• Akhi

Hadis-Hadis tentang Ujub


Dalam Kitab Al-Kafi, terdapat sebuah hadis yang bersanad kepada Ali bin Suwaid dari Abul Hasan a.s.: Aku bertanya tentang ujub yang menghancurkan amal. Ia bersabda: Ujub itu terdiri dari beberapa tingkat. Tingkatan pertama dari ujub itu adalah keburukan amal seorang hamba itu dibaguskan, lalu hamba itu melihat amalnya itu sebagai amal yang baik. Amalnya itu membuatnya takjub dan dia mengira dia sudah melakukan kebaikan.


Dalam riwayat lain, setelah mengatakan itu, beliau membaca Surah Kahfi ayat 103-105: Katakanlah aku kabarkan kepada kalian yang paling rugi amalnya. Itulah orang yang pekerjaannya itu sesat dalam kehidupan dunia ini. Tapi mereka mengira mereka sedang melakukan kebaikan.


Itulah derajat ujub yang pertama: melakukan perbuatan buruk, tapi kemudian setan menghias perbuatan buruknya dan ia menduga dia sudah melakukan kebaikan. Ada anak-anak muda yang terlibat dalam "pergerakan" mengambil uang orangtuanya dengan penuh keikhlasan karena mereka mencuri demi perjuangan menegakkan Islam. Ada juga anak muda yang menganggap orangtuanya sesat dan ketika ia diusir oleh orangtuanya itu, anak muda itu dengan bangga merasa bahwa ia sedang menjalani perbuatan baik. Amal-amal buruk itu dihias setan sehingga dianggap sebagai amal-amal yang baik.


Contoh lain dari ujub pada tingkatan ini adalah perbuatan suatu kelompok yang menyebarkan kebohongan dan fitnah terhadap kelompok lain serta menceritakan hal- hal buruk tentang kelompok lain yang tidak mereka sukai. Ketika orang bertanya mengapa mereka melakukan semua ini, kelompok itu menjawab, "Kami hanya melindungi umat Islam dari kesesatan akidah." Mereka melancarkan kebohongan dengan dalih kemaslahatan umat. Berkata bohong sudah jelas merupakan amal buruk, tapi amal buruk itu kemudian dihias oleh setan sebagai salah satu metode perjuangan. Dan kemudian orang mengira ia sudah melakukan kebaikan.


Tingkatan ujub yang kedua adalah ketika seorang hamba itu beriman kepada Tuhannya lalu dia mengira dengan imannya itu ia sudah berbuat baik kepada Allah Ta'ala. Padahal, Allahlah yang memberikan kebaikan itu kepadanya. Orang-orang dalam tingkatan ini melakukan amal saleh dan lalu mengira bahwa dengan amal salehnya itu ia memiliki hak atas Tuhan, dan Tuhan berkewajiban untuk memenuhi doanya dan memberikan pahala kepadanya.


Sama halnya ketika Anda membantu seseorang kemudian berharap orang yang Anda bantu itu mau berkhidmat kepada Anda. Anda marah jika orang yang Anda tolong itu lalu tidak berbuat baik kepada Anda. Ada orang yang menganggap Tuhan sebagai pihak yang ia tolong. Ia berpikir bahwa amal saleh yang ia lakukan itu sudah banyak dan lalu meminta Tuhan untuk memberikan pahala ke padanya sebagai kewajiban Tuhan atasnya.


Hadis berikutnya tentang ujub ialah dari Imam Ja'far a.s. Beliau berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala tahu bahwa dosa itu lebih baik bagi seorang Muslim daripada ujub. Tuhan menguji seorang Muslim dengan dosa supaya ia terhindar dari ujub. Sekiranya Tuhan tidak ingin menghindarkan manusia dari ujub, manusia tidak akan diuji dengan dosa selama-lamanya."


Imam Ja'far a.s. mendefinisikan salah satu ciri orang yang melakukan ujub sebagai orang yang mengira bahwa dirinya adalah orang suci yang tidak pernah berbuat salah dan tidak melakukan dosa.


Dalam riwayat lain, Imam Ja'far a.s. berkata: Barang siapa yang masuk ke dalam dirinya ujub, pastilah dia binasa.


Imam Ja'far juga berkata, "Apabila seseorang berbuat dosa, kemudian dia menyesali dosa-dosanya; atau dia beramal baik dan merasa gembira dengan amalnya itu bahkan bersenang-senang dengan amalnya sehingga dia mengurangi amalnya maka sesungguhnya penyesalan akan dosa-dosanya jauh lebih baik daripada perasaan gembira yang masuk ke dalam hatinya karena amal-amalnya."


Masih tentang ujub, Imam Ja'far a.s. bercerita: Seorang alim mendatangi seorang yang banyak beribadah. Orang alim itu bertanya, "Bagaimana ibadah kamu?" Sang 'Abid berkata, "Kepada orang seperti aku kau bertanya tentang shalatku? Aku sudah menyembah Allah sejak dulu." Orang alim bertanya lagi, "Bagaimana tangisanmu dalam ibadahmu?" Dia menjawab, "Aku menangis dalam ibadahku sampai mengalir seluruh air mataku." Lalu orang alim berkata, "Sekiranya engkau tertawa dan tidak menangis tapi hatimu takut kepada Allah, itu lebih utama daripada engkau menangis lalu engkau ujub dengan tangisanmu itu karena orang yang ujub tidak akan naik amalnya sedikit juga."


Rasulullah Saw. bersabda, "Ada tiga hal yang mencelaka- kan manusia. Pertama, kebakhilan yang diperturutkan, hawa nafsu yang diikuti, dan merasa kagum dengan kehebatan dirinya." Nabi Saw. juga bersabda, "Sekiranya kalian tidak berbuat dosa lagi, aku khawatir kalian akan jatuh pada dosa yang lebih besar daripada itu, yakni ujub dan ujub."


Ibnu Mas'ud berkata, "Kecelakaan itu karena dua hal: satu karena putus asa dan satu lagi karena ujub." Putus asa yang membinasakan manusia, menurut Ibnu Mas'ud, adalah putus asa dari kasih sayang Allah, putus asa dari kese- lamatan, dan putus asa dari kemampuan untuk memperbaiki manusia di sekitarnya. Semua keputusasaan itu meng- hancurkan amal.


Kedua hal yang mencelakakan manusia itu (putus asa dan ujub), mengakibatkan orang menjadi malas beribadah dan beramal saleh. Padahal, manusia itu hanya dibalas karena amal salehnya. Ujub membuat Anda malas karena ujub membuat Anda mengira sudah menjadi orang baik sehingga tidak perlu meningkatkan amal saleh Anda.


Ujub sering diartikan sebagai takjub akan amal-amal saleh. Namun menurut para ulama, termasuk Imam Khumaini, takjub juga dapat terjadi terhadap amal-amal buruk kita. Orang bisa bangga dengan amal buruknya. Ujub adalah melakukan perbuatan buruk, tapi kemudian perbuatan buruk itu dihias sehingga tampak seolah-olah seperti amal yang baik.


Ada orang yang jarang shalat berjamaah di masjid. Perbuatan tidak shalat berjamaah adalah perbuatan buruk. Nabi Saw. bersabda, "Janganlah kamu mengucapkan salam kepada Yahudi umatku." Sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa itu Yahudi umatmu?" Nabi menjawab, "Orang yang tidak pernah menghadiri shalat berjamaah." Dengan tidak melakukan shalat berjamaah, orang itu telah menjadi Yahu- di umat Rasulullah Saw. Tapi kemudian masuklah setan ke dalam hati orang itu sehingga ia malah mengatakan: "Saya justru bangga tidak shalat berjamaah dengan para ahli bid'ah. Lebih baik tidak shalat dengan orang yang tidak semazhab, karena shalatnya juga tidak sah." Orang seperti itu telah jatuh kepada ujub. Na'udzubillah.



KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

31 views0 comments

Recent Posts

See All