahun sebelumnya, Mesir diserang Amr bin Ash. Gubernur yang ditunjuk Imam Ali di situ adalah Muhammad putra Abu Bakar, adik ‘Aisyah. Ketika sampai di Mesir, pasukan Kinanah yang diutus Muhammad menghadangnya. Amr bin Ash meminta tambahan bala bantuan. Muawiyah bin Hudayj al-Sukuni tiba dengan segera. Kinanah dan anggota-anggota pasukannya dikepung dari segala penjuru. Kinanah turun dari kudanya sambil membaca Al-Quran; Tidaklah satu diri akan mati kecuali dengan izin Allah, ketentuan yang sudah ditetapkan waktunya. Barangsiapa yang menghendaki pahala dunia kami akan memberikannya. Barangsiapa menghendaki pahala Akhirat kami akan memberikannya juga. Kami akan membalas orang-orang yang bersyukur’ (Ali Imran 145). Ia pun dan para pengikutnya ditebas dengan pedang. Mereka syahid. Berita hancurnya pasukan Kinanah meruntuhkan moral tentara Muhammad bin Abu Bakar. Mereka meninggalkannya sendirian. Muhammad mengirimkan surat meminta bantuan pasukan kepada Imam Ali. Sementara pasukan belum datang, ia bersembunyi sendirian di sebuah puing-puing di pinggir jalan. Muawiyah menemukannya dan mengeluarkannya dari tempat persembunyiannya dalam keadaanhampir mati kehausan. Muawiyah berkata: Tahukah kamu apa yang akan aku lakukan atasmu? Aku akan masukkan kamu dalam bangkai keledai kemudian membakarnya. Muhammad berkata: Kalau kamu melakukan begitu kepadaku, seperti itulah seringkali para kekasih Allah diperlakukan. Aku berharap api yang membakarku itu akan dijadikan Allah sejuk dan sejahtera seperti Ia jadikan seperti itu pada Ibrahim as. Mudah-mudahan Allah memperlakukan kamu seperti Ia memperlakukan Namrud dan para pendukungnya… Muawiyah marah Ia memasukkan Muhammad pada perut bangkai keledai dan membakarnya. Ketika Aisyah mendengar berita itu, ia menangis sepedih-pedihnya dan berrkunut setiap selesai salat mendoakan kebinasaan untuk Muawiyah dan Amr” (Tarikh Thabari 5:103; Al-Kamil fi al-tarikh 2:412; al-Gharat 1:282-5; Ansab al-Asyraf 3:171) Masih dalam tarikh Thabari dikisahkan bagaimana Imam Ali berusaha keras untuk mengumpulkan bala bantruan. Ia berpidato di hadapan orang banyak: “Wahai hamba-hamba Allah! Mesir lebih besar dari Syam. Lebih banyak kebaikannya dan lebih banyak penduduknya. Jangan sampai orang lain merebut mesir. Karena lestarinya Mesir pada tangan kalian akan memuliakan kalian dan merendahkan musuh kalian. Besok datanglah ke Jur’ah, antara Hirat dan Kufah. Aku akan menunggu kalian di sana insya Allah. Kesokan harinya Imam Ali keluar berjalan ke Jur’ah. Pagi-pagi sekali. Ia menunggu di situ sampai pertengahan hari. Tidak ada satu pun yang datang. Pada malam hari ia memanggil para tokoh ke tempat kediamannya. Di situ ia menyampaikan khotbah: “Saya berhadapan dengan manusia yang tidak menaati bila saya perintahkan, dan tidak menyahut bila saya memanggilnya. Celakalah Anda! Apa yang Anda nantikan untuk bangkit pada Jalan Allah? Tidakkah iman menggabungkan Anda bersama-sama atau rasa malu membangunkan Anda? Saya berdiri di antara Anda sambil berteriak, tetapi Anda tidak mendengarkan perkataan saya, dan tidak menaati perintah-perintah saya, sampai keadaan menunjukkan akibat-akibat buruknya. Tak ada darah yang dapat ditebus melalui Anda, dan tak ada maksud yang dapat dicapai dengan Anda. Saya memanggil Anda untuk menolong saudara-saudara Anda, tetapi Anda membuat kebisingan seperti unta yang sakit perut, dan menjadi terlepas seperti unta yang berpunggung tipis. Kemudian suatu kontingen lemah yang goyah datang kepada saya dari antara Anda sekalian “seolah-olah mereka dihalau menemui maut, sedang mereka melihatnya”. (QS: 8:6)” (Puncak Kefasihan, khutbah 39). Malik bin Ka’ab al-Hamdani beridri dan menyatakan siap berbaiat untuk dikirm melawan Amr bin Ash. Di pertengahan jalan, Malik mendengar berita terbunuhnya Muhammad. Abdurrahman bin Syuraih al-Syabami disuruh Ali untuk menjemputnya dan kembali lagi ke Kufah. Imam Ali sangat berduka mendengar syahidnya Muhammad putra Abu Bakar. Seperti biasa dengan bahasa yang indah Imam Ali memuji Muhammad: Laqad kana ilayya habiban, wa kana li rabiban, fa ‘indallahi nahtasibuhu waladan nashihah, wa amilan kadihan, wa sayfan qathi’an, wa ruknan dafi’an. Ia telah menjadi kesayanganku. Ia telah menjadi anak asuhku. Kepada Allah kami mengharapkan ganjarannya. Anak yang setia, yang beramal saleh, pedang yang tajam dan tiang yang kokoh (Nahj al-balaghah, al-Kitab 35). Ia mengulangi pujiannya pada suratnya yang dikirim kepada Abdullah bin Abbas. “Kemudian daripada itu, Mesir telah ditaklukkan dan Muhammad ibn Abu Bakar, semoga rahmat Allah atasnya, telah mati syahid. Kami memohon ganjarannya kepada Allah. Ia adalah putra dan teman setia, pekerja keras, pedang tajam dan benteng pertahanan. Saya telah membangkitkan rakyat untuk bergabung dengannya dan memerintahkan kepada mereka untuk pergi menolongnya sebelum kejadian ini. Saya memanggil mereka secara rahasia maupun terbuka berulang-ulang. Sebagian dari mereka datang dengan setengah hati, sebagian mengajukan dalih-dalih palsu dan sebagian pergi meninggalkan saya. Saya memohon kepada Allah Yang Mahamulia untuk memberikan kepada saya kebebasan yang segera dari mereka, karena demi Allah, sekiranya saya tidak merindukan untuk menemui musuh demi kematian syahid dan tidak mempersiapkan diri saya untuk kematian, tentulah tak akan suka berada dengan orang-orang ini untuk sehari suntuk pun, dan tidak pula akan pernah menghadapi musuh dengan mereka. (Puncak Kefasihan, surat 35). Dalam suratnya ini, masih juga Imam Ali mengungkapkan kekecewaannya kepada para sahabatnya tidak setia kepadanya. Melihat kawan-kawan yang seperti itu, kalau tidak memikirkan tugas yang diembannya, ia ingin segera meninggalkan mereka menemui Kekasih Abadinya.

1 view0 comments

Recent Posts

See All