• Akhi

Hadis Tentang Cinta Ilahi


Nabi Saw. telah menjadikan kecintaan sebagai syarat iman. Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, apa iman itu?" Rasulullah Saw.menjawab, "Allah dan RasulNya lebih kamu cintai daripada apa pun selain keduanya." Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik: Tidak beriman kamu sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih kamu cintai daripada siapa pun selain mereka.


Kemudian dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, "Tidak beriman kamu sebelum aku (Rasulullah) lebih dicintai daripada keluargamu, hartamu, dan seluruh umat manusia."


Semua hadis tersebut menjelaskan ayat Al-Quran, Surah Al-Taubah ayat 24: Katakanlah, “Jika orang tua, anak-anak, saudara, istri-istri, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, dan rumah yang kalian tinggali, lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya, dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka bersiap-siaplah mereka menerima azab dari Allah."


Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. memerintahkan kita untuk mencintai Allah, "Cintailah Allah atas anugerah-Nya kepada kalian dan cintailah aku atas kecintaan Allah kepadaku." Al-Ghazali tidak melanjutkan hadis ini. Dalam lanjutan hadis itu, Rasulullah berkata, "Dan cintailah keluargaku karena kecintaanku kepada mereka."


Sumber cinta yang pertama adalah Allah, kemudian kita mencintai siapa saja yang dicintai Allah, termasuk rasulNya, dan mencintai apa yang dicintai oleh pencinta Allah, termasuk Ahlul Baitnya. Karena itu, doa yang biasa kita baca adalah: "Ya Allah, aku mohonkan kepada-Mu cinta-Mu dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai setiap amal yang membawa kami ke dekat-Mu.


Rasulullah Saw. bersabda: Kalau kita mencintai saudara kita, ungkaplah kecintaan itu.


Kalau bapak mencintai anak, ungkaplah kecintaan itu kepada anak-anaknya, jangan disembunyikan. Karena kecintaan itu menimbulkan berkah. Ada seorang anak yang menderita sepanjang hidupnya, karena ia mengira bapaknya tidak mencintainya. Suatu saat ketika bapaknya sekarat di rumah sakit, mengembuskan napasnya yang terakhir, anak itu tidak datang juga karena ia tahu bapaknya tidak menyukainya. Ibunya bercerita bahwa sebelum meninggal dunia, bapaknya mengatakan bahwa ia sangat mencintai anaknya dan bangga akan anaknya. Anak itu menjerit keras karena selama ini ia membenci bapaknya dengan dugaan bahwa bapaknya tidak mencintainya. Padahal pada saat-saat terakhir, bapaknya mengungkapkan bahwa ia mencintai anaknya.


Kita dianjurkan jika kita mencintai seseorang, kita harus mengungkapkan kecintaan itu. Dan itu menyenangkan. Kita bahagiakan orang lain dengan kecintaan kita. Kalau kita sembunyikan, orang lain tidak akan tahu dan ia tidak akan bahagia karena kecintaan kita. Suatu saat, saya pernah melakukan umrah. Seorang sopir taksi yang baik mengantarkan saya ke tempat kelompok keturunan sahabat Anshar. Mereka adalah para petani miskin yang tinggal di perkebunan kurma. Kami datang ke sana dan shalat bersama di masjid yang sangat sederhana. Pemimpin kelompok itu bernama Al-Anshari. Waktu masuk ke tempat itu, saya diperkenalkan sebagai tamu dari Indonesia. Saya bercerita tentang Islam di Indonesia. Dia memegangi kepala saya dan mencium dahi saya. Dia berkata, "Aku mencintaimu." Saya senang sekali dan terkesan dengan kecupannya di dahi saya.


Ada seseorang datang kepada Nabi Saw. dan berkata, "Ya Rasulullah, aku mencintaimu." Lalu Nabi berkata, "Kalau begitu, bersiaplah untuk miskin." la lalu berkata, "Aku juga mencintai Allah." Nabi berkata, "Kalau begitu, bersiaplah untuk mendapatkan ujian." Dalam sebuah buku sufi Essential Sufism, disebutkan bahwa orang-orang modern sangat sulit untuk bisa mencintai dengan tulus karena kecintaan yang tulus membawa risiko yang banyak. Risiko yang pertama adalah keterlibatan seluruh kepribadian kita. Sementara orang modern inginnya mandiri, bebas, independen, tidak mau meleburkan diri, dan tidak mau melibatkan diri terlalu banyak. Akhirnya, mereka tidak berhasil mencintai siapa pun, kecuali dirinya sendiri.


Salah satu risiko besar dari kecintaan adalah hilangnya ego dan keakuan kita. Rasulullah Saw. berkata, "Siap-siaplah menghadapi kemiskinan dan ujian."


Suatu hari Rasulullah Saw. melihat Mush'ab bin Umair datang memakai pakaian yang lusuh dan compang-camping. Dahulu Mush'ab adalah anak orang kaya raya di Makkah. Wajahnya tampan. Di antara sahabat Nabi, yang terkenal karena ketampanannya adalah Mush'ab bin Umair, Al-Syammas. Pada waktu muda, orangtua Mush'ab sering menghiasinya dengan pakaian yang indah. Namun, ketika ia sudah masuk Islam, ia mendatangi majelis Nabi Saw. Rasulullah Saw. lalu berkata, "Lihatlah orang itu yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihat dia beserta kedua orangtuanya. Mereka memberinya makanan enak, minuman nikmat, dan pakaian bagus. Kemudian kecintaannya kepada Allah dan rasul-Nya membawa ia kepada keadaan sekarang ini."


Berikut ini hadis-hadis lainnya tentang cinta llahi. Dimulai dari hadis-hadis yang dikutip oleh Al-Ghazali dalam Ihya, dan diakhiri dengan ucapan Imam Ja'far dalam Mishbah Al-Syari'at:


Seorang Arab dusun menemui Nabi Saw., "Ya Rasulullah kapan Kiamat terjadi?" Nabi, "Apa yang sudah kamu persiapkan untuk itu?" Orang Arab itu berkata, "Aku tidak mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Nabi berkata kepadanya, "Orang akan dihimpunkan dengan orang yang dicintainya." Belum pernah aku melihat kaum Muslim berbahagia dengan sesuatu seperti mereka berbahagia pada hari itu.


Sebagian sahabat berkata, "Siapa yang merasakan kemurnian cinta Ilahi, ia akan tenggelam dalam kecintaan itu sehingga ia tidak peduli lagi untuk mencari dunia dan akan terasing dari semua manusia." Yang lain berkata, "Barang siapa mengenal Tuhannya, ia akan mencintai-Nya. Barang siapa mengenal dunia, ia akan berpaling darinya dan membencinya."


Nabi Isa pernah melewati tiga kelompok orang yang tubuhnya kurus dan wajahnya pucat-pasi. Dia bertanya ke pada mereka, "Apa yang terjadi pada kalian sehingga aku menyaksikan apa yang aku saksikan?" Mereka menjawab, "Takut akan api neraka." Nabi Isa berkata, "Wajib bagi Allah untuk memberikan ketenteraman pada orang yang ketakutan." Kemudian Nabi Isa sampai kepada tiga kelompok lainnya. Mereka lebih kurus dan lebih pucat lagi. Dia bertanya, "Apa yang terjadi pada kalian sehingga aku menyaksikan apa yang aku saksikan?" Mereka menjawab, "Kerinduan kepada surga." Dia berkata, "Wajib bagi Allah memberikan kepada kalian apa yang kalian harapkan. Kemudian Nabi Isa sampai kepada tiga kelompok lainnya; kelompok yang paling kurus dan paling pucat tapi pada wajahnya seakan-akan ada cermin cahaya. Nabi Isa bertanya, "Apa yang terjadi pada kalian sehingga aku menyaksikan apa yang aku saksikan?" Mereka menjawab, "Cinta kepada Allah Swt." Nabi Isa berkata, "Kalian adalah orang-orang yang didekatkan kepada Tuhan. Antum al-muqarrabun."


Imam Jafar As Shadiq a.s. berkata, "Kecintaan kepada Allah, apabila sudah bersinar pada hati manusia, Allah akan membersihkannya dari segala kesibukan dan segala ingatan kecuali kepada Allah. Seorang pencinta Tuhan adalah orang yang paling bersih hatinya kepada Allah, yang paling benar pembicaraannya, yang paling setia memenuhi janjinya, yang paling suci perilakunya, yang paling tulus zikirnya, dan yang paling saleh amalnya. Para malaikat membanggakan dia ketika ia bermunajat. Dengan kehadirannya Allah memakmurkan buminya. Dengan kemuliaannya Allah memuliakan hamba-hambanya. Allah mengabulkan doa mereka ketika mereka bermohon kepada-Nya dengan haknya. Allah menolak bencana dari mereka dangan kasihnya. Sekiranya makhluk mengetahui kedudukannya di hadapan Allah dan posisinya di sisi-Nya, tidak seorang pun mampu mendekati Allah kecuali dengan tanah bekas injakan kakinya."


Berkata Amirul Mukminin a.s.:

"Cinta Ilahi adalah api,

apa pun yang dilewatinya akan terbakar

Cinta Ilahi adalah cahaya

di mana pun ia terbit ia akan memancar

Cinta Ilahi adalah langit

apa pun yang muncul di bawahnya akan dinaungi

Cinta Ilahi adalah angin

Ke mana pun berembus ia akan menggerakkannya

Cinta Ilahi adalah air

Tuhan yang menghidupkan sesuatu.

Bumi Tuhan yang menumbuhkan segala sesuatu.

Barang siapa yang mencintai Allah, Allah memberikan kepadanya semua kerajaan dan kepemilikan."


Nabi Saw. bersabda, "Apabila Allah mencintai seorang hamba dari umatku. Allah menanamkan pada hati makhluk pilihan-Nya dan arwah para malaikat-Nya dan penghuni Arasynya kecintaan-Nya sehingga mereka mencintai-Nya. Itulah pencinta sejati. Berbahagialah ia, berbahagialah ia. Di sisi Allah, ia memiliki syafaat di Hari Kiamat."


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

20 views0 comments

Recent Posts

See All