top of page
  • Akhi

Hai Ustad Kang Jalal


Saya bertemu terakhir dengan Kang Jalal sepertinya pada 2009, saat ia menjadi pembahas buku "Manajemen Kampanye" karya Antar Venus bersama Eep Saefulloh Fatah. Saya menjadi moderator di acara itu. Seperti biasa, Kang Jalal selalu datang terlambat, hal yang juga ia lakukan ketika menjadi dosen di Fikom Unpad dulu.


Karenanya, dosen lainnya yang terkenal disiplin acap membahas dia di kelasnya. Bahkan apa yang disinggung Kang Jalal di tempat lain bisa juga sampai dosen ini, dan kemudian mengomentarinya dari sudut pandang keilmuan dia, tentu dikaitkan juga dengen ilmu komunikasi. Demikian juga sebaliknya, apa yang diomongkan si dosen ini juga acap sampai di telinga Kang Jalal, dan kemudian Kang Jalal juga membahasnya dari sudut pandang dia yang multidisipliner keilmuan. Dua dosen ini saya masukkan dalam daftar 33 orang (sesuai jumlah butir tasbih) yang berhak mendapatkan ucapan terima kasih dalam skripsi saya.


Saya mungkin hanya sekali bertemu Kang Jalal di ruang mata kuliah, jika tak salah ingat yaitu saat kuliah pertama Psikologi Komunikasi. Kuliah-kuliah berikutnya diisi asisten dosen. Pertemuan lain di kampus, biasanya jika ada kuliah umum atau jika ada perayaan hari agama, karena Kang Jalal diminta sebagai penceramah.


Dia jarang mengajar --mungkin karena saat itu ia sedang berkonflik dengan birokrat kampus. Gajinya ditahan, karena ia tak kunjung menyelesaikan program doktoralnya di Unpad. Ia kemudian mengambil program doktor di Australia, tetapi juga pulang tak membawa ijasah, sehingga diributkan lagi. Karena itu, ketika disampul buku "Manajemen Kampanye" karya Antar Venus namanya sebagai penulis kata pengantar diberi gelar doktor, ia menyayangkannya, karena lebih baik cukup pakai nama saja, tanpa embel-embel gelar. Tapi ia meminta orang-orang yang mempersalahkan gelarnya mengecek sendiri di kampus di Australia. Akhirnya, gelar doktor dengan bukti ijasah ia dapatkan dari kampus UIN di Makassar. Tesisnya membahas wasiat nabi.

Saat menjadi penceramah halal bihalal di kampus di tahun 1990-an itu, ia menyinggung soal keterlambatannya. Ia biasa mencatat agenda acara di komputer, tapi sialnya ia lupa membuka komputernya. Dengan kebiasaan sering terlambat itu karena agenda yang padat (dulu saya sering diajak Alexander Sudrajat memburu tempat ceramah Kang Jalal, seperti halnya memburu tempat ceramah Bang Imad), ia dengan ringan bisa mengkritik birokrat kampus yang menunda pertemuan dengan pura-pura punya kesibukan, padahal di runag kerja sedang tidak melakukan apa-apa. “Biar dianggap sebagai orang penting, biarkanlah orang pura-puralah sibuk, sehingga orang menunggu.” Begitu kira-kira saat itu ia memberi saran.


Gara-gara pejabat kampus pura-pura sibuk ini, untuk lapor ada kesalahan ketik di surat keputusan saja, ia mengaku pernah harus menunggu satu minggu untuk bisa bertemu dengan pejabat kampus itu. Saya pernah merasakan, setiap mau menghadap pejabat kampus, paling cepat harus menunggu 20-30 menit, dengan alasan “bapak masih sibuk”. Begitu masuk ruangannya, tak ada tanda-tanda kesibukan, misal, harus menandatangani berkas-kerkas. Tak terlihat sama sekali berkas yang menumpuk di meja.


Kang Jalal selalu memulai ceramah dengan menampilkan anekdot dan mengakhiri dengan anekdot pula. Tentu anekdot yang berkaitan dengan hal yang akan/sudah ia sampaikan di kuliah/ceramah. “Dan biasanya, orang hanya mengingat anekdotnya. Isi ceramahnya lupa semua,” ujar Kang Jalal.


Padahal, seperti yang dia tegaskan di pengantar edisi revisi "Psikologi Komunikasi", ia tak hanya memberi tahu, tapi juga meyakinkan dan mempengaruhi, sehingga orang menjadi mengerti.


Kang Jalal terbiasa menggunakan kalimat yang runut dan sangat mudah dipahami. Itu pula yang tergambar di buku-bukunya. Karenanya, ia juga suka mengkritik orang yang payah tata bahasanya. Ia pernah menyampaikan kisah Sibawaih yang ia dapat dari guru mengajinya. SIbawaih adalah ahli tata bahasa Arab. Ketika di alam barzakh ditanya malaikat “man Rabbuka”, Sibawaih balik bertanya: apa kedudukan man di situ? Kata tanya atau kata sambung?

Entah anekdot apa yang akan ia sampaikan kepada malaikat di alam barzakh nanti, setelah Sang Khalik memanggilnya Senin (15/2) sore kemarin, karena dipicu Covid-19. Istrinya telah mendahuluinya empat hari sebelumnya, juga karena dipicu Covid-19.


Di pengantar edisi revisi buku "Psikologi Komunikasi" (terbit 2018, oleh Simbiosa), saat kampus diisi mahasiswa milenal, ia berkelakar, “Jadi mohon maaf kalau buku ini menjadi sangat tebal, tidak cocok dengan generasi milenial, yang tidak tahan membaca tulisan yang panjang-panjang.”


Buku ini terbit perdana pada 1985 (hingga Januari 2012 sudah dicetak 28 kali oleh Rosda Karya), tetapi pejabat kampus tak mau mengapresiasinya, karena dianggap sebagai karya pseudoilmiah. Di berbagai kesempatan ia sering menceritakan hal ini ketika menyinggung buku "Psikologi Komunikasi". Karena menganggap sebagai karya pseudoilmiah, pejabat kampus memberi nilai rendah untuk kenaikan pangkat Kang Jalal, tetapi Kang Jalal mengaku mendapat kenaikan penghasilan dari buku ini, sehingga bisa membeli mobil: Daihatsu.


Di alam barzakh, Kang Jalal mungkin akan tertawa ketika untuk pertama kali bertemu, malaikat menyapanya: “Hai Ustad”. Ia pasti akan teringat isengnya saat dulu menggeser-geser susunan huruf merek mobil bekas yang baru ia beli: Daihatsu menjadi Hai Ustad.

Priyantono Oemar, Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

3 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page