top of page
  • Akhi

Dua Raja dan dua Nabi Mulia: Zakaria dan Musa


Saya ingin menyebutkan dua hadis qudsi yang sangat menyentuh. Pertama, hadis qudsi yang mengisahkan dua raja: dulu ada seorang raja yang sepanjang hidupnya hanya berbuat maksiat dan zalim. Kemudian, ia jatuh sakit. Para tabib meminta agar ia berpamitan saja kepada keluarga, sebab ia tidak bisa disembuhkan kecuali dengan sejenis ikan. Dan, sekarang ini bukan musimnya ikan itu muncul di permukaan laut. Namun, Tuhan mendengar itu, dan memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan agar muncul ke permukaan laut. Singkat cerita, akhirnya raja dapat memakan ikan itu. Ia pun sembuh seperti sedia kala.


Pada saat yang sama, di negeri lainnya ada seorang raja yang adil dan saleh jatuh sakit. Para tabib juga mengatakan bahwa obatnya adalah ikan yang sama. Tapi jangan khawatir, sekarang ini musim ikan itu muncul di permukaan laut. Sangat mudah memperoleh ikan itu. Namun, Tuhan justru memerintahkan para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu masuk ke sarang-sarangnya. Akhir cerita, raja yang adil itu mengembuskan nafasnya yang terakhir.


Seperti kita di bumi, konon, di alam malakut sana para malaikat bingung. Mengapa doa raja yang saleh itu tidak dipenuhi, sementara justru doa raja yang zalim itu dipenuhi? Kemudian Tuhan berfirman, "Walaupun yang zalim ini banyak berbuat dosa, pernah juga dia berbuat baik. Demi kasih sayang-Ku, Aku berikan pahala amal baiknya. Sebelum meninggal dunia, masih ada amal baiknya yang belum Aku balas. Maka Ku-segerakan membalasnya, supaya dia datang kepada-Ku hanya dengan membawa dosa-dosanya." Artinya, sudah tidak ada lagi amal salehnya yang harus dibalas. "Demikian juga dengan raja yang saleh itu. Walaupun ia banyak berbuat baik, ia pernah

juga berbuat buruk. Aku balas semua keburukannya dengan musibah. Menjelang kematiannya masih ada dosanya yang belum Kubalas. Maka, Aku tolak doanya untuk mendapatkan kesembuhan, supaya bila ia datang kepada-Ku, ia hanya membawa amal salehnya.


Kedua, hadis qudsi ini sangat erat hubungannya dengan salah satu episode dalam hidup saya. Makanya, ia menjadi pegangan hidup saya hingga kini. Begini ceritanya:


Pada zaman orde baru saya mendapat beasiswa dari presiden untuk belajar di Australia. Dengan bekal janji akan mendapatkan kiriman beasiswa saya berangkat ke Australia. Tetapi, sampai sebulan di sana, beasiswa tidak kunjung datang. Maka, saya mulai rajin salat malam dan hampir setiap ba'da maghrib membaca Alquran. Karena panik, esoknya saya juga berdoa. Begitu terus. Saya melakukannya dengan rutin. Bagaimana saya bisa hidup di luar negeri tanpa kiriman tersebut. Besoknya saya mengecek uang itu di bank. Saya ingin membuktikan efek doa itu. Ternyata, rekening masih tetap seperti semula. Belum bertambah sepeser pun.


Ketika akhirnya sudah sampai pada tahap gawat, saya menghubungi keluarga di Indonesia. Kebetulan di rumah saya tinggalkan kendaraan, sebuah mobil. Tetapi ternyata mobil itu dipinjam teman saya. Apesnya, di jalan tol Cikampek ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil saya remuk. Waktu itu saya mengadu kepada-Nya, "Tuhan, Engkau ini bagaimana? Saya mohon bantuan-Mu, tapi malah mobil yang telah Kauberikan, Kau ambil juga." Seperti biasa kalau doa kita tidak dikabulkan, kita mesti bertanya-tanya dan protes. Ah, tentu ini karena dosa-dosa saya, pikir saya. Dosa-dosa itulah yang menghambat doa kita sampai kepada Allah. Tapi, siapa sih di dunia ini yang tidak berdosa? Bukankah hanya para nabi yang dijamin tidak berdosa? Kita semua berdosa. Kalau dosa menghalangi terkabulnya doa, kita tidak usah berdoa saja.


Kebetulan waktu itu saya mengaji sampai pada surah Maryam yang bercerita tentang Nabi Zakaria yang berdoa ingin punya anak. Setelah menikah pada usia 20 tahun, setiap hari ia berdoa. Meski terus berdoa sampai berusia 80 tahun, doanya tidak juga terkabul. Berhentikah beliau berdoa? Kecewakah beliau kepada Tuhan? Tidak. Beliau justru terus berdoa. Makanya, Tuhan memuji Zakariyyâ, setelah Zakariyyâ memuji Tuhan. Ingatlah rahmat Tuhanmu untuk hamba-Nya Zakaria. Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut. Ia berkata, "Tuhanku, sungguh sudah rapuh tulang ku, sudah berkilauan kepalaku dengan uban, tetapi aku belum pernah kecewa untuk berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku" (QS 19: 2-4).


Membaca ayat itu saya tersentak. Nabi Zakaria seorang nabi yang tidak berdosa, tapi Tuhan tidak menyegerakan mengabulkan doanya. Saya baru berdoa beberapa minggu saja sudah menggerutu seperti itu. Kebetulan Alquran yang saya baca ada tafsirnya (Tafsir Al-Muin). Di bawahnya ada hadis-hadis yang menjelaskan ayat-ayat di atas. Saat itulah saya menemukan hadis qudsi ini, "Tuhan berfirman kepada para malaikat: 'Di sebelah sana ada seorang hamba-Ku yang fasik, banyak berbuat dosa, berdoa kepada-Ku. Segera penuhi permintaannya. Aku bosan mendengar suaranya. Di tempat yang lain ada seorang hamba-Ku yang saleh sedang berdoa kepada-Ku. Tapi, tangguhkan permintaannya. Aku senang mendengar rintihannya."


Selesai membaca hadis itu, saya segera sujud seraya berkata: Tuhan, bila Engkau senang mendengar rintihanku, terserah Engkau kapan saja Kau penuhi permintaanku." Setelah itu baru saya tenang dan tidak mengecek-ngecek lagi ke bank. Tapi, tak lama kemudian saya dapat juga kiriman beasiswa itu. Meskipun demikian, saya sudah pasrah. Asal Tuhan senang pada rintihan doa saya, tidak apa-apa.


Ada juga kisah mengenai kekasih Tuhan yang lain, Nabi Mûsâ a.s. Ia berjuang dan berdoa untuk kejatuhan Fir'aun dalam waktu yang tidak sebentar. "Ada rentang waktu empat puluh tahun antara permulaan doa Mûsâ a.s. dengan tenggelamnya Fir'aun," ujar Imam Ja'far. Nabi Mûsâ yang tak berdosa saja mau menunggu selama empat puluh tahun untuk menggulingkan Fir'aun; masak kita yang, katanya, mencintai para nabi tidak bisa mengikuti jejaknya. Tidak dalam artian waktu mesti empat puluh tahun, tentu saja. Namun, bersabar dalam proses.


Jadi, Bapak mubaligh, jika Anda mencintai Tuhan dan Dia mencintai rintihan Anda, berdoalah terus, merintihlah terus di depan kekasih Anda.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id



12 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page