• Akhi

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan (2)

Updated: Sep 11




Ada cerita terkait dengan Surah al-Dhuha. Saya pernah punya kawan novelis. Pada mulanya, ia menulis novel-novel “panas” Tapi, pada masa-masa akhir hayatnya, ia menjadi religius. Karya-karya novelnya lebih “sejuk” Kisah di novel terakhirnya terkait Surah al-Dhuha. Jadi, si novelis itu termspirasi oleh pimpinan kantor yang alur hidupnya seperti dalam surah itu: menjadi anak yatim dan hidup miskin, lalu merantau ke kota, berjuang dengan segenap penderitaan dan perjuangan, sampai akhirnya, singkat cerita, ia menjadi pimpinan kantor dan tentu saja tak miskin lagi, memetik kebahagiaan yang ia perjuangkan. Si novelis itu akhirnya lebih terkesan dengan pesan Surah al-Dhuha tersebut.


Surah al-Dhuha adalah simbol yang melambangkan perjalanan hidup setiap kita. Perhatikanlah kandungan surah itu. Matahari yang naik di seukuran galah dengan sinarnya yang benderang itu telah melewati malam yang kelam, menggambarkan bahwa kesulitan dan penderitaan akan berakhir dengan kemudahan dan kebahagiaan. Kesulitan dan penderitaan hanyalah pengantar menuju kemudahan dan kebahagiaan. Dan kemudahan dan kebahagiaan akan betul-betul terasa nikmatnya jika diawali dengan kesulitan dan penderitaan. Siang hari kita rasakan semakin benderang jika kita kenang kelam malam. Kita akan lebih merasakan nikmatnya sehat jika sudah pernah merasakan sakit. Seperti itu bukan?! Jika demikian maka pada saat berada dalam kebahagiaan, kemudahan, dan kondisi sehat, kita akan lebih bersyukur.


ADA sebuah buku karya Jonathan Haidt berjudul The Happiness Hypothesis yang berisi kumpulan hasil-hasil penelitian. Jika para psikolog meneliti akibat-akibat buruk dari stres, dalam buku itu justru dipaparkan keuntungan-keuntungannya. Disebutkan bahwa stres ternyata bisa meningkatkan kualitas kebahagiaan. Jika kita, misalnya, meraih gelar doktor dengan melewati proses yang membuat stress maka gelar itu akan kita terima dengan sangat lega dan bahagia. Atau, Anda pasti akan bahagia luar biasa begitu mendapatkan kekasih yang sekian lama Anda coba dapatkan dengan susah payah dan stress. Begitu, bukan?! Setelah baca buku itu, saya berdoa, semoga stress kembali datang dalam hidup saya agar kualitas kebahagiaan saya bisa meningkat.

Ketika Tuhan bersumpah demi matahari yang baru tampak sepenggalah, ada makna tersirat bahwa agar kita menengok saat sebelumnya, yaitu malam yang kelam. Dengan demikian, kita akan lebih dalam memaknai arti matahari pagi itu. Saat di pengasingan itu, tentu saja Rasulullah menderita. Ketika Allah menurunkan ayat 'Bukankah la mendapatimu sebagai yatim, lalu ia melindungimu?!, ada makna tersuat yaitu agar Rasulullah menengok masa lalunya, masa masa kecilnya yang sulit karena terlahir sebagai yatim, Lalu, Allah mengirim tangan-tangan penuh kasih yang melindunginya: ada kakeknya, Abdul Muththalib, yang merawat Muhammad kecil sepeninggal ibunya. Lalu, sepeninggal sang kakek, ada pamannya, Abu Thalib, yang mengasuhnya hingga Rasulallah dewasa. Dengan demikian, derita di pengasingan itu akan terasa ringan.


SELANJUTNYA, coba perhatikan ayat Bukankah la melihatmu sedang bingung, kemudian la memberimu petunjuk?! Bukankah Ia mendapatimu sedang kekurangan, lalu la mencukupimu?! Sebab itu, jangan kau sewenang wenang terhadap anak yatim dan jangan menghardik peminta minta. Dan, bersyukurlah atas nikmat Tuhanmu (al-Dhuhi: 7 11)

Jika kita perhatikan, rangkaian ayat itu sesungguhnya berbicara tentang proses kebahagiaan. Setelah kebahagiaan itu didapat maka bagikan dan tebarkanlah kebahagiaan itu kepada orang lain. Jika pernah menjadi yatim yang perlu mendapat perlindungan maka selanjutnya jadilah pelindung anak-anak yatim. Jika pernah hidup kekurangan dan miskin maka setelah hidup berkecukupan, Jadilah orang yang dermawan. Semua itu sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan. Sebab, kebahagiaan tidak akan berkurang jika dibagi-bagikan, tapi justru akan bertambah.

Rangkaian ayat di atas akan disatukan oleh titik temu ayat ini, Sungguh bersama kesulitan selalu ada kemudahan, Bersama kesulitan benar-benar selalu ada kemudahan (al-InsyirAh;5-6)

SAYA akan menjelaskan kandungan dua ayat Surah al-Insyirh dengan sudut pandang psikologi modern. Ada peribahasa seperti ini: always there is the silver line in the cloud, selalu ada garis perak di antara awan kelabu. Peribahasa itu memang kurang tepat untuk menjelaskan dua ayat itu. Sebab, peribahasa tersebut mengisyaratkan bahwa di tengah penderitaan ada secercah kebahagiaan. Kalau namanya secercah sudah tentu sedikit. Maksud dua ayat di atas tidak seperti itu, tapi justru sebaliknya: setitik kelabu di antara hamparan cahaya. Jadi, sebenarnya, yang sedikit itu kelabu, penderitaan, bukan cahaya, kebahagiaan. Namun, karena seluruh perhatian tertuju pada penderitaan itu, dengan mengabaikan kebahagiaan yang ada, maka penderitaan itu tampak lebih besar. Itulah yang menurut para psikolog disebut dengan missing style syndrome.


Contohnya ketika kita masuk ke rumah yang sangat bagus, kemudian melihat ada satu gentengnya yang hilang. Maka, lubang kecil itulah yang menjadi pusat perhatian kita. Kita mengabaikan genteng-genteng lain yang tertata rapi, keindahan keramik, keindahan perabot lain yang harganya mahal. Atau, jika kita melihat mobil yang sangat bagus, lalu kita temukan sedikit goresan saja. Maka, itulah yang menjadi perhatian kita.


ADA orang menderita gangguan kejiwaan mendatangi psikiater. Ceritanya, ia memasang wallpaper di dinding rumahnya. Orang itu selalu merasa ada satu wallpaper yang selalu tidak pas. Berhari-hari ia memikirkan itu sampai membuatnya gelisah. Stres.

“Bagaimana menurut tetangga-tetangga Anda tentang wallpaper itu?” kata dokter berusaha memahami apa yang terjadi.

“Mereka bilang sudah bagus. Tapi saya tetap merasa tidak pas. Ada satu wallpaper yang tidak menempel dengan pas.”

“Berapa inci?”

“Sedikit. Hanya sepersekian inci saja.”

Si psikiater lalu mendatangi rumah orang itu, ingin melihat sendiri wallpaper yang dimaksud. Setelah memandangi, si psikiater melihat, wallpaper itu sudah pas. Namun, orang tersebut tetap merasa tidak seperti itu.


WAKTU masih SMA dulu, saya punya celana wol. Untuk ukuran masa itu, celana tersebut sudah sangat bagus, mahal pula harganya, meski kalau dipakai terasa panas luas biasa. Suatu ketika, bagian lutut celana itu robek meski sekilas tak tampak, dan tidak ada yang memperhatikan. Tapi saya merasa seolah seluruh orang memperhatikan bagian celana saya yang robek itu. Saya jadi minder sendiri, padahal tidak ada orang yang memperhatikan.


SEORANG filosof dan penyair Iran bernama Sa’di bercerita. Suatu ketika ia mendirikan shalat di Masjid Bani Umayah di Damaskus (masjid itu bernama ‘Bani Umayah’ karena Umayah yang membangunnya. Sekarang sudah tidak digunakan sebagai masjid lagi, melainkan sebagai objek wisata). Selesai shalat, ia melihat sepatunya sudah tidak ada lagi. Ia menggerutu, meratapi sepatunya yang hilang. Hatinya menyalahkan setiap orang yang ada. Ia berbisik, di tempat ibadah kok malah terjadi pencurian.


Sa’di lalu kembali ke dalam masjid, hendak menanyakan, barangkali ada yang tahu di mana sepatunya berada. Belum lagi sempat bertanya, ia melihat orang tua dengan senyum selalu terkulum di wajahnya, menyemburatkan bahagia di hatinya. Yang membuat Sa’di tertegun adalah ternyata orang tua itu cacat, kehilangan kedua kakinya. Sa’di lantas merenung, bagaimana bisa aku menggerutu hanya karena kehilangan sepatu, sementara wajah orang tua itu memancarkan Bahagia meski kedua kakinya telah tiada.

CERITA yang kurang lebih sama juga terdapat dalam buku How To Stop Worrying and Start Living karya Dale Carnegie. Dalam buku itu dikisahkan, seorang pebisnis di Amerika memasang sebuah tulisan di kantornya: Aku pernah berduka karena kehilangan sepatu sampai aku berjumpa dengan orang yang kehilangan kedua kakinya.

Ceritanya, perusahaan si pebisnis itu bangkrut. Setelah menyelesaikan urusan piutang dengan bank, ia memutuskan pulang kampung, berkumpul bersama keluarganya. Saat hendak menyeberang jalan, ia disapa dengan ekspresi bahagia oleh orang yang berjalan dengan kursi roda. Ia tertegun, melihat kondisi orang yang menyapanya itu. Karena peristiwa itulah ia mencoba bangkit, merintis kembali usahanya dan akhirnya ia kembali menjadi pengusaha besar dan sukses.


KISAH-KISAH di atas menggambarkan gejala missing style syndrome: setitik derita menjadi seolah raksasa karena perhatian hanya tertuju padanya, dengan mengabaikan bahwa yang setitik itu sesungguhnya berada di tengah belantara bahagia.


ADA istilah half empty dan half full. Maksud half empty bisa saya contohkan seperti ini: saya membuat segelas minuman yang sangat nikmat. Saya minum sampai kemudian tersisa setengah, kemudian dengan nada menyesal, saya mengatakan, "Yah, tinggal setengah, deh, atau, “Habis, deh, setengahnya.” Sedangkan maksud half full maka saya akan mengatakan, "Syukur, masih tersisa setengah.” Bisa kita pahami perbedaannya. Jika half empty meratapi yang telah berlalu dan yang telah tiada, sedangkan half full mensyukuri yang masih tersisa dan yang masih ada.

Nah, missing style syndrome itu tak berbeda dengan karakter half empty: keduanya sama-sama menjadikan apa yang telah tiada menjadi fokus perhatian, yang memunculkan sikap pesimis dan putus asa.

Kakak perempuan saya, di Sumedang, punya teman yang anaknya meninggal dunia pada proses operasi penyakit amandel di rumah sakit. Si teman ini merasa bersalah dan begitu menyesal, sekiranya ia tak membawa anaknya ke meja operasi mungkin saja tidak meninggal. Hampir tiap hari mengunjungi makam anaknya itu, pada setiap siang dan sore, meratapi ia yang telah tiada, sampai anak-anaknya yang masih ada jadi telantarkan. Saya kemudian mendekati si teman itu, membantu mengobatinya dengan terapi ayat ‘bersama kesulitan benar-benar selalu ada kemudahan. Berproses bersama waktu, si teman itu akhirnya menyadari, jika yang telah tiada begitu berharga sehingga diratapi maka yang ada seharusnya akan lebih berharga. Ia menjadi lebih sayang dan penuh perhatian kepada anak-anaknya yang masih ada. Begitulah, dari ketiadaan, kita akan mengetahui betapa berharganya sesuatu yang ada.


ADAPUN half full itu sama dengan yang kita kenal dalam kearifan Jawa, yaitu ‘falsafah untung’: keduanya sama-sama berfokus pada yang masih ada, mengajarkan tetap berpikir positif dan optimis terhadap apa pun yang terjadi. Bukankah kearifan semacam itu selaras dengan nilai-nilai Al-Quran?!

Dikisahkan, dalam kondisi sakit. Imam Ali Zainal Abidin berdoa, “Ya Allah, aku tidak tahu, apakah aku harus bersyukur atau bersabar dalam kondisi sakitku ini. Berkat sakit ini, aku terhindar dari berbagai dosa, aku lebih punya banyak waktu untuk berzikir dan berkumpul bersama keluarga.”


DEMIKIAN Al-Quran mengajarkan: bersama kesulitan benar-benar selalu ada kemudahan. Jangan habiskan perhatian kita pada penderitaan dan kesulitan, sebab itu akan membawa pada penderitaan dan kesulitan selanjutnya, melainkan, arahkan perhatian kita pada kenikmatan yang ada. Niscaya kita akan menjadi hamba yang bersyukur.


Bersambung


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

43 views0 comments

Recent Posts

See All