top of page
  • Akhi

Doa Memperoleh Hati yang khusyuk


Ya Allah,

Janganlah Engkau putuskan dariku kebaikan-Mu,

ampunan-Mu, dan kasih sayang-Mu.

Wahai Zat, yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu

Wahai Tuhanku, anugerahkan kepadaku hati yang khusyuk dan keyakinan yang tulus

Jangan Kau buat aku lupa untuk berzikir kepada-Mu

Jangan Kau biarkan aku dikuasai oleh selain-Mu

Jadilah Engkau sahabat pada saat-saat kesepianku

Jadilah Engkau benteng pada saat-saat ketakutanku

Selamatkan aku dari segala bencana dan kesalahan

Lindungilah aku dari segala ketergelinciran

Jagalah aku dari datangnya ancaman

Palingkanlah dari diriku pedihnya azab-Mu

dan muliakanlah aku dengan memelihara kitab suci-Mu yang mulia

dan bereskanlah bagiku agamaku, duniaku, dan akhiratku

Semoga shalawat dan salam disampaikan kepada Muhammad Saw. dan keluarganya yang suci.


Doa tersebut adalah salah satu dari kumpulan doa yang disampaikan oleh Imam 'Ali k.w. Saya mengambilnya dari sebuah buku berjudul Ad'iyatul Imam 'Ali, doa-doa Imam 'Ali. Salah satu kelebihan mazhab Ahlul Bait dibandingkan dengan mazhab-mazhab yang lain adalah perbendaharaan doanya. Selain panjang, doa-doa Ahlul Bait disusun dengan bahasa yang sangat indah. Kita dapat mengambil salah satu dari doa itu dan menjadikannya sebagai wirid kita.


Kita telah mengenal doa-doa dari Imam 'Ali Zainal Abidin yang disebut dengan Shahifah Sajjadiyah. Kemudian kita kenal juga doa-doa dari Imam Ja'far Al-Shadiq yang dikenal dengan nama Shahifah Shadiqiyyah. Ada pula doa-doa dari Sayyidah Fatimah a.s. yang disebut dengan Shahifah Al- Zahra. Doa yang akan dibahas kali ini saya ambil dari Shahifah 'Alawiyah, kumpulan doa Imam 'Ali k.w.


Karena doa ini panjang, saya akan membahas beberapa bagian dari doa ini saja. Inilah awal dari doa tersebut, Ya Allah, janganlah Engkau putuskan dariku kebaikan-Mu, ampunan-Mu, dan kasih sayang-Mu. Wahai Zat yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu.


Sepanjang hari kita memperoleh kebaikan Allah terus-menerus. Kesehatan, misalnya. Jika kita sakit, itu artinya kebaikan Allah yang berupa kesehatan itu terputus. Kita mulai doa ini dengan rasa takut akan diambilnya karunia Allah dari kita. Allah tidak pernah mengambil seluruh anugerah- Nya. Dia hanya memutuskan sebagian saja kebaikannya sebagai peringatan kepada kita.


Dalam doa tersebut, kita menyeru Tuhan yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu. Seperti juga disebutkan dalam Doa Kumail, Allah adalah Sari'al-ridha, Yang paling cepat ridha-Nya. Tuhan murka melihat kemaksiatan kita, tetapi dia lebih cepat ridha akan kita. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Swt. berfirman, "Aku sudah marah melihat kemaksiatan penduduk bumi ini. Aku akan hancurkan bumi ini. Tapi aku melihat masih ada bayi-bayi yang menetek kepada susu ibunya. Aku masih melihat orang-orang tua yang sujud dan rukuk kepadaku. Berhentilah kemurkaanku."


Kasih sayang Tuhan meliputi segala sesuatu. Karena itu di dalam mazhab Ahlul Bait, kita tidak boleh bersandar sepenuhnya kepada amal kita. Amal-amal kita tidak akan cukup untuk memperoleh kasih sayang Allah Swt. Amal yang kita lakukan terlalu sedikit. Maksiat kita mungkin jumlahnya jauh lebih besar. Kita harus bersandar pada ampunan Allah. Amal kita ini, selain sedikit jumlahnya dan rendah kualitasnya, juga digerogoti oleh keburukan-keburukan kita.


Karena sedikitnya amal-amal manusia dibandingkan dengan kemaksiatannya, ketika menghadapi orang yang meninggal, kita tidak dianjurkan untuk berdoa, "Ya Allah, berilah balasan yang setimpal dengan amal perbuatannya."


Melainkan kita dianjurkan berdoa, "Ya Allah, jenazah yang terbujur di hadapan-Mu ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu juga. Dia sudah datang menemui-Mu dan Engkaulah yang paling baik ditemuinya. Jika dia orang yang banyak berbuat baik, lipat gandakan pahala kebaikannya. Dan jika dia orang yang pernah berbuat salah, maafkanlah segala kesalahannya."


Selanjutnya dalam doa Imam 'Ali k.w. disebutkan, "Wahai Tuhanku, anugerahkan kepadaku hati yang khusyuk dan keyakinan yang tulus." Kita meminta kepada Allah agar dikaruniai hati yang khusyuk.


Kata "khusyuk" berasal dari kata khasya'a yang artinya takut. Seperti disebutkan dalam ayat Al-Quran: Wujûhun yaumaizin khâsyi'ah. Wajah-wajah pada hari itu ketakutan (QS Al- Ghȧsyiyah [88]: 2). Khâsyi'an berarti hati yang dipenuhi rasa takut; takut akan Allah Swt. dan takut jika masa hidupnya takkan sempat untuk mengumpulkan bekal untuk hari akhir.


Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menurunkan kisah-kisah tentang orang yang khusyuk. Di antaranya adalah tentang kekhusyukan Imam 'Ali Zainal Abidin a.s. Diriwayatkan ketika Imam berwudhu hendak shalat, tubuhnya selalu bergetar. Orang-orang bertanya, "Mengapa tubuhmu bergetar seperti itu?" Imam menjawab, "Engkau tidak tahu di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri." Hatinya dipenuhi rasa takut luar biasa karena ia akan menemui Allah Swt. di dalam shalatnya. Wajahnya menjadi pucat pasi dan hatinya berguncang keras.



Dalam kitab Futûhatul Makiyyah, karya Ibnu 'Arabi, juga diceritakan kisah-kisah tentang orang yang khusyuk. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawuf kepada gurunya. Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. Anak muda itu berkata, "Semalam, aku khatamkan Al-Quran dalam shalat malamku." Gurunya berkata, "Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Al-Quran dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu." Esok harinya, pemuda itu mengeluh, "Ya Ustad, tadi malam saya tidak sanggup menyelesaikan Al-Quran lebih dari setengahnya." Gurunya menjawab, "Kalau begitu, nanti malam bacalah Al-Quran dan hadirkan di hadapanmu para sahabat Nabi yang mendengarkan Al-Quran itu langsung dari Rasulullah Saw." Keesokan harinya, pemuda itu berkata, "Ya Ustad semalam aku tak bisa menyelesaikan sepertiga dari Al-Quran itu." "Nanti malam," kata gurunya, "bacalah Al-Quran dengan menghadirkan Rasulullah Saw. di hadapanmu, yang kepadanya Al-Quran itu turun." Esok paginya pemuda itu bercerita, "Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan Al-Quran itu satu juz. Itu pun dengan susah payah." Sang guru kembali berkata, "Nanti malam, bacalah Al-Quran itu dengan menghadirkan Jibril, yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al-Quran kepada Rasulullah Saw." Esoknya, pemuda itu bercerita bahwa ia tak sanggup menyelesaikan satu juz Al- Quran. Gurunya lalu berkata, "Nanti jika engkau membaca Al-Quran, hadirkan Allah Swt. di hadapanmu. Karena sebetulnya yang mendengarkan bacaan Al-Quran itu adalah Allah Swt. Dialah yang menurunkan bacaan itu kepadamu." Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, "Apa yang terjadi?" Anak muda itu menjawab, "Aku tak bisa menyelesaikan hatta Al-Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta în, lidahku tak sanggup. Karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucapkan, Tuhan, kepadamu aku beribadah, tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memerhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan iyyaka na'budu wa iyyaka nastain." Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.


Sebetulnya yang diceritakan guru itu kepada muridnya adalah cara memperoleh hati yang khusyuk. Hati yang khusyuk adalah hati yang sanggup menghadirkan Allah Swt. di hadapannya. Hal itu membutuhkan riyadhah-riyadhah terlebih dahulu. Sekarang kita paham mengapa dalam tarikat, kita harus menghadirkan guru di dalam doa-doa kita. Hal itu sebenarnya adalah suatu latihan. Karena sulit bagi kita untuk menghadirkan Allah Swt. sekaligus, kita mulai dengan menghadirkan guru kita terlebih dahulu.


Kekhusyukan sering kali datang ketika kita diguncangkan kesulitan hidup. Penderitaan itu bagus karena membuat hati kita lebih khusyuk dalam beribadah kepada Allah Swt. Orang yang jarang menderita akan sulit memperoleh kekhusyukan. Kesenangan membuat hati kita keras seperti batu.


Salah satu indikator kekhusyukan adalah tangisan. Walaupun tidak semua yang menangis itu karena khusyuk. Anak-anak, misalnya, menangis bukan karena khusyuk, melainkan karena dijewer oleh orangtuanya. Kita pun boleh menangis dengan tangisan karena jeweran. Tuhan. "menjewer" kita dengan penderitaan hidup. Kita lalu menangis, kita adukan penderitaan kita kepada Allah Swt. Pada perkembangannya, tangisan itu lalu berproses; dari tangisan anak kecil menjadi tangisan karena kekhusyukan.


Penderitaan itu berguna untuk melembutkan hati kita. Seperti bunyi salah satu puisi Rumi:

Bunga-bunga mawar di taman takkan pernah merekah

Sebelum langit menurunkan air matanya

Bayi-bayi itu takkan pernah diberi susu

Sebelum mereka menangis terlebih dahulu

Maka menangislah kamu

Supaya Sang Perawat Agung datang memberikan padamu

Limpahan susu kasih sayang-Nya.


Menderita dan menangis itu perlu. Itulah sebabnya mengapa kaum Muslim sekarang di seluruh dunia, seperti di Aceh, Ambon, Kosovo, dan Chechnya, sedang menderita. Derita itu dimaksudkan agar mereka bisa meraih lagi kekhusyukan yang hilang.




KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

58 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page