top of page
  • Akhi

Efek Marah


ADA beberapa efek kognitif yang timbul dari kemarahan, antara lain berpikir negatif. Ini efek yang secara otomatis akan muncul saat orang sedang marah. Maka, jika marah tak terkendali, orang cenderung akan mengungkit hal-hal negatif dari orang yang terkait. Jika saat keadaan normal seseorang mampu menyembunyikan aib orang lain, pada saat marah, ia seperti ingin menunjukkan semua aib orang yang terkait. Di mata orang marah, tidak tampak sesuatu kecuali semuanya buruk. Maka, marah yang dipelihara akan cukup berbahaya, terutama bagi diri pelakunya. Sebab, kita adalah apa yang kita pikirkan. Dan, cara berpikir erat kaitannya dengan perilaku, termasuk kondisi tubuh.


Ada sebuah penelitian terhadap tiga kelompok responden. Kelompok pertama diminta mengingat hal-hal buruk yang pernah mereka alami, lalu menuliskannya. Sedangkan kelompok kedua pada hal-hal baik. Sementara, kelompok terakhir diminta mengingat dan menulis hal-hal baik dan buruk secara berimbang. Hasilnya, dalam tempo tiga bulan, kelompok pertama rentan terkena penyakit, berkebalikan dengan kelompok kedua yang menjadi lebih sehat. Ada pun kelompok ketiga berada dalam keadaan stabil.


Orang-orang yang putus asa sampai melakukan hal-hal yang mengerikan, bunuh diri, misalnya, adalah mereka yang tak lagi memandang bahwa diri mereka atau dunia ini adalah kebaikan. Yang ada adalah keburukan dan kenistaan dan mereka merasa tidak mampu memperbaiki keburukan itu. Lalu, mereka merasa lebih baik pergi dari dunia ini.


Memang perlu latihan untuk bisa berpikir positif dan memandang dunia dengan ceria, hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Namun, ada pula yang anugerah. Di Muthahhari ada seorang anak murid. Suatu ketika, orang tuanya datang kepada saya untuk mengadukan kondisi anaknya itu. Mereka mengeluh bahkan terkadang jengkel karena anaknya selalu menampilkan ekspresi tertawa dan bersikap santai. Disuruh belajar, selalu tertawa, selalu bilang santai. Lalu, saya coba bertanya kepada guru-guru perihal anak tersebut. Mereka bilang, tidak ada masalah dengan anak itu. Ia terlihat selalu bahagia. Nilai akademisnya bagus. Suatu ketika, anak itu mendapat giliran memberikan kuliah tujuh menit atau kultum, kegiatan rutin bagi siswa sebelum melaksanakan shalat berjamaah. Dari pertama dia berbicara sampai selesai, ceramahnya selalu mengundang tawa teman-temannya. Lalu, saya bilang kepada orang tua anak itu bahwa dia memiliki happiness skill, yaitu kemampuan untuk selalu bahagia dan membahagiakan orang lain. Ini anugerah dan sepatutnya disyukuri.


Efek lain dari kemarahan dari sisi kognitif adalah mengakibatkan seseorang selalu berpikir evaluatif. Maksudnya, saat terbawa emosi, orang akan cenderung menilai orang lain dengan kata sifat, bukan kata kerja berisi alasan-alasan sehingga orang yang dimaksud akan paham. Misal, suami-istri sedang bertengkar. Salah satunya yang terbakar emosi mengatakan, "Kamu berengsek!” Itulah berpikir evaluatif. Lalu, orang yang ditunjuk oleh kata itu jadi bingung, kenapa dirinya disebut berengsek. Kata-kata seperti itu justru akan semakin mengobarkan pertengkaran.


Maka, seorang guru tidak boleh mengatakan kepada muridnya dengan kalimat “Dasar pemalas!" sebab, misal, muridnya itu tidak mengerjakan PR. Tapi, katakanlah, “Kenapa kamu tidak mengerjakan pekerjaan rumah itu?” Kalimat “Dasar pemalas!" selain menunjukkan bahwa guru tersebut kurang bisa mengontrol emosi, juga berdampak tidak baik bagi kejiwaan murid. Dengan kata-kata itu, ia akan merasa menjadi seorang pecundang. Saya pernah melakukan percobaan di Muthahhari, sekolah saya itu. Setiap siswa dipersilakan mengkritik gurunya atau sistem yayasan demi perbaikan. Tapi saya mensyaratkan, kritikan itu tidak boleh berupa kalimat-kalimat evaluatif, tidak boleh menggunakan kata sifat. Tidak boleh, misal, mengkritik guru dengan kalimat “Guru itu membosankan" atau “Guru itu tidak menyenangkan”. Jika ingin bermaksud demikian maka gunakanlah kalimat-kalimat alasan sehingga si guru memang pantas dinilai seperti itu. Misalnya dengan kalimat “Jika sedang mengajar, guru itu hanya menghadap papan tulis dan tidak memperhatikan siswa” tanpa tambahan "membosankan” atau “tidak menyenangkan”. Dengan seperti itu, anak-anak dilatih untuk tidak berpikir “pokoknya" dan yang penting”, tapi berpikir yang mengedepankan alasan masuk akal. Hal-hal seperti itu dapat mengontrol emosi.


Jadi, hindarilah menggunakan kata sifat saat marah. Dan, yang juga penting adalah berbicaralah pelan-pelan. Semua itu dapat membantu meredam amarah. Meski sulit, tapi bukan berarti itu tidak mungkin.


Efek lain dari kemarahan dari sisi kognitif adalah berpikir superior, menganggap orang lain lebih rendah dan lebih benar daripada dirinya. Sebab, orang yang terbakar emosi selalu tidak mau kalah. Pokoknya harus seperti ini, harus seperti itu.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

30 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page