• Akhi

Hak dan Kewajiban Terhadap Rasulullah saw (1)


Al-Quran Al-Karim yang diturunkan kepada Rasulullah Saw untuk disampaikan kepada kita, sebetulnya adalah kitab perjanjian. Al-Quran sendiri sering menyebut kata perjanji­an itu. Hanya kita tidak menamai kitab suci kita, dengan nama perjanjian, kita menyebut kitab suci kita dengan “bacaan”, Al-Quran. Kitab suci terdahulu masih disebut oleh para peng-ikutnya dengan istilah perjanjian. Misalnya orang-orang Kristen menyebut Taurat sebagai Perjanjian Lama dan Injil mereka sebut sebagai Perjanjian Baru. Lepas dari persoalan apakah itu asli atau tidak, tapi mereka masih menyebut kitab sucinya itu kitab Perjanjian.


Al-Quran kita sebut Perjanjian juga, antara kita dengan Allah Swt, antara pencipta dengan makhluknya. Al-Quran juga sering menyebut kata perjanjian itu. Dalam bahasa Al-Quran per­janjian itu disebut ‘Ahd, misalnya dalam ayat awfû bi ‘ahdi, ûfi bi ‘ahdikum (Penuhilah oleh kamu perjanjian-Ku, nanti aku laksa­nakan perjanjianmu. Penuhilah janji, karena janji itu akan dimin­tai pertanggung- jawabannya) (Q.S. Al-Baqarah, 2:40). Bahkan Al-Quran men­ceritakan bahwa perjanjian ini pertama kali dirumuskan di alam Dzur. Jauh sebelum kita lahir ke dunia ini, ketika kita berada di alam arwah, kita mengikatkan perjanjian ini dengan Allah Swt. Karena Al-Quran ini Kitab Perjanjian, maka di dalam Al-Quran dijelaskan beberapa hal. Pertama, siapa yang berjanji, yaitu pihak kesatu dan pihak kedua. Pihak kesatu punya hak dan kewajiban, begitupun dengan pihak kedua. Jadi, biasanya perjanjian itu dirinci, disebutkan siapa yang berjanji yaitu pihak kesatu dan pihak kedua. Kemudian hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing dan apa yang terjadi kalau perjanjian itu dilanggar. Al-Quran juga begitu, seluruh surat-surat dan ayat-ayat Al-Quran merupakan perjanjian, misalnya: kita lihat QS Ar-Rahman. Ar-Rahman itu pihak pertama, yaitu Allah Swt yang membuat perjanjian dengan kita. Kemudian Allah menyebutkan kewajiban-kewajiban Allah kepada manusia yang menjadi pihak kedua, yaitu bahwa Allah menciptakan dia, mengajarkan Al-Quran, mengajarkannya kemampuan berbicara, berfikir, menjadikan matahari dan bulan yang semuanya tunduk kepada Tuhan, juga gemintang dan pepohonan. Setelah itu Tuhan menyebutkan, seakan-akan Aku sudah melaksanakan kewajiban-kewajiban-Ku, kemudian apa kewajiban kamu (manusia), Ala tatghau fil mizan (hendaknya kamu jangan melewati batas, jangan melewati perjanjian ini, jangan langgar perjanjian ini). Kemudian Tuhan menjelaskan lagi kewajiban-Nya Allah hamparkan bumi bagi seluruh makhluk, di dalam bumi itu Tuhan ciptakan buah-buahan dan kurma-kurma dengan ma­yangnya yang terurai, biji-bijian yang mempunyai rasa dan harum tertentu, maka nikmat Tuhan yang mana yang kalian dustakan?” (Q.S. Al-Rahman, 55:10-13) Surat Ar-Rahman itu semua berisi, secara bersambung, hak dan kewajiban Allah serta hak dan kewajiban manusia. Semua surat begi­tu, bahkan surat yang paling pendek sekalipun, termasuk di antara­nya surat Al-Fatihah. Pada surat Al-Fatihah, seluruh perjanjian kita dengan Allah disingkatkan dalam Ummul Kitab, artinya induk dari seluruh Al-Quran, abstrak dari seluruh Al-Quran. Abstrak itu ialah singkatan yang menghimpun seluruhnya. Disebutkan dalam Al-Fatihah, pihak pertama yang membuat perjanjian dengan kita, yaitu Allah Swt dengan segala sifat-sifat-Nya dan dengan segala kewajibannya kepada kita. Bis­millahirahman dan seterusnya sampai maaliki yaumiddin, adalah kewajiban Allah pada kita. Pertama, nama yang membuat perjanjian pihak pertama adalah Allah. Kemudian di antara kewajiban Allah kepada kita adalah Ar-Rahman Ar-Rahim, Allah menyayangi kita, itu adalah kewajiban-Nya. Dalam Al-Quran disebutkan Kataba ala naf­sihi rahmah (Q.S. Al-An’am, 6:12) Tuhan mewajibkan kepada diri-Nya menyayangi kamu. Jadi itu kewajiban Allah kepada kita. Kemudian, Tuhan menganu­grah-kan kenikmatan kepada kita, dengan memelihara seluruh alam semesta ini, dan akan mengadili kita dengan adil pada hari pembalasan. Lalu disebutkanlah kewajiban kita kepada Allah. Sing­katnya kewajiban kita pada Allah ada dua, yaitu Iyyakana budu wa iyya kanasta’in. Yang pertama ialah beribadah kepada-Nya, itu adalah hak Allah kepada kita dan kewajiban kita kepada Allah Swt. Termasuk kewajiban kita kepada Allah, yaitu meminta tolong kepada-Nya, meminta bantuan-Nya. Kata ibadah ini juga berarti kita taat. Ketaatan kepada Allah adalah kewajiban kita kepada-Nya. Ibadah dalam arti khusus adalah membaca do’a dan shalat, sedangkan ibadah dalam arti luas adalah ketaatan kepada Allah dan itu kewajiban utama kita kepada Allah. Bahkan Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, wamâ khalaqtul jinna wal insa illâ liyâbudûn. Imam Ali bin Husayn as berkata: Adapun hak Allah yang agung adalah engkau itu beribadah kepada-Nya, janganlah kamu musyrik kepada-Nya sedikit pun. Kalau engkau telah melakukan ibadah itu dengan ikhlas, maka kewajiban Allah terhadap diri-Nya ialah Allah akan mengurus urusan kamu di dunia dan di akhirat. Allah akan cukupi keperluan kamu di dunia dan di Akhirat dan Allah akan menjaga kamu dengan apa yang kamu sukai. Jadi disebut­kan juga kewajiban kita dan Allah Swt. Hak Allah yang paling besar ialah kita menyembah-Nya dan hak kita ialah Allah mencukupi keperluan kita di dunia dan di akhirat, menjaga kita, dan memeli­hara kita seperti yang kita inginkan. Ibadah adalah kewajiban pertama kita yang paling besar kepada Allah Swt. Allah dalam perjanjian-Nya tidak meminta apa-apa kepada kita, tidak meminta imbalan apa-apa. Allah hanya memer­intahkan kita beribadah kepada-Nya. QS Adz-Dzariyat 56-57, Allah Swt berfirman: “Aku tidak ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku, Aku tidak meminta dari mereka itu rizki, Aku juga tidak minta mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah adalah pemberi rizki yang memiliki kekuasaan yang perkasa” (Q.S. Al-Dzariyat, 51:56 dan 57) Kewajiban kita yang kedua adalah bertawakal kepada-Nya, kita harus ber-gantung kepada-Nya. Kita harus melepaskan diri dari ketergantungan kepada siapa pun dan harus menggantungkan diri kita kepada Allah saja. Karena itu orang-orang sufi sering menga­takan supaya kita sampai kepada ketergantungan yang sempurna kepada Allah, maka setiap orang yang sedang merintis jalan mendekati Allah Swt di pertengahan jalan akan diuji Tuhan berkali-kali. Yaitu, akan dibuatnya mende­rita karena ketergantungan selain kepada Allah. Jadi kalau orang ini sangat cinta kepada anaknya, sangat tergantung hidupnya kepada anaknya, anak yang dicintainya itu akan diambil Tuhan supaya dia kembali bergantung kepada-Nya. Begitu pun jika ada orang yang sangat tergantung kepada suaminya, kalau Tuhan menghendaki dia sampai kepada puncak tawakal yang tinggi, Tuhan akan mengambil suaminya supaya putuslah ketergantungan dia kepadanya dan hanya bergantung kepada Allah Swt. Kalau orang itu kebahagiaan dan penderitaannya sangat bergantung kepada harta, sehingga harta itu yang menjadi kesibukannya saja setiap hari, jika Tuhan ingin mendekatkan orang itu kedekat-Nya dan kehari­baan-Nya, agar orang itu menjadi pencinta Allah yang sejati, maka diberinya kesulitan dalam urusan harta bendanya. Diberinya keku­rangan sehingga dia datang kepada Allah dan bergantung lagi kepada-Nya, lalu dia mengucapkan Iyyâ kana’ budu wa iyyâ kanas­ta’în, kepada-Mu kami beribadah dan kepada-Mu kami meminta tolong. Kemudian Allah jelaskan apa sanksi-nya kalau orang itu tidak menjalankan kewajibannya. Apa untungnya kalau kita mengikuti perjanjian itu? Disebutkan kalau kita men­gikuti perjanjian itu kita akan diberi petunjuk oleh Allah Swt, kita ditempatkan kepada golongan orang-orang yang diberi kenikma­tan. Apa yang terjadi kalau kita melanggar perjanjian itu? Kita akan dimurkai Allah Swt dan kita termasuk orang yang sesat. ghairil maghdubi alayhim Jadi sekali lagi Al-Quran adalah Kitab Perjanjian kita dengan Allah Swt, tetapi di dalam Al-Quran juga dijelaskan bukan hanya hak dan kewajiban kita terhadap Allah tapi hak dan kewajiban kita terha­dap sesama manusia, hak dan kewajiban kita terhadap para Nabi, hak dan kewajiban kita terhadap para Imam, dan terhadap makhluk Allah yang lainnya. Saya ingin membicarakan selain hak-hak kepada Allah Swt yang tercantum dalam Iyyâ kana’ budu wa iyyâ kanasta’în, juga hak-hak Nabi kepada kita dan hak-hak kita kepada Nabi. Dengan kata lain apa kewajiban Nabi kepada kita dan apa kewajiban kita terhadap Nabi Saw. Mungkin kita akan banyak membicarakan kewajiban kita kepada Nabi. Kewajiban Nabi yang pertama ialah menyampaikan risalah Allah Swt kepada kita, menyampaikan bimbingan Allah kepada kita. Ketika Nabi Adam dan Siti Hawa diusir dari surga, kemudian Iblis meminta tempo kepada Tuhan agar diizinkan untuk menyesatkan umat manusia, Tuhan berkata: “Kami akan kirim kepada kamu semua, Kami akan kirim para Rasul”. Dan sepanjang sejarah, Tuhan kirimkan para Rasul. Kewajiban Rasul Saw sama seperti kewajiban para nabi sebelum­nya, yaitu membawa manusia ke jalan Allah Swt dan membawa risalah. Karena itu sebelum Nabi meninggal dunia, beliau kumpul­kan umatnya di sebuah tempat pada tanggal 18 Dzulhijah. Ketika pulang dari ibadah haji Rasul sampai kepada sebuah Oase yang bernama Ghadir Khum. Di situ Rasul mengumpulkan para sahabat, dan yang pertama kali Rasul tanyakan kepada seluruh sahabat, yang berjumlah ratusan ribu itu, ialah pertanyaan mengenai Hal ba­laghtu, kemudian kepada Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda: “Ya Allah apakah aku sudah menyampaikan risalah yang Engkau perintah­kan kepadaku”. Semua sahabat berkata: “Betul engkau sudah menyam­paikan risalah itu”. Kalau kita ziarah ke makam Rasulullah Saw yang sangat dianjurkan di bulan Maulid, sambil mengenang Nabi kita melakukan ziarah, walaupun dari tempat yang sangat jauh. Di antara do’a dalam ziarah kepada Nabi Saw ialah: “Ya Rasulullah, engkau sudah menyampaikan risalah, aku bersaksi engkau sudah menyampaikan risalah, engkau bahkan sudah disakiti dalam menyam­paikan risalah itu”. Rasulullah menderita karena menyampaikan risalah. Sama seperti menderitanya orang yang mau membantu orang lain, tapi orang yang mau kita bantu itu malah tidak mau dibantu, bukan saja tidak mau dibantu malah orang itu mau membunuh orang yang mau membantunya. Seperti itulah penderitaan Rasulullah Saw. Semua Nabi dalam Al-Quran berkata: “Sudah aku sampaikan kepada kalian risalah Tuhanku”. Kewajiban Nabi, khususnya Rasulullah Saw adalah juga memberikan syafaat kepada umatnya, kepada yang dicintainya dan kepada yang mengikutinya. Dalam satu hadits Nabi Saw bersabda: “Syafaatku aku khususkan kepada umatku”. Jadi syafaat Rasulullah khusus diberikan kepada umat-nya, artinya yang mendapat syafaat mestilah umat Rasulullah Saw. Dengan kata lain yang mendapat sya­faat pastilah seorang mukmin. Orang kafir tidak akan mendapat syafaatnya. Ada hadits dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari yang terkenal sebagai hadits Al-Dhahdhah, Nabi berkata: “Aku memberi syafaat kepada pamanku Abu Thalib, dia ditarik dari neraka yang paling bawah sampai ke atas, sehingga Abu Thalib hanya disiksa sampai ke mata kakinya saja, tapi otaknya bergolak karena panas­nya”. Ada orang yang berkata bahwa itu menunjukkan Abu Thalib kafir, karena dimasukan ke dalam neraka. Tapi itu juga dalil bahwa Abu Thalib muslim karena dia mendapat syafaat Rasulullah Saw, karena syafaat Rasulullah hanya diberikan kepada umatnya. Jadi itu dalil, bahwa sekiranya hadits itu betul, itu menunjukkan tentang keisla­man Abu Thalib, karena yang dimasukkan ke neraka bukan hanya orang kafir, orang Islam juga. Jadi, kewajiban Nabi ialah memberi-kan syafaat kepada kita. Dan karena itu, kita dianjurkan memohon syafaat Rasulullah Saw. Bagaimana kita mengharapkan syafaat Rasulullah Saw, kalau kita tidak pernah meminta kepadanya. Walaupun Nabi itu penuh kasih sayangnya, sehingga mungkin saja ia memberi syafaat kepada orang-orang yang tidak mau meminta syafaat kepadanya, karena besarnya kasih sayang Nabi kepada kita. Kewajiban Nabi juga adalah menyayangi kita: Sudah datang kepada kalian seorang Rasul, yang sedih hatinya melihat penderitaan kalian, yang sangat senang kalau kalian memperoleh kebahagiaan, yang sangat pengasih dan sangat penyayang kepada kaum mukminin (Al-Taubah, 9:128). Boleh jadi Rasulullah akan memberi syafaat kepada orang yang tidak pernah meminta syafaat karena kasih sayangnya. Hanya orang itu keterlaluan, dia tidak pernah merasa ingin meminta syafaat kepada Rasulullah Saw. Mungkin dia merasa dirinya paling shaleh, sehingga tidak memerlu­kan lagi syafaat Rasulullah atau dia merasa sudah pasti masuk surga, karena itu tidak memerlukan Rasulullah Saw. Apa ada orang yang tidak pernah meminta syafaat Rasulullah di kalangan kaum muslimin? Ada, misalnya orang yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak bisa memberikan syafaat. Yang bisa memberi syafaat itu hanya Allah saja. Juga orang-orang yang tidak mau membaca do’a tawasul, karena dalam do’a tawasul ada yang berbunyi ‘Wahai Rasulullah, wahai nabi yang membawa rahmat, kami ini memo­hon syafaat kepada-mu, kami tawasul kepadamu, wahai yang mulia di sisi Allah, berilah syafaat kepada kami di sisi Allah”. Saya kira Rasulullah Saw mendengar rintihan umatnya yang meminta syafaat, apalagi kalau diucapkan terus-menerus. Kewajiban Rasulullah Saw yang lain ialah meminta ampunan untuk kita. Kita minta juga Rasulullah untuk mendo’akan kita. Kemudian kewajiban yang pertama kepada Rasulullah Saw adalah menaati Rasulullah Saw. Sebagaimana ibadah adalah kewaji­ban pertama kepada Allah, kewajiban pertama kita kepada Rasulul­lah Saw ialah menaatinya. QS Al-Hasyr : 7 “Apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw, ambillah oleh kamu. Apa yang dilarang oleh Rasu­lullah Saw, tinggalkanlah. Bertakwalah kamu kepada Allah Swt, sesungguhnya Allah itu sangat berat siksanya”. Kita lihat apa sanksinya kalau kita tidak mentaaati Rasulullah Saw. Apa contoh­nya kita ini mentaati Rasulullah Saw itu, yaitu semua yang diper­intahkan Nabi, baik dalam urusan dunia dan urusan akhirat harus kita laksanakan. Dahulu ada di antara sahabat yang berpendapat bahwa hanya perintah Nabi yang berkenaan dengan ibadah saja yang harus diikuti, kalau Nabi itu memerintahkan urusan keduniaan tidak harus diikuti. Jadi hal-hal yang berkenaan dengan dunia tidak harus diikuti, misalnya: Nabi mengangkat seorang pemimpin. Itu urusan dunia dan tidak harus diikuti. Pernah ada rombongan datang menemui Nabi Saw, meminta kepada Nabi agar menunjuk pemimpin untuk kelompok itu, tapi sebelum Nabi Saw menyampaikan siapa yang harus ditunjuk, Abu Bakar berkata: “sudah kita angkat saja Al-Aqra bin Hâbis”, Umar berkata: “Tidak, jangan dia yang diangkat, kita angkat saja Fulan Ibnul Fulan”. Kemudian mereka bertengkar di hadapan Nabi Saw sehingga turunlah ayat Al-Quran yang memperingatkan mereka. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat suaramu di atas suara Nabi...” (Q.S. Al-Hujurat, 39:1-2) Sehingga katanya menurut riwayat, Umar bin Khatab setelah itu, kalau berbicara di hadapan Nabi ia berbicara seperti hampir berbisik, karena kuatir suaranya lebih tinggi dari suara Rasulul­lah Saw. Itu contoh bahwa ada sebagian di antara sahabat yang menduga bahwa hanya perintah Rasulullah yang berkenaan dengan ibadah saja yang harus diiikuti, perintah-perintah Rasulul­lah yang berkenaan dengan urusan keduniaan tidak usah diikuti. Pernah Nabi membuat perjanjian Hudaibiyah, sebagian sahabat protes tidak setuju dengan perjanjian yang dibuat oleh Nabi karena merasa terlalu mengalah kepada orang-orang kafir. Sampai ada salah seorang sahabat mengatakan: “Alaysa huwa Rasulullah?” Apa betul dia ini Rasulullah? Betul dia ini Rasulullah. Dia datang lagi kepada yang lain dan bertanya serupa, apa benar dia ini Rasulullah. Karena tidak yakin, dia datang sendiri kepada Rasulullah “Apakah benar engkau Rasulullah?” Benar, saya ini Rasulullah, kata Rasulullah. Tetapi orang itu tetap protes dengan pernyataan itu. Bahkan pada waktu itu bukan saja urusan dunia yang ditolak oleh mereka, juga urusan ibadah. Waktu itu karena tidak jadi melakukan umrah, tidak jadi masuk ke kota suci Makkah, Rasulullah meminta para sahabat itu menggunting rambut mengakhiri ihram walaupun tidak sampai ke Makkah. Sahabat-sahabat tidak mau melaksanakan perintah nabi, mereka tinggal di kemahnya masing-masing. Tidak ada yang mau keluar untuk menggunting rambut. Akhirnya Ummu Salamah (istri Nabi) berkata: ”Ya Rasulullah, perlihatkan saja kepada mereka”, lalu Rasulullah menggunting rambutnya. Barulah kemudian semua meng­gunting rambut juga. Jadi kewajiban kita ialah mentaati Rasulul­lah Saw, dalam segala perintahnya, baik yang bersangkutan dengan urusan dunia maupun yang bersangkutan dengan urusan ibadah. Jadi, kalau Rasulullah mengangkat pemimpin buat kita sepeninggalnya, maka kita pun harus ikuti perintah itu, walaupun itu tidak terma­suk urusan ibadah. Salah satu tanda kita mengikuti Rasulullah Saw ialah kita tidak boleh bimbang kalau sudah diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya, kita tidak boleh ragu-ragu. QS Al Ahzab : 36 “Tidak boleh seorang muslim, laki-laki maupun perempuan, kalau Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan urusannya, lalu mereka punya pilihan mereka sendiri, siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia sudah sesat, dengan sesat sebenar-benarnya” . Jadi artinya tidak ada hak kita untuk mengajukan pendapat sendiri kalau Rasulullah sudah memutuskan. Tidak boleh kita mengambil jalan yang lain kalau Rasulullah Saw sudah menunjukkan-nya dan jangan merasa bahwa pendapat kita lebih baik dari pada tuntu­nan Rasulullah Saw. Dahulu, pada tanggal 18 Dzulhijjah itu, ketika Rasulullah berbicara di hadapan kaum muslimin waktu itu dan kemudian mengangkat Imam Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin sepening­galnya, dengan mengatakan: “Man kuntu maulahu, fa hadza ‘Aliyyun maulahu” siapa yang mengangkat aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali diangkat juga sebagai pemimpinya. Sampai ke Madinah ada orang Islam mendatangi Rasulullah Saw dan berkata: “Muhammad, engkau ini sudah memperoleh kemenangan, engkau ini sudah jadi penguasa di seluruh Jazirah Arabiah. Engkau cantumkan namamu di dalam adzan. Rupanya engkau tidak puas juga, sekarang engkau angkat kemenakan­mu sebagai pemimpin sepeninggalmu, apa ini betul dari Allah? Kemudian Rasulullah berkata: ”Ini betul perintah dari Allah Swt”. “Kalau benar itu perintah dari Allah Swt, saya tan­tang adzab Tuhan”. Waktu itu juga, Halilintar menyambarnya dan membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Kata sebagian ahli tafsir, itulah yang menjelaskan ayat Al-Quran, “Seseorang menantang untuk mendapatkan adzab dari Allah Swt. Bagi sang kafir adzab itu tidak bisa dihindarkan olehnya” (Q.S. Al-Ma’arij, 70:1). Itu berkenaan dengan orang-orang yang ragu-ragu menerima keputu­san Rasulullah Saw. Kewajiban yang kedua adalah mencintai Rasulullah Saw. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Tidak beriman kamu, sebelum aku lebih kamu cintai dari dirimu, keluargamu, dan seluruh umat manusia”. Kita mungkin mencintai Rasulullah walaupun mungkin kita lebih cinta diri kita, keluarga kita, harta kita. Tapi ada bukti-bukti bahwa kita masih cinta kepada Rasulullah Saw. Misalnya, kalau ada yang menghina Rasulullah Saw, mencemoohkannya, kita marah. Itu pertanda bahwa masih ada sinar kecitaan kita kepada Rasulullah Saw. Kalau ada orang yang mendengar Nabi dihina, tapi dia tidak tersinggung sedikitpun, itu pertanda sudah hilang seluruh unsur kecintaan dalam dirinya kepada Rasulullah Saw. Dulu ketika Salman Rusdhie menghina Rasul, seluruh dunia Islam marah (sebagian besar). Sehingga kata Annemarie Schimel yang menulis buku Dan Muhammad Utusan Allah , “ Di dunia Islam, anda boleh menghina Tuhan, orang-orang tidak akan marah kalau Tuhan dicemoohkan. Tapi orang Islam akan marah kalau Rasulullah dihinakan atau direndah­-kan”. Itu pertanda bahwa kita masih memiliki sinar kecintaan kepadanya. Saya akan bacakan beberapa hadits tentang kecintaan sahabat-sahabat Nabi kepada Rasulullah. Dari Amirul Muminin Ali bin Abi Thalib as: “Seorang laki-laki Anshar datang menemui Rasulullah Saw, ia berkata: Ya Rasulullah, saya tidak berpisah dengan eng­kau. Kadang-kadang saya sudah masuk ke rumah, saya ingat engkau. Lalu saya tinggalkan barang-barang saya, saya datang menemuimu, saya pandang wajahmu dengan penuh kecintaan kepadamu, lalu aku ingat nanti pada hari kiamat engkau dimasukan ke surga yang tinggi dan aku ditempatkan di tempat yang lain”. Turunlah ayat ini, An-Nisa:69 “Barang siapa taat yang kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan digabungkan dengan orang-orang yang diberi nikmat, yaitu para Nabi, para shidiqin, para syuhada, para sholihin dan alangkah indahnya bergabung dengan mereka”. Kemudian Nabi membaca-kan ayat ini kepada orang itu, dan meng-gembirakannya, bahwa kalau kamu mencintai Nabi, kamu akan digabungkan beserta Nabi. Dari Anas bin Malik RA: “Datang seorang penduduk kampung, kami keheranan karena penduduk kampung datang menemui Nabi, kemudian bertanya kepada Nabi Saw: “Ya Rasulullah kapan kiamat itu akan tiba?”. Karena waktu shalat sudah datang, maka Rasulullah tidak segera menjawabnya namun segera melakukan shalat. Setelah beliau shalat, beliau berkata: “Mana itu, orang yang bertanya tentang hari kiamat?” “Saya, Ya Rasulul­lah”, kemudian Rasulullah berkata: “Apa yang kamu siapkan untuk hari kiamat?”. Orang itu berkata, “Demi Allah, aku tidak memper­siapkan amal shalat atau shaum yang banyak, kecuali aku ini mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Nabi bersabda: ”Orang itu akan digabungkan dengan orang yang dicintainya”. Kata Anas bin Malik: “Aku belum pernah melihat orang Islam begitu bahagia setelah masuk Islam, seperti ketika mendengar pernyataan Nabi, bahwa siapa yang mencintai Nabi, akan digabungkan bersama Nabi pada hari kiamat”.

Diriwayatkan dari Abi Abdillah as. Dia berkata: “Ada seseorang di Madinah yang pekerjaannya menjual minyak. Dia sangat mencintai Rasulul­lah, dengan kecintaan yang luar biasa. Apabila dia bermaksud memenuhi keperluannya, dia belum pergi sebelum, memandang wajah Rasulullah. Dia dikenal di kalangan sahabat, sebagai tukang menatap Rasulullah, apabila dia datang dia mau berlama-lama dengan Rasulullah Saw dan memandangnya, sampai pada suatu hari masuk­lah dia menemui Rasulullah Saw, lalu Rasulullah pun bersamanya berlama-lama, sampai dia puas memandang wajah Rasulullah, setelah itu dia pergi. Tapi tidak lama kemudian, dia datang kembali menemui Rasulullah. Ketika Rasulullah melihatnya, buru-buru Rasulullah balik lagi. Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya supaya dia duduk, lalu duduklah orang itu di hadapan Nabi, lalu Nabi bertanya: ”kenapa kamu lakukan hal ini yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya?”. Lalu dia berka­ta: ”Ya Rasulullah, demi yang mengutus engkau dengan membawa kebe­naran sebagai Nabi, ketika tadi aku pergi hatiku dipenuhi kenang-an kepadamu, sehingga aku tidak bisa melakukan pekerjaan apapun karena teringat kepadamu. Karena itu aku buru-buru kembali kepa­damu. Lalu dia minta izin kepada Rasulullah untuk memandang wajah­nya lagi. Rasulullah mendoakannya dan mengatakan yang baik-baik untuknya. Setelah peristiwa itu Rasulullah Saw tidak melihat lagi orang itu. Ketika Rasulullah tidak melihatnya, Rasulullah bertanya: “Kemana dia?” dikatakan kepada Nabi “Ya Rasulullah kamipun tidak melihat dia sudah berhari-hari”. Rasulullah mengambil sandalnya diikuti oleh para sahabatnya. Rasulullah berangkat ke pasar ke tempat penjual minyak itu. Ternyata di toko orang itu tidak ada seorangpun. Beliau bertanya kepada tetangganya di situ. Orang itu berkata: “Ya Rasulallah, pedagang minyak itu telah meninggal dunia”. Orang-orang memberi komentar tentang dia “Ya Rasulullah orang ini terkenal di antara kami sebagai pedagang yang jujur, terpercaya, dan memelihara amanah, hanya ada satu saja”. Lalu Rasulullah berkata: ”Apa yang satu itu”. Mereka berkata: “dia ini senang perempuan (bukan melakukan maksiat)”. Lalu kata Rasulullah: “Sungguh dia ini sangat mencintaiku, sekiranya dia ini tidak jujur dalam dagangnya, Tuhan akan mengampuni-nya karena kecintaannya kepadaku”. (bersambung)

(Artikel ini pernah dimuat dalam Buletin Al-Tanwir, Nomor 111 Edisi 15 Maret 1998)

6 views0 comments

Recent Posts

See All