• Akhi

Duhai ‘Ali, Sungguh Kau bak Bunga nan Senatiasa Menebarkan Asih


Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, pada suatu malam, setelah mendirikan salat Isya di Masjid Raulullah saw, seorang laki-laki bangkit dengan menyatakan bahwa dia adalah seorang musafir yang membutuhkan makanan. Nabi Muhammad saw bertanya, “Siapa yang dapat memenuhi permintaannya malam ini akan memperoleh balasan berupa surga?” ​


Amirul Mukminin Sayyidina Ali as. bangkit dan menggenggam tangan laki-laki itu. Sayyidina Ali membawanya ke rumah Sayyidah Fathimah sa. dengan menyatakan, “Wahai putri Rasulullah! Adakah makanan untuk tamu kita?” Sayyidah Fathimah sa berkata, “Wahai suamiku! Ada sedikit makanan di rumah sementara Hasan dan Husain menderita lapar dan engkau sedang berpuasa. Makanan yang tersedia untuk satu orang saja. Sayyidina Ali menjawab, “Tolong siapkan makanan itu untuk tamu kita!” Sayyidah Fathimah sa menyiapkan makanan itu sambil berpikir bahwa jika dia ikut makan bersama tamu itu, maka tamu itu pun tidak bisa makan kenyang tapi jika dia tidak ikut makan, maka tamu itu mungkin merasa malu. Karenanya, dia berpura-pura sedang menyalakan lampu dan membuat penyalaan lebih lama hingga si tamu dapat menikmati makanan itu. Ketika Sayyidah Fathimah sa membawakan lampu, dia perhatikan bahwa makanan itu tidak disentuh. Sayyidina Ali as. bertanya, “Mengapa engkau tidak makan?” Si tamu menjawab, “Aku sudah kenyang.” Kemudian Amirul Mukminin as, Sayyidah Fathimah sa, anak-anak mereka dan tetangga ikut makan tapi makanan tetap masih ada. Sayyidina Ali as pergi menemui Nabi saw esok harinya. Ketika Nabi saw bertanya tentang memberi makan untuk tamu itu, Sayyidina Ali menjawab bahwa itu sudah dilakukan. Kemudian, Nabi saw mengisahkan kepada Sayyidina Ali cerita tentang tamu, makanan dan lampu itu. Amirul Mukminin as. bertanya, “Siapa yang memberitahukanmu cerita itu?” Nabi saw menjawab, “Jibril datang kepadaku dan memberitahuku, dengan membawa turun ayat “dan mereka lebih mengutamakan orang-orang lain atas diri mereka sendiri meskipun mereka dalam keadaan yang sangat miskin.” (QS Al Hasyr 59: 9) (Dikutip dari Tafsir Nurul Qur’an , Allamah Kamal Faqih Imani, Jilid 18 hal. 83-84) Sungguh Attar mengatakan; Para Kekasih telah melewati Tujuh kota cinta Sedang kita baru melewati Persimpangan jalan Maulana menjawab; Sungguh Para Kekasih telah melewati Tujuh Akhlaq Ilahi Sedang hamba masih juga berputaran Dalam rumah berhala kedirian Duhai ‘Ali, Duhai Biji Mataku… ku tak tahu, apakah kelak Dikau akan menolakku atau memanggilku, ….. sedang hamba masih juga meracau di rumah kegelapan diriku Duhai ‘Ali, Duhai Kekasih, tatap siapapun yang Kau kehendaki, Sungguh Bunga-Bunga Tak punya wajah Tak punya punggung Kemuliaan mu adalah Bunga nan senantiasa menebar wangi Sungguh ku tak tahu, apakah kelak Dikau akan menolakku atau memanggilku, Namun Dikau bak bunga, adalah Imam yang sangat asih Dan wangi Kasihmu meliputi segala ruang dan waktu Kebaikan mu adalah Wangi segala Bunga Kucemas, apakah kelak Dikau akan menolakku atau memanggilku, ….. Namun sungguh kebaikanmu telah masyhur Kau mandikan sang penderita kusta, di saat manusia di dunia berlomba menistakan mereka Tak mungkin tak kau asihi satu hati yang masih menyimpan setitik asa cinta pada mu, walau pun ia tenggelam dalam samudra dosa Kucemas, apakah kelak Dikau akan menolakku atau memanggilku, ….. Namun sungguh kebaikanmu telah masyhur Dan sungguh kelembutanmu telah masyhur Karena Dikau lah ‘Ali Sang Washi Sang Washi Nabi yang penuh Kasih Yaa ‘Ali Yaa ‘Ali Yaa ‘Ali Cinta pada mu, Telah membuat para pecinta kepayang Sejuk mistis Kedalamannya Membuat jiwa ku membaharu Bila aku adalah kapal Maka jadilah Dikau Nahkoda, Bawalah hamba ke bahari Cintamu Bawalah hamba ke bahari Asmaramu Allahumma ahyiini kama ahyaita ‘alaihi ‘Aliyyibni Abi Thaalib Wa amitni kama maata fiihi ‘Aliyyubnu Abi Thaalib Wa sholallohu ‘ala Muhammadin wa aali Muhammad Shalawat! karya Maulana Dimitri Mahayana (Wiladah Amirul Mu'minin Sayyidina Ali as, 13 Rajab 1441 H/8 Maret 2020)

2 views0 comments

Recent Posts

See All